Berkunjung ke Guangzhou dan Xiamen – Kota Kembar Surabaya

Laporan: Yousri NurRaja Agam MH

IMG20141201152946
Sepuluh tahun lalu, delegasi tiga kota di China menghadiri acara Sister City Forum 2005 di Surabaya. Ke tiga kota itu adalah Kota Guangzhou di Provinsi Guangdong, Kota Xiamen di Provinsi Fujian dan Kota Kunming di Provinsi Kunming. Ke tiga kota itu berada di wilayah Tiongkok Selatan. Masing-masing kota, mempunyai kekhasan tersendiri dalam bentuk hubungan kerjasama antarkota dengan Kota Surabaya..

Perjanjian kerjasama antarkota yang disebut sister city atau kota kembar itu ditandatangani Walikota Surabaya waktu itu, Bambang DH dengan walikota ke tiga Pemkot di negara “tirai bambu” itu. Tahun 2015 nanti perjanjian kerjasama itu sudah berusia 10 tahun, dan akan diperpanjang oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini.

Awal Desember 2014, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya membuat “sejarah baru”. Kalau tahun-tahun sebelumnya, rombongan wartawan selalu dikawal oleh pejabat Pemkot Surabaya, namun tahun 2014, sebanyak 47 wartawan berangkat ke mancanegara tanpa diikuti PNS (Pegawai Negeri Sipil) dari Pemkot Surabaya.

Wartawan yang melakukan studibanding, sekaligus melakukan evaluasi hubungan kerjasama Sister City atau Kota Kembar ke China, dibagi dua kelompok terbang. Kelompok terbang (Kloter) I yang berjumlah 24 orang dipimpin oleh Yousri Nur Raja Agam dan Kloter II sebanyak 23 orang diketuai Achmad Syaiku.

Setelah mendapat pembekalan dari Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, rombongan berangkat menuju tiga kota di China Selatan. Kota itu adalah Guangzhou, Jiangmen dan Xiamen,
Inilah catatan perjalanan selama seminggu di awal Desember 2014 itu.
Guangzhou

Guangzhou adalah kota kembar atau sister city Kota Surabaya. Penandatangan kerjasama berupa nota kesepahaman atau MoU (Memorandum of Understanding) kedua kota dilaksanakan tanggal 22 Desember 2005. Waktu itu, Walikota Surabaya Drs.Bambang DH didampingi Sekkota Surabaya, H.Sukamto Hadi,SH bersama dua anggota DPRD Kota Surabaya, Ir.Armudji dan Agus Sudarsono berkunjung ke Guangzhou, China.

Setelah penandatangan kesepakatan antara Pemkot Surabaya dengan Kota Guangzhou, dilanjutkan pula penandatangan kerjasama antara DPRD Kota Surabaya dengan Kongres Kota Guangzhou.
Di kota berpenduduk 19 juta jiwa itu, Surabaya mendapat tawaran memanfaatkan fasilitas promosi tentang potensi kota. Sebab, di Guangzhou terdapat pusat pameran perdagangan terbesar di Cina, yakni Guangzhou International Exhibition of Conference Center. Tempat ini merupakan kawasan pameran terbesar kedua di dunia setelah Hanover, Kanada.

Selain kerjasama perdagangan, Surabaya dengan Guangzhou juga meningkatkan hubungan kerjasama di bidang pendidikan. Salah satu perguruan tinggi di komplek ini adalah Universitas Guangzhou. Kampus dengan tenaga pengajar 185 profesor, 200 doktor dan 600 dosen bergelar master itu berada dalam kawasan seluas 131,7 hektar. Program studi yang diajarkan di sini cukup banyak, antara lain: geografi, arsitektur dan perencanaan kota, teknik lingkungan, teknik sipil, matematika, informatika, pariwisata, seni dan desain, jurnalistik dan komunikasi, administrasi publik, biologi, kimia, hukum dan seni kontemporer.
Surabaya dengan Guangzhou juga merintis kerjasama sister hospital rumah sakit (RS) mata. Kerjasama sister hospital dilakukan RS Mata Undaan dengan RS Zhong San Opthalmic Center Guangzhou China. Sebagai rintisan sister hospital, Rumah Sakit Mata Undaan mendatangkan Prof.Dr.Tang Shi Bo dari RS Zhong San Opthalmic Center.
Ahli mata terkenal se-Asia Pasifik itu melakukan operasi penambalan lubang bintik pada retina pada 3 pasien mata RS Undaan Surabaya.
Dengan adanya kerjasama sister hospital itu diharapkan warga Surabaya tidak perlu lagi ke China untuk operasi mata, tapi bisa menghemat biaya, karena dokter mata dari China akan datang secara rutin di RS Undaan Surabaya. Kerjasama sister city dengan Guangzhou China berjalan sejak Desember 2005. Selama ini kerjasama dilakukan dengan kegiatan promosi perdagangan, budaya dan pariwisata. Dari kerjasama sister hospital diharapkan bisa memberi manfaat untuk warga Surabaya dan dokter-dokter mata di Surabaya bisa belajar dari dokter mata RS di Guangzhou China.
Guangzhou, dulu dikenal sebagai Canton atau Kwangchow, ibu kota dan kota terbesar dari provinsi Guangdong di Republik Rakyat Cina. Kota ini terletak di Cina selatan di pinggir Sungai Pearl, sekitar 120 km (75 mil) utara-barat laut Hong Kong. Guangzhou adalah pusat transportasi utama nasional dan pelabuhan dagang.
Ternyata bukan hanya Surabaya, kota yang multijuluk. Guangzhou juga banyak julukan, misalnya, Kota Bunga, Kota Lima Kambing, Kambing City, Wheats Kota, Ceiba City, dan Dewa Kota Pada tahun 2008 Guangzhou diidentifikasi sebagai beta Dunia Kota dengan indeks kota global yang dihasilkan oleh GaWC.
Mediamassa di Guangzhou

Untuk lebih mempererat hubungan kerjasama dua kota bersaudara itu, tanggal 1 sampai 5 Desember 2014, wartawan Pokja Pemkot Surabaya berkunjung ke Kota Guangzhou dan Xiamen. Sebanyak 24 orang yang disebut Kelompok I ke Guangzhou dan 23 orang Kelompok II ke Kota Xiamen. Di samping itu, kedua kelompok itu bergabung di Kota Jiangmen, yang masih masuk Provinsi Guangdong.
Saat berkunjung di Kota Guangzhou, Selasa, 2 Desember 2014, Kelompok I yang terdiri dari 24 wartawan Surabaya, berkunjung ke Kantor Radaksi Suratkabar “Guangzhou Daily News” Jalan Tongle No.10 (10 Tongle Road) Guangzhou.
Kami diterima oleh Deputi Direktur Guangzhou Daily Group, Mr.Shunjing Lu beserta lima orang staf redaksi dan staf perusahaan. Guangzhou Daily Group membawahi penerbitan Suratkabar Guangzhou Daily News.

IMG20141202105439
Ketua rombongan HM Yousri Nur Raja Agam, memperkenalkan satu per-satu yang datang dari Surabaya. Kemudian menjelaskan maksud kedatangan rombongan yang mewakili tokoh masyarakat Kota Surabaya ke Guangzhou. Bertindak sebagai penerjemah, Bapak Chandra Wurianto Woo, pengusaha dari Surabaya yang sedang berada di Guangzhou.
Ketua Rombongan Wartawan menyampaikan salam dari Ibu Tri Rismaharini, Walikota Surabaya. Sekaligus menyampaikan, tahun 2015 mendatang, genap 10 tahun kerjasama sister city Kota Surabaya dengan Kota Guangzhou. Diharapkan, kerjasama kota kembar ini akan berkelanjutan, karena banyak nilai positif yang dihasilkan.

IMG20141202113047
Berbagai kerjasama sudah dilaksanakan selama 10 tahun itu. Di antaranya, bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, kebersihan, pertamanan, lalulintas, kegiatan kepelabuhanan, pariwisata dan cagar budaya, serta bidang teknologi informasi dan komunikasi. Sedangkan kegiatan bisnis, sudah berlangsung sangat lama, yaitu sejak para perantau dari Guangzhou yang dulu dikenal sebagai Kanton datang ke Indonesia, khususnya Surabaya.
Kapada rombongan dari Surabaya, Mr.Shunjing Lu menjelaskan, bahwa mediamassa di Guangzhou, lebih dominan menekankan pemberitaan seputar bidang seni budaya, daripada berita politik dan pemerintahan.
Suratkabar yang terbit 15 halaman tiap hari itu sudah berusia 62 tahun. Kendati demikian, suratkabar milik Pemerintah China di Kota Guangzhou ini berusaha mengikuti perkembangan teknologi mutakhir. Pemerintah dan mediamassa cetak, maupun mediamassa elektronik, seperti radio dan televisi saling bersinergi untuk mengatasi persoalan publik, termasuk lingkungan. Media di Guangzhou memberitakan fakta persoalan publik di lapangan dan pemerintah membenahinya melalui tindakan berupa kebijakan.
Menurut Shunjing Lu, negara dengan penduduk yang banyak, pasti memiliki masalah. Tidak terkecuali di China yang merupakan negara maju, tetapi juga memiliki problematika. Walupun Guangzhou, merupakan kota modern,juga memiliki masalah, termasuk pencemaran lingkungan.
Guangzhou, adalah kota ketiga berpenduduk terbesar di Tiongkok setelah Beijing dan Shanghai. Jumlah penduduk Guangzhou saat ini sekitar 19 juta jiwa. Untuk itu, pihaknya sebagai media massa harus aktif bergerak di persoalan ini karena menyangkut kehidupan manusia.

Sekolah Bahasa, Budaya dan Olahraga Kungfu

Rombongan wartawan Surabaya juga diagendakan berkunjung ke Sekolah Bahasa, Budaya dan Olahraga Kungfu. Kami diantar oleh Pak Wong Tie Kong sebagai penerjemah. Pak Wong adalah orang Guangzhou, kelahiran Jakarta.

Saat tiba di komplek Sekolah yang bernama pakai Bahasa Inggris: Guangdong Overseas Chinese Vocational School dan Guangdong Chinese Languange and Culture Educational Training College, kami disambut oleh Direkturnya bernama Jerry Li. Kami langsung diajak menyaksikan tempat latihan olahraga Kungfu. Di sana dijelaskan tentang Kungfu, serta dajak keliling menyaksikan demonstrasi latihan Kungfu di berbagai arena.IMG20141202100315
Dijelaskan pula oleh Jerry Li, bahwa di sekolah ini di samping bahasa, juga diajarkan pula tentang budaya China, serta kegiatan yang berhubungan dengan budaya, termasuk olahraga Kungfu.
Secara kebetulan saat berada di kampus perguruan olahraga Kungfu ini, ada salah satu siswanya, bernama Ratna yang berasal dari Krembangan Surabaya.

IMG20141202095819
Ratna mengaku, sengaja datang ke tempat itu untuk belajar bahasa Mandarin dan belajar Kungfu. Kungfu di tempat itu adalah yang terbaik di Cina. Sejak lulus SMA swasta Surabaya, pertengahan tahun 2014, ia diminta orangtuanya untuk kuliah di tempat ini. Menurut Ratna, ia belajar budaya dan bahasa Mandarin. Sebab, perguruan ini dikenal paling baik di China.

Zhu Jiang Obyek Wisata Sungai di Guangzhou
Malam, kami diajak Biro Perjalanan Wisata dari Perwakilan PT.Fullmoon di Guangzhou, mengikuti wisata sungai, di Sungai Mutiara atau Zhu Jiang. Saat itu, kota Guangzhou ibukota Provinsi Guangdong, masih mendung. Sejak siang hingga sore hujan turun silih berganti dengan gerimis.

IMG20141203200036

Awan masih menggayut di langit kota terbesar di Tiongkok Selatan itu. Cuaca tanggal 3 Desember 2014 itu sudah mendekati musim dingin. Temperatur berkisar antara 9 sampai 15 derajat Celcius.
Kami, rombongan wartawan dari Surabaya, diajak untuk menyaksikan keindahan malam dengan menaiki kapal pesiar. Kapal yang cukup mewah ini mengangkut sekitar 200 orang menelusuri Sungai Mutiara atau Zhu Jiang yang membelah kota Guangzhou. Sungguh menakjubkan, apalagi sungainya cukup lebar, seperti Kali Surabaya di daerah Karangpilang ke Gunungsari.
Kalau di Kali Surabaya yang merupakan awal dari Sungai Kalimas, di kiri kanan yang terlihat adalah bangunan dengan semak belukar yang gelap dan remang di waktu malam. Bahkan ke hilir menuju Sungai Kalimas, badan sungai menyempit, sehingga tidak mungkin dilayari kapal sebesar di Guangzhou itu.

IMG20141203200540
Tidak hanya itu, di Guangzhou ini, di kiri kanan sungai berdiri bangunan tinggi dan megah dengan lampu gemerlap berwarna-warni. Kita hanya bisa mimpi, kapan Kota Surabaya bisa menjadikan Sungai Kalimas menjadi obyek wisata sungai seperti di berbagai kota di manacanegara itu.
akan selalu mengatakan, belumlah anda ke Guangzhou, kalau belum menikmati indahnya Pearl River Night Cruise dengan kapal pesiar. Tidak terlalu mahal, cukup dengan membayar karcis seharga 7 Yuan, atau sekitar Rp 12.000,- Di atas kapal, kita menduduki kursi dengan meja yang menyediakan makanan, buah dan minuman teh khas China. Kita juga bebas berjalan ke segala arah melihat pemandangan dan berfoto dengan latar belakang keindahan malam sekitar tiga jam.
Kota Jiangmen

Kota Jiangmen adalah Kota yang bertetangga dengan Kota Guangzhou, juga di Provinsi Guangdong. Kota Jiangmen ini, merupakan kota yang baru berkembang dengan pesat setelah pemerintahan baru China membuka politik ekonomi terbuka awal tahun 2000-an. Perkembangan Kota Jiangmen dianggap luar biasa, bahkan kota yang semula adalah daerah pertanian, diubah penampilannya menjadi kota metropolitan.
Kota Jiangmen dibangun dan dipersiapkan menjadi kota yang bakal banyak menggunakan teknologi informasi dan komunikasi global. Konon, selain ke kawasan Asia Selatan, termasuk Indonesia, dahulu nenek moyang mereka banyak yang merantau ke Amerika dan Kanada. Para perantau itulah yang banyak kembali ke negeri leluhurnya menjadi investor berbagai bidang industri. Tidak hanya itu, Kota Jiangmen yang semula penduduknya hanya sekitar 1,2 juta jiwa dipersiapkan bakal menampung 10 juta jiwa para urbanisasi yang kana bekerja di dunia industri modern.

Berkunjung ke Jiangmen TV

Meski Jiangmen termasuk kota kecil, namun perkembangannya sangat pesat. Gedung-gedung pencakar langit berdiri megah di mana-mana. Bahkan ketika berkunjung ke stasiun televisi Jiangmen yang disebut JMTV, rombongan diajak untuk naik lantai 30, tempat siaran TV tersebut.

IMG20141203100534
Sesampai di ruang pertemuan, kami disambut pimpinan dan awak media televisi Jiangmen. Seorang wanita muda diperkenalkan oleh pembawa acara, bernama Xu Hong. Ternyata Ms Xu Hong itu adalah Pemimpin Redaksi (Chief Editor) TV Jiangmen. Ia didampingi General Engineer Mr Zhong Weijian.
Ketua Kelompok I, HM Yousri Nur Raja Agam, bersama Ketua Kelompok II, Ahmad Syaiku Djakri, duduk disamping pimpinan TV Jiangmen.
Yousri Nur Raja Agam dengan penerjemah Bpak Chandra Wurianto Woo, memperkenalkan rombongan wartawan yang berjumlah 47 orang, yaitu gabungan dari dua kelompok terbang (kloter) dari Surabaya.
Selaku ketua rombongan, Yousri Nur menyampaikan salam dari Ibu Tri Rismaharini, Walikota Surabaya. Kepada pimpinan dan staf TV Jiangmen diinformasikan tentang kedatangan rombongan wartawan ke dua kota yang menjadi sister city Kota Surabaya, yaitu Guangzhou dan Xiamen. Perjanjian kerjasama kedua kota di China itu dengan Surabaya, memasuki usia 10 tahun pada tahun 2015 nanti.

IMG20141204090548
Nah, menjelang upacara perpanjangan perjanjian sister city tahun 2015 oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, maka wartawan dari Surabaya melakukan kegiatan yang sifatnya melakukan liputan kilas balik. Maksudnya, akan menyajikan kesan-kesan selama berlangsungnya sister city antara Kota Surabaya dengan Guangzhou dan Xiamen. Untuk itu, tidak lepas pula, kerjasama antar mediamassa di Surabaya dengan di China.
Menanggapi uraian ketua rombongan wartawan dari Surabaya itu, Ms.Xu Hong, menjelaskan bahwa Jiangmen TV telah menjalin kerjasama dengan beberapa televisi swasta di Surabaya, di antaranya dengan JTV dan SBO. Kerjasama tersebut adalah dalam bidang tukar menukar pemberitaan. Jiangmen TV bisa meminta siaran-siaran dari Surabaya dan Jawa Timur. Sebaliknya, televisi di Surabaya juga bisa meminta siaran-siaran dari Tiongkok yang dianggap penting untuk disiarkan.
Xu Hong, mengatakan, status televisi di Jiangmen ini milik Pemerintah Pusat, seperti BUMN (Badan Usaha Milik Negara) di Indonesia. Jumlah karyawan ada 300 orang yang terbagi dalam 10 bagian. Dijelaskan Xu Hong, seperti bagian produksi, teknis, pemberitaan, administrasi, tata usaha, seni, budaya, dan sebagainya.
Di Jiangmen, kata Xu Hong, juga terdapat televisi dengan siaran khusus, misalnya iklan. Juga ada TV kabel. Jiangmen TV memiliki kekhususan dalam bidang pemberitaan. Tahun 2013 Jiangmen TV mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Bahkan di Provinsi Guangdong, JMTV diakui sebagai televisi terbaik. Siarannya paling bagus, berita-berita yang disiarkan akurat, sehingga mendapat pujian dari berbagai pihak.
Selain itu TV ini juga diakui sebagai TV lokal yang paling modern dan paling banyak menyiarkan produk-produk daerah.
Suatu kebanggan bagi masyarakat Surabaya, Jiangmen TV juga pernah melakukan kegiatan peliputan di Kota Surabaya. Kami mengabadikan Kota Surabaya dari berbagai segi. Di antaranya liputan tentang Kota Pahlawan dengan mengabadikan Tugu Pahlawan, kegiatan bisnis di Kembang Jepun dan Pasar Atom. Kami juga menyaksikan upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI, kata Xu Hong sembari menyiarulang rekaman video di Surabaya itu.
Tidak hanya itu, Xu Hong juga menjelaskan, di Jiangmen yang merupakan wilayah kabupaten, mempunyai lebih 30 kecamatan. Di sini tiap kecamatan memiliki TV lokal yang digunakan sebagai pusat informasi masyarakat setempat. TV lokal itu siarannya hanya terbatas di kecamatan itu saja.
Di Kota Jianmen, punya satu TV lokal yang sifatnya nasional yakni Southern Radio Movie & TV Media Group, Jianmen Radio & TV Station. Mediamassa di China, termasuk mediacetak dan elektronik ikut berperan dalam akses memberikan informasi ke masyarakat, baik itu pemberitaan maupun seni budaya. Xu Hong menyatakan, media yang dipimpinnya, dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah.

Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak

Satu obyek kunjungan yang menarik di Kota Jiangmen adalah melihat dari dekat kegiatan belajar-mengajar di Sekolah Guru Taman Kanak-kanak.

IMG20141203122156
Memang, selain masalah wisata kota, lingkungan dan tata kota, di Provinsi Guangdong, juga ada yang menarik untuk digali dari dunia pendidikan. Hal ini terkait pendidikan dini, yakni taman kanak-kanak. Tepatnya di Kota Jiangmen terdapat sekolah perguruan kanak-kanak atau Jiangmen Kindergarten Teacher School of Guangdong Province. Sekolah ini juga menjadi tempat pusat training kepala sekolah dan guru TK. Menurut Principal Chemistry Senior Lecturer atau Kepala Sekolah Perguruan Kanak-Kanak Mr Huai Xing Li, sekolah yang dipimpinnya itu tak sekadar mencetak para guru dari Cina saja, tapi seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sampai 2013, sudah ada 200 guru asal Indonesia yang dididik di sekolah itu. Sebagian diantaranya berasal dari Jatim. Sekolah yang berdiri sejak 1980 ini, saat ini memiliki 6.000 mahasiswa setingkat D3. Mereka tinggal di asrama di lingkungan perguruan tersebut. Dengan kekuatan 200 dosen, sekolah milik pemerintah yang tahun ini mendapat bantuan sebesar 40 juta yuan per bulan, selalu memberikan beasiswa kepada mahasiswanya.
Beasiswa itu berlaku bagi mahasiswa asal suatu daerah (desa) yang mau kembali ke daerah asalnya untuk mengajar setelah lulus dari perguruan tersebut. Namun jika lulus, tapi tak mau kembali ke daerah asalnya atau justru mengajar bukan di daerah asalnya, maka kewajiban mahasiswa itu harus membayar kuliahnya. Begitu juga yang lulus dari tempat itu, tapi tak mau mengajar di sekolah pemerintah tapi memilih sekolah swasta, maka wajib membayar 5.000 yuan per tahun.

IMG20141203112101
“Pada perguruan ini, yang kita utamakan adalah pembelajaran karakter, kasih sayang, lingkungan, psikologi serta ketangkasan atau keterampilan. Di sini juga diajari menari, menggambar, menyanyi, calistung dan disiplin. Ini merupakan pendidikan dasar untuk membentuk karakter anak agar tetap berbudaya. Tahun ini, tidak ada mahasiswa dari Indonesia. Di tempat ini, pendidikan yang ditempuh hanya tiga tahun,” ungkap Mr Huai Xing Li didampingi Tjandra Wurianto Woo.
Huai Xing Li juga mengaku jika Bambang DH mantan wali kota Surabaya, pernah berkunjung ke perguruan tersebut. Begitu juga dengan dosen Universitas Widya Kartika Surabaya, pernah mengikuti training di perguruan tersebut. Perguruan itu merupakan satu-satunya yang ada di Guangdong.
Perguruan tersebut menjadi salah satu yang terbaik di Cina dan Asia. Untuk Jiangmen sendiri, lulusan perguruan itu akan disalurkan ke-400 TK di Jiangmen. Namun pemerintah setempat lebih perhatian kepada TK di daerah terpencil.
Kota Xiamen
Kelompok II diikuti 23 Wartawan Surabaya yang diketuai Ahmad Syaiku Djakri. Setelah berpisah dengan Kelompok II di Jiangmen, Kelompok II meneruskan perjalanan ke Kota Xiamen. Ini adalah sister city kedua Kota Surabaya di China setelah Guangzhou.
Dulu, Walikota Surabaya Bambang DH dan Walikota Xiamen, Chen Xiumao, menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama sister city (kota kembar) berlangsung di Surabaya, Jumat, 23 Juni 2008. Penandatanganan kerja sama ini, merupakan tindak lanjut dari upaya penjajakan yang telah dilakukan kedua kota. Letter of Intents` (LoI) itu terlaksana pada 8 September 2003 di Xiamen
Kerja sama sister city ini menyangkut berbagai bidang, di antaranya perdagangan, pariwisata, pendidikan, dan ilmu pengetahuan serta teknologi (Iptek).
Pada tahun 2005 lalu, delegasi Xiamen turut hadir dalam event internasional `Surabaya Counterparts Forum`, yang juga dihadiri sejumlah negara dan empat kota dunia yang telah menjalin sister city dengan Surabaya. Sedang delegasi Pemkot Surabaya pada tahun yang sama, menghadiri pameran industri, perdagangan dan investasi di Xiamen.
Surabaya dan Xiamen memiliki sejumlah kesamaan, di antaranya Surabaya punya pelabuhan dan institut teknologi, demikian juga dengan Xiamen. Kesamaan inilah yang bisa terus dikembangkan lebih lanjut. Xiamen merupakan kota kedua di China setelah kota Guang Zhou yang juga sister city Surabaya.
Kendati Kota Xiamen layak menjadi “guru” penataan cagar budaya bagi Kota Surabaya. Kota Xiamen dianggap mempunyai persamaan dengan Kota Surabaya, walaupun dari struktur wilayah daratannya sangat berbeda. Surabaya berada di pinggir laut dengan pelabuhan samudera Tanjung Perak yang berada di dataran rendah. Sedangkan Kota Xiamen merupakan kota pantai, pulau yang berbukit-bukit.
Sama dengan Surabaya, masalah pertamanan dan penghijauan di Xiamen tertata rapi. Namun sebuah perbedaan yang sangat mencolok dengan Kota Surabaya adalah sistem penataan lalulintas jalan rayanya. Pejabat Kota Xiamen lebih “berani” mengambil keputusan untuk merangkul investor. Hampir tak ada kemacetan lalulintas di jalan utama. Selain membuat jalan-jalan bebas hambatan yang lebar, juga membuat jalan-jalan layang yang tingginya melebihi pohon pelindung. Artinya, pembuatan jalan layang di sini tidak menggusur taman dan pohon di pinggir jalan yang sudah ada, Justru di bawah jalan layang itu pohon dan taman tertata indah.
Sarana perhubungan dan transportasi di Xiamen cukup lengkap. Ada beberapa jembatan melintas sungai dan laut antar pulau kecil. Juga ada terowongan yang menerobos badan gunung, bahkan terowongan di bawah laut. Di samping tetap mempertahankan kapal fery yang menyeberangkan penduduk ke pulau lain.
Xiamen Daily News
Rombongan wartawan Kloter II, di Kota Xiamen, mengunjungi kantor redaksi Suratkabar Xiamen Daily News. Rombongan yang dipimpin Ahmad Syaiku Djakri, ini diterima Pemimpin Redaksi Jiang Shukuang dan Wakil Pemimpin Redaksi Wang Jinming.
Setelah memperkenalkan rombongan wartawan dari Kota Surabaya yang berjumlah 23 orang, juga disampaikan salam dari Ibu Tri Rismaharini untuk warga Kota Xiamen. Tentunya, salam ini kami sampaikan melalui Suratkabar Xiamen Daily News, ujar Ahmad Syaiku.
Setelah menerima perkenalan dan menyambut salam dari Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Jiang Shukuang, menjelaskan pula tentang suratkabar yang dipimpinnya. Koran ini mempunyai oplah atau tiras 160 ribu eksemplar per-hari. Koran nomor dua setelah China Daily atau Renmin Ribao.
Di samping sebagai media cetak, Xiamen Daily News juga punya media on line. Saat ini Xiamen Daily News juga mendirikan pusat media di Xiamen. Selain itu juga menerbitkan koran lokal bernama harian pagi Chenbao dan harian terbit malam Wanbao.
Dikatakan, Xiamen Daily tumbuh pesat, karena merupakan media tunggal yang ada di Xiamen. Media ini milik Pemerintah, sehingga beritanya mendukung dan menjadi kepanjangan tangan pemerintah dalam menyampaikan segala kebijakan. Isinya memberikan edukasi, hiburan, serta berita yang bijak tanpa harus membuat pembaca panik, meskipun dalam memberitakan tragedi atau bencana.
Setelah penjelasan itu, terjadi tukar-menukar informasi dengan wartawan dari Surabaya.
Cagar Budaya di Pulau Gulangyu
Kunjungan ke Kota Xiamen, kurang lengkap kalau tidak menyeberang ke pulau kecil yang bernama Pulau Gu Lang Yu — ditulis Gulangyu. Pulau ini adalah satu pulau di depan Kota Xiamen. Hanya delapan menit dengan kapal fery menyeberang ke pulau kecil yang disebut juga Pulau “Jalan Kaki” dan “Pulau Piano”.
Pulau kecil ini punya sejarah yang menarik. hampir sama dengan Hongkong dan Macao, pulau ini menjadi kawasan hunian para kolonial dari Eropa. Berbagai peninggalan bangunan kolonial Inggris dan Belanda masih berdiri tagak dan megah di Pulau Gulangyu ini.
Nah, di Gulangyu inilah, kami melakukan studibanding tentang cagar budaya. Bagaimana melestarikan “keangkuhan” benda-benda kuno peninggalan penjajah itu. Sama juga dengan di Kota Surabaya, hampir 90 persen benda dan bangunan cagar budayanya juga peninggalan zaman penjajahan Belanda. Salah satu bangunan kokoh dan antik dengan arsitektur Eropa adalah bekas kantor Konsulat Inggris yang sekarang berubah fungsi menjadi hotel.
Memang, keunikan kawasan Pulau Gulangyu itulah yang menarik. Sehingga menjadi daerah tujuan wisata. Tanpa memilih waktu, hari-hari biasa dan hari libur Gulangyu selalu ramai oleh pelancong dalam negeri, maupun dari mancanegara.
Gulangyu di Xiamen adalah sebuah pulau dari 1,78 kilometer persegi. Apabila kita memasuki daerah perumahan pulau itu, kita akan mulai mendengar gema musik lembut. Gulangyu juga disebut “Pulau Piano” oleh penduduk setempat. Musik piano dari villa dan lingers sepanjang jalan-jalan sempit pulau, banyak seorang musisi terkenal China berasal dari Xiamen.
Tidak hanya bangunan kuno dan antik yang menjadi obyek di Gulangyu, di sini ada sebuah bangunan besar yang dijadikan sekolah musik, bernama Xiamen Music School. Ternyata sejak zaman dulu, di pulau ini ada sebuah bangunan tempat penduduk China belajar musik Barat. Tempat itu, sekarang dijadikan Museum Piano — karena puluhan piano zaman dulu masih terawat rapi di sini — dan masih bisa difungsikan.
Sama juga dengan di Kota Surabaya, perhatian pemerintah kota terhadap cagar budaya di Xiamen juga serius. Mungkin Pemkot Xiamen lebih serius daripada Pemkot Surabaya. Di samping menjaga kelestarian benda peninggalan kolonial dan kerajaan zaman dulu, Pemkot Xiamen juga mengartikan cagar budaya dengan sikap dan keseharian warganya. Cagar budaya tidak semata-mata melestarikan benda mati, seperti gedung, patung dan benda bersejarah. Tetapi, juga melestarikan adat istiadat di kawasan tertentu. Kawasan itu disebut sebagai kawasan cagar budaya.
Tidak hanya itu perhatian yang diberikan oleh Pemerintah, baik pusat maupun kota. Kendati gedung-gedung itu milik perorangan dan swasta, tetapi sejak dinyatakan bangunan atau kawasan itu sebagai cagar budaya, pemerintah menyiapkan pembiayaan dengan anggaran rutin untuk perawatannya.
Layak diperpanjang
Kegiatan yang dilaksanakan Pemkot Surabaya dengan mengikutsertakan Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Pemkot Surabaya melakukan studibanding ke berbagai kota yang menjadi sister city atau kota kembar adalah hal yang sangat positif. Melalui penulisan dan penyiaran yang dilakukan wartawan melalui mediamassa, maka masyarakat akan mengetahui manfaat kerjasama antarkota Surabaya dengan kota di dalam dan luar negeri. Sebab, kerjasama antarkota itu saling menguntungkan bagi Kota Surabaya dengan kota kembar atau sister city yang bekersama dalam berbagai hal. Tidak saja dengan kota-kota di luar negri atau mancanegara, tetapi juga dengan kota-kota yang ada di dalam negeri.
Dari pantauan wartawan yang melakukan studibanding itu, akan terlihat pula kota-kota mana saja yang menguntungkan dalam kerjsama itu dan mana yang tidak. Dengan adanya penilaian yang obyektif dan kritis dari mediamassa itu, kita dapat melakukan evaluasi, tentang keberadaan masing-masing kota yang merupakan kota kembar Surabaya.
Selama ini berdasarkan tinjauan singkat dan liputan yang dilakukan wartawan, kerjasama dua kota dengan system sister city itu, telah memberikan cakrawala yang luas bagi pembangunan di Kota Surabaya. Banyak hal positif yang dapat dipetik dari pembangunan di kota-kota lain yang bias ditiru oleh Kota Surabaya. Sebaliknya, kota-kota lain juga banyak belajar dari Kota Surabaya.
Nah, kerjasama kota kembar Surabaya dengan dua kota di China, yakni Kota Guangzhou dan Kota Xiamen yang memasuki tahun ke sepuluh pada tahun 2015 ini, kami nilai sangat positif. Banyak ilmu yang dapat digali dari kerjasama dua kota itu. Hasil yang dirasakan manfaatnya bagi Kota Surabaya cukup baik. Mulai dari kerjasama bidang pemerintahan, pendidikan, perguruantinggi, kepariwisataan, bisnis hubungan antar pengusaha, kegiatan kepelabuhanan, transportasi dan infrastruktur, kebersihan dan pertamanan, teknologi informasi dan komunikasi, serta hal-hal lainnya.
Jadi, kerjasama Kota Surabaya dengan dua kota di China itu, yakni Kota Guangzhou di Provinsi Guangdong dan kota Xiamen di Provinsi Fujian, layak untuk dilanjutkan dan diperpanjang. (*)

Berkunjung ke Kota Busan – Sister City Surabaya di Korea Selatan

Laporan: Yousri Nur Raja Agam

Yousri Nur RA,MH

UDARA dingin menyambut kedatangan kami di Kota Busan, Korea Selatan. Temperatur di kota bagian Selatan, Korsel ini memang tidak sedingin ibukotanya, Seoul di utara yang bersalju. Nah, di dua kota itulah saya bersama teman-teman wartawan dari Surabaya berlibur akhir tahun selama sepekan. Busan adalah “kota kembar” atau sister city Kota Surabaya di Korsel.
Berangkat dari Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo, Minggu pagi pukul 08.20 WIB dengan pesawat terbang Cathay Pasific. Setelah terbang selama enam jam, kami mendarat di Bandara Hongkong, China, pukul 14.20. Di bandara yang terkenal sibuk di kawasan Asia-Pasifik ini kami tidak langsung menuju Korea. kami harus menunggu jadwal penerbangan ke Kota Busan, pukul 02.32 dinihari. Artinya, kami selama 12 jam lebih berada di kota pula bekas jajahan Inggris itu.
Dinihari, 16 Desember lalu, kami meninggalkan Hongkong, terbang menuju Kota Busan dan mendarat di kota pelabuhan terbesar ke lima di dunia itu pukul 06.40 waktu setempat. Sesampainya di negeri ginseng itu, kami langsung menuju gedung BIC (Busan Indonesia Center). Di sini kami dijamu oleh perwakilan Indonesia yang dipimpin oleh Mr.Kim Soo-il, PhD — orang Korea yang fasih berbahasa Indonesia.
Mr.Kim Soo-il menjelaskan, BIC di Busan ini berperan menjadi perwakilan Kota Surabaya di Korea Selatan. Kendati gedung ini berfungsi sebagai perwakilan Kota Surabaya, namun aktivitasnya mempromosikan Jawa Timur dan Indonesia secara umum. Kedatangan kami di Busan, cukup istimewa, karena kami adalah delegasi pertama yang mengetahui persiapan HUT (Hari Ulang Tahun) ke-20 sister city Busan Metropolitan dengan Kota Surabaya pada tahun 2014 ini.
Kerjasama antara Kota Surabaya dengan Kota Busan di Korea Selatan dalam bentuk MoU (Memorandum of Understanding) ditandatangani oleh Walikota Surabaya H.Sunarto Sumoprawiro,l 10 November 1994. Ada enam kesepahaman yang disepakati waktu itu, yakni: pengembangan pelabuhan, perdagangan dan pengembangan ekonomi, pendidikan, kebudayaan, pemuda dan olahraga, lingkungan hidup dan pengelolaan kota, transportasi dan pariwisata, serta peningkatan sumberdaya.
Buah dari kerjasama kota kembar Surabaya dengan Busan ini, diwujudkan dengan peningkatan kegiatan investasi dari negeri “ginseng” ini di Surabaya. Forum kerjasama pendidikan diawali dengan memberangkatkan rombongan siswa SMA Negeri 5 Surabaya yang berkunjung ke Dong-Eui High School di Busan, 4 Oktober 1995. Sekaligus para siswa ini mengikuti Pusan Po Festival dan konferensi Pusan Sister City.
Berikutnya utusan DPRD Kota Busan, 6 Juni 1996 menjadi tamu kehormatan di Surabaya. Saat ini sekaligus ditindaklanjuti pelaksanaan kerjasama sister city Surabaya-Busan. Kunjungan balasan juga datang dari mahasiswa Dong-Eui University Busan. Kerjsama bidang pendidikan ini diwujudkan pula dengan perjanjian kerjasama antara Universitas Kristen Petra Saurabaya dengan Dong-Eui University tanggal 26 Juli 1996.
Berbagai kegiatan sepanjang tahun terus berlangsung dari berbagai sektor. Puncak acara yang cukup berkesan terjadi tanggal 11 sampai 14 Oktober 2004. Pemerintah Kota Surabaya mengikuti Sister City Forum di Busan yang sekaligus membahas program kerja tahun 2005. Sebaliknya, Juli 2005 Pemkot Surabaya yang mengundang Pemkot Busan mengikuti Sister City Forum di Surabaya dan Oktober 2005 dilanjutkan pula pertemuan pembahasan perogram kerjasama tahun 2006.
Jalan Surabaya
Kota pelabuhan yang mulai berkembang sejak tahun 1876 ini, kegiatan armada kapal dagangnya juga sudah sering melakukan angkutan antarnegara dengan Indonesia, khususnya ke Surabaya. Busan memang sudah lama berkembang menjadi kota maritim, perdagangan, industri, pendidikan dan pariwisata. Jadi, sama dengan Kota Surabaya yang menggunakan predikat kota Indamardi (Industri, perdagangan, maritim dan pendidikan) atau Budi Pamarinda (Budaya, pendidikan, pariwisata, maritim, industri dan perdagangan).
Selama 20 tahun terjalin kerjasama antarkota Surabaya dengan Busan, memang sudah banyak hal positif yang diperoleh. Di samping dunia pendidikan, yang lebih banyak adalah yanbg berkaitan dengan inverstasi dan pengembangan ekonomi, serta kepelabuhanan.
Ada yang menarik dalam acara peringatan 20 tahun kerjasama Kota Surabaya dengan Kota Busan. Di mancanegara itu akan diresmikan sebuan jalan dengan nama “Jalan Surabaya”. Di samping jalan itu ada sebuah taman yang terletak di pinggir sungai, juga akan berubah menjadi “Taman Sura Ing Baya”. Di taman itu akan berdiri patung ikan Sura (hiu) bersama buaya yang dikirim dari Surabaya. Jalan Surabaya dan Taman Sura Ing Baya ini terletak di samping gedung BIC (Busan Indonesia Center).
Walikota Surabaya, Tri Rismaharini akan berkunjung ke Busan. Di sana bersama dengan Walikota Busan diresmikan nama Jalan Surabaya dan Taman Sura Ing Baya di Kota Busan.

Buk-Gu Busan City

Sewaktu berkunjung ke Kota Busan, wilayah yang dikunjungi pertamakali adalah Busan Utara yang disebut Buk-Gu Busan Metropolitan City. Rombongan disambut dan diterima oleh Walikota Busan Utara Mr.Hwang Jae Kwan dan Wakil Walikota Busan Utara Mr.Park Jong Moon.
Walikota Mr.Hwang Jae Kwan menyambut dan menyampaikan ucapan selamat datang kepada delegasi Pemkot Surabaya bersama Wartawan dari Surabaya. Pada kesempatan itu Mr.Hwang menginformasikan bahwa Busan Utara merupakan salah satu daerah dengan lingkungan yang bersih, mempunyai taman Eko Hameon yang berfungsi sebagai taman untuk kesehatan. Daerah ini juga merupakan salah satu tujuan wisata di Kota Metropolitan Busan, dan suasana di wilayah ini sama cantiknya dengan Kota Surabaya.
Pimpinan Delegasi Kota Surabaya Suharto Wardoyo,menyatakan bangga, kerjasama Kota Surabaya dengan Kota Busan. Kalau sebelumnya di Kota Surabaya sudah ada Taman Korea Selatan, maka Pemkot Surabaya juga akan menyiapkan Patung “Sura ing Baya”, yaitu patung ikan Sura (paus) dengan Buaya, sebagai ikon Kota Surabaya. Patung “Sura ing Baya” itu akan dipajang di taman yang terletak di samping gedung BIC atau Jalan Surabaya yang berada di pinggir sungai.
Sembari memperlihatkan desain Patung “Sura ing Baya” Suharto Wardoyo, mengatakan, selama ini Pemkot Surabaya juga menggelar Global Gathering di Busan setiap tahunnya. Di samping itu juga tukar-menukar delegasi pendidikan yang diwakili para guru dan murid dari Busan ke Surabaya yang digelar tiap Februari. Sebaliknya dari Surabaya juga mengirim delegasi pendidikan guru dan murid bertepatan dengan Asian Youth Forum pada Juli 2014.

DPRD Busan Utara

Setelah diterima oleh walikota Busan Utara, rombongan juga disambut oleh pimpinan dan anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Busan Utara yang disebut Buk-Gu Council of Busan Metropolitan City.
Tujuh dari 13 Anggota DPRD Busan Utara menyambut kehadiran delegasi Pemkot Surabaya dan wartawan di ruang pimpinan DPRD Busan Utara. Ke tujuh orang itu adalah. Ketua DPRD Busan Utara: Mr. Ing Sun Jung dan Wakil Ketua DPRD Busan Utara: Mr. Sang Cheon An. Lima anggota lainnya adalah: Ms. Lee Soon Young, Mr. Kim Man Jong, Ms. Soen Yeon Ja, Mr. Park Hyung Joo dan Mr. Park Sung Hee

Ketua DPRD Mr.Ing Sun Jung menyatakan, DPRD Busan Utara adalah lembaga legislatif (Buk-Gu Council of Busan Metropolitan City) yang melakukan kerjasama dan pengawasan dalam pemerintahan Kota Metropolitan Busan. Ada empat wilayah otonom di Kota Busan yang masing-masing dipimpin oleh seorang walikota dan wakil walikota. Di tiap Distrik kota ini mempunyai anggota DPRD.

DSC03801
Untuk Busan Utara, anggota DPRD-nya berjumlah 13 orang yang mewakili lima daerah pemilihan (dapil). DPRD di Busan Utara membagi tugas menjadi 3 (tiga) komisi, yaitu: Council Executive Committee, Planning & Admin Committee dan Urban Construction Committee.
DPRD Busan Utara menyambut baik kerjasama kota kembar (sister city) Kota Busan dengan Kota Surabaya yang sudah berlangsung hampir 20 tahun (1994-2014). Kerjasama antarkota ini sangat bermanfaat untuk pertukaran budaya, investasi, ekonomi dan pendidikan. Untuk itulah, agar kerjasama yang sudah berlangsung 20 tahun ini perlu diteruskan.
Suharto Wardoyo, kembali menyampaikan informasi, bahwa Pemkot Surabaya akan menyiapkan Patung “Sura ing Baya”, yaitu patung ikan Sura (paus) dengan Buaya, sebagai ikon Kota Surabaya. Patung “Sura ing Baya” itu akan dipajang di taman yang terletak di samping gedung BIC atau Jalan Surabaya yang berada di pinggir sungai.
Sebagaimana sebelumnya, Surabaya juga mengirim delegasi pendidikan guru dan murid bertepatan dengan Asian Youth Forum pada Juli 2014, ujar Suharto Wardoyo yang akrab disapa Anang itu.

TV KBS di Busan

Kunjungan ke Busan tidak disia-siakan rombongan wartawan dari Surabaya berkunjuung ke stasiun televisi KBS (Korean Broadcasting Service) Busan. KBS Busan adalah perwakilan KBS yang merupakan milik Pemerintah Pusat Korea Selatan yang berkedudukan di ibukota negara di Seoul. Siaran-siaran yang disampaikan oleh KBS dipancarluaskan ke berbagai kota di Korea Selatan, dan juga dapat ditonton di wilayah lain.

IMG-20131216-04129
TV KBS memproduksi berita dan siaran sendiri, di samping juga merelay berita dan siaran dari TV di Kota Seoul. Berita-berita yang disampaikan bersifat umum, sama dengan siaran televisi pada umumnya.
Sebelum ada TV, KBS merupakan satu-satunya siaran radio Korea Selatan yang dimulai penyiarannya pada tanggal 15 Agustus 1953. KBS menyajikan program bahasa Inggris selama 15 menit setiap hari. Di samping itu KBS Radio menyelenggarakan siaran dalam 10 bahasa, yakni bahasa Jepang, Korea, Prancis, Russia, China, Spanyol, Indonesia, Arab dan Jerman.
Di era internet sekarang ini, KBS menyelenggarakan siaran internet lewat peluang cyber, melampaui batas siaran radio gelombang pendek yang konservatif. Pada bulan November 1997 KBS World Radio membuka siaran internet melalui penyediaan homepage.

Udara dingin di Seoul, ibukota Korsel

Udara dingin di Seoul, ibukota Korsel

Nah sekarang TV KBS terus meningkatkan daya saing melalui berbagai program yang bervariasi dan berkualitas dengan teknologi mutakhir untuk kepuasan pendengar dan pemirsa. Sumber keuangan kami berasal dari lecense fees dan iklan.
Selain berkunjung ke TV KBS ini, beberapa sarana kota juga menjadi sasaran kunjungan di Kota Busan, kota kembar Surabaya ini. Di antaranya ke Bexco — tempat pameran dan konferensi,. Rumah produksi film dan Haewondae Beach (pantai wisata).

Metropolitan Busan

Kunjungan untuk memperdalam pengertian kerjasama kota kembar Busan-Surabaya dilaksanakan dengan mengunjungi pusat pemerintahan Kota Metropolitan Busan. Di Balaikota Busan rombongan disambut oleh Kim Ki Hwan – Director International Relation (Direktur Hubungan Internasional) atas nama Walikota Metropolitan Busan.
Diskusi dan penjelasan tentang perjalanan sister city Busan-Surabaya itu di perkuat pula oleh Kwon Dae Eun – Deputy Director International Exchange, Cho Yoo Jang – Deputy Director Policy Planning, Lee Il Yong – Deputy Director Public Relation, Seo Tae Won – Deputy Director Urban Planning Div, Seong Joo Dong – Deputy Director Disaster Safety Div, Lee Jin Ho – Deputy Director Fire Administration Div dan Kim Choon Geun – Deputy Director Environment Policy Div.
Mr.Kim Ki Hwan menginformasikan tentang Kota Metropolitan Busan secara panjang lebar. Kota ini terletak di ujung sebelah tenggara semenanjung Korea. Kota Busan berada di lembah Sungai Nakdong dan Suyeong. Juga ada bukit dan pegunungan yang memisahkan beberapa kabupaten. Secara administratif, Busan ditetapkan sebagai Kota Metropolitan. Busan wilayah metropolitan dibagi menjadi 15 distrik administratif. Hubungan Busan dengan Kota Surabaya sebagai sister city, juga sama dengan sister city kota-kota lain di berbagai negara.
Busan menjalin kerjasama sebagai sister city dengan Kota Surabaya tahun 1994. Kerjasama yang sudah dilaksanakan antara lain: bidang ekonomi, budaya, pariwisata, pendidikan dan kerjasama pelabuhan.
Busan merupakan kota pelabuhan terbesar di Korea dan ke lima di dunia, merintis kerjasama kepelabuhannan dengan Tanjung Perak Surabaya. Di samping bongkar-muat dan angkutan barang, pelabuhan Busan juga melakukan berabagai kegiatan jasa kepelabuhanan atau maritim, di antaranya pembuatan (pabrik) kapal dan dok memperbaiki kapal.

Setelah Suharto Wardoyo, memperkenalkan satu per-satu anggota rombongan,l dilanjutkan tanya-jawab tentang masalah kependudukan dan masalah penanggulangan kebakaran. Kebetulan, Suharto Wardoyo yang menjadi pimpinan rombongan adalah Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispenduk-Capil) Kota Surabaya. Di samping juga ikut mendampingi rombongan, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya Chandra Oeratmangun.
Dijelaskan bahwa penduduk kota Busan mencapai 10 juta orang dengan woilayah seluas 700 kilometer persegi. Kartu Tanda Penduduk (KTP) berlaku seumur hidup, ujar Seo Tae Won – Deputy Director Urban Planning Div.
Sedangkan menyangkut ancaman kebakaran di Busan, dijelaskan bahwa prinsipnya hampir sama dengan di Kota Surabaya, penyebab utama kebanyakan (35%) akibat hubungan singkat (korsleting) listrik, kata Lee Jin Ho – Deputy Director Fire Administration.
Apabila terjadi kebakaran, upaya pemadaman pertama langsung oleh masyarakat yang sudah dilatih dan terlatih dengan menggunakan alat pemadam sendiri. Untuk Dinas pemedam kebakaran, langsung datang paling lambat 5 (lima) menit setelah dihubungi. Armada langsung bergerak dari posko terdekat. Di samping menggunakan 385 armada kendaraan bermotor, juga ada 2 (dua) unit pemadam helikopter. Tandon atau sumur air Dinas Pemadam Kebakaran ada di sepanjang jalan yang jaraknya setiap 200 meter.
Dalam tahun 2013, sejak Januari sampai Desember sudah terjadi 5.727 kasus kebakaran yang mengakibatkan 22.000 orang korban kehilangan tempat tinggal dan tempat usaha. Dari jumlah itu, 21 orang meninggal dunia, jelas Lee Jin Ho.
Suratkabar Busan Ilbo

Kunjungan ke sebuah penerbitan di Kota Busan, tidak dilewatkan begitu saja oleh awak media dari Kota Pahlawan. Di Busan, kantor suratkabar yang dikunjungi terletak di tengah kota, yakni suratkabar bernama: Busan Ilbo dibaca Pusan Ilbo. Dalam bahasa Inggris disebut: The Busan Ilbo (Daily News). Koran berbahasa dan aksara Korea ini telah melakukan penerbitan sejak tahun 1946.

IMG-20131217-04331
Sesuai dengan perkembangan zaman, sekarang Koran Busan Ilbo ini terus berkembang. Bahkan sudah mempunyai wartawan di berbagai negara. Termasuk, seteru Korea Selatan, yaitu Jepang. Saat ini juga ada wartawan dari Jepang yang magang di Busan Ilbo, namanya Kei Izaki (hadir dan diperkenalkan kepada rombongan wartawan dari Surabaya).
Berita dengan gambar dan foto, selain bersumber dari wartawan dan koresponden di dalam dan luar negeri Korea, juga dari kantor-kantor berita melalui internet atau on-line.
Suratkabar ini terbit tiap pagi dengan oplah (tiras) sebanyak 300,000 eksemplar setiap hari. Misi suratkabar ini bersifat umum dengan pembaca utama adalah warga kota Busan dan sekitarnya, termasuk beberapa kota di luar Busan.
Rubrik yang disajikan dalam suratkabar ini adalah: Berita nasional, internasional, daerah (distrik), kota dan wilayah lain di Korea Selatan. Juga berita politik, pemerintahan, olahraga, budaya dan kesenian, hiburan, ilmu pengetahuan, bisnis dan iklan.

Dong-Eui University

Rombongan dari Surabaya ini sengaja mendatangi sebuah kampus perguruan tinggi di Kota Busan yang juga mempunyai beberapa hubungan dengan beberapa perguruan tinggi dan sekolah menengah di Surabaya. Universitas Dong-Eui University atau Dong-Eui University memang sudah tidak asing di kalangan pakar kota di Surabaya. Saat berkunjung ke kampus yang terletak di puncak bukit itu, kami disambut langsung oleh Presiden (Rektor) Universitas Dong-Eui Busan, Mr. Sang-Moo Shim, Ph.D in Law di ruang sidang pertemuan rektorat kampus Dong-Eui Busan.

Picture 087
Presiden (Rektor) universitas ternama di Busan ini didampingi lima profesor. Prof. Sang-Moo Shim menjelaskan bahwa Dong-Eui University Busan berdiri tahun 1966. Visinya adalah meningkatkan kualitas pendidikan untuk kesejahteraan masyarakat. Universitas Dong-Eui merupakan pusat pendidikan profesional yang mengelola jenjang pendidikan tingkat SMP, SMA, fakultas untuk S-1 dan pasca sarjana. Fasilitas pendidikan terletak di dalam Kota Busan yang bersih dan luas.
Jumlah mahasiswa Universitas Dong-Eui akhir tahun 2013 ini mencapai 13.000 orang dengan jumlah pengajar 1.500 orang. Universitas ini terdiri dari 9 (sembilan) fakultas dengan 78 (tujuh puluh delapan) jurusan. Fakultas tersebut adalah: Sastra, Hukum, Komersial, FMIPA (Matemathika dan IPA), Kedokteran, Teknik, Keolahragaan dan Kesenian. Semua fakultas itu juga sampai ke jenjang magister dan doktor (S-2 dan S-3).
Dalam prosentase penyaluran lapangan kerja Universitas Dong-Eui Busan termasuk peringkat ke-11 di Korea dan ke-1 di Busan.
Tentang kerjasama Universitas Dong-Eui dengan beberapa Perguruan Tinggi di Surabaya, termasuk kegiatan belajar-mengajar pertukaran mahasiswa dan siswa SMA-SMK di Surabaya. Secara rinci dipaparkan program kerjasama pendidikan yang sudah dilaksanakan, yaitu pendidikan untuk guru dan siswa. Disampaikan pula tentang kerjasama dan informasi pendaftaran mahasiswa asing tahun 2014-2015 mendatang. (*)

Rapat Raksasa 21 September 1945 Di Lapangan Tambaksari Surabaya Mengapa Hilang dari Sejarah Perjuangan Arek-Arek Surabaya?

Rapat Raksasa 21 September 1945

Di Lapangan Tambaksari Surabaya

 Yousri Nur RA_Hitam_MP

Mengapa Hilang dari Sejarah Perjuangan Arek-Arek Surabaya?

 

Oleh: HM Yousri Nur Raja Agam

 

SETELAH peristiwa bersejarah “insiden bendera” di Hotel Yamato tanggal 19 September 1945, pemuda pejuang dan rakyat terus-menerus menunggu perkembangan. Suasana tanggal 20 September 1945, kelihatan ramai membicarakan rencana Rapat Raksasa di Lapangan Tambaksari, Surabaya, 21 September 1945.

            Beberapa posko dan kantor pemuda, di antaranya di Markas PRI (Pemuda Republik Indonesia) di Wilhelmina Princesslaan atau Jalan Tidar menyelenggarakan rapat merencanakan rapat raksasa di Tambaksari. Selain itu, rapat KNID (Komite Nasional Indonesia Daerah) Surabaya yang berlangsung di GNI (Gedung Nasional Indonesia) di Jalan Bubutan, juga membicarakan tentang rencana Rapat Raksasa di Tambaksari.

            Rapat Raksasa ini awalnya digerakkan oleh Pemuda Minyak yang sudah membentuk panitia sebanyak 20 orang.  Begitu ada keputusan menyetujui rapat raksasa di Tambaksari, S.Kasman dan kawan-kawannya menggerakkan truk-truk pengangkut pegawai menuju Tambaksari. Bahkan di antaranya, truk tanki juga dijadikan alat angkut massa.

            Rapat raksasa seperti di Surabaya tanggal 21 September 1945 ini sebelumnya  juga sudah berlangsung di Lapangan Ikada (kemudian bernama Lapangan Banteng) Jakarta tanggal 19 September 1945. Beberapa pemuda yang dikenal sebagai anggota GBT (gerakan bawah tanah) juga mempersiapkan mobil berpengeras suara, “berhallo-hallo” keliling kampung di dalam Kota Surabaya.

            Para pemuda Indonesia yang sudah terbakar semangat “merdeka” setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, terus berusaha menyebarluaskan informasi itu secara langsung kepada rakyat. Walaupun kabar tentang kemerdekaan ini sudah disebarluaskan melalui mediamassa — radio dan suratkabar — namun belum semua penduduk mengetahui, sebab berita itu masih dari mulut ke mulut.

            Begitu ada kabar yang disebarkan melalui mobil pengeras suara yang “berhallo-hallo” keliling kota masuk ke kampung-kampung, rakyat berduyun-duyun menuju Tambaksari. Apalagi disiarkan, dalam rapat raksasa itu akan berpidato para petinggi negeri ini. Acara rapat raksasa yang direncanakan dimulai pukul 15.00 atau jam tiga sore itu, telah ramai sejak pukul satu siang.

            Pengerahan massa rakyat  dilaksanakan kelompok pemuda pejuang yang bergerak “di bawah tanah”. Demikian istilah yang digunakan untuk kegiatan secara diam-diam atau tersamar. Dengan berbagai agitasi dan propaganda yang dilakukan, ternyata hal ini benar-benar menarik masyarakat untuk datang ke Lapangan Tambaksari.

            Selain berjalan kaki, bersepeda, naik beca, ada juga yang naik truk yang sebelumnya dirampas dari pos dan markas tentara Jepang. Bahkan ada pula pemilik truk yang memperbolehkan truknya dipakai pemuda untuk ke Lapangan Tambaksari.

            Rakyat yang datang ke Lapangan Tambaksari itu  juga mendapat selebaran dan pamflet yang dibagi-bagikan melalui mobil berpengeras suara. Selebaran itu dicetak di beberapa percetakan yang biasanya mencetak suratkabar. Truk-truk yang membawa massa rakyat ke Lapangan Tambaksari juga ditempeli berbagai pamflet dan poster. Di samping itu ada pula yang ditulis dengan cat berupa kalimat yang membakar semangat.

            Tidak hanya dalam Bahasa Indonesia, tulis Des Alwi dalam bukunya Pertempuran Surabaya November 1945. Ada yang ditulis dengan Bahasa Inggris, Bahasa Belanda dan juga Bahasa Perancis. Misalnya: Milik RI, Down with Colonialism, Soekarno-Hatta Yes! NICA No, Let Freedom ring all over the World. Bahasa Perancis juga ada selogan yang terinspirasi dari Revolusi Perancis, misalnya: Liberte, Egalite, Fraternite yang artinya kebebasan, persamaan, persaudaraan. Di samping disebarkan kepada masyarakat, juga banyak yang ditempelkan di dinding-dinding gedung yang sebelumnya dikuasai Jepang, kereta api dan truk maupun mobil-mobil yang ada waktu itu.

            Para pemuda yang aktif sebagai panitia dalam penyelenggaraan Rapat Raksasa ini, pengurus PRI (Pemuda Republik Indonesia), antara lain: Hasan, Soemarsono, Soerjono, Dimjati, Hassanoesi, Abdoel Madjid, Pohan, Soemarno, Karjono,  Abdoel Sjoekoer dan Koesnadi.           Puncak keberhasilan menghimpun massa itu, salah satu yang perlu dicatat adalah inisiatif Hassanoesi yang mengerahkan turk-truk dan mobil hasil rampasan dari Jepang. Massa rakyat berebut naik truk dan mobil yang menuju Tambaksari.

            Rapat raksasa itu bertujuan untuk meningkatkan semangat massa rakyat agar lebih berani berkorban demi mempertahankan  proklamasi kemerdekaan.  Di samping itu, juga perlu dipupuk rasa persatuan dan bertekad bulat menghadapi segala kemungkinan yang akan datang. Untuk mempertahankan kemerdekaan itu, dicanangkan tekad yang berbunyi: “Merdeka atau Mati”.

Dihadiri Residen Sudirman

            Tepat pukul 16.00, Rapat Raksasa di Lapangan Tambaksari dimulai. Acara dibuka dengan pidato pengantar oleh Ketua BKR Surabaya Abdoel Wahab. Berturut-turut kemudian pidato yang membangkitkan semangat disampaikan oleh Residen Sudirman, Soemarsono, Lukitaningsih, Abdoel Sjoekoer, Sapia dan Koenadi.

            Semua pembicara mendapat sambutan sangat meriah, tulis Des Alwi. Bahkan ada seorang tokoh PRI-Simpang dengan pidato berapi-api melontarkan secara ekspresif hal-hal yang tersimpan dalam lubuk hatinya, sehingga bisa memuaskan perasaan arek-arek Suroboyo.

            Sekembalinya dari menghadiri Rapat Raksasa di Tambaksari itu. semangat rakyat berkobar-kobar, berikut datangnya keberanian untuk segera bergerak mempertahankan kemerdekaan. Kesimpulan tersebut sangat tepat, karena para pemuda tersebut sebelumnya tidak pernah minta izin kepada penguasa Jepang untuk menyelenggarakan Rapat raksasa itu. Persitiwa itu bagaikan bensin, sehingga api yang sudah panas semakin membara. Sekaligus bisa memperkuat keyakinan para pemuda bahwa sisa-sisa kekuasaan pasukan pendudukan Jepang harus dibongkar sampai ke akar-akarnya.

            Massa pemuda juga meningkatkan aksinya dengan merobek-robek poster Jepang berisi larangan mengeluarkan pendapat, baik secara lisan maupun tulisan. Gerakan protes semacam ini kemudian berkembang menjadi aksi massal. Poster-poster Jepang diganti dengan plakat buatan anak-anak muda itu sendiri.

Ditangkap Kempetai

            Lukitaningsih, wartawati Lembaga Kantor Berita Antara yang juga ketua Pemuda Puteri, merupakan satu-satunya tokoh pejuang wanita yang ikut pidato dalam Rapat Raksasa di Tambaksasi 21 September 1945. Di dalam buku Seribu Wajah Wanita Pejuang dalam Kancah Revolusi ’45, Lukitaningsih mengungkapkan, bahwa para pemimpin  pemuda dengan tegas bergantian pidato untuk membakar semangat juang. Tiada lain tujuannya, agar pemuda-pemuda dan rakyat tetap bersatu padu dan tetap mempertahankan berkibarnya sang merah-putih untuk selama-lamanya.

            Selaku ketua Pemuda Puteri, ulas Lukitaningsih, ia mengetahui bahwa saat Rapat Raksasa berlangsung, pasukan Kempetai (Polisi Militer Jepang) bersenjata lengkap bersiaga di sekeliling lapangan Tambaksari. Mereka menempatkan truk, panser dan tank-tanknya. Begitu acara selesai sekitar pukul 19.00, sebelas orang yang dianggap tokoh ditangkap. “Termasuk saya, digiring masuk kendaraan Kempetai dan dibawa ke markasnya di bekas kantor Raad van Justitie (Pengadilan Tinggi zaman Belanda) — yang sekarang sudah hancur dan di tempat itu didirikan Tugu Pahlawan.

            Sejak ditangkap, kami yang sebelas orang itu ditempatkan di sebuah ruangan besar, kata Lukitaningsih. Kami menunggu nasib, entah mau diapakan. Yang jelas, Kempetai itu tersohor kekejamannya. Menurut cerita, jarang orang yang tertangkap di situ akan keluar hidup-hidup. Dengan penuh kesadaran akan hal itu, jiwa muda kami tidak gentar, hanya pasrah kepada Tuhan yang Maha Esa. Apa yang terjadi tidak kami pikirkan lagi.

            Kami menunggu sambil berbincang-bincang, bagaimana kalau kami ditembak mati, bagaimana dengan teman-teman selanjutnya.Apabila selamat bagaimana strategi perjuangan kami selanjutnya. Pokoknya kami pertaruhkan segalanya demi kemerdekaan Indonesia, kata Lukitaningsih yang kemudian dikenal dengan nama Hj.Lukitaningsih Irsan Radjamin.. Selain sebagai wartawati dan redaktur senior di LKBN Antara di Jakarta, Lukitaningsih menduduki jabatan sebagai Ketua Umum Wirawati Catur Panca, yakni organisasi para perempuan pejuang kemerdekaan RI.

            Sekitar tengah malam pintu ruangan tempat kami disekap dibuka. Tampak beberapa pejabat pemerintahan dan tokoh pejuang datang untuk membebaskan kami. Ternyata setelah mengetahui sebelas orang disekap di markas Kempetai, para petinggi pemerintahan dan pejuang berusaha menghubungi pimpinan Kempetai. Kepada pimpinan tentara Jepang di Surabaya dikatakan, bahwa yang disekap itu adalah pemimpin pemuda Surabaya. Apabila mereka tidak dibebaskan, maka massa rakyat dan pemuda Surabaya akan menyerbu markas Kempetai.

            Peristiwa itu merupakan modal yang sangat berarti untuk lebih mempersiapkan segenap lapisan pemuda dan rakyat. Kita harus siap mengadakan perlawanan kepada siapapun  yang akan menginjak-injak kehormatan bangsa, ujar menantu Radjamin Nasution — Walikota Surabaya yang pertama sejak zaman Jepang dan Indonesia merdeka itu.

Sejarah yang dilupakan

            Kendati “Rapat Raksasa” tanggal 21 September 1945 ini merupakan  peristiwa bersejarah yang luar biasa, namun hampir tidak pernah menjadi bahan pembicaraan dalam sejarah perjuangan arek-arek Surabaya. Padahal puluhan ribu rakyat Surabaya berduyun-duyun menghadiri acara di lapangan sepakbola yang sekarang bernama Stadion Gelora 10 November di Jalan Tambaksari Surabaya. Konon kabarnya, ada masalah politis di balik peristwa itu.

            Roeslan Abdulgani yang lebih akrab disapa Cak Ruslan dalam suatu wawancara khusus dengan penulis, mengakui adanya Rapat Raksasa di lapangan sepakbola  Tambaksari itu. “Saya memang tidak hadir, karena pada hari yang sama ada rapat KNID (Komite Nasional Indonesia Daerah) Surabaya di GNI (Gedung Nasional Indonesia) Jalan Bubutan. Rapat membicarakan berbagai taktik dan cara menghadapi tentara Sekutu yang datang melucuti serdadu Jepang”. Pada hari yang sama ujar Cak Ruslan, ia mengobarkan semangat juang para pemuda dan menanamkan rasa permusuhan terhadap tentara Sekutu.

            Namun lain lagi, yang diungkapkan dalam buku Hasil Survey Sejarah Kepahlawanan  Kota Surabaya, 1974, pada halaman 60, disebutkan bahwa panitia mendatangi Cak Ruslan untuk memimpin rapat raksasa di Tambaksari itu. Ternyata, Cak Ruslan tidak bersedia memimpin rapat raksasa itu. Cak Ruslan khawatir, kalau rapat raksasa yang juga disebut “rapat samudra” itu dilaksanakan, terjadi bentrok dengan tentara Jepang yang sudah siaga.

            Menurut S.Kasman, Cak Ruslan yang ditemui oleh Sumarsono, Kuslan dan Djamal, menyatakan ketidak bersediaan Cak Ruslan, karena menghendaki  rapat raksasa itu memperoleh izin dari pihak Jepang yang masih diberi kewenangan. Ternyata para pemuda itu tidak mau minta izin dan mengambil keputusan tetap mengadakan rapat raksasa tanpa kehadiran Cak Ruslan.

            Dalam buku yang diterbitkan Bapparda (Badan Pengembangan Pariwisata Daerah) Kota Surabaya itu, disebutkan saat itu semangat pemuda sudah meluap dan diarahkan kepada penguasa Jepang. Panitia Setiakawan Warga Sosialis Surabaya dalam buku In Memorium Djohan Sjahroezah, menyebutkan bahwa, waktu itu sudah ada rencana setelah rapat raksasa rakyat akan digerakkan melucuti senjata tentara Jepang.

             Memang, begitu rapat raksasa selesai menjelang Maghrib, sekitar 150 ribu lebih rakyat berduyun-duyun keluar lapangan Tambaksari. Di antaranya ada yang beraksi merobek berbagai poster dan tempelan yang disebar oleh tentara Jepang. Beberapa mobil milik tentara Jepang diambilalih dan dibawa ke markas pemuda pejuang.

            Nah, mengapa peristiwa besar yang disebut Rapat Raksasa di Lapangan Tambaksasi tanggal 21 September 1945 itu seolah-olah lenyap dari sejarah perjuangan Arek-arek Surabaya?

Balai Wartawan PWI Jatim di Surabaya Pindah Tiga kali

Riwayat Balai Wartawan 

PWI Jawa Timur

Oleh: Yousri Nur Raja Agam  *)

 

Yousri Nur RA,MH

Pada saat PWI dideklarasikan dan berdiri pada Kongres I di Sala, 9 Februari 1946, di Jawa Timur, yang pertama lahir adalah PWI di Kediri, disebut Kring Kediri. Menyusul PWI di Mojokerto, Malang dan Madiun. Di Surabaya sendiri, belum ada PWI, karena wartawannya ikut mengungsi, bersama pindahnya ibukota Jawa Timur ke luar kota, karena berperang melawan tentara Sekutu dan Belanda. Semula Gubernur Jawa Timur bersama staf sebagai pengendali Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Jawa Timur tergusur ke Sepanjang Sidoarjo, lalu menyingkir ke Mojokerto, serta pindah ke Kediri. Bahkan kemudian berpindah-pindah lagi ke Malang, Blitar, Gunung Wilis, Lodoyo Blitar Selatan, Madiun dan kemudian baru kembali ke Surabaya.

            Sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI, akhirnya terwujud dengan adanya Perjanjian KMB (Komisi Meja Bundar) di Denhaag Negeri Belanda akhir tahun 1949. Gubernur beserta staf, juga kembali ke Surabaya dan ibukota Jawa Timur yang sempat mengungsi empat tahun ke luar kota, juga kembali ke tempat asalnya di Jalan Pahlawan 110 Surabaya.

Balai Wartawan PWI Pertama

Di Jalan Pahlawan Surabaya

 

            Bersamaan dengan kembalinya Ibukota Jawa Timur ke Surabaya, para wartawan dari Surabaya yang juga ikut melakukan aktivitas jurnalistik di wilayah pengungsian, juga pulang ke Surabaya. Kegiatan organisasi PWI yang sudah berjalan di Kediri, Mojokerto, Malang dan Madiun, juga diaktifkan di Kota Surabaya. Awal tahun 1950, secara resmi PWI Kring Surabaya terbentuk dan mendapat tempat sebagai sekretariat di Jalan Alun-Alun 16-18, kemudian berubah menjadi Jalan Pahlawan 16-18. Saat Jalan Pasar Besar dari arah Baliwerti sampai persimpangan Jalan Tembaan dijadikan Jalan Pahlawan, maka dialakukan penertiban Nomor Jalan Pahlawan, sehingga Nomor 16-18 berubah menjadi Jalan Pahlawan 106-108. Demikian pula dengan Kantor Gubernur Jatim, nomornya berubah dari Jalan Pahlawan 20 menjadi Nomor 110 Surabaya sekarang. Bangunan lama beserta beberapa bangunan lain, termasuk Bioskop dan Restoran Bima sudah dibongkar. Kini di atas lahan itu berdiri bangunan gedung baru, kantor Badan Perencanaan dan Pembangunan Provinsi (Bapepprov) Jatim.

Para wartawan di Balai Wartawan PWI Surabaya yang pertama di Jalan Pahlawan 16-18 (sekarang sudah dibongkar dan dibangun Gedung Bapeprov Jatim)

Para wartawan di Balai Wartawan PWI Surabaya yang pertama di Jalan Pahlawan 16-18 (sekarang sudah dibongkar dan dibangun Gedung Bapeprov Jatim)

            Sekretarian PWI Kring Surabaya, yang kemudian istilahnya berubah menjadi PWI Cabang Surabaya itu satu bangunan dengan KUP (Kantor Urusan Perumahan) Surabaya. Kantor PWI Surabaya yang sekaligus berfungsi sebagai “Balai Wartawan” Surabaya itu menempati bangunan bawah dari dua lantai bangunan. Bangunan lantai dua ditempati oleh KUP Surabaya.

Balai Wartawan PWI Kedua

Di Jalan Pemuda 42 Surabaya

 

            Tahun 1952, PWI Surabaya mendapat tempat di lantai bawah gedung Bioskop Indra, di Jalan Pemuda 42 (sekarang bernama Jalan Gubernur Suryo 42). Pindahnya kantor PWI atau Balai Wartawan Surabaya ke Jalan Pemuda ini, dibuka secara resmi dengan suatu upacara tanggal 11 November 1952. Acaranya cukup meriah, dihadiri banyak pejabat, karena sehari sebelumnya, 10 November 1952, Presiden Sukarno meresmikan Tugu Pahlawan di Surabaya. Mewakili Pemerintah Pusat, hadir Sekjen Kementerian Penerangan RI, Roeslan Abdulgani.

         

Balai wartawan PWI Surabaya di Jalan Pemuda 42 Surabaya tahun 1952-1958

Balai wartawan PWI Surabaya di Jalan Pemuda 42 Surabaya tahun 1952-1958

   Di samping sebagai Kantor PWI Cabang Surabaya, bangunan ini juga digunakan sebagai Balai Wartawan  Surabaya, sekaligus sebagai Perpustakaan Pers. Saat persemian Balai Wartawan itu, di salah satu ruangan sudah lengkap Perpustakaan Pers yang berisi lebih 200 buku, Buku-buku itu diserahkan tanggal 7 November 1952 oleh Kepala LPPU (Lembaga Pers dan Pendapat Umum) Pusat, WA van Goudoever dari Jakarta.

         

Para wartawan berdiri di depan Balai Wartawan PWI Surabaya tahun 1953

Para wartawan berdiri di depan Balai Wartawan PWI Surabaya tahun 1953

   Cukup lama para wartawan menggunakan ruangan yang satu bangunan dengan Bioskop Indra yang berlokasi di seberang Balai Pemuda yang terletak di Jalan Pemuda 15 Surabaya. Namun, karena letak Balai Wartawan ini di pinggir jalan raya, apalagi waktu itu trem (kereta api listrik) masih melewati depan gedung itu, suasananya memang ramai. Suara bising saat trem lewat sering mengganggu saat berlangsung acara jumpa pers.

 

Balai Wartawan PWI Ketiga

(Sampai Sekarang)

Di Jalan Taman Apsari 15-17 Surabaya

 

            Nah, berdasarkan ketidaknyamanan karena lalulintas waktu itu masih “double way trafic” dan trem yang hilir mudik itu, beberapa wartawan mengusulkan Balai wartawan dipindah ke tempat lain. Pada suatu hari, Singgih, Sekretaris I PWI Surabaya memberitahu kepada pengurus PWI, bahwa ada sebuah bangunan rumah “kosong” di Jalan Taman Apsari 15-17 Surabaya. Letaknya dekat arca Joko Dolok. Jadi, tidak terlalu jauh dari Balai Wartawan di Jalan Pemuda itu.

            Ketua PWI Surabaya waktu itu, Ny.Soewarni Moeljono (Pemimpin Redaksi Harian Umum) menugaskan Wakil Ketua PWI Surabaya waktu itu Stefanus RM Moestopo (Wakil Pemimpin Redaksi Harian Java Post) untuk mengurus bagaimana cara mendapatkan gedung itu. Diperoleh informasi, bahwa gedung itu berada di bawah kekuasaan NV Intern Cred & Hvg Rotterdam, sebuah perusahaan Belanda yang diberi kuasa oleh pemilik bangunan di  Gedung Internatio, Jalan Taman Jayengrono 1, kawasan Jembatan Merah Surabaya..

            Sesuai dengan prosedur di masa itu, semua bangunan milik Belanda berada di bawah penguasaan militer yang disebut KMKB (Komando Militer Kota Besar) Surabaya — sekarang disebut Korem (Komanando Resimen Militer). Ny.Soewarni bersama Moestopo menemui Komanda KMKB Surabaya Letkol Soenjoto. Dari pertemuan itu, dinyatakan oleh Soenjoto bahwa bangunan di Jalan Taman Apsari 15-17 boleh digunakan untuk Balai Wartawan PWI Cabang Surabaya dengan cara ruilslag atau tukar-menukar. Kemudian disepakati, PWI menyerahkan Balai Wartawan di Jalan Pemuda 42 kepada KMKB Surabaya dan KMKB Surabaya menyerahkan bangunan di Jalan Taman Apsari 15-17 Surabaya kepada PWI Cabang Surabaya.

            Setelah melalui proses yang cukup rumit, karena waktu itu gedung di Jalan Taman Apsari 15-17 itu masih ditempati oleh tiga keluarga. Dua keluarga adalah karyawan NV.Internatio dan satu keluarga karyawan PLN (Perusahaan Listrik Negara). Ke tiga keluarga itu kemudian memperoleh ganti rumah yang yang lain melalui KUP (Kantor Urusan Perumahaan) Surabaya.

            Akhirnya, berdasarkan Surat Keterangan Penempatan dari KMKB No.632/VIII/1958 tanggal 25 Agustus 1958, keluarlah Surat Izin Penempatan (SIP)  dari Kantor Urusan Perumahan Surabaya No, K.1476 tanggal 12 Desember 1958 yang ditandatangani Kepala KUP Surabaya M.Oeripan Soetopo.

            Sejak diterimanya SIP dari KUP Surabaya itu, maka resmilah gedung di Jalan Taman Apsari 15-17 Surabaya dikuasai PWI Cabang Surabaya (sekarang PWI Jawa Timur) yang digunakan sebagai Sekretariat PWI dan Balai Wartawan Surabaya. Sampai sekarang, gedung ini masih dikelola oleh PWI Jawa Timur dan sejak tanggal 9 Februari 1985 diberi nama Gedung Pers A.Azis.

Status Bangunan

            Untuk diketahui oleh para wartawan dan pengurus PWI Jawa Timur saat ini dan masa yang akan datang, bahwa tahun 1992, penggunaan gedung PWI Jawa Timur ssebagai Balai Wartawan pernah “diungkit-ungkit” sebagai aset PT (Persero) Aneka Gas Industri Cabang Surabaya.

            Dengan surat No.460/CSb-Um/VII/92 tanggal 15 Juli 1992, Kepala PT Aneka Gas Industri Cabang Surabaya, Ir.Iskandar Yuwono mengirim surat kepada Pengurus Balai Wartawan Cabang Surabaya (diterima oleh Pengurus PWI Cabang Jawa Timur). Pada pokok surat itu, PT Aneka Gas Industri “menagih” sewa rumah di Jalan Taman Apsari 15-17 Surabaya itu, terhitung sejak tahun 1958 dengan pembayaran Rp 500,- per bulan sampai tahun 1992 (waktu itu). Waktu itu, sewa yang ditagih sebesar Rp 217 juta.

            Dalam lampiran surat itu disebutkan, dasar penarikan sewa rumah di Jalan Taman Apsari 15-17 Surabaya itu, karena bangunan itu tercatat sebagai aset PT.Aneka Gas Industri. Dinyatakan, bahwa PT.Aneka Gas Industri adalah pengalihan dari PN Asam Arang,  yang di zaman Belanda bernama NV.Javasche Koolzuurfabriek. Juga ada lampiran yang menyebutkan beberapa surat tentang SIP (Surat Izin Penempatan) dari Kantor Urusan Perumahan Surabaya dan Surat dari Dinas Perumahan Daerah Surabaya.

            Nah, setelah menerima surat itu, Ketua PWI Jatim waktu itu Dahlan Iskan  mengadakan rapat pengurus PWI Jatim. Diputuskan untuk mengurus masalah yang disebutkan pada surat dari PT.Aneka Gas Industri, diserahkan kepada dua wakil ketua, yaitu: Hadiaman Santoso (Wk,Ketua Bid.Organisasi) dan Yousri Nur Raja Agam (Wk.Ketua bid.Pendidikan). Saat itu memang PWI tidak mempunyai satu lembar pun bukti tentang status gedung Balai Wartawan. Mungkin karena peralihan kepengurusan yang lama dan situasi administrasi yang belum baik, maka dokumen penting itu tidak ditemukan di dalam arsip inventaris PWI Jawa Timur.

            Hadiaman dan Yousri mempelajari surat itu. Kemudian Hadiaman menugaskan Yousri melakukan konfirmasi kepada Kepala PT.Aneka Gas Industri Cabang Surabaya, Iskandar Yuwono. Dari hasil konfirmasi itu, kemudian dilanjut dengan menghubungi Kepala Dinas Perumahan Daerah Surabaya. Diperoleh penjelasan, bahwa PWI merupakan pemegang SIP yang sah dari Kantor Urusan Perumahan yang berubah namanya menjadi Dinas Perumahan Daerah Kotamadya Surabaya. Dalam catatan yang ada di Dinas Perumahan, tanah dan bangunan di Jalan Taman Apsari 15-17 itu dulu pemiliknya perusahaan Belanda bernama NV.Javasche Kuulzuur Fabriek.

            Ada hikmah yang luar biasa bagi PWI Cabang Jawa Timur dari kasus ini. Memang, sebelumnya pengurus PWI Jawa Timur sama sekali tidak tahu status tanah dan bangunan Jalan Taman Apsari 15-17 Surabaya yang digunakan sebagai Sekretariat dan Balai Wartawan PWI Jawa Timur. Betapa tidak, sebab dengan adanya “kasus” ini, Yousri berhasil memperoleh berkas berupa fotokopi dari Dinas Perumahan Kota Surabaya.

            Dalam berkas itu, ditemukan nama seorang wartawan senior Moestopo (Wartawan Buana Minggu) yang masih aktif. Pada tahun 1958 itu Moestopo adalah Wakil Ketua PWI Cabang Surabaya (Jawa Timur). Setelah diperlihatkan berkas fotokopi itu, Moestopo merasa senang, sebab selama ini berkas tentang status tanah dan bangunan gedung Jalan Taman Apsari 15-17 Surabaya hilang. Mengacu kepada berkas berupa fotokopi itu, Moestopo bernostalgia dan b ersedia memberi kesaksian tentang Balai Wartawan PWI Jawa Timur ini.

            Ketua PWI Jawa Timur Dahlan Iskan menugaskan kepada Hadiaman dan Yousri untuk memberikan informasi tentang surat dari PT.Aneka Gas Industri dan temuan berkas dari Dinas Perumahan Kota Surabaya itu kepada para wartawan. Beberapa mediamassa memberitakan tentang Balai Wartawan PWI Jatim ditagih sewa oleh PT.Aneka Gas Industri Cabang Surabaya. Pengurus PWI Jawa Timur sepakat untuk tidak mananggapi surat dari PT.Aneka Gas Industri itu. Berbagai reaksi muncul, sampai akhirnya Gubernur Jawa Timur (waktu itu) H.Soelarso, memberi jaminan dan minta agar PWI Jatim “mengabaikan” penagihan sewa yang dilakukan PT.Aneka Gas Industri Cabang Surabaya tersebut.

            Dengan adanya ketegasan pengurus PWI Jawa Timur dan jaminan Gubernur Jawa Timur H.Soelarso itu, persoalan surat tagihan sewa dari PT.Aneka Gas Industri itu mereda.

            Tahun 2013 lalu, pengurus melaporkan keadaan dan kondisi bangunan gedung Balai Wartawan PWI Jawa Timur ini kepada Gubernujr Jatim Dr.H.Soekarwo. Pengurus yang dipimpin ketua Akhmad Munir, mengharapkan kepada Pemprov Jatim untuk membantu perbaikan dan renovasi bangunan yang beberapa bagian sudah mulai rusak. Setelah dilakukan penelitian dan penilaian kondisi gedung yang sudah berusia tua, yang diperkirakan dibangun tahun 1930-an,  akhirnya disetujui untuk dilakukan perbaikan dan renovasi. Maka dibuatlah perencanaan dan penyusunan anggaran. Tahun 2014 ini, bangunan Balai Wartawan PWI Jawa Timur diperbaiki dan direnovasi.

            Pesan kami, jangan sampai lahan dan gedung Balai Wartawan PWI Jawa Timur di Jalan Taman Apsari 15-17 yang bernama “Gedung Pers A.Azis” sampai beralih fungsi, apalagi beralih penguasaan dan kepemilikan ke pihak lain. (**)

*) Wartawan Penulis Buku Riwayat Surabaya Rek (2013)

Apa Itu Green City dan Green Building? Surabaya Kota Ramah Lingkungan

 

Surabaya Kota Ramah Lingkungan

Bukan Wacana, Tetapi Kenyataan

 

Oleh: HM Yousri Nur Raja Agam

 

GREEN City dan green building, apa itu? Inilah pertanyaan yang perlu dijawab dan dijelaskan kepada masyarakat. Jawaban  singkat dan  padat, bisa diartikan “kawasan ramah lingkungan”. Jadi pembangunan sebuah kota dengan program green city maupun green building, adalah kota yang berwawasan ramah lingkungan.

         Gambar

Walikota Surabaya Tri Rismaharini menyerahkan tropi juara kepada Yousri Nur Raja Agam yang berhasil meraih Juara

Motto tentang ramah lingkungan ini sudah lama kita dengar. Saat lomba kebersihan antarkota di Indonesia untuk mendapatkan  penghargaan Adipura, setiap kota mempunyai motto tentang kebersihan dan lingkungan hidup yang sehat. Ada yang menyingkat kalimat itu dengan kata  Kota Beriman (Bersih Indah dan Nyaman), Kota Berseri (Bersih Sehat dan Asri), Kota Bersehati (Bersih, Sehat, Aman, Tenteram dan Indah)  dan sebagainya.

            Kota Surabaya, sebagai kota yang menjadi pelopor kebersihan di Indonesia, juga punya jargon, yaitu “Green and Cleen” (hijau dan bersih). Sejak dicanangkan pemberian  penghargaan  nasional di bidang kebersihan, keindahan, sampai pelestarian lingkungan hidup, Kota Surabaya selalu memperolehnya. Piala Adipura setiap tahun, sampai Adipura Kencana, tak pernah lepas dari keberhasilan Kota Surabaya.

            Wacana menjadikan Surabaya sebagai green city atau  kota berwawasan  ramah lingkungan sebenarnya sudah terwujud. Apalagi saat digencarkannya gerakan penanaman pohon, Surabaya juga menjadi pelopor penghijauan dengan “Sejuta Pohon”.

            Tidak terbantahkan pula, Kota Surabaya memang sudah hijau dan rindang.  Pembangunan di Kota Pahlawan ini, sudah  lama merintis apa yang disebut green building (bangunan atau gedung hijau).  Bukan hanya gedung, tetapi juga taman, jembatan, sekolah, rumahsakit, perkantoran, pertokoan (mal dan plaza), hotel, apartemen, terminal dan tembok-tembok pun menjadi hijau dengan tanaman hidup.

Kota Metropolitan

            Surabaya dari dulu berjuluk Kota Adipura,  karena Kota Surabaya merupakan peraih Adipura yang pertama untuk kota-kota di Indonesia tahun 1992.  Penghargaan tingkat nasional itu, diterima tiap tahun, Sehingga tahun 1995, Surabaya mendapatkan Piala Adipura Kencana untuk kota raya terbersih di Indonesia. Berturut-turut kemudian, sampai 2013 ini, Surabaya masih tetap bertahan sebagai pemegang Adipura Kencana untuk kategori kota raya yang diubah menjadi Kota Metropolitan.

            Warga Kota Surabaya memang wajib bangga, saat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dipercayakan kepada Ir.Tri Rismaharini, MT,  Kota Surabaya mampu menjadi guru di bidang kebersihan, Bahkan Kota Surabaya  menjadi panutan di bidang pertamanan. Surabaya menjadi tempat studi banding kota-kota lain. Surabaya menjadi “Kota Sejuta Taman”, sebab tidak sejengkal tanah pun di Surabaya ini yang tidak hijau dan berbunga.

            Taman-taman kota tidak hanya di tanah lapang dan ruang terbuka hijau (RTH), tetapi juga jalur pemisah  dan pulau jalan di persimpangan jalan raya. Kalau  sebelumnya pembatas jalur terbuat dari batu, sekarang diubah menjadi taman.  Semua, kini menjadi hijau dan  indah dipandang.

            Tidak dapat dipungkiri, ini semua berkat kerja keras dan tangan dingin Tri Rismaharini, mantan kepala DKP Kota Surabaya yang sekarang menduduki jabatan Walikota Surabaya.  Sebagai walikota perempuan pertama di Kota Surabaya yang memegang tampuk kepemimpinan tertinggi, maka impiannya menjadikan Surabaya sebagai green city, benar-benar sudah menjadi kenyataan.

            Memang, Green city, bukan hanya kota yang hijau berkat taman-taman kota yang indah di RTH, tatapi juga didukung oleh planning and design atau perencanaan dan rekayasa. Sebagaimana dinyatakan oleh Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, Bappeko Surabaya D Dwija Wardhana yang mewakili Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Ir.Agus Imam Sonhadji kepada wartawan di ruang rapat  Sekda Kota Surabaya, Kamis (28/11) lalu.

            Surabaya sebagai green city dengan program  green building, akan  dilengkapi pula dengan green transportation, green waste, green water dan grfeen energy. Artinya, pembangunan kota Surabaya masa depan harus ditunjang dengan tarnsportasi, kebersihan, air dan enerji yang ramah lingkungan.

            Untuk itulah,  pembangunan gedung perkantoran, gedung pusat belanja, rumahsakit,  gedung sekolah, perguruan tinggi, terminal  dan gedung pemerintahan harus menerapkan green building.

Penghargaan Internasional

            Surabaya sebagai Kota Terbersih dan Terindah di Indonesia, sekarang sudah mendapat pengakuan internasional. Baru saja, salah satu yang tidak diduga dan direncanakan sama sekali sebelumnya, yakni Taman Bungkul, memperoleh penghargaan dari PBB sebagai  “taman terbaik” di tingkat Asia-Pasifik. Penghargaan itu, diterima langsung oleh Walikota Surabaya, Ir.Tri Rismaharini di Fokuoda, Jepang, Selasa (26/11) lalu.

            Prof.Dr.Johan Silas, pakar pembangunan perkotaan dari ITS (Isntitut Teknologi Sepuluh November) Surabaya, menyebut kriteria green building itu mempunyai pandangan dari sisi keras dan lunak. Hal ini ditentukan GBC (Green Building Council) Indonesia.  Untuk sisi keras terkait aksesoris pendukung seperti penggunaan solar cell dan lain sebagainya. Sedangkan sisi lunak terkait konsep green building itu sendiri, termasuk gedung yang sudah memberlakukan hemat energi. Jadi, kita perlu melakukan penghematan listrik dan melakukan pengurangan panas global (global energy), ujarnya.

 

            Johan Silas, mengakui, untuk mengubah lingkungan ke konsep green building ini, awalnya sangat mahal, tetapi apabila sudah terlaksana sangat menguntungkan. Untuk mewujudkan  green city, tidak hanya menata bangunan, tetapi juga menyediakan green infrastructure.Untuk tahun 2014 bisa dipastikan kota ini harus berkonsep kota hijau. Dengan begitu, tidak saja mengatur atau menata bangunan menuju green building, tetapi harus didukung dengan akses jalan. Ini terkait dengan efisiensi penggunaan lahannya.

            Ada catatan dari Johan Silas, sebagai warga kota Surabaya, ia merasa bangga karena Kota  Surabaya tidak mengikuti Jakarta. Di Surabaya tetap memertahankan jalan kampung  dengan jalan setapak. Ini yang membuat kampung-kampung di Surabaya masih bertahan. Beda dengan Jakarta yang mengutamakan jalan di kampung dengan ukuran mobil. Lambat laun, kampung itu pun kalah dengan lahan jalan.

            Sudah saatnya bangunan-bangunan di Kota Surabaya berciri green building. Salah satu parameternya adalah gedung tersebut hemat energi. Di samping itu, kita melihat perkampungan yang tumbuh di dalam kota Surabaya, mampu  mempertahankan Surabaya sebagai kota yang bersih dan hijau.

            Pernah dalam  suatu wawancara, Agus Imam Sonhadji yang mantan Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (CKTR) Kota Surabaya,  mengatakan, ke depan, Kota Surabaya membutuhkan lebih banyak energi listrik. Salah satu di antaranya untuk kepentingan energi listrik monorail dan trem.

            Dengan  berseloroh, Agus menyatakan, tentu lucu jika trem berhenti di tengah jalan karena kekurangan tenaga listrik. Makanya, harus dimulai sekarang. Jika tidak, efeknya akan terasa pada tahun-tahun mendatang.

            Pengertian green building, juga berbentuk nilai estetika, kata Ir.Harry Sunarto, Ketua   IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) Jawa Timur. Ada fungsi yang jelas dari tata ruang dan gerak manusia di dalam gedung atau bangunan. Sekarang, kita sudah jarang melihat rumah memakai teras yang biasanya digunakan untuk duduk-duduk keluarga. Saat yang demikian itu dapat digunakan untuk bertegur sapa dengan tetangga, katanya.

            Menurut Harry Sunarto, tema bangunan perlu kita kaji satu per-satu dan saling mendukung. Untuk mewujudkan green building, tentu harus seimbang, jangan sampai menghilangkan fungsi gedungnya. Kaidah atau persyaratan arsitekturnya juga jangan dihilangkan. Jadi, green building bukan merupakan satu  tema, tetapi sudah menjadi persyarartan bangunan.

            Harry Sunarto mengingatkan, green building  jangan hanya berfokus pada masalah ekologi, tapi juga memperhatikan masalah keindahan dan keharmonisan antara struktur bangunan dan lingkungan alamiah di sekitarnya. Kecuali itu, hendaknya tidak melupakan pula perbaikan lingkungan. Memang, secara penampakan mungkin bangunan ini tidak berbeda dari bangunan-bangunan lainnya. Konsep yang mendukung green building, juga harus  pula memperhatikan penggunaan material alam yang tersedia secara lokal

            Lain lagi pendapat Dr. Maria Anityasari, ST,ME  pakar lingkungan dari ITS, yang menyatakan green building di Kota Surabaya ini merupakan awal dari sebuah perjalanan panjang. Ini sebuah perjuangan guna mewujudkan green city dan eco city.

            Menurut Maria, bangunan gedung itu berumur panjang sekitar 20-30 tahun. Jika bangunan tidak didesain dengan konsep green building, maka akan menyumbang pemanasan global. Apalagi, berdasarkan data dari Leadership in Enviromental Design (LEED), bangunan gedung menyumbang sampai 50 persen karbon.

            Jadi, untuk bisa seperti itu, yang harus dilakukan yakni memberikan pengetahuan, acuan dan pedoman, memberikan pendampingan teknis, serta memberikan reward dan punishment. Bahkan, yang tidak kalah penting, kegiatan ini bukan upaya sporadis, tetapi masyarakat diberi kesadaran, ujar Maria.

            Ada enam kriteria yang diukur dalam green building itu. Yakni pengolahan lahan sekitar, penggunaan air, penggunaan energi, material dan dari mana sumber material itu, kualitas di dalam ruangan, dan inovasi. Untuk menunjang menjadi Green City, kata Maria, perlu menjalankan konsep Green Planning and Design, Green Open Space, Green Building, Green Transport, Green Community, Green Waste, Green Water, dan Green Energy.

            Setelah melakukan kampanye green building, Pemkot Surabaya akan menyelenggarakan Green Building Award. Nantinya, akan dilakukan evaluasi greenship pada bangunan-bangunan yang ada di Kota Surabaya.

            Setelah lomba,  akan diadakan  evaluasi, berlanjut penerapan green building, persiapan pembuatan Perda (Peraturan Daerah), pelaksanaan Perda. 

            Nah, apabila landasan hukumnya sudah ada dan kuat sebagai pijakan, maka masyarakat benar-benar dapat menerapkan hidup dengan ramah lingkungan dan rendah emisi.(*)

 

Pisang Mas Kirana dan Pisang Agung Semeru Primadona Lumajang

 

 

Oleh: Yousri Nur Raja Agam

GambarYousri Nur RA  MH

KEBIJAKAN Gubernur Jawa Timur, Dr.H.Soekarwo “melawan” produk asing masuk ke Indonesia sungguh luar biasa. Tidak tanggung-tanggung, Soekarwo dengan tegas, berani menolak beberapa komoditas impor masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Di antaranya, buah-buahan dari manacanegara. Ini dilakukan untuk menjaga produk dalam negeri, khususnya buah-buahan dan hortikultura.

Gebrakan Soekarwo ini, mendapat acungan jempol dari masyarakat petani Indonesia. Mereka merasa terlindungi, sehingga produksi pertanian dan hortikultura dapat bersaing di pasaran. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sampai-sampai menyediakan waktu untuk berkunjung ke Jawa Timur, khusus melihat dari dekat aktivitas produksi buah-buahan dan hortikultura.

DSC03117

Jawa Timur, memang sudah lama menyandang predikat sebagai lumbung pangan nasional. Sebab, berbagai produksi pertanian melimpah dan surplus, sehingga mampu memberikan pasokan untuk wilayah lain di Indonesia. Selain penghasil tanaman pangan, yakni beras, jagung dan kedelai, beberapa wilayah di Jawa Timur juga terkenal sebagai penghasil buah-buahan dan hortikultura.

Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur Ir.Wibowo Eko Putro, sebagai pejabat yang mendapat kepercayaan gubernur Jatim, mengaku, mendukung sepenuhnya program yang disampaikan Pakde — begitu sapaan akrab untuk Gubernur Jatim H.Soekarwo.

Pangan utama yang pengadaannya dibebankan kepada wilayah Jatim, adalah tanaman  padi, jagung dan kedelai.  Tahun 2012 lalu, kebutuhan padi secara nasional lebih 69, 05 juta ton gabah kering giling (GKG). Dari jumlah itu, Jatim mampu menyangga hampir 18 persen, yakni 12, 20 juta ton GKG. Kabutuhan nasional untuk jagung pipilan kering 19,38 juta ton, yang dipasok dari Jatim mendekati 33 persen, yaitu 6,3 juta ton. Untuk kedelai, dari 851.577 ton yang dihasilkan dari seluruh Indonesia, Jatim menyumbang 42,51 persen atau 361.986 ton.

Sudah sejak lama, dua wilayah di Jawa Timur, terkenal sebagai penghasil buah-buahan. Kota Batu sebagai penghasil buah apel dan Probolinggo penghasil mangga. Namun, belakangan ini Kabupaten Lumajang menjadi topik pembicaraan yang menarik. Dua jenis tanaman buah pisang menjadi primadona, gara-gara didatangi Presiden SBY dan rombongan. Dampak positif yang dirasakan langsung, memantapkan Kabupaten Lumajang memperoleh predikat atau julukan sebagai “Kota Pisang”.

Presiden SBY bersama rombongan memang sengaja menginap di Lumajang, 31 Juli 2013 lalu. Di kabupaten yang terletak di kaki Gunung Semeru ini, SBY melakukan kunjungan ke Perkebunan Pisang di Desa Kandang Tepus Kecamatan Senduro, 1 Agustus 2013. SBY melihat sang primadona itu dari dekat. Dua primadona itu, adalah Pisang Mas Kirana dan Pisang Agung Semeru. Pisang mas Kirana, bentuknya kecil. Sedangkan Pisang Agung Semeru, ukurannya besar dan bahkan satu tandan hanya ada satu sisir. Ke dua jenis pisang ini, rasanya enak dan manis. Tidak hanya itu, daya tahan ke dua jenis pisang ini cukup lama, di samping tampilannya yang menarik.

Pemerintah Kabupaten Lumajang, memang memberikan perhatian istimewa terhadap Pisang Mas Kirana. Ini ditunjukkan oleh Bupati Lumajang, Dr.H.Sjahrazad Masdar. Bupati yang terpilih kembali untuk masabakti yang kedua ini, mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 188.45/406/427.12/2006 yang menyatakan Pisang Mas Kirana sebagai produk andalan Kabupaten Lumajang. Bahkan sebelumnya, Pisang Mas Kirana sudah ditetapkan oleh Menteri Pertanian melalui SK Nomor: 516/Kpts/SR/120/12/2005, sebagai Varietas Unggulan

Begitu istimewanya Pisang Mas Kirana ini, sampai-sampai 40 Kelompok Tani (Gapoktan) banyak yang beralih menanam Pisang Mas Kirana. Ternyata, daya pikat Pisang Mas Kirana ini tidak terbantahkan. Hasil yang diperoleh petani dari penjualan pisang ini cukup besar, mencapai Rp 1,89 miliar per-bulan. Wilayah pemasarannya, tidak hanya wilayah Jawa Timur, tetapi juga ke Jakarta dan beberapa wilayah lain di Indonesia. Ada 10 perusahaan yang secara rutin memasok dan mendistribusikan pisang yang juga menjadi ikon Kabupaten Lumajang.

Satu hal yang luar biasa, adalah penghargaan khusus yang diberikan oleh Presiden SBY yang menetapkan Pisang Mas Kirana, sebagai pisang yang diperuntukkan sebagai hidangan meja di istana negara, Jakarta.

Pisang Mas Kirana

Memang wilayah Kabupaten Lumajang merupakan daerah subur. Selain berada di kaki gunung tertinggi di Pulau Jawa, Semeru atau Mahameru, Lumajang juga diapit dua gunung berapi lainnya, yaitu gunung Bromo dan gunung Lamongan.

Saat rombongan wartawan dari Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Pemprov Jatim melakukan pengamatan langsung ke wilayah ini, Bupati Lumajang Sjahrazad Masdar sangat antusias menginformasikan keunggulan Lumajang dari segi pertanian. Wilayah seluas 1790,90 km² ini memiliki iklim tropis dan sebagian besar berada pada dataran tinggi,  sehingga cocok untuk mengembangakan pertanian dan perkebunan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang, Ir.Paiman, menyatakan, 60 persen dari satu juta lebih penduduk Lumajang bermatapencaharian sebagai petani. Produksi pertanian tanaman pangan utama adalah padi dan jagung. Di samping itu, menyusul kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar. Sedangkan, tanaman buah atau hortikultura, memang didominasi oleh pisang. Kemudian, baru manggis, durian, rambutan, apukat, nangka, jeruk keprok, kentang, kubis, cabe rawit dan bawang daun.

Pisang merupakan tanaman favorit dengan luas lahan mencapai 5.700 hektar yang tersebar di berbagai kecamatan. Lahan subur ini mampu memproduksi sekitar 113.298 ton pisang per tahun. Kendati pisang mas Kirana dan pisang Agung Semeru menjadi buah bibir, bukan berarti tidak ada jenis pisang lain di Lumajang. Sebenarnya  jenis pisang yang ditanam di Lumajang cukup banyak, di antaranya: pisang susu, pisang kepok, pisang Ambon, pisang raja dan pisang agung, serta Pisang Mas Kirana.

Dari berbagai jenis pisang itu, kontribusi terbanyak adalah pisang susu (38,24%). Baru pisang Mas Kirana (29,05%), pisang Agung Semeru (10,85%), pisang kepok (10,27%), pisang raja (7,42% dan pisang Ambon (4,17%). Masyarakat petani pisang di Lumajang bisa

menghasilkan keuangan sekitar Rp 474,925 juta per-minggu atau Rp 22 miliar per-tahun, ujar Sjahrazad Masdar.

Satu hal lagi yang membanggakan rakyat Lumajang, ternyata pisang mas Kirana juga merupakan komoditas ekspor ke mancanegara, di antaranya ke Singapura dan Malaysia. Bahkan, yang lebih membanggakan dan mengejutkan lagi, kabar terbaru dari Gubernur Jawa Timur, Dr.H.Soekarwo, pisang mas Kirana menjadi hidangan untuk peserta KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) Kerjasama Ekononi Asia Pasifik (APEC) di Bali, awal Oktober 2013 ini.

Sigarpun Bulat

Untuk menunjang produktivitas petani pisang, Pemerintah Kabupaten Lumajang mempopularkan sebuah semoboyan berbunyi: “Sigarpun Bulat”.  Dua kata ini merupakan singkatan dari: Aksi gerakan pemupukan organik dan bibit unggul bersertifikat. Yel-yel dan logo “Sigarpun Bulat” ini diresmikan pada 2011 lalu. Dengan selogan itu, masyarakat Lumajang termotivasi dan semakin optimis untuk meraih kesuksesan dalam bidang Pertanian dan Perkebunan.

Ir.Paiman yang bersemangat menjelaskan pola pertanian yang dikembangkannya, mengatakan, dengan penggunaan bibit dan pupuk organik, diharapkan dapat meningkatkan kuantitas dan sekaligus kualitas produksi.

Khusus pisang mas Kirana, ujar Paiman, sudah mendapat Sertifikat “Prima-3” produk buah segar tahun 2009. Buah pisang mas Kirana, aman dikonsumsi, karena penggunaan pestisida dan pupuk buatan masih dalam batas ambang toleransi.

Tidak hanya itu, cara bercocok tanam pisang mas Kirana ini juga sudah mendapat pengakuan internasional, yakni dari Negeri Belanda. Asosiasi Petani Pisang Seroja dari Desa Kandang Tepus, telah mendapat sertifikat Global GAP (Good Agrcultural Practices) dari Control Union Certification dari Belanda.

Keseriusan Pemkab Lumajang membina petani pisang mas Kirana, juga menyangkut administrasi dan pendanaan. Sejak tahun 2009, Bank BNI melakukan kemitraan dengan Poktan (Kelompok Tani) di berbagai desa dan kecamatan. Bank BNI memberikan kredit modal usaha. Salah satu contoh, suatu realisasi yang dilakukan Bank BNI adalah memberikan kredit untuk petani di Kecamatan Senduro, Pasrujambe dan Gucialit. Bank BNI tahun 2013 ini memberi pinjaman lebih dari Rp 1,55 miliar dengan bunga 0,5% per bulan atau 6% per-tahun. Masing-masing petani mendapat pinjaman antara Rp 10 juta sampai Rp 30 juta dengan jangka  waktu tiga tahun.

Pisang Agung di Klakah

Hampir tak terbantahkan, selama ini para pengguna jalan raya dari arah Probolinggo menuju Jember lewat Lumajang, selalu melihat pisang besar dan panjang dijajakan di pinggir jalan. Itulah pasar Klakah, Ranuyoso di Kabupaten Lumajang. Pisang besar dan penjang itulah yang disebut pisang Agung Semeru.

Sebelum pisang mas Kirana “naik daun”, pisang Agung Semeru sejak lama sudah menjadi ikon Kabupaten Lumajang. Pisang ini termasuk jenis buah pisang langka. Bentuknya unik. Selain besar dan panjang, bentuknya melengkung. Panjangnya antara 33 hingga 40 cm, dengan lingkar buah rata-rata19 cm. Tidak itu saja, pisang unik ini mempunyai  daya tahan simpan yang cukup lama. Walaupun warna kulitnya berubah dari kuning menjadi hitam, ternyata buah pisang Agung ini tetap baik dan tidak busuk seperti pisang pada umumnya. Keunikan lain dari pisang Agung ini adalah dari jumlah sisir yang terdapat dalam satu tandan, hanya satu atau dua sisir.

Di balik nama besar dan keunikan pisang Agung Semeru itu, ternyata berdasarkan sigi lapangan yang dilakukan Kementerian Pertanian tahun 2005, keberadaan pisang Agung Semeru yang langka ini terancam punah. Masyarakat tidak lagi begitu antusias menanam pisang Agung. Mereka banyak yang beralih menanam pisang mas Kirana dan pisang susu. Salah satu contoh, dari pengamatan lapangan di Desa Kandang Tepus, Kecamatan Seduro, Kabupaten Lumajang. Juga di beberapa desa tetangga di lereng Gunung Semeru. Daerah yang dulunya dikenal debagai penghasil pisang Agung, belakangan ini banyak yang meninggalkan budidaya pisang Agung. Kebun pisang Agung beralihfungsi menjadi lahan perkebunan pisang mas Kirana.

Pemandangan lain juga terlihat di wilayah Kecamatan Senduro dan Kecamatan Pasrujambe. Lahan pengembangan di wilayah ini meliputi 1.323 hektar dengan jumlah populasi tanaman 1,20 juta rumpun. Ada dua varietas tanaman yang dibudidayakan petani di sini, yakni pisang Agung dan pisang Talun. Pisang Talun adalah sejenis pisang Agung, tetapi jumlah sisirnya melebih dua sisir dalam satu tandan.

K.Sulaiman yang menjadi petugas PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) di Dinas Pertanian Lumajang, mengungkapkan data, tahun 2012 lalu, jumlah produksi pisang Agung di Kab Lumajang mencapai 12.041 ton dari 544,49 hektar lahan. Produksi itu berasal dari lima kecamatan, yakni Kecamatan Pasrujambe, Senduro, Gucialit, Candipuro dan Randuagung. Selama ini pisang Agung dimakan setelah matang dan direbus. Bahkan, sekarang ini banyak dijadikan camilan berupa keripik pisang dan dodol. Keripik pisang Agung Semeru dan dodol yang sudah dikemas itu,  menjadi cinderamata khas dari Lumajang.

Salak Pronojiwo

Kecuali pisang mas Kirana dan pisang Agung Semeru, Lumajang juga sedang melakukan uji-coba komoditas buah-buahan baru, yakni buah salak. Awalnya, salak tidak begitu menarik bagi masyarakat Lumajang. Namun ketika ada penduduk merncoba menanam salah di lahannya, ternyata hasilnya bagus. Bahkan bibit salak yang dibawa dari Sleman, Jawa Tengah yang dibudidayakan di Kecamatan Pronojiwo itu rasanya lebih enak dari tempat asalnya.

Salak Pronojiwo ini, sekarang juga disebarkan pembudidayaannya ke 13 kecamatan di Lumajang. Selain di Pronojiwo yang sudah mencapai 481,95 hektar dan Tempursari 101,50 hektar, di 12 kecamatan lainnya masing-masing masih di bawah dua hektar.

Sejak tiga tahun lalu di Kecamatan Pronojiwo sudah 648 hektar lahan yang ditanami salak. Dari lahan tersebut, mampu memproduksi 12 ton salak per-hektarnya per-tahun, Jadi dengan luas lahan yang sudah ada itu, produksi salak Pronojiwo Lumajang mencapai 7.776 ton. Salak Pronojiwo itu, sekarang juga sudah diolah menjadi bahan makanan lain. Ada yang dibuat camilan kering dan minuman berasa salak. (**)

Rumah Bahasa di Surabaya Menghadapi AFTA 2015

Rumah Bahasa di Surabaya

Siap Menghadapi AFTA 2015

Catatan: Yousri Nur Raja Agam

 Gambar

AFTA (ASEAN Free Trade Agreement). atau kesepakatan zona perdagangan bebas, tahun 2015 mendatang diberlakukan di seluruh negara di kawasan Asia Tenggara. Pada saat itu, geliat dunia usaha antar negara dipastikan semakin bebas. Dengan demikian kebijakan pembatasan makin longgar.

Kondisi tersebut membuat para pengusaha dari negara lain makin leluasa membuka usaha di Indonesia, begitu pula sebaliknya. Nah, guna mempersiapkan diri menghadapi AFTA 2015, Walikota Surabaya Tri Rismaharini meresmikan “rumah bahasa” bertempat di gedung Balai Budaya di komplek Balai Pemuda Surabaya, pekan lalu.

Ide membuat rumah bahasa, kata Tri Rismaharini sejatinya baru muncul beberapa bulan belakangan. Kala itu, dia melihat persiapan beberapa negara ASEAN menyambut AFTA dengan memantapkan bahasa asing. Bahkan, Risma — sapaan akrab walikota perempuan pertama di Surabaya itu — mengaku pernah mendengar bahwa bahasa Indonesia mulai diajarkan di Thailand.

Risma mengaku, tidak ingin ketinggalan langkah. Untuk itulah, walikota Surabaya ini  akhirnya memutuskan membuat suatu wadah bagi masyarakat untuk belajar dan mengasah kemampuan berbahasa asing. Hal ini untuk mengantisipasi banyaknya pendatang dari negara lain saat era AFTA tersebut resmi berlaku.

Salah satu nominator walikota terbaik dunia ini mengaku tidak ada anggaran khusus untuk pelaksanaan rumah bahasa ini. Pasalnya, semua pengajar berstatus volunteer (sukarela). Kendati tidak mendapat bayaran sepeser pun, tetap saja antusiasme mereka yang ingin menjadi pengajar sangat tinggi. Hal ini bisa dilihat dari membludaknya jumlah pengajar yang telah mendaftar, yakni mencapai 200 orang.

Meskipun respon pengajar sukarela sangat tinggi, Pemkot Suarabaya tetap memberlakukan kualifikasi. Kabag Kerjasama Pemkot Surabaya Ifron Hady Susanto menyatakan, pihaknya tak ingin para tutor tersebut mengajarkan teori yang salah kepada masyarakat. Untuk itu, saat mendaftar calon pengajar wajib mengisi formulir pemantauan kapabilitas. Serta simulasi singkat untuk memonitor apakah calon pengajar tersebut benar-benar layak memberi materi.

Konsep rumah bahasa ini berbeda dengan tempat kursus bahasa pada umumnya. Yakni, peserta diberikan materi bahasa asing praktis secara sederhana yang berhubungan langsung dengan profesi masing-masing. Teknisnya, para peserta terlibat percakapan dalam grup kecil yang berisi 3-4 orang, plus 1 tutor. Jumlah peserta dalam 1 grup sengaja dibatasi dengan harapan materi lebih cepat diserap.

Sasaran rumah bahasa ini seluruh lapisan masyarakat, utamanya para pelaku usaha kecil menengah (UKM), sopir taksi, pedagang serta profesi lainnya yang berhubungan dengan jasa dan perdagangan,” tutur alumnus Monash University, Melbourne, Australia ini.

Adapun jenis bahasa asing yang diajarkan dalam rumah bahasa sementara ini meliputi bahasa Inggris dan Mandarin. Namun tidak menutup kemungkinan, ke depan dengan mempertimbangkan animo masyarakat ragam bahasa akan ditambah. Untuk jam operasional, Ifron menjelaskan, setiap harinya akan dimulai pukul 9 pagi hingga 9 malam. Rentang waktu tersebut terbagi dalam beberapa sesi dimana per sesinya berlangsung selama satu setengah jam. Khusus bahasa Mandarin hanya tersedia pada Senin dan Kamis. Hal itu seiring masih terbatasnya tenaga pengajar.

Masyarakat dapat mendaftar dengan cara datang langsung maupun secara online, yakni dengan mengakses website www.surabaya.go.id. Di situ, warga bisa mendapat informasi sejelas-jelasnya tentang rumah bahasa, sekaligus juga bisa melakukan registrasi. Syarat pendaftaran cukup menunjukkan kartu identitas (KTP) di rumah bahasa dan seluruh peserta tidak dipungut biaya alias gratis.

Adityo Pramono, salah seorang pengemudi taksi yang berkesempatan mengikuti 1 sesi di rumah bahasa mengaku sangat terbantu. Menurut dia, tujuan adanya rumah bahasa sangat baik dan berguna bagi dirinya dan rekan-rekan seprofesi. Pria 34 tahun ini mengakui sopir taksi yang mampu berbahasa Inggris masih sangat sedikit. Perbandingannya, dari 20 orang hanya 1 yang menguasai bahasa Inggris.

Tidak salah, kalau Kabag Humas Pemkot Surabaya, Muhamad Fikser berharap rumah bahasa ini bisa dimanfaatkan masyarakat dengan sebaik-baiknya. Menurut dia, ini hanya salah satu inisiatif pemkot dalam menghadapi AFTA. Nah, untuk langkah lain yang sifatnya lebih lengkap dan holistik dari beberapa sektor, pemkot juga akan mengadakan workshop dengan menghadirkan narasumber dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan serta sekretariat ASEAN.

Nah, sekarang bagaimana selanjutnya? Tentu kita berharap dari Rumah Bahasa ini akan lahir “tuan rumah” yang akan menjamu masyarakat mancanegara untuk lebih melayani dan bukan menggurui. **

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.