Nonton Film 2012 Tidak Haram

MUI Jangan Gampang
Mengeluarkan Fatwa Haram

Oleh: HM Yousri Nur Raja Agam

Dunia belum kiamat

SUARA menggelegar dari penelepon yang masuk ke HP saya, Senin, 16 November 2009 malam. ”Assalamu’alaikum Pak Haji Muhammad Yousri!”. Saya ini serius, ingin bertanya kepada anda! Anak saya bertanya, apakah betul MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan Fatwa Haram, kalau menonton Film 2012 yang sekarang ini diputar di berbagai bioskop?
Setahu saya kok tidak ada atau belum dengar itu Pak, jawab saya enteng. “Lho, berarti Pak Yousri belum tahu ya, kalau MUI Malang mengeluarkan fatwa haram terhadap Film 2012 itu. Nah, kalau sudah nonton, apakah otak, jiwa dan pikiran kita menjadi haram? Kalau haram berarti diri saya dan anak, serta keluarga saya yang sudah nonton film 2012 itu sudah bergelimang dosa ya Pak?”
Saya benar-benar, tidak segera memberi jawaban atas pertanyaan sahabat saya itu. Maaf, karena saat itu saya belum menonton Film 2012 yang dikatakan cerita tentang Kiamat itu.

Gunung Himalaya diterjang Tsunami


”Oooooo, tidak benar itu Mas, itu rumor orang iseng yang tidak mengerti halal-haram”, jawab saya spontan. Saya waktu itu juga heran, mengapa naluri saya sertamerta berontak menantang apa yang dikatakan ”Fatwa Haram MUI” itu. Terlontar, jawaban ”berani” dari bibir saya untuk mengobati cengkeraman yang saat itu menjadi derita sahabat saya bersama keluarganya.
Saya tidak ingin sahabat saya yang sudah menonton Film 2012 itu bersama keluarganya, tidak bisa tidur malam itu. Saya tidak ingin mereka mimpi berjamaah tentang kiamat, tentang haram menonton film itu.
Jawaban saya itu, ternyata melegakan perasaan sahabat saya itu. Berulangkali ia menyatakan terimakasih, setelah saya katakan tidak benar berita tentang Fatwa Haram MUI terhadap Film 2012 itu.
Alhamdulillah, akhirnya saya pun ”mencoba” barang yang diharamkan itu. Setelah ”tontonan yang dikatakan haram” itu saya nikmati dengan seksama selama 2 jam 37 menit. Maka saya mengeluarkan ”Fatwa Tandingan” melalui jejaring sosial pertemanan Facebook. Tegas bunyi Fatwa saya sebagai umat Muslim sejati mengatakan: ”MenontonFilm 2012 yang disutradarai Roland Emmerich dan dibintangi oleh John Cusack itu TIDAK HARAM”.
Kendati saya mengeluarkan Fatwa – ocehan – yang hanya berdasar keyakinan setelah menonton Film 2012 itu, saya lega. Tidak ada perasaan menyesal sama sekali. Di hati saya ada sekelumit rasa taqwa, bahwa sesungguhnya kalau ada intelektual Muslim yang beriman, dan dia juga sudah menyaksikan film berdurasi 157 menit atau 2 jam 37 menit itu, pasti akan sependapat dengan saya.

Ternyata Benar
Allah ternyata benar-benar memberi petunjuk bagi orang-orang waras dan sehat. Dari beberapa situs di internet, saya kemudian membaca, bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tak mengharamkan masyarakat menonton film 2012. MUI hanya menghimbau agar film kiamat itu dilihat hanya sebatas imajinasi saja.
“Itu kan hanya imajinasi saja, seolah-olah itulah gambaran hari kiamat dan di tahun itulah terjadinya kiamat, tapi kan tidak ada yang tahu secara pasti kapan kiamat itu akan datang,” ujarnya Ketua MUI KH. Ma’ruf Amin, saat di hubungi oleh INILAH.COM di Jakarta, Selasa (17/11).
Ia menilai, film 2012 yang bercerita soal ramalan suku Maya bahwa kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012 itu tidak menyesatkan pandangan orang terhadap hari kiamat. Menurutnya, umat Islam tidak akan tersesatkan jika telah mengetahui ajaran Islam dengan baik mengenai hari kiamat.
“Saya tidak melihat ada sesuatu yang bisa menyesatkan, selama itu dipandang hanya sebatas imajinasi dari pembuat film yang mencoba mengambarkan kiamat terjadi pada tahun 2012. Jadi silakan saja menonton film itu,” ujarnya.
Dalam ajaran Islam, sambungnya, sudah jelas terjadinya kiamat itu diawali dengan tanda-tanda dan peritiwa-peritiwa sebelumnya. Jadi bila, umat Islam sudah mengerti mengenai ajarannya maka tidak akan menyesatkan karena tidak cocok dengan apa yang difilm itu.
KH. Ma’ruf Amin juga mengatakan kiamat itu tidak ada yang bisa meramalkan kapan datangnya. Jangankan meramalkan kiamat, manusia saja tidak ada bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya besok, kecuali Allah SWT.
“Selain itu sekarang masih banyak orang baik, masih banyak orang beriman, nah salah satu tanda kiamatkan kalau mereka sudah tidak ada lagi, sehingga dunia sudah benar-benar jelek. Jadi tidak benar itu, itu hanya imajinasi film saja.” Pungkasnya

Fatwa haram
Fatwa yang mengharamkan menonton Film 2012 ternyata MUI Kabupaten Malang, Jawa Timur. Mereka mendengar bahwa Film 2012 itu berkisah tentang kiamat. Masih katanya, apa yang disajikan dalam film itu dinilai akan berdampak meresahkan masyarakat. MUI Malang juga menghimbau masyarakat agar tidak menonton film 2012 itu, apalagi bila mempercayai isinya.
Adaslah KH Mahmud Zubaidi selaku Ketua MUI Kabupaten Malang yang menyatakan, sebagai seorang Islam memang hendaknya percaya terhadap adanya hari kiamat, namun untuk menggambarkan secara nyata dan kepastian terjadinya, itu merupakan kuasa dari Yang Maha Kuasa.
“Mengenai kapan terjadinya hari kiamat merupakan kuasa dari Sang Pencipta. Jadi kita tidak boleh menentukan hari ataupun tahunnya. Jika hal itu terjadi maka bisa dikatakan menyesatkan,” kata KH Mahmud, seperti yang dikutip dari situs Republika.co.id, Selasa (17/10/09).
Ia menyayangkan, penayangan film yang berjudul 2012 dan menceritakan hari kiamat dengan penggambaran secara nyata yang kini banyak diputar di bioskop. Menurut dia, pengharaman MUI Malang ini merupakan respons terhadap isi cerita film tersebut yang terlalu jauh menceritakan waktu datangnya kiamat pada 2012. ”Film 2012 tidak pantas untuk ditayangkan sebab bisa memengaruhi pemikiran orang. Ini menyesatkan,” kata dia.

Suku Maya
Film 2012 tersebut diangkat dari penemuan arkeolog terkait peninggalan sistem kalender suku Maya kuno di selatan Meksiko, sekarang Guatemala. Berdasarkan penemuan itu, suku Maya memiliki sistem kalender berdasarkan perbintangan yang berakhir pada Desember 2012. Film 2012 menceritakan akan berakhirnya peradaban bumi berdasarkan sistem kalender suku Maya.
MUI Jawa Barat merespons biasa film 2012. Ketua MUI Jabar KH Hafidz Utsman mengaku prihatin dengan mencuatnya kontroversi mengenai film 2012. Menurut dia, tidak ada yang perlu diributkan dari film ini karena seperti karya seni komersial lainnya, 2012 bukanlah mengedepankan fakta, melainkan fiksi belaka. “Namanya film kan rekayasa, tontonan untuk hiburan yang ada skenarionya. Persoalan tema, itu bergantung kreativitas tim produksinya bagaimana supaya menarik, menjadi sensasi, dan layak jual,” ujar Hafidz.
Menanggapi antusiasme masyarakat dalam menonton film 2012, MUI pusat pun turun tangan. MUI membantah tanda-tanda kiamat seperti yang digambarkan film tersebut. “Kiamat (seperti yang digambarkan dalam Alquran) tidak sama seperti film 2012,” ungkap Sekretaris Umum MUI Ikhwan Syam..
Ikhwan Syam menjabarkan, kiamat seperti yang digambarkan di dalam Alquran adalah bumi digulung, langit runtuh, gunung diratakan. “Jadi, tidak cocok dengan yang di dalam film,” katanya. Sebagai orang yang beriman, kata Ikhwan, tidak masalah kapan menghadapi kiamat, apakah hari ini, besok, atau tiga hari ke depan, karena harus siap.
Nah, berdasarkan berbagai pendapat yang tersiar dalam pemberitaan medimassa elektronika dan multi media itu, saya ingin menyerukan kepada MUI sebagai panutan Umat Islam di Indonesia, jangalah terlalu gampang mengeluarkan Fatwa Haram itu. Contohnya, dulu ada yang menyatakan Facebook Haram. Padahal tidak sedikit ulama yang menggunakan jejaring sosial ini untuk menampung aspirasi umat Islam. Jadi janganlah semberono. Sungguh “memalukan!”, apalagi kalau kemudian fatwa itu dicabut atau dibatalkan.
Maaf, Wa’alaikumsalam!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: