Tragis! Sukarno Hatta “Cerai Paksa” di Kota Pahlawan Surabaya

RENUNGAN DI HARI PAHLAWAN

Tragis!

Dwi Tunggal Sukarno-Hatta

Cerai Paksa di Kota Pahlawan

 

Yousri Nur RA, MH.

 

Oleh: HM Yousri Nur Raja Agam *)

 

 

DULU di bebarapa media, berulangkali saya menulis judul: “Ironis! Kota Pahlawan Miskin Nama Pahlawan” atau “Ironis Nama Sukarno-Hatta Belum Diabadikan di Kota Pahlawan”, dan beberapa judul lagi yang senada.

Memang, di Indonesia, hanya Kota Surabaya satu-satu yang berjuluk Kota Pahlawan, namun perwujudan makna kepahlawanan itu sangat dangkal. Kepahlawanan hanya diterjemahkan dari peristiwa heroik yang terjadi di sekitar tanggal 10 November 1945 yang membawa korban jiwa terhadap ribuan Arek Suroboyo.

Padahal, seyogyanya, pengertian pahlawan itu diwujudkan dengan menjadikan Kota Surabaya ini sebagai “kamus kepahlawanan”. Surabaya dapat dijadikan sebagai museum kepahlawanan yang berskala nasional. Bahkan, kalau memungkinkan diangkat menjadi “Kota Pahlawan Internasional”.

Dalam sejarah, “tewas”-nya salah seorang pimpinan militer Inggeris, Jenderal Mallaby, bagi kita merupakan suatu “kemenangan”. Tetapi, bagi sekutu, dia adalah pahlawan yang “gugur” dalam kancah berjuang demi negaranya dan kepentingan dunia internasional

Suatu hal yang sangat memprihatinkan, adalah kurangnya minat dan perhatian para petinggi di Kota Surabaya ini untuk menampung aspirasi warganya. Salah satu di antaranya, ialah usul-usul warga untuk sebanyak mungkin mangabadikan nama-nama pahlawan di Surabaya. Terlalu berbelitnya prosedur untuk memberi nama pahlawan pada suatu jalan. Bahkan, sangat tidak mudah mengganti nama jalan yang sudah ada dengan nama jalan baru.

Dengan berbagai upaya dan cara, saya sebagai penulis di beberapa suratkabar dan majalah yang terbit di Indonesia, mengungkap kehebatan Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Di sana saya menyinggung, sikap abai para petinggi di kota ini untuk menyesuaikan diri dengan julukan Kota Pahlawan itu. Apalagi, sangat lambannya keinginan untuk mengabadikan nama Dwitunggal Sukarno-Hatta selaku Pahlawan Nasional Proklamator Kemerdekaar Repubilik Indonesia di kota kelahiran Bung Karno ini.

Monumen Dwitunggal Sukarno-Hatta di gerbang Taman Tugu Pahlawan Surabaya.

Kendati kemudian terwujud pemberian nama Jalan Sukarno-Hatta untuk jalan baru lingkar timur bagian tengah atau MERR (Midle East Ring Road), di akhir masa jabatan Walikota Surabaya, Bambang DH.  DPRD Kota Surabaya, pada sidang paripurna 17 April 2010 menyetujui nama Jalan Sukarno-Hatta sejak dari pertigaan Jalan Kenjeran menuju ke selatan sampai ke perbatasan Surabaya-Sidoarjo. Peraturan Walikota Surabaya ditandatangani oleh Walikota Surabaya “yang baru” Ir.Tri Rismaharini yang menggantikan Bambang DH tanggal 24 November 2010.

Saya sebagai penulis yang sudah berulangkali menulis artikel dan kritikan ini merasa gembira. Ternyata walikota perempuan pertama di Kota Surabaya ini juga sangat peduli kepada Proklamator kemerdekaan RI itu. Bahkan, secara resmi mengeluarkan Surat Keputusan Walikota Surabaya, memberi nama jalan sejak dari pertigaan Jalan Kenjeran ke selatan sepanjang jalan MERR itu sampai ke perbatasan Surabaya dengan Kabupaten Sidoarjo.

Keputusan Walikota Surabaya Nomor 188.45/501/436.1.2/2010 itu menetapkan  tentang nama Jalan Sukarno-Hatta di Kota Surabaya sepanjang 10.925 meter. Jalan ini berawal di pertigaan Jalan Kenjeran melintasi: Jl. Kalijudan, Jl. Mulyorejo, Jl. Dharmahusada Indah, Jl. Dharmahusada, Jl. Kertajaya Indah, Jl. Kertajaya Indah Timur, Jl Arif Rahman Hakim, Jl. Semolowaru, Jl. Semampir Kelurahan, Jl. Semampir Tengah, Jl. Semampir Selatan, Jl. Medokan Semampir, Jl. Kedung Baruk Raya/Jagir, Jl. Wonorejo/Jagir, Jl. Baruk Utara, Jl. Penjaringan Sari, Jl. Kedung Asem, Jl. Pandugo, Jl. Rungkut Madya, Jl. Gunung Anyar Tambak, berbatasan dengan Kabupaten Sidoarjo.

Namun, sungguh malang nasib Dwitunggal Sukarno-Hatta itu. Justru di Kota Pahlawan ini, Pahlawan Proklamator lambang pemersatu bangsa itu, dipisah. Walikota melakukan “cerai paksa” terhadap Sukarno-Hatta. Jalan Sukarno-Hatta itu tidak berumur panjang. Perceraian ke dua tokoh sentral Kemerdekaan Indonesia itu dilakukan tanpa persetujuan DPRD Kota Surabaya yang sudah mengesahkan Perda (Peraturan Daerah) tentang pemberian nama jalan Sukarno-Hatta untuk jalan MERR itu. Jalan Sukarno-Hatta itu pun diganti menjadi Jalan Dr.Ir.H.Soekarno, tanpa menyebut nama Hatta atau Muhammad Hatta dengan  Keputusan Walikota Surabaya No.188.45/86/436.1.2/2011.

Dengan janji yang sangat muluk, seolah-olah akan menjadi walikota sepanjang masa, Tri Rismaharini, menyatakan nanti nama Jalan Dr.H.Muhammad Hatta akan dipasangkan di MWRR (Midle West Ring Road), yaitu jalan lingkar barat bagian tengah, di Surabaya Barat. Padahal, jalan itu entah kapan akan digarap, apalagi selesai. Maka, di Kota Pahlawan inilah Bung Karno berjalan sendiri tanpa kehadiran Bung Hatta. Tragis!

Dalih yang tidak masuk akal, konon perubahan nama itu gara-gara nama Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng, Jakarta, sering disingkat “Soeta”. Jadi, khawatir nanti Jalan Sukarno-Hatta di Surabaya itu disingkat Jalan Suta atau Seoata.

Tidak itu saja dalih yang saya dengar, katanya, di Bukittinggi, Sumetera Barat, di kota kelahiran Bung Hatta, nama Soekarno dengan Hatta juga dipisah. Saya tahu persis, justru, di Bukittinggi itu, Jalan Soekarno-Hatta panjang sekali. Jalan raya Sokarno-Hatta itu, mulai dari dekat rumah kelahiran Bung Hatta, di Pasar bawah Bukittinggi, di dalam kota sampai menuju luar kota, ke Kecamatan Baso Kabupaten Agam terus ke Kabupaten Lima Puluh Kota sampai masuk Kota Payakumbuh. Jadi, Jalan Soekarno-Hatta di Bukittinggi itu merupakan jalan raya dari dalam kota Bukittinggi terus sampai ke Payakumbuh. Tidak tanggung-tanggung, jalan raya Soekarno-Hatta di tanah kelahiran Bung Hatta panjangnya sambung-bersambung dari dua kota dan dua kabupaten.

 

Ditolak DPRD Surabaya

Pemaksaan “cerai paksa” yang dilakukan oleh Walikota Surabaya itu ditolak DPRD Surabaya. Dalam rapat Pansus Pengubahan Nama Jalan DPRD Surabaya, Eddy Budi Prabowo anggota pansus dari Fraksi Partai Golkar mengatakan Pemkot sebaiknya tidak terburu-buru mengubah nama jalan itu.

Alasannya, nama dua proklamator secara historis adalah satu kesatuan. Memisahkannya jadi dua nama jalan berbeda dapat menimbulkan polemik, apalagi saat ini tensi politik di Surabaya meninggi.

Maduki Toha, anggota Pansus dari FKB menilai kebijakan Walikota ini terburu-buru karena belum tentu jalan lingkar Barat bisa cepat dibangun.

“Bahkan bisa saja tidak dibangun. Jika ini terjadi, maka hanya ada nama Jl. Bung Karno saja. Kasihan Bung Karno sendirian tidak ada Bung Hatta,” katanya.

Masduki bersikukuh mengusulkan agar nama jalan diubah menjadi Jl. Soekarno-Hatta Timur, sehingga kalau nanti dibangun lingkar Barat, bisa disesuaikan jadi Jl. Soekarno-Hatta Barat.

 

Nama Sukarno-Hatta

Kalau boleh saya mengungkap masa lalu, boleh disebut lebih ironis lagi ketika di masa Orde Baru. Hampir tidak ada upaya dari Pemkot Surabaya untuk mengabadikan nama besar Pahlawan Nasional, Proklamator Sukarno-Hatta di Kota Pahlawan ini. Saat saya, menyampaikan usul kepada Walikota Surabaya, H.Poernomo Kasidi tahun 1986 agar nama Proklamator Sukarno-Hatta diabadikan di Surabaya, sikap saya selaku penulis dianggap terlalu “berani”.

Pak Pur – begitu walikota yang bertitel dokter itu dipanggil – sembari berbisik mengatakan, jangan dulu. Alasannya, menyebut nama Bung Karno di era Orde baru itu cukup sensitif. Namun, pada tahun 1986 itu Presiden Soeharto, justru mengeluarkan penetapan tentang Dr.Ir.H.Sukarno dan Dr.Mohammad Hatta sebagai Pahlawan Nasional dengan Kepres 081/TK/Tahun 1986 tertanggal 23 Oktober 1986.

Sambutan beberapa pejabat pemerintahan di Indonesia cukup positif. Bandara Cengkareng yang merupakan pengalihan dari Bandara Kemayoran diberi nama Bandara Internasional Sukarno-Hatta. Di Ujungpandang yang kembali bernama Makassar, pelabuhan lautnya diberi nama Sukarno-Hatta. Di Bandung, jalan lingkar selatan yang baru dibangun diberi nama Jalan Sukarno-Hatta.

Beberapa kota di Indonesia sertamerrta mengabadikan nama Proklamator Kemerdekaan RI itu sebagai nama jalan maupun nama taman, serta gedung bersejarah lainnya. Tidak ketinggalan pula di Jawa Timur, seperti Kota Malang, mengabadikan nama Sukarno-Hatta untuk jalan baru yang menghubungkan daerah Blimbing ke Dinoyo. Bahkan, di Kota Pasuruan dan di Bangkalan di Madura nama Jalan Sukarno-Hatta diabadikan di poros utama kota itu.

Secara resmi saya menulis surat kepada Walikota Surabaya, langsung ke tangan Pak Pur. Isi surat itu, agar nama Proklamator Sukarno-Hatta diabadikan di Surabaya dengan alternatif pertama mengganti nama Jalan Perak Timur dan Perak Barat sebagai Jalan Sukarno-Hatta. Alasan penulis waktu itu, karena jalan kembar itu menuju gerbang laut Surabaya, yakni Pelabuhan Tanjung Perak.

Ingat, Sukarno-Hatta sebagai Proklamator Kemerdekaan RI adalah Dwitunggal yang mengantar Bangsa Indonesia ke gerbang masa depan yang bebas dari penjajajah. Nah, Surabaya memang hanya punya satu gerbang masuk kota, yakni Tanjung Perak. Gerbang masuk dari udara dan darat Kota Surabaya, ada di Kabupaten Sidoarjo, yakni Bandara Juanda dan sekarang juga terminal Purabaya di Bungurasih, Waru.

Setelah usul itu tenggelam begitu saja di kantong walikota Poernomo Kasidi, penulis berupaya menanyakan dan mendesak. Ternyata, saya dibentak. Tidak puas dengan sikap sang walikota, penulis membuat artikel di Harian “Surabaya Post” pada tanggal 9 November 1989 dalam rangkaian peringatan Hari Pahlawan.

Sebagai penulis artikel, saya berusaha memberi gambaran, bahwa pintu gerbang kota Surabaya ini “hanya satu” yakni dari laut di Tanjung Perak. Sedangkan gerbang kota melalui darat ada di Bungurasih, Waru, Sidoarjo dan gerbang udara ada di Bandara Juanda, Sidoarjo. Untuk itulah, karena Sukarno-Hatta sebagai proklamator yang mengantarkan bangsa Indonesia ke gerbang kemerdekaan, maka penulis mengusulkan nama Jalan Tanjung Perak Barat dan Jalan Tanjung Perak Timur diubah menjadi Jalan Sukarno-Hatta

Setelah tulisan itu turun di koran terbesar di Surabaya waktu itu, saya dipanggil beberapa pejabat Pemda Kodya Surabaya (waktu itu). Ada yang mendukung dan ada yang menolak dengan alasan perlu ada Perda (Peraturan Daerah). Waktu itu, beberapa anggota DPRD Surabaya yang setuju, tetapi ada yang tidak. Alasannya, macam-macam. Di antaranya berdalih belum ada tempat yang pas untuk mengabadikan nama Sukarno-Hatta di Surabaya. Bahkan yang cukup berkesan, saya dipanggil oleh staf intel Kodam V Brawijaya, meminta penjelasan tentang tulisan di Surabaya Post itu.

Ketika ada rencana pembangunan  jalan lintas timur bagian tengah yang disebut MERR (Midel East Ring Road), ada yang menginginkan nantinya apabila proyek MERR itu jadi, maka nama jalan itu adalah Jalan Sukarno-Hatta. Ternyata MERR yang semula terbengkalai alias mangkrak, tahun 2005 lalu sebagian sudah selesai, termasuk jembatan yang melintas di atas Kali Jagir Wonokroromo sampai ke wilayah Kedung Baruk, di Kecamatan Rungkut.

Kabarnya, kalangan veteran pejuang kemerdekaan dan Angkatan 45 juga pernah mengusulkan jalan raya dari ITS sampai ke viaduk Jalan Sulawesi, yakni Jalan Kertajaya Indah, Manyar Kertoarjo sampai Jalan Kertajaya diganti menjadi Jalan Sukarno-Hatta. Itu juga tidak mendapat tanggapan dari eksekutif dan legislatif.

 

Pro-Kontra

Keinginan saya agar nama Sukarno-Hatta diabadikan di Kota Pahlawan ini kembali menggebu-gebu. Setelah di Harian “Surabaya Post”, beberapa tulisan tentang perlunya Surabaya mengabadikan nama Sukarno-Hatta di Surabaya, saya turunkan di Majalah Gapura (majalah resmi Pemkot Surabaya), tabloid Teduh, SKM Palapa Post, tabloid Metropolis dan Majalah DOR. Ketika saya mempunyai kesempatan yang “sangat baik” dengan Walikota Surabaya H.Sunarto Sumoprawiro, kumpulan tulisan dan artikel ini penulis serahkan kepada Cak Narto – panggilan sang walikota.

Luar biasa, Cak Narto menyambut baik ide untuk pengabadian nama proklamator ini. Saking bersemangatnya, Cak Narto sertamerta menginginkan nama jalan yang layak untuk sang Proklamator adalah mengganti nama Jalan Raya Darmo. Cak Narto waktu itu mengabaikan usul saya agar nama Sukarno-Hatta diabadikan dengan alternatif pertama mengganti nama Jalan Tanjung Perak Timur-Barat dan alternatif kedua sebagai pengganti Jalan Prapen Jemursari (mulai dari perempatan di Jembatan Bratang sampai ke Jalan A.Yani di bundaran Dolog.

Akibat keinginan Cak Narto mengganti nama Jalan Raya Darmo menjadi Jalan Sukarno-Hatta, timbul pro-kontra yang luar biasa di mediamassa. Padahal keinginan Cak Narto mendapat dukungan dari tokoh Surabaya, Prof.Dr.H.Roeslan Abdulgani atau Cak Roeslan. Namun upaya saya agar nama Sukarno-Hatta diabadikan di Surabaya kembali terganjal, bersamaan dengan “kasus walikota Surabaya”, sampai akhirnya Cak Narto sakit dan meninggal dunia di Australia tahun 2002. Begitu juga, Cak Roeslan juga sudah wafat, 28 Juni 2005 lalu di Jakarta.

Bagaimanapun juga, ketika Walikota Surabaya dijabat Drs.Bambang Dwi Hartono,MPd, saya mengharapkan carapandang yang berbeda. Mungkin, waktu yang paling tepat untuk mengabadikan nama Sukarno-Hatta di Surabaya, saat Presiden RI masih dijabat oleh Megawati Sukarnoputri dan diresmikan sendiri oleh anak kandung Bung Karno waktu itu.

Saya mengharapkan, sebagai seorang nasionalis, Bambang DH yang waktu itu juga Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Kota Surabaya, tentu sangat tepat kalau momen peringatan Hari Jadi Surabaya, 31 Mei 2003 atau peringatan Hari Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2003 atau peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2003 ditandai dengan pengabadian nama Sukarno-Hatta di Kota Pahlawan Surabaya. Namun, waktu yang baik itu berlalu begitu saja. Kelihatan nyali dan kemauan politik Bambang DH sama sekali masa bodoh untuk mengabadikan nama sang Proklamator Soekarno-Hatta.

Padahal, wakt u itu sebenarnya ada dua ikatan emosional yang bisa dibangun. Selain bambang DH yang aktivis PDI-P, wakilnya Arif Afandi berasal dari Blitar, tempat asal orang tua Bung Karno. Perpaduan Bambang DH-Arif Afandi itu bisa dengan mudah mewujudkan pengabadian nama Sukarno-Hatta.

Alhamdulillah, perasaan warga kota Surabaya terobati, di masa akhir jabatannya sebagai walikota, Bambang DH bersama DPRD Kota Surabaya, tanggal 27 April 2010  sepakat memberikan nama jalan lingkar timur bagian tengah atau MERR menjadi Jalan Sukarno-Hatta. Kata-kata “Ironis!” yang selama ini disandang Kota Pahlawan yang lamban mengabadikan nama Sukarno-Hatta menjadi berubah.

Namun, seperti saya tulis di atas, sungguh malang nasib Dwitunggal Sukarno-Hatta itu. Justru di Kota Pahlawan ini, setelah terwujud pasangan pemersatu bangsa itu menjadi satu, lalu dipisah. Walikota melakukan “cerai paksa” terhadap Sukarno-Hatta. Jalan Sukarno-Hatta itu tidak berumur panjang. Tanpa persetujuan DPRD Kota Surabaya yang sudah mengesahkan Perda (Peraturan Daerah) tentang pemberian nama jalan Sukarno-Hatta, sertamerta Jalan Sukarno-Hatta itu pun diubah menjadi Jalan Dr.Ir.H.Soekarno, tanpa menyebut nama Hatta atau Muhammad Hatta.

Tri Rismaharini, menyatakan nanti nama Jalan Dr.H.Muhammad Hatta akan dipasangkan di MWRR (Midle West Ring Road), yaitu jalan lingkar barat bagian tengah, di Surabaya Barat. Padahal, jalan itu entah kapan akan digarap, apalagi selesai.

Sekali lagi saya ulangi, “Sungguh tragis! Justru di Kota Pahlawan inilah Bung Karno berjalan sendiri tanpa kehadiran Bung Hatta.” ***

*) Penulis adalah Wartawan berdomisili di Surabaya

Berita Detik-Detik Proklamasi di Surabaya

Berita Detik-detik  Proklamasi

Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945


Catatan: Yousri Nur Raja Agam *)      Yousri Nur RA MH


Walaupun sensor pers sangat ketat oleh Pemerintahan Balatentara Jepang, namun Berita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 yang berlangsung di Jakarta tersiar 15 menit setelah dibaca Bung Karno di Surabaya.

BERITA tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia yang terjadi di Jakarta hari Jumat, 17 Agustus 1945, diterima di Surabaya 15 menit setelah Soekarno-Hatta membacakan naskah proklamasi.

Bukan mudah seperti zaman sekarang, pengiriman berita kala itu. Beda dengan sekarang, bisa langsung via HP atau komputer di internet. Kala itu teknologi belum secanggih saat ini. Pengiriman berita masih menggunakan telegram dan telepon.

Kendati mengalami hambatan, berita proklamasi kemerdekaan RI itu berhasil diterima di kantor berita Domei Cabang Surabaya dari kantor berita Domei pusat di Jakarta dalam bentuk morse.

Isi lengkap morse yang disalin ke dalam huruf latin adalah:

bra djam 12.00 aug tg.17

domei 007 djakarta – (proklamasi)

kami bangsa indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan indonesia titik hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan dll diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja titik

djakarta hari toedjoeh belas boelan delapan 2605 titik

atas nama bangsa indonesia soekarno-hatta

rd at 1205

Berita yang diterima markonis Jacob dan Soemadi itu diserahkan ke bagian redaksi. Kantor berita Domei yang dipimpin seorang Jepang bernama Ohara itu, anggota redaksinya adalah: Soetomo (Bung Tomo), RM Bintarti, Soemadji Adji Wongsokeosoemo (dikenal dengan panggilan Pak Petruk), Wiwik Hidayat dan Fakih. Bagian telekomunikasi diketuai Hidayat yang dibantu oleh Soejono, Jacob, Soemadi, Soewadji, Anwar Idris, Koesnindar, Soedarmo dan Koentojo.

Begitu berita yang diserahkan Jacob ke redaksi diterima, suasana di kantor Domei itu manjadi ramai. Perbincangan tentang kemerdekaan dan proklamasi itu menjadi berkepanjangan. Tetapi, sesuai prosedur berita itu diteruskan ke Hodokan (dinas Sensor). Petugas Hodokan marah dan menyatakan bahwa berita itu tidak benar. Berita itu ditahan dan tidak boleh disiarkan. Namun secara diam-diam, Jacob petugas kantor berita Domei meneruskannya ke harian Soeara Asia. Kebetulan kantornya bersebelahan, sama-sama di Aloon-aloon straat (kini gedung PT.Pelni Jalan Pahlawan).

Ternyata, Hodokan juga menyampaikan bantahan ke Soeara Asia, sehingga membuat redakturnya Mohammad Ali menjadi ragu-ragu. Padahal berita itu sudah diset untuk halaman 1 dengan judul “Proklamasi Indonesia Merdeka”. Tidak kehabisan akal, Mohamad Ali menginterlokal ke kantor berita Domei pusat di Jakarta. Dari Jakarta, penerima telepon yang bernama Ahmad, mengatakan berita itu benar dan valid. Teruskan saja, berita itu sudah betul. Namun konfirmasi itu dianggap terlambat, sedangkan halaman koran itu sudah terisi berita lain, sehingga berita “Proklamasi” itu hanya dimuat sebagai “Stop Press”, hari itu.

Berita Proklamasi Kemerdekaan RI dengan naskah lengkap disiarkan harian Soeara Asia, Sabtu, 18 Agustus 1945 yang dimuat di halaman pertama. Berita kemerdekaan tersiar dengan cepat, apalagi bersamaan dengan itu di mana-mana ditempel selebaran tentang proklamasi itu.

Sensor Ketat

Memang, sejarah mencatat, setelah Balatentara Jepang berkuasa di Indonesia, kegiatan pers di Indonesia, termasuk Kota Surabaya masih tetap semarak. Para wartawan dan pekerja pers tetap bersemangat. Sebagai tenaga profesional yang independen, mereka terus mengembangkan cakrawala jurnalistiknya.

Perkembangan perang pasifik yang berkecamuk antara Balatentara Jepang dengan Sekutu dan kegiatan para pejuang kemerdekaan saling mendukung dalam pemberitaan suratkabar dan radio.

Saat pertama kali Jepang menginjakkan kakinya di bumi Indonesia, terhitung sejak 1 April 1942, diberlakukan ketentuan penggunaan waktu yang sama dengan waktu di Negara Sakura itu. Berikutnya Pemerintahan Jepang di Indonesia mengeluarkan Maklumat No.15 tanggal 29 April 1942 yang isinya kewajiban menggunakan tahun Nippon. Tahun 1942 diganti menjadi tahun 2602  atau sering disingkat 02.

Bagi masyarakat pers Indonesia, juga di Surabaya, sensor yang ketat dari Hodokan, yakni Dinas Pers Balatentara Dai Nippon juga sangat dirasakan. Waktu itu, mendengarkan siaran radio “musuh” atau Sekutu dilarang. Sensor diberlakukan untuk seluruh barang cetakan, terutama suratkabar harian, mingguan, bulanan dan berkala. Termasuk barang cetakan majalah, buku bacaan, buku pelajaran, selebaran, pengumuman, merek dagang, program bioskop dan undangan. Bahkan, studio foto diwajibkan mengirim film hasil cetakannya ke badan sensor sebelum diserahkan kepada yang memesan foto tersebut.

Untuk membatasi gerak pers, pembesar Balatentara Jepang di Jakarta, secara resmi mengeluarkan Undang-undang No.18 tanggal 25 Mei 1942 tentang “Pengawasan badan-badan pengumuman dan penerangan dan penilikan pengumuman dan penerangan”. Undang-undang yang memuat 11 pasal itu menjabarkan ketentuan tentang pengumuman dan penerangan kepada masyarakat umum. Selain berisi petunjuk untuk mendapatkan izin penerbitan dan larangan dalam penyiaran, juga ditetapkan pada pasal 11 tentang ancaman hukuman bagi pelanggar UU No.18 itu.

Selain ada suratkabar “Soeara Asia”, awal pendudukan Jepang di Surabaya, juga terbit suratkabar “Pewarta Perniagaan” dengan alamat di Aloon-aloon straat 30 (sekarang Jalan Pahlawan 116). Saat bersamaan muncul perwakilan suratkabar Jepang di Surabaya, namanya harian “Osaka Mainichi” dan “Tokyo Nichi-nichi Simbun” yang ke duanya menggunakan alamat redaksi di Jalan Tunjungan 100 Surabaya (persis di pokok Jalan Tunjungan dengan Jalan Embong Malang, sekarang dikenal sebagai Monumen Pers Perjuangan dan gedung ini digunakan oleh perusahaan jam Seiko).

Perubahan di dunia pers juga terjadi di kantor berita. Kantor berita “Aneta” oleh Jepang dilarang beroperasi, sedangkan kantor berita “Antara” boleh beroperasi dengan ketentuan ganti nama menjadi “Yashima”. Namun, kemudian menjadi kantor berita “Domei” bagian Indonesia. Suratkabar yang terbit, untuk berita luarnegeri hanya boleh mengambil dari kantor berita Domei.

Pengawasan yang ketat juga diberlakukan terhadap wartawan. Untuk memperoleh kartu wartawan, terlebih dahulu dilakukan penataran dan hanya yang lulus berhak mendapat kartu pers yang dikeluarkan oleh Jawa Shinbun Kai (organisasi sejenis Serikat Penerbit Suratkabar atau SPS di Jawa waktu itu). Salah satu data yang diungkap A.Latief dalam bukunya “Pers Indonesia di zaman Jepang”, menyebut wartawan suratkabar Soeara Asia yang lulus hanya 16 orang.

Ke 16 wartawan itu adalah: R.Toekoel Soerohadinoto, Abdoel Wahab, Imam Soepardi, Sie Tjin Goan, Mohammad Ali, Ronggodanoekoesoemo, Moch Sofwan Hadi, Sie Pek Ho, R.Abdoel Azis, JAA Pattiradjawane, A Dermawan Loebis, Mohammed, Sarif Roesdi, R.Soenarjo, Ibnoe Soejahman dan R.Koesen.

Walaupun pemerintahan Balatentara Jepang sangat ketat dalam sensor, mereka melakukan pembinaan kepada pemuda Indonesia dengan semangat Asia Raya. Dari itu diperoleh manfaat untuk menggalang semangat menuju Indonesia merdeka. Akhirnya setelah Jepang “bertekuk lutut” akibat jatuhnya bom atom di Hirosyima dan Nagasaki. **

*) Yousri Nur Raja Agam, wartawan senior di Surabaya

Sukarno Born In Surabaya

The first President of the Republic of Indonesia,

Sukarno Born in Surabaya

Yousri Nur RA MH



Note: Yousri Nur Raja Agam MH

MONTH June is the month, “Bung Karno”. A century ago, Bung Karno was born on Mother Earth, Nusantara, the exact date of June 6, 1901.

Later in the month of June also Bung Karno went to heaven, to meet the Khaliq, which is dated June 21, 1970.

Bung Karno, who is gone, but the spirit juangnya “still alive” in the Indonesian People’s souls and hearts.

Below, I have noted about the Bung Karno, on “cross-Bung Karno’s fighting spirit.” I present this paper, as a mirror for our future and our grandchildren.

Indeed, nobody can deny, however, Sukarno was still eternal. Name the first President of the Republic of Indonesia, Dr.Ir.H.Soekarno, always be remembered. However gonjang ganjingnya earth-quake of politics, but history never lies. So true what he said to himself: “big nation is a nation that can not forget the heroes of services.”

Bung Karno was the hero. He is a fighter and history makers in the country which is now free. Apart from the shackles of colonial rule during the three and a half-century Dutch and Japanese army atrocities during the clutches of three and a half years. We are independent. Freedom from all suffering. Indonesia’s independence and freedom.

Bung Karno and Bung Hatta on behalf of the Indonesian Nation, August 17, 1945, proclaimed the Independence of the Republic of Indonesia, in Jakarta.

That’s all, not a gift, but the struggle. Struggle of the youth and children from all corners of the archipelago nation. Not overnight, but since many centuries. Process for the process, we finally arrived at the nature of independence, build and toward justice, prosperity can prevail. All of that, we are all ideals. Including, desire, will and ambition of Bung Karno.

You lead us, your people since independence until finally you’re gone. You take this nation to reality, in the eyes of the world. Indonesia’s unity in diversity based on Pancasila, baqa you up to nature.

Born in Surabaya

Raden Sukemi Sostrodihardjo, a father from Blitar, East Java is a disciplined man. He aristocrat from the lineage of King Kadiri. These men to marry girls of Bali, Nyoman Rai Idayu. It is also a blue-blooded woman, a descendant of the king in Singaraja Bali. Of the two ethnic mix, Java and Bali, was born a girl and a boy. The women were given a name and brother are named Sukarmini: Kusno. Kusno born in Surabaya, East Java, on June 6, 1901.

At the end of the year 1899 moved Raden Sukemi teaching in Surabaya. He taught at Lower School (elementary or primary school level) in Jalan Surabaya Sis. Raden Sukemi with his wife, lived in the village Pandean, Surabaya Peneleh area, not far from Sis, where Sukemi teaching. At that time, indeed many of the Balinese who live in the area Peneleh. It is said in the past, the pier is a place berlabuhnya Peneleh ships and sailboats from Bali.

Indeed, Peneleh area is still “impressed” as a stopover area of Bali. In this area many of the foreigners residing in Bali. In this region also stands to this day many hotels, lodging and travel to serve the people who come from Bali. In fact, the fruit market on the edge of the road Kalimas Peneleh be derived from the fruit market in Bali. Especially Bali salak and oranges.

When I lived in a rented house Pandean IV/40 Road, Peneleh, Surabaya, Nyoman Rai Ida was pregnant with her second child. Now, at the time of the sun rising up from the eastern horizon Surabaya, dated June 6, 1901, a baby boy born to the earth. Sukemi Raden gave the name of his wife’s second child, Kusno. However, until now no one gives certainty whether Kusno born with the help of midwives or traditional birth attendants.

Kusno is still a baby, then brought by Raden Sukemi moved with his wife to Blitar. Because Sukemi assigned to teach in the city of Blitar. In Blitar City is a small Kusno large families living together Sukemi Raden.

Kelud erupts

When I moved to Blitar, the atmosphere is still tense in Blitar. Some residents still displaced by the eruption of Mount Kelud. From the crater is still flowing lava. The slope of this mountain floods hit. Galodo that all plants and immerse meleluluhlantakkan mud craters up to the Brantas River. District and City of Blitar and Kediri districts and municipalities, even to the heaven of Psychology and Tulungagung ash cloud.

Now, as a result, the infant’s Kusno affected. He was sick and often sickly. His father, Raden Sukemi Muslim and believe in Javanese culture, have a hunch, that one gives names to their children. Kusno name given to her son was considered unsuitable. Maybe it is also wrong.

In order to avoid the pain caused by the wrong name, according to Javanese tradition, the name was changed to Kusno: Sukarno. So similar to  sister, Sukarmini.

Small Sukarno became big. Sent to school, be smart and clever. He continues to be grown adults. After becoming an adult human being clever-clever, Sukarno was able to explore science and challenging era. He became a leader. He was able to lead itself into the human understanding and a certain character. Jonathan can fall in love. Sukarno was then married: have a wife, then have children and he became a father.

Greatness itself makes it not only the father of her children, but he became the “Father of the Nation”. He became leader of the country. He became leader of the nation. We are a nation of Indonesia. His name was fluttering and famous. U spellings into OE, affecting also the name of Sukarno. As a result of people writing her name into: Sukarno. It is said that Bung Karno himself more happy if his name is written Sukarno, Sukarno’s not.

Fortunately, her name changed from Kusno to Sukarno. Why? Because, at the time of the struggle for independence in the 1940s, young men greeted each other with calls “bung”. Soekarno called Bung Karno. Mohammad Hatta, called Bung Hatta. Sutan Sahrir addressed as Bung Sahrir. Anyway fellow young fighters at the time, if the encounter is always yelling with his hands clenched: Free fella! How are you doing man! And so the bung.

Comfortable and appropriate to call for Soekarno, Bung Karno. Had his name not be replaced, fixed Kusno. Bung Kusno vocation course. I could have received nothing wrong, mistaken told to wrap. Because in the Java Language “bungkusno” meaning that you please gift-wrap or wrapped. However, if the Bung Karno, one-one can hear diarti “bongkarno” or means bongkarlah. Now, if this is not a problem. That means good. Once past about alihnama joke Bung Karno previously named Kusno become Sukarno.

Duke Ngawonggo, puppet characters known as the knight who cling to the principle. Until a famous poet, Mangkunegoro IV, depicts a knight Ngawonggo soul to become a model for Mangkunegaran relatives. There are forms of traditional songs, which are summarized in Tripama Dandanggula.

The original name is Duke Ngawonggo Suryaputra and is also known by the name of the son of Dewi Kunti Basukarno. Time Dewi Kunti was a virgin, but because of an error running the spell of Bathara Surya, hamillah him. What a shame the child king was pregnant before marriage. Must find a way out. But god is always completely possible. Kunti’s first child was not born through the womb, but through the ears. Therefore, Basu called Karno. He became known as the Duke Karno minded knight, never retreat and adhered to the principle.

Javanese society is still dominated puppet stories. Many were memorized by heart the story Mahabharata, Ramayana and other stories carangan. As an aristocracy, which is also the teacher of Raden Sukemi Lower School (SD), is very familiar with the stories of heroism that. He was very impressed with Duke Karno. It is the foundation that eventually his son’s name was changed to Kusno Sukarno. Of his hopes, his son will someday have a soul like Duke kesatriat Karno. Strong discipline and not easily discouraged.

Duke is still a puppet in a Karno Pandava brothers, is equally the child of Kunti, just from a different father. To eliminate the royal disgrace, so Basu Karno was born, was exiled. Discovered by a coachman and raised. Finally he was given the position by Kurawa. Yudha Barata war time, among Kurawa with Pandavas, the Duke of impartial Kurawa Karno, as a reciprocation for the mengakat Kurawa degree, although he knew pihk Kurawa wrong.

At war’s Duke Karno Barata Yudha fall on the battlefield. With the death of Duke Karno, Kurawa also wiped out. Pandavas regained their right to occupy the throne of the kingdom of Astina.

From the puppet story line that, if expectations raden Sukemi then materialize? Are there similarities between the Duke of Bung Karno Karno? Only historians who can answer it.

Intellect father

The age of five years, Sukarno entered the school in the SR (Lower School) Bumiputera. As a teacher, Raden Sukemi trying to find a way so that children can continue their education to the Dutch school. That is why at the time of Sukarno’s sitting in the fifth grade, her father tried to enter the sixth grade Sukarno to ELS (Eurpeesche Lagera School), a school for Dutch kids. Because from here, her father Sukarno wanted to someday go to HBS (Hogere Burger School).

Formal procedures difficult, eventually with a stance “machinations”, Raden Sukemi tried to contact his friend. Then whispering to and fro. It worked, and there was Sukarno as Indonesia’s extraordinary child came into the ELS time. Sukarno school until graduation in ELS. Then proceed to the HBS in Surabaya. At that time, there were only 78 people of Indonesian children who school there, the other children Netherlands and Europe.

Her father Sukarno’s desire to improve their versatility was not in vain. Sukarno did have a smart brain. Even the children of poor families who as a child was ill, managed to graduate with good. Sukarno during boarding school in Surabaya or HOS Cokroaminoto boarding home, continue their education to Bandung. In the Flower City’s, Sukarno signed in Tehnische Hoge School (THS) or technique that is now the High School named ITB (Bandung Institute of Technology). Here again, the natives are very few schools. They must have kids or a high-ranking nobles in an area, other than children of Dutch or European.

During the school in Surabaya, as well as college in Bandung, Sukarno enjoyed reading and a lot of writing for newspapers or magazines. He always wrote under the pseudonym “Bima” for each of his writings. Of whom he became a writer still in Magazines “ambassadors for the Indian” leaders Cokroaminoto HOS.

Bima name in the magazine The Dutch government is always a concern. He never wrote with the title “Destroy Capitalism immediately assisted by a slave Imperialism. God willing, it can be implemented immediately. ” The writing was really brave and sharp. Cokroaminoto shake my head reading the article. He was proud to see the latent talent of the young Sukarno, who was boarding at his house. The boy was kept nurtured and ultimately continue to grow.

It was not only impressed against karyatulis Cokroaminoto Sukarno. People movement, Dr.Douwes Setyabudi Dekker, also noticed that the young talent. Moreover, then he knows, Sukarno was also intelligent and eloquent.

There is one handle of the principle of Sukarno, the opinion of the Theosophists a philosopher, Swami Vivekananda. Opinions are always memorized Sukarno was: “Do not make your brain into a library, but wear pengetahuannmu actively.”

With that basis, Sukarno made comparisons between what is read from the book by what he heard from the speech. There is also seen from the surrounding nature and community life in sekelililingnya.

In addition to being a teacher, Cokroaminoto for Sukarno later also became in-law. Utari, who was still a teenage girl 16 years of age to marry. Not long after, Sukarno continued to Bandung and boarding school at home with his wife Inggit H. Sanusi Garnasih. Inggit later divorced with H. Sanusi and Sukarno was also divorced with Utari. Sukarno’s widow widower Inggit to finally establish a marriage. (The story of romance and Inggit Utari, please read on another part-Red).

Farmers’ That name is Marhaen

Currently studying in Bandung, Sukarno increasingly burning spirit of Fight. He always appeared on stage, if there is speech activity. Evidently he was then known as the candidate’s speech and called the “lion’s podium.” He also dared to deliver sharp criticism of the Dutch colonial government in power and invaded our homeland.

Sukarno succeeded in reaching an engineering degree on May 25, 1926, then two months later, on July 26, 1926, he co Ir.Anwari sekuliahnya friend had founded the Bureau of Engineering. However, due to time used for political activity, let alone the party he had founded called PNI (Indonesian National Party).

There is a story that is quite unique, and instead bring their own blessing for Sukarno’s political life. With its bike – this time a bike is a luxury – it is often around the city of Bandung. Even sometimes to the outside of the city. No dinyana when pedaled toward the South of Bandung, he brought a cool breeze to the edge of the verdant rice fields. In a stretch of fields he saw a farmer who was busy working.

Sukarno’s attention to indigenous farmers with ragged clothes were rags. He was leaning on his bicycle at the edge of the embankment, he continued to pay attention to the great peasant hoeing his field. When Sukarno still meneawang concerned about the fertile nature, the man who had stopped the digging work. He went to the bund and sit with ease. He took a cigarette from his pocket, dilinting and burned. It was obvious that she enjoys tobacco smoke.

Sukarno came over and said good afternoon, What a surprise, the farmer saw a smartly dressed young man approached him in the middle of rice fields. Bung Karno sat on the grass while a dialogue with the farmer.

When asked Bung Karno, he mentioned her name: Marhaen. From the questions and answers that are interested in Bung Karno’s innocence farmers. He is the owner of the rice fields, it is also a hoe that is used. But, after he had harvested, sold the results for wives and children. However, the fact that farmers remain poor. Not just one person Marhaen farmers like it. There are many more. Maybe not only in Bandung, West Java, but also in the whole of Java, Sumatra and the whole earth Archipelago.

When he returned to his home in Bandung, while pedaling a bicycle arise various fantasies and visions of the people, farmers and Sukarno of Indonesia in mind. Bung Karno was very confident, although as the owner of this Mother Earth, not least the natives whose fate was the same as Marhaen who met in Bandung in the South. Lots and lots of other Marhaen, whispering words of Sukarno cerebellum.

While nodding and smiling a little, Bung Karno get inspiration. He will fight for people’s lives like that Marhaen, The owner of a small nation, but still poor and the colonized. They must be lifted morale and spirit of nationality. With the fight for the destitute and suffering people that, Sukarno gave a draft manuscript that will be developed later: Marhaenism. This understanding then becomes the principle of the party she founded.

Even with the same Marhaenism, Bung Karno and then make the PNI became a big party with many followers. Greatness of his party picked up the name of Bung Karno be great. And, the Dutch colonial government finally considering potential engineer architect majors, but got the politics of law Cokroaminito gemblengan it.

Sukarno finally follow in the footsteps of the fighters in this country. He was thrown into prison in Bandung Sukamiskin East. Along with him were also arrested Billy Mangkuprojo, Supriadinata and Maskun. At that time, Bung Karno was menjadii Inggit Garnasih husband. This young widow who diligently visited Bung Karno to prison. Including the smuggling of books, which eventually became the inspiration Bung Karno to perform in front Landraad defense, the judge. Manuscript written defense in the Bung Karno Sukamiskin prison cell as the foundation of the inverted bedpan that table, because there is no table. It never used pot to pee, tetapai used to store books. Finally, the preparation of the manuscript in the tumultuous world of the cell.

Bung Karno, who was charged with committing crimes in violation of Article 169 of the Criminal Code (Book of Law Criminal Law) and violates Article 161, 171 and 153 de Haatzaai Artikelen. In essence, Sukarno with his friends in the PNI considered to incite the people and will do pemerontakan 1930. Bung Karno’s defense speech in front of the court was known by the title: “Indonesian Sue.”

This is a historical landmark struggle of the movement that really disturb the stability of security and defense of the Netherlands Government. Because, “Indonesia Sue” was not just a private defense Sukarno and his friends, but also a plea to the Indonesian people who colonized the Dutch East Indies Government.

In a final description of Bung Karno’s defense gave a political speech which, among others:

“Indeed, we beridiri in the presence of these gentlemen Court is not as Sukarno, was not as Gatot Mangkuprojo, rather than as Maskun or Supriadinata. We are standing here is as part of the Indonesian people who laments that, as sons of Indonesian mother and loyal devotion to him. The voice that we spend in the current court building, it does not stay inside the walls and the walls only. Suiara we heard also by people who listen to our servant, reverberate everywhere, across the plains and mountains and Samodra, to Kotaraja until Fakfak, the Ulu Siau near Manado up to the East. Rakyat Indonesia, which we heard this was felt to listen to his own voice. ”

Length of speech and political speech that was read Sukarno. Judge the judge just shut up and listen. Similarly, prosecutors and the policemen guarding the Netherlands. So, no wonder many are amazed chuckle over the defense’s Bung Karno.

Apparently chambers and prison cells rather than make the Bung Karno and fighters trauma. That’s precisely where they are forged and made a crater Candradimuka prison which made them more persistent and courageous.

After undergoing confinement for 330 days or two and a half years in prison Sukamiskin, Bandung, dated December 31, 1931 Bung Karno out of jail. Something unique happened at the end of that year. All taxis, public transportation in Bandung city, who was number 50 fruit of all chartered public who wish to pick up at the gate of Bung Karno prison. Not only that, any gig-gig-arrack marched toward the border town of Bandung in the direction Sukamiskin. So did the owners of private cars, and bicycles. Everything is heading in the direction Sukamiskin. Total carrying 98 cars that day, 320 bicycle buggy and dozens more.

Police kalangkabut. Finally, in the border city (Gemente) Bandung, all stopped. Only cars carrying Inggit and family, and Husni Thamrin who came from Jakarta, which may be closer to the door of the jail.

Bung Karno, then boarded the car with Inggit Garnasih family, the car behind Husni Thamrin. Arriving at the gate of the city, welcomed the noise Bung Karno incessantly. “Life of Bung Karno, Bung Karno’s Life”, and thus a voice cried incessantly seopanjang Sukamiskin to enter the street from City bandung Garnasih Inggit backyard.

Struggle Dwitunggal

Indonesian Youth Struggle increasingly persistent. Wind-wind shadow in front of the independence of the eye. From day to day the rays of light began to be felt. Beside in Bandung, Sukarno, who struggled with his PNI, Mohammad Hatta Airport in Jakarta, Syahrir, Husni Thamrin and his friend take action against the Dutch Government.

The fate of the fighters were not good. But full of sacrifice and challenges. In 1934, many leaders of the movement who were arrested and exiled far from the island of Java. They were exiled to the area that is still foreign. There are discharged into Digul in Irian, a place far from hububngan and even here the development of the swamp where malaria. Moh.Hatta and Syahrir, exiled to Banda Neira. Not long after Sukarno exiled to Ende on Nusatenggara, then moved to Bengkulu in Sumatra.

The presence of the Indonesian Japanese armies in 1942, bringing hope for freedom fighters. Moreover, Japan with the slogan “Greater East Asia Merdeka”, take and organize a strategy to destroy the colonial Europeans.

Japan has long noted the names of the fighters who are against the Dutch. Name Sukarno, Hatta and Syahrir, merupkan three names that always been the target of Japan. Even the Japanese were trying to take this to the three people not to hand off to the Netherlands. Because, when Japan signed in Indonesia, not a few political prisoners rushed the Netherlands to Australia.

Moh.Hatta together Syahrir Japanese rounded up and secured in Sukabumi. Bung Karno, who was in Bukittinggi has been contacted. With a small entourage after passing through the land route through Jambi, Bengkulu and Palembang, Bung Karno and his family arrived in Jakarta picked up by children HOS Cokroaminoto Anwar, brother of former wife of Bung Karno, Utari.

Two figures, Bung Karno and Bung Hatta, merupkan two names that could not be separated. The Japanese are always doing deals and negotiating with these two. Thus, since then tercetuslah designation for these two men as “duumvirate”.

Sukarno-Hatta duumvirate light-trengan talks in preparation for independence with the Japanese. Behind it, Syahrir with his friends to do the underground movement, trying to shake up Japan’s ruling position.

Based on the information “black radio” which monitored Syahrir and Amir Sarifuddin with his men, known to the Japanese position further pressured by the Allied Forces. Duumvirate who obtained the information of A-1 (certain) from Syahrir and Amir, then arranged to form a government ploy if Japan really surrendered to the Allies.

Cooperation with the Japanese side conducted Dwitunggal, continue to be developed to form the youth ranks. Digalanglah some young fighters and organizations pre-existing fighters. Together with other struggle leaders such as, Ki Hajar Dewantoro and KH Mas Mansur, Sukarno-Hatta Dwitunggal established Putera (People’s Power Center).

Japan saw the presence of the Son as a friend who can help their own interests, contrary to the movement, later known as the “Four series”, ie, Sukarno, Hatta, Ki Hajar Dewantoro and KH Mas Mansur, is preparing to welcome the dawn of independence.

In addition to the four series, there are also other groups of fighters. They consist of four groups. The first group leader Amir Sarifuddin, the second group led Syahrir, a third group of students, and the fourth group along with his group Adam Malik Sukarni, Chairul Saleh and Pandui Kertawiguna. In addition there are other groups who also went underground and controlled Muhammad Natsir Sjafrudin Prawiranegara.

Greater East war continues to flare. Japanese troops eventually train the youth of Indonesia into the cadres of fighters to help them. Founded PETA (Defenders of the Homeland), one of its presidents Affairs. Pros and cons to happen to the formation of the map. But after the Bung Karno convincing, then the developing map. Bung Karno said, is the goal of forming maps of Japan, for their interest, however, for us, is as an educational institution for young fighters. So, who entered map must be chosen from the youth-minded patriot and love of the nation.

Finally, it is proven, Dai Nippon Army increasingly desperate. At the time Japan started sluggish, the spirit of our youth continues to flare. Rose to commemorate independence.

Sukarno-Hatta duumvirate increasingly play a role. Moreover, at 1 April 1945, American troops landed in Okinawa. Japanese residing in Indonesia trying to keep the seconds defeat it. Dwitunggal activities with the young fighters, finally got the blessing of Japanese businessmen. Investigation Committee approved the establishment of the Emperor’s efforts Preparation of Indonesian Independence (PPUPKI). Members, in addition to Bung Karno and Bung Hatta, is KRT Rajiman Wediodiningrat and others.

Not only that Japan’s generosity shown. People are also allowed to sing Indonesia Raya and fly the flag alongside the flag of Japan.

Bung Karno and Bung Hatta, in a separate place together to make planning and concepts that would be born of government, Indonesia’s independence.

General Terauchi, Supreme Commander of Japanese forces in Southeast Asia, dated August 8, 1945, Sukarno-Hatta Dwitunggal invited to Saigon. Three days and two leaders of this nation are in this rice-producing country. Upon his return to Jakarta, Bung Karno really bring a fresh breeze. In his speech on August 14, 1945, Bung Karno said: “Before the maize flowering Indonesia already independent.”

Japan finally really “to its knees” to the Allied Forces after the Atomic Bomb Hiroshima and Nagasaki vaporize.

Seconds before the August 17, 1945, when Indonesia’s Independence was proclaimed by Sukarno-Hatta Dwitunggal, the story was quite gripping. Imagine, meeting of the Preparatory Committee of Indonesian Independence (PPKI) held on August 16, 1945 lunch at Pejambon, without the presence of Bung Karno and Bung Hatta. No one knows where it went Dwitunggal. Apparently, they kidnapped the youth group leaders to Rengasdengklok Sukarni, in the outskirts of Jakarta. New night, Bung Karno and Bung Hatta was allowed to return to Jakarta after the proclamation of independence, agreed to convey the Indonesian republic.

Midnight, August 16, 1945, at home Japanese Navy Commander, Maeda, on Jalan Imam Bonjol tek held meetings made the Proclamation of Independence.

And, next morning, Friday, August 17, 1945, 10:00 am, “the Proclamation of Indonesian Independence” reverberated throughout the world.

Bung Karno read the text with authority, so there are some who call vote Bung Karno radio blaring in the funnel. The flag raising ceremony followed by Red and White.

Thus “cross-warrior” Bung Karno, the son of the dawn was born in Surabaya, until Indonesia’s independence.

(Materials collected from various sources)

Filed under: Culture, EDUCATION, POLITICS, HISTORY, GENERAL



«Kirana Magazine Issue 45 (June 2010)

Sukarno atau Soekarno Lahir di Surabaya

Lintas Juang

Bung Karno

Catatan: Yousri Nur Raja Agam MH

Yousri Nur RA MH

BULAN Juni adalah bulannya “Bung Karno”. Se-abad yang lalu,  Bung Karno lahir di Bumi Pertiwi, Nusantara, tepatnya tanggal 6 Juni 1901.

Kemudian di bulan Juni pula Bung Karno pergi ke alam baka, menemui sang Khaliq, yakni tanggal 21 Juni 1970.

Bung Karno, yang sudah tiada, tetapi semangat juangnya “masih hidup” di dalam jiwa dan sanubari Rakyat Indonesia.

Di bawah ini, saya punya catat tentang Bung Karno, tentang “lintas juang Bung Karno”.  Saya sajikan tulisan ini, sebagai cermin masa depan bagi kami dan anak cucu kami.

Memang, tak dapat dipungkiri, bagaimanapun juga, ternyata Bung Karno tetap abadi. Nama Presiden Republik Indonesia yang pertama, Dr.Ir.H.Soekarno, selalu dikenang. Betapapun gonjang-ganjingnya bumi ini akibat gempa politik, namun sejarah tak pernah bohong. Sehingga benar apa yang dikatakannya sendiri: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tak melupakan jasa pahlawannya”.

Bung Karno adalah pahlawan. Dia adalah pejuang dan pembuat sejarah di negara yang kini sudah bebas merdeka. Terlepas dari belenggu penjajahan kolonial Belanda selama tiga setengah abad dan cengkeraman kekejaman balatentara Jepang selama tiga setengah tahun. Kita merdeka. Merdeka dari segala derita. Indonesia merdeka dan merdeka.

Bung Karno dan Bung Hatta atas nama Bangsa Indonesia, 17 Agustus 1945, memproklamasikan Kemerdekaan Republik Indonesia, di Jakarta.

Itu semua, bukan hadiah, tetapi perjuangan. Perjuangan para pemuda dan anak bangsa dari seluruh pelosok Nusantara. Bukan sekejap, tetapi sejak berabad-abad lamanya. Proses demi proses, akhirnya sampailah kita di alam merdeka, membangun dan menuju keadilan, kemakmuran yang merata. Semua itu, cita-cita kita semua. Termasuk, keinginan, kehendak dan cita-citamu Bung Karno.

Dr.Ir.H.Soekarno

Kau pimpin kami, rakyatmu sejak merdeka hingga akhirnya kau tiada. Kau bawa bangsa ini ke alam nyata, di mata dunia. Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika berdasarkan Pancasila, melepasmu ke alam baqa.

Lahir di Surabaya

Raden Sukemi Sostrodihardjo, seorang bapak dari Kota Blitar, Jawa Timur adalah manusia yang penuh disiplin. Ia ningrat dari garis keturunan Raja Kadiri. Laki-laki ini mempersunting gadis Bali, Idayu Nyoman Rai.

Ida Ayu Nyoman Rai

Wanita ini juga berdarah biru, keturunan raja di Singaraja Pulau Dewata. Dari perpaduan dua etnis, Jawa dan Bali ini, lahirlah seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Yang perempuan diberi nama Sukarmini dan adiknya  diberi nama: Kusno. Kusno lahir di Surabaya, Jawa Timur, tanggal 6 Juni 1901.

Pada akhir tahun 1899 Raden Sukemi pindah mengajar ke Surabaya. Ia mengajar di Sekolah Rendah (setingkat SD atau Sekolah Dasar) di Jalan Sulung Surabaya (Sekolah ini sekarang bernama SD Negeri Alun-alun Contong 1 Jalan Sulung Sekolahan). Raden Sukemi bersama isterinya, tinggal di kampung Pandean, kawasan Peneleh Surabaya. Tepatnya di JalanPandean IV/40 Surabaya. Kawasan ini, terletak di seberang suangai Kalimas, tidak jauh dari Sulung, tempat Sukemi mengajar.

Rumah di Jalan Pandean IV/40, Peneleh, Surabaya

Pada waktu itu, memang banyak masyarakat Bali yang bermukim di kawasan Peneleh. Konon pada masa lalu, dermaga Peneleh adalah tempat berlabuhnya kapal dan perahu layar dari Bali.

Memang, kawasan Peneleh sampai sekarang masih “terkesan” sebagai daerah persinggahan orang Bali. Di daerah ini banyak bermukim para perantau dari Bali. Di daerah ini pula hingga sekarang banyak berdiri hotel (di antaranya Hotel Bali dan Hotel Singaraja), penginapan dan travel untuk melayani masyarakat yang datang dari Bali. Bahkan, pasar buah di pinggir Kalimas di Jalan Peneleh menjadi pasar buah yang berasal dari Bali. Terutama salak dan jeruk Bali. Tetapi sejak pertengahan 2010, pasar buah ini “digusur” karena mempersempit lalulintas di Jalan Peneleh dan dipindah ke Jalan Koblen.

Sewaktu tinggal di rumah kontrakan Jalan Pandean IV/40, Peneleh, Surabaya itu, Ida Nyoman Rai sedang mengandung anak keduanya. Nah, di saat sang surya menanjak naik dari ufuk timur Surabaya, tanggal 6 Juni 1901, seorang bayi laki-laki lahir ke bumi. Raden Sukemi memberi nama anak kedua dari isterinya itu, Kusno. Namun, hingga sekarang belum ada yang memberi kepastian apakah Kusno lahir dengan pertolongan bidan atau dukun bayi.

Jadi, Sukarno atau Soekarno, lahir di Kota Surabaya sebagaimana ditulis pada buku-buku dan Ensiklopedia lama. Bukan lahir di Blitar, seperti yang ditulis beberapa orang di masa Orde Baru.

Kusno yang masih bayi itu, kemudian dibawa pindah oleh Raden Sukemi bersama isterinya ke Blitar.  Karena Sukemi ditugaskan mengajar di Kota Blitar. Di Kota Blitar inilah Kusno kecil hidup bersama keluarga besar Raden Sukemi.

Gunung Kelud Meletus

Saat pindah ke Kota Blitar itu, suasana di Blitar masih mencekam. Sebagian penduduk masih mengungsi akibat meletusnya Gunung Kelud. Dari kawahnya masih mengalirkan lava. Lereng gunung ini dilanda banjir bandang . Galodo itu meleluluhlantakkan segala tanaman dan menghanyutkan lumpur kawah sampai ke Sungai Kali Brantas. Kabupaten dan Kota Blitar, serta Kabupaten dan Kota Kediri, bahkan sampai ke Trenggalek dan Tulungagung langitnya tertutup awan abu.

Nah, akibatnya, Kusno yang masih bayi itu terkena dampaknya. Ia sakit dan sering sakit-sakitan. Ayahnya, Raden Sukemi yang beragama Islam dan mempercayai budaya Jawa, mempunyai firasat, bahwa salah memberikan nama kepada anaknya. Nama Kusno yang diberikan kepada anak laki-lakinya ini dianggap tidak cocok. Mungkin juga salah.

Agar terhindar dari sakit akibat salah memberi nama, sesuai dengan tradisi Orang Jawa, maka nama Kusno diganti menjadi: Sukarno. Jadi mirip dengan mbakyunya, Sukarmini.

Sukarno kecil kemudian menjadi besar. Disekolahkan, menjadi pandai dan cerdik. Ia berkembang terus menjadi dewasa. Setelah menjadi manusia dewasa yang cerdik-pandai, Sukarno mampu menggali ilmu dan menantang zaman. Ia menjadi pemimpin. Ia mampu memimpin dirinya menjadi manusia berakal dan berakhlak. Iapun dapat jatuh cinta. Sukarno kemudian  berkeluarga:  mempunyai isteri, kemudian punya anak dan ia menjadi bapak.

Kebesaran dirinya menjadikan ia bukan hanya bapak dari anak-anaknya, tetapi ia menjadi “Bapak Bangsa”. Ia menjadi pemimpin negara. Ia menjadi pemimpin bangsa. Bangsa kita Indonesia. Namanya berkibar dan terkenal. Ejaan yang U menjadi OE, mempengaruhi pula pada nama Sukarno. Akibatnya orang menulis namanya menjadi: Soekarno. Konon Bung Karno sendiri lebih senang kalau namanya ditulis Sukarno, bukan Soekarno.

Untung namanya berganti dari Kusno menjadi Sukarno. Mengapa? Sebab, di zaman perjuangan kemerdekaan tahun 1940-an, para pemuda saling menyapa dengan panggilan “bung”. Soekarno dipanggil Bung Karno. Mohammad Hatta, dipanggil Bung Hatta. Sutan Sahrir disapa sebagai Bung Sahrir. Pokoknya sesama pejuang yang muda-muda kala itu, kalau berjumpa selalu berteriak dengan tangan dikepalkan: Merdeka bung! Apa kabarnya Bung! Dan begitulah bung.

Enak dan tepat panggilan untuk Soekarno menjadi Bung Karno. Andaikan namanya tak diganti, tetap Kusno. Panggilannya tentu Bung Kusno. Bisa-bisa ada yang salah terima, dikira disuruh membungkus. Sebab, dalam Bahasa Jawa “bungkusno” itu artinya bungkuskan atau tolong dibungkus. Tetapi, kalau Bung Karno, salah-salah dengar bisa diarti “bongkarno” atau artinya bongkarlah. Nah, kalau ini tidak masalah. Artinya bagus. Begitu guyonan masa lalu tentang alihnama Bung Karno yang semula bernama Kusno menjadi Sukarno.

Adipati Ngawonggo, tokoh pewayangan yang dikenal sebagai kesatria yang berpegang teguh pada prinsip. Sampai seorang pujangga kenamaan, Mangkunegoro IV, melukiskan jiwa kesatria Ngawonggo agar menjadi teladan bagi kerabat Mangkunegaran. Ada bentuk tembang Dandanggula yang dirangkum dalam Tripama.

Nama asli Adipati Ngawonggo adalah Suryaputra dan juga dikenal dengan nama Basukarno putra Dewi Kunti. Waktu Dewi Kunti masih perawan, tetapi karena kesalahan menjalankan mantera pemberian Bathara Surya, hamillah dia. Betapa malunya anak raja hamil sebelum menikah. Harus dicarikan jalan ke luar. Tetapi, dewa selalu serba mungkin. Anak Kunti yang pertama tidak dilahirkan lewat rahim, namun melalui telinga. Maka dari itu, dinamakan Basu Karno. Ia kelak dikenal sebagai Adipati Karno yang berjiwa kesatria, pantang mundur dan berpegang pada prinsip.

Masyarakat Jawa masih dikuasai cerita-cerita pewayangan. Banyak yang hafal luar kepala cerita Mahabarata, Ramayana dan kisah-kisah carangan lainnya. Sebagai seorang priyayi, Raden Sukemi yang juga guru Sekolah Rendah (SD), sangat hafal cerita-cerita tentang kepahlawanan itu. Dia sangat terkesan dengan Adipati Karno. Itulah dasar yang akhirnya nama anaknya Kusno diubah menjadi Sukarno. Tentu harapannya, kelak anaknya akan memiliki jiwa kesatriat seperti Adipati karno. Disiplin kuat dan tidak mudah patah semangat.

Adipati Karno dalam pewayangan masih merupakan saudara Pandawa, Sama-sama anak Kunti, hanya dari ayah yang berbeda. Untuk melenyapkan aib kerajaan, begitu Basu Karno lahir, dibuang. Ditemukan oleh seorang kusir dan dibesarkan. Akhirnya ia diberi kedudukan oleh Kurawa. Waktu perang Barata Yudha, anatara Kurawa dengan Pandawa, maka Adipati karno memihak Kurawa, sebagai balas budi karena Kurawa yang mengakat derajatnya, meskipun ia tahu pihk Kurawa salah.

Pada perang Barata Yudha itu Adipati karno gugur di medan laga. Dengan gugurnya Adipati karno, Kurawa juga tertumpas. Pandawa kembali mendapatkan haknya untuk menduduki tahta di Kerajaan Astina.

Dari alur cerita pewayangan itu, apakah harapan raden Sukemi kemudian terwujud? Apakah ada kesamaan antara Adipati Karno dengan Bung Karno? Hanya ahli sejarah yang bisa menjawabnya.

Akal Bulus sang Ayah

Umur lima tahun, Sukarno masuk sekolah di SR (Sekolah Rendah) Bumiputera. Sebagai seorang guru, Raden Sukemi berusaha mencari jalan agar anaknya bisa melanjutkan sekolah ke sekolah Belanda. Untuk itulah pada saat Sukarno duduk di kelas lima, ayahnya berusaha memasukkan Sukarno ke kelas enam ELS (Eurpeesche Lagera School), sekolah untuk anak-anak Belanda. Karena dari sini, ayahnya ingin kelak Sukarno melanjutkan ke HBS (Hogere Burger School).

Prosedur resmi sulit dilakukan, akhirnya dengan jurus “akal bulus”, Raden Sukemi mencoba mengontak temannya. Lalu kasak-kusuk  ke sana kemari. Ternyata berhasil, dan jadilah Sukarno sebagai anak Indonesia yang luar biasa waktu itu masuk ke ELS.  Sukarno sekolah sampai tamat di ELS. Kemudian melanjutkan ke HBS di Surabaya. Waktu itu, baru ada 78 orang anak Indonesia yang sekolah di sana, yang lainnya anak-anak Belanda dan Eropa.

Keinginan ayahnya agar Sukarno meningkatkan kepandaiannya ternyata tidak sia-sia. Sukarno ternyata punya otak yang cerdas. Bahkan anak keluarga miskin yang waktu kecil sakit-sakitan itu, berhasil lulus dengan baik. Sukarno yang semasa sekolah di Surabaya mondok  atau kost di rumah HOS Cokroaminoto, melanjutkan sekolahnya ke Bandung. Di Kota Kembang itu, Sukarno masuk di Tehnische Hoge School (THS) atau Sekolah Tinggi teknik yang sekarang bernama ITB (Institut Teknologi Bandung). Di sinipun sedikit sekali kaum pribumi yang sekolah. Mereka pasti anak-anak petinggi atau ningrat di suatu daerah, selain anak-anak Belanda atau Eropa.

Pada masa sekolah di Surabaya, maupun ketika kuliah di Bandung, Sukarno senang membaca dan banyak menulis untuk suratkabar atau majalah. Ia selalu menulis nama samaran “Bima” untuk tiap tulisannya. Di antaranya ia menjadi penulis tetap di Majalah “Oetoesan Hindia” pimpinan HOS Cokroaminoto.

Nama Bima yang ada di majalah itu selalu menjadi perhatian Pemerintah Belanda. Ia pernah menulis dengan judul “Hancurkan segera Kapitalisme yang dibantu oleh budak Imperialisme. Insya Allah itu segera dapat dilaksanakan”. Tulisan itu benar-benar berani dan tajam. Cokroaminoto geleng-geleng kepala membaca tulisan itu. Ia bangga melihat adanya bakat terpendam dari anak muda Sukarno yang mondok di rumahnya itu. Anak itu terus dibina dan akhirnya terus berkembang.

Ternyata bukan hanya Cokroaminoto yang terkesan terhadap karyatulis Sukarno. Tokoh pergerakan, Dr.Douwes Dekker Setyabudi, juga memperhatikan bakat anak muda itu. Apalagi kemudian ia tahu, ternyata Sukarno juga cerdas dan pandai berpidato.

Ada satu pegangan yang menjadi prinsip Sukarno, yaitu pendapat seorang ahli filsafat yang theosofis, Swami Vivekananda. Pendapat yang selalu dihafal Sukarno adalah: “Janganlah membuat otakmu menjadi perpustakaan, tetapi pakailah pengetahuannmu secara aktif”.

Dengan dasar itu, Sukarno melakukan perbandingan antara apa yang dibaca dari buku dengan apa yang dia dengar dari pidato. Ada pula yang dilihatnya dari alam sekitar dan kehidupan masyarakat di sekelililingnya.

Selain menjadi guru, Cokroaminoto bagi Sukarno kemudian juga menjadi mertuanya. Utari yang waktu itu masih gadis remaja usia 16 tahun dinikahinya. Tak lama setelah itu, Sukarno melanjutkan sekolahnya ke Bandung dan mondok di rumah H.Sanusi  dengan isterinya Inggit Garnasih. Inggit kemudian cerai dengan H.Sanusi dan Sukarno juga cerai dengan Utari. Janda Inggit dengan duda Sukarno akhirnya menjalin perkawinan. (Cerita tentang percintaan Utari dan Inggit, baca pada bagian lain—Red).

Petani Itu Namanya Marhaen

Saat kuliah di Bandung, semangat kejuangan Sukarno semakin membara. Ia selalu tampil di panggung, kalau ada kegiatan berpidato. Terbukti ia kemudian terkenal sebagai jago pidato dan digelari “singa podium”. Ia juga berani menyampai kritik tajam kepada Pemerintah Kolonial Belanda yang berkuasa dan menjajah tanahair kita ini.

Sukarno berhasil meraih gelar insinyur tanggal 25 Mei 1926, Kemudian dua bulan kemudian, tepatnya 26 Juli 1926, ia bersama Ir.Anwari teman sekuliahnya dulu mendirikan Biro Teknik. Tetapi, akibat waktunya banyak digunakan untuk kegiatan politik, apalagi ia juga sudah mendirikan partai bernama PNI (Partai Nasional Indonesia).

Ada suatu cerita yang cukup unik, kemudian malah membawa berkah sendiri bagi kehidupan politik Sukarno. Dengan sepeda yang dimilikinya – waktu itu sepeda merupakan barang luks – ia sering keliling kota Bandung. Bahkan tidak jarang sampai ke luar kota. Tak dinyana saat mengayuh sepedanya menuju Bandung Selatan, ia terbawa angin sejuk ke pinggir sawah yang menghijau. Di sebuah hamparan ladang ia melihat seorang petani yang asyik bekerja.

Sukarno memperhatikan petani pribumi dengan pakaian yang compang camping itu. Ia sandarkan sepedanya di pinggir pematang, ia terus memperhatikan petani yang asyik mencangkul ladangnya. Saat Sukarno masih meneawang memperhatikan alam sekitar yang subur, laki-laki yang mencangkul itu menghentikan pekerjaannya. Ia pergi ke pematang dan duduk dengan santai. Diambilnya rokok dari kantongnya, dilinting dan dibakarnya. Kelihatan sekali ia menikmati asap tembakau itu.

Sukarno mendekat dan mengucapkan selamat siang, Betapa terkejutnya, petani itu melihat seorang anak muda berpakaian necis  mendekatinya di tengah sawah. Bung Karno ikut duduk di atas rumput sembari berdialog dengan petani itu.

Saat ditanya Bung Karno, ia menyebut namanya: Marhaen. Dari tanya jawab itu Bung karno tertarik akan keluguan petani itu. Ia adalah pemilik sawah itu, juga cangkul yang digunakannya. Tetapi, setelah ia panen, hasilnya dijual untuk keperluan isteri dan anak-anaknya. Namun, kenyataannya petani itu tetap saja miskin. Tidak hanya satu orang petani seperti Marhaen itu. Masih banyak lagi. Mungkin tidak hanya di bandung, Jawa Barat, tetapi juga di seluruh Jawa, Sumatera dan seluruh bumi Nusantara.

Saat kembali ke rumahnya di Bandung, sembari mengayuh sepeda timbul berbagai khayalan dan bayangan tentang rakyat, petani dan bangsa Indonesia di benak Sukarno. Bung Karno sangat yakin, kendati sebagai pemilik di Bumi Pertiwi ini, tidak sedikit kaum pribumi ini yang nasibnya sama dengan Marhaen yang ditemuinya di bandung Selatan itu. Banyak dan banyak Marhaen lainnya, kata otak kecil Sukarno membisikkan.

Sembari mengangguk-angguk dan senyum-senyum kecil, Bung karno mendapat inspirasi. Ia akan memperjuangkan kehidupan orang seperti Marhaen itu, Orang kecil pemilik bangsa ini, tetapi tetap saja miskin dan terjajah. Mereka harus diangkat semangat juang dan semangat kebangsaannya.  Dengan memperjuangkan orang yang melarat dan menderita itu, Sukarno memberi nama konsep naskah yang akan dikembangkannya kelak itu: Marhaenisme. Paham ini kemudian menjadi azas partai yang didirikannya.

Bahkan dengan Marhaenisme itu pula, Bung Karno kemudian menjadikan PNI menjadi partai yang besar dengan pengikut yang banyak. Kebesaran partainya mengangkat nama Bung karno menjadi besar. Dan, Pemerintah Kolonial Belanda akhirnya memperhitungkan potensi insinyur jurusan arsitek, tetapi mendapat gemblengan politik dari mertuanya Cokroaminito itu.

Sukarno akhirnya mengikuti jejak para pejuang di negara ini. Ia dijebloskan ke penjara Sukamiskin di Bandung Timur. Bersama dia juga ditahan Gatot Mangkuprojo, Supriadinata dan Maskun. Waktu itu, Bung Karno sudah menjadii suami Inggit Garnasih.  Janda muda inilah yang rajin mengunjungi Bung Karno ke penjara. Termasuk menyelundupkan buku-buku, yang akhirnya menjadi inspirasi Bung Karno untuk melakukan pembelaan di depan Landraad, yang mengadilinya. Naskah pembelaan yang ditulis Bung Karno di dalam sel penjara Sukamiskin beralaskan pispot yang dibalik sebagai meja itu, karena tidak ada meja. Pispot itu tidak pernah digunakan untuk buang air, tetapai dijadikan untuk menyimpan buku. Akhirnya naskah yang disusunnya di dalam sel itu menggemparkan dunia.

Bung Karno yang didakwa melakukan tindak pidana yang melanggar Pasal 169 KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana) dan menyalahi Pasal 161, 171 dan 153 de Haatzaai Artikelen. Pada pokoknya, Sukarno bersama teman-temannya di PNI dianggap menghasut rakyat dan akan melakukan pemerontakan tahun 1930. Pidato pembelaan Bung Karno di depan pengadilan itu dikenal dengan judul : “Indonesia Menggugat”.

Inilah tonggak sejarah perjuangan kaum pergerakan yang benar-benar mengganggu stabilitas keamanan dan pertahanan Pemerintah Belanda waktu itu. Sebab, “Indonesia Menggugat” itu tidak hanya sekedar pembelaan diri pribadi Sukarno dan teman-temannya, tetapi juga merupakan pembelaan bagi Bangsa Indonesia yang dijajah Pemerintahan Hindia Belanda.

Dalam penutup uraian pembelaannya Bung Karno memberi ceramah politik yang isinya antara lain:

“Memang, kami beridiri di hadapan Mahkamah Tuan-tuan ini bukanlah sebagai Sukarno, bukanlah sebagai Gatot Mangkuprojo, bukannya sebagai Maskun atau Supriadinata. Kami orang berdiri di sini ialah sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang berkeluh kesah itu, sebagai putera-putera Ibu Indonesia yang setia dan bakti kepadanya. Suara yang kami keluarkan di dalam gedung mahkamah sekarang ini, tidaklah tinggal di dalam tembok dan dinding-dinding saja. Suiara kami ini didengar dengarkan pula oleh rakyat yang kami abdi, mengumandang ke mana-mana, melintasi tanah datar dan gunung dan samodra, ke Kotaraja sampai Fakfak, ke Ulu Siau dekat Manado sampai ke Timor. Rakyat Indonesia yang mendengar suara kami ini adalah merasa mendengarkan suaranya sendiri.”

Panjang pidato dan ceramah politik yang dibaca Sukarno. Hakim yang mengadilinya hanya diam dan mendengar. Begitu pula jaksa dan para polisi Belanda yang menjaga. Sehingga tidak mengherankan banyak yang berdecak kagum atas pembelaan Bung Karno itu.

Ternyata bilik dan sel penjara bukan membuat Bung Karno dan para pejuang trauma. Justru di tempat itulah mereka ditempa dan menjadikan penjara sebagai kawah Candradimuka yang membuat mereka semakin gigih dan berani.

Setelah menjalani kurungan selama 330 hari atau dua setengah tahun di penjara Sukamiskin, Bandung itu, tanggal 31 Desember 1931 Bung Karno keluar dari penjara. Ada kejadian unik terjadi di penghujung tahun itu. Semua taksi, angkutan kota di Bandung yang waktu itu jumlahnya 50 buah semua dicarter masyarakat yang ingin menjemput Bung Karno di gerbang penjara. Tidak hanya itu, dokar-dokar pun berarak-arak menuju perbatasan kota Bandung ke arah Sukamiskin. Begitu juga para pemilik mobil pribadi, serta sepeda. Semuanya menuju ke arah Sukamiskin. Total hari itu tercatat 98 mobil, 320 dokar dan puluhan lagi sepeda.

Polisi kalangkabut. Akhirnya, di perbatasan Kota (Gemente) Bandung, semua distop. Hanya mobil yang ditumpangi Inggit dan keluarganya, serta Husni Thamrin yang datang dari Jakarta yang boleh mendekat ke pintu penjara.

Bung Karno kemudian menaiki mobil bersama Inggit Garnasih sekeluarga, di belakangnya mobil Husni Thamrin. Sesampainya di pintu gerbang kota, suara hiruk menyambut Bung Karno tak henti-hentinya. “Hidup Bung Karno, Hidup Bung Karno”, demikian pekik dan suara tak henti-hentinya seopanjang jalan dari Sukamiskin sampai masuk Kota bandung di halaman rumah Inggit Garnasih.

Perjuangan Dwitunggal

Perjuangan pemuda Indonesia semakin gigih. Angin-angin kemerdekaan semakin terbayang di depan mata. Dari hari ke hari sinar-sinar terang mulai dirasakan. Selain Soekarno yang berjuang di Bandung dengan PNI-nya, di Jakarta Mohammad Hatta, Syahrir, Husni Thamrin dan kawannya melakukan aksi terhadap Pemerintahan Belanda.

Nasib para pejuang itu bukannya enak. Namun penuh pengorbanan dan tantangan. Di tahun 1934, banyak pemimpin pergerakan yang ditangkap dan dibuang jauh dari Pulau jawa. Mereka diasingkan ke daerah yang masih asing. Ada yang dibuang ke Digul di Irian, tempat yang jauh dari hububngan dan bahkan di sinilah rawa-rawa tempat berkembangnya penyakit malaria. Moh.Hatta dan Syahrir, dibuang ke Banda Neira.  Tidak lama menyusul Soekarno dibuang ke Ende di Nusatenggara, kemudian dipindah ke Bengkulu di Sumatera.

Kehadiran Balatentara Jepang di Indonesi tahun 1942, membawa harapan bagi pejuang kemerdekaan. Apalagi, Jepang dengan semboyan “Asia Timur Raya Merdeka”, mengajak dan mengatur strategi untuk menghancurkan penjajahan Bangsa Eropa.

Jepang sudah lama mencatat nama-nama pejuang yang anti Belanda. Nama Sukarno, Hatta dan Syahrir, merupkan tiga nama yang selalu menjadi incaran Jepang. Bahkan pihak Jepang berusaha mengambil ke tiga orang ini jangan sampai lepas ke tangan Belanda. Sebab, saat Jepang masuk Indonesia, tidak sedikit tahanan politik dilarikan Belanda ke Australia.

Moh.Hatta bersama Syahrir diciduk Jepang dan diamankan di Sukabumi. Bung Karno yang sedang berada di Bukittinggi sudah dikontak. Dengan rombongan kecil setelah melewati jalan darat melalui Jambi, Bengkulu dan Palembang, Bung karno bersama keluarganya tiba di Jakarta dijemput oleh Anwar anak HOS Cokroaminoto, kakak mantan isteri Bung Karno, Utari.

Dua tokoh, Bung karno dan Bung Hatta, merupkan dua nama yang tak mungkin dipisahkan. Pihak Jepang selalu melakukan kesepakatan dan perundingan dengan kedua orang ini. Sehingga, sejak saat itu tercetuslah sebutan untuk kedua orang ini sebagai “dwitunggal”.

Dwitunggal Sukarno-Hatta melakukan pembicaraan terang-trengan untuk persiapan kemerdekaan bersama pihak Jepang. Di balik itu, Syahrir bersama kawan-kawannya melakukan gerakan bawah tanah, berusaha menggoyang kedudukan Jepang yang berkuasa.

Berdasarkan informasi “radio gelap” yang dipantau Syahrir dan Amir Sarifuddin bersama anak buahnya, diketahui kedudukan Jepang semakin terdesak oleh Tentara Sekutu. Dwitunggal yang memperoleh informasi A-1 (pasti) dari Syahrir dan Amir, maka diaturlah siasat untuk segera membentuk pemerintahan apabila Jepang benar-benar menyerah kepada Sekutu.

Kerjasama yang dilakukan Dwitunggal dengan pihak Jepang, terus dikembangkan untuk membentuk barisan pemuda. Digalanglah beberapa pemuda pejuang dan organisasi pejuang yang sudah ada sebelumnya. Bersama tokoh perjuangan lainnya seperti, Ki Hajar Dewantoro dan KH Mas Mansur, Dwitunggal Sukarno-Hatta mendirikan Putera (Pusat Tenaga Rakyat).

Jepang melihat kehadiran Putera itu sebagai kawan yang dapat membantu kepentingannya, sebaliknya bagi kaum pergerakan, yang kemudian dikenal dengan sebutan “Empat Serangkai”, yakni Sukarno, Hatta, Ki Hajar Dewantoro dan KH Mas Mansur, merupakan persiapan untuk menyambut datangnya fajar kemerdekaan.

Selain empat serangkai itu, ada pula kelompok pejuang lainnya. Mereka terdiri dari empat kelompok. Kelompok pertama pimpinan Amir Sarifuddin, kelompok kedua pimpinan Syahrir, kelompok ketiga kelompok mahasiswa, serta kelompok keempat kelompoknya Adam Malik bersama Sukarni, Chairul Saleh dan Pandui Kertawiguna. Di samping itu ada kelompok lain yang juga bergerak di bawah tanah yang dikendalikan Muhammad Natsir dan Sjafrudin Prawiranegara.

Perang Timur Raya terus berkobar. Tentara Jepang akhirnya melatih para pemuda Indonesia menjadi kader-kader pejuang untuk membantu mereka. Didirikan PETA (Pembela Tanah Air), salah satu pimpinannya Supriadi. Pro-kontra terjadi atas pembentukan Peta itu. Tetapi setelah Bung Karno meyakinkan, maka Peta berkembang. Bung Karno mengatakan, memang tujuan Jepang membentuk Peta, untuk kepentingannya, Namun, bagi kita, adalah sebagai lembaga pendidikan untuk pemuda pejuang. Jadi, yang masuk Peta harus dipilih dari para pemuda yang berjiwa patriot  dan cinta bangsa.

Akhirnya, memang terbukti, Tentara Dai Nippon semakin terdesak. Pada saat Jepang mulai loyo, semangat pemuda kita terus berkobar. Bangkit untuk menyongsong era merdeka.

Dwitunggal Sukarno-Hatta semakin berperan. Apalagi saat 1 April 1945, Tentara Amerika mendarat di Okinawa. Jepang yang berada di Indonesia berusaha merahasiakan detik-detik kekalahannya itu. Kegiatan Dwitunggal bersama para pemuda pejuang, akhirnya mendapat restu pengusa Jepang. Kaisar menyetujui dibentuknya Panitia Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan  Indonesia (PPUPKI). Anggotanya, selain Bung Karno dan Bung Hatta, adalah KRT Rajiman Wediodiningrat dan lain-lain.

Tidak hanya itu kemurahan hati yang diperlihatkan Jepang. Rakyat juga dibolehkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera Merah Putih di samping bendera Jepang.

Bung Karno dan Bung Hatta di tempat terpisah sama-sama membuat perencanaan dan konsep-konsep pemerintahan yang bakal lahir, Indonesia merdeka.

Jenderal Terauchi, Panglima Tertinggi Pasukan Jepang di Asia Tenggara, tanggal 8 Agustus 1945, mengundang Dwitunggal Sukarno-Hatta ke Saigon. Tiga hari dua tokoh bangsa ini berada di negeri penghasil beras ini. Sekembalinya ke Jakarta, Bung Karno benar-benar membawa angin segar. Dalam pidatonya tanggal 14 Agustus 1945, Bung karno mengatakan: “Sebelum jagung berbunga Indonesia sudah merdeka”.

Jepang akhirnya benar-benar “bertekuk lutut” kepada Tentara Sekutu setelah Bom Atom membumihanguskan Hiroshima dan Nagasaki.

Detik-detik menjelang 17 Agustus 1945, saat Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Dwitunggal Sukarno-Hatta, ceritanya cukup mencekam. Bayangkan, rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diselenggarakan tanggal 16 Agustus 1945 siang di Pejambon, tanpa kehadiran Bung Karno dan Bung Hatta. Tidak ada yang tahu kemana Dwitunggal itu pergi. Ternyata, mereka diculik kelompok pemuda pimpinan Sukarni ke Rengasdengklok, di pinggir Kota Jakarta. Baru malamnya, Bung Karno dan Bung Hatta diizinkan kembali ke Jakarta setelah menyanggupi untuk menyampaikan proklamasi kemerdekaan republik Indonesia.

Tengah malam, 16 Agustus 1945, di rumah Panglima Angkatan Laut Jepang, Maeda, di Jalan Imam Bonjol diselenggarakan rapat dibuatlah tek Proklamasi Kemerdekaan.

Dan, paginya, hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00, “Proklamasi Kemerdekaan Indonesia” berkumandang ke seluruh dunia.

Bung Karno membaca teks itu dengan penuh wibawa, sehingga ada yang menyebut suara Bung Karno menggelegar di corong radio. Disusul kemudian dengan pengibaran Bendera Merah Putih.

Demikian “lintas juang” Bung Karno, sang putera fajar kelahiran Surabaya, hingga Indonesia merdeka.

(bahan dihimpun dari berbagai sumber)

Sukarno-Hatta Temui Arek Suroboyo

Oleh: HM Yousri Nur Raja Agam
BERDASARKAN kesepakatan 26 Oktober 1945, Pemerintah Indonesia di Surabaya mengizinkan pihak Inggris mengunjungi kamp penampungan (interniran) Belanda dan tawanan Jepang di berbagai tempat, besoknya 27 Oktober 1945..

Namun para tokoh pemuda di Surabaya benar-benar kecewa dan marah atas sikap Tentara Sekutu. Sebab, siang itu ada pesawat terbang Inggris terbang di atas udara kota Surabaya. Dari pintu pesawat terbang itu disebarkan kertas berupa pamflet yang berisi ancaman bersifat ultimatum.
Selebaran itu berbunyi:
“Memerintahkan kepada seluruh rakyat, penduduk kota Surabaya dan Jawa Timur untuk menyerahkan kembali senjata dan peralatan perang Jepang kepada tentara Sekutu (Inggris). Semua orang yang memegang senjata dan yang tidak bersedia menyerahkan kepada Sekutu, akan ditembak di tempat. Batas waktu penyerahan, pukul 18.00 tanggal 28 Oktober 1945.”

Setelah membaca selebaran yang berupa ancaman itu, Drg.Mustopo bersama Residen Sudirman yang didampingi tokoh-tokoh Surabaya melakukan kontak dengan Brigjen Mallaby. Kemudian berlangsung pertemuan antara pukuk 12.00 hingga 15.00. Residen Sudirman mengingatkan kepada Mallaby, agar menghentikan penyebaran pamflet itu. Ternyata Mallaby sendiri terkejut dengan adanya selebaran itu. Ia mengatakan, bahwa selebaran itu mungkin dilakukan atas perintah atasannya dari Jakarta.

Kepada Mallaby diingatkan, bahwa isi selebaran itu tidak sesuai dengan isi persetujuan 26 Oktober 1945. Tetapi Mallaby kemudian menjawab, kalau itu merupakan perintah atasannya dari Jakarta, sebagai militer ia harus menaatinya.

Suhu politik di Surabaya memanas. Situasi makin mencekam. Sekutu mulai betindak sewenang-wenang. Mereka menangkapi rakyat yang mereka curigai. Akibatnya, pimpinan BKR, PRI, BPRI, Polisi dan Polisi Istimewa tersentak. Tindakan tentara Inggris telah melewati batas. Demi kehormatan bangsa Indonesia yang sudah merdeka, semua itu tidak bisa dibiarkan. “Kita harus bertindak!”, ujar para pimpinan pejuang di Surabaya.

Malamnya para pejuang Arek Suroboyo melakukan perundingan dan langkah yang akan dilakukan apabila sikap Inggris yang melanggar perjanjian itu.

Benar saja, besoknya, 28 Oktober 1945, pagi hari beberapa orang tentara Inggris menghadang kendaraan bermotor dan senjata yang dipegang para pemuda di jalanan. Pasukan Sekutu juga melakukan gerakan penyerbuan ke berbagai instansi vital. Di antaranta ke kantor Jawatan Kereta Api, kantor telepon dan telegrap, Rumah Sakit Darmo dan beberapa gedung kantor instansi vital lainnya.

Pukul 11.00 (siangnya), Mustopo datang ke markas PRI di Balai Pemuda. Ia memberitahu tentang sudah siapnya tentara Sekutu melucuti senjata secara paksa yang berada di tangan pemuda dan pejuang. Para pemuda yang berada di markas PRI benar-benar marah oleh sikap Sekutu yang mengingkari perjanjian yang sudah dibuat.

Siang itu juga para pimpinan pejuang melakukan konsolidasi. Polisi Istimewa sebagai kekuatan bersenjata dan terlatih juga langsung melakukan dengan rakyat yang sudah memegang senjata. Kontak antarkomponen pejuang berjalan terus.

Pimpinan BPRI Bung Tomo yang berada di markasnya juga sudah mendapat kontak dari PRI. Sorenya diadakan pertemuan dengan pimpinan drg.Mustopo. Disepakati, bahwa gerakan Sekutu (Inggris) “harus dilawan”.

Bersamaan dengan ini, polisi di bawah pimpinan Komandan Polisi Sahoed Prawirodirdjo dan Komandan Polisi Soekardi, seta Agen Polisi Kadam dengan menggunakan sepedamotor Zyspan Harley Davidson melakukan konsinyasi pasukan di Kantor Besar Polisi dan mendatangi beberapa asrama polisi.

Sekembalinya dari asrama polisi Kebalen, ketika melewati Jalan Rajawali pukul 17.00, yakni satu jam sebelum batas waktu ultimatum yang disebutkan dalam pamflet, tiga polisi ini dihadang. Sahoed, Soekardi dan Kadam digiring ke arah lapangan terbang di Tanjung Perak. Pihak Sekutu melepaskan tembakan, akibatnya mereka terluka tembak.

P impinan Palang Merah segera menyelamatkan ke tiga polisi itu. Petugas Palang Merah juga memberitahu kepada radio Pemberontak di Surabaya melalui telepon, bahwa ada tiga Polisi Istimewa ditembak Sekutu. Saat itu juga Bung Tomo melalui pemancar radio BPRI tiada henti memperingatkan dan memerintahkan seluruh rakyat Surabaya untuk mulai melakukan serangan terhadap tentara Inggris.

Dalam siaran radio yang berapi-api itu Bung Tomo menyebut nama ke tiga anggota Polisi Istimewa yang tertembak itu. “Mereka bertiga adalah korban kebrutalan Sekutu-Inggris”, ujar Bung Tomo.

Diperoleh pula laporan, di waktu yang sama juga terjadi insiden provokatif. Tentara Inggris menghentikan truk yang ditumpangi para pemuda, lalu mereka melucuti senjata yang mereka bawa. Agaknya Inggris memandang enteng para pemuda yang berasal dari TKR, PRI, BPRI, PI (Polisi Istimewa) dan rakyat pejuang lainnya.

Mayat Bergelimpangan

Malamnya situasi kota Surabaya benar-benar mencekam. Maut membayangi dari balik gedung, rumah dan dari gang-gang permukiman. Tidak sedikit yang terluka bahkan menemui ajalnya akibat terkena tembakan, ujung pisau, pedang, celurit, bambu runcing dan sangkur. Markas tentara Inggris diserbu rakyat tanpa memikirkan akibat yang fatal. Mayat bergelimpangan di daerah Darmo, Ketabang, Gubeng, sekitar gedung Internatio dan kawasan Tanjung Perak.

Selain pasukan TKR, para pemuda pejuang dan rakyat yang sudah memegang senjata rampasan, Komandan PI Surabaya Soetjipto Danoekoesoemo mengirim pasukannya yang dilengkapi senjata berat watermantel, tank dan panser. Surabaya benar-benar dilanda prahara. Api perang berkobar. Korban berjatuhan dari ke dua belah pihak, Inggris dan rakyat Surabaya.

Kendati mayat bergelimpangan akibat tembakan, semangat perjuangan makin membara. Rakyat tidak menghitung korban. Mati satu datang seribu. Bagai banteng terluka rakyat mengamuk.

Ben Anderson dalam bukunya “Revoloesi Pemoeda” terbitan Pustaka Sinar Harapan (1988), menyebutkan para pemuda yang melakukan penyerbuan ke berbagai markas pasukan Sekutu-Inggris itu mencapai 12 ribu orang. Pejuang Indonesia bertempur dengan fanatik tanpa mempedulikan jumlah korban yang jatuh. Pasukan Inggris meskipun mempunyai perlengkapan senjata berat dan tank-tank terancam oleh kehancuran.

Selain pos-pos pertahanan mereka terkepung, di daerah pelabuhan mereka harus mundur. Lapangan terbang Morokrembangan dapat direbut para pemuda pejuang. Beberapa gedung, seperti gedung Internatio, gedung BPM dan gedung Lindetives juga dikepung.

Soekarno-Hatta Datang

Dalam keadaan gawat, terdesak dan terkepung oleh rakyat pejuang itu, pimpinan pasukan Inggris di Surabaya minta bantuan “juru selamat”. Akhirnya, didatangkanlah Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta, didampingi Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin dari Jakarta. Ikut pula dalam rombongan itu, Mayor Jenderal Hawthorn.

Bung Karno, Bung Hatta, Amir Sjarifuddin dan Mayjen Hawthorn mendarat di bandara Morokrembangan pukul 11.45 pada tanggal 29 Oktober 1945. Pembesar bangsa Indonesia dan Sekutu ini juga mengikutkan beberapa wartawan ibukota dan wartawan asing. Mereka disambut para tokoh pejuang Surabaya, juga Brigjen Mallaby, Kolonel Pugh bersama perwira staf lainnya. Rombongan langsung menuju kantor gubernur Jatim dan diterima langsung oleh Gubernur Jatim, Suryo. Di kantor gubernur jatim ini dilangsungkan perundingan.

Dr.Roeslan Abdulgani dalam bukunya “100 Hari di Surabaya”, terbitan Yayasan Idayu, Jakarta (1975) menulis bahwa ada empat masalah pokok yang disimpulkan dalam perundingan itu. Perundingan berakhir pukul 19.30 malam itu. Hasil kesepakatan itu langsung diumumkan oleh Presiden Soekarno melalui Radio Surabaya. ***

Polemik Jalan Sukarno-Hatta dan Jalan Roeslan Abdulgani

Yousri Nur RA, MH

Yousri Nur RA, MH

 

SETELAH cukup lama penulis memperjuangkan agar nama Sukarno-Hatta diabadikan di Kota Surabaya, akhirnya di masa kepemimpinan Walikota H.Sunarto Sumoprawiro memperoleh sambutan yang sangat positif. Luar biasa, ternyata Cak Narto – panggilan akrab mantan Walikota Surabaya H.Sunarto Sumoprawiro – secara spontan langsung memberikan pernyataan setuju.

Oleh HM Yousri Nur Raja Agam

Usul secara lisan itu penulis sampaikan saat berada di rumah dinas walikota Surabaya di Jalan Walikota Mustajab 61 Surabaya. Pernyataan setuju Cak Narto itu disaksikan oleh Ketua Umum Yayasan Peduli Surabaya, M.Arifin Perdana dan H.Edi Sasmita yang bersama penulis sebagai tim penerbit buku “Cak Narto Peduli Wong Cilik” dan “Cak Narto Komandan para Walikota”.

Kepada Cak Narto, penulis mengungkapkan, pernah mengusulkan kepada Walikota sebelumnya, dr.H.Pornomo Kasidi, untuk mengganti Jalan Tanjung Perak Timur dan Jalan Tanjung Perak Barat sebagai Jalan Sukarno-Hatta. Di samping itu, penulis juga pernah menulis di Suratkabar Harian Sore “Surabaya Post”, 9 November 1987 tentang usulan itu. Tetapi, dengan alasan situasinya waktu itu belum memungkinkan, maka usul itupun tenggelam.

Setelah di Jakarta Bandara Internasional diberi nama Sukarno-Hatta, di Makassar pelabuhan lautnya diberi nama Sukarno-Hatta, dan di Bandung jalan lingkar selatan juga diberi nama Jalan Sukarno-Hatta, bahkan di beberapa kota juga banyak yang mengabadikan nama jalan dengan nama Sukarno-Hatta, maka penulis kembali menhadap walikota dr.H.Poernomo Kasidi dengan usul yang sama. Waktu itu, pak Pur – begitu walikota yang berprofesi dokter ini biasa disapa – menjanjikan akan memberi nama jalan lingkar timur Surabaya sebagai Jalan Sukarno-Hatta. Namun, hingga berakhir masa jabatan pak Pur, jalan lingkar timur bagian tengah yang disebut MERR (Midle East Ring Road) pun belum selesai. Bahkan, hingga akhir tahun 2006, MERR masih megalami hambatan pembebasan lahan di beberapa tempat.

 

Jalan Raya Darmo

Saking semangat dan antusiasnya untuk mengabadikan nama besar Sukarno-Hatta, Cak Narto waktu itu sertamerta menyebut, jalan yang paling tepat untuk mengabadikan nama Sukarno-Hatta di Surabaya adalah mengganti nama Jalan Raya Darmo sampai ke Jalan Embong Malang. Jadi, nama Jalan Raya Darmo, Jalan Urip Sumoharjo, Jalan Basuki Rachmat sampai Jalan Embong Malang diganti menjadi Jalan Sukarno-Hatta, katanya terbata-bata.

Tentang persetujuannya untuk segera mengabadikan nama Sukarno-Hatta sebagai nama jalan utama di Surabaya, perlu ditindaklanjuti. Besoknya Cak Narto sudah sesumbar dan membuat pernyataan di depan wartawan untuk mengganti nama Jalan Raya Darmo menjadi Jalan Sukarno-Hatta. Keinginan Cak Narto, waktu itu tahun 2001, mendapat dukungan Cak Roeslan Abdulgani, sesepuh Kota Surabaya.

Terjadi pro-kontra yang tajam sewaktu dilontarkan agar nama Sukarno-Hatta diabadikan sebagai pengganti nama Jalan Raya Darmo. Pro-kontra berkepanjangan menjadikan gagasan Cak Narto itu polemik di mediamassa. Sebagai “pembisik” dan yang menulis konsep siaran pers tentang rencana mengabadikan Jalan Sukarno-Hatta di Surabaya itu, penulis merasa punya beban dan tanggungjawab.

Prapen-Jemursari

Waktu itu, penulis minta Cak Narto bisa mundur selangkah, yakni mengarahkan yang layak diabadikan sebagai Jalan Sukarno-Hatta adalah mengganti nama Jalan Tanjung Perak Timur-Barat. Alternatif kedua adalah jalan kembar Jalan Prapen sampai Jalan Jemursari.

Ada beberapa alasan, mengapa Jalan Tanjung Perak Timur-Barat dan Jalan Prapen-Jemursari layak diganti dengan nama Sukarno Hatta.

Jalan Tanjung Perak Timur dengan Jalan Tanjung Perak Barat selama ini sudah menyatu. Khusus bagian Timur bernomor genap dan bagian barat nomor ganjil. Jalan Tanjung Perak Timur-Barat ini, adalah jalan menuju pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Pelabuhan samudra dan pelabuhan nusantara, sebagai gerbang laut Kota Surabaya dari seluruh penjuru dunia dan wilayah kepulauan nusantara.

Memang, inilah satu-satunya gerbang masuk Surabaya yang formal saat ini, yakni gerbang dari laut. Sebab, gerbang masuk kota Surabaya dari darat saat ini adalah Terminal Purabaya yang terletak di Bungurasih, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo. Begitu pula dengan gerbang masuk dari udara, bandaranya juga berada di wilayah Sidoarjo.

Ingat! Naskah proklamasi yang dibacakan 17 Agustus 1945 dan ditandatangani proklamator Sukarno-Hatta adalah gerbang Indonesia menuju kemerdekaan. Nah, bila dikaitkan, sangat tepat jika seandainya jalan menuju gerbang laut Tanjung Perak itu dijadikan Jalan Sukarno-Hatta.

Sedangkan alternatif kedua, adalah Jalan Jemursari sampai Jalan Prapen. Jalan kembar ini, di Surabaya saat ini termasuk jalan yang bagus. Namun, ada kerancuan dalam sistem penomoran jalan ini. Seharusnya sistem penomoran jalan adalah dari arah kota menuju ke luar kota. Untuk Jalan Raya Prapen, sudah benar penomorannya diawali dari perempatan Jalan Panjang Jiwo, Jalan Jagir Wonokromo dan Jalan Nginden (jembatan). Tetapi, untuk Jalan Jemursari, penomorannya dimulai dari arah pertigaan Jalan Jenderal Ahmad Yani di bundaran Dolog dengan nomor besar bertemu dengan nomor besar Jalan Prapen.

Sekarang, karena sudah menjadi satunya Jalan Raya Prapen dengan Jalan Raya Jemursari, timbul kerancuan. Masyarakat pencari alamat bisa bingung, karena tidak ada batas yang jelas antara Jalan Prapen dengan Jalan Jemursari.

Artinya, perlu ada penertiban dan kajiulang untuk sistem penomoran jalan di Jalan Jemursari dan Jalan Raya Prapen, bahkan juga di berbagai jalan lain di Kota Surabaya ini.

Bagaimanapun juga, Jalan Jemursari-Prapen merupakan alternatif yang perlu dipertimbangkan untuk diubah menjadi Jalan Sukarno-Hatta. Karena, jalan ini di samping panjang dan lebar, juga merupakan jalan penghubung dari pintu kota ke tengah kota. Model jalan ini mungkin sama dengan Jalan Sukarno-Hatta di Kota Malang, yakni jalan yang melintas dari Blimbing ke arah Dinoyo.

Cak Narto, masih bersikukuh bahwa yang layak itu adalah Jalan Raya Darmo. Namun, hingga ajal memanggil hayatnya, nama Sukarno-Hatta tetap belum diabadikan di Kota pahlawan Surabaya.

 

Jalan Roeslan Abdulgani

 Prof.Dr.Roeslan Abdulgani, yang sudah wafat 28 Juni 2005, adalah tokoh Surabaya, tokoh pergerakan peristiwa heroik 10 November 1945 di Surabaya. Ia adalah “pahlawan” yang sertamerta dan tanpa harus menunggu persetujuan “siapa-siapa” seharusnya nama besar Cak Roeslan – demikian sapaan akrab Roeslan Abdulgani secara nasional – segera diabadikan di Kota Surabaya. Semua orang tahu, bahwa Cak Roeslan adalah tokoh nasional yang dapat bekerjasama dengan semua rezim pemerintahan sepanjang zaman. Mulai dari pemerintahan perjuangan kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi, tidak dapat dipungkiri Cak Roeslan adalah “pahlawan yang punya nama besar”.

Cak Roeslan adalah kader politik Bung Karno. Di masa pemerintahan Orde Lama, Cak Roeslan duduk dalam berbagai kabinet yang berkuasa, bahkan menjadi duta besar RI dan penasehat presiden. Hampir dalam setiap kegiatan kenegaraan, Bung Karno tidak pernah meninggalkan Cal Roeslan.

Ketika Presiden Soeharto berkuasa selama 32 tahun di masa Orde Baru, Cak Roeslan adalah “suhu” atau gurubesar Pancasila yang menjadi simbul kekuasaan Presiden Soeharto. Cak Roeslan diberi kedudukan sebagai Kepala BP7, suatu badan yang mengelola penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang sangat popular di zaman Orde Baru.

Saat Presiden BJ Habibie berkuasa melanjutkan pemerintahan yang ditinggal Presiden Soeharto, Cak Roeslan menjadi penasehat presiden. Begitu pula di masa pemerintahan Gus Dur – KH Abdurrahman Wahid – di awal Reformasi. Bahkan, ketika Presiden Magawati Soekarnoputri menjadi kepala negara, Cak Roeslan dijadikan Mega sebagai “pengganti Bung Karno”. Kepada Cak Roeslan lah Mega bertanya untuk setiap langkah politik yang akan diayunkannya.

Setelah Susilo bambang Yudhoyono menduduki jabatan presiden bersama pasangannya Jusuf Kalla, peran Cak Roeslan tetap sebagai penasehat politik pemerintahan. Cak Roeslan menjadi “kamus politiknya” SBY-Kalla, khususnya menyangkut Pancasila. Sehingga, di masa SBY-Kalla ini, kegiatan yang bernafaskan pancasila kembali digiatkan.

Cak Roeslan kini telah tiada, dan tidak salah kalau Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan pangkat “Jenderal Kehormatan” dan menempatkan jasatnya di TMP (Taman Makam Pahlawan) Kalibata, Jakarta kepada Cak Roeslan.

Nah, seharusnya nyali para petinggi dan wakil rakyat di Surabaya ini bergetar tatkala Cak Roeslan dipanggil sang Khalik. Getar hati itu sepantasnya dibuktikan dengan segera mengabadikan nama besar Jenderal (Hor) Prof.Dr.H.Roeslan Abdulgani itu di kota kelahiran dan kota perjuangannya, Surabaya. Tetapi, sayang dan sangat sayang, kepergian cak Roeslan berlalu begitu saja, tanpa ada doa “resmi” dari kita.

Penulis telah melakukan berbagai pengamatan di jalan-jalan Surabaya. Maka, Surabaya tidak akan rugi untuk mengganti salah satu nama jalan yang ada di Surabaya ini dengan nama Cak Roeslan. Jalan raya yang cukup panjang, yang layak untuk mengabadikan nama Jenderal Prof.Dr.H.Roeslan Abdulgani adalah: Jalan kembar Undaan Kulon-Wetan. Di sekitar sini sudah ada beberapa nama pahlawan dan tokoh 10 November yang diabadikan, yakni mengganti nama-nama Jalan Taman Baskoro, Taman Akoso dan sebagainya. Kalau itu tidak mungkin, alternatifnya adalah: Jalan Embong Malang atau Jalan Tidar.

 

 

Miskin Nama Pahlawan

Sebenarnya, kita malu dan malu, kalau Kota Pahlawan ini “miskin” mengabadikan nama-nama Pahlawan, tokoh masyarakat dan “orang yang berjasa”. Sudah waktunya, petinggi Kota Surabaya bersama anggota DPRD-nya mengabadikan seluruh nama Pahlawan Nasional dan “orang yang berjasa” kepada bangsa dan Kota Surabaya.

Kita haru berani berbuat, walaupun terlambat. Nama-nama jalan di Surabaya perlu dikoreksi dan diubah, tidak hanya berdasar “selera pengusaha real estate”, tetapi berdasarkan keberanian Pemkot Surabaya untuk menetapkannya. Kita harus mulai sekarang, tidak perlu ditunda lagi.

Kalau sebagian masyarakat Surabaya keberatan mengubah nama-nama jalan di pusat kota di sekitar Jalan Tunjungan menjadi nama-nama pahlawan, karena keterkaitannya dengan sejarah Surabaya, maka alternatif harus dicari. Sekali lagi, nama-nama Pahlawan Nasional dan “orang yang berjasa” harus segera diabadikan di Kota Pahlawan Surabaya ini.

Mungkin, kawasan Dharmahusada Indah, Manyar Kertoarjo dan Kertajaya Indah dapat dijadikan sebagai “proyek percontohan”. Jalan Manyar Kertoarjo bersama jalan-jalan samping diganti menjadi jalan para pahlawan “perjuangan” nasional yang belum diabadikan di Surabaya. Sedangkan kawasan Dharmahusada Indah untuk pahlawan “pergerakan” nasional dan kawasan Kertajaya Indah dengan nama para pahlawan nasional “pembela” kemardekaan.

Kendati kawasan elite di Surabaya Timur itu teratur, namun sistem penomorannya masih belum seragam. Ada yang sudah berpatokan kepada jalan raya yang di kiri bernomor ganjil dan kanan bernomor genap, tetapi secara umum sistem blok masih dipertahankan. Nantinya, kalau nama jalan itu berdasarkan nama pahlwan, tentu sistem blok akan dengan sendirinya terlupakan.

Beranikah Pemkot Surabaya berhadapan dengan pengembang yang membangun kawasan itu, juga warganya. Sebab, bagaimanapun juga untuk mengubah nama jalan perlu pengorbanan dan ada yang menjadi korban. Pengertian korban di sini adalah, perubahan berbagai administrasi, mulai KTP, KK, surat-surat penting lainnya, termasuk berbagai surat yang berkaitan dengan hukum.

Perubahan nama jalan memang bukan yang tidak biasa dilakukan. Jadi, kalau ada kemauan dan kebersamaan dengan semua pihak, niscaya perubahan nama jalan dapat dilaksanakan tanpa hambatan. Memang, untuk itu perlu ada sosialisasi yang tidak akan menimbulkan gejolak, apalagi di era reformasi ini.

Apabila “proyek percontohan” ini dapat dilaksanakan, maka banyak nama jalan lain di Surabaya yang perlu diubah menjadi nama pahlawan dan “orang yang berjasa”. Misalnya kawasan sekitar Balaikota, nama jalannya diubah menjadi nama-nama mantan walikota, seperti nama Jalan Walikota Mustajab yang sebelumnya bernama Ondomohen. Jalan Sedap Malam, Jalan Jimerto, Jalan Pacar, Jalan Kecilung, Jalan Ngemplak dan Jalan Ambengan, bisa diganti.

Nama-nama mantan gubernur Jatim, selain Gubernur Suryo, juga banyak yang layak diabadikan. Misalnya Gubernur Samadikun. Kota Malang dan Sidoarjo, bahkan sudah mengabadikan nama Gubernur Sunandar Prijosoedarmo sebagai nama jalan. Nah, di Surabaya, nama-nama mantan gubernur Jatim dapat diabadikan mengganti nama jalan yang berawal embong, seperti Embong Trengguli, Embong Wungu, Embong Sawo, Embong Tanjung dan lain-lain.

Di sekitar Masjid Al Akbar, bisa diabadikan dengan nama-nama tokoh agama Islam dan juga Kristen. Sebab, di dekat Masjid Al Akbar itu juga berdiri gereja katholik. Kita punya nama besar, yang merupakan tokoh agama Islam, seperti: KH Hasjim Asjari, KH Wahid Hasjim, Prof.Dr.HAMKA, KH Muhammad Natsir, KH Fachruddin, dan masih banyak lagi tokoh agama tingkat nasional maupun regional.

Misalnya, jalan tembus dari Jalan A.Yani ke Masjid Al Akbar dari samping pusat perbelanjaan Alfa, yakni Jalan Menanggal diubah namanya menjadi KH.Hasjim Asjari. Pertimbangannya, jalan ini melewati gedung museum NU (Nahdlatul Ulama) dan gedung Asra Nawa. Sedangkan Jalan Gayung Kebonsari (Injoko) diubah menjadi Jalan Prof.Dr.HAMKA. Pertimbangannya, di jalan itu ada gedung Rumah Gadang, Minangkabau, tempat asal Buya Hamka. Seterusnya jalan-jalan di sekitar masjid Al Akbar, yakni Jalan Gayung Sari Barat hingga Jalan Letjen Haji Sudirman, diubah menjadi nama-nama para pahlawan dan tokoh agama lainnya.

Insya Allah, tidak ada yang keberatan. Dengan demikian perwujudan arti Kota Pahlawan, benar-benar dapat dibuktikan dan diwariskan kepada generasi yang akan datang. ***

 

Jalan Sukarno-Hatta di Surabaya

Oleh: HM Yousri Nur Raja Agam

Patung Proklamator Sukarno-Hatta KENDATI terlambat dan lama diabaikan,  akhirnya “ada” dan terwujud juga di Kota Pahlawan Surabaya.

DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kota Surabaya, melalui sidang Paripurna, 18 April 2010, mengesahkan diabadikannya jalan baru di Surabaya Timur menjadi Jalan Sukarno-Hatta.

Jalan ini adalah jalan baru sepanjang 4,6 kilometer yang terbentang dari pertigaan Jalan Kenjeran menuju ke arah selatan sampai ke perempatan Jalan Arief Rachman Hakim. Jalan ini, terus ke arah selatan menuju ke Bandara Juanda, Sidoarjo.

Selama ini, jalan baru yang belum bernama itu dikenal sebagai proyek “Jalan Lingkar Timur bagian Tengah” yang disingkat MERR (Midle East Ring Road).

Saya, sebagai penulis artikel ini, sangat bangga atas diwujudkannya Jalan Sukarno-Hatta di Surabaya. Maaf, karena saya juga sudah lama melakukan perjuangan untuk mengabadikan nama Dwitunggal Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia itu sebagai nama jalan di kota Surabaya.

Maka, tidak salah kiranya, kalau desakan yang pernah saya lakukan kepada tiga walikota Surabaya, yakni dr.H.Poernomo Kasidi, Dr.H.Sunarto Sumoprawiro dan terakhir Drs.H.Bambang Dwi Hartono. Baik secara lisan, tertulis, naupun melalui berbagai tulisan dan karangan di mediamassa.

Terlambat

Di bawah ini cuplikan tulisan penulis sebelumnya, secara tegas mengharap kepada npara petinggi Kota Surabaya untuk tidak usah malu. Lebih baik terlambat daripada tidak berbuat, apalagi melupakan sama sekali. Oleh sebab itu, tidak ada kata terlambat untuk mengabadikan nama Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia Sukarno-Hatta di Kota Pahlawan Surabaya.

Masyarakat Surabaya pada umumnya sangat sadar dan mempunyai keyakinan, bahwa nama besar Bung Karno mempunyai kaitan erat dengan Kota Surabaya ini. Selain sebagai tokoh dan pahlawan nasional, bagi Surabaya Sukarno adalah anak kandungnya.

Bung Karno, tidak hanya mengikuti pendidikan menengah di Surabaya. Justru yang lebih menarik, Surabaya juga kota kelahiran Bung Karno.

Selama ini, buku sejarah dan pelajaran di sekolah tidak pernah sama dalam mengungkap tempat kelahiran Bung Karno. Ada yang menyebut lahir di Blitar, namun ada juga yang menyatakan di Surabaya. Dalam penelusuran yang dilakukan, ternyata kecenderungan Bung Karno lahir di Surabaya semakin meyakinkan.

Sebagai seorang guru, ayah Bung Karno bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo akhir tahun 1800 mendapat tugas mengajar di Singaraja, Bali. Di Pulau Dewata itu, Soekemi menikah dengan gadis Bali bernama Ida Ayu Nyoman Rai Srimben. Awal tahun 1900, Soekemi dan isterinya yang sedang hamil pindah ke Surabaya.

Sukarno Lahir di Surabaya

Dari Singaraja Raden Sukemi bersama isterinya Ida Ayu Nyoman Rai Srimben berlayar ke Surabaya menumpang kapal. Setelah berlabuh di Tanjung Perak, dengan perahu mereka menyusuri Sungai Kalimas dan turun di dermaga Peneleh.

Memang waktu itu, angkutan laut lebih lancar dibandingkan dengan transportasi darat. Jalan raya Anyer-Panarukan, di awal abad ke 20 itu sedang dibangun oleh Gubernur Jenderal Daendels.

Dermaga Peneleh, di zaman itu cukup popular bagi pendatang dari Pulau Bali. Raden Soekemi tinggal di rumah kontrakan di perkampungan Peneleh, tepatnya di Jalan Pandean Gang IV No.40 Surabaya. Konon di rumah inilah Koesno dilahirkan. Koesno kemudian berganti nama menjadi Soekarno atau popular dengan sapaan Bung Karno.

Kepastian Bung Karno lahir di kawasan ini sangat dimungkinkan. Sebab, hingga sekarang di wilayah sekitar Pandean dan Peneleh masih banyak bermukim warga asal Bali. Bahkan, kampung Peneleh sampai disebut sebagai “Kampung Bali” di Kota Surabaya. Di sini sejak dulu ada babarapa hotel di antaranya: Hotel Bali, Hotel Singaraja dan agen-agen bus (travel), serta angkutan penumpang jurusan Bali. Dan di Peneleh ini ada pasar buah khusus, jeruk dan salak dari Bali yang pedagangnya 100 prosen berasal dari Bali.

Arek Suroboyo

Karena panggilan tugas mengajar di Blitar, Raden Sukemi bersama isterinya kembali ke Blitar. Sukarno kecil bersama orangtuanya berada di Blitar hingga dia duduk di Sekolah Dasar.

Sukarno melanjutkan ke SMP di Mojokerjo, di sana ia dititipkan oleh Raden Sukemi kepada seorang kawannya. Lulus SMP di Mojokerto, Bung Karno masuk SMA atau HBS (Hoogere Burger School) di Surabaya. Jadi, dalam riwayat hidup Sukarno, Surabaya tidak dapat dipisahkan sama sekali. Surabaya sudah menyatu dengan Sukarno dalam kaitan sejarah dan emosional.

Sejarah juga mencatat dengan rapi, bahwa saat di HBS Surabaya itu, Sukarno tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto di Jalan Peneleh Gang VII Nomor 29-31 Surabaya. Di rumah ini Sukarno juga mempunyai kesan yang amat luar biasa. Betapa tidak, Tjokroaminoto yang waktu itu menjadi pimpinan Partai Sarekat Islam adalah guru politik Bung Karno. Dalam kehidupan dan pribadi Bung Karno ada penjelmaan sikap teguh Pak Tjokroaminoto.

Bukan hanya itu ikatan Sukarno dengan keluarga Pak Tjokro di kampung Peneleh Surabaya. Ketika itu Sukarno, pacaran dengan Utari, anak Tjokroaminoto. Bahkan, saat Sukarno yang berusia 20 tahun lulus dari HBS dan akan melanjutkan sekolahnya di ITB (Institut Teknologi Bandung) yang waktu itu bernama Tehnische Hoge School (Sekolah Teknik Tinggi), Utari yang berusia 16 tahun dinikahinya. Utari adalah isteri pertama Bung Karno.

Cak Roeslan Abdulgani, yang lahir di kampung Plampitan Surabaya, tidak jauh dari rumah tempat kelahiran Sukarno, secara tegas menyebut Bung Karno adalah “Arek Suroboyo”. Sebab, kata sesepuh Arek Suroboyo yang kini telah tiada dan meninggal dunia 28 Juni 2005 di Jakarta itu, Bung Karno lahir dan besar di Surabaya.

Saat perjuangan kemerdekaan dan upaya mempertahankan kemerdekaan RI dari incaran sekutu untuk kembali menjajah, Sukarno tak pernah lupa dengan Surabaya. Dalam keadaan kemelut itu, Ir.Sukarno yang sudah menjadi Presiden sengaja datang bersama Wakil Presiden Dr.Moh Hatta ke Surabaya. Peran dwitunggal Sukarno-Hatta dalam menghadapi sekutu dan mengobarkan semangat Arek Suroboyo di tahun 1945 tidak akan pernah dilupakan.

Perhatian Bung Karno terhadap Surabaya, tidak pernah pupus, sampai-sampai Bung Karno sendiri yang merencanakan pembangunan Tugu Pahlawan, meletakkan batu pertama dengan selembar dokumen yang ditanam di bawahnya, lalu meresmikannya. Keheroikan perjuangan Arek Suroboyo yang menjadi puncak tanggal 10 November 1945 itu, ditetapkan oleh Bung Karno sebagai Hari Pahlawan dan Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

Sungguh luar biasa perhatian Bung Karno untuk Kota Surabaya. Tetapi, mengapa petinggi kota ini abai terhadap sang Proklamator?

Memang, sejarah kemudian membuktikan, peran proklamator Sukarno-Hatta di awal kemerdekaan Indonesia menjadi pendorong semangat persatuan bangsa. Nama kedua proklamator itu bagaikan tak bisa dipisahkan. Di samping sebagai dwitunggal, di antara keduanya ada keterikatan dalam hubungan keluarga. Keakraban Sukarno dengan Hatta menjadi perlambang persatuan antarsuku bangsa di Bumi Nusantara ini.

Begitu dekat dan akrabnya dua pimpinan nasional ini, di mana-mana kemudian nama ini menjadi satu, yakni Sukarno-Hatta. Di mana-mana di berbagai tempat dan kota di Indonesia, nama Sukarno-Hatta diadikan menjadi nama bandar udara (bandara), nama pelabuhan, nama gedung, nama taman dan terbanyak menjadi nama jalan.

Di Kota Surabaya, tempat yang paling “berkepentingan” dengan nama besar Sukarno-Hatta itu, nama mereka sama sekali tarabaikan.

Ironis! Kota Pahlawan yang abai mengabadikan nama-nama besar para pahlawannya.

Abadikan Sekarang

Tidak ada waktu yang paling tepat untuk mengabadikan nama Sukarno-Hatta, kalau tidak tahun ini juga. Mengapa? Karena tahun inilah kesempatan yang paling pas.

Kita semua tahu, Sukarno dan Hatta adalah dua nasionalis yang sangat kokoh dalam perjuangan. Semangat dan jiwa nasionalis yang ada pada diri dwitunggal proklamator ini juga dilandasi nilai-nilai luhur agama, yakni Islam.

Surabaya sekarang ini dikendalikan oleh para nasionalis yang agamis. Walikotanya, Drs.Bambang Dwi Hartono,MPd yang juga mantan ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kota Surabaya. Di balik itu, anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kota Surabaya, juga para nasionalis yang didukung partai bernuansa agama.

Wakil Walikota Surabaya, Drs.H.Arif Afandi, “pasti” mendukung. Hati kecilnya akan mengatakan, wah tepat kalau tahun ini nama Sukarno-Hatta diabadikan di Kota Pahlawan ini. Bagaimanapun Arif Afandi yang lahir di Blitar akan bangga dengan Bung Karno, tokoh asal Blitar yang ternyata belum sempat diabadikan namanya oleh para pendahulunya.

Oleh sebab itu, tahun ini adalah tahun yang paling tepat untuk mengabadikan nama Sukarno-Hatta di Surabaya. Kemungkinan dan kecenderungan untuk lancarnya segala persyaratan yang ditentukan untuk penetapan Peraturan Daerah (Perda) tidak perlu diragukan lagi. Di samping walikotanya yang “pasti” mendukung, juga mayoritas anggota DPRD Kota Surabaya “pasti” akan bersuara secara aklamasi menyatakan setuju.

Nah, menunggu apa lagi? Abadikan nama Sukarno-Hatta sekarang juga, tahun ini juga di Surabaya. Ada tiga tanggal bersejarah yang tepat dijadikan waktu untuk meresmikan nama Sukarno-Hatta di Surabaya. Pertama, bertepatan dengan Hari Jadi Surabaya, 31 Mei atau pada HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus dan alternatif terakhir, pada peringatan Hari Pahlawan 10 November tahun ini.