Berkunjung ke Kota Busan – Sister City Surabaya di Korea Selatan

Laporan: Yousri Nur Raja Agam

Yousri Nur RA,MH

UDARA dingin menyambut kedatangan kami di Kota Busan, Korea Selatan. Temperatur di kota bagian Selatan, Korsel ini memang tidak sedingin ibukotanya, Seoul di utara yang bersalju. Nah, di dua kota itulah saya bersama teman-teman wartawan dari Surabaya berlibur akhir tahun selama sepekan. Busan adalah “kota kembar” atau sister city Kota Surabaya di Korsel.
Berangkat dari Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo, Minggu pagi pukul 08.20 WIB dengan pesawat terbang Cathay Pasific. Setelah terbang selama enam jam, kami mendarat di Bandara Hongkong, China, pukul 14.20. Di bandara yang terkenal sibuk di kawasan Asia-Pasifik ini kami tidak langsung menuju Korea. kami harus menunggu jadwal penerbangan ke Kota Busan, pukul 02.32 dinihari. Artinya, kami selama 12 jam lebih berada di kota pula bekas jajahan Inggris itu.
Dinihari, 16 Desember lalu, kami meninggalkan Hongkong, terbang menuju Kota Busan dan mendarat di kota pelabuhan terbesar ke lima di dunia itu pukul 06.40 waktu setempat. Sesampainya di negeri ginseng itu, kami langsung menuju gedung BIC (Busan Indonesia Center). Di sini kami dijamu oleh perwakilan Indonesia yang dipimpin oleh Mr.Kim Soo-il, PhD — orang Korea yang fasih berbahasa Indonesia.
Mr.Kim Soo-il menjelaskan, BIC di Busan ini berperan menjadi perwakilan Kota Surabaya di Korea Selatan. Kendati gedung ini berfungsi sebagai perwakilan Kota Surabaya, namun aktivitasnya mempromosikan Jawa Timur dan Indonesia secara umum. Kedatangan kami di Busan, cukup istimewa, karena kami adalah delegasi pertama yang mengetahui persiapan HUT (Hari Ulang Tahun) ke-20 sister city Busan Metropolitan dengan Kota Surabaya pada tahun 2014 ini.
Kerjasama antara Kota Surabaya dengan Kota Busan di Korea Selatan dalam bentuk MoU (Memorandum of Understanding) ditandatangani oleh Walikota Surabaya H.Sunarto Sumoprawiro,l 10 November 1994. Ada enam kesepahaman yang disepakati waktu itu, yakni: pengembangan pelabuhan, perdagangan dan pengembangan ekonomi, pendidikan, kebudayaan, pemuda dan olahraga, lingkungan hidup dan pengelolaan kota, transportasi dan pariwisata, serta peningkatan sumberdaya.
Buah dari kerjasama kota kembar Surabaya dengan Busan ini, diwujudkan dengan peningkatan kegiatan investasi dari negeri “ginseng” ini di Surabaya. Forum kerjasama pendidikan diawali dengan memberangkatkan rombongan siswa SMA Negeri 5 Surabaya yang berkunjung ke Dong-Eui High School di Busan, 4 Oktober 1995. Sekaligus para siswa ini mengikuti Pusan Po Festival dan konferensi Pusan Sister City.
Berikutnya utusan DPRD Kota Busan, 6 Juni 1996 menjadi tamu kehormatan di Surabaya. Saat ini sekaligus ditindaklanjuti pelaksanaan kerjasama sister city Surabaya-Busan. Kunjungan balasan juga datang dari mahasiswa Dong-Eui University Busan. Kerjsama bidang pendidikan ini diwujudkan pula dengan perjanjian kerjasama antara Universitas Kristen Petra Saurabaya dengan Dong-Eui University tanggal 26 Juli 1996.
Berbagai kegiatan sepanjang tahun terus berlangsung dari berbagai sektor. Puncak acara yang cukup berkesan terjadi tanggal 11 sampai 14 Oktober 2004. Pemerintah Kota Surabaya mengikuti Sister City Forum di Busan yang sekaligus membahas program kerja tahun 2005. Sebaliknya, Juli 2005 Pemkot Surabaya yang mengundang Pemkot Busan mengikuti Sister City Forum di Surabaya dan Oktober 2005 dilanjutkan pula pertemuan pembahasan perogram kerjasama tahun 2006.
Jalan Surabaya
Kota pelabuhan yang mulai berkembang sejak tahun 1876 ini, kegiatan armada kapal dagangnya juga sudah sering melakukan angkutan antarnegara dengan Indonesia, khususnya ke Surabaya. Busan memang sudah lama berkembang menjadi kota maritim, perdagangan, industri, pendidikan dan pariwisata. Jadi, sama dengan Kota Surabaya yang menggunakan predikat kota Indamardi (Industri, perdagangan, maritim dan pendidikan) atau Budi Pamarinda (Budaya, pendidikan, pariwisata, maritim, industri dan perdagangan).
Selama 20 tahun terjalin kerjasama antarkota Surabaya dengan Busan, memang sudah banyak hal positif yang diperoleh. Di samping dunia pendidikan, yang lebih banyak adalah yanbg berkaitan dengan inverstasi dan pengembangan ekonomi, serta kepelabuhanan.
Ada yang menarik dalam acara peringatan 20 tahun kerjasama Kota Surabaya dengan Kota Busan. Di mancanegara itu akan diresmikan sebuan jalan dengan nama “Jalan Surabaya”. Di samping jalan itu ada sebuah taman yang terletak di pinggir sungai, juga akan berubah menjadi “Taman Sura Ing Baya”. Di taman itu akan berdiri patung ikan Sura (hiu) bersama buaya yang dikirim dari Surabaya. Jalan Surabaya dan Taman Sura Ing Baya ini terletak di samping gedung BIC (Busan Indonesia Center).
Walikota Surabaya, Tri Rismaharini akan berkunjung ke Busan. Di sana bersama dengan Walikota Busan diresmikan nama Jalan Surabaya dan Taman Sura Ing Baya di Kota Busan.

Buk-Gu Busan City

Sewaktu berkunjung ke Kota Busan, wilayah yang dikunjungi pertamakali adalah Busan Utara yang disebut Buk-Gu Busan Metropolitan City. Rombongan disambut dan diterima oleh Walikota Busan Utara Mr.Hwang Jae Kwan dan Wakil Walikota Busan Utara Mr.Park Jong Moon.
Walikota Mr.Hwang Jae Kwan menyambut dan menyampaikan ucapan selamat datang kepada delegasi Pemkot Surabaya bersama Wartawan dari Surabaya. Pada kesempatan itu Mr.Hwang menginformasikan bahwa Busan Utara merupakan salah satu daerah dengan lingkungan yang bersih, mempunyai taman Eko Hameon yang berfungsi sebagai taman untuk kesehatan. Daerah ini juga merupakan salah satu tujuan wisata di Kota Metropolitan Busan, dan suasana di wilayah ini sama cantiknya dengan Kota Surabaya.
Pimpinan Delegasi Kota Surabaya Suharto Wardoyo,menyatakan bangga, kerjasama Kota Surabaya dengan Kota Busan. Kalau sebelumnya di Kota Surabaya sudah ada Taman Korea Selatan, maka Pemkot Surabaya juga akan menyiapkan Patung “Sura ing Baya”, yaitu patung ikan Sura (paus) dengan Buaya, sebagai ikon Kota Surabaya. Patung “Sura ing Baya” itu akan dipajang di taman yang terletak di samping gedung BIC atau Jalan Surabaya yang berada di pinggir sungai.
Sembari memperlihatkan desain Patung “Sura ing Baya” Suharto Wardoyo, mengatakan, selama ini Pemkot Surabaya juga menggelar Global Gathering di Busan setiap tahunnya. Di samping itu juga tukar-menukar delegasi pendidikan yang diwakili para guru dan murid dari Busan ke Surabaya yang digelar tiap Februari. Sebaliknya dari Surabaya juga mengirim delegasi pendidikan guru dan murid bertepatan dengan Asian Youth Forum pada Juli 2014.

DPRD Busan Utara

Setelah diterima oleh walikota Busan Utara, rombongan juga disambut oleh pimpinan dan anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Busan Utara yang disebut Buk-Gu Council of Busan Metropolitan City.
Tujuh dari 13 Anggota DPRD Busan Utara menyambut kehadiran delegasi Pemkot Surabaya dan wartawan di ruang pimpinan DPRD Busan Utara. Ke tujuh orang itu adalah. Ketua DPRD Busan Utara: Mr. Ing Sun Jung dan Wakil Ketua DPRD Busan Utara: Mr. Sang Cheon An. Lima anggota lainnya adalah: Ms. Lee Soon Young, Mr. Kim Man Jong, Ms. Soen Yeon Ja, Mr. Park Hyung Joo dan Mr. Park Sung Hee

Ketua DPRD Mr.Ing Sun Jung menyatakan, DPRD Busan Utara adalah lembaga legislatif (Buk-Gu Council of Busan Metropolitan City) yang melakukan kerjasama dan pengawasan dalam pemerintahan Kota Metropolitan Busan. Ada empat wilayah otonom di Kota Busan yang masing-masing dipimpin oleh seorang walikota dan wakil walikota. Di tiap Distrik kota ini mempunyai anggota DPRD.

DSC03801
Untuk Busan Utara, anggota DPRD-nya berjumlah 13 orang yang mewakili lima daerah pemilihan (dapil). DPRD di Busan Utara membagi tugas menjadi 3 (tiga) komisi, yaitu: Council Executive Committee, Planning & Admin Committee dan Urban Construction Committee.
DPRD Busan Utara menyambut baik kerjasama kota kembar (sister city) Kota Busan dengan Kota Surabaya yang sudah berlangsung hampir 20 tahun (1994-2014). Kerjasama antarkota ini sangat bermanfaat untuk pertukaran budaya, investasi, ekonomi dan pendidikan. Untuk itulah, agar kerjasama yang sudah berlangsung 20 tahun ini perlu diteruskan.
Suharto Wardoyo, kembali menyampaikan informasi, bahwa Pemkot Surabaya akan menyiapkan Patung “Sura ing Baya”, yaitu patung ikan Sura (paus) dengan Buaya, sebagai ikon Kota Surabaya. Patung “Sura ing Baya” itu akan dipajang di taman yang terletak di samping gedung BIC atau Jalan Surabaya yang berada di pinggir sungai.
Sebagaimana sebelumnya, Surabaya juga mengirim delegasi pendidikan guru dan murid bertepatan dengan Asian Youth Forum pada Juli 2014, ujar Suharto Wardoyo yang akrab disapa Anang itu.

TV KBS di Busan

Kunjungan ke Busan tidak disia-siakan rombongan wartawan dari Surabaya berkunjuung ke stasiun televisi KBS (Korean Broadcasting Service) Busan. KBS Busan adalah perwakilan KBS yang merupakan milik Pemerintah Pusat Korea Selatan yang berkedudukan di ibukota negara di Seoul. Siaran-siaran yang disampaikan oleh KBS dipancarluaskan ke berbagai kota di Korea Selatan, dan juga dapat ditonton di wilayah lain.

IMG-20131216-04129
TV KBS memproduksi berita dan siaran sendiri, di samping juga merelay berita dan siaran dari TV di Kota Seoul. Berita-berita yang disampaikan bersifat umum, sama dengan siaran televisi pada umumnya.
Sebelum ada TV, KBS merupakan satu-satunya siaran radio Korea Selatan yang dimulai penyiarannya pada tanggal 15 Agustus 1953. KBS menyajikan program bahasa Inggris selama 15 menit setiap hari. Di samping itu KBS Radio menyelenggarakan siaran dalam 10 bahasa, yakni bahasa Jepang, Korea, Prancis, Russia, China, Spanyol, Indonesia, Arab dan Jerman.
Di era internet sekarang ini, KBS menyelenggarakan siaran internet lewat peluang cyber, melampaui batas siaran radio gelombang pendek yang konservatif. Pada bulan November 1997 KBS World Radio membuka siaran internet melalui penyediaan homepage.

Udara dingin di Seoul, ibukota Korsel

Udara dingin di Seoul, ibukota Korsel

Nah sekarang TV KBS terus meningkatkan daya saing melalui berbagai program yang bervariasi dan berkualitas dengan teknologi mutakhir untuk kepuasan pendengar dan pemirsa. Sumber keuangan kami berasal dari lecense fees dan iklan.
Selain berkunjung ke TV KBS ini, beberapa sarana kota juga menjadi sasaran kunjungan di Kota Busan, kota kembar Surabaya ini. Di antaranya ke Bexco — tempat pameran dan konferensi,. Rumah produksi film dan Haewondae Beach (pantai wisata).

Metropolitan Busan

Kunjungan untuk memperdalam pengertian kerjasama kota kembar Busan-Surabaya dilaksanakan dengan mengunjungi pusat pemerintahan Kota Metropolitan Busan. Di Balaikota Busan rombongan disambut oleh Kim Ki Hwan – Director International Relation (Direktur Hubungan Internasional) atas nama Walikota Metropolitan Busan.
Diskusi dan penjelasan tentang perjalanan sister city Busan-Surabaya itu di perkuat pula oleh Kwon Dae Eun – Deputy Director International Exchange, Cho Yoo Jang – Deputy Director Policy Planning, Lee Il Yong – Deputy Director Public Relation, Seo Tae Won – Deputy Director Urban Planning Div, Seong Joo Dong – Deputy Director Disaster Safety Div, Lee Jin Ho – Deputy Director Fire Administration Div dan Kim Choon Geun – Deputy Director Environment Policy Div.
Mr.Kim Ki Hwan menginformasikan tentang Kota Metropolitan Busan secara panjang lebar. Kota ini terletak di ujung sebelah tenggara semenanjung Korea. Kota Busan berada di lembah Sungai Nakdong dan Suyeong. Juga ada bukit dan pegunungan yang memisahkan beberapa kabupaten. Secara administratif, Busan ditetapkan sebagai Kota Metropolitan. Busan wilayah metropolitan dibagi menjadi 15 distrik administratif. Hubungan Busan dengan Kota Surabaya sebagai sister city, juga sama dengan sister city kota-kota lain di berbagai negara.
Busan menjalin kerjasama sebagai sister city dengan Kota Surabaya tahun 1994. Kerjasama yang sudah dilaksanakan antara lain: bidang ekonomi, budaya, pariwisata, pendidikan dan kerjasama pelabuhan.
Busan merupakan kota pelabuhan terbesar di Korea dan ke lima di dunia, merintis kerjasama kepelabuhannan dengan Tanjung Perak Surabaya. Di samping bongkar-muat dan angkutan barang, pelabuhan Busan juga melakukan berabagai kegiatan jasa kepelabuhanan atau maritim, di antaranya pembuatan (pabrik) kapal dan dok memperbaiki kapal.

Setelah Suharto Wardoyo, memperkenalkan satu per-satu anggota rombongan,l dilanjutkan tanya-jawab tentang masalah kependudukan dan masalah penanggulangan kebakaran. Kebetulan, Suharto Wardoyo yang menjadi pimpinan rombongan adalah Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispenduk-Capil) Kota Surabaya. Di samping juga ikut mendampingi rombongan, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya Chandra Oeratmangun.
Dijelaskan bahwa penduduk kota Busan mencapai 10 juta orang dengan woilayah seluas 700 kilometer persegi. Kartu Tanda Penduduk (KTP) berlaku seumur hidup, ujar Seo Tae Won – Deputy Director Urban Planning Div.
Sedangkan menyangkut ancaman kebakaran di Busan, dijelaskan bahwa prinsipnya hampir sama dengan di Kota Surabaya, penyebab utama kebanyakan (35%) akibat hubungan singkat (korsleting) listrik, kata Lee Jin Ho – Deputy Director Fire Administration.
Apabila terjadi kebakaran, upaya pemadaman pertama langsung oleh masyarakat yang sudah dilatih dan terlatih dengan menggunakan alat pemadam sendiri. Untuk Dinas pemedam kebakaran, langsung datang paling lambat 5 (lima) menit setelah dihubungi. Armada langsung bergerak dari posko terdekat. Di samping menggunakan 385 armada kendaraan bermotor, juga ada 2 (dua) unit pemadam helikopter. Tandon atau sumur air Dinas Pemadam Kebakaran ada di sepanjang jalan yang jaraknya setiap 200 meter.
Dalam tahun 2013, sejak Januari sampai Desember sudah terjadi 5.727 kasus kebakaran yang mengakibatkan 22.000 orang korban kehilangan tempat tinggal dan tempat usaha. Dari jumlah itu, 21 orang meninggal dunia, jelas Lee Jin Ho.
Suratkabar Busan Ilbo

Kunjungan ke sebuah penerbitan di Kota Busan, tidak dilewatkan begitu saja oleh awak media dari Kota Pahlawan. Di Busan, kantor suratkabar yang dikunjungi terletak di tengah kota, yakni suratkabar bernama: Busan Ilbo dibaca Pusan Ilbo. Dalam bahasa Inggris disebut: The Busan Ilbo (Daily News). Koran berbahasa dan aksara Korea ini telah melakukan penerbitan sejak tahun 1946.

IMG-20131217-04331
Sesuai dengan perkembangan zaman, sekarang Koran Busan Ilbo ini terus berkembang. Bahkan sudah mempunyai wartawan di berbagai negara. Termasuk, seteru Korea Selatan, yaitu Jepang. Saat ini juga ada wartawan dari Jepang yang magang di Busan Ilbo, namanya Kei Izaki (hadir dan diperkenalkan kepada rombongan wartawan dari Surabaya).
Berita dengan gambar dan foto, selain bersumber dari wartawan dan koresponden di dalam dan luar negeri Korea, juga dari kantor-kantor berita melalui internet atau on-line.
Suratkabar ini terbit tiap pagi dengan oplah (tiras) sebanyak 300,000 eksemplar setiap hari. Misi suratkabar ini bersifat umum dengan pembaca utama adalah warga kota Busan dan sekitarnya, termasuk beberapa kota di luar Busan.
Rubrik yang disajikan dalam suratkabar ini adalah: Berita nasional, internasional, daerah (distrik), kota dan wilayah lain di Korea Selatan. Juga berita politik, pemerintahan, olahraga, budaya dan kesenian, hiburan, ilmu pengetahuan, bisnis dan iklan.

Dong-Eui University

Rombongan dari Surabaya ini sengaja mendatangi sebuah kampus perguruan tinggi di Kota Busan yang juga mempunyai beberapa hubungan dengan beberapa perguruan tinggi dan sekolah menengah di Surabaya. Universitas Dong-Eui University atau Dong-Eui University memang sudah tidak asing di kalangan pakar kota di Surabaya. Saat berkunjung ke kampus yang terletak di puncak bukit itu, kami disambut langsung oleh Presiden (Rektor) Universitas Dong-Eui Busan, Mr. Sang-Moo Shim, Ph.D in Law di ruang sidang pertemuan rektorat kampus Dong-Eui Busan.

Picture 087
Presiden (Rektor) universitas ternama di Busan ini didampingi lima profesor. Prof. Sang-Moo Shim menjelaskan bahwa Dong-Eui University Busan berdiri tahun 1966. Visinya adalah meningkatkan kualitas pendidikan untuk kesejahteraan masyarakat. Universitas Dong-Eui merupakan pusat pendidikan profesional yang mengelola jenjang pendidikan tingkat SMP, SMA, fakultas untuk S-1 dan pasca sarjana. Fasilitas pendidikan terletak di dalam Kota Busan yang bersih dan luas.
Jumlah mahasiswa Universitas Dong-Eui akhir tahun 2013 ini mencapai 13.000 orang dengan jumlah pengajar 1.500 orang. Universitas ini terdiri dari 9 (sembilan) fakultas dengan 78 (tujuh puluh delapan) jurusan. Fakultas tersebut adalah: Sastra, Hukum, Komersial, FMIPA (Matemathika dan IPA), Kedokteran, Teknik, Keolahragaan dan Kesenian. Semua fakultas itu juga sampai ke jenjang magister dan doktor (S-2 dan S-3).
Dalam prosentase penyaluran lapangan kerja Universitas Dong-Eui Busan termasuk peringkat ke-11 di Korea dan ke-1 di Busan.
Tentang kerjasama Universitas Dong-Eui dengan beberapa Perguruan Tinggi di Surabaya, termasuk kegiatan belajar-mengajar pertukaran mahasiswa dan siswa SMA-SMK di Surabaya. Secara rinci dipaparkan program kerjasama pendidikan yang sudah dilaksanakan, yaitu pendidikan untuk guru dan siswa. Disampaikan pula tentang kerjasama dan informasi pendaftaran mahasiswa asing tahun 2014-2015 mendatang. (*)

Mengapa HUT Surabaya Diubah Jadi 31 Mei?

Yousri-jashitam07Dulu HUT Kota Surabaya

Diperingati Setiap 1 April

 

Oleh: HM Yousri Nur Raja Agam *)

 

 

DULUHari Jadi Kota Surabaya diperingati setiap tanggal 1 April. Sebab pada tanggal 1 April 1906 itulah Pemerintah Kota Surabaya terbentuk. Tetapi, mengapa sekarang warga kota Surabaya merayakan hari jadi Kota Pahlawan ini menjadi tanggal 31 Mei.?

Seandainya, HUT Surabaya diperingati setiap tanggal 1 April, maka tahun 2009 ini Surabaya baru berusia 106 tahun. Namun dengan diubah menjadi tanggal 31 Mei, maka usianya menjadi tujuh abad lebih. Sebab, hari lahir Surabaya dianggap tanggal 31 Mei 1293.

Peubahan hari ulang tahun Kota Surabaya itu terjadi sejak tahun 1975. Artinya pada tahun 1974, Surabaya masih memperingati HUT ke 68 pada tanggal 1 April 1974. Setahun kemudian, pada tahun 1975, HUT itu berubah menjadi tanggal 31 Mei dan sertamerta Surabaya menjadi sangat tua, yakni berusia 682 tahun.

Nah, generasi muda dan generasi yang akan datang perlu mengetahu sejarah Kota Surabaya. Termasuk sejarah perubahan hari jadi Surabaya dari tanggal 1 April menjadi 31 Mei.

Beginilah kisahnya:

Berdirinya Pemerintahan Kota Surabaya, bersamaan dengan empat kota di Hindia Belanda atau Indonesia waktu. Ini adalah pembentukan pemerintahan kota yang pertama kali di Nusantara ini. Ke empat kota itu adalah: Surabaya, Bandung, Medan, dan  Makassar. Selanjut tiap tanggal 1 April berdiri kota-kota lain di Indonesia.

Pemerintahan Kota umumnya didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda di kota yang banyak ditinggali oleh warga Belanda. Demi keamanan dan terpisah dari Pemerintahan Kabupaten yang dipimpin oleh bupati yang berasal dari warga pribumi. Sedangkan Pemerintah Kota dinyatakan bersifat otonom dan dipimpin oleh bangsa Belanda. Pemerintahan Kota disebut Gemeente.

Status yang diberikan kepada Surabaya oleh Pemerintahan Hindia Belanda tahun 1906 adalah “Zelfstaandige Stadsgemeente” atau Kotapraja dengan hak otonom.

Peringatan HUT (Hari Ulang Tahun) Kota Surabaya yang selalu dirayakan setiap tanggal 1 April itu dirasa kurang sregatau kurang pas. Rasanya kurang pas kalau Surabaya yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Mojopahit, ternyata dalam peringatan HUT-nya masih “terlalu muda”.

Dalam berbagai legenda dan cerita lama, nama Surabaya tidak lepas dari sejarah berdirinya Karajaan Majapahit. Maka disepakatilah, bahwa hari lahir Surabaya hamper bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Majapahit.

Citra dan imagesudah terbentuk, bahwa Surabaya sudah berusia “tua sekali”, yakni tujuh abad. Hari ulang tahunnya diperingati setiap tanggal 31 Mei, karena disepakati Surabaya ada dan berdiri sebagai sebuah permukiman resmi pada tanggal 31 Mei 1293.

Ceritanya dulu, beberapa orang yang peduli terhadap Surabaya, menyampaikan kepada Walikota Surabaya, R.Soekotjo (waktu itu), agar hari lahir atau hari jadi Surabaya, tidak berdasarkan pembentukan pemerintahan kota atau Gemeente, tetapi berdasarkan sejak kapan adanya nama Surabaya disebutkan sebagai suatu kawasan permukiman. Dengan demikian, usia Surabaya tidak terlalu muda, namun sudah sekian abad.

Para tokoh masyarakat, ahli sejarah, pengamat dan para wakil rakyat waktu itu bersepakat untuk melakukan pengkajian tentang sejarah Surabaya. Dari penelusuran sejarah yang diperoleh dari berbagai buku bacaan, prasasti dan temuan-temuan lainnya, termasuk cerita rakyat dan legenda, ditemukan beberapa tanggal yang mempunyai kaitan dengan sejarah Surabaya

Berdasarkan keputusan Walikota Surabaya tahun 1973, dibentuklah tim khusus untuk melakukan penelitian. Tim itu melakukan penelitian secara ilimiah, selama satu tahun lebih. Akhirnya, ada empat tanggal yang ditetapkan sebagai alternatif hari jadi Surabaya. Dari empat tanggal yang diusulkan itu, ditetapkan tiga tanggal yang cukup layak dan satu tanggal dinyatakan minderheids nota, oleh anggota tim.

Alternatif pertamayang diajukan tim adalah tanggal 31 Mei 1293. Disebutkan, bahwa pada tanggal itu, tentara Raden Wijaya dari Mojopahit memenangkan peperangan melawan tentara Tar-tar yang dikomandani Khu Bilai Khan dari Cina dan berhasil mengusirnya dari Hujunggaluh, nama desa di muara Kalimas.

Alternatif kedua, tanggal 11 September 1294, waktu itu Raden Wijaya menganugerahkan tanda jasa kepada Kepala Desa Kudadu dan seluruh rakyatnya atas jasa mereka membantu tentara Raden Wijaya mengusir tentara Tar-tar.

Alternatif ketiga, tanggal 7 Juli 1358, yaitu tanggal yang terdapat pada Prasasti Trowulan I yang menyebut untuk pertamakalinya nama Surabaya dipakai sebagai naditira pradeca sthaning anambangi(desa di pinggir sungai tempat penyeberangan).

Alternatif keempatadalah tanggal 3 November 1486, tanggal yang terdapat pada Prasasti Jiuyang menjelaskan, bahwa Adipati Surabaya untuk pertamakalinya melakukan pemerintahan di daerah ini.

Dari empat alternatif tentang hari yang bakal ditetapkan sebagai hari jadi Surabaya, dilakukan pengkajian menyangkut data sejarah, pertimbangan yang ideal dan nilai serta jiwa kepahlawanan sebagai ciri khas Surabaya. Walikota Surabaya, R.Soekotjo waktu itu mengusulkan kepada DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Kota Surabaya untuk menetapkan Hari Jadi Surabaya tanggal 31 Mei 1293.

Dalam rapat-rapat DPRD Kota Surabaya, setelah melakukan kajiulang dari berbagai aspek, DPRD Kota Surabaya dengan Surat Keputusan No.02/DPRD/Kep/75 tertanggal 6 Maret 1975, mengesahkan dan menetapkan Hari Jadi Surabaya tanggal 31 Mei 1293. Berdasarkan itu, Walikota Surabaya R.Soekotjo menindaklanjuti dengan mengeluarkan Surat Keputusan No.64/WK/75 tanggal 18 Maret 1975, yang menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai Hari Jadi Surabaya.

Dengan ditetapkannya tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi Surabaya, maka sejak tahun 1975, peringan HUT Surabaya berubah dari tanggal 1 April menjadi 31 Mei, hingga sekarang ini.

Diprotes Ahli Sejarah

Saat peringatan tujuh abad atau 700 tahun Berdiri Kerajaan Majapahit, penetapan Hari Jadi Surabaya, 31 Mei 1293, yang disebutkan  sebagai hari bersejarah, yaitu saat kemenangan tentara Raden Wijaya mengusir tentara Tar Tar pimpinan Khu Bilai Khan, dan meninggalkan Hujunggaluh, ternyata “diprotes” ahli sejarah.

Dalam Buku 700 Tahun Majapahit, Suatu Bunga Rampai, tentang sejarah perkembangan Majapahit, halaman 53, oleh Dr.Riboet Darmosutopo dari Universitas Gadjah Mada, menegaskan, bahwa tentara Khu Bilai Khan, meninggalkan Jawa, yakni pantai Hujung-galuh adalah tanggal 19 April 1293 M. Pasukan Tar Tar itu dihancurkan oleh pasukan Raden Wijaya, dan sebagian lagi melarikan diri dan selamat sampai di Cina. (W.P.Groeneveldt, 1960: 20-24)

Setelah berhasil mengusir tentara Tar Tar, Raden Wiijaya melakukan persiapan mendirikan kerajaan baru, namanya Majapahit. Berdirinya Majapahit, ditandai dengan naik tahtanya Raden Wijaya tanggal 12 November 1293.

Nah, kalau tanggal kemenangan Raden Wijaya itu yang dijadikan patokan Hari Lahir atau Hari Jadi Surabaya, kata beberapa ahli sejarah dalam perdebatannya saat memperingati 700 tahun Majapahit itu, maka tanggal yang benar adalah 19 April 1293, bukan tanggal 31 Mei 1293.

            Yang jelas, apapun dalilnya, sejak tahun 1975, Surabaya memperingati hari jadi tiap tanggal 31 Mei dan sebelumnya tiap tanggal 1 April. Tetapi, apakah mungkin diubah lagi? Ah, rasanya tidak perlu. Tua atau muda sebuah kota seperti Surabaya ini, yang penting penataan kota itu bermanfaat bagi warganya.

Raden Wijaya

Kelahiran Surabaya selalu dikaitkan dengan Raden Wijaya. Siapakah sebenarnya Raden Wijaya? Warga kota Surabaya dan pemerhati Surabaya, layak mengetahui tentang siapa sebenarnya Raden Wijaya.

Banyak sumber yang membicarakan tentang tokoh Raden Wijaya. Kitab-kitab kidung Pararaton, Nagarakertagamadan prasasti adalah sumber pokok yang mengungkap peranan Raden Wijaya sebagai pendiri Kerajaan Majapahit.

Raden Wijaya adalah anak Dyah Lembu Tal, cucu Mahisa Cempaka atau Narasinghamurti, buyut Mahisa Wongateleng, piut (canggah) dari Ken Arok-Ken Dedes.

Raden Wijaya mula-mula mengabdi kepada raja Kertanegara dan dipercaya memimpin prajurit Singasari. Maka tidak aneh ketika Singasari diserang Jayakatwang, Raden Wijaya diperintah untuk menghadapinya.

Ketika Singasari diduduki prajurit Kadiri, puteri-puteri Kertanegara yang akan dikawinkan dengan Raden Wijaya ditawan mereka. Dengan usaha yang gigih puteri yang tua berhasil direbut Raden Wijaya, meskipun Raden Wijaya beserta teman-temannya terus dikejar tentara Kadiri.

Prasasti Kudadu menyebutkan bahwa Raden Wijaya kemudian berunding dengan ke-12 prajuritnya yang setia. Mereka sepakat mengungsi ke madura untuk berlindung kepada Arya Wiraraja. Raden Wijaya keluar dari hutan menuju Pandakan, dan karena Gajah Panggon sakit, ia ditinggal di rumah kepala desa Pandakan. Raden Wijaya dan prajuritnya menuju ke Datar dan malam harinya menyeberang dengan perahu ke Madura.

Setiba di Madura Raden Wijaya menghadap Arya Wiraraja. Dia dinasehati agar menghamba kepada Jayakatwang di Kadiri. Tujuan pokoknya ialah untuk melihat kekuatan kerajaan Kadiri. Ketika penghambaan telah diterima dan juga diberi kepercayaan oleh oleh Jayakatwang, Raden Wijaya dianjurkan Arya Wiraraja agar minta huta Terik untuk dijadikan kota. Arya Wiraraja membantu dengan mengerahkan orang Madura sebagai tenaga kerja.

Setelah Terik sudah jadi kota dan Raden Wijaya tinggal di sana, ia berhasrat menyerang Jayakatwang. Tetapi atas nasehat Arya Wiraraja, maksud Raden Wijaya itu ditangguhkan sambil menunggu datangnya tentara Tar Tar.

Tentara Tar Tar yang dipimpin Shih-pi, Ike Mase, dan Kau Hsing datang ke Jawa dengan maksud menghukum raja Kertanegara yang telah berani merusak muka Meng Chi utusan Kaisar Khubhilai Khan. Mereka tidak tahun kalau Kertanegara sudah wafat karena serangan Jayakatwang. Atas nasehat Arya Wiraraja, Raden Wijaya bersekutu dengan tentara Tar Tar untuk menghantam tentara Jayakatwang. (W.P.Groeneveldt, 1960: 20-30). Karena kalah Jayakatwang kemudian lari ke Junggaluh, tetapi ia tertangkap dan ditahan di Junggaluh ini. Di tempat tahanan, Jayakatwang menulis kidung Wukir Polaman. Disebutkan ia meninggal di Junggaluh pula.

Tentara Tar Tar Kalah

Setelah Jayakatwang mangkat, Raden Wijaya melihat peluang untuk menghancurkan tentara Tar Tar. Dengan kekuatan dan taktik yang jitu, Raden Wijaya dengan pasukan setianya berhasil memporakporandakan tentara Tar Tar. Tentara Tar Tar kalah dan diusir dari Junggaluh. Sebagian di antara mereka meninggal dunia, sebagian lagi terpencar lari menyelamatkan diri menuju pelabuhan Tuban dan kembali ke Cina.

Peristiwa kekalahan tentara Tar Tar oleh pasukan Raden Wijaya terjadi tanggal 19 April 1293. Jadi bukan tanggal 31 Mei 1293 yang dijadikan sebagai rujukan untuk menetukan lahirnya Surabaya – belum disebut kota – karena pemerintahan waktu itu masih setingkat desa.

Pararatondan Nagarakertagamamemberi data yang sama. Pararatonmemberitakan bahwa Raden Wijaya naik takhta pada tahun 1216 C atau sama dengan 1294 M: …. samangka raden wijaya ajejeneng prabbu i caka rasa rupa dwi citangcu, 1216 ….  (Par). Demikian pula Nagarakertagamamemberitakan bahwa setelah Jayakatwang maninggal dunia, pada tahun 1216 C sama dengan 1294 AD, Raden Wijaya naik takhta di Majapahit bergelar Kertarajasa Jayawardhana. Berita tersebut dikutip sebagai berikut:

……. ri pjah nrpa jayakatwan awa tikang jagat alilan masa rupa rawi cakabda rika nararyya sira ratu siniwin pura ri majapahit tanuraga jayaripu tinlah nrpa krtarajasa jayawardhana nrpati (Nag..45:1)

Menurut kidung Harsawijaya, Raden Wijaya naik takhta tepat pada purneng kartika masa panca dasi 1215 C, yaitu tanggal 15 saat rembulan purnama bulan Kartika tahun 121 C yang bertepatan dengan 12 November 1293. Bardasarkan pada prasasti Kudadu, pada bulan Bhadrawapada 1216 C (1294 M), Raden Wijaya telah disebut Kartarajasa Jayawardhananamarajabhiseka. Dan di sini ditegaskan pula, bahwa tentara Khubilai Khan meninggalkan Jawa tanggal 19 April 1293 dan Raden Wijaya naik takhta tanggal 12 November 1293, serta Raden Wijaya yang sudah bergelar Kertarajasa Jayawardhana memberi anugerah sima kepada ramadi Kudadu.                                                                                          

 

Membalik Telapak Tangan

Tidak mudah menentukan dan menetapkan tanggal 31 Mei 1293 Masehi sebagai Hari Jadi Surabaya. Sebagaimana bunyi pepatah, “tidak semudah membalik telapak tangan”. Artinya, untuk menentukan tanggal yang dianggap paling mendekati, melalui proses panjang dan cukup rumit.

Ceritanya, pada tahun 1970-an, peringatan Hari Jadi Kota Surabaya yang diperingati tiap tanggal 1 April dirasakan kurang mantap. Sebab, tanggal 1 April 1906  yang dijadikan pedoman peringatan hari jadi atau hari ulang tahun, adalah tanggal pembentukan Pemerintah Kota Surabaya yang di zaman Hindia Belanda disebut GemeenteSurabaya. Jadi, bukan tanggal lahir atau berdirinya Surabaya sebagai satu ranah permukiman. Secara tegas dinyatakan, bahwa 1 April 1906 adalah hari pembentukan Pemerintahan Kota Surabaya, bukan hari jadi atau berdirinya Surabaya. Artinya, Surabaya sudah ada sebelum Pemerintahan Kota Surabaya dibentuk.

Setelah menerima berbagai saran, usul dan bahkan kritik dari warga kota yang disampaikan secara langsung, melalui surat dan menulis opini di mediamassa, tentang Hari Jadi Surabaya, akhirnya Pemerintah Kota Surabaya, memutuskan membentuk sebuah tim.

Wiwiek Hidayat, wartawan senior yang waktu itu sebagai Kepala Kantor LKBN Antara Surabaya, mengatakan kepada penulis, saat peringatan HUT ke-67 Kota Surabaya tanggal 1 April 1973, ia secara pribadi mendesak Walikota Surabaya, R.Soekotjo, waktu itu untuk melakukan tinjauan ulang terhadap HUT Surabaya berdasarkan pembentunkan GemeenteSurabaya, 1 April 1906 itu. Untuk metakinkan Pak Koco – panggilan akrab Walikota Surabaya R.Soekotjo – ujar ujar Wiwek Hidayat, ia juga membawa tulisan-tulisannya yang dimuat di Bulletin Antara dan juga dikutip di berbagai suratkabar dan majalah tentang sejarah Surabaya.

“Pak Koco benar-benar bersemangat. Beliau  langsung mengajak saya bertemu di ruang kerjanya. Bahan-bahan berupa kliping berita dan tulisan tentang Sejarah Surabaya itu saya serahkan kepada Pak Koco. Setelah membaca sejenak, beliau memanggil ajudan agar menelepon beberapa orang stafnya. Hadir empat orang menyertai Pak Koco.Yang saya ingat waktu itu salah satu stafnya Pak Pakiding. Sebab dia yang diserahi untuk mempersiapkan pembentukan Tim Peneliti Sejarah Surabaya, khususnyya untuk menentukan tanggal yang pantas untuk Hari Jadi Kota Surabaya”, kata Wiwik Hidayat dalam suatu wawancara khusus dengan penulis.

Sehari setelah peringatan Hari Jadi atau HUT (Hari Ulang Tahun) ke-67 Kota Surabaya, yakni tanggal 2 April 1973, Walikota Kepala Daerah Kotamadya Surabaya R.Soekotjo mengeluarkan Surat Keputusan No.99/WK/73 tentang perlunya diadakan kaji ulang penentuan Hari Jadi Kota Surabaya.

Untuk melengkapi SK Walikota Surabaya  No.99/WK/73 itu, Walikota Surabaya, R.Soekotjo kemudian menerbitkan SK No.109/WK/73 tanggal 10 April 1973  tentang Pembentukan Tim Penelitian Hari Jadi Kota Surabaya.

Salah satu alasan dibentuknya tim, diungkap pada dasar SK tersebut, yaitu: bahwa hari ulang tahun Kota Surabaya pada tanggal 1 April, adalah saat peresmiannya sebagai Gemeente Surabaya pada tanggal 1 April 1906 oleh Pemerintah Belanda. Tanggal hari ulang tahun Kota Surabaya tersebut di atas (1 April) selain berbau kolonial juga tidak sesuai dengan kenyataan, karena Surabaya sudah ada jauh sebelum tanggal tersebut, yaitu sudah ada pada zaman Pemerintah Prabu Kartanegara sekitar abad ke-13.

Begitu seriusnya Pak Koco – begitu walikota R.Soekotjo akrab disapa – menyambut harapan warga Kota Surabaya untuk melakukan kaji ulang  hari jadi Surabaya, maka diundanglah para ahli sejarah, peneliti, pemerhati, wartawan, penulis dan tokoh masyarakat. Dari sekian banyak yang berkumpul, akhirnya disepakati menunjuk 13 orang yang dinilai layak dan patut, yaitu:

1.    Prof.A.G.Pringgodigdo,SH – pensiunan Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya selaku Penasihat merangkap anggota.

2.    Prof.Drs.S.Wojowasito – Guru besar IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Malang, sekarang menjadi UM (Universitas Negeri Malang) selaku Ketua I merangpap anggota.

3.    Prof.Koentjoro Poerbopranoto,SH – Guru besar Fakultas Hukum Unair Surabaya selaku Ketua II merangkap anggota.

4.    Drs.Prayoga – Kepala Pembinaan Museum Jawa Timur selaku Ketua III merangkap anggota.

5.    Kolonel Laut Dr.Sugiyarto – Kepala Staf Kekaryaan Daerah Angkatan Laut 4 Surabaya sebagai anggota.

6.    Drs.M.D.Pakiding – Staf Pemerintah Kotamadya Surabaya selaku Sekretaris merangkap anggota.

7.    Drs.Issatrijadi – Dosen Fakultas Sosial IKIP Surabaya (sekarang bernama Universitas Negeri Surabaya disingkat Unesa) selaku anggota.

8.    Drs.Heru Soekadri K – Dosen Fakultas Sosial IKIP Surabaya. Selaku anggota.

9.    Banoe Iskandar – Pensiunan Kepala Inspeksi Kebudayaan Jawa Timur selaku anggota.

10.  Wiwiek Hidayat – Pimpinan LKBN Antara Cabang Surabaya dan Anggota Dewan Kesenian Surabaya (DKS) selaku anggota.

11.  Tajib Ermadi – Redaksi Majalah Jayabaya selaku anggota.

12.  Soenarto Timoer – selaku anggota.

13.  Soeroso – Pensiunan Komisaris Polisi selaku anggota.

Setelah tim terbentuk, maka diselenggarakan rapat-rapat untuk menentukan pembagian tugas dan kegiatan masing-masing anggota tim. Untuk menghimpun data faktual, relevan dan valid, maka tim membentuk tiga Panitia Ad-Hok.

Proses dan Historis Surabaya, penelitiannya diketuai oleh Prof.Drs.Suwoyo Woyowasito. Hal yang berhubungan dengan Mitos Surabaya, diketuai oleh Drs.Heru Soekadri K. Untuk menghimpun data tentang lokasi Surabaya, diketuai oleh Wiwiek Hidayat.

Ketiga panitia Ad-Hokmelakukan penelitian yang mendalam, Metoda penelitian sebagaimana lazimnya, dilakukan secara ilmiah, yaitu  library research(riset perpustakaan), field research(riset lapangan) dan intervieuw(wawancara).

Tim peneliti bertugas merumuskan tanggal yang tepat berdasarkan sejarah tentang hari jadi Surabaya. Jadwal yang ditetapkan untuk anggota tim adalah tanggal  16 April 1973 hingga 16 September 1973.

Tiga Alternatif

Dari berbagai sumber penelitian yang dilakukan secara cermat selama lima bulan itu, tim sampai pada suatu kesimpulan. Ada tiga tanggal yang ditetapkan sebagai alternatif. Ke tiga tanggal itu diajukan kepada Walikota Surabaya untuk ditetapkan sebagai Hari Jadi Surabaya. Ke tiga tanggal tersebut mempunyai peristiwa dan riwayat sendiri-sendiri, tetapi satu sama lain ada pertautan dan kaitannya. Selain itu diajukan pula satu “minderheids nota” yang berisi pendapatdari  Soeroso.

Tanggal-tanggal yang diajukan itu adalah:

1.   Tanggal 31 Mei 1293Masehi,

Yaitu: saat kemenangan tentara Raden Wijaya atas tentara Tartar.  (berdasarkan laporan penelitian ilmiah Drs.Heru Soekadri, Kol.Laut.Dr.Sugiyarto dan Wiwiek Hidayat).

2.   Tanggal 11 September 1294Masehi,

Yaitu saat penganugerahan tanda jasa kepada kepala desa dan rakyat desa Kudadu atas jasanya menyelamatkan Raden Wijaya.

3.   Tanggal  7 Juli 1358Masehi,

Yaitu suatu tanggal pada Prasasti Trowulan, di mana disebutkan untuk pertamakalinya nama Surabaya dengan tulisan SURABAYA (menurut transkripsi dari huruf Jawa kuno ke huruf Latin). Surabaya dinyatakan selaku naditira pradecasebagai salah satu tempat penambangan ke pulau-pulau Nusantara atau pelabuhan intersuler. (laporan ilmiah itu disampikan oleh Issatrijadi dan Soenarto Timoer).

4.   Tanggal 3 November 1486Masehi,

Yaitu tanggal pada Prasasti Jiu di mana Adipati Surabaya menuirut pakemmelakukan pemerintahan (Laporan dari Soeroso).

Laporan Soeroso ini diajukan oleh tim sebagai “minderheids nota”, karena dianggap muda.

Tim Peneliti Hari Jadi Kota Surabaya dengan seberkas data menyampaikan laporan hasil kerja mereka kepada Walikota Surabaya. Dengan surat resmi  No.36/II/73/TP.HJKS tanggal 27 September 1973 tim mengharapkan Pemerintah Kota Surabaya menetapkan satu di antara tiga alternatif tanggal di atas, karena yang satu sudah dinyatakan “minderheids nota”.

Tim melampirkan tujuh makalah (kertas kerja) anggota tim dengan judul masing-masing, yaitu:

1.   “Sekitar Legende Mythos Surabaya” disusun oleh Drs.M.D.Pakiding.

2.   “Tentang hal Hari Jadi Kota Surabaya”  disusun oleh Prof.Drs.S.Wojowasito.

3.   “Usia Surabaya” disusun oleh Prof.Koentjoro Poerbopranoto,SH.

4.   “Lokasi Surabaya di Waktu Kapan”  disususn oleh Wiwiek Hidayat.

5.   “Surabaya, suatu pendekatan dalam meneliti Hari Jadi Surabaya” disusun oleh Drs.Issatrijadi.

6.   “Dari Hujung Galuh ke Surabaya” disusun oleh Heru Soekadri.

7.   “Surabaya, manifestasi ehidupan rakyat Kahuripan, Jawa Timur” disusun oleh Kolonel Laut.Dr.Sugiyarto.

Setelah menerima laporan dari panitia bersama lampiran penelitiannya, maka Walikota Surabaya, R.Soekotjo dengan suratnya No.0.104/20 tanggal 27 Desember 1973, mengusulkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat daerah (DPRD) Kota Surabaya, dengan tidak mengurangi kebebasan mengeluarkan pendapat dari pihak legislatif, agar dapatnya dipilih tanggal 31 Mei 1293 Masehi sebagai Hari Jadi Kota Surabaya, sebagai pengganti 1 April 1906, dengan alasan:

Kemenangan Raden Wijaya atas tentara Tartar (tentara kolonial Khu Bi Lai Khan) merupakan suatu kebanggaan (pride) rakyat Surabaya khusunya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Karena apabila dihubungkan dengan peristiwa 10 November 1945, membuktikan kepada kita bahwa sejak dari dahulu bangsa Indonesia bertekad untuk tidak mau dijajah.

 

Sulit Ditentukan

DPRD Kota Surabaya yang menerima usulan perubahan peringatan Hari Jadi Surabaya dari tanggal 1 April 1906 menjadi tanggal 31 Mei 1293, tidak  sertamerta menyetujui. Pimpinan DPRD menugaskan Komisi A untuk melakukan kajian dan pembahasan. Beberapa kali diselenggarakan rapat khusus untuk menentukan tanggal yang dapat ditetapkan atau dipilih.

Pada rapat tanggal 17 Februari 1974, Komisi A membuat kesimpulan yang isinya:

Sulit ditentukan tangal mana dari tiga alternatif tanggal yang diajukan oleh tim untuk ditetapkan sebagai tanggal Hari Jadi Kota Surabaya. Sebab ke tiga tanggal tersebut sama-sama merupakan hasil penemuan ilmiah”.

Masalah tersebut dikembalikan kepada Pimpinan DPRD Surabaya, dengan permintaan agar diadakan suatu pertemuan kembali dengan eks tim Peneliti Hari Jadi Kota Surabaya. Di mana unsur Pimpinan Komisi yang lain diikutsertakan.

Di bawah  pimpinan Ketua DPRD Kotamadya Surabaya, Komisi A dan unsur pimpinan lainnya, pada tanggal 28 Maret 1974, diadakan pertemuan dengan eks Tim Peneliti Hari jadi Kota Surabaya. Pertemuan itu tidak banyak menghasilkan kemajuan. Komisi A tetap pada pendirian semula dan menyerahkan kembali masalahnya kepada Pimpinan DPRD Surabaya.

Ada yang menarik di tahun 1974 ini, peringatan HUT ke-67 Kota Surabaya tanggal 1 April 1974 tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Rencana perubahan Hari Jadi Surabaya sudah mempengaruhi opini masyarakat warga kota. Apalagi waktu itu, tulisan tentang sejarah dan hari jadi Surabaya banyak muncul di mediamassa. Secara kebetulan walikota Surabaya juga baru diganti. Masa jabatan R.Soekotjo sudah berakhir. Sejak tanggal 23 Januari 1974, tampuk pimpinan kota Surabaya sebagai Walikotamadya Surabaya beralih kepada Kolonel R.Soeparno.

Kendati demikian, DPRD Surabaya tidak berhenti membahas masalah kaji ulang penetuan hari Jadi Kota Surabaya. Sesuai dengan jenjang pembahasan berikutnya, permasalahan itu diajukan oleh Pimpinan dalam forum Panmus (Panitia Musyawarah) yang diadakan tanggal 29 Mei 1974.

Kesimpulan rapat Panmus disampaikan dengan surat Pimpinan DPRD Surabaya No.84/DPRD/SK tanggal 26 Juni 1974 yang ditujukan kepada Walikota Surabaya.

Walikotamadya Surabaya R.Soeparno (walikota Surabaya R.Soeparno menggantikan jabatan R.Soekotjo, terhitung sejak 23 Januari 1974) tidak langsung membalas surat dari DPRD Surabaya itu. Baru tiga bulan kemudian dengan surat No.01000/23 tanggal 25 September 1974, Walikotamadya Surabaya, R.Soeparno, memberikan penegasan bahwa, kembali mengusulkan dapat kiranya tangal 31 Mei 1293 untuk ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Surabaya. Alasannya sama dengan surat yang dikirim ke DPRD tanggal  27 Desember 1973.

Tidak cukup dengan surat, Walikotamadya  Suarabaya Drs.R. Soeparno kemudian menyampaikan penjelasan lisan dalam forum Rapat Peleno Terbuka DPRD Surabaya tanggal 7 November 1974.

Dari Rapat Pleno DPRD Surabaya itu, kemudian dibentuk Pansus (Panitia Khusus) untuk mengadakan penilaian terhadap usul yang disampaikan oleh Walikota Surabayas tersebut.

Anggota Pansus DPRD Kotamadya Surabaya yang membahas usulan tentang penetapan Hari jadi Kota Surabaya itu sebanyak 15 orang dengan ketua Eddy Sutrisno dan wakil ketua H.A.Zakky Ghoefron. Anggotanya adalah: Sutrisno BA, Hasan Ibrahim SH, Muchsin SH, Munahir, Bambang Rudjito, J.Sugiyanto, Anas Thohir Syamsudin, R.Sumono Hs, Drs.J.Karmeni, Ahadin Mintarum, Umar Buang, Kaptiyono, Drs.Nana Sumantri.

Delapan kali dilakukan rapat untuk membahas secara khusus untuk menetapkan Hari Jadi Surabaya itu. Secara berturut-turut tanggal 8, 9, 13, 16, 18 dan 30 Januari 1975, serta dilanjutkan tanggal 3 dan 10 Februari 1975. Rapat-rapat yang dipimpin langsung oleh Ketua DPRD DPRD Surabaya itu selalu mencapai quorum, sesuai tatatertib, sehingga dinyatakan sah.

Tidak begitu mudah DPRD Surabaya menyetujui usul Walikotamadya Surabaya agar menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi Surabaya. Pansus DPRD Surabaya itu lebih dahulu menetapkan pedoman yang dipakai.

Diawali dengan kalimat: “Mencari Hari Jadi Kota Surabaya dengan jiwa kepahlawanan yang diridloiTuhan Yang Maha Esa menuju kerukunan dan pembangunan nasional”, bahwasanya yang hendak dicapai adalah: Hari Jadi sebuah kota yang idiil merupakan Kota Pahlawan. Hari jadi sebuah kota yang cukup memenuhi ketentuan ketatanegaraan sesuai dengan kondisi pada saat ini..

Terhadap masalah ini Panitia telah menetapkan bahwa materi yang menjadi pokok pembahasan adalah “Penjelasan Walikotamadya Kepala daerah Tingkat II Surabaya pada Sidang Pleno DPRD Surabaya tanggal 7 November 1974.

Pembahasan masih terus berlanjut. Bahan-bahan kajian dan penelitian yang dilakukan oleh Tim Penelitian Hari Jadi Kota Surabaya diplototi.“Bagaimanapun juga, hasil yang diperoleh dari tim ini merupakan bahan-bahan komplementer yang berfungsi sebagai barometer. Penjabaran dari tema itu menghasilkan landasan berpijak yang kokoh sebagai fondasi yang sangat prinsip dalam menentukan Hari Jadi Surabaya”, ujar Ahadin Mintarum  salah seorang anggota Pansus DPRD Surabaya yang  sangat berhati-hati untuk menyetujui tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi yang diusulkan tim  dan walikota Surabaya.

Hasil Pembahasan

Anggota DPRD Suarabaya dengan seksama menyimak peristiwa abad XIII sesudah pemerintahan Prabu Kartanegara. Saat itu terjadi suatu peristiwa sejarah yang membanggakan. Peristiwa itu adalah kemenangan pasukan Raden Wijaya yang dibantu rakyatnya mengusir tentara Tartar. Dipandang dari segi tinjauan nasional, peristiwa pengusiran tentara Tartar itu merupakan peristiwa terbebasnya kepulauan Indonesia dari penjajahan atau intervensi tentara asing.

Pelaku peristiwa itu adalah Raden Wijaya yang menurut bukti sejarah diakui sebagai pahlawan besar. Sebagai ilustrasi, kita perlihatkan di sini faktanya sebagai berikut:

a.   Dalam Prasasti Gunung Butak tahun 1216 Caka atau 1294 AD, Raden Wijaya disebut sebagai “Raja yang dipujikan sebagai pahlawan besar yang utama”.

b.   Dalam Prasasti Gunung Pananggungan oleh Kertarajasa tahun 1218 Caka atau 1296 AD, Raden Wijaya disebut sebagai “Pahlawan di antara Pahlawan”.

Dari uraian singkat di atas sudah dapat disimpulkan bahwa apa yang disebut nilai idiil yang mengandung sifat kepahlawanan dapat terpenuhi.

Pembahasan mengenai lokasi terjadinya peristiwa kepahlawanan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

a.   Pendapat Prof.Dr.N.J.Krom dan lebih diperkuat lagi dengan pendapat Drs.Oei Soen Nio, dosen sejarah Tiongkok dari Seksi Sinologi Jurusan Asia Timur, Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang menerangkan bahwa menurut pembacaan tulisan Cina, kata Sugalu,harus dibaca Jung Ya Lu.Dengan demikian, maka ucapannya lebih mendekati Junggaluh daripada Sedayu.

b.   Prof Dr. Suwoyo Woyowasito dengan dasar perkembangan bunyi, dapat membuktikan bahwa Suyaluadalah perubahan bunyi lafal Tionghoa dari kata Hujungaluh.

c.   Suatu data lagi, bahwa Shihpi, salah seorang panglima tentara Tartar yang semula men-darat di Tuban, setelah tiba di Su-ya-lumemerintahkan tiga pejabat tinggi dengan naik perahu cepat ke jembatan terapung Majapahit (the floating bridge of Majapahit).. Ke tiga pejabat tinggi yang berangkat dari Su-ya-lutersebut tentunya melalui  sungai menuju ke pusat kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Dengan demikian dapat dibuktikan sungai yang dilalui adalah Kali Brantas, bukan Bengawan Solo. Bahkan dapat dikatakan bahwa Su-ya-luterdapat di pantai dan muara Kali Brantas. Kenyataan ini sesuai dengan faktor dari sumber Prasasti Kelagen (1037 AD) yang dilengkapi dengan faktor dari buku Chu-fan-Chi-kua(1220 AD), yang menyatakan bahwa Hujunggaluh terletak di pantai dan muara Kali Surabaya. Maka dengan demikian, kuatlah suara pendapat bahwa:

Su-ya-lu sama dengan Hujunggaluh yang terletak di pantai, di muara Kali Surabaya dan tidak sama dengan Sedayu yang sekarang terletak di tepi Bengawan Solo, dengan                  muaranya yang baru di Ujung Pangkah.

d.   Fakta itu diperkuat lagi  behubungan dengan Kidung Harsa Wijaya yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut::

“Mangke wus wonten Jung Galuh sampun akukuto lor ikang Tegal Bobot Sekar sampun cirno linurah punang deca tepi siring ing Canggu”

Artinya:

“Sekarang (tentara Tartar) sudah ada di Jung Galuh dan sudah membuat benteng sebelah utara Tegal Bobot Sekar (sari) para lurah desa di wilayah Canggu sudah musnah.”

Dengan demikian Panitia Khusus (Pansus) DPRD dapat menerima, bahwa lokasi Hujunggaluh ada di wilayah Surabaya.

Menganai persyaratan hukum ketatanegaraan sebagai kota, diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

Berdasarkan tinjauan sosial ekonomis, Drs.JBA Mayor Polak menentukan dua ukuran yang dipakai sebagai penentu ciri kota, yaitu:

a.   Ukuran pertama berhubngan dengan sifat ekonomis kota, yaitu tidak agraris. Penduduk kota mendatangkan makanannya dari tempat lain. Orang kota bukan orang tani. Berhubungan dengan lapangan pekerjaan, ini menimbulkan adanya sebutan-sebutan seperti kota dagang, kota industri, kota pegawai dan lain-lain.

b.   Ukuran yang kedua, berdasarkan tinjauan sosiologis yang menitikberatkan pada sifat hubungan antara anggota masyarakat. Penduduk kota kurang menitikberatkan pada antar hubungan primer, tetapi lebih mengutamakan antar hubungan kepentingan sehingga mempunyai ikatan yang agak longgar. Hal ini menurut Dr.Bouman, disebabkan karena penduduknya yang heterogen.

Berdasarkan dua kriteria kota tersebut, Drs.JBA Mayor Polak, lalu membedakan adanya dua macam kota asli di Indonesia.

Pertama: kota ang punya corak sebagai kota keraton di pedalaman.

Kedua,sebagai kota dagang di pantai. Kota keraton timbul karena adanya pusat pemerintahan di suatu tempat. Sedangkan kota dagang, biasanya timbul di tempat-tempat yang cocok bagi perdagangan, misalnya muara sungai besar atau di mana ada pertemuan jalan lalulintas yang amat penting.

Berpijak kepada pendapat  Drs.JBA Mayor Polak itu, maka dapatlah dibuktikan bahwa Hujunggaluh dalam abad XIII sudah merupakan kota pelabuhan dagang.

Dari Prasasti Kalagen (1037 AD) dapatlah diketahui bahwa Hujunggaluh adalah pelabuhan dagang dwipantaraatau interinsuler.  Pada zaman sekarang, istilah yang digunakan Departemen Perhubungan (Dephub) adalah pelabuhan nusantara (antarpulau) dan pelabuhan samudera untuk pelayaran antar benua.

Karena pengertian ketatanegaraan itu sangat luas, maka di sini dikaitkan dengan negara kerajaan yang membawahi Hujunggaluh yang kemudian menjadi Kota Surabaya. Fakta sejarah menunjukkan, bahwa kota pelabuhan Hujunggaluh pada abad XIII merupakan wilayah kerajaan Singasari (sampai Juni 1292) dan kemudian menjadi daerah dari kerajaan Kediri  (sampai April 1293). Setelah itu, menjadi kota pelabuhan Surabaya yang berada di bawah kerajaan Majapahit.

Berdasarkan sumber data dari prasasti, kitab Pararaton dan kitab Negarakertagama, dapat dpastikan bahwa Singasari, Kediri dan Majapahit berbentuk negara kerajaan (monarkhi). Pemegang kekuasaan dan penjunjung tinggi kedaulatan adalah raja.

Dengan demikian, dapat dibuktikan secara ilmiah berdasarkan fakta-fakta sejarah, metoda riset “logical acontrario” atau pembuktian “crossing system”, serta pertimbangan akal yang sehat, bahwa Hujunggaluh sebagai suatu “kota pelabuhan dan kota dagang”. Unsur-unsur yang dimliki dan persyaratan ketatanegaraan sudah terpenuhi, walaupun dalam bentuk dan kadar yang paling sederhana.

Dapat Berubah Lagi

Memang, jika dibaca pendapat dan tanggapan, serta kesimpulan tentang penetapan tanggal Hari Jadi Kota Surabaya, masih lemah.

Diakui secara faktual bahwa tanggal yang pasti dengan pembuktian data sejarah belum ditemukan. Oleh karena itu, faktor idiil dalam penetapan tanggal Hari Jadi Kota Surabaya menjadi dominan.

Dengan pertimbangan itulah, maka tanggal Hari Jadi Kota Surabaya, diambil dari tanggal terjadinya peristiwa sejarah kepahlawanan sebagai pembahasan di atas. Sesuai pembahasan dan menurut penelitian tersebut, jatuhnya pada tanggal 31 Mei 1293 Masehi.

Setelah melalui tahap pembahasan, maka landasan tema yang telah ditentukan, Pansus (Panitia Khusus) DPRD Kotamadya Surabaya dapat menerima dan menyetujui usul Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surabaya, untuk menetapkan Hari Jadi Kota Surabaya tanggal 31 Mei 1293 M. Dengan catatan, bahwa penetapan Hari Jadi Kota Surabaya masih memungkinkan untuk dapat ditinjau kembali, bilamana di kemudian hari berdasarkan fakta sejarah yang lebih kuat ditemukan tanggal yang pasti.

Setelah melalui pembahasan yang rumit dalam waktu yang cukup panjang, pada sidang paripurna DPRD Surabaya, 6 Maret 1975, dilaksanakan sidang khusus untuk menetapkan tanggal Hari Jadi Kota Surabaya.

Pada sidang pleno itu DPRD Kotamadya Surabaya secara resmi setelah seluruh fraksi menyampaikan stemotivoring(pendapat akhir), maka menyetujui usul Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surabaya untuk menetapkan Hari Jadi Kota Surabaya: tanggal 31 Mei 1293.

Persetujuan resmi DPRD Kotamadya Surabaya itu dituangkan dengan dikeluarkannya Surat Keputusan DPRD Kotamadya Surabaya Nomor 02/DPRD/Kep/75 tanggal 6 Maret 1975.

Keputusan DPRD itu ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Walikota Surabaya No.64/WK/75 tanggal 18 Maret 1975.

Pada pertimbangan SK Walikota Surabaya tersebut, dinyatakan Hari Jadi Kota Surabaya yang diperingati setiap tanggal 1 April, saat diresmikannya Gemeente Surabaya tahun 1906 oleh Pemerintah Belanda pada saat itu, adalah tidak sesuai dengan kenyataan. Sebab, selain penetapan tanggal tersebut berbau kolonial, Surabaya sebenarnya sudah ada jauh sebelum tanggal tersebut, yaitu sekitar abad XIII.

Berdasarkan pertimbangan itu, dirasa perlu untuk menetapkan tanggal Hari Jadi Kota Surabaya yang sesuai dengan data faktual yang diperoleh dari hasil penelitian, sejarah dan ciri khas Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan.

Dari hasil penelitian tim dan pertimbangan DPRD Kotamadya Surabaya, diperoleh kesimpulan bahwa tanggal yang sesuai dengan keinginan, adalah tanggal 31 Mei 1293.

Maka pada bagian akhir SK Walikota Surabaya yang ditandatangani oleh Walikotamadya Kepala daerah Tingkat II Surabaya, H.Soeparno, tertanggal 18 Maret 1975 itu, diputuskan bahwa tanggal 31 Mei 1293 sebagai Hari Jadi Kota Surabaya.

Hingga sekarang, peringatan Hari Jadi Kota Surabaya tetap dilaksanakan setiap tanggal 31 Mei. Belum ada pihak yang secara tegas untuk mengubahnya. Kendati ada protes-protes “ringan” ari ahli sajarah dalam beberapa kali seminar. Dalam persetujuan Pansus DPRD Kota Surabaya tanggal 6 Maret 1975 ada klausal yang berbunyi “bahwa penetapan Hari Jadi Kota Surabaya tanggal 31 Mei 1293 ini masih dimungkinkan untuk ditinjau kembali, bilamana di kemudian hari berdasarkan fakta-fakta sejarah yang lebih kuat ditemukan tanggal yang pasti”.

Begitulah catatan yang berhasil penulis temukan dari dokumen sidang DPRD Kota Surabaya. ***

*) HM Yousri Nur Raja Agam – Wartawan berdomisili di Surabaya