Asal-Usul Kota Surabaya

Asal Usul dan

Cikal Bakal

Kota Surabaya


Oleh: Yousri Nur Raja Agam MH *)

Yousri Nur RA MH

Yousri Nur RA MH

PENELITI dan beberapa ahli sejarah, mengungkapkan, dulu Surabaya ini adalah muara sungai dan terbentuk oleh gugusan kepulauan. Muara Sungai Kali Brantas dengan anaknya Kali Surabaya masih di Wonokromo. Sedangkan Surabaya sekarang merupakan pulau-pulau kecil yang terjadi akibat lumpur yang hanyut dari letusan Gunung Kelud. Namun, lama-kelamaan terus terjadi pendangkalan di muara sungai yang terletak di Selat Madura ini.

Akibat sedimen yang terus bertambah, endapan lumpur semakin meninggi, sehingga selat-selat yang terletak di antara gugus pulau-pulau kecil itu menyempit. Di antara pulau-pulau kecil itu banyak yang menyatu, sementara ada pula selat di antara pulau-pulau kecil itupun berubah menjadi anak sungai atau kali.

Kejadian yang unik itu ditopang pula dengan proses tektonik. Permukaan daratan Surabaya naik 5 sampai 8 centimeter per-abad. Sementara itu daratan atau garis pantai bertambah ke arah laut rata-rata 7,5 centimeter per-tahun.

Dalam catatan sejarah, Gunung Kelud rata-rata meletus setiap 15 tahun sekali. Memang, apabila Kelud meletus, dua wilayah yang menjadi sasaran utama, yaitu Blitar dan Kediri. Tetapi, karena Sungai kali Brantas mengalir dari arah Kediri sampai ke Surabaya, maka semburan gunung yang membawa lava, lahar dan lumpur itu hanyut sampai ke muara sungai. Selain membuat pendangkalan di badan sungai, endapan terbanyak justru di muaranya Selat Madura, yaitu Surabaya dan Sidoarjo.

Data yang berhasil dicatat dari Proyek Penanggulangan Bencana Alam Gunung Kelud, secara berturut-turut Gunung Kelud meletus tahun 1311, 1334, 1376, 1385, 1395, 1411, 1451, 1462, 1481, 1586, 1752, 1771, 1811, 1826, 1835, 1848, 1851, 1864, 1901, 1919, 1951, 1966, 1990 dan 2005.

Sebagai contoh, letusan tahun 1966 dan 1990, tidak kurang satu kali letusan memuntahkan lahar 28 juta meter kubik. Lahar yang dimuntahkan itu, selain menimbun kawasan di sekitar gunung, juga mengalir di lereng gunung terus ke sungai. Lahar yang berubah menjadi pasir dan lumpur itu mengalir melalui Sungai Kali Brantas hingga muara. Akibat yang terjadi, juga mendangkalkan permukaan sungai, mempersempit lebar sungai dan menambah endapan di muara sungai, laut di Selat Madura.

Begitulah asal-usul dan cikal-bakal kejadian daratan di muara Kali Surabaya, sehingga daerah yang semula bernama Junggaluh atau Ujunggaluh atau Hujunggaluh, kemudian bernama Surabaya. Tidaklah mengherankan, kalau sampai sekarang Surabaya berada di dataran rendah dan terletak pada ketinggian hanya 0 sampai 6 meter di atas permukaan laut. Jadi, kalau Surabaya banjir atau pasang naik mencapai bibir daratan, tidak perlu heran dan sebenarnya tidak perlu dirisaukan.

Dari gugus pulau-pulau kecil yang disebut pulo di muara sungai Kalimas yang berinduk ke sungai Kali Brantas itu, ada selat-selat yang dulu diberi nama kali. Jadi tidaklah mengherankan ada nama tempat di Surabaya ini yang disebut pulo dan kali. Di sini pola hidup dan kehidupan warga asli adalah memancing dan berburu. Rumah-rumah penduduk kampung asli Surabaya dulunya berada di atas tiang dan di atas permukaan air, sebagaimana umumnya permukiman pantai.

Seiring dengan perkembangan ruang dan waktu, pola kehidupan berubah. Kehidupan di dunia pantai yang berubah menjadi pelabuhan itulah yang mendorong terjadinya kegiatan kemaritiman. Dunia maritim ini saling tunjang dengan perdagangan dan industri. Inilah ciri khas Surabaya pada awalnya, yang kemudian berkembang ke arah pendidikan, budaya dan pariwisata seperti sekarang ini.

Sebagai wilayah berada di muara sungai yang berkembang menjadi pelabuhan, keberadaannya diakui oleh pemerintah penjajah Belanda di awal abad ke 16. Evolusi menjadi kota besar mulai terjadi setelah dilakukan pemetaan wilayah oleh Muller tahun 1746. Pemetaan wilayah Surabaya itu atas perintah Gubernur Jenderal Belanda wilayah Hindia Belanda yang mendarat 11 April 1746 di utara Surabaya.

Awalnya luas kota Surabaya yang secara otonom diserahkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat pembentukan kota 1 April 1906 di bawah pemerintahan walikota (burgermeester), sekitar 5.170 hektar atau 51,70 kilometer per-segi.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan tahun 1945, Pemerintahan Kota Surabaya dikukuhkan dengan Undang-undang No.22 tahun 1948 dengan luas wilayah 67,20 kilometer per-segi atau 6.720 hektar.

Kemudian terjadi perluasan kota dengan penambahan wilayah dari lima kecamatan dari Kabupaten Surabaya (sekarang bernama Kabupaten Gresik). Luas kota bertambah 15.461,124 hektar atau 15,46 kelometer persegi, sehingga luas kota Surabaya menjadi 22.181,12 hektar atau 221,18 kilometer per-segi.

Entah apa dasarnya, setelah tahun 1965 pada keterangan dan dalam buku agenda resmi Pemerintahan Kota Surabaya terjadi perubahan luas wilayah Kota Besar Surabaya menjadi 29.178 hektar

Sejak tahun 1992, berdasarkan pemotretan udara, ternyata luas Surabaya 32.636,68 hektar.

Memang, begitulah kenyataannya, konon hingga sekarang, luas daratan kota Surabaya terus bertambah. Dinas Tatakota Pemkot Surabaya, Senin, 12 Mei 2003, pernah mengungkap pertambahan luas daratan itu disebabkan lumpur yang hanyut ke muara sungai, terutama di hilir Kali Jagir sampai daerah Wonorejo. Akibatnya, selain muara sungai menyempit, juga semakin dangkalnya laut di muara sungai, bahkan menimbulkan tanah oloran baru.

Kalau kita amati dan kita cermat melakukan jalan keliling kota, pertambahan daratan Surabaya itu, juga akibat kegiatan reklamasi pantai dan pengurukann laut. Kegiatan yang dilakukan pihak swasta ini, pertama di daerah pertambakan, pembangunan perumahan di pinggir pantai serta perluasan daratan yang dilakukan pengelola Pantai Ria Kenjeran.

Kalau dalam buku agenda tahun 1980-an, luas Surabaya tertulis 29 ribu hektar. Kemudian pada tahun 1990-an dari hasil pemotretan udara, luas Kota Surabaya 32,63 ribu hektar. Namun, di tahun 2003, Kepala Dinas Tatakota Pemkot Surabaya Ir.Erlina Soemartomo (waktu itu) menyebut luas Kota Surabaya, 35 ribu hektar lebih. Kendati demikian, pada buku kerja (agenda) resmi terbitan Pemkot Surabaya tahun 2002, 2003, 2004, 2005 dan 2006, luas wilayah kota Surabaya tetap dicetak 326,37 km2 atau 32,63 ribu hektar lebih.

 

Tutur Tinular

Kembali cerita tentang kapan Surabaya mulai disebut dan mulai ada, atau “lahir” , versinya macam-macam. Dalam cerita lama, seperti yang terdapat, dalam buku Kumpulan Cerita Rakyat Jawa Timur yang diterbitkan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977, ada dongeng tentang Surabaya.

Selain dongeng, juga ada cerita dari cerita yang disampaikan secara berkesinambungan dari nenek moyang kepada kakek, dari kakek atau nenek kepada ayah dan ibu, kemudian dari ibu kepada anak dan cucu, terus pula kepada cicit dan buyut, begitu seterusnya sampai sekarang ini. Kalau boleh dikatakan seperti tutur tinular, yakni penuturan yang kemudian ditularkan atau disebarluaskan kepada generasi berikutnya Tentu cerita dan cerita itu sudah tidak orisinal lagi, dipoles di sana-sini, bahkan ditaburi bumbu penyedap, sehingga rasanya menjadi asyik.

Surabaya yang dulunya hutan belantara di muara sungai Kali Brantas, kemudian melahirkan sungai yang berasal dari selat-selat yang terdapat dari tanah oloran yang kemudian menjadi pulau. Sungai-sungai itu tidak kurang dari 50 sungai yang disebut kali. Mulai dari kali yang cukup besar, yakni Kali Surabaya dari Mojokerto sampai Gunungsari. Kemudian, terpecah menjadi dua kali yang agak besar, Kali Mas yang mengalir dari Wonokromo ke arah Tanjung Perak.

Setelah Surabaya berkembang menjadi kota, sering terjadi banjir dalam kota. Untuk mengatasi banjir itu, tahun 1896, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda membuat “sungai” atau “kanal” lurus dari kali Surabaya menuju arah Rungkut. Dulu, daerah yang dikenal dengan  Pacekan terdapat bendungan yang sekaligus dimanfaatkan untuk proyek penjernihan air untuk PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum). Waktu itu, sumber air minum Surabaya berasal dari Umbulan di pasuruan. Untuk penghematan biaya, maka dibangunlah instalasi penjernihan air di Pacekan itu, dengan nama Instalasi Ngagel.

Ada lagi Kali Anak yang mengalir ke arah perbatasan Surabaya-Gresik. Dan, sisanya, kali-kali yang kecil, seperti: Kali Asin, Kali Sosok, Kali Pegirian, Kali Kundang, Kali Ondo, Kali Rungkut, Kali Waron, Kali Kepiting, Kali Judan, Kali Mir, Kali Dami, Kali Lom, Kali Deres, Kali Jagir, Kali Wonorejo dan masih puluhan kali lagi yang kecil-kecil.

Sebagai muara sungai besar, di muara itu mengendaplah lumpur, apalagi berulangkali lumpur letusan Gunung Kelud, hanyut ke muara dan membentuk pulau-pulau. Dari berbagai pulau yang merupakan kepulauan itu, lahirlah Surabaya. Pulau-pulau itu memang tidak begitu menonjol, kecuali Pulau Wonokromo dan Pulau Domas. Sedangkan yang lainnya berbentuk rawa dan danau-danau kecil yang disebut kedung, serta sebagian dijadikan tambak. Ada lagi yang masih berbentuk karang.

Maka, tidak heran kalau di seantero Kota Surabaya saat ini nama tempat diawali dengan nama kedung, tambak dan karang. Contoh, Tambaksari, Tambakasri, Tambakoso Wilangun, Tambakbayan, Tambakjati, Tambakrejo, Tambakmadu, Kedungdoro, Kedungsari, Kedungasem, Kedung Baruk, Kedung klinter, Kedungsroko, Kedungcowek, Kedungmangu, Karangmenjangan, Karangasem, Karangrejo, Karang Tembok, Karanggayam dan lain-lain.

Juga ada yang berbentuk tegal, seperti Tegalsari. Konon di Tegalsari atau daerah Surabayan inilah cikal-bakal penduduk daratan Surabaya yang kemudian berkembang sampai ke daerah Bubutan dan sekitar yang kemudian menjadi pusat pemerintahan Adipati Surabaya.

Asal Nama Surabaya

Pada umumnya, masyarakat Kota Surabaya menyebut asal nama Surabaya adalah dari untaian kata Sura dan Baya atau lebih popular dengan sebutan Sura ing Baya, dibaca Suro ing Boyo. Paduan dua kata itu berarti “berani menghadapi tantangan”.

Namun berdasarkan filosofi kehidupan, warga Surabaya yang hidup di wilayah pantai menggambarkan dua perjuangan hidup antara darat dan laut. Di dua alam ini ada dua penguasa dengan habitat bertetangga yang berbeda, tetapi dapat bertemu di muara sungai. Dua makhluk itu adalah ikan Sura (Suro) dan Buaya (Boyo).

Perlambang kehidupan darat dan laut itu, sekaligus memberikan gambaran tentang warga Surabaya yang dapat menyatu, walaupun asalnya berbeda. Begitu pulalah warga Surabaya ini, mereka berasal dari berbagai suku, etnis dan ras, namun dapat hidup rukun dalam bermasyarakat.

Hasil penelitian menunjukkan, ejaan nama Surabaya awalnya adalah: Curabhaya. Tulisan ini di antaranya ditemukan pada prasasti Trowulan I dari tahun Caka 1280 atau 1358 M. Dalam prasasti itu tertulis Curabhaya termasuk kelompok desa di tepi sungai sebagai tempat penambangan yang dahulu sudah ada (nadira pradeca nguni kalanyang ajnahaji pracasti).

Nama Surabaya muncul dalam kakawin Negarakartagama tahun 1365 M. Pada bait 5 disebutkan: Yen ring Janggala lok sabha n rpati ring Surabhaya terus ke Buwun. Artinya: Jika di Jenggala ke laut, raja tinggal di Surabaya terus ke Buwun.

Cerita lain menyebutkan Surabaya semula berasal dari Junggaluh, Ujunggaluh atau Hujunggaluh. Ini, terungkap pada pemerintahan Adipati Jayengrono. Kerabat kerajaan Mojopahit ini diberi kekuasaan oleh Raden Wijaya untuk memerintah di Ujunggaluh. Di bawah pemerintahan Jayengrono, perkembangan pesat Ujunggaluh sebagai pelabuhan pantai terus manarik perhatian bangsa lain untuk berniaga di sini.

Suatu keanehan, ternyata sejarah Surabaya ini terputus-putus. Kalau sebelumnya Surabaya dianggap sebagai penjelmaan dari Hujunggaluh atau Ujunggaluh, namun belum satupun ahli sejarah menemukan sejak kapan nama Hujunggaluh itu “hilang” dan kemudian sejak kapan pula nama Surabaya, benar-benar mulai dipakai sebagai pengganti Hujunggaluh. Perkiraan sementara, hilangnya nama Hujunggaluh itu pada abad ke-14.

Mitos Cura-bhaya

Ada lagi sumber lain yang mengungkap tentang asal-usul nama Surabaya. Buku kecil yang diterbitkan PN.Balai Pustaka tahun 1983, tulisan Soenarto Timoer, mengungkap cerita rakyat sebagai sumber penelitian sejarah. Bukunya berjudul: Menjelajahi Jaman Bahari Indonesia “Mitos Cura-Bhaya”. Dari tulisan sepanjang 61 halaman itu, Soenarto Timoer membuat kesimpulan, bahwa hari jadi Surabaya harus dicari antara tahun-tahun 1334, saat meletusnya Gunung Kelud dan tahun 1352 saat kunjungan Raja Hayam Wuruk ke Surabhaya (sesuai Nagarakrtagama, pupuh XVII:5).

Surabaya tidak bisa dilepaskan dari nama semula Hujunggaluh, karena perubahan nama menunjukkan adanya suatu motif. Motif dapat pula menunjukkan perkiraan kapan perubahan itu terjadi. Bahwa Hujunggaluh itu adalah Surabaya yang sekarang dapat diteliti dan ditelusuri berdasarkan makna namanya, lokasi dan arti kedudukannya dalam percaturan negara.

Ditilik dari makna, nama “Hujung” atau ujung tanah yang menjorok ke laut, yakni tanjung, dapat dipastikan wilayah ini berada di pantai. “Galuh” artinya emas. Dalam bahasa Jawa tukang emas dan pengrajin perak disebut: Wong anggaluh atau kemasan seperti tercantum dalam kamus Juynboll dan Mardiwarsito. Dalam purbacaraka galuh sama artinya dengan perak.

Hujunggaluh atau Hujung Emas, bisa disebut pula sebagai Hujung Perak, dan kemudian menjadi “Tanjung Perak” yang terletak di muara sungai atau Kali Emas (Kalimas). Nah, bisa jadi Tanjung Perak sekarang itulah yang dulu bernama Hujung galuh.

Dilihat dari lokasi Surabaya sekarang, berdasarkan prasasti Klagen, lokasi Hujunggaluh itu sebagai jalabuhan. Artinya, tempat bertemu para pedagang lokal dan antarpulau yang melakukan bongkarmuat barang dengan perahu. Diperkirakan, kampung Galuhan sekarang yang ada di Jalan Pawiyatan Surabaya, itulah Hujunggaluh, Di sini ada nama kampung Tembok. Konon tembok itulah yang membatasi laut dengan daratan.

Tinjauan berdasar arti kedudukannya, pada tahun 905, Hujunggaluh tempat kedudukan “parujar i sirikan” (prasati Raja Balitung, Randusari, Klaten). Parujar adalah wali daerah setingkat bupati. Bisa diartikan, bahwa Hujunggaluh pernah menjadi ibukota sebuah daerah setingkat kabupaten, satu eselon di bawah kedudukan “raka i sirikan”, pejabat agung kerajaan setelah raja.

Nah, sejak kapan Hujunggaluh berubah menjadi Surabaya? Mamang, perubahan nama tidak sama dengan penggantian tanggal lahir atau hari jadi. Namun, hingga sekarang belum ada satupun prasasti atau data otentik yang resmi menyebut perubahan nama Hujunggaluh menjadi Surabaya.

Mitos dan mistis sejak lama mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk di Pulau Jawa. Maka mitos Cura-bhaya yang dikaitkan dengan nama Surabaya sekarang ini tentunya dapat dihubungkan pula dengan mitologi dalam mencari hari jadi Surabaya. Perubahan nama dari Hujunggaluh menjadi Surabaya dapat direkonstruksi dari berbagai sudut pandang.

Bencana alam meletusnya gunung Kelud tahun 1334 membawa korban cukup banyak. Peristiwa itu mengakibatkan terjadinya perubahan di muara kali Brantas dengan anaknya Kalimas. Garis pantai Hujunggaluh bergeser ke utara. Timbul anggapan pikiran mistis yang mengingatkan kembali kepada pertarungan penguasa lautan, yakni ikan hiu yang bernama cura, melawan penguasa darat, buaya (bhaya). Dalam dunia mistis kemudian menjadi mitos, bahwa untuk menghentikan pertikaian antara penguasa laut dengan darat itu, maka digabungkan namanya dalam satu kata Cura-bhaya atau sekarang Surabaya.

Mitos ikan dengan buaya ini sudah ada pada abad XII-XIII, sebagai pengaruh ajaran Budha Mahayana melalui cerita Kuntjarakarna. Reliefnya terpahat di dinding gua Selamangleng, Gunung Klotok, Kediri.

Bagaimanapun juga, mitos ikan dan buaya yang sekarang menjadi lambang Kota Surabaya, hanyalah merupakan sepercik versi lokal, tulis Soenarto Timoer. Jadi mitos cura-bhaya, hanya berlaku di Hujunggaluh. Cura-bhaya adalah nama baru pengganti Hujunggaluh sebagai wujud pujian kepada sang Cura mwang Bhaya yang menguasai lautan dan daratan.

Asal-usul Penduduk

Penduduk Surabaya boleh dikatakan berasal dari pendatang. Para pendatang mulai menatap dan mendirikan perkampungan di sekitar pelabuhan dan berkembang sampai ke darat, terutama di pinggir Sungai Kalimas yang merupakan anak Sungai Kali Brantas. Lama kelamaan, nama Ujunggaluh mulai dilupakan, dan namanya berubah menjadi Surabaya di bawah pemerintahan Adipati Jayengrono. Pusat Pemerintahan Adipati Jeyangrono ini diperkirakan di sekitar Kramat Gantung, Bubutan dan Alun-alun Contong saat ini.

Ada temuan sejarah yang mencantumkan pada abad ke-15, bahwa waktu itu di Surabaya sudah terjadi kehidupan yang cukup ramai. Tidak kurang 1.000 (seribu) KK (Kepala Keluarga) bermukim di Surabaya. Orang Surabaya yang dicatat pada data itu umumnya keluarga kaya yang bertempat tinggal di sekitar pelabuhan. Mereka melakukan kegiatan bisnis dan usaha jasa di pelabuhan.

Dari hari ke hari penduduk Surabaya terus bertambah, para pendatang yang menetap di Surabaya umumnya datang melalui laut. Ada yang berasal dari Madura, Kalimantan, Sulawesi dan Sumetera. Di samping ada yang berasal dari daratan Jawa datang terbanyak melalui sungai Kali Brantas dan jalan darat melewati hutan. Tidak hanya itu, para pelaut itu juga banyak yang berasal dari Cina, India dan Arab, serta Eropa.

Warga pendatang di Surabaya itu, hidup berkelompok. Misalnya, mereka yang berasal dari Madura, Kalimantan, Sulawesi atau suku Melayu dari Sumatera, di samping bermukim di pantai, juga banyak yang membangun perumahan di daerah Pabean dan Pegirian. Sedangkan pendatang dari ras Arab banyak bermukim di sekitar Masjid Ampel.

Etnis Cina menempati kawasan Kembang Jepun, Bongkaran dan sekitarnya. Ini terkait dengan dermaga pelabuhan waktu itu berada di sungai Kalimas, di sekitar Jembatan Merah sekarang. Jumlah warga pendatang terus-menerus terjadi, akibat semakin pesatnya kegiatan dagang dan perkembangan budaya di Surabaya.

 

Pengikut Sunan Ampel

Khusus masyarakat di sekitar Ampel, sebagian besar adalah rombongan yang ikut bersama Sunan Ampel dari wilayah Mojopahit pada abad 14. Berdasarkan Babad Ngampeldenta, Sunan Ampel melakukan aktivitas di Surabaya sekitar tahun 1331 M hingga 1400 M. Jumlah rombongan Sunan Ampel itu berkisar antara 800 hingga 1.000 keluarga.

Dalam buku Oud Soerabaia (1931) karangan GH von Faber, halaman 288 dinyatakan Raden Rahmat pindah bersama 3.000 keluarga (drieduezend huisgezinnen}

Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java (1817), halaman 117 menulis saat kepindahan Raden Rahmad dari keraton Majapahit ke Ampel, ia disertai 3.000 keluarga (three thousand families). Sementara itu menurut Babad Ngampel Denta, jumlah orang yang boyongan bersama Raden Rahmat ke Ampel Surabaya sebanyak 800 keluarga (sun paringi loenggoeh domas). “Domas” menurut S.Prawiroatmodjo dalam buku Bausastra Jawa – Indonesia (1981) artinya delapan ratus.

Sejak berdirinya permukiman di Surabaya, pertumbuhan penduduk berkembang cukup pesat. Ada yang datang melalui laut maupun transportasi melalui sungai. Umumnya yang melewati sungai adalah warga yang datang dari arah Blitar, Madiun, Tulungagung, Kediri dan lain-lainnya. Mojokerto yang merupakan pusat kerajaan Majapahit, menjadikan Surabaya sebagai pelabuhan lautnya. Mereka mendirikan permukiman di sepanjang Kalimas, anak Kali Brantas yang dijadikan poros lalulintas utama saat itu. Kemudian menyebar sampai ke Keputran, Kaliasin, Kedungdoro, Kampung Malang, Surabayan dan Tegalsari.

Setelah koloni dagang dari Eropa yang dimotori bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda datang dan menetap di Surabaya, di tahun 1500-an, mereka mendirikan gudang dan tempat tinggal di sekitar pusat pemerintahan Adipati Surabaya, yakni di sekitar Alun-alun Contong, Bubutan, Gemblongan, Blauran, Pasar Besar dan wilayah sekitarnya.

Belanda yang merupakan koloni dagang rempah-rempah terbesar saat itu, mulai membentuk pemerintahan. Tanpa disadari oleh Bangsa Indonesia, Belanda mulai mencengkeramkan “kukunya” di Bumi Pertiwi ini sebagai penjajah. Termasuk di Surabaya.

 

Jumlah Penduduk

Ketika pemerintahan kota pertama kali dibentuk tanggal 1 April 1906, penduduk Kota Surabaya berjumlah 150 ribu orang lebih. Limabelas tahun kemudian, dalam cacah jiwa atau sensus penduduk tahun 1920, penduduk Surabaya tercatat 192.180 orang. Sepuluh tahun kemudian pada sensus penduduk tahun 1930, warga Kota Surabaya sudah berkembang menjadi 341.675 orang.

Pada zaman Jepang, di bulan September 1943 diselenggarakan cacah jiwa (sensus penduduk) Kota Surabaya (Surabaya Syi). Jumlah penduduk Surabaya waktu itu tercatat 518.729 orang.

Dalam sensus penduduk tahun 1961 tercatat resmi 1.007.945 jiwa dan tahun 1971 naik lagi menjadi 1.556.255 jiwa. Tahun 1980 penduduk resmi yang terdaftar sebagai penduduk Surabaya berkembang menjadi 2.027.913 jiwa dan tahun 1990 naik menjadi 2.473.272 jiwa.

Anehnya, data dari Dinas Kependudukan Kota Surabaya yang dikeluarkan pada bulan Mei 2004, seolah-olah jumlah penduduk Surabaya dari tahun 1990 hingga tahun 1999 “berkurang”. Padahal ini tidak mungkin, justru sebaliknya. Manakah data kependudukan yang akurat? Mustahil penduduk Surabaya berkurang, yang pasti, penduduk Surabaya terus bertambah.

Data resmi yang disajikan memang begitu kenyataannya. Tahun 1999 penduduk Surabaya tercatat 2.406.944 jiwa. Tahun 2000 sebanyak 2.443.558 jiwa, tahun 2001 bertambah jadi 2.473.461 jiwa, tahun 2002 naik lagi jadi 2.504.128 jiwa dan akhir tahun 2003 menjadi 2.656.420 jiwa. Data pada akhir April 2004, warga kota Surabaya berjumlah 2.659.566 jiwa.

Data inipun dikutip oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil berikutnya, yakni saat dikepalai oleh Drs.H.Hartojo. Sama dengan sebelumnya, sensus penduduk tahun 2000, penduduk Surabaya berjumlah 2.443.558 orang.

Secara rinci, dinas kependudukan dalam buku Informasi Kependudukan Kota Surabaya tahun 2004 berturut-turut disebutkan, penduduk Surabaya tahun 2001 sebanyak: 2.473.461 orang, tahun 2002 bertambah jadi: 2.504.128, tahun 2003 tambah lagi menjadi: 2.656.420 orang dan tahun 2004 menjadi: 2.859.655 orang.

Tahun 2006 hingga Agustus, tercatat jumlah penduduk Surabaya: 2.987.456 orang. Pada awal tahun 2007 diperkirakan sudah mencapai 3,3 juta orang.

Dari BPS (Biro Pusat Statistik) lain lagi. Tahun 1992 penduduk Surabaya berjumlah 2.259.283 jiwa, kemudian tahun berikutnya ditulis sebagai berikut: 1993 (2.286359 jiwa), 1994 (2.306.474 jiwa), 1995 (2.339.335 jiwa), 1996 (2.347.520 jiwa), 1997 (2.356.487 jiwa), 1998 (2.373.282 jiwa), 1999 (2.407.146 jiwa), 2000 (2.444.956 jiwa), 2001 (2.599.512 jiwa).

Data tentang jumlah penduduk Kota Surabaya, dalam “Resume” RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Kota Surabaya yang diterbitkan Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, berbeda lagi.

Penduduk Surabaya tahun 2001 hingga 2005, kemudian proyeksi penduduk Surabaya tahun 2006 hingga 2013 adalah sebagai berikut:

Tahun 2001 (2.452.222 jiwa), 2002 (2.471.557 jiwa), 2003 (2.485.761 jiwa), 2004 (2.509.833 jiwa), 2005 (2.528.777 jiwa). Proyeksi tahun 2006 (2.547.586 jiwa), 2007 (2.566.257 jiwa), 2008 (2.584.894 jiwa), 2009 (2.603.258 jiwa), 2010 (2.621.558 jiwa), 2011 (2.639.724 jiwa), 2012 (2.657.766 jiwa) dan tahun 2013 (2.675.671 jiwa).

Umumnya para pejabat dan politisi di Surabaya dewasa ini menyebut angka rata-rata penduduk Surabaya adalah sekitar 3 juta jiwa lebih.

Di samping penduduk tetap, ada penduduk tetap tetapi tidak terdaftar. Di kota Surabaya juga bermukim penduduk musiman. Akhir 2008 jumlahnya mencapai 20 ribu jiwa. Kecuali itu, sebagai sebuah kota dengan kegiatan ekonomi dan pemerintahan di berbagai sektor, ada penduduk siang dan penduduk malam. Penduduk pada siang hari di bisa mencapai 5 sampai 6 juta jiwa. Pada malam hari, penduduk Surabaya sebagian besar pulang dan tidur di Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Lamongan, Bangkalan, Pasuruan, bahkan di Malang***

 

 

 

*) Yousri Nur Raja Agam MH, Ketua Yayasan Peduli Surabaya

About these ads

28 Tanggapan

  1. hbt bngt ya

    —-
    Ya Bung, memang hebat. Begitulah cerita tutur tinular yang konon dari konon digabung dengan sejarah. Apakah anda punya bahan yang lain? Ayo mari kita gabung menjadi tulisan bersama. (Yousri)

  2. ini dia ertikel yang sya cari-cari, terimakasih banyak..

    ———-
    Oke, Rera! silakan anda baca selengkapnya, masih ada artikel lain tentang Surabaya di Blog ini. (yousri)

  3. Keren banget, tulisannya menambah ilmu lagi nih…,seharusnya ini bisa dibukukan lho.

    ———-

    Terimakasih Swibo! Memang, naskah-naskah di blog http://www.rajaagam.wordpress.com. ini sebagian sudah dibukukan dan sebagian memang akan diterbitkan pada buku berikutnya. (Yousri)

  4. Kita juga harus meneruskan perjuangan mereka yang berjuang bagi kita!!!!!!!!!!!!

    Bravo INDONESIA

    —————

    Oke, terimakasih atas komentar anda Yoga. Bravo Indonesia, Merdeka! (Yousri)

  5. keren banget nambah wa2asan nich……………..

    ——
    Oke Cak Kamlun, memang keren. Terimakasih anda singgah di Blog saya. Silakan tambah wawasan anda dengan tulisan saya yang lain. Saran dari anda juga saya tunggu. (Yousri)

    —————-

  6. “Kemudian, terpecah menjadi dua kali yang agak besar, Kali Mas yang mengalir dari Wonokromo ke arah Tanjung Perak dan yang kedua Kali Wonokromo yang mengalir ke arah Rungkut.”

    yang dimaksud kali wonokromo yg mengalir ke rungkut itu mungkin kali Jagir y? Kali Jagir itu kali buatan yang menyudet kalimas, tujuannya adalah memecah aliran air berdebit besar masuk ke kalimas.. intinya adalah mencegah kalimas meluap yg dapat mengakibatkan banjir masuk ke kota. proyek ini dibuat tahun 1856 dgn nama Kanaal Wonokromo.

    jadi dengan sejarah ini, rasanya kok kurang cocok kali kali Jagir dimasukkan di awal sejarah Surabaya, karena kali ini bukan kali alami-melainkan kali buatan Belanda :
    —————————–
    Mbak Ajeng Yth,
    Anda benar. Memang yang dimaksud kali Wonokromo itu adalah kali Jagir. Dari hulu sungai ini bernama Sungai Kali Brantas, di Mojokerto terbelah dua menjadi Kali Surabaya dan Kali Porong. Di Wonokromo, Kali Surabaya, beranak-pinak dengan berbagai nama Kali di dalam kota Surabaya. Yang besar dinamai Kali Mas, ke hilir berbagai nama muncul lagi berdasarkan daerah yang dilewati. Ada yang menyebut Kali Ngagel, Kali Kayun, Kali Peneleh, Kali Undaan, Kali Pegirian dan seterusnya.
    Nah, khusus Kali Jagir di Wonokromo, persisnya di Pacekan (yaitu tempat bendungan pintu air PDAM Ngagel), memang merupakan “KALI BUATAN” sebagai kanal menuju laut sampai ke wilayah Rungkut, sekarang dikenal dengan Wonorejo. Terimakasih mbak Ajeng, anda mengingatkan saya. Mudah-mudahan dalam penulisan berikutnya, masyarakat Surabaya perlu diberitahu, kalau Kali jagir sampai Rungkut itu adalah “kanal” buatan Pemerintahan Hindia Belanda tahun 1856.
    (Yousri)

  7. saya meyukai artikel tsb diatas
    ——————-
    Terimakasih Mas Muhamad Daud Faisal, anda menyukai artikel tentang Surabaya. Salam dari Arek Suroboyo!

  8. Sedikit urun rembug ; Karang dalam bahasa Jawa artinya tempat, jadi Karang Menjangan adalah tempat Menjangan dsb. Karang (jawa) tidak sama dg Karang (Bhs, Indonesia).
    Jaman Wangsa Isana, Surabaya disebut dg nama Sigaluh, hal ini berlangsung sampai pertengahan jaman Majapahit. Pada akhir jaman Majapahit Surabaya populer dg nama Ampeldento. Setahu saya nama Surabaya populer setelah dinasti Panembahan Senopati (Wangsa Mataram) berkuasa.
    Mohon maaf kalau pendapat saya ternyata tidak benar.
    —————————
    Bapak Sudradiningrat Yth,
    Terimakasih komentar Bapak. (Yousri)

  9. Bangga ya sebagai warga negara Indonesia.
    Terima kasih :).
    Begitu dalam pembahasan disini.

  10. SAYA SUKA KOTA SURABAYA KARENA KOTA SURABAYA SNGAT TENTRAM DAN MAKMUR DAN KOTA SURABAYA ADALAH AREK-AREK BONEK KARENA BERJUANG TERUS DEMI KEMERDEKAAN
    ———————————
    Oke, Fitri, Semangat “bonek” adalah semangat pejuang 45 yang layak kita warisi.
    (Yousri)

  11. pak yousri, b;h sya minta almt emailNY ga?
    ay mw bqn Tugas Akhir film animasi ttg legenda Surabaya nih…

    mw nyari acuan buku2 ttg surabaya & jg org yg bs d wawancarai…

    email sya:
    jikun_pixel@yahoo.com

    ———————
    Dik Jikun, email saya: yousri.agam@yahoo.com, atau bisa hub HP XL 0818328303, flexi 03177397555

  12. Makin bangga dadi arek suroboyo….. Maturnuwun pak infone sing lengkap dan hebat….

  13. Dik Jikun, email saya: yousri.agam@yahoo.com, atau bisa hub HP XL 0818328303, flexi 03177397555

  14. Matur Nuwun ing kang katah… Pak Yousri.

    Artikel tentang asal usul Kota Kelahiran saya ini baru kali ini saya mengetahuinya. Semoga Artikel ini bermanfaat dan kalo pun ada informasi lagi tentang asal usul Surabaya tolong di publikasikan lagi dengan akurat kebenarannya.

    Semoga saya bisa dijadikan bahan cerita buat anak saya…

    Matur Sembah Nuwun… Sukses buat Pak Yousri.
    Hidup Arek Suroboyo…
    —————————-

    Ya, terimakasih bung Andi. Saya akan terus mengambangkan informasi terntang Surabaya. Semua itu saya tuangkan juga di Buku “Surabaya-Rek” dan artikel di medimassa. (yousri)

  15. Thx bgt infOnya nambah pengetahuan…
    sharusnya dibukukan jg
    Tambah bangga jd arek surabaya… AyO bOnek mAju trzzz

  16. bagus banget artikelnya….
    ijin nyedot ya om….
    ———–
    Terimakasih kunjungan dik Uky ke Blog saya “Raja Agam”. Silakan dikutip, bila memang bermanfaat. (Yousri)

  17. Salut buat penulis yg membuat artikel luar biasa ini.
    Saya katakan luar biasa karena jika melihat nama blog ini & pengelolanya menunjukkan seorang perantau dari minang (kalo saya nggak salah tebak) yang punya wawasan luas tentang kota kelahiran saya ini. Karena kebetulan istri saya juga orang minang (tepatnya dari kabupaten Agam).
    Ketika saya kuliah di ITATS (angkatan 1994) dahulu juga pernah punya kawan namanya Firdaus Agam, yg mana nenek moyangnya juga berasal dari Agam Sumbar. Salam untuk seluruh warga Surabaya.

    —————
    Salam persaudaraan untuk Dik Koesman,
    Terimakasih atas “sanjungan” adik. Namun semua ini bukanlah hal luar biasa, sama sekali ini adalah yang biasa dan merupakan “kewajiban” bagi saya untuk menyampaikan kepada semua orang ilmu dan pengetahuan yang saya punyai. Sebab ilmu yang bermanfaat akan bertambah — justru juga tidak akan berkurang — apabila disebarluaskan untuk kepentingan orang banyak. Percayalah, ilmu yang bermanfaat akan mendampingi kita di akhirat. InsyaAllah. Amiiin. (Yousri)

  18. trima ksh atas artikel ttg kota kelahiranku…biarpun sy tinggal d eropa tp sy cinta dg surabaya…klo ada artikel lain ttg surabaya Mr.yousri bs buat pengetahuan tuk saya,istri n anak sy.
    ——————-
    Ya, Dik Elank, sama-sama. Terimakasih anda membaca artikel yang saya tulis di Blog:rajaagam.wordpress.com ini. (Yousri)

  19. matur suwun
    —————-
    Ya sama-sama di Elank (Yousri)

  20. Tulisan yang hebat dan komprehensif bung…..
    bangsa yang besar adalah bangsa yang mengetahui dan memahami sejarahnya dan memakainya untuk kemajuan ke depan…..
    suwun bung Yousri..
    ——————————————
    Terimakasih Bung Andi. (Yousri)

  21. wah. . . .
    ini bagus skali. .
    walaupun saya pendatang disini tapi dengan adanya artikel ini saya jadi tau tentang asal mula kota surabaya. . .
    ———————————
    Ricky, anda jangan mengatakan sebagai pendatang di kota Surabaya ini. Anda adalah Arek Suroboyo. Bagaimanapun juga, setelah anda membaca riwayat dan asal-usul Kota Surabaya, anda akan menyadari: “oh ternyata dulu Surabaya itu belum ada, nah setelah ada, baru berdatangan penghuninya. Jumlahnya bertambah satu setelah anda menjadi warganya. Benarkan? Semua adalah pendatang di Surabaya ini. Jangan berkecil hati Ricky. Salam dari saya. (Yousri)

  22. ternyata banyak yg saya tidak ketahui tentang kota kelahiran saya….
    d(^^,)b
    —————–
    Maya, memang begitulah kenyataannya. Biasa, apabila adik sebagai orang Surabaya, biasanya menganggap yang di Surabaya itu, ya seperti itu. tetapi, maaf, setelah saya berada di Kota Surabaya akhir tahun 1974, saya mulai menggali dan mengkaji tentang Surabaya. Setumpuk berkas saya temukan. Segudang permasalahan saya ketahui dan berbagai pengalaman saya alami. Nah, dari penggalian itulah, saya banyak menemukan sesuatu yang baru. Secara kebetulan, saya ini bekerja di mediamassa, jadi kerjanya memang mencari berita dan informasi. Alhamdulillah! (Yousri)

  23. saya ingin dikota surabaya tapi aku tidak bisa kesana sebab tidak punya uang aku ingin sekali bertemu arek bonex surabaya.
    ————-
    Bonek tidak hanya ada di Surabaaya, di manapun ada. Juga di tempat anda. Namun, “Bonex” sebagai nama atau julukan untuk supporter Persebaya, selain di Surabaya dan sekitarnya, juga akan muncul di mana saja Persebaya melakukan pertandingan. Para Bonekmaniak itu adalah rasa dan semangat Arek Surabaya. InsyaAllah, kalau anda sudah menjiwai tentang Bonek, tanpa anda sadari anda akan sampai di Surabaya. tetapi, kalau alasan uang yang membuat anda tidak bisa ke Surabaya, berarti anda “perlu kuliah dulu tentang Bonek”. Ha ha ha !!!! (Yousri)

  24. pak, ada info lain gak? sprt bahasa yg digunakan atau adat sbnrnya org sby, dll.. jujur saja saya kelahiran surabaya smp skrg msh bertanya-tanya, kata org tua saya dulu bahasa untuk kata “kamu” itu adalah “peno”, dan kata “mas” (sebutan org lbh tua) itu “cak” kok bisa berubah ya? trs kata teman bahwa bahasa surabaya itu terkenal bahasa kasar itu dilihat dari segi mana ya?

    matur sembah nuwon sanget ^_^
    —————-
    Dik Maulana,
    Memang karakter warga kota Surabaya lebih jujur dan blak-blakan. Di kota ini berpadu berbagai budaya dan adat. Kendati demikian, bukan berarti warga Surabaya tidak punya budaya dan kepribadian. Justru di sanalah letak budaya dan kpribadiannya. Sangat akrab dalam bergaul, selalu menghormati orang tua dan mengikuti alur-alur birokrasi. Sehingga, dengan demikian Surabaya berhasil memperoleh berbagai predikat dan julukan yang indah-indah. (Yousri)

  25. saya jayeng rangga bhirawa mahasiswa teknik geomatika ITS 2011, saya tertarik dengan asal usul wonokromo tersebut, dapat di jelaskan dari mana asal nama wonokromo sendiri, karena di atas tidak dijelaskan.
    —————–
    Ha ha ha, saya jadi ahli sejarah. padahal saya ini “nyontek” atau mengutip dari karya-karya lama. Nah, tentang Wonokromo, sahibul hikayat mengatakan “hutan tempat bercengkerama”. Di hutan “tempo dulu” itu, banyak yang meyakini, akan “bertemu jodoh”. Tetapi, sekarang Wono-kromo sudah menjadi kota, tak ada hutan lagi. (Yousri)

  26. Terima kasih atas infonya kami harap mampir kesini http://www.unsri.ac.id
    ——–
    Ya Linda, semoga bermanfaat. (Yousri)

  27. selamat pagi, pak yousri
    perkenalkan nama saya rian, saya ingin bertanya apakah ada litaratur sejarah yang mendokumentasikan permainan lokal asli kota surabaya?
    sulit sekali menemukan data ini karena saya berada di yogyakarta karena masih belajar di Institut Seni Indonesia. terima kasih.
    ————–
    Dik Rian! Memang yang dibukukan masih sulit ditemukan. Tetapi, coba anda klik di google, saya pernah membaca tulisan yang mengisahkan berbagai permainan tradisional Surabaya, seperti: gobak sodor, okol, enggrang, congklak, dll. Terimakasih di Rian. (Yousri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: