BONEK dan PERSEBAYA

Bonek dan Persebaya

Yousri Nur Raja Agam MH


Oleh: Yousri Nur Raja Agam *)

KOTA Surabaya, terkenal bukan hanya karena ibukota Provinsi Jawa Timur ini berjuluk Kota Pahlawan. Ada yang lain yang lebih popular dan gampang diingat, yakni “kebrutalan” para “bonek”. Bila orang menyebut “bonek”, jelas itu akan disangkutpautkan dengan kesebelasan sepakbola kebanggaan arek-arek Suroboyo, yaitu Persebaya.
Sebagai kesebelasan kebanggaan, maka Persebaya menjadi idola. Bagaimanapun juga sorotan terhadap dampak yang terjadi apabila Persebaya kalah, namun Persebaya tetap merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari para pendukungnya. Pendukung Persebaya, tidak hanya dari kota Surabaya saja, tetapi sudah menjadi satu kesatuan dengan bumi Jawa Timur. Tidaklah mengherankan, apabila Persebaya main di luar kota, pendukungnya berdatangan dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Pendukung fanatik Persebaya yang bermaskot “bajul ijo” atau buaya hijau ini, memang sering membuat “berita besar di koran”. Para supporter Persebaya tidak rela kesebelasan kesayangannya ini kalah. Persebaya “harus” menang. Dalam keadaan permainan terburuk sekalipun, pendukung yang disebut “bonekmania”, tetap menghendaki Persebaya menang. Kalau perlu dengan cara culas dan menggunakan non-teknis.
Bonek, adalah singkatan dari dua kata: bandha (dibaca: bondho) nekad. Arti secara harfiah adalah: modal nekad. Para supporter atau pendukung Persebaya itu, selalu mengikuti di manapun kesebelasan kesayangannya ini bermain. Walaupun tidak punya uang sama sekali, mereka tetap nekad, tanpa peduli atau ngotot untuk menyaksikan Persebaya bertanding menghadapi lawannya. Biar tanpa uang sekalipun mereka akan memberi dukungan kepada kesebelasan yang punya kostum kebesaran warna hijau daun ini. Kalau tidak punya karcis tanda masuk, mereka berani menjebol gerbang atau pintu masuk secara massal. Jadi, modalnya adalah modal kemauan semata, tanpa peduli dampak yang terjadi.
Karena modal (bondho) nekad, maka cap “bonek” menjadi bagian tidak terpisahkan dengan supporter Persebaya. Awalnya, di tahun 1970-an, para pendukung fanatik itu tidak rela disebut “bonek’. Namun, di era 1980-an, saat supporter Persebaya bermain di Jakarta, nama “bonek” menjadi konotasi yang sangat miring terhadap supporter Persebaya. Apalagi, waktu itu, sepanjang perjalanan yang dilewati kereta api dari Surabaya ke Jakarta dan sebaliknya, para supporter ini membuat gaduh. Di setiap stasiun mereka menjarah makanan yang dijual di emplaseman stasiun.
Di kala ketua umum Persebaya (1986-1994) dipegang oleh Walikota Surabaya, dr.H.Poernomo Kasidi, kata-kata “bonek” ini membuat pusing sang walikota. Namun, di era ketua umum Persebaya (1994-2002) dipegang oleh Walikota Surabaya, H.Sunarto Sumoprawiro, nama “bonek” diangkat menjadi sebuah “ikon”. Bonek sebagai ciri khas heroisme arek Suroboyo dalam mendukung Persebaya. Bonek dilembagakan. Cak Narto – begitu sang walikota akrab disapa – menjadikan bonek sebagai pemicu semangat para pendukung Persebaya. Saat itu, justru Cak Narto tidak menyenangi apa yang disebutnya “boling” atau bondho maling. Cak Narto sangat marah, apabila ada supporter yang mencuri dan merampok dalam perjalanan menonton Persebaya main.
Untuk mengangkat harkat dan harga diri bonek, Ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Cabang Jawa Timur, waktu itu, Dahlan Iskan yang juga pemimpin redaksi Harian Jawa Pos memberikan predikat Green Force , kepada mereka. Seorang berambut lebat kepalanya diikat selempang hijau. Itulah Green Force.
Di masa sekarang ini, jika Persebaya bertanding di stadion Gelora 10 November Jalan Tambaksari Surabaya, boleh dikatakan sejak siang toko-toko di sepanjang jalan menuju Tambaksari tutup. Para pemilik toko khawatir, barang-barangnya bakal dijarah oleh “bonek”. Tidak hanya itu, jalan-jalan dalam kota menjadi sepi. Ulah “bonek” menjadi pergunjingan, karena sering mengganggu pengemudi kendaraan di jalan. Dan yang paling merisaukan di antara mereka ada yang memaksa para pengemudi mobil (terutama pikup dan truk) untuk mengantarkannya secara gratis ke stadion Tambaksari.
Terlepas dari cap “bonek” dan “bonekmania” yang diberikan kepada pendukung Persebaya, namun nama Persebaya “hampir” tak pernah ternoda. Panitia pertandingan dan PSSI, mampu memilah-milah antara kesalahan pemain dengan sikap supporter. Memang, pernah Persebaya mendapat hukuman gara-gara ulah “bonek”. Tetapi hal itu dapat diselesaikan dengan baik.

Dulu Persibaja
Berbicara tentang Persebaya, maka perhatian kita tertuju kepada perkumpulan sepakbola dari berbagai klub atau bond yang ada di kota Surabaya. Nama Persebaya sudah melekat dengan predikat Kota Pahlawan. Masyarakat kota Surabaya begitu bangga dengan sangat menyayangi kesebelasan sepakbola “tertua” di Indonesia ini. Betapa tidak, dalam sejarah, Persebaya mencatatkan kelahirannya tanggal 18 Juni 1927. Sementara Persija Jakarta, lahir tahun 1931, begitu pula perserikatan sepakbola di Solo, Semarang, Bandung dan lain-lainnya di Indonesia ini tidak ada yang menyebutkan kelahirannya di bawah tahun 1927.
Persebaya adalah singkatan dari Persatuan Sepakbola Surabaya. Nama ini dikukuhkan tahun 1960. Sebelumnya, orang tidak menyebut Persebaya, tetapi Persibaja (ejaan lama, baca: Persibaya). Persibaya, kepanjangannya: Persatuan Sepakbola Indonesia Surabaya. Nah, mengapa rapat anggota klub Persibaja menghilangkan “Indonesia” dari namanya?
Salah seorang tokoh sepakbola di Surabaya tahun 1960-an, Anwar Luthan, ketika almarhum masih hidup pernah menyatakan, dihilangkan kata “Indonesia” itu, karena sudah tidak diperlukan lagi. Kita sudah merdeka di bumi Indonesia. Mengapa harus menyebut Indonesia Surabaya? Dengan kemerdekaan yang diproklamasikan 17 Agustus 1945, kata mertua Rusdi Bahalwan (mantan pemain dan pelatih Persebaya), kita sudah tidak perlu menyebut Indonesia dalam skop lokal. Nama Indonesia, sudah diwakili PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia), katanya berargumentasi.
Tidak hanya itu, nama Indonesia waktu itu kita agung-agungkan untuk menghadapi penjajah Belanda dan Jepang. Dan juga diingatkan, kata Indonesia yang ada pada Persibaja waktu itu sebagai terjemahan dari Indische atau Hindia Belanda. Dengan dasar itulah maka rapat anggota klub Persebaya tahun 1960, sepakat mengubah nama Persibaja menjadi Persebaja (sekarang dengan ejaan yang disempurnakan menjadi Persebaya).
Jika napak tilas ke tahun 1920-an, saat negara kita masih dijajah Belanda, sepakbola sudah dikenal. Olahraga sepakbola, memang bukan berasal dari bumi Pertiwi. Olahraga ini dibawa oleh penjajah, yakni sinyo-sinyo Belanda. Anak-anak muda bangsa Belanda dan Indo-Belanda, mendirikan berbagai klub sepakbola. Gabungan klub sepakbola inilah yang berhimpun dalam sebuah perserikatan. Dulu, di Surabaya ada dua perserikatan yang menghimpun klub-klub sepakbola. Yang satu bernama: SVB (Sourabaja Vootbal Bond) dan SIVB (Sourabaja Indische Vootbal Bond).
SVB merupakan gabungan dari klub-klub sepakbola orang-orang Balanda dan Indo-Belanda, serta yang mau bekerjasama dengan pihak Belanda, yakni warga keturunan Arab dan Cina. Klub-klub itu antara lain bernama: HBS, THOR, Exesor, Ayax, Lemax, RKS, GIHO, Menimuriya, Anasar dan Tionghoa.
Sedangkan yang berada di bawah naungan SIVB, adalah klub sepakbola pribumi. Keberadaannya untuk menyaingi SVB. Klub-klub itu di antaranya: SELO, Maruto, PS.HW (Hizbul Wathan) milik perkumpulan Muhammadiyah, Olivio, Tjahaja Laut, Rego dan Radio.
Pada zaman Jepang, nama SVB merdup dan kemudian menghilang. Apalagi waktu itu banyak pemainnya yang ikut melarikan diri dari serangan balatentara Jepang. Nama SIVB juga tidak popular lagi. Sejak zaman Jepang inilah SIVB berganti nama menjadi Persibaja. Setelah bernama Persibaja, klub-klub yang masih ada, baik yang semula di bawah naungan SVB, maupun SIVB bergabung menjadi satu. Ada sepuluh klub waktu itu yang masih bertahan, yakni: SELO, Maruto, PS.HW, Olivio, Tjahaja Laut, Tjahaja Muda, Tionghoa, Alvags, Jonk Ambon (SVJA atau Surabaja Vootbal Jonk Ambon) dan Indo-Belanda.
Baik di zaman penjajahan Belanda, maupun penjajahan Jepang, kegiatan sepakbola tidak lepas dari “alat politik”. Melalui sepakbola dihimpun semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Begitu seterusanya, hingga kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Setelah kemerdekaan Indonesia, nama Persibaja semakin melekat di hati arek Suroboyo.
Pada awal kemerdekaan ini, dunia sepakbola tidak pernah absen. Perserikatan Persibaja, didukung 15 anggota klub, yakni: Naga Kuning, PORIS, Bintang Timur, HBS, THOR, POMM, TNH (Taruna Nan Harapan), PSAD (Persatuan Sepakbola Angkatan Darat), PSAL (PS Angkatan Laut), POPS, Angkasa, RKS, IM (Indonesia Muda), PS.HW, Maesa dan Assyabaab. Pada era berikutnya, bertambah lagi dengan PS.Sengkanaung, PS.Colombo, Mitra Utama, PS TEO, PS.Pusparagam, PS.Setia, PS.Surya Putra dan PS.Maluku.
Sekarang ini ada 30 klub yang bernaung di bawah Persebaya. Klub-klub itu adalah: PS.Assyabaab, PO Suryanaga, Reedo Star, PS Untag (Universitas Tujuhbelas Agustus), PS.Putra Gelora 79, PS.KSI (Kedaung Setia Indonesia), PS IM (Indonesia Muda), PS.Fatahillah 354, PS.Sasana Bhakti (Sakti), PS.Putra Surabaya, PS.Teo Dok Perkapalan, PS.Angkasa Laut, PSAD Dam V Brawijaya, PS.Sanana Mitra Surabaya, PS.Ega Putra, PS.Pelabuhan III, PS THOR, PS.Bintang Timur, PS.Fajar Suroboyo FC, PS.Mahasiswa, PS.Maesa, POPS, PS.HBS, PS.HW, PS.Angkasa, PS.Haggana, PS.Bama Putra, IR Unesa, PS.Kinibalu dan PS.Nanggala.
Nama-nama klub sepakbola yang bergabung ke dalam Persebaya itu, ada yang merupakan klub lama yang berganti nama. Misalnya: Bintang Timur, adalah penjelmaan dari SVJA yang kemudian ganti lagi menjadi POMM. Begitu pula dengan PS.Suryanaga, dulu namanya adalah klub Tionghoa, lalu ganti menjadi Naga Kuning. PS.Assyabaab sekarang, dulu namanya Anasar, kemudian berubah jadi Al Vaos. PS.Pelabuhan III sekarang ini adalah jelmaan dari PS.Pusparagam yang sebelumnya bernama PPOM, lalu PS.Maluku. Sakti (Sasana Bhakti) sekarang dulu bernama TNH (Taruna Nan Harapan), sedangkan PS.Sengkanaung berubah menjadi PS.Putra Gelora 79.
PS.Ega Putra, dulu namanya Gersiv, lalu ganti menjadi Surya Putra. Lain lagi dengan Reedo Star, dulu namanya MARS, ganti menjadi MARS BTPN, kemudian STAR. PS.Fatahillah 354 sekarang dulu bernama PORIS dan TEO berubah nama menjadi Teo Carrara, lalu sekarang Teo Dok Perkapalan. Sedangkan PS.Untag asalnya adalah PS.Colombo, lalu ganti nama menjadi PS.Mitra Colombo, terus berubah lagi menjadi PS.Mitra Untag. PS.Mitra Sanana Surabaya sekarang ini dulu namanya Sanana Putra dan Fajar Suroboyo FC dulu bernama PS.Fajar. Demikian pula dengan PS.KSI sebelumnya adalah PS.Setia. ***

*) Yousri Nur Raja Agam – Wartawan di Surabaya

BANJIR RUTIN ANCAM SURABAYA

Awas! Banjir Rutin
Mengancam Surabaya

Yousri Nur RA MH

Oleh: Yousri Nur RA MH *)

HAMPIR pasti ancaman banjir selalu datang tiap musim hujan di Kota Surbaya. Banjir, memang membuat Pemkot Surabaya kewalahan. Betapa tidak, sebab banjir yang datang itu ikut merusak tatanan kota. Untuk itulah, bulan Agustus 2001, Pemkot Surabaya dengan persetujuan DPRD Kota surabaya membentuk dinas yang khusus menangani masalah banjir, yakni Dinas Penanggulangan dan Pengendalian Banjir – biasa disingkat DPP Banjir Kota Surabaya.
Namun keberadaan dinas ini tidak berumur panjang. Ketika dilakukan perampingan dinas dari 22 menjadi 15 dinas akhir tahun 2005, DPP Banjir “dibubarkan”. Urusan pengelolaan dan pengendalian banjir dilimpahkan ke Dinas Binamarga dan Pematusan.

Air bak tergenang mengelilingi Balaikota Surabaya

Balaikota Surabaya

Memang, secara teoritis, Surabaya mustahil bebas dari banjir atau genangan air di musim hujan. Ini disebabkan topografi Surabaya yang berada di dataran rendah. Letak kota ini sangat rendah, boleh dikatakan berada di bibir pantai, yakni 0 hingga 50 centimeter di atas permukaan laut. Tahun ini, curah hujan rata-rata 110 mm, Bulan Februari diperkirakan mencapai 231 mm.
Yang menarik dan selalu menjadi perhatian, dari 163 kelurahan di 31 kecamatan di Surabaya, ada 34 kelurahan yang rawan banjir. Wilayah ini selalu menjadi langganan banjir tiap tahun. Kedalaman banjir atau genangan air mencapai 70 cm hingga 1 meter di tempat tertentu dengan lama genangan sekitar enam jam. Secara keseluruhan, apabila hujan lebat, genangan air bisa mencapai 5.000 hektar atau 15 persen dari luas Kota Surabaya yang luasnya 32 ribu hektar lebih.
Oleh karena itu, kewaspadaan dilakukan sejak dini. Di saat musim kemarau ini, Dinas PP Banjir melakukan aksi pengerukan aliran sungai, kata mantan Kepala DPP Banjir yang pertama, Ir.Tri Siswanto,MM yang kemudian menduduki jabatan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, lalu Asisten IV Sekkota Surabaya, ketika ditemui di kantornya. Dalam perencanaan dan pelaksanaannya, konsentrasi menghadapi banjir mendatang diaarahkan ke wilayah Surabaya Timur dan Surabaya Utara. Di wilayah timur dilakukan pengerukan sungai Kalidami dan pemasangan pompa di Kalijudan. Pengerukan aliran sungai juga ditingkatkan di wilayah utara yang menuju ke bozem atau waduk Morokrembangan, sebelum airnya dialirkan ke laut.
Untuk menanggulangi banjir, juga ditingkatkan perawatan pompa-pompa yang ada di 68 unit yang terdapat di 21 rumah pompa di berbagai daerah genangan air di Surabaya. Pompa-pompa itu diharapkan dapat menanggulangi dan mengendalikan banjir dalam kota. Di samping itu, upaya Pemkot Surabaya mendapatkan bantuan dari Negeri Belanda berupa hibah 200 ribu Euro atau sekitar Rp 1,73 miliar dalam muhibah yang dipimpin Sekkota Ir.H.Alisjahbana,MA (waktu itu) akhir tahun 2002 perlu segera diwujudkan.
Sistem drainase yang ada sekarang di Surabaya, memang masih merupakan gabungan antara sungai dengan saluran terbuka. Beberapa di antaranya yang ada di pinggir jalan tertutup beton. Saluran urung-urung atau istilah lain disebut “saluran maling” banyak yang tersumbat, sehingga bila hujan air tidak mengalir dan melimpah ke jalan. Seperti saluran peninggalan Balanda yang ditemukan Louis AM Verhagen, berkat adanya blue print yang dibawanya dari Museum Denhag. Selain mengganggu kelancaran lalulintas, juga menggenangi permukiman penduduk. Keadaan ini diperburuk oleh budaya dan kebiasaan warga kota yang sering membuang sampah ke sungai atau saluran.

Masjid Al Muhajirin di Jalan Jimerto, kawasan Balaikota Surabaya

Rumah-rumah pompa yang ada sekarang ini, sudah ada sejak lama. Namun di antaranya ada yang baru, yang didatangkan dari Korea sebanyak 21 unit. Pompa yang dibeli dengan bantuan Bank Dunia itu dipasang di rumah pompa Dinoyo, Darmokali dan Bratang. Dari evaluasi yang dilakukan, ternyata daya sedot pompa-pompa baru itu cukup bagus. Dari 34 kelurahan yang rawan banjir di Surabaya, dalam dua tahun terakhir ini luas genangannya sudah mulai mengecil.
Ir.Angraheni,MSc dari ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya yang menjadi konsultan banjir Pemkot Surabaya, menyatakan, blakangan ini keadaan banjir di Surabaya sudah dapat dikendalikan. Ia mengharapkan agar kita terus meningkatkan perhatian untuk mencegah terjadinya banjir rutin tahunan.

Rawan Banjir
Namun, dari kajian yang disampaikan untuk menanggulangi banjir di Surabaya ini cukup banyak. Berbagai alternatif atau pilihan harus dilakukan secara selektif. Untuk menyikapi banjir diperlukan dua pendekatan, yakni secara internal dan eksternal. Dari sisi internal, diketahui bahwa banjir itu disebabkan oleh aliran air yang terhambat memasuki saluran pematusan, sehingga menimbulkan genangan. Sedangkan proses eksternal, misalnya ditimbulkan oleh meluapnya aliran Sungai Kali Brantas sebagai induk Kali Surabaya dan Kali Mas.
Upaya yang dilakukan DPP Banjir Kota Surabaya, kala itu, kelihatannya sudah mampu mempersempit genangan air di beberapa daerah rawan banjir. Daerah rawan banjir yang terdata di Kota Surabaya, adalah kelurahan-kelurahan: Gundih, Gayungan, Ketintang, Menanggal, Kupang Krajan, Wonokromo, Wiyung, Babadan, Tandes, Genting, Pakal, Lidah Kulon, Made, Simomolyo, Sukolilo, Semolowaru, Mulyorejo, Kalijudan, Sutorejo, Kalisari, Ploso, Pacarkembang, Gading, Kalirungkut, Rungkut Kidul, Baruk, Penjaringansari, Medokan Ayu, Tenggilis Mejoyo, Prapen, Kutisari, Panjangjiwo, Airlangga dan Mojo.
Rincian sepuluh kawasan yang genangan airnya cukup luas, adalah: Mulyorejo (286 Ha), Kedurus (238 Ha), Kandangan (237 Ha), Medokan Semampir (227 Ha), Gunungsari (185 Ha), Rungkut Harapan (167 Ha), Simomulyo (166 Ha), Kalijudan (154 Ha), Rungkut Industri (123 Ha) dan Tenggilis Mejoyo (110 Ha). Secara keseluruhan, daerah genangan air di Surabaya bila hujan lebat mencapai 5.000 Ha.

Gedung kantor YKP di Jalan Sedap Malam, kawasan Balaikota Surabaya

Banjir Kiriman
Ramalan cuaca selalu disampaikan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) tentang keadaan banjir di Surabaya.. Selain hujan lebat, angin kencang dengan kecepatan di atas 40 kilometer per-jam juga perlu diwaspadai.
BMG Maritim Tanjung Perak Surabaya, tiada henti menginformasikan curah hujan di Surabaya. Awan CB (Columonimbus) masih mendekam di dataran tinggi sekitar kota Surabaya. Tanda awan CB ini terlihat adanya asap dengan warna hitam pekat.
Agar bencana banjir dapat dikurangi, tahun lalu Pemkot Surabaya melakukan berbagai proyek penanggulangan dan pengendalian banjir. Di antaranya, pembuatan saluran gorong-gorong atau box culvert di Jalan Jenderal Ahmad Yani dan Jalan Raya Industri Rungkut. Proyek itu menghabiskan biaya Rp 1,15 miliar lebih. Saluran ini akan melancarkan aliran air dari kawasan Jalan Ketintang menuju Kalimir, terus ke kali Jagir, hingga akhirnya ke laut.
Jadi, dengan adanya berbagai upaya penanggulangan dan pengendalian banjir dalam kota itu, niscaya genangan air di Kota Surabaya akan berkurang. Para ahli menyebut, memang melihat kenyataan yang ada dewasa ini, mustahil Surabaya terbebas dari banjir.
Mungkin nasib Kota Surabaya ini sama dengan Ibukota Jakarta. Kalau di Jakarta banjir terjadi akibat meluapnya kali Ciliwung yang disebabkan oleh hujan terus-menerus di Bogor. Sehingga ada istilah di Jakarta, bahwa banjir yang terjadi itu sebagai “banjir kiriman” dari Bogor.
Anggapan seperti di Jakarta itu juga diadopsi oleh pejabat di Surabaya. Mantan walikota Surabaya, H.Sunarto Sumoprawiro alias Cak Narto, pernah berargumentasi demikian. “Tidak selamanya banjir di Surabaya itu sebagai akibat hujan lebat. Tetapi, tidak jarang banjir itu terjadi sebagai “banjir kiriman” dari wilayah hulu sungai Kali Brantas, yakni: Mojokerto, Lamongan dan Gresik.
Anggapan yang demikian itu ada benarnya, kata Drs.H.Bambang DH yang menggantikan Cak Narto. Sebab kalau hujan di daerah hulu Sungai kali Brantas, seperti di Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Nganjuk, Jombang dan Mojokerto, pasti air akan meluap sampai ke Kali Surabaya yang menuju Kalimas Surabaya dan Kali Porong yang menuju Sidoarjo.
Genangan air dan banjir tahunan ini tentu tidak dapat dihindari. Maka upaya perbaikan saluran dan bozem terus ditingkatkan. Selain itu, pintu laut yang merupakan bangunan tanggul yang mengatur aliran air ke laut dan menahan pasang laut naik ke darat, juga terus ditingkatkan fungsinya.
Alternatif lain yang juga harus menjadi prioritas Pemkot Surabaya menanggulangi banjir, adalah membangun waduk-waduk penampungan air di dekat muara sungai. Sekurang-kurangnya dalam waktu sepuluh tahun ke depan Surabaya perlu membuat lima waduk yang berfungsi sebagai pengendali banjir.
Menurut dosen Teknik Sipil ITS, Dr.Ir.Pieter LF Bentura, penyebab utama banjir di Surabaya adalah akibat banyaknya saluran yang tersumbat. Tetapi, katanya, dengan kesungguhan yang diperlihatkan DPP Banjir yang sekarang dialihkan ke Dinas Binamarga dan Pematusan Kota Surabaya, mudah-mudahan banjir di Surabaya bisa diatasi.
Bagaimanapun juga, memang banyak saluran bawah tanah peninggalan Belanda yang tersumbat dan buntu sama. Bahkan mungkin ada yang belum diketahui dan belum ditemukan. Sebab belum lama ini ditemukan ada saluran di sekitar Jalan Darmo. Tidak hanya itu, untuk kawasan tengah kota di sekitar Tunjungan, ada saluran besar di bawah Jalan Embong Malang. Walaupun sudah pernah dibersihkan dan digelontor, lama kelamaan endapan lumpur dan sampahnya juga bertambah, sehingga menghambat kelancara air menuju rumah pompa di Jalan Simpang Dukuh Surabaya.
Berdasarkan kenyataan yang ada, Surabaya baru belum bisa bebas banjir. Memag da yang membuat perkiraan, sepuluh hingga dua puluh tahun lagi. Itupun, kalau saluran pematusan yang ada di perumahan-perumahan penduduk dibenahi. ***

*) Yousri Nur RA MH – Ketua Yayasan Peduli Surabaya

Abadilah Bendera Sang Merah Putih

Abadilah Sang Merah Putih

Nonton Film 2012 Tidak Haram

Baca lebih lanjut

Surabaya Bantu Korban Gempa Sumbar

Siswa SD, SMP, SMA, SMK se Kota Surabaya
Menyumbang Kota Padang Rp 1,6 Miliar

Rumah Gadang Minangkabau di Surabaya

Rumah Gadang Minangkabau di Surabaya

Walikota Surabaya Bambang DH menyerahkan bantuan untuk gempa

Walikota Surabaya Bambang DH menyerahkan bantuan untuk gempa

Perwakilan Siswa SD, SMP, SMA dan SMK se Kota Surabaya yang memberikan bantuan Rp 1,6 miliar untuk korban gempa di Kota Padang

Perwakilan Siswa SD, SMP, SMA dan SMK se Kota Surabaya yang memberikan bantuan Rp 1,6 miliar untuk korban gempa di Kota Padang

Gapensi Jatim memberi bantuan untuk korban gempa Sumbar Rp 200 juta, yang diserahkan oleh Ketua Gapensi Jatim Ir.HM Amin yang diterima oleh Ketua Umum Gebu Minang jatim, Ir.Firdaus HB.

Gapensi Jatim memberi bantuan untuk korban gempa Sumbar Rp 200 juta, yang diserahkan oleh Ketua Gapensi Jatim Ir.HM Amin yang diterima oleh Ketua Umum Gebu Minang jatim, Ir.Firdaus HB.

SURABAYA, Walikota Surabaya Drs.H.Bambang DH menyerahkan bantuan untuk korban gempa di Kota Padang melalui organisasi masyarakat perantau di Surabaya Gebu Minang Jatim, Kamis (22/10). Bantuan berupa uang sumbangan yang dikumpulkan Dinas Pendidikan dari siswa SD, SMP, SMA dan SMK baik negeri maupun swasta se Kota Surabaya sebanyak Rp 1,6 miliar.
Bantuan itu ditambah lagi Rp 500 juta dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan Rp 200 juta dari Gapensi (Gabungan Pengusaha Konstruksi) Jawa Timur.
Acara itu dilangsungkan di rumah gadang Minang Jalan Gayung Kebunsari 64 Surabaya. Walikota Surabaya Drs.H.Bambang DH menyerahkan bantuan dana itu melalui Ketua Umum Gebu Minang Jatim Ir.Firdaus HB. Disaksikan oleh Ketua DPRD Kota Surabaya Drs.Wisnu Wardhana, Ketua gapensi jatim Ir.HM Amin, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Drs.H.Sahudi, dan para kepala sekolah se Kota Surabaya.
Hadir pula pada acara itu, Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Sumatera Barat, Bbuya H.Mas’ud Abidin yang sekaligus memberikan informasi terkini dari Sumatera Barat. Selain disampaikan secara lisan, Ir.Firdaus yang baru saja kembali dari Madang menyampaikan presentasi dengan memutar video, serta foto-foto akibat gempa melalui layar besar di depan panggung.
Setelah mendengar kesaksian dari Buya Mas’ud Abidin dan Ir.Firdaus, walikota Surabaya tidak mampu menahan rasa sedihnya. Saat menyampaikan sambutan selesai menyerahkan bantuan, ia berkata dengan terbata-bata, bahkan tidak kyat menahan air mata. Walikota Surabaya itu, menangis sesegukan, sehingga membuat suasana menjadi hening. Bahkan tidak sedikit pula hadirin yang ikut mengeluarkan air mata.
Ir.Irdaus menyatakan, bantuan para siswa dari Surabaya itu akan diwujudkan untuk perbaikan sekolah di Kota Padang. Apabila sekolah itu kelak sudah selesai diperbaiki, warga Minang dan Kota Madang mengharapkan kehadiran Walikota dan tokoh masyarakat Surabaya untuk datang ke Padang.
Setelah gempa di Sumatera Barat, 30 September lalu, di Surabaya langsung didirikan tiga posko bantuan bencana kerjasama antara Gebu Minang Jatim dengan Pemerintah Kota Surabaya, serta Pemerintah Provinsi Jawa Timar. Kecuali itu beberapa tempat juga membangun posko peduli yang menghimpun bantuan untuk Sumbar, termasuk Koran Jawa Pos Grup.
Barang-barang itu ada yang dikirim melalui darat, laut maupun udara, Untuk angkutan laut dikordinasikan langsung oleh TNI-AL Komando Armada RI Wilayah Timar (Koarmatim) yang berpusat di Surabaya. TNI-AL juga membuka Rumah Sakit (RS) terapung di Teluk Bayur, Padang.***

Dokumentasi Foto WR Soepratman

Foto sekitar makam dan museum WR Soepratman, jepretan Yousri Nur Raja Agam.
Menjelang peringatan Sumpah Pemuda tahun ini, untuk melengkapi tulisan tentang WR Soepratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, berikut ini saya tampilkan “album foto” WR Soepratman.

Foto-foto ini adalah foto makam lama dan baru WR Soepratman di Taman Makam Pahlawan Khusus di Kelurahan Rangkah, Jalan Kenjeran Surabaya dan Museum WR Soepratman di Jalan Mangga 21 Kecamatan tambaksari Surabaya.

Foto 1: Patung WR Soepratman karya pematung Oerip Soerachman yang terletak di depan Museum Mini (Rumah Wafat) WR Soepratman Jalan Mangga 21, Tambaksari Surabaya, dicat merah-putih oleh Zainal Karim yang sempat menjaga museum mini itu tahun 2007-2009. Nanti patung itu akan dikembalikan kepada aslinya, tanpa dicat.

Foto 2: Makam lama WR Soepratman terletak di Taman Pemakaman Umum (TPU) Kapas. Kemudian dipindah ke komplek TMP (Taman makam Pahlawan) Khusus Pahlawan Nasional WR Soepratman di Tambaksegaran, Kelurahan Rangkah, Jalan Kenjeran Surabaya.

Foto 3: TMP Khusus Pahlawan Nasional WR Soepratman di Tambaksegaran Wetan, Kelurahan Rangkah, Jalan Kenjeran Surabaya yang dibangun dalam bentuk komplek tersendiri, setelah dipindahkan kerangkanya dari TPU Kapas di seberang jalan TMP Khusus yang sekarang.

Foto 4: Patung WR Soepratman di Komplek TMP Khusus WR Soepratman.

Foto 5: Biola asli yang dijadikan duplikat biola WR Soepratman yang disimpan di Museum Mini WR Soepratman Jalan Mangga 21 Surabaya.

Foto 6: Makam WR Soepratman terletak di dalam pendapa di bawah jungkup beratap joglo khas Jawa Timur, di Jalan Kenjeran Surabaya.

Foto 7: Riwayat Hidup WR Soepratman terukir dengan pahatan di dinding Komplek Makam TMP Khusus WR Soepratman berjejer dengan pahatan lagu Indonesia Raya yang terdiri dari tiga kuplet.

Foto 8: Beberapa buku yang merupakan sebagian koleksi Museum Mini WR Soepratman di Jalan Mangga21 Surabaya.

Foto 9: Ir.H.Oerip Soedarman “kuasa ahli waris WR Soepratman” sedang memetik biola asli yang dijadikan duplikat biola WR Soepratman di Museum Mini WR Soepratman di Jalan Mangga 21 Surabaya.

Patung WR Soepratman

Patung WR Soepratman

Makam lama WR Soepratman

Makam lama WR Soepratman

Makam WR Soepratman di TMP Khusus Rangkah

Makam WR Soepratman di TMP Khusus Rangkah

Patung WR Soeprtaman

Patung WR Soeprtaman

Biola Asli Duplikat dari Biola WR Soepratman

Biola Asli Duplikat dari Biola WR Soepratman

Jungkup TMP Khusus WR Soepratman

Jungkup TMP Khusus WR Soepratman

Riwayat Hidup WR Soepratman/caption]

Buku tentang WR Soepratman

Buku tentang WR Soepratman

Riwayat Hidup WR Soepratman

Ir.H.Oerip Soedarman

Ir.H.Oerip Soedarman

MAKAM PAHLAWAN JADI OBYEK WISATA

Makam Pahlawan Nasional BUNG TOMO tidak berada di TMP, tetapi bergabung dengan pusara rakyat Surabaya di TPU Ngagel Surabaya
“]Makam Pahlawan Nasional BUNG TOMO tidak berada di TMP, tetapi bergabung dengan pusara rakyat Surabaya di TPU Ngagel Surabaya[/caption]

caption=”Yousri Nur RA MH”]Yousri Nur RA MH[/caption]

MAKAM PAHLAWAN
JADI OBYEK WISATA
KOTA PAHLAWAN

(Wisata Religi atau Ziarah)

Oleh: Yousri Nur Raja Agam MH *)

KEGIATAN wisata dan pariwisata di Kota Pahlawan Surabaya, harus ada yang khas atau spesifik.

Pengertian berwisata, tidak harus hanya bersenang-senang, namun yang paling utama dalam kegiatan wisata adalah kesan dan terkesan. Boleh juga pakai istilah, melancong atau pesiar, di mana tujuannya adalah mencari sesuatu yang baru di alam ini.

Dari hasil kunjungan itu, akan diperoleh suatu kenangan yang indah, sehingga kita akan “terkenang selalu”. Tidak hanya itu, pengertian wisata termasuk di dalamnya berziarah, melakukan kunjungan yang bernilai religius.

Biasanya, dalam suatu perjalanan wisata, selain memperoleh kesan, juga didapatkan hal yang belum pernah diketahui sebelumnya. Dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakan, diperoleh pengetahuan dan ilmu yang baru. Dengan demikian, segala yang menjadi ilmu dasar dalam ingatan itu akan dengan mudah disampaikan atau ditularkan kepada orang lain. Kita tidak hanya sekedar mendengar cerita orang lain atau hanya membaca dari buku.

Memang, dengan kita banyak membaca dan mendengarkan cerita dari seseorang, kita akan memperoleh pengetahuan yang banyak. Kendati demikian, yang lebih baik lagi atau dirasa lebih afdhal, kalau kita melihat sendiri, tahu sendiri dan mendengar sendiri dari sumber utamanya. Ada kepuasan batin.

Kunjungan dalam bentuk ziarah, memang ada hal lain yang ditemukan. Perasaan dalam wisata ziarah memberi kesan kedekatan rohani dengan sang tokoh dan Allah Maha Pencipta. Kota Surabaya, juga banyak dikunjungi parawisatawan ziarah ini, yakni ke Masjid Agung Ampel dan ke kawasan pemakaman Sunan Ampel (Cerita tentang Sunan Ampel ditulis tersendiri).

Berbeda dengan ziarah, kegiatan wisata pada umumnya adalah kegiatan rekreasi dan bersenang-senang. Tentu, hasil akhir yang diperoleh adalah kesan senang dan puas.
Nah, bepergian jauh, berwisata, melancong, pesiar atau berdarmawisata, tujuannya adalah untuk memperoleh “kepuasan batin”. Oleh sebab itu, dalam penyediaan obyek kepariwisataan, yang utama adalah menjadikan obyek tersebut meninggalkan kesan yang menghasilkan kepuasan batin.

Kota Surabaya yang berjuluk Kota Pahlawan dan Kota Budi Pamarinda, layak dijual menjadi obyek wisata dalam arti yang sesungguhnya. Seperti yang pernah disajikan sebelumnya, bahwa kegiatan Budimarinda (Budara, Pendidikan, Maritim, Industri dan Perdagangan), dapat dirinci dan dipilah-pilah menjadi obyek “par” atau pariwisata.

Namun, para pendatang ke Kota Pahlawan ini, kadang-kadang “buta”, mereka sulit mengetahui secara pasti apa saja obyek wisata di Surabaya. Belum ada paket wisata yang padu dan terintegrasi antara Dinas Periwisata dengan perusahaan pengelola kepariwisataan. Masing-masing jalan sendiri, sehingga obyek wisata di Surabaya ini lepas dan terpotong-potong sesuai dengan selera masing-masing pula.

Pendatang dari luar daerah tiba di Surabaya, umumnya melalui Bandara Juanda atau Pelabuhan Laut Tanjung Perak, atau di Stasiun Kereta Api Pasar Turi dan Gubeng, atau juga yang turun di terminal bus antarkota Purabaya dan Tambakoso Wilangun. Seharusnya, di peron tempat mendarat itu mereka disambut dengan ramah, melalui bahasa tulisan.

Jadikan pendatang itu memperoleh kesan pertama, bahwa Kota Surabaya ini memang layak disebut “Kota Pahlawan”. Saat matanya terpana melihat gambaran kepahlawanan di Kota Surabaya itu, wisatawan ini kemudian diarahkan untuk menelusuri obyek wisata di Surabaya yang memang bernuansa kepahlawanan.

Jadikan para wisnu (wisatawan nusantara) atau wisman (wisatawan mancanegara) itu memperoleh suatu keasyikan. Kalau semula, mungkin di Surabaya ini mereka hanya sekedar singgah, karena akan melanjutkan perjalanan menuju ke Gunung Bromo, Bali atau Jogjakarta. Tetapi, kita harus menjerat para wisatawan itu “menginap” di Surabaya, sebab salah satu wujud kepariwisataan itu adalah “menginap” dan membelanjakan uangnya di obyek wisata.

Setelah wisnu atau wisman itu melhat ke sana ke mari, sodori informasi sebanyak mungkin tentang kota ini. Sediakan secara gratis kertas informasi dalam bentuk buklet atau mungkin layar monitor informasi yang bicara tentang “Ini lho Surabaya!”. Beri mereka peta wisata, lalu serahkan paket wisata Kota Pahlawan. Kemudian dilanjutkan dengan informasi aktivitas kota ini di bidang Budi (pa)marinda itu.

Saat wisatawan berada di Kota Surabaya, warganya harus ramah menyapa dan menjamu, sehingga kesan secara beruntun dirasakan di hati. Kesan pertama yang memikat akan menjadi kenangan yang takkan terlupakan. Itulah kepuasan batin yang dicari para petualang wisata. Bagi pengaran dan penulis, mereka akan memperoleh ilham yang makin dalam, sehingga dalam buah karyanya akan terwujud gambaran yang nyata.

Mari kita kunjungi “obyek wisata” di Kota Surabaya yang bernuansa kepahlawanan. Di antaranya, Museum Pahlawan dan Taman Makam Pahlawan.

Museum Tugu Pahlawan
Sebagai Kota Pahlawan, di Surabaya berdiri Tugu Pahlawan yang terletak di Taman Tugu Pahlawan di Jalan Pahlawan Surabaya. Di halaman Taman Tugu Pahlawan ditemukan patung pada pahlawan dan orang-orang yang berjasa saat peristiwa bersejarah sekitar tanggal 10 November 1945. Kiprah “Arek Suroboyo” yang memuncak tanggal 10 November 1945 ini, kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan yang diperingati setiap tahun oleh Bangsa Indonesia.

Tidak hanya sekedar tugu pahlawan dan patung-patung yang terdapat di Taman Tugu Pahlawan, tetapi di dalam perut bumi di samping bawah Tugu Pahlawan itu, ada Museum Pahlawan 10 November.

Dulunya di zaman Penjajahan Belanda, di tempat yang sekarang dinamai Taman Tugu Pahlawan ini berdiri gedung pengadilan yang disebut Raad van Justitie. Dalam peristiwa perang kemerdekaan gedung itu hancur dan tahun 1951 benar-benar dihancurkan seluruhnya, sehingga rata dengan tanah.

Presiden RI pertama, Ir.H.Sukarno menetapkan pembangunan Tugu Pahlawan di tempat ini. Tepat pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 1951, Bung Karno meletakkan batu pertama pembangunan Tugu Pahlawan. Setahun kemudian, pada peringatan Hari pahlawan 10 November 1952, Tugu Pahlawan di Kota Surabaya diresmikan.

Saat Pemerintahan Kota dipegang oleh dr.H.Poernomo Kasidi sebagai walikota tahun 1991 yang dilanjut oleh H.Sunarto Sumoprawiro, di bawah Taman Tugu Pahlawan itu dibangun Museum Pahlawan 10 November. Pekerjaan yang terdiri delapan paket itu menghabiskan biaya Rp 32,9 miliar.

Walaupun di tempat ini berbagai jenis peninggalan sejarah dipajang, ditambah dengan diorama yang mampu bercerita tentang peristiwa heroik yang memakan korban ribuan jiwa Arek Suroboyo, namun belum banyak orang yang tahu. Jangankan para pelancong yang disebut wisnu dan wisman, warga kota Surabaya saja, 80 persen belum pernah datang ke sini. Kalau seandainya dihitung warga kota Surabaya ini berjumlah tiga juga jiwa, maka yang diperkirakan sudah masuk ke Museum Pahlawan ini, baru berapa?

Bagaimana mungkin orang luar Surabaya tertarik masuk ke dalam Museum Pahlawan, kalau warga Surabaya sendiri yang ditanyai tamunya juga kurang informasi, bahkan buta informasi.

Makam para pahlawan yang disebut TMP (Taman Makam Pahlawan) di Surabaya ini cukup banyak. Ada yang mengatakan, bahwa makam-makam kampung di Kota Surabaya ini umumnya ditempati oleh para pahlawan, pelaku sejarah 10 November 1945. walaupun demikian, yang diwujudkan sebagai TMP ada tiga: yakni TMP di Jalan Kusuma Bangsa, TMP di Jalan Ngagel Jaya Selatan (Jalan Bung Tomo) dan TMP di Jalan Mayjen Sungkono.

Kecuali itu, di Surabaya juga ada TMP khusus, tempat dimakamkannya Pahlawan Nasional salah seorang pendiri Budi Utomo, Dr.Sutomo di Jalan Bubutan Surabaya dan pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman, dekat Pemakaman Umum Rangkah di Jalan Kenjeran Surabaya.

Belajar dari Filipina

Pemerintah Kota Surabaya pernah mengadakan studi banding ke Filipina, bagaimana mewujudkan TMP sebagai obyek wisata. Sebab, di Filipina ada sebuah TMP yang dibangun cukup megah dan ternyata mampu menjaring para wisatawan berkunjung ke tempat itu. Bahkan, ada ungkapan, kalau seandainya datang Filipina, tetapi belum berkunjung ke TMP yang bernama “Manila American Cemetery and Memorial” (MACM), itu sama artinya belum pernah ke Filipina.

Nah, adakah ungkapan seperti itu bisa diterapkan di Surabaya? Misalnya, apabila belum berkunjung ke Taman Tugu Pahlawan dan Taman Makam Pahlawan di Surabaya, itu sama artinya anda belum pernah datang ke Surabaya.

Untuk itulah, belajar dari Filipina itu, Pemkot Surabaya bernah mencanangkan akan menjadi TMP di Jalan Mayjen Sungkono dan Taman Tugu Pahlawan sebagai obyek wisata “mutlak” bagi para wisatawan. Namun, ide, keinginan, harapan dan bahlkan apa yang pernah dicanangkan itu tinggal menjadi cerita masa lalu. Wujudnya, nihil. Padahal untuk studi banding ke Filipina itu menggunakan dana besar dari Pemkot Surabaya yang diikuti oleh sebuah tim dari berbagai disiplin ilmu.

TMP yang terletak di Fort Bonifacio, Manila, Filipina itu terletak di Provinsi Rizal yang sebelumnya bernama Fort William Mc.Kinley. Memang, sebagai bekas jajahan Amerika, di Filipina banyak nama tempat yang berbau Amerika.

TMP yang terletak sekitar 6 mil sebelah tenggara pusat kota Manila itu mudah dicapai dengan menggunakan taksi melalui jalan raya Epifanio de Los Santos Avenue (highway 54) dan McKinley Road. Di TMP yang luasnya 152 are atau sekitar 60,8 hektar dimakamkan 17.206 jasad tentara Amerika yang tewas dalam Perang Dunia II tahun 1945. Keanggunan TMP ini terlihat sejak dari gerbangnya, kemudian penataan plaza dengan air muncrat dengan tembok abadi (memorial building) di tengah TMP.

Itu pulalah sebabnya, TMP MACM di Filipina yang merupakan TMP terbesar kedua setelah TMP Arlington, di Washington, Amerika Serikat itu, oleh Pemkot Surabaya dijadikan salah satu model untuk penataan TMP di Jalan Mayjen Sungkono.

Mungkinkah apa yang pernah digagas dan dicanangkan Pemkot Surabaya, menjadikan TMP sebagai obyek wisata dapat diwujudkan? Kalau kita ingin benar-benar menjadikan Surabaya sebagai Kota Pahlawan, tentu wajib hukumnya. Sebab, mubazir dana yang sudah dikeluarkan untuk studi banding ke luar negeri itu.

Makam Belanda dan Jepang
Tidaka ada salahnya pula, sebagai obyek wisata, berkunjung ke makam para pendahulu kita. Tidak saja ke makam Sunan Ampel dan para pengikutnya. Makam bekas penjajah atau kolonial Belanda dan Jepang, sebenarnya bisa dikelola sebagai obyek wisata yang menghasilkan pemasukan ke kas Pemkot Surabaya.
Di Surabaya, salah satu komplek makam penjajah yang dikelola dengan baik adalah Makam Kembang Kuning. Khusus untuk ini, saya tulis dengan rubrik sendiri. Sebab, di sini juga ada beberapa nama tokoh bangsa Balanda.

Selain makam rakyat, juga terdapat makam para pejabat dan “pahlawan” bagi bangsa Belanda. Juga ada makam lama yang kurang mendapat perwatan, di Makam Peneleh. Makam yang sudah dinyatakan penuh.

Nah, di Kota Surabaya, juga tidak sedikit balatentara Jepang yang “gugur” sebagai pahlawan Negara Sakura, yangb tentunya bukan pahlawan bagi bangsa Indonesia. Bagaimana pula cerita tentang makam “saudara tua” dari dai Nippon itu. Juga saya tulis dalam judul tersendiri.

Nah, sekarang Pemerintah Kota Surabaya, maupun Pemerintah Provinsi Jawa Timur harus punya kemauan untuk memanfaatkan TMP atau makam-makam lama dijadikan sebagai obyek wisata, baik wisata religi atau ziarah, maupun sebagai obyek wisata sejarah.

Seyogyanya, mengunjungi TMP, makam-makam lama dan bersejarah, dijadikan paket wisata kota Surabaya, satu-satunya kota di Indonesia yang berjuluk Kota Pahlawan.***

*) Yousri Nur Raja Agam MH – pemerhati sejarah dan Ketua Yayasan Peduli Surabaya.