Jalur Ganda Kereta Api di Surabaya Dari Bandara Juanda ke Pasar Turi

Laporan :Yousri Nur Raja Agam       Yousri Nur RA, MH

PEMERINTAH Provinsi Jawa Timur terus berupaya memperbaiki infrastruktur, khususnya sarana lalulintas. Salah satu proyek yang yang bakal digarap adalah pembangunan jalur ganda kereta api (double track elevated railway) dari bandar udara (bandara) Juanda sampai ke Stasiun Surabaya Kota (Semut) sampai ke Pasar Turi.

Gubernur Jatim Dr.H.Soekarwo menyatakan, tekad untuk menambah jalur lalulintas kereta api (KA) dari bandara Juanda ke pusat Kota Surabaya itu sebagai langkah alternatif menarik investasi di Jawa Timur.

Di samping itu, pembangunan jalur KA ini untuk mengimbangi pembangunan dua jalur lintasan pacu di bandara Juanda. Jadi, kata Soekarwo, dengan terus meningkatnya volume penerbangan ke  dan dari  ibukota Jatim ini, tentu memelukana kelancaran angkutan orag dan barang.

Dari hasil penelitian, keadaan lalulintas jalan raya di Surabaya, khususnya yang menghubungkan dari bandara ke pusat kota, maupun dari pelabuhan ke daerah industri, belum terjangkau dengan baik. Para investor mempertanyakan ini, kata Pakde Karwo – panggilan akrab Dr.H.Soekarwo. Nah, untuk menjawabnya, Pemprov Jatim harus berinisiatif memanfaatkan lahan yang memungkinkan dimanfaatkan.

Secara tersirat, sebenarnya Soekarwo menginginkan jalan tol tengah kota Surabaya segera diwujudkan. Apalagi, investor yang akan membangun sudah ada dan sudah siap. Tetapi, terhambat oleh kebijakan Pemerintah Kota Surabaya. “Walikotanya, dipengaruhi oleh orang-orang yang tidak setuju adanya jalan tol tengah kota itu”, ujarnya.

Biarlah, untuk sementara waktu, mungkin kalau pengelola kota ini berganti, kebijakannya berubah. Nah, kebetulan Pemprov Jatim melihat adanya alternatif, yakni memanfaatkan jalur jalan KA yang sudah ada dengan menambah satu lajur lagi. Jadi, nanti satu jalur bisa menjadi dua lajur. Satu arah khusus dari pusat kota ke Juanda dan satu lajur dari Juanda ke pusat kota. Artinya, dengan dua lajur (double track)  perjalanan KA akan lancar.

Proyek ini segera dilaksanakan dan siap dibangun dengan pamancangan tiang  pertamanya di Aloha Sidoarjo. Pembangunan jalur ganda ini, mendapat dukungan penuh dari PT Kereta Api Indonesia (KAI), ujar Soekarwo.

Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Sekprov Jatim, Ir.Hadi Prasetyo, usai rapat tertutup di kantor gubernur Jatim, Jalan Pahlawan Surabaya,  mengatakan, nantinya KA yang akan digunakan di double track elevated railway (DTER) itu adalah Keretaapi Listrik (KRL) atau Light Rain Transit.

Proses pembangunan sistem angkutan KA dari Juanda ke pusat kota Surabaya itu sudah disetujui Kementerian Perhubungan, PT Kereta Api, PT Angkasa Pura I, TNI Angkatan Laut (sebagai pemilik lahan bandara Juanda), serta Dinas Perhubungan dan LLAJ Provinsi Jatim, ujar Hadi Prasetyo.

Mantan Kepala Bapepprov (Badan Perencanaan Pembangunan Provinsi) Jatim ini menjelaskan, jalur KA ini dimulai dari bandara Juanda sampai Sawotratap (Aloha), Sidoarjo menggunakan sistem rel di darat. Kemudian dari kawasan Aloha, rel akan dibuat melayang sepanjang 22 kilometer menuju stasiun Gubeng, stasiun Surabaya Kota sampai ke stasiun Pasar Turi Surabaya.

Khusus yang ada di kawasan Bandara Juanda, pembangunan kereta api double track tak berupa elevated, melainkan bisa di bawah tanah (underground). Sebab, jika elevated, akan mengganggu radar yang ada di Bandara Juanda. “Kalau di bandara itu ada yang namanya daerah otorita, nanti jika kereta ini sudah masuk daerah otorita itu, kereta harus berada di bawah tanah. Karena jika tidak, akan mengganggu radar yang ada di bandara,” tukasnya.

Karena rel kereta apinya di bawah tanah, secara otomatis stasiunnya juga berada di bawah tanah juga. “Stasiun keretanya nanti berada di Bandara Juanda yang baru. Untuk tempatnya, kemungkinan berada di bawah tempat parkir. Sekarang masih dikaji terus kepastian lokasinya,” jelasnya.

Dia juga mengelak jika pembangunan kereta api elevated ini, ada kaitannya dengan rencana pembangunan tol tengah kota Surabaya. Sebab, munculnya rencana pembangunannya saat tol tengah kota sedang ramai dibicarakan dan menjadi polemik di masyarakat. \

“Ini tak ada kaitannya dengan tol tengah kota. Sebab rencana pembangunan kereta api elevated sudah lama. Kebetulan saja waktunya bersamaan, sebab anggarannya juga baru turun sekarang,” kilahnya.

Untuk biaya pembangunan DTER secara keseluruhan diperkirakan mencapai Rp 16 triliun. Guna mengatasi kekurangan anggaran, pihaknya menyatakan, akan melakukan pembicaraan dengan PT KAI. Misalnya, apakah pendanaan bisa dikerjasamakan seperti jalan tol supaya mempercepat pembangunannya.

“Kekurangan dana bisa ditawarkan ke investor seperti melepas obligasi ke pasar. Makanya pihak-pihak yang terkait kami dorong supaya mempercepat masalah perizinan lebih dulu, seperti IMB, HO dan yang lain,” tandasnya.

Kepala Dishub dan LLAJ Provinsi Jatim Wahid Wahyudi, mengakui persiapan pembangunan jalur KA dari bandara Juanda ke pusat Kota Surabaya sudah matang. Kordinasi antar instansi terkait juga berjalan lancar.

Wahid Wahyudi menyebut, proyek jalur ganda KA baru ini akan meniru jalur kereta di Jakarta, yaitu dari stasiun Manggarai ke bandara Soekarno Hatta di Cengkareng, bantrn. Pembangunannya sudah dirancang akan dimulai pertengahan Juni 2011 ini dan ditargetkan selesai pertengahan tahun 2013 mendatang. 

Ternyata benar, persiapan dan kordinasi antar instansi benar-benar sudah matang. Hal ini dibenarkan Humas PT KA Daop 8 Surabaya, Sri Winarto. Secara tegas ia  mengatakan, pihak PT.KAI mendukung rencana pembangunan jalur KA tengah kota yang mendapat kucuran dana awal dari Pemerintah Pusat melalui APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional) sebesar Rp 30 miliar.

Sri Winarto menyatakan, pembongkaran bangunan milik warga yang ada di lahan milik PT KA sisi timur Jalanl Ahmad Yani Surabaya, merupakan salah satu persiapan terkait rencana pembangunan lajur ganda rel KA itu.

Kendati demikian, Sri Winarto mengaku belum mendapatkan gambaran rinci dari proyek itu. Namun, program itu pernah disampaikan Menteri Perhubungan ke PT KA Daop 8, ujarnya.***

718 Tahun Usia Kota Surabaya

31 Mei 1293 -31 Mei 2011

 

Oleh; Yousri Nur Raja Agam MH *)

Yousri Nur RA MH

TAHUN 2011, Kota Surabaya memperingati Ulangtahun ke 718. Tepatnya pada tanggal 31 Mei 2011 ini. Peringatan Hari Jadi Kota Surabaya, dulu diperingati setiap tanggal 1 April. Sebab pada tanggal 1 April 1906 itulah Pemerintah Kota Surabaya terbentuk. Tetapi, mengapa sekarang warga kota Surabaya merayakan hari jadi Kota Pahlawan ini menjadi tanggal 31 Mei?

Seandainya, HUT Surabaya diperingati setiap tanggal 1 April, maka tahun 2011 ini Surabaya baru berusia 108 tahun. Namun dengan diubah menjadi tanggal 31 Mei, maka usianya menjadi tujuh abad lebih, yakni 718 tahun. Sebab, hari lahir Surabaya dianggap tanggal 31 Mei 1293.

Perubahan hari ulang tahun Kota Surabaya itu terjadi sejak tahun 1975. Artinya pada tahun 1974, Surabaya masih memperingati HUT ke 68 pada tanggal 1 April 1974. Setahun kemudian, pada tahun 1975, HUT itu berubah menjadi tanggal 31 Mei dan serta merta Surabaya menjadi sangat tua, yakni berusia 682 tahun waktu itu.

Nah, generasi muda dan generasi yang akan datang perlu mengetahu sejarah Kota Surabaya. Termasuk sejarah perubahan hari jadi Surabaya dari tanggal 1 April menjadi 31 Mei.

Beginilah kisahnya:

Berdirinya Pemerintahan Kota Surabaya, bersamaan dengan empat kota di Hindia Belanda atau Indonesia waktu sekarang. Ini adalah pembentukan pemerintahan kota yang pertama kali di Nusantara ini. Keempat kota itu adalah: Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar. Selanjut tiap tanggal 1 April berdiri kota-kota lain di Indonesia.

Pemerintahan Kota umumnya didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda di kota yang banyak ditinggali oleh warga Belanda. Demi keamanan dan terpisah dari Pemerintahan Kabupaten Surabaya yang dipimpin oleh bupati yang berasal dari warga pribumi. Sedangkan Pemerintah Kota dinyatakan bersifat otonom dan dipimpin oleh bangsa Belanda. Pemerintahan Kota disebut Gemeente.

Status yang diberikan kepada Surabaya oleh Pemerintahan Hindia Belanda tahun 1906 adalah “Zelfstaandige Stadsgemeente” atau Kotapraja dengan hak otonom.

Peringatan HUT (Hari Ulang Tahun) Kota Surabaya yang selalu dirayakan setiap tanggal 1 April itu dirasa kurang sreg atau kurang pas. Rasanya kurang pas kalau Surabaya yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Mojopahit, ternyata dalam peringatan HUT-nya masih “terlalu muda”.

Dalam berbagai legenda dan cerita lama, nama Surabaya tidak lepas dari sejarah berdirinya Karajaan Majapahit. Maka disepakatilah, bahwa hari lahir Surabaya hampir bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Majapahit.

Citra dan image sudah terbentuk, bahwa Surabaya sudah berusia “tua sekali”, yakni tujuh abad. Hari ulang tahunnya diperingati setiap tanggal 31 Mei, karena disepakati Surabaya ada dan berdiri sebagai sebuah permukiman resmi pada tanggal 31 Mei 1293.

Ceritanya dulu, beberapa orang yang peduli terhadap Surabaya, menyampaikan kepada Walikota Surabaya, R.Soekotjo (waktu itu), agar hari lahir atau hari jadi Surabaya, tidak berdasarkan pembentukan pemerintahan kota atau Gemeente, tetapi berdasarkan sejak kapan adanya nama Surabaya disebutkan sebagai suatu kawasan permukiman. Dengan demikian, usia Surabaya tidak terlalu muda, namun sudah sekian abad.

Para tokoh masyarakat, ahli sejarah, pengamat dan para wakil rakyat waktu itu bersepakat untuk melakukan pengkajian tentang sejarah Surabaya. Dari penelusuran sejarah yang diperoleh dari berbagai buku bacaan, prasasti dan temuan-temuan lainnya, termasuk cerita rakyat dan legenda, ditemukan beberapa tanggal yang mempunyai kaitan dengan sejarah Surabaya

Berdasarkan keputusan Walikota Surabaya tahun 1973, dibentuklah tim khusus untuk melakukan penelitian. Tim itu melakukan penelitian secara ilmiah, selama satu tahun lebih. Akhirnya, ada empat tanggal yang ditetapkan sebagai alternatif hari jadi Surabaya. Dari empat tanggal yang diusulkan itu, ditetapkan tiga tanggal yang cukup layak dan satu tanggal dinyatakan minderheids nota, oleh anggota tim.

Alternatif pertama yang diajukan tim adalah tanggal 31 Mei 1293. Disebutkan, bahwa pada tanggal itu, tentara Raden Wijaya dari Mojopahit memenangkan peperangan melawan tentara Tar-tar yang dikomandani Khu Bilai Khan dari Cina dan berhasil mengusirnya dari Hujunggaluh, nama desa di muara Kalimas.

Alternatif kedua, tanggal 11 September 1294, waktu itu Raden Wijaya menganugerahkan tanda jasa kepada Kepala Desa Kudadu dan seluruh rakyatnya atas jasa mereka membantu tentara Raden Wijaya mengusir tentara Tar-tar.

Alternatif ketiga, tanggal 7 Juli 1358, yaitu tanggal yang terdapat pada Prasasti Trowulan I yang menyebut untuk pertamakalinya nama Surabaya dipakai sebagai naditira pradeca sthaning anambangi (desa di pinggir sungai tempat penyeberangan).

Alternatif keempat adalah tanggal 3 November 1486, tanggal yang terdapat pada Prasasti Jiu yang menjelaskan, bahwa Adipati Surabaya untuk pertamakalinya melakukan pemerintahan di daerah ini.

Dari empat alternatif tentang hari yang bakal ditetapkan sebagai hari jadi Surabaya, dilakukan pengkajian menyangkut data sejarah, pertimbangan yang ideal dan nilai serta jiwa kepahlawanan sebagai ciri khas Surabaya. Walikota Surabaya, R.Soekotjo waktu itu mengusulkan kepada DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kota Surabaya untuk menetapkan Hari Jadi Surabaya tanggal 31 Mei 1293.

Dalam rapat-rapat DPRD Kota Surabaya, setelah melakukan kaji ulang dari berbagai aspek, DPRD Kota Surabaya dengan Surat Keputusan No.02/DPRD/Kep/75 tertanggal 6 Maret 1975, mengesahkan dan menetapkan Hari Jadi Surabaya tanggal 31 Mei 1293. Berdasarkan itu, Walikota Surabaya R.Soekotjo menindaklanjuti dengan mengeluarkan Surat Keputusan No.64/WK/75 tanggal 18 Maret 1975, yang menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai Hari Jadi Surabaya.

Dengan ditetapkannya tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi Surabaya, maka sejak tahun 1975, peringan HUT Surabaya berubah dari tanggal 1 April menjadi 31 Mei, hingga sekarang ini.

Diprotes Ahli Sejarah

Saat peringatan tujuh abad atau 700 tahun Berdiri Kerajaan Majapahit, penetapan Hari Jadi Surabaya, 31 Mei 1293, yang disebutkan sebagai hari bersejarah, yaitu saat kemenangan tentara Raden Wijaya mengusir tentara Tar Tar pimpinan Khu Bilai Khan, dan meninggalkan Hujunggaluh, ternyata “diprotes” ahli sejarah.

Dalam Buku 700 Tahun Majapahit, Suatu Bunga Rampai, tentang sejarah perkembangan Majapahit, halaman 53, oleh Dr.Riboet Darmosutopo dari Universitas Gadjah Mada, menegaskan, bahwa tentara Khu Bilai Khan, meninggalkan Jawa, yakni pantai Hujung-galuh adalah tanggal 19 April 1293 M. Pasukan Tar Tar itu dihancurkan oleh pasukan Raden Wijaya, dan sebagian lagi melarikan diri dan selamat sampai di Cina. (W.P.Groeneveldt, 1960: 20-24)

Setelah berhasil mengusir tentara Tar Tar, Raden Wiijaya melakukan persiapan mendirikan kerajaan baru, namanya Majapahit. Berdirinya Majapahit, ditandai dengan naik tahtanya Raden Wijaya tanggal 12 November 1293.

Nah, kalau tanggal kemenangan Raden Wijaya itu yang dijadikan patokan Hari Lahir atau Hari Jadi Surabaya, kata beberapa ahli sejarah dalam perdebatannya saat memperingati 700 tahun Majapahit itu, maka tanggal yang benar adalah 19 April 1293, bukan tanggal 31 Mei 1293.

Yang jelas, apapun dalilnya, sejak tahun 1975, Surabaya memperingati hari jadi tiap tanggal 31 Mei dan sebelumnya tiap tanggal 1 April. Tetapi, apakah mungkin diubah lagi? Ah, rasanya tidak perlu. Tua atau muda sebuah kota seperti Surabaya ini, yang penting penataan kota itu bermanfaat bagi warganya.

Raden Wijaya

Kelahiran Surabaya selalu dikaitkan dengan Raden Wijaya. Siapakah sebenarnya Raden Wijaya? Warga kota Surabaya dan pemerhati Surabaya, layak mengetahui tentang siapa sebenarnya Raden Wijaya.

Banyak sumber yang membicarakan tentang tokoh Raden Wijaya. Kitab-kitab kidung Pararaton, Nagarakertagama dan prasasti adalah sumber pokok yang mengungkap peranan Raden Wijaya sebagai pendiri Kerajaan Majapahit.

Raden Wijaya adalah anak Dyah Lembu Tal, cucu Mahisa Cempaka atau Narasinghamurti, buyut Mahisa Wongateleng, piut (canggah) dari Ken Arok-Ken Dedes.

Raden Wijaya mula-mula mengabdi kepada raja Kertanegara dan dipercaya memimpin prajurit Singasari. Maka tidak aneh ketika Singasari diserang Jayakatwang, Raden Wijaya diperintah untuk menghadapinya.

Ketika Singasari diduduki prajurit Kadiri, puteri-puteri Kertanegara yang akan dikawinkan dengan Raden Wijaya ditawan mereka. Dengan usaha yang gigih puteri yang tua berhasil direbut Raden Wijaya, meskipun Raden Wijaya beserta teman-temannya terus dikejar tentara Kadiri.

Prasasti Kudadu menyebutkan bahwa Raden Wijaya kemudian berunding dengan ke-12 prajuritnya yang setia. Mereka sepakat mengungsi ke Madura untuk berlindung kepada Arya Wiraraja. Raden Wijaya keluar dari hutan menuju Pandakan, dan karena Gajah Panggon sakit, ia ditinggal di rumah kepala desa Pandakan. Raden Wijaya dan prajuritnya menuju ke Datar dan malam harinya menyeberang dengan perahu ke Madura.

Setiba di Madura Raden Wijaya menghadap Arya Wiraraja. Dia dinasehati agar menghamba kepada Jayakatwang di Kadiri. Tujuan pokoknya ialah untuk melihat kekuatan kerajaan Kadiri. Ketika penghambaan telah diterima dan juga diberi kepercayaan oleh oleh Jayakatwang, Raden Wijaya dianjurkan Arya Wiraraja agar minta huta Terik untuk dijadikan kota. Arya Wiraraja membantu dengan mengerahkan orang Madura sebagai tenaga kerja.

Setelah Terik sudah jadi kota dan Raden Wijaya tinggal di sana, ia berhasrat menyerang Jayakatwang. Tetapi atas nasehat Arya Wiraraja, maksud Raden Wijaya itu ditangguhkan sambil menunggu datangnya tentara Tar Tar.

Tentara Tar Tar yang dipimpin Shih-pi, Ike Mase, dan Kau Hsing datang ke Jawa dengan maksud menghukum raja Kertanegara yang telah berani merusak muka Meng Chi utusan Kaisar Khubhilai Khan. Mereka tidak tahu kalau Kertanegara sudah wafat karena serangan Jayakatwang. Atas nasehat Arya Wiraraja, Raden Wijaya bersekutu dengan tentara Tar Tar untuk menghantam tentara Jayakatwang. (W.P.Groeneveldt, 1960: 20-30). Karena kalah Jayakatwang kemudian lari ke Junggaluh, tetapi ia tertangkap dan ditahan di Junggaluh ini. Di tempat tahanan, Jayakatwang menulis kidung Wukir Polaman. Disebutkan ia meninggal di Junggaluh pula.

Tentara Tar Tar  Kalah

Setelah Jayakatwang mangkat, Raden Wijaya melihat peluang untuk menghancurkan tentara Tar Tar. Dengan kekuatan dan taktik yang jitu, Raden Wijaya dengan pasukan setianya berhasil memporakporandakan tentara Tar Tar. Tentara Tar Tar kalah dan diusir dari Junggaluh. Sebagian di antara mereka meninggal dunia, sebagian lagi terpencar lari menyelamatkan diri menuju pelabuhan Tuban dan kembali ke Cina.

Peristiwa kekalahan tentara Tar Tar oleh pasukan Raden Wijaya terjadi tanggal 19 April 1293. Jadi bukan tanggal 31 Mei 1293 yang dijadikan sebagai rujukan untuk menetukan lahirnya Surabaya – belum disebut kota – karena pemerintahan waktu itu masih setingkat desa. Pararaton dan Nagarakertagama memberi data yang sama. Pararaton memberitakan bahwa Raden Wijaya naik takhta pada tahun 1216 C atau sama dengan 1294 M: …. samangka raden wijaya ajejeneng prabbu i caka rasa rupa dwi citangcu, 1216 …. (Par). Demikian pula Nagarakertagama memberitakan bahwa setelah Jayakatwang maninggal dunia, pada tahun 1216 C sama dengan 1294 AD, Raden Wijaya naik takhta di Majapahit bergelar Kertarajasa Jayawardhana. Berita tersebut dikutip sebagai berikut:
……. ri pjah nrpa jayakatwan awa tikang jagat alilan masa rupa rawi cakabda rika nararyya sira ratu siniwin pura ri majapahit tanuraga jayaripu tinlah nrpa krtarajasa jayawardhana nrpati (Nag..45:1)

Menurut kidung Harsawijaya, Raden Wijaya naik tahta tepat pada purneng kartika masa panca dasi 1215 C, yaitu tanggal 15 saat rembulan purnama bulan Kartika tahun 121 C yang bertepatan dengan 12 November 1293. Bardasarkan pada prasasti Kudadu, pada bulan Bhadrawapada 1216 C (1294 M), Raden Wijaya telah disebut Kartarajasa Jayawardhananamarajabhiseka. Dan di sini ditegaskan pula, bahwa tentara Khubilai Khan meninggalkan Jawa tanggal 19 April 1293 dan Raden Wijaya naik takhta tanggal 12 November 1293, serta Raden Wijaya yang sudah bergelar Kertarajasa Jayawardhana memberi anugerah sima kepada rama di Kudadu.

Menentukan Hari Jadi

Tidak mudah menentukan dan menetapkan tanggal 31 Mei 1293 Masehi sebagai Hari Jadi Surabaya. Sebagaimana bunyi pepatah, “tidak semudah membalik telapak tangan”. Artinya, untuk menentukan tanggal yang dianggap paling mendekati, melalui proses panjang dan cukup rumit.

Ceritanya, pada tahun 1970-an, peringatan Hari Jadi Kota Surabaya yang diperingati tiap tanggal 1 April dirasakan kurang mantap. Sebab, tanggal 1 April 1906 yang dijadikan pedoman peringatan hari jadi atau hari ulang tahun, adalah tanggal pembentukan Pemerintah Kota Surabaya yang di zaman Hindia Belanda disebut Gemeente Surabaya. Jadi, bukan tanggal lahir atau berdirinya Surabaya sebagai satu ranah permukiman. Secara tegas dinyatakan, bahwa 1 April 1906 adalah hari pembentukan Pemerintahan Kota Surabaya, bukan hari jadi atau berdirinya Surabaya. Artinya, Surabaya sudah ada sebelum Pemerintahan Kota Surabaya dibentuk.

Setelah menerima berbagai saran, usul dan bahkan kritik dari warga kota yang disampaikan secara langsung, melalui surat dan menulis opini di mediamassa, tentang Hari Jadi Surabaya, akhirnya Pemerintah Kota Surabaya, memutuskan membentuk sebuah tim.

Wiwiek Hidayat, wartawan senior yang waktu itu sebagai Kepala Kantor LKBN Antara Surabaya, mengatakan kepada penulis, saat peringatan HUT ke-67 Kota Surabaya tanggal 1 April 1973, ia secara pribadi mendesak Walikota Surabaya, R.Soekotjo, waktu itu untuk melakukan tinjauan ulang terhadap HUT Surabaya berdasarkan pembentunkan Gemeente Surabaya, 1 April 1906 itu. Untuk meyakinkan Pak Koco – panggilan akrab Walikota Surabaya R.Soekotjo – ujar ujar Wiwek Hidayat, ia juga membawa tulisan-tulisannya yang dimuat di Bulletin Antara dan juga dikutip di berbagai suratkabar dan majalah tentang sejarah Surabaya.

“Pak Koco benar-benar bersemangat. Beliau langsung mengajak saya bertemu di ruang kerjanya. Bahan-bahan berupa kliping berita dan tulisan tentang Sejarah Surabaya itu saya serahkan kepada Pak Koco. Setelah membaca sejenak, beliau memanggil ajudan agar menelepon beberapa orang stafnya. Hadir empat orang menyertai Pak Koco.Yang saya ingat waktu itu salah satu stafnya Pak Pakiding. Sebab dia yang diserahi untuk mempersiapkan pembentukan Tim Peneliti Sejarah Surabaya, khususnyya untuk menentukan tanggal yang pantas untuk Hari Jadi Kota Surabaya”, kata Wiwik Hidayat dalam suatu wawancara khusus dengan penulis.

Sehari setelah peringatan Hari Jadi atau HUT (Hari Ulang Tahun) ke-67 Kota Surabaya, yakni tanggal 2 April 1973, Walikota Kepala Daerah Kotamadya Surabaya R.Soekotjo mengeluarkan Surat Keputusan No.99/WK/73 tentang perlunya diadakan kaji ulang penentuan Hari Jadi Kota Surabaya.

Untuk melengkapi SK Walikota Surabaya No.99/WK/73 itu, Walikota Surabaya, R.Soekotjo kemudian menerbitkan SK No.109/WK/73 tanggal 10 April 1973 tentang Pembentukan Tim Penelitian Hari Jadi Kota Surabaya.

Salah satu alasan dibentuknya tim, diungkap pada dasar SK tersebut, yaitu: bahwa hari ulang tahun Kota Surabaya pada tanggal 1 April, adalah saat peresmiannya sebagai Gemeente Surabaya pada tanggal 1 April 1906 oleh Pemerintah Belanda. Tanggal hari ulang tahun Kota Surabaya tersebut di atas (1 April) selain berbau kolonial juga tidak sesuai dengan kenyataan, karena Surabaya sudah ada jauh sebelum tanggal tersebut, yaitu sudah ada pada zaman Pemerintah Prabu Kartanegara sekitar abad ke-13.

Begitu seriusnya Pak Koco – begitu walikota R.Soekotjo akrab disapa – menyambut harapan warga Kota Surabaya untuk melakukan kaji ulang hari jadi Surabaya, maka diundanglah para ahli sejarah, peneliti, pemerhati, wartawan, penulis dan tokoh masyarakat. Dari sekian banyak yang berkumpul, akhirnya disepakati menunjuk 13 orang yang dinilai layak dan patut, yaitu:
1. Prof.A.G.Pringgodigdo,SH – pensiunan Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya selaku Penasihat merangkap anggota.
2. Prof.Drs.S.Wojowasito – Guru besar IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Malang, sekarang menjadi UM (Universitas Negeri Malang) selaku Ketua I merangkap anggota.
3. Prof.Koentjoro Poerbopranoto,SH – Guru besar Fakultas Hukum Unair Surabaya selaku Ketua II merangkap anggota.
4. Drs.Prayoga – Kepala Pembinaan Museum Jawa Timur selaku Ketua III merangkap anggota.
5. Kolonel Laut Dr.Sugiyarto – Kepala Staf Kekaryaan Daerah Angkatan Laut 4 Surabaya sebagai anggota.
6. Drs.M.D.Pakiding – Staf Pemerintah Kotamadya Surabaya selaku Sekretaris merangkap anggota.
7. Drs.Issatrijadi – Dosen Fakultas Sosial IKIP Surabaya (sekarang bernama Universitas Negeri Surabaya disingkat Unesa) selaku anggota.
8. Drs.Heru Soekadri K – Dosen Fakultas Sosial IKIP Surabaya. Selaku anggota.
9. Banoe Iskandar – Pensiunan Kepala Inspeksi Kebudayaan Jawa Timur selaku anggota.
10. Wiwiek Hidayat – Pimpinan LKBN Antara Cabang Surabaya dan Anggota Dewan Kesenian Surabaya (DKS) selaku anggota.
11. Tajib Ermadi – Redaksi Majalah Jayabaya selaku anggota.
12. Soenarto Timoer – selaku anggota.
13. Soeroso – Pensiunan Komisaris Polisi selaku anggota.

Setelah tim terbentuk, maka diselenggarakan rapat-rapat untuk menentukan pembagian tugas dan kegiatan masing-masing anggota tim. Untuk menghimpun data faktual, relevan dan valid, maka tim membentuk tiga Panitia Ad-Hoc.

Proses dan Historis Surabaya, penelitiannya diketuai oleh Prof.Drs.Suwoyo Woyowasito. Hal yang berhubungan dengan Mitos Surabaya, diketuai oleh Drs.Heru Soekadri K. Untuk menghimpun data tentang lokasi Surabaya, diketuai oleh Wiwiek Hidayat.

Ketiga panitia Ad-Hok melakukan penelitian yang mendalam, Metoda penelitian sebagaimana lazimnya, dilakukan secara ilmiah, yaitu library research (riset perpustakaan), field research (riset lapangan) dan intervieuw (wawancara).

Tim peneliti bertugas merumuskan tanggal yang tepat berdasarkan sejarah tentang hari jadi Surabaya. Jadwal yang ditetapkan untuk anggota tim adalah tanggal 16 April 1973 hingga 16 September 1973.

Tiga Alternatif

Dari berbagai sumber penelitian yang dilakukan secara cermat selama lima bulan itu, tim sampai pada suatu kesimpulan. Ada tiga tanggal yang ditetapkan sebagai alternatif. Ke tiga tanggal itu diajukan kepada Walikota Surabaya untuk ditetapkan sebagai Hari Jadi Surabaya. Ke tiga tanggal tersebut mempunyai peristiwa dan riwayat sendiri-sendiri, tetapi satu sama lain ada pertautan dan kaitannya. Selain itu diajukan pula satu “minderheids nota” yang berisi pendapatdari Soeroso.

Tanggal-tanggal yang diajukan itu adalah:

1. Tanggal 31 Mei 1293 Masehi, Yaitu: saat kemenangan tentara Raden Wijaya atas tentara Tartar. (berdasarkan laporan penelitian ilmiah Drs.Heru Soekadri, Kol.Laut.Dr.Sugiyarto dan Wiwiek Hidayat).

2. Tanggal 11 September 1294 Masehi, Yaitu saat penganugerahan tanda jasa kepada kepala desa dan rakyat desa Kudadu atas jasanya menyelamatkan Raden Wijaya.

3. Tanggal 7 Juli 1358 Masehi, Yaitu suatu tanggal pada Prasasti Trowulan, di mana disebutkan untuk pertamakalinya nama Surabaya dengan tulisan SURABAYA (menurut transkripsi dari huruf Jawa kuno ke huruf Latin). Surabaya dinyatakan selaku naditira pradeca sebagai salah satu tempat penambangan ke pulau-pulau Nusantara atau pelabuhan intersuler. (laporan ilmiah itu disampikan oleh Issatrijadi dan Soenarto Timoer).

4. Tanggal 3 November 1486 Masehi, Yaitu tanggal pada Prasasti Jiu di mana Adipati Surabaya menuirut pakem melakukan pemerintahan (Laporan dari Soeroso).

Laporan Soeroso ini diajukan oleh tim sebagai “minderheids nota”, karena dianggap muda. Tim Peneliti Hari Jadi Kota Surabaya dengan seberkas data menyampaikan laporan hasil kerja mereka kepada Walikota Surabaya. Dengan surat resmi No.36/II/73/TP.HJKS tanggal 27 September 1973 tim mengharapkan Pemerintah Kota Surabaya menetapkan satu di antara tiga alternatif tanggal di atas, karena yang satu sudah dinyatakan “minderheids nota”.

Tim melampirkan tujuh makalah (kertas kerja) anggota tim dengan judul masing-masing, yaitu:

1. “Sekitar Legende Mythos Surabaya” disusun oleh Drs.M.D.Pakiding.

2. “Tentang hal Hari Jadi Kota Surabaya” disusun oleh Prof.Drs.S.Wojowasito.

3. “Usia Surabaya” disusun oleh Prof.Koentjoro Poerbopranoto,SH.

4. “Lokasi Surabaya di Waktu Kapan” disususn oleh Wiwiek Hidayat.

5. “Surabaya, suatu pendekatan dalam meneliti Hari Jadi Surabaya” disusun oleh Drs.Issatrijadi.

6. “Dari Hujung Galuh ke Surabaya” disusun oleh Heru Soekadri.

7. “Surabaya, manifestasi ehidupan rakyat Kahuripan, Jawa Timur” disusun oleh Kolonel Laut.Dr.Sugiyarto.

Setelah menerima laporan dari panitia bersama lampiran penelitiannya, maka Walikota Surabaya, R.Soekotjo dengan suratnya No.0.104/20 tanggal 27 Desember 1973, mengusulkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat daerah (DPRD) Kota Surabaya, dengan tidak mengurangi kebebasan mengeluarkan pendapat dari pihak legislatif, agar dapatnya dipilih tanggal 31 Mei 1293 Masehi sebagai Hari Jadi Kota Surabaya, sebagai pengganti 1 April 1906, dengan alasan: Kemenangan Raden Wijaya atas tentara Tartar (tentara kolonial Khu Bi Lai Khan) merupakan suatu kebanggaan (pride) rakyat Surabaya khusunya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Karena apabila dihubungkan dengan peristiwa 10 November 1945, membuktikan kepada kita bahwa sejak dari dahulu bangsa Indonesia bertekad untuk tidak mau dijajah.

Sulit Ditentukan DPRD Kota Surabaya yang menerima usulan perubahan peringatan Hari Jadi Surabaya dari tanggal 1 April 1906 menjadi tanggal 31 Mei 1293, tidak sertamerta menyetujui. Pimpinan DPRD menugaskan Komisi A untuk melakukan kajian dan pembahasan. Beberapa kali diselenggarakan rapat khusus untuk menentukan tanggal yang dapat ditetapkan atau dipilih.

Pada rapat tanggal 17 Februari 1974, Komisi A membuat kesimpulan yang isinya: “Sulit ditentukan tangal mana dari tiga alternatif tanggal yang diajukan oleh tim untuk ditetapkan sebagai tanggal Hari Jadi Kota Surabaya. Sebab ke tiga tanggal tersebut sama-sama merupakan hasil penemuan ilmiah”. Masalah tersebut dikembalikan kepada Pimpinan DPRD Surabaya, dengan permintaan agar diadakan suatu pertemuan kembali dengan eks tim Peneliti Hari Jadi Kota Surabaya. Di mana unsur Pimpinan Komisi yang lain diikutsertakan. Di bawah pimpinan Ketua DPRD Kotamadya Surabaya, Komisi A dan unsur pimpinan lainnya, pada tanggal 28 Maret 1974, diadakan pertemuan dengan eks Tim Peneliti Hari jadi Kota Surabaya. Pertemuan itu tidak banyak menghasilkan kemajuan. Komisi A tetap pada pendirian semula dan menyerahkan kembali masalahnya kepada Pimpinan DPRD Surabaya. Ada yang menarik di tahun 1974 ini, peringatan HUT ke-67 Kota Surabaya tanggal 1 April 1974 tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya.

Rencana perubahan Hari Jadi Surabaya sudah mempengaruhi opini masyarakat warga kota. Apalagi waktu itu, tulisan tentang sejarah dan hari jadi Surabaya banyak muncul di media massa. Secara kebetulan walikota Surabaya juga baru diganti. Masa jabatan R.Soekotjo sudah berakhir. Sejak tanggal 23 Januari 1974, tampuk pimpinan kota Surabaya sebagai Walikotamadya Surabaya beralih kepada Kolonel R.Soeparno. Kendati demikian, DPRD Surabaya tidak berhenti membahas masalah kaji ulang penetuan hari Jadi Kota Surabaya. Sesuai dengan jenjang pembahasan berikutnya, permasalahan itu diajukan oleh Pimpinan dalam forum Panmus (Panitia Musyawarah) yang diadakan tanggal 29 Mei 1974. Kesimpulan rapat Panmus disampaikan dengan surat Pimpinan DPRD Surabaya No.84/DPRD/SK tanggal 26 Juni 1974 yang ditujukan kepada Walikota Surabaya.

Walikotamadya Surabaya R.Soeparno (walikota Surabaya R.Soeparno menggantikan jabatan R.Soekotjo, terhitung sejak 23 Januari 1974) tidak langsung membalas surat dari DPRD Surabaya itu. Baru tiga bulan kemudian dengan surat No.01000/23 tanggal 25 September 1974, Walikotamadya Surabaya, R.Soeparno, memberikan penegasan bahwa, kembali mengusulkan dapat kiranya tangal 31 Mei 1293 untuk ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Surabaya. Alasannya sama dengan surat yang dikirim ke DPRD tanggal 27 Desember 1973. Tidak cukup dengan surat, Walikotamadya Surabaya Drs.R. Soeparno kemudian menyampaikan penjelasan lisan dalam forum Rapat Peleno Terbuka DPRD Surabaya tanggal 7 November 1974.

Dari Rapat Pleno DPRD Surabaya itu, kemudian dibentuk Pansus (Panitia Khusus) untuk mengadakan penilaian terhadap usul yang disampaikan oleh Walikota Surabayas tersebut. Anggota Pansus DPRD Kotamadya Surabaya yang membahas usulan tentang penetapan Hari jadi Kota Surabaya itu sebanyak 15 orang dengan ketua Eddy Sutrisno dan wakil ketua H.A.Zakky Ghoefron. Anggotanya adalah: Sutrisno BA, Hasan Ibrahim SH, Muchsin SH, Munahir, Bambang Rudjito, J.Sugiyanto, Anas Thohir Syamsudin, R.Sumono Hs, Drs.J.Karmeni, Ahadin Mintarum, Umar Buang, Kaptiyono, Drs.Nana Sumantri.

Delapan kali dilakukan rapat untuk membahas secara khusus untuk menetapkan Hari Jadi Surabaya itu. Secara berturut-turut tanggal 8, 9, 13, 16, 18 dan 30 Januari 1975, serta dilanjutkan tanggal 3 dan 10 Februari 1975. Rapat-rapat yang dipimpin langsung oleh Ketua DPRD DPRD Surabaya itu selalu mencapai quorum, sesuai tatatertib, sehingga dinyatakan sah. Tidak begitu mudah DPRD Surabaya menyetujui usul Walikotamadya Surabaya agar menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi Surabaya. Pansus DPRD Surabaya itu lebih dahulu menetapkan pedoman yang dipakai.

Diawali dengan kalimat: “Mencari Hari Jadi Kota Surabaya dengan jiwa kepahlawanan yang diridloi Tuhan Yang Maha Esa menuju kerukunan dan pembangunan nasional”, bahwasanya yang hendak dicapai adalah: Hari Jadi sebuah kota yang idiil merupakan Kota Pahlawan. Hari jadi sebuah kota yang cukup memenuhi ketentuan ketatanegaraan sesuai dengan kondisi pada saat ini.\. Terhadap masalah ini Panitia telah menetapkan bahwa materi yang menjadi pokok pembahasan adalah “Penjelasan Walikotamadya Kepala daerah Tingkat II Surabaya pada Sidang Pleno DPRD Surabaya tanggal 7 November 1974.

Pembahasan masih terus berlanjut. Bahan-bahan kajian dan penelitian yang dilakukan oleh Tim Penelitian Hari Jadi Kota Surabaya diplototi. “Bagaimanapun juga, hasil yang diperoleh dari tim ini merupakan bahan-bahan komplementer yang berfungsi sebagai barometer. Penjabaran dari tema itu menghasilkan landasan berpijak yang kokoh sebagai fondasi yang sangat prinsip dalam menentukan Hari Jadi Surabaya”, ujar Ahadin Mintarum salah seorang anggota Pansus DPRD Surabaya yang sangat berhati-hati untuk menyetujui tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi yang diusulkan tim dan walikota Surabaya.

Berubah menjadi 31 Mei

Anggota DPRD Surabaya dengan seksama menyimak peristiwa abad XIII sesudah pemerintahan Prabu Kartanegara. Saat itu terjadi suatu peristiwa sejarah yang membanggakan. Peristiwa itu adalah kemenangan pasukan Raden Wijaya yang dibantu rakyatnya mengusir tentara Tartar. Dipandang dari segi tinjauan nasional, peristiwa pengusiran tentara Tartar itu merupakan peristiwa terbebasnya kepulauan Indonesia dari penjajahan atau intervensi tentara asing.

Pelaku peristiwa itu adalah Raden Wijaya, yang menurut bukti sejarah, diakui sebagai pahlawan besar. Sebagai ilustrasi, kita perlihatkan di sini faktanya sebagai berikut:
a. Dalam Prasasti Gunung Butak tahun 1216 Caka atau 1294 AD, Raden Wijaya disebut sebagai “Raja yang dipujikan sebagai pahlawan besar yang utama”.
b. Dalam Prasasti Gunung Pananggungan oleh Kertarajasa tahun 1218 Caka atau 1296 AD, Raden Wijaya disebut sebagai “Pahlawan di antara Pahlawan”.
Dari uraian singkat di atas sudah dapat disimpulkan bahwa apa yang disebut nilai idiil yang mengandung sifat kepahlawanan dapat terpenuhi.

Pembahasan mengenai lokasi terjadinya peristiwa kepahlawanan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
a. Pendapat Prof.Dr.N.J.Krom dan lebih diperkuat lagi dengan pendapat Drs.Oei Soen Nio, dosen sejarah Tiongkok dari Seksi Sinologi Jurusan Asia Timur, Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang menerangkan bahwa menurut pembacaan tulisan Cina, kata Sugalu, harus dibaca Jung Ya Lu. Dengan demikian, maka ucapannya lebih mendekati Junggaluh daripada Sedayu.

b. Prof Dr. Suwoyo Woyowasito dengan dasar perkembangan bunyi, dapat membuktikan bahwa Suyalu adalah perubahan bunyi lafal Tionghoa dari kata Hujungaluh.

c. Suatu data lagi, bahwa Shihpi, salah seorang panglima tentara Tartar yang semula men-darat di Tuban, setelah tiba di Su-ya-lu memerintahkan tiga pejabat tinggi dengan naik perahu cepat ke jembatan terapung Majapahit (The Floating Bridge of Majapahit). Ketiga pejabat tinggi yang berangkat dari Su-ya-lu tersebut tentunya melalui sungai menuju ke pusat kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Dengan demikian dapat dibuktikan sungai yang dilalui adalah Kali Brantas, bukan Bengawan Solo. Bahkan dapat dikatakan bahwa Su-ya-lu terdapat di pantai dan muara Kali Brantas. Kenyataan ini sesuai dengan faktor dari sumber Prasasti Kelagen (1037 AD) yang dilengkapi dengan faktor dari buku Chu-fan-Chi-kua (1220 AD), yang menyatakan bahwa Hujunggaluh terletak di pantai dan muara Kali Surabaya. Maka dengan demikian, kuatlah suara pendapat bahwa:
Su-ya-lu sama dengan Hujunggaluh yang terletak di pantai, di muara Kali Surabaya dan tidak sama dengan Sedayu yang sekarang terletak di tepi Bengawan Solo, dengan muaranya yang baru di Ujung Pangkah.

d. Fakta itu diperkuat lagi behubungan dengan Kidung Harsa Wijaya yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut:
“Mangke wus wonten Jung Galuh sampun akukuto lor ikang Tegal Bobot Sekar sampun cirno linurah punang deca tepi siring ing Canggu”

Artinya:
“Sekarang (tentara Tartar) sudah ada di Jung Galuh dan sudah membuat benteng sebelah utara Tegal Bobot Sekar (sari) para lurah desa di wilayah Canggu sudah musnah.”

Dengan demikian Panitia Khusus (Pansus) DPRD dapat menerima, bahwa lokasi Hujunggaluh ada di wilayah Surabaya.

Menganai persyaratan hukum ketatanegaraan sebagai kota, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
Berdasarkan tinjauan sosial ekonomis, Drs.JBA Mayor Polak menentukan dua ukuran yang dipakai sebagai penentu ciri kota, yaitu:
a. Ukuran pertama berhubngan dengan sifat ekonomis kota, yaitu tidak agraris. Penduduk kota mendatangkan makanannya dari tempat lain. Orang kota bukan orang tani. Berhubungan dengan lapangan pekerjaan, ini menimbulkan adanya sebutan-sebutan seperti kota dagang, kota industri, kota pegawai dan lain-lain.
b. Ukuran yang kedua, berdasarkan tinjauan sosiologis yang menitikberatkan pada sifat hubungan antara anggota masyarakat. Penduduk kota kurang menitikberatkan pada antar hubungan primer, tetapi lebih mengutamakan antar hubungan kepentingan sehingga mempunyai ikatan yang agak longgar. Hal ini menurut Dr.Bouman, disebabkan karena penduduknya yang heterogen.

Berdasarkan dua kriteria kota tersebut, Drs.JBA Mayor Polak, lalu membedakan adanya dua macam kota asli di Indonesia.

Pertama: kota yang punya corak sebagai kota keraton di pedalaman.
Kedua, sebagai kota dagang di pantai. Kota keraton timbul karena adanya pusat pemerintahan di suatu tempat. Sedangkan kota dagang, biasanya timbul di tempat-tempat yang cocok bagi perdagangan, misalnya muara sungai besar atau di mana ada pertemuan jalan lalulintas yang amat penting.
Berpijak kepada pendapat Drs.JBA Mayor Polak itu, maka dapatlah dibuktikan bahwa Hujunggaluh dalam abad XIII sudah merupakan kota pelabuhan dagang.

Dari Prasasti Kalagen (1037 AD) dapatlah diketahui bahwa Hujunggaluh adalah pelabuhan dagang dwipantara atau interinsuler. Pada zaman sekarang, istilah yang digunakan Departemen Perhubungan (Dephub) adalah pelabuhan nusantara (antarpulau) dan pelabuhan samudera untuk pelayaran antar benua.

Karena pengertian ketatanegaraan itu sangat luas, maka disini dikaitkan dengan negara kerajaan yang membawahi Hujunggaluh yang kemudian menjadi Kota Surabaya. Fakta sejarah menunjukkan, bahwa kota pelabuhan Hujunggaluh pada abad XIII merupakan wilayah kerajaan Singasari (sampai Juni 1292) dan kemudian menjadi daerah dari kerajaan Kediri (sampai April 1293). Setelah itu, menjadi kota pelabuhan Surabaya yang berada di bawah kerajaan Majapahit.

Berdasarkan sumber data dari prasasti, kitab Pararaton dan kitab Negarakertagama, dapat dpastikan bahwa Singasari, Kediri dan Majapahit berbentuk negara kerajaan (monarkhi). Pemegang kekuasaan dan penjunjung tinggi kedaulatan adalah raja.

Dengan demikian, dapat dibuktikan secara ilmiah berdasarkan fakta-fakta sejarah, metoda riset “logical acontrario” atau pembuktian “crossing system”, serta pertimbangan akal yang sehat, bahwa Hujunggaluh sebagai suatu “kota pelabuhan dan kota dagang”. Unsur-unsur yang dimliki dan persyaratan ketatanegaraan sudah terpenuhi, walaupun dalam bentuk dan kadar yang paling sederhana.

Dapat berubah lagi

Memang, jika dibaca pendapat dan tanggapan, serta kesimpulan tentang penetapan tanggal Hari Jadi Kota Surabaya, masih lemah. Diakui secara faktual bahwa tanggal yang pasti dengan pembuktian data sejarah belum ditemukan. Oleh karena itu, faktor idiil dalam penetapan tanggal Hari Jadi Kota Surabaya menjadi dominan.

Dengan pertimbangan itulah, maka tanggal Hari Jadi Kota Surabaya, diambil dari tanggal terjadinya peristiwa sejarah kepahlawanan sebagai pembahasan di atas. Sesuai pembahasan dan menurut penelitian tersebut, jatuhnya pada tanggal 31 Mei 1293 Masehi.

Setelah melalui tahap pembahasan, maka landasan tema yang telah ditentukan, Pansus (Panitia Khusus) DPRD Kotamadya Surabaya dapat menerima dan menyetujui usul Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surabaya, untuk menetapkan Hari Jadi Kota Surabaya tanggal 31 Mei 1293 M. Dengan catatan, bahwa penetapan Hari Jadi Kota Surabaya masih memungkinkan untuk dapat ditinjau kembali, bilamana di kemudian hari berdasarkan fakta sejarah yang lebih kuat ditemukan tanggal yang pasti.

Setelah melalui pembahasan yang rumit dalam waktu yang cukup panjang, pada sidang paripurna DPRD Surabaya, 6 Maret 1975, dilaksanakan sidang khusus untuk menetapkan tanggal Hari Jadi Kota Surabaya.

Pada sidang pleno itu DPRD Kotamadya Surabaya secara resmi setelah seluruh fraksi menyampaikan stemotivoring (pendapat akhir), maka menyetujui usul Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surabaya untuk menetapkan Hari Jadi Kota Surabaya: tanggal 31 Mei 1293. Persetujuan resmi DPRD Kotamadya Surabaya itu dituangkan dengan dikeluarkannya Surat Keputusan DPRD Kotamadya Surabaya Nomor 02/DPRD/Kep/75 tanggal 6 Maret 1975. Keputusan DPRD itu ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Walikota Surabaya No.64/WK/75 tanggal 18 Maret 1975.

Pada pertimbangan SK Walikota Surabaya tersebut, dinyatakan Hari Jadi Kota Surabaya yang diperingati setiap tanggal 1 April, saat diresmikannya Gemeente Surabaya tahun 1906 oleh Pemerintah Belanda pada saat itu, adalah tidak sesuai dengan kenyataan. Sebab, selain penetapan tanggal tersebut berbau kolonial, Surabaya sebenarnya sudah ada jauh sebelum tanggal tersebut, yaitu sekitar abad XIII.

Berdasarkan pertimbangan itu, dirasa perlu untuk menetapkan tanggal Hari Jadi Kota Surabaya yang sesuai dengan data faktual yang diperoleh dari hasil penelitian, sejarah dan ciri khas Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Dari hasil penelitian tim dan pertimbangan DPRD Kotamadya Surabaya, diperoleh kesimpulan bahwa tanggal yang sesuai dengan keinginan, adalah tanggal 31 Mei 1293.
Maka pada bagian akhir SK Walikota Surabaya yang ditandatangani oleh Walikotamadya Kepala daerah Tingkat II Surabaya, H.Soeparno, tertanggal 18 Maret 1975 itu, diputuskan bahwa tanggal 31 Mei 1293 sebagai Hari Jadi Kota Surabaya.

Hingga sekarang, peringatan Hari Jadi Kota Surabaya tetap dilaksanakan setiap tanggal 31 Mei. Belum ada pihak yang secara tegas untuk mengubahnya. Kendati ada protes-protes “ringan” dari ahli sajarah dalam beberapa kali seminar. Dalam persetujuan Pansus DPRD Kota Surabaya tanggal 6 Maret 1975 ada klausal yang berbunyi “bahwa penetapan Hari Jadi Kota Surabaya tanggal 31 Mei 1293 ini masih dimungkinkan untuk ditinjau kembali, bilamana di kemudian hari berdasarkan fakta-fakta sejarah yang lebih kuat ditemukan tanggal yang pasti”. Begitulah catatan yang berhasil penulis temukan dari dokumen sidang DPRD Kota Surabaya. Dirgahayu Surabaya. ***

*) Yousri Nur Raja Agam MH – Ketua Yayasan Citra Nusantara Surabaya dan Ketua Yayasan Peduli Surabaya

Industri di Surabaya Dulu

Surabaya

“Juga”  Berjuluk Kota Industri


Oleh: HM Yousri Nur Raja Agam *)     

KOTA Surabaya pernah menggunakan julukan sebagai   Kota Indamardi (Industri, Perdagangan, Maritim dan Pendidikan) sebagai salah satu julukan di samping Kota Pahlawan. Memang kegiatan industri di Surabaya bukan hanya hadir sejak zaman penjajahan Belanda. Konon sejak masa kerajaan Majapahit di Surabaya sudah berkembang kegiatan industri. Mulai dari kegiatan pertenunan, pembuatan dokar, perahu, sampai kepada kegiatan pandai besi yang membuat berbagai alat-alat dari logam.

Dengan posisi Surabaya sebagai kota pelabuhan dengan berbagai kegiatan kemaritiman dan perdagangannya, maka kegiatan industri juga berkembang pesat. Nah, kegiatan industri dan perdagangan itulah salah satu penyebab Surabaya ini tumbuh kembang menjadi sebuah kota dengan tingkat hunian yang terus meningkat.

Daya tarik Surabaya semakin tinggi dengan banyaknya kesempatan kerja dan berusaha. Pendatang ke kota Surabaya inipun majemuk. Mulai dari kalangan pengusaha yang ingin menanamkan investasi raksasa, sampai kepada buruh-buruh yang ingin memeras keringat untuk mendapatkan sesuap nasi. Dua kepentingan antara cukong yang punya investasi dan usaha dengan masyarakat kecil yang hanya bermodal dengkul, menyatu menjadi sebuah kegiatan industri.

Di zaman dulu, dengan bukti peninggalan hingga sekarang, kegiatan industri sudah berkembang. Ada kampung bernama Pandean, di sana dulu adalah tempat kegiatan para pandai besi dan industri pengolahan logam. Di kawasan ini dibuat pisau, parang, alat-alat perabot rumahtangga, keperluan pertukangan, sampai kepada perbaikan dokar dan perahu. Pokoknya, macam-macam usaha yang berkaitan dengan tempa menempa besi, ada di kawasan ini.

Ada lagi kampung yang bernama Pecindilan. Asal katanya bukan cindil, tetapi cinde. Artinya, kain batik motif kembang. Di daerah ini kegiatan masyarakat sampai ke rumahtangga adalah bertenun dan membuat kain batik. Sedangkan bahan baku tenun adalah kapas, gudang penimbunan kapas itu terletak di daerah Kapasan sekarang. Tidak jauh dari Kapasan dan Pecindilan ada daerah yang bernama Ngaglik. Asal katanya adalah agel, kemudian berubah menjadi aglik. Artinya alat pembersih kapas untuk kain yang akan ditenun. Konon adanya daerah Ngagel, juga sama asalnya dulu adalah agel.

Masih di sekitar wilayah ini, ada pula kampung bernama Ketabang yang asalnya adalah ketabagan, yang berarti tempat pengrajin gedeg atau anyaman bambu. Bertetangga dengan kampung ini ada kawasan Ondomohen (sekarang Jalan Walikota Mustajab). Kata ini berasal dari gemoh atau gemohen yang artinya kerajinan tangan atau tempat tinggal para pengrajin. Terus ke arah timur ada perkampungan bernama Gubeng. Berasal dari kata gubengan, yaitu kain penutup kepala yang dililitkan, semacam jubah atau serban yang biasa dipakai para kiyai dan santri. Dulu di daerah inilah terdapat kegiatan usaha pembuatan gubengan yang dipergunakan santri-santri murid Sunan Ampel.

Di sekitar kawasan Masjid Ampel, ada kampung pernama Petukangan. Disini dulu adalah tempat tinggal para tenaga kerja bidang pembangunan perumahan atau tukang. Mulai tukang batu, tukang kayu sampai kepada mandor dan pemborong. Masyarakat Surabaya yang ingin mencari pemborong pembangunan perumahan, biasanya datang ke daerah Petukangan itu. Sedangkan para pekerja atau buruhnya banyak terdapat di Pegirian. Pegirian berasal dari kata giri yang artinya pekerja atau buruh.

Itu sebagian kisah tentang Surabaya tempodulu berdasarkan Babad Surabaya. Adanya kisah masa lalu tentang Surabaya dan kegiatannnya itu, memang tidak tertulis, tetapi berkembang menjadi cerita tutur dari mulut ke mulut. Cerita atau dongeng ayah, ibu atau kakek dan nenek kepada anak-cucunya. Itulah yang berkembang sampai sekarang.

Terlepas dari ia atau tidak tentang cerita masa lalu itu, yang jelas Surabaya sejak zaman dulu sudah mempunyai berbagai kegiatan industri dan kerajinan. Kemudian di zaman penjajahan Belanda, kegiatan industri di Surabaya juga berkembang pesat. Pada awal abad ke 17 mulai dibangun berbagai bengkel untuk perbaikan kapal di sekitar Jembatan Merah dan Kalimas. Sebab, waktu itu, kapal dan perahu dagang yang datang ke Surabaya berlabuh di kawasan itu.

Beberapa perusahaan besar yang di Negeri Belanda mulai membuka cabang usahanya di Surabaya. Tahun 1808 didirikan perusahan konstrusi baja bernama Constructie Winkel di Kampementstraat yang sekarang menjadi Jalan KH Mas Mansur. Pabrik dan bengkel baja ini melayani kebutuhan pabrik-pabrik gula yang waktu itu sudah beroperasi di berbagai daerah di Jawa Timur.

Melihat perkembangan perusahaan konstruksi ini, beberapa pengusaha besar dari Belanda juga membuka cabang usahanya di Surabaya. Tahun 1823 berdiri bengkel reparasi kapal bernama NV.Nederland Indische Industrie yang sekarang menjadi PT.Boma Bisma Indra (BBI). Sedangkan BBI itu sendiri adalah gabungan dari perusahaan yang dulunya bernama NV.Boma Stork di Pasuruan, NV Bisma (di Jalan KH Masur) dan NV Indra (di Jalan Ngagel).

Menyusul berdiri pula perusahaan dok kapal di Kalimas tahun 1845. Setahun kemudian, tahun 1846, berdiri pula perusahaan De Volharding atau dikenal juga dengan De Phoenix. Tiga tahun berikutnya (1849)  perusahaan ini dikembangkan ke daerah Ujung sebagai perusahaan dok dan pembuatan kapal. Nah, inilah cikal-bakal PT.PAL Indonesia yang pernah berjaya saat dipimpin oleh  Prof.Dr.BJ.Habibie.

Perkembangan industri lainnya yang kecil-kecil dan menengah juga cukup pesat. Lokasinya paling banyak di sekitar aliran sungai Kalimas. Mulai dari kawasan Wonokromo, Ngagel, sampai daerah Jembatan Merah terus ke Tanjung Perak.

Tahun 1853 didirikan pabrik penggilingan tebu di wilayah Keputran. Daerah itu sekarang dikenal dengan nama Pandegiling. Tidak lama berdiri lagi cabang perusahaan Belanda bernama De Voeharding yang bergerak di bidang mesin pabrik. Lalu muncul pula industri pembuatan ketel uap di daerah Jembatan Merah. Secara bertahap di daerah kosong dan strategis didirikan berbagai kegiatan industri. Ada pabrik es, penggergajian kayu, pembuatan minuman, penyulingan arak dan sebagainya. Pembangunan pabrik-pabrik ini berkembang terus hingga awal abad ke-20.

Ada yang menarik, ternyata sejak zaman dulu warga Surabaya sudah menggemari minuman dingin. Bayangkan, di abad ke-19 itu di Surabaya sudah berdiri empat pabrik es. Ijsfabriek Petodjo atau Pabrik Es Petojo di Jalan Petojo yang dulu bernama Radersmastraad. Tetapi sekarang pabrik es ini sudah dibongkar dan lahannya dibangun gedung rumahsakit swasta. Ada lagi pabrik es NV.Ijsfabrieken Ngagel di Jalan Ngagel, pertigaan masuk kampung Bagong Ginayan. Pabrik es NV.Ijs en Handel Mij di Pasarturi dan NV.Vereenigde Ijsfabriek di Heerenstraat atau Jalan Rajawali sekarang.

Begitu pesatnya perkembangan kegiatan indsutri di Surabaya, pada tahun 1916, Gemeente Soerabaia (Pemerintah Kota Surabaya), mulai melakukan penataan. Kawasan industri dipusatkan di kawasan Ngagel. Beberapa perusahaan besar yang berdiri di sini antara lain NV.Braat yang sekarang menjadi PT.Barata Indonesia, NV.Philips (PT.Philips-Ralin) yang sudah pindah ke Rungkut, NV.BAT (British American Tobacco), perusahaan rokok yang sudah pindah dan sekarang di atas lahannya berdiri apartemen yang terbengkalai. Masih banyak pabrik lain, seperti pabrik sabun Lux dan Pepsodent yang dikelola oleh PT.Unilever. Pabrik gelas PT.Iglas, Pabrik Kamajaya Tex, Perusahan Makanan dan Minuman, serta Pabrik Bir Bintang yang sekarang juga sudah pindak ke Mojokerto.

Selain di kawasan Ngagel, juga berkembang kegiatan industri di daerah Kenjeran, Wonocolo dan Tandes. Terakhir beberapa perusahan dan pabrik besar itu pindah dan sudah menempati lokasi khusus kawasan industri Rungkut atau SIER (Surabaya Industrial Estate Rungkut) dan Margo Mulyo. ***

*) HM Yousri Nur Raja Agam, wartawan senior di Surabaya.

Singapura Bakar Sampah dengan Incenerator

Singapura Bakar Sampah

Dengan Mesin Incenerator

Yousri Nur Raja Agam MH

Oleh: Yousri Nur Raja Agam  *)

PENGELOLAAN sampah di Kota Surabaya, merupakan masalah yang tak pernah berakhir. Bayangkan, penduduk kota Surabaya yang berjumlah sekitar 3 juta orang. Belum lagi pada siang harinya bertambah sekitar 2,5 juta orang bekerja dan mecari kehidupan di Kota Surabaya.  Jadi tidak kurang dari 5,5 juta orang menjadi sumber sampah domestik. Tiap orang diperkirakan memproduksi sampah 0,0029 meter kubik per-hari.

Berdasarkan perhitungan matematika, produksi sampah di Surabaya mencapai 15.950 meter kubik per-hari. Di samping itu, masih ditambah lagi dengan sampah yang dihasilkan pasar, pusat perbelanjaan dan kegiatan industri.

Bagi kota Surabaya, pengelolaan sampah sebanyak itu sudah tidak ada masalah. Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya sudah berpengalaman dalam pengelolaan sampah.. Ada yang diangkut dari 223 TPS (Tempat Pembuangan Sementara) dengan armada truk kontainer khusus sampah ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Ada juga di antaranya yang didaurulang di sekitar TPS atau depo sampah yang tersebar di seluruh pelosok kota.

Cerobong asap incenerator di Singapura dibuat tinggi, sehingga tidak mencemarkan lingkungan

Adipura Kencana

Kendati Surabaya merupakan kota penghasil sampah domestik terbesar ke dua di Indonesia setelah Jakarta, namun Kota Pahlawan ini merupakan pemegang predikat kota raya terbersih di Indonesia. Prestasi Surabaya meraih julukan Kota Adipura Kencana, merupakan tantangan yang harus dipertahankan. Keberhasilan itu, berkat upaya walikota Surabaya membina kesadaran dan peranserta masyarakat secara menyeluruh.

Salah satu yang menentukan dan merupkan tulang punggung Surabaya mampu menduduki tempat teratas dalam pengelolaan sampah di kota besar, adalah keberadaan “pasukan kuning”, yakni petugas kebersihan yang berseragam kuning. Tidaklah mengherankan, kepeloporan pasukan kuning dari Surabaya ini, kemudian ditiru oleh kota-kota lain di Indonesia.

Jadi, keberhasilan Pemkot Surabaya menanggulangi sampah, tidak semata-mata dilakukan oleh karyawan Dinas Kebersihan. Tetapi, 50 persen berkat peran pasukan kuning di RT, RW dan kelurahan yang dibiayai oleh warga secara langsung. Sedangkan pasukan kuning yang berstatus karyawan Pemkot Surabaya jumlah terbatas.

Sampah yang belum diangkut di jalan Surabaya

Dalam pengelolaan dan penanggulangan sampah di kota Surabaya, DKP mengoperasikan 17 unit alat berat berupa landfill, loader, bulldozer, exavator dan sweeper yang ditunjang 106 truk pengangkut sampah dari TPS ke TPA.

Diprotes

Masalah yang sering timbul dalam penanganan sampah di Surabaya di antaranya adalah reaksi dari warga sekitar TPA (Tempat Pembuangan Sampah). Pernah, akibat protes warga sekitar TPA Keputih, Sukolilo dan TPA Benowo yang menutup jalan menuju TPA, kota Surabaya menjadi kotor. Sampah menumpuk dan menggunung di mana-mana. Bahkan, bau busuk menyengat mencemarkan lingkungan.

Dulu Surabaya pernah punya TPA di Asemrowo dan Kenjeran (kawasan Pantai Ria Kenjeran). Ke dua TPA ini ditutup, karena sudah penuh. Ada lagi TPA di Lakarsantri seluas 8,3 hektar, terpaksa ditutup akibat diproters warga. Hal yang sama juga terjadi di TPA Keputih Sukolilo yang luasnya 40 hektar ditutup akibat protes warga di sekitar lokasi TPA.. Saat ini, TPA yang dioperasikan menampung seluruh sampah warga kota Surabaya adalah TPA Benowo. TPA ini dioperasikan  berawal dari luas 26,94 hektar dan sekarang sudah bertambah menjadi 37 hektar..

Dengan peralatan komputer mengendalikan dan memantau pembakaran sampah pada mesin Incenerator di Singapura

Incenerator

Surabaya pernan punya alat pemusnah sampah yang cukup membanggakan, yakni dengan instalasi pembakar sampah (incenerator). Mesin pembakar sampah “Caudaux” buatan Prancis itu merupakan andalan di tahun 1986 hingga 1998. Sebab, sekitar 200 ton sampah mampu dimusnahkan menjadi abu tiap hari. Abu bekas pembakaranpun bermanfaat untuk menimbun tumpukan sampah.

Namun begitulah, karena permasalahan biaya yang tidak seimbang dengan produksinya, tahun 1998 kegiatan incenerator di Keputih itu dihentikan. Bahkan, yang lebih menyedihkan lagi, akibat meningkatnya protes warga sekitar Keputih Sukolilo, akhirnya pertengahan tahun 2001, TPA Keputih juga ditutup. Saat itu, TPA Benowo masih dalam proses pembangunan. Setelah dikebut, akhirnya TPA Benowo dapat dioperasikan hingga sekarang. Dan TPA Benowo merupakan satu-satunya TPA samah di Kota Surabaya saat ini.

Memang, dalam kenyataannya, tidak seluruh sampah warga diangkut ke TPA Benowo. Ada juga yang didaurulang oleh warga, ada yang dibakar di incenerator mini yang ada di beberapa depo atau TPS. Sebagian lagi, ada yang langsung diangkut warga ke lahan kosong di belakang rumah dan untuk pengurukan lahan-lahan yang rendah.

Semi Tradisional

Kepala DKP Kota Surabaya, Hidayat Syah, mengakui, pengelolaan sampah di TPA Benowo masih tergolong semitradisional.

TPA Benowo masih menggunakan sistem open dumping yang dikombinasikan dengan sanitary landfill dalam pengolahan sampah. Sampah yang masuk dari TPS se-Surabaya masuk ke terminal sampah untuk di-compress. Sampah tersebut ditimbun setinggi empat meter ke dalam area-area yang telah disiapkan. Proses itulah yang disebut open dumping.

Timbunan sampah lalu dilapisi tanah setebal 30-50 sentimeter. Proses itu disebut cover soil. Ketebalan sampah dikontrol dengan mekanisme landfill. Artinya, sampah yang baru datang diletakkan di area-area yang masih kosong. Lahan yang baru ditimbuni sampah tidak bisa digunakan lagi sampai area yang lain habis dipakai.

Ketinggian maksimal sampah dua sampai tiga kali empat meter. Padahal, lahan yang ada terbatas. Dari TPA sampah di Benowo seluas 37 hektar itu, seluas 30 hektar digunakan untuk menimbun sampah. Sisanya untuk instalasi pengolahan limbah dan kantor operasional.

DKP Surabaya berencana menambah areal penimbunan sampah. Sebab, jumlah sampah yang masuk ke Benowo semakin bertambah. Ada kemungkinan arahnya mendekati kawasan stadion Gelora Bung Tomo (GBT). Tanah yang  masih milik warga itu bukan untuk penimbunan sampah, tapi sebagai buffer zone atau zona penyangga.

Zona penyangga ini akan ditanami aneka tumbuhan. Fungsinya, untuk sebagai tirai agar TPA Benowo tidak terlihat dari GBT dan penyerap bau. Tanaman itu dapat menyerap karbon dan nitrogen yang timbul dari sampah supaya baunya berkurang.

Memang, kata Hidayat Syah, TPA Benowo semula direncanakan khusus untuk sampah di Surabaya Barat. Batas waktu pemanfaatannya diperkirakan hingga 15 tahun lagi. Tapi, karena TPA di Keputih yang dulunya untuk sampah Surabaya Timur, sudah ditutup. Sejak saat itu, yakni tahun 2001, semua sampah ditimbun di TPA Benowo. Hal tersebut berdampak pada berkurangnya umur TPA Benowo. Usia TPA Benowo  diperkirakan hanya sampai tahun 2015, atau tinggal lima tahun lagi.

Untuk itulah ujar Hidayat Syah, Pemkot Surabaya harus memikirkan cara paling efektif dalam mengelola sampah di Surabaya. Sebab, sistem open dumping itu terbukti menimbulkan bau menyengat. Cara efektif tersebut berpacu dengan waktu. Sebab, GBT yang merupakan sarana olahraga yang bertetangga dengan TPA Benowo, segera diresmikan penggunaannya,

Teknologi Anti Bau

Pemkot Surabaya sudah merancang pembangunan teknologi untuk mengatasi aroma khas dari timbunan sampah. Kegiatan pembangunan proyek pencegahan bau di TPA Benowo dilaksanakan September 2009. Proses lelang pembangunan infrastruktur pengolahan sampah di TPA Benowo sudah masuk tahap evaluasi prakualifikasi.

Ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Kota Surabaya  Dr.Ir.Djamhadi mengemukakan, GBT merupakan magnet ekonomi baru bagi Kawasan Surabaya Barat yang selama ini dianggap tertinggal. Triliunan investasi akan ditanamkan di sana mengikuti perkembangan GBT.

Djamhadi mengkhawatirkan tersendatnya investasi di sekitar GBT apabila TPA Benowo masih mengeluarkan aroma tidak sedap. Siapa yang mau menanamkan uang untuk membangun tempat usaha jika lokasinya bau seperti itu, ujarnya.

Sebagai pengurus organisasi yang mengumpulkan pengusaha di Surabaya, dia mendesak agar Pemkot Surabaya segera menyelesaikan pembangunan TPA Benowo. Memang dengan teknologi tinggi, bau sampah pasti bisa diatasi.

Para wartawan dari Surabaya melihat dari dekat proses pembakaran sampah dengan mesin Incenerator di Singapura

Studibanding ke Singapura

Selain mempersiapkan upaya penanggulangan bau  dengan teknologi kimia, Pemkot Surabaya seyogyanya melakukan kajiulang untuk mencari alternatif lain. Saat melakukan studibanding ke Singapura, pertengahan April 2010, rombongan wartawan dari Surabaya melihat dari dekat pengelolaan sampah di kota “negara” itu.

Permasalahan yang pernah sama dengan yang dialami Kota Surabaya, juga pernah dirasakan kota Singapura. Dulu sistem yang digunakan sama dengan Surabaya, yakni mengangkut dan menimbun sampah. Bahkan, Singapura “ketinggalan” dari Kota Surabaya di awal tahun 2000-an. Sebab, waktu itu Surabaya sudah menggunakan teknologi tinggi, yakni mengoperasikan incenerator.  Namun sudah dihentikan, karena masalah biaya dan suku cadang.

Ternyata, sekarang Singapura yang luasnya 710 kilometer per-segi itu mengikuti model  pembakaran sampah dengan incenerator yang pernah dilaksanakan di Surabaya itu.

Walaupun yang dilaksanakan Singapura pernah dilakukan di Surabaya, tidak ada salahnya kita melakukan evaluasi. Dari studibanding  wartawan Surabaya ke Singapura yang dipimpin Kabag Humas Pemkot Surabaya, Dra.Nanies Chairani,MM itu, layak dipertimbangkan kembali penggunaan incenerator sebagai alat pemusnah sampah di Kota Surabaya. Batapa tidak, sebab sistem semitradisional di TPA Benowo yang berlangsung sekarang, usia lahannya semakin sempit dan mendekati ajal.

Selain menggunakan teknologi menghilangkan bau sampah sudah dapat diatasi dengan menggunakan bahan kimia anti bau, ternyata biayanya cukup besar. Memang sudah saatnya Surabaya meninggalkan metoda yang konvensional itu.

Salah satu pusat pengelolaan sampah di Singapura, yang layak dijadikan sebagai acuan adalah Tuas South Incinerator Plant (TSIP) Singapura. Perusahaan Pembakar Sampah Tuas Selatan di negara kecil ini, di samping mampu memusnahkan sampah, juga berhasil memproduksi listrik dari energi yang dihasilkan dari pembakaran sampah. Bahkan dimanfaatkan juga sebagai pengolah bahan baku produksi daur ulang dari sisa pembakaran sampah.

Manager Operasional TSIP, perusahaan pembakar sampah itu, Mohammad Ghazali, menyebut produksi sampah di kota Singapura  mencapai sekitar 7,2 juta ton per harinya. Memang ada bagian dari pembakaran sampah berupa residu abu yang tidak bisa didaurulang.

Bersama limbah padat, residu ini dibuang ke Pulau Semakau untuk reklamasi pantai dan pengurukan selat antara Pulau Semakau dengan Pulau Sekang. Dari reklamasi itu, Pulau Semakau nantinya akan menjadi satu dengan Pulau Sekang.

Selain dari limbah sampah, beberapa pulau kecil di sekitar Singapura banyak yang direklamasi dengan tanah dan pasir yang berasal dari Kepulauan Riau, Indonesia.

Manager Umum TSIP Singapura, Chong Kuek On, mengatakan di Singapura ada empat lokasi pembakaran sampah dan TSIP adalah yang terbesar. Teknologi ini menelan biaya yang cukup mahal.

Pembangunan. Proyek insenerator Ulu Pandan menelan biaya 130 juta dolar Singapura atau setara Rp 445 miliar. Pembangunan Tuas Utara 200 juta  atau hampir Rp 1,3 triliun. Incenarator Senoko 560 juta  atau Rp 3,6 triliun, dan Tuas Selatan 890 juta dolar, hampir sama dengan Rp 5,7 triliun. Walaupun investasinya mahal, keempat insinerator, berdasarkan data 2009, telah berhasil membakar sekitar 90 persen dari total sampah yang dihasilkan Singapura.

Nah, belajar dari negara kota Singapura itu, Pemerintah Kota Surabaya perlu berpikir jernih. Negara kota sekaya Singapura saja tidak berani mengambil resiko menggunakan dana dari pemerintahnya. Mereka memanfaatkan investor swasta untuk mengelola sampah. Sudah saatnya, Pemerintah Kota Surabaya “berani” memberi kesempatan kepada swasta untuk berperanserta. Terserah dari mana asalnya, yang penting demi kesejahteraaan warga Kota Surabaya. ***

*)Yousri Nur Raja Agam, wartawan Surabaya, menulis hasil Studibanding ke Singapura tanggal 19 April 2010.

Bioskop Dulu Primadona di Surabaya

Bioskop Dulu “Primadona” Hiburan

dan Rekreasi Di Kota Surabaya Baca lebih lanjut