Situasi menjelang 10 November 1945

Tentara Inggris

Dipaksa Menyerah

Oleh: Yousri Nur Raja Agam M.H.

PERUNDINGAN antara pihak Sekutu dengan Indonesia, dilanjutkan Selasa besoknya, 30 Oktober 1945, pukul 11.00 di ruang rapat Gubernur Jatim, Suryo.

Dari pihak Sekutu dipimpin oleh Mayjen DC Hawthorn, Panglima tentara Inggris yang membawahi wilayah Jawa, Madura, Bali dan Lombok. Ia didampingi Brigjen AW Mallaby, Kolonel LHO Pugh, Mayor M.Hudson, Kapten H.Shaw dan beberapa perwira lainnya.

Sedangkan dari pihak Indonesia, Presiden bersama Wakil Pesiden RI, Sukarno-Hatta atau popular dengan sapaan Bung Karno dan Bung Hatta didampingi Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin, Gubernur Jawa Timur, Suryo, Residen Sudirman dan para tokoh pejuang Arek Suroboyo, yakni: Doel Arnowo, Atmadji, Moehamad, Soengkono, Soejono, Roeslan Abdulgani, Kusnandar dan TD Koendan.

Dalam perundingan itu ada empat masalah pokok yang dibahas. Perundingan berjalan alot, ungkap Roeslan Abdulgani.

Pertama: masalah pamflet yang disebarkan Inggris, 27 Oktober 1945 lalu yang mengancam melucuti senjata TKR, Polisi dan pasukan rakyat bersenjata lainnya. Isi pamflet itu dengan tegas ditolak dan dikecam oleh TKR, Polisi, PRI dan BPRI.

Akhirnya Jenderal Hawthorn menarik kembali pamflet itu dan sekaligus mengakui eksikstensi TKR dan Polisi Indonesia.

Kedua: daerah yang diawasi pasukan Inggris. Mereka ingin menguasai tempat-tempat yang mereka duduki dan minta kepungan-kepungan yang dilakukan pejuang Surabaya dihapuskan. Pihak pejuang Surabaya dengan tegas menolak dan menuntut pihak Inggris menarik mundur pasukannya sampai ke daerah pelabuhan Tanjung Perak.

Terjadi kompromi, pasukan Inggris ditarik dari tempat yang diduduki, seperti: gedung HBS Ketabang (SMA Komplek sekarang), BPM (gedung Pertamina di Jalan Veteran sekarang), Internatio (gedung Panca Niaga di Taman Jayengrono – Jembatan Merah sekarang) dan beberapa gedung lain. Jadi, pasukan Inggris hanya berada di dua tempat saja, yaitu: pelabuhan Tanjung Perak dan di daerah interniran RAPWI di Darmo.

Ketiga: hal yang berhubungan dengan siapa yang berhak menjaga tempat interniran RAPWI di Darmo. Pihak Indonesia atau Inggris?

Untuk butir ini, perunding Indonesia agak mengalah, dengan mempercayakannya kepada pasukan Inggris. Tetapi sebaliknya, TKR dan Polisi Indonesia ikut menjaga kawasan pelabuhan.

Keempat: mengenai perlu atau tidaknya dibentuk “biro kontak”.

Dalam perundingan, semula Inggris menolak. Namun, pihak Indonesia minta jaminan tidak terulang kembali tindakan sepihak yang sifatnya melanggar persetujuan yang disepakati. Akhirnya, delegasi Inggris menyetujui adanya “biro kontak” yang bertugas mengawasi dan melaksakan persetujuan secara rinci.

Selama berlangsung perundingan, meriam kapal perang Inggris terus memuntahkan dentuman dahsyat. Tetapi tidak jelas apa sasarannya. (Mungkin hanya penggunakan peluru hampa – pen). Mendengar gertak sambal Inggris itu, para pejuang, TKR dan Polisi Istimewa (PI) yang berjaga dalam kota juga tidak kalah akal. Mereka melakukan aksi balasan. Komandan TKR dan PI memerintahkan tank dan panser bergerak mengepung kantor gubernur, tempat perundingan berlangsung.

Tank dan Panser

Suaranya gemuruh, karena tank dan panser itu berputar-putar tanpa arah. Apalagi di antara mereka ada yang baru belajar mengemudikan tank dan panser, bila maju dan mundur perlu manuver garak berulang-ulang. Akibatnya, ruang perundinganpun merasakan getaran itu.

“Pikir kita, biar Inggris terkena taktik intimidasi kita. Anehnya yang paling berpengaruh oleh gemuruh suara tank-tank kita itu adalah pemimpin tertinggi kita dari Jakarta. Berkali-kali Bung Karno, Bung Hatta dan Bung Amir Sjarifudin dengan suara tertekan minta agar bunyi suara tank dan gerakan manuver itu dihentikan”, tutur Roeslan Abdulgani.

Cak Roeslan meninggalkan ruang sidang, ia ke luar dan menemui pemuda pejuang untuk menghentikan manuver gerakan tank.

“Stop! Jangan ribut. Hentikan gerakan tank. Yok opo rek, ternyata yang gemetar itu bukan Inggris, tetapi justru penggede-penggede dari Jakarta”, ujar Cak Roeslan.

Ungkapan Cak Roeslan itu dijawab pengemudi tank. “Jadi bagaimana Cak! Berhenti atau tidak”. “Saiki mandeko sediluk bae, tapi enkuk terusno mane! (Sekarang berhenti sebentar, tetapi nanti diteruskan lagi)”, jawab Cak Roeslan.

Jadi, suasana di luar sidang cukup tegang dengan tekad membara. Kendati demikian, tetap penuh kelakar dan humor.

Selesai perundingan, disampaikan kesimpulan tentang persetujuan gencatan senjata yang diumumkan Menteri Penerangan Amir Sjarifudin. Kemudian rombongan Bung Karno dan Jenderal Hawthorn kembali ke Jakarta melalui lapangan terbang Morokrembangan. Saat melewati jalan-jalan kota, suasana perang masih terasa. Di sana-sini terdengar suara tembakan.

Di ruang kerja Residen Soedirman sorenya pukul 15.00 dilangsungkan rapat biro-kontak. Dalam rapat itu, diangkat sekretaris bersama biro-kontak, masing-masing Roeslan Abdulgani dan Kapten H.Shaw. Cak Roeslan diberi pangkat Kapten (tituler), disejajarkan dengan pangkat sekretaris dari pihak Inggris.

Radio BPRI (Barisan Pemberontak Republik Indonesia) pimpinan Bung Tomo dan Radio Surabaya terus menyiarkan hasil persetujuan yang ditandatangani Bung Karno dan Jenderal Hawthorn itu. Namun rakyat dan komponen pejuang kemerdekaan tidak begitu saja menerima gencatan senjata itu. Mereka masih terus mengepung gadung Lindeteves dekat jembatan Semut dan gedung Internatio di Jembatan Merah.

Biro-kontak memutuskan datang sendiri menyelesaikan konflik bersenjata yang belum reda di gedung Internatio dan Lindeteves.

Rombongan biro-kontak dengan delapan mobil pukul 17.00 tiba di dekat gedung Lindeteves. Ternyata di sini tembak-menembak sudah usai. Rombongan meneruskan perjalanan ke gedung Internatio. Di sini masih terjadi tembak-menembak. Ketika rombongan kontak-biro tiba, tembak-menembak berhenti.

Pemuda-pemuda mengerumuni mobil rombongan kontak-biro Indonesia. Mereka menuntut pimpinan tentara Inggris yang ikut dalam rombongan memerintahkan pasukannya yang sudah terkepung di gedung Internatio untuk menyerah. Atau setidak-tidaknya sore itu juga diangkut ke pelabuhan Tanjung Perak dengan peninggalkan senjata masing-masing.

Residen Soedirman memberi pengertian tentang situasi dan adanya persetujuan bersama hasil perundingan. Kemudian Doel Arnowo dan Soengkono naik ke atas kap mobil. Dengan berdiri tegap mereka bergantian memberi penjelasan. Rakyat diminta sabar. Tentara Inggris malam ini diperkenankan tinggal di gedung Internatio. Besok pagi akan diangkut ke pelabuhan dengan penjagaan TKR. Sudah ada persetujuan antara Bung Karno dengan Jenderal Hawthorn, ujarnya.

Rakyat dan pemuda yang mendengar penjelasan itu, hanya nggrundel (mengomel) dengan wajah tak puas.

Rombongan mobil biro-kontak bergerak ke arah Jembatan Merah. Di tikungan jalan sekelompok pemuda yang dipimpin seorang yang tampak histeris menghadang. Dia membawa bendera merah putih. “Yang merah ini, merah karena darah. Merah ini adalah merah darah seorang tentara Inggris”, ujar anak muda itu sembari menunjukkan kepada Cak Roeslan.

Iringan mobil yang dihadang itu berhenti. Kelompok pemuda ini kembali mengajukan tuntutan. Mereka minta, sekarang juga pasukan Inggris yang terkepung dalam gedung untuk menyerah. Sore ini juga diangkut ke palabuhan dan meninggalkan senjata. Kalau tidak, selama mereka berada di gedung itu rakyat tidak akan merasa aman. Rakyat terus terancam keselamatannya, sebab beberapa kali pasukan Inggris membabibuta menembaki rakyat secara brutal.

Residen Soedirman, Doel Arnowo dan Soengkono kembali memberi keterangan, bahwa tuntutan tidak bisa dipenuhi dan minta kesabaran rakyat.

Suasanapun mereda.

“Berilah kami jaminan, pasukan Inggris malam ini berhenti menembak ke luar”, pinta para pemuda itu.

“Baik”, jawab Residen Soedirman.

Setelah berunding dengan Mallaby dan staf, mereka bersedia berunding dengan tentara yang berada di dalam gedung. Bahkan, Mallaby sendiri bersedia masuk ke dalam gedung untuk memerintahkan penghentian tembakan. ***

Menjelang Hari Pahlawan di Surabaya

Arek Surabaya Marah

Diultimatum Sekutu

Oleh: HM Yousri Nur Raja Agam

BERDASARKAN kesepakatan 26 Oktober 1945, Pemerintah Indonesia di Surabaya mengizinkan pihak Inggris mengunjungi kamp penampungan (interniran) Belanda dan tawanan Jepang di berbagai tempat, besoknya 27 Oktober 1945..

Namun para tokoh pemuda di Surabaya benar-benar kecewa dan marah atas sikap Tentara Sekutu. Sebab, siang itu ada pesawat terbang Inggris terbang di atas udara kota Surabaya. Dari pintu pesawat terbang itu disebarkan kertas berupa pamflet yang berisi ancaman bersifat ultimatum.

Selebaran itu berbunyi:

“Memerintahkan kepada seluruh rakyat, penduduk kota Surabaya dan Jawa Timur untuk menyerahkan kembali senjata dan peralatan perang Jepang kepada tentara Sekutu (Inggris). Semua orang yang memegang senjata dan yang tidak bersedia menyerahkan kepada Sekutu, akan ditembak di tempat. Batas waktu penyerahan, pukul 18.00 tanggal 28 Oktober 1945.”

Setelah membaca selebaran yang berupa ancaman itu, Drg.Mustopo bersama Residen Sudirman yang didampingi tokoh-tokoh Surabaya melakukan kontak dengan Brigjen Mallaby. Kemudian berlangsung pertemuan antara pukuk 12.00 hingga 15.00. Residen Sudirman mengingatkan kepada Mallaby, agar menghentikan penyebaran pamflet itu. Ternyata Mallaby sendiri terkejut dengan adanya selebaran itu. Ia mengatakan, bahwa selebaran itu mungkin dilakukan atas perintah atasannya dari Jakarta.

Kepada Mallaby diingatkan, bahwa isi selebaran itu tidak sesuai dengan isi persetujuan 26 Oktober 1945. Tetapi Mallaby kemudian menjawab, kalau itu merupakan perintah atasannya dari Jakarta, sebagai militer ia harus menaatinya.

Suhu politik di Surabaya memanas. Situasi makin mencekam. Sekutu mulai betindak sewenang-wenang. Mereka menangkapi rakyat yang mereka curigai. Akibatnya, pimpinan BKR, PRI, BPRI, Polisi dan Polisi Istimewa tersentak. Tindakan tentara Inggris telah melewati batas. Demi kehormatan bangsa Indonesia yang sudah merdeka, semua itu tidak bisa dibiarkan. “Kita harus bertindak!”, ujar para pimpinan pejuang di Surabaya.

Malamnya para pejuang Arek Suroboyo melakukan perundingan dan langkah yang akan dilakukan apabila sikap Inggris yang melanggar perjanjian itu.

Benar saja, besoknya, 28 Oktober 1945, pagi hari beberapa orang tentara Inggris menghadang kendaraan bermotor dan senjata yang dipegang para pemuda di jalanan. Pasukan Sekutu juga melakukan gerakan penyerbuan ke berbagai instansi vital. Di antaranta ke kantor Jawatan Kereta Api, kantor telepon dan telegrap, Rumah Sakit Darmo dan beberapa gedung kantor instansi vital lainnya.

Pukul 11.00 (siangnya), Mustopo datang ke markas PRI di Balai Pemuda. Ia memberitahu tentang sudah siapnya tentara Sekutu melucuti senjata secara paksa yang berada di tangan pemuda dan pejuang. Para pemuda yang berada di markas PRI benar-benar marah oleh sikap Sekutu yang mengingkari perjanjian yang sudah dibuat.

Siang itu juga para pimpinan pejuang melakukan konsolidasi. Polisi Istimewa sebagai kekuatan bersenjata dan terlatih juga langsung melakukan dengan rakyat yang sudah memegang senjata. Kontak antarkomponen pejuang berjalan terus.

Pimpinan BPRI Bung Tomo yang berada di markasnya juga sudah mendapat kontak dari PRI. Sorenya diadakan pertemuan dengan pimpinan drg.Mustopo. Disepakati, bahwa gerakan Sekutu (Inggris) “harus dilawan”.

Bersamaan dengan ini, polisi di bawah pimpinan Komandan Polisi Sahoed Prawirodirdjo dan Komandan Polisi Soekardi, seta Agen Polisi Kadam dengan menggunakan sepedamotor Zyspan Harley Davidson melakukan konsinyasi pasukan di Kantor Besar Polisi dan mendatangi beberapa asrama polisi.

Sekembalinya dari asrama polisi Kebalen, ketika melewati Jalan Rajawali pukul 17.00, yakni satu jam sebelum batas waktu ultimatum yang disebutkan dalam pamflet, tiga polisi ini dihadang. Sahoed, Soekardi dan Kadam digiring ke arah lapangan terbang di Tanjung Perak. Pihak Sekutu melepaskan tembakan, akibatnya mereka terluka tembak.

P impinan Palang Merah segera menyelamatkan ke tiga polisi itu. Petugas Palang Merah juga memberitahu kepada radio Pemberontak di Surabaya melalui telepon, bahwa ada tiga Polisi Istimewa ditembak Sekutu. Saat itu juga Bung Tomo melalui pemancar radio BPRI tiada henti memperingatkan dan memerintahkan seluruh rakyat Surabaya untuk mulai melakukan serangan terhadap tentara Inggris.

Dalam siaran radio yang berapi-api itu Bung Tomo menyebut nama ke tiga anggota Polisi Istimewa yang tertembak itu. “Mereka bertiga adalah korban kebrutalan Sekutu-Inggris”, ujar Bung Tomo.

Diperoleh pula laporan, di waktu yang sama juga terjadi insiden provokatif. Tentara Inggris menghentikan truk yang ditumpangi para pemuda, lalu mereka melucuti senjata yang mereka bawa. Agaknya Inggris memandang enteng para pemuda yang berasal dari TKR, PRI, BPRI, PI (Polisi Istimewa) dan rakyat pejuang lainnya.

Mayat Bergelimpangan

Malamnya situasi kota Surabaya benar-benar mencekam. Maut membayangi dari balik gedung, rumah dan dari gang-gang permukiman. Tidak sedikit yang terluka bahkan menemui ajalnya akibat terkena tembakan, ujung pisau, pedang, celurit, bambu runcing dan sangkur. Markas tentara Inggris diserbu rakyat tanpa memikirkan akibat yang fatal. Mayat bergelimpangan di daerah Darmo, Ketabang, Gubeng, sekitar gedung Internatio dan kawasan Tanjung Perak.

Selain pasukan TKR, para pemuda pejuang dan rakyat yang sudah memegang senjata rampasan, Komandan PI Surabaya Soetjipto Danoekoesoemo mengirim pasukannya yang dilengkapi senjata berat watermantel, tank dan panser. Surabaya benar-benar dilanda prahara. Api perang berkobar. Korban berjatuhan dari ke dua belah pihak, Inggris dan rakyat Surabaya.

Kendati mayat bergelimpangan akibat tembakan, semangat perjuangan makin membara. Rakyat tidak menghitung korban. Mati satu datang seribu. Bagai banteng terluka rakyat mengamuk.

Ben Anderson dalam bukunya “Revoloesi Pemoeda” terbitan Pustaka Sinar Harapan (1988), menyebutkan para pemuda yang melakukan penyerbuan ke berbagai markas pasukan Sekutu-Inggris itu mencapai 12 ribu orang. Pejuang Indonesia bertempur dengan fanatik tanpa mempedulikan jumlah korban yang jatuh. Pasukan Inggris meskipun mempunyai perlengkapan senjata berat dan tank-tank terancam oleh kehancuran.

Selain pos-pos pertahanan mereka terkepung, di daerah pelabuhan mereka harus mundur. Lapangan terbang Morokrembangan dapat direbut para pemuda pejuang. Beberapa gedung, seperti gedung Internatio, gedung BPM dan gedung Lindetives juga dikepung.

Soekarno-Hatta Datang

Dalam keadaan gawat, terdesak dan terkepung oleh rakyat pejuang itu, pimpinan pasukan Inggris di Surabaya minta bantuan “juru selamat”. Akhirnya, didatangkanlah Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta, didampingi Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin dari Jakarta. Ikut pula dalam rombongan itu, Mayor Jenderal Hawthorn.

Bung Karno, Bung Hatta, Amir Sjarifuddin dan Mayjen Hawthorn mendarat di bandara Morokrembangan pukul 11.45 pada tanggal 29 Oktober 1945. Pembesar bangsa Indonesia dan Sekutu ini juga mengikutkan beberapa wartawan ibukota dan wartawan asing. Mereka disambut para tokoh pejuang Surabaya, juga Brigjen Mallaby, Kolonel Pugh bersama perwira staf lainnya. Rombongan langsung menuju kantor gubernur Jatim dan diterima langsung oleh Gubernur Jatim, Suryo. Di kantor gubernur jatim ini dilangsungkan perundingan.

Dr.Roeslan Abdulgani dalam bukunya “100 Hari di Surabaya”, terbitan Yayasan Idayu, Jakarta (1975) menulis bahwa ada empat masalah pokok yang disimpulkan dalam perundingan itu. Perundingan berakhir pukul 19.30 malam itu. Hasil kesepakatan itu langsung diumumkan oleh Presiden Soekarno melalui Radio Surabaya. ***

Proklamasi Polisi di Surabaya

Proklamasi Polisi di Surabaya

Mendahului Hari Lahir Polri

Oleh: Yousri Nur Raja Agam MH

MENJELANG pendaratan armada kapal perang Sekutu di Tanjung Perak Surabaya, 25 Oktober 1945, situasi di kota Surabaya semakin mencekam. Kemarahan rakyat terhadap Indo-Belanda yang membonceng rombongan Palang Merah Internasional (Intercross) dan RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Interneers) makin menjadi-jadi.

Selain pemuda yang bergabung dalam PRI (Pemuda Republik Indonesia) dan BKR (Badan Keamanan Rakyat), polisi juga mempunyai peran yang cukup menentukan menjelang dan sesudah Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. Ketika terjadi insiden bendera, 19 September 1945, polisi bergerak cepat, mereka menyatu dengan massa.

Bahkan di Surabaya, selain polisi umum ada pasukan PI (Polisi Istimewa) yang sangat disegani. PI adalah jelmaan dari CSP (Central Special Police). Apalagi saat bulan Agustus 1945 itu, hanya polisi yang masih memegang senjata. Sebab setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, penguasa Jepang di Indonesia membubarkan tentara PETA dan Heiho. Jepang memulangkan para pemuda yang dilatih dalam pasukan PETA (Pembela Tanah Air) dan Heiho dan senjata mereka dilucuti.

Karena polisi mempunyai peran yang istimewa dalam masyarakat, maka kondisi itu dimanfaatkan untuk melakukan pemantapan. Dalam buku “Sejarah Kepolisian di Indonesia”, disebutkan: di Surabaya, Komandan Polisi Istimewa Jawa Timur, Inspektur Polisi Kelas I (Iptu) Moehammad Jasin, memproklamasikan kedudukan kepolisian pada tanggal 21 Agustus 1945.

Dalam ejaan lama, Proklamasi Polisi itu tertulis:

Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menjatakan Polisi sebagai Polisi Repoeblik Indonesia”.

Di bawahnya, tercantum: Soerabaja, 21 Agoestoes 1945. Atas Nama Seloeroeh Warga Polisi: Moehammad Jasin – Inspektoer Polisi Kelas I.

Proklamasi polisi itu merupakan suatu tekad anggota polisi untuk berjuang melawan tentara Jepang yang masih bersenjata lengkap, walaupun sudah menyerah. Proklamasi polisi juga bertujuan untuk meyakinkan rakyat, bahwa polisi adalah aparat negara yang setia kepada Republik Indonesia. Dengan demikian, rakyat dapat melihat bahwa polisi bukanlah alat penjajah.

Jadi, di Surabaya, Kepolisian Republik Indonesia lahir mendahului keberadaan polisi secara resmi di Indonesia yang ditetapkan sebagai Hari Bhayangkara, 1 Juli 1946.

Dalam waktu singkat, polisi melakukan koordinasi dengan pejuang yang tergabung dalam PRI (Pemuda Republik Indonesia) dan BKR (Badan Keamanan Rakyat) yang kemudian berubah nama menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat), serta BPRI (Barisan Pemberontakan Republik Indonesia) pimpinan Sutomo (Bung Tomo). Mereka bahu-membahu dan menyatu dalam berbagai kegiatan pengamanan dan perlawanan terhadap tindakan yang dilakukan serdadu Jepang dan anak-anak muda Indo-Belanda.

Selama bulan September dan Oktober 1945, situasi bercampur antara semangat kemerdekaan oleh rakyat dan sikap Jepang “yang kalah perang” tetapi masih bersenjata. Di samping itu, utusan yang mempersiapkan kedatangan pasukan Sekutu juga sudah terlihat. Jepang tidak begitu saja menyerahkan senjatanya kepada para pemuda yang berusaha merampas senjata yang dipegangnya. Namun dalam beberapa kasus, pihak Jepang hanya bersedia menyerahkan senjatanya kepada polisi, seraya minta jaminan keselamatan.

Perebutan Senjata

Situasi ekplosif yang berjalan hampir dua minggu sejak Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, di Surabaya berubah dengan cepat. Dalam buku “Pertempuran Surabaya” yang diedit Prof.Dr.Nugroho Notosusanto disebutkan tanggal 2 September 1945 tersusun kepemimpinan BKR (Badan Keamanan Rakyat) di Surabaya. Para pemuda di kampung-kampung dan pabrik-pabrik menyusun kekuatan dan penjagaan keamanan.

Tentara Peta dilucuti senjatanya sebelum dibubarkan. Hanya polisi yang masih memiliki senjata. Sekalipun polisi masih memiliki senjata, bukan tidak mungkin Jepang akan melucuti mereka. Karena peristiwa pelucutan senjata Peta secara licik itu, seorang bekas daidanco Gresik, bernama drg.Moestopo memerintahkan kepada bekas shodanco Abdurahman untuk menghubungi kepala polisi M.Jasin.

Drg.Moestopo berpesan melalui suratnya yang mengingatkan polisi jangan sampai ditipu oleh Jepang, seperti Peta. Abdurahman pergi ke SMT (Sekolah Menengah Tinggi) menghubungi Isman. Bersama Isman ia menghadap M.Jasin. Adanya pesan itu, menjadikan polisi waspada terhadap kemungkinan atau usaha melucuti dirinya.

Pemuda-pemuda sebagian besar tidak memiliki senjata apai. Yang digunakan hanya senjata tradisional, seperti bambu runcing (takeyari), kelewang, pedang, clurit dan lain-lain. Mereka memerlukan senjata api.

Tentunya untuk mendapatkan senjata itu tidak gratis dari Jepang, tetapi harus direbut. Nah, api pembakarnya telah dinyalakan oleh KNI dan membuat maklumat pemerintah daerah yang tertuang di dalam Proklamasi RI daerah Surabaya tanggal 3 September 1945. Mulai saat itulah Surabaya memulai revolusi. Sasaran pokoknya adalah gudang-gudang penyimpanan senjata Jepang. Tindakan pertama yang dilakukan adalah melucuti pasukan-pasukan Jepang yang menjaga dan menguasai senjata.

Pada waktu itu gudang senjata Jepang yang terbesar terletak di Sawahan di gedung sekolah Don Bosco. Gudang senjata ini dikuasai oleh Dai 10360 Butai Kaisutiro Butai yang dipimpin oleh Mayor Hazimoto, dengan personil Jepang 16 orang dan heiho satu peleton. Sebelumnya di sana ada 150 orang karyawan sipil, tetapi mereka sudah diberhentikan sejak bulan Agustus 1945. Namun mereka masih dipekerjakan untuk menginventarisasi senjata yang akan diserahkan kepada Serikat (Sekutu).

Dari karyawan yang masih ada di gudang itulah diperoleh keterangan tentang keadaan arsenal Don Bosco. Informasi itu disebarluaskan dan kemudian tempat inilah yang menjadi sasaran pertama para pemuda. Tanggal 16 September 1945, gudang mesiu Don Bosco dikepung pemuda, pelajar dan massa rakyat. Beberapa orang maju menemui pimpinannya. Mereka adalah Subianto Notowardojo dan Mamahit guru Sekolah Teknik Don Bosco, serta seorang wartawan bernama Sutomo (dikenal dengan panggilan: Bung Tomo).

Ketiga orang ini berdiplomasi agar kekuasaan arsenal diserahkan kepada mereka. Mayor Hazimoto setuju dengan penyerahan itu, tetapi yang menerima harus polisi. M.Jasin beserta anak buahnya dari Polisi Istimewa, maju dan menandatangani naskah serah terima penguasaan arsenal. Sutomo dengan segenap yang hadir menjadi saksi penyerahan. Jumlah senjata di arsenal Don Bosco tidak terhitung. Bahkan Bung Tomo pernah mengirim senjata ke Jakarta sebanyak empat gerbong kereta api yang diambil dari arsenal ini.

Para bekas tentara Peta yang dilucuti senjatanya tanggal 18 Agustus 1945 tidak tinggal diam. Bekas Cudanco Suryo bersama Syudanco Isa Edris pegi menemui Kohara Butai di Gunungsari. Di sana mereka diterima Kolonel Kohara Jingo. Kepada Jingo mereka meminta agar senjata yang ada di markas itu diserahkan. Sebagai tentara yang “kalah perang”, Kolonel Kohara Jingo tidak keberatan menyerahkan semua senjatanya. Hanya satu permintaannya, agar pedang pribadinya dikecualikan. Permintaan itu diluluskan. Berkat diplomasi ini berhasil diangkut senjata ringan dan berat yang jumlahnya mencapai 100 pucuk. Senjata itu sebagian besar diserahkan kepada pasukan Tentara Pelajar di HBS (Hogere Burgere School) dan kepada BKR Laut.

Usaha mendapatkan senjata terus berlanjut. Samekto Kardi bersama Isa Edris dan rombongan menuju ke bekas Daidan tentara Peta di Gunungsari. Di sana mereka langsung menuju gudang senjata dan mengambil 514 pucuk senjata yang terdiri dari 400 pucuk karaben, 14 pucuk pistol Vickers, 50 mortir, 50 tekidanto dan 30 pucuk senapan mesin ringan dan berat.

Pangkalan udara Morokrembangan juga diambil alih oleh pemuda dan polisi. Ali Jayengrono berdiplomasi dengan pimpinan pangkalan dan behasil mendapatkan beberapa pucuk senjata.

Jumlah senjata terbanyak diperoleh dari markas Jepang Tobu Jawa Boetai yang dipimpin Jenderal Iwabe. Caranya cukup unik. Pagi-pagi sejumlah pemuda mengepung markas itu. Kemudian, Moestopo bersama Wahab, Suyono, Mudjoko, M.Jasin dan Rahman dengan seragam daidanco menghadap Jenderal Iwabe. Kepada Iwabe, Moestopo atas nama pimpinan BKR, atas nama Gubernur Jatim dan atas nama Presiden Republik Indonesia, serta atas nama rakyat, meminta agar senjata diserahkan kepada mereka. Permintaan itu ditolak oleh Iwabe. Moestopo mengancam, kalau tidak berhasil, maka pukul 10.00 terjadi tembak-menembak. Ancaman itu benar-benar terjadi pada pukul 10.00. Masrkas Iwabe dikepung dan ditembaki. Anak buah Iwabe membalas, sehingga terjadilah pertempuran.

Jenderal Iwabe dengan perantaraan seorang kolonel meminta agar Moestopo menghentikan tembakan. Namun tidak mudah. Akhirnya, Iwabe mengumpulkan stafnya. Moestopo juga memanggil M.Jasin, Suyono, Mudjoko, Wahab dan Rahman. Maka terjadilah perundingan. Namun Iwabe tetap menyatakan tidak akan menyerahkan senjata tanpa ada orang yang bertanggungjawab. Moestopo menanyakan bertanggungjawab kepada siapa. Iwabe mengatakan kepada Serikat (Sekutu), sebab sewaktu-waktu mereka datang. Moestopo langsung menjawab dan menunjuk dirinya.

“Ya ini, pemimpin Jawa Timur, yang mewakili Gubernur, yang bernama Moetopo mantan Daidanco, ini yang bertanggungjawab”, kata Moestopo menunjuk ke arah dirinya.

Oleh staf Jenderal Iwabe, Moestopo disodori naskah dalam bahasa Jepang. Tanpa menunggu lebih lama naskah itu ditandatangani berganti-ganti, mulai dari Moestopo disusul Suyono, Mudjoko, M.Jasin, Abdul Wahab dan Rahman.

Setelah penandatanganan, gudang senjata di tingkat bawah dibuka. Pemuda-pemuda berhamburan memasuki gudang senjata dan dibagi-bagikan. Markas pimpinan Iwabe itupun kemudian diambilalih, dijadikan markas BKR Jawa Timur dan “Kementerian Pertahanan” di bawah komando Drg.Moestopo. Sejata-senjata itu dibawa ke markas BKR Kota, Markas PRI, markas BKR Keresidenan dan gedung HBS untuk dbagi-bagikan kepada pemuda.

Perjalanan perebutan senjata belum selesai. Sasaran selanjutnya Kitahama Butai yang semula menjadi kantor Lindeteves. Dari sini berhasil direbut 23 tank, 18 senjata pengkis udara, enam pucuk watermantel. Perebutan senjata ini dipimpin Isa Edris dan Suprapto.

Bendera Putih

Sutjipto Danukusumo dalam bukunya “Hari-hari Bahagia Bersama Rakyat” mengisahkan peristiwa dari hari ke hari di Surabaya. Di antaranya juga bercerita tentang pelucutan senjata Jepang di Wonokromo, di sekolah Don Bosco Jalan Tidar dan di gedung GE (General Electronics) di Kaliasin, serta di berbagai tempat lainnya.

Salah satu peristiwa berdarah terjadi di depan markas Kempetai di depan kantor gubernur Jatim (sekarang menjadi taman Tugu Pahlawan Surabaya). Di sini rakyat bergerak untuk merebut senjata yang berada di tangan tentara Jepang, namun mereka melakukan perlawanan. Dalam tembak-menembak ini puluhan pemuda gugur dan beberapa tentara Jepang terluka.

Tembak menembak baru berhenti setelah Iptu M.Jasin datang bersama beberapa polisi dengan membawa bendera putih ke dalam markas Kempetai. Di dalam berlangsung perundingan yang cukup alot dan gagal. Tembak menembak terjadi lagi, namun Komandan Polisi Paiman dengan naik Bren Carier yang dikemudikan Pelamonia menerobos masuk ke gedung Kempetai. Tembak menembak terhenti dan kemudian dilakukan perundingan ulang.

Akhirnya, pasukan Kempetai bersedia menghentikan tembak-menembak dengan syarat jaminan keselamatan jiwa bagi seluruh pasukannya yang ada dalam gedung Kempetai itu. Komandan polisi itu mengiyakan, kontak senjatapun betul-betul berhenti. Seluruh pasukan Kempetai yang sudah menyerahkan diri dan senjatanya diamankan di Yarmark (THR atau Taman Hiburan Rakyat di Jalan Kusumabangsa sekarang).

Setelah terjadi pertempuran dan pelucutan senjata terhadap tentara Jepang, maka pemuda-pemuda mendapat pembagian senjata bersama amunisinya. Pembagian senjata ini dilakukan di berbagai tempat. Polisi, PRI dan TKR selain mendapat senjata juga menguasai beberapa kendaraan tempur milik tentara Jepang. Dengan adanya senjata di tangan itu semangat juang untuk mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan semakin berkobar.

Hari Kamis, 25 Oktober 1945, armada kapal transport dan kapal perang pasukan Sekutu pimpinan Brigjen Mallaby, sandar di dermaga pelabuhan Tanjung Perak. Dua perwira: Kapten Mc.Donald dan Letnan Gordon Smith diutus menghadap Gubernur Jawa Timur, Soeryo. Kedatangan utusan ini menyampaikan undangan lisan Brigjen Mallaby kepada Pak Suryo untuk datang ke atas kapal perang milik Inggris. Namun, Pak Suryo tidak dapat memenuhi undangan itu karena sedang memimpin konferensi para residen se Jawa Timur.

Dua perwira ini bersikeras mendesak, tetapi Gubernur Suryo tetap menolak. Dengan gerakan kurang sopan, tanpa pamit mereka meninggalkan ruangan. Pak Suryo terlihat marah terhadap sikap dua perwira itu.

Kabar pendaratan tentara Sekutu ini menyebar dari mulut ke mulut. Rakyat Indonesia di Surabaya tidak rela “tentara asing” kembali menguasai tanahairnya. Tekad perlawanan rakyat ini membuat Mallaby bersikap hati-hati. Apalagi, informasi yang sudah diterima dari mata-matanya, seluruh senjata Jepang sudah dilucuti dan rakyat sudah dipersenjatai.

Malam harinya, berlangsung perundingan antara Drg.Moestopo dengan Kolonel Pugh, utusan Mallaby. Dalam perundingan di markas TKR Jawa Timur, disepakati pasukan dari armada kapal Sekutu (Inggris) mendarat di Tanjung Perak dan berhenti 800 meter dari pantai. Dengan adanya pembatasan ini, konflik bersenjata dengan rakyat dapat dicegah.

Besoknya, 26 Oktober 1945, perundingan dilanjutkan antara wakil Indonesia dengan wakil Sekutu di gedung Jalan Kayun 42 Surabaya. Dari Indonesia dihadiri Residen Sudirman, Walikota Surabaya Radjamin Nasution, Ketua KNID Doel Arnowo, Muhammad dan Moestopo. Selain itu juga hadir beberapa orang dari PRI, TKR dan Poliri, yakni: Roeslan, Ronokoesoemo, Ronopradopo, Soehoed Prawirodidjo, Paiman, Soejono dan Soejanto. Pihak Sekutu dipimpin langsung oleh Brigjen Mallaby yang membawa sepuluh orang stafnya..

Ada tiga kesepakatan yang disimpulkan dalam perundingan itu.

Pertama: Yang dilucuti senjatanya hanya tentara Jepang, bukan TKR dan juga badan perjuangan rakyat lainnya.

Kedua: Tentara Inggris selaku wakil Sekutu akan membantu Indonesia dalam pemulihan keamanan, ketertiban dan perdamaian.

Ketiga: Setelah semua tentara Jepang dilucuti, maka mereka akan diangkut melalui laut. *****

*) Yousri Nur Raja Agam MH – Pemerhati Sejarah bermukim di Surabaya

Riwayat Sunan Ampel – Wali Songo (2)

Riwayat Sunan Ampel – Wali Songo (2) 

Nama Asli Sunan Ampel 

 

 

Bong Swie Hoo

 

 

Oleh:  H.M.YOUSRI NUR RAJA AGAM *)

Yousri Nur RA. MH

Yousri Nur RA.MH.

 

 

Masyarakat sejarah sudah memastikan dan meyakini, bahwa Sunan Ampel memang bukan asli dari Jawa. Ada yang menyebut berasal dari Campa, Cina Selatan dan ada pula yang menyatakan berasal dari Arab. Kendati demikian, pada saat peringatan HUT ke-710 Kota Surabaya, ada peristiwa bersejarah yang terjadi Rabu, 28 Mei 2003. Masjid Muhammad Cheng Ho di Jalan Gading 2 Surabaya diresmikan oleh Menteri Agama RI. Saat upacara peresmian itu dari “bisik-bisik” terungkap kisah lain tentang asal-usul Sunan Ampel. Ia dikatakan berasal dari Cina atau keturunan Tionghoa.

 Sebelumnya diungkapkan asal-usul Sunan Ampel berdasarkan versi Babad Para Wali, Babad Tanah Jawi dan Babad Ngapeldenta. Ada lagi versi lain, versi “Babad Risakipun Majapahit Wiwit Jumenengipun Prabu Majapahit Wekasan Dumugi Demak Pungkasan” yang manuskrip aslinya disimpan di Reksopustoko, Solo.

Berbeda dengan versi sebelumnya, ada lagi versi lain tentang Sunan Ampel, versi Kronik Sam Po Kong, Semarang. Parlindungan dalam bukunya “Tuanku Rao”, terbitan Tanjung Pengharapan, menulis, bahwa Sunan Ampel keturunan Tionghoa atau Cina. Nama asli Sunan Ampel atau Raden Rahmat adalah Bong Swie Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng dari Campa. Tahun 1447, Bong Swie Hoo di Tuban nikah dengan puteri Haji Gan Eng Tju yang pupular dengan panggilan Nyi Ageng Manila.

Sedangkan Slamet Muljana dalam buku “Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara” terbitan Bhatara, Jakarta, 1968 halaman 103, mengidentifikasikan Haji Gan Eng Tju sebagai Arya Teja.

Berita tentang orang-orang Cina Muslim yang menetap di Jawa, pertama kali diberitakan oleh Ma Huan. Ia berkunjung ke Jawa tahun 1407 dalam suatu rombongan utusan kaisar Tiongkok ke Asia Tenggara. Kisah ini dibukukan dengan judul Yeng-yei Sheng-lan (Catatan umum tentang pantai dan samudera raya).

Berdasarkan data ini, diungkap bahwa Sunan Ampel berdarah Cina, maka dugaan tersebut dikuatkan oleh gambar Sunan Ampel yang disimpan di Amsterdam. Gambar itu ditemukan oleh Lembaga Riset Islam Pesantren Luhur Malang, direproduksi oleh Panitia Lustrum ke-2 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, 5 Juli 1975.

Kunjungan Cheng Ho ke Asia Tenggara, diduga sebagai salah satu sebab banyaknya saudagar Cina berimigrasi secara besar-besaran ke berbagai negeri di Asia Tenggara ini, termasuk Indonesia. Di antaranya menetap di Surabaya.

Dua peneliti Bangsa Belanda, De Graaf dan Pigeaud menulis, masyarakat Islam yang ada di Gresik dan Surabaya, banyak yang berasal dari Cina, khususnya Hindia Belakang atau Indo Cina. Nama wilayah yang terkenal waktu itu adalah Campa. Pada waktu dinasti Yuan dan Ming berkuasa di Cina, Campa berada di Provinsi Yunnan. Penguasa terkenal di wilayah ini, tulis Drs.H.Sjamsudduha dalam buku Jejak Kanjeng Sunan, Perjuangan Walisongo (1999) adalah Say Dian Chih.

Campa tahun 1471 dikuasai oleh orang Annam atau Vietnam, kecuali satu daerah yang bernama Pandurangga. Dalam ekspedisinya, Cheng Ho juga sering kali singgah di Campa. Tetapi, Buya Hamka dalam bukunya “Sejarah Umat Islam” penerbit Nusantara, Bukittinggi, menegaskan bahwa Sunan Ampel atau Raden Rahmat bukan berasal dari Campa, Indo Cina, melainkan dari Cempa atau “Jeumpa” di Aceh.

Hingga sekarang “Jeumpa” itu masih ada di Aceh, sebagai nama kecamatan dengan ibukota Bireun, Kabupaten Aceh Utara.

Sebenarnya kisah dan cerita tentang Sunan Ampel ini masih banyak, tetapi tidak sama. Masing-masing punya versi sesuai dengan sumber yang diteliti. Kendati demikian, sebagai obyek wisata suci (ziarah), sangat layak masalah Sunan Ampel ini ditelusuri lebih teliti lagi.

Peninggalan Sunan Ampel terdapat di kawasan Ampel, selain ada masjid Agung dan komplek makam Sunan Ampel, juga terdapat puluhan makam pengikutnya.

Kembang Kuning

Salah satu peninggalan lain Sunan Ampel adalah Masjid Rahmat di daerah Kembang Kuning, Surabaya. Konon ceritanya, saat Raden Rahmat mendapat restu dari Prabu Brawijaya untuk tinggal di Ngampeldenta, Surabaya. Sebelum sampai di tujuan, ia sempat beristirahat dan tinggal di daerah Kembang Kuning.

Selama berada di Kembang Kuning, Raden Rahmat mendirikan rumah dan masjid. Ada yang mengindentikkan perjalanan Raden Rahmat dari pusat kerajaan Majapahit ke Ngampeldenda, seperti Nabi Muhammad hijrah dari Mekah ke Madinah. Di mana, Rasulullah Muhammad SAW, sebelum sampai di kota Madinah berhenti dulu dan tinggal di Quba. Di kota yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari Madinah itu, nabi membangun masjid pertama, yakni Masjid Quba.

Sedangkan Raden Rahmat sebelum sampai di Ngampeldenta, singgah dan membangun masjid di Kembang Kuning. Sampai sekarang masjid peninggalan Raden Rahmat itu masih ada di Kembang Kuning yang diberi nama Masjid Rahmat. Letaknya, juga sekitar 5 kilometer dari daerah Ampel.

Tidak hanya itu, di Kembang Kuning ini menurut naskah Badu Wanar dan naskah Drajad, tarikh Auliya, halaman 6, disebutkan bahwa Raden Rahmat sempat menikah dan dua anaknya dari perkawinan itu lahir di sini. Keduanya puteri, yakni: Dewi Mustasiyah dan Dewi Murtasimah.

Versi lain menyebut, waktu itu Raden Rahmat dengan isteri pertama mempunyai delapan orang anak, yaitu: Sunan Bonang, Sakban Gunung Muria alias Pangeran Sobo, Maulana Joko Lor Sunan Kudus, Dewi Murtasiyah, Nyi Ageng Maloko, Maulana Zainuddin Penghulu Demak, Maulana Hasyim Sunan Drajad dan Maulana Abdul Jalil alias Asmara Jepara.

Satu versi lagi menyatakan, bahwa waktu bersiteri dengan wanita dari Kembang Kuning, Raden Rahmat mengumpulkan dua isterinya dalam satu rumah. Dengan dua isteri itu Raden Rahmat mempunyai tujuh orang anak, yakni: Siti Murtasimah, Siti Syari’ah, Sunan Bonang, Sunan Drajad, Siti Muthmainnah, Siti Murtasiyah dan Siti Hafsyah.

Kecuali versi-versi di atas, ada pula versi lain yang mengungkap Raden Rahmat mempunyai tiga isteri, masing-masing: Nyi Ageng Manila, Nyi Ageng Bela (kemenakan Arya Teja) dan seorang lagi tidak diketahui namanya. Dari isteri pertama punya empat anak, yaitu: Sarifuddin, Makdum Ibrahim, Nyi Ageng Maloko, dan seorang puteri yang dinikahkan dengan Sunan Kalijaga. Dengan isteri kedua, punya dua anak: Hasyim Syahib Drajad dan Muthmainnah. Dari isteri ketiga, empat orang anak, yakni: Murtosiyah, Ratu Asyiqah, Alawiyah (Ibu Danang) dan Maulana Hasanuddin.

Mbah Bungkul

Warga Kota Surabaya pasti mengenal nama Mbah Bungkul. Makamnya terletak di Jalan Raya Darmo, tepatnya di Jalan Progo. Di sana ada tanah lapang yang lazim disebut Taman Bungkul. Sedangkan makam Mbah Bungkul berada di bagian timur taman yang dipagari, serta terlindung di balik tembok. Selain makam Mbah Bungkul, di sana juga ada beberapa makam keluarga dan pengikutnya.

Para penziarah yang berkunjung ke Masjid Agung Ampel dan makam Sunan Ampel, tidak jarang juga melakukan perjalanan ritual berkesinambungan ke Makam Mbah Bungkul.

Nah, apa hubungan Sunan Ampel dengan Mbah Bungkul? Ternyata, Mbah Bungkul adalah besan Sunan Ampel.

Sahibul hikayat, Mbah Bungkul semula bernama Ki Ageng Supa. Sewaktu masuk agama Islam, namanya diganti menjadi Ki Ageng Mahmuddin. Ia mempunyai seorang puteri bernama Siti Wardah.

Suatu hari, Ki Ageng Mahmuddin berkeinginan menikahkan puterinya. Namun ia belum mendapatkan jodoh. Untuk mencari jodoh puterinya itu, Ki Ageng Mahmuddin bernazar melakukan sayembara. Uniknya, sayembara itu tidak terbuka, tetapi hanya diungkapkan dalam hati Ki Ageng Mahmuddin.

Ki Ageng Mahmuddin menghanyutkan satu buah delima ke Kalimas (Mungkin, di pinggir sungai dekat Jalan Darmokali sekarang). Ketika melemparkan delima itu ia mengucapkan nazarnya, siapa yang menemukan buah delima itu, kalau ia laki-laki, maka akan diambil menjadi menantu yang akan dinikahkan dengan Dewi Wardah.

Kebetulan di bagian hilir sungai Kalimas (ya, kira-kira dekat Jalan Pegirian sekarang), seorang santri Sunan Ampel yang sedang mandi menemukan buah delima itu. Si santri menyerahkan buah delima itu kepada gurunya, Sunan Ampel. Oleh Sunan Ampel buah delima itu disimpan.

Besoknya, Ki Ageng Mahmuddin menelusuri bantaran Kalimas. Sesampainya di pinggiran Kalimas dekat Ngampeldenta, ia melihat banyak santri mandi di sungai. Ada keyakinan Ki Ageng Mahmuddin, bahwa yang menemukan buah delima itu adalah salah satu di antara santri Sunan Ampel.

Tanpa pikir panjang, Ki Ageng Mahmuddin menemui Sunan Ampel. Ia bertanya kepada Sunan Ampel, apakah ada dari santrinya yang menemukan buah delima yang hanyut saat mandi di Kalimas? Sunan Ampel menjawab ada, bahkan delima itu ia yang menyimpannya setelah diserahkan oleh seorang santri. Ki Ageng lalu mengungkapkan tentang nazarnya itu kepada Sunan Ampel.

Sunan Ampel lalu mengatakan, santri yang menemukan buah delima itu bernama Raden Paku. Maka sesuai dengan nazarnya, ia minta kepada Sunan Ampel untuk sudi memperkenalkan laki-laki itu kepadanya dan sekaligus diizinkan untuk dinikahkan dengan anaknya, Dewi Wardah.

Sunan Ampel tidak dapat menolak, karena nazar wajib untuk dilaksanakan. Maka disetujuilah pernikahan Raden Paku dengan Dewi Wardah.

Ada keunikan dalam cerita ini, ternyata pada hari yang ditetapkan itu, sebenarnya Sunan Ampel juga menikahkan puterinya Dewi Murtasiyah dengan Raden Paku. Jadi, pada hari yang sama, Raden Paku menikah dengan dua wanita. Pagi hari dengan Dewi Murtasiyah anak Sunan Ampel dan petang harinya dengan Dewi Wardah anak Ki Ageng Mahmuddin alias Mbah Bungkul.

Begitulah ceritanya, karena ada keterkaitan antara Ki Ageng Mahmuddin yang juga dipanggil Mbah Bungkul itu dengan Sunan Ampel dalam hubungan “perbesanan”, maka para penziarah ke kawasan Ampel, juga menyempatkan diri berziarah ke makam Mbah Bungkul. ***

*) Yousri Nur Raja Agam M.H – Pemerhati sejarah bermukim di Surabaya.

**************************************************************

Riwayat Sunan Ampel – Wali Songo (3)

Riwayat Sunan Ampel – Wali Songo (3)

Sunan Ampel

Keturunan Nabi Muhammad

Oleh:

H.M.YOUSRI NUR RAJA AGAM *)

SUNAN Ampel benar-benar sudah diyakini oleh semua peneliti sejarah, “bukan orang Jawa”. Ia adalah pendatang dari Campa atau Cempa atau Jeumpa. Masih belum jelas, di mana tepatnya. Bahkan juga disebutkan bahwa Sunan Ampel, berdarah Arab dan keturunan Cina.

Selain itu semua, ada lagi kisah tentang nasab atau garis keturunan Sunan Ampel. Dalam Babad Tanah Jawi- Galuh Mataram, versi Soewito Santoso, menegaskan bahwa Sunan Ampel berasal dari Arab dan masih keturunan Nabi Muhammad SAW (Shalallahu ‘Alaihi Wasallam).

Azzumardi Azra dalam bukunya “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Melacak Akar-akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia, 1994,halaman 30, bahwa ayah Sunan Ampel orang Arab bukan sekadar “tutur tinular”, melainkan ada beberapa sumber tertulis yang mendukung. Pendapat umum tersebut juga dikuatkan oleh keterangan GWJ Drewes di depan rektor dan para dosen IAIN Kalijaga Jogjakarta, 21 November 1971, sebagaimana diberitakan pada Bulletin Antara, terbitan LKBN Antara, edisi pagi, 22 November 1971, halaman 1.

Salah satu bangsa di dunia yang senang dan paling rajin mencatat nasab dan silsilah adalah Bangsa Arab, terutama kaum Alawiyyin. Ini karena ciri khas kaum ini yang bangga dan hormat terhadap orang tua dan leluhurnya. Kabilah Arab menyusun cacatan silsilah ini dengan rapi. Syekh Al-Fadil wa al-Tahrir al-Kamil Abi al-Faus al-Bagdadi yang biasa disebut al-Syuwaidiy dalam bukunya: “Sabaik al-Zahab fi Ma’rifati Qabail al-Arab, menulis tentang silsilah dan pecahan kabilah di Arab perantau sampai ke India.

Dalam kitab itu juga diuraikan tentang garis keturunan Nabi Muhammad SAW ke Siti Fatimah yang menjadi penyebar agama Islam sampai ke Timur Jauh, yakni: India, Kamboja, Siam, Annam, Malaysia dan Indonesia.

Dalam beberapa silsilah Nabi Muhammad yang kemudian sampai ke Sunan Ampel, terungkap pada Serat Babad Para Wali Tanah Jawa sebagai versi pertama, silsilah dari 1’Nabi Muhammad terus ke generasi 2.Sayyidah Siti Fatimah az-Zahra + Sayyidina Ali bin Abi Thalib, terus ke 3.Husein — 4.Ali Zainal Abidin — 5.Muhammad al-Baqir — 6.Ja’far Shadiq — 7.Ali — 8.Muhammad — 9.Isa — 10.Ahmad Muhajir — 11.Ubaidullah — 12.Alwi — 13.Muhammad — Alwi — Ali Khaliq — Muhammad — Alwi — Abdul Malik — Abdullah Khan — Ahmad Jamaluddin — Jamaluddin Akbar — Ibrahim dan terus ke Raden Rahmat.

Versi kedua, dari Nabi Muhammad terus ke Siti Fathimah az-Zahra + Sayyidina Ali bin Abi Thalib — S.Husain — Ali Zainal Abidin (wali di Mindanau, Filipina) — Zainal Alim — Zainal Kabir — Zainal Husain — Jumadil Kubra — Ibrahim Asmara dan Raden Rahmat.

Versi ketiga, urutan nasab Syarif Muhammad bin Ali Zainal Abidin, yaitu: dari 1.Nabi Muhammad SAW terus ke 2.Siti Fathimah az-Zahra + Sayyidina Ali bin Abi Thalib — 3.Husain – 4.Ali Zainal Abidin — 5.Muhammad al Baqir — 6.Ja’far Shadiq — 7.Ali — 8.Muhammad — 9.Isa — 10.Ahmad Muhajir — Ubaidullah —Alwi — Abdurrahman — Ahmad — Abdullah — Ali — Muhammad — Abdullah — Muhammad — Ali — Nuhammad — Husen — Ali al Baqir — Ali Zainal Abidin — Muhammad Abdul Malik dan Raden Rahmat.

Versi keempat, berdasarkan silsilah Sunan Giri, sebagai berikut: dari Nabi Muhammad SAW ke Siti Fathimah az-Zahra + Sayyidina Ali bin Abi Thalib – Husain — Ali Zainal Abidin – Muhammad al Baqir — Ja’far Shadiq —Ali — Muhammad — Isa — Ahmad Muhajir — Ubaidullah —Alwi — Muhammad — Alwi — Ali Khaliq — Muhamad — Alwi — Ibrahim — Maulana Ishaq — Raden Rahmat.

Dari empat versi di atas, versi pertama, apabila diperhatikan dari nama, ada perbedaan sebutan nama-nama psds nomor urut keturunannya.

Silsilah lainnya ada empat versi lagi, semua tentang garis nasab Raden Rahmat atau Sunan Ampel dari Nabi Muhammad melalui Siti Fatimah.

Kendati dari berbagai versi itu ada perbedaan, namun pada akhirnya ada kesamaan, yakni keturunan terdekat Raden Rahmat adalah Ibrahim.

Gelar Raden

Biasanya, kalau penyebar agama Islam berasal dari Arab, ia sering dipanggil syekh. Sebagaimana panggilan untuk ulama besar di Sumatera, terutama di Minangkabau atau Sumatera Barat. Tetapi itu sama sekali tidak, pada Sunan Ampel dan beberapa sunan lainnya. Kecuali ada sebutan syekh untuk Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Syekh Maulana Yusuf.

Berbagai sumber dan babad, semuanya menyatakan Sunan Ampel pada masa kecilnya bernama Rahmat.

Dalam riwayat berikutnya, setelah menempuh perjalanan panjang dengan menyeberangi samudera dan lautan, Rahmat datang pusat kerajaan Majapahit bersama adiknya Raja Pandhita alias Santri dan anak pamannya bernama Beureurah atau Burerah. Paman Rahmat atau ayah Burerah adalah Raja Cempa. Di keraton Majapahit mereka bertiga diterima sebagai keluarga kerajaan. Sebab, Rahmat dan Raja Pandhita alias Santri adalah kemenakan dari permaisuri Prabu Brawijaya yang bernama Dewi Murtiningrum atau dalam Babad Tanah Jawi – Galuh Mataram disebut Ratu Darawati.

Nah, saat berada di Majapahit inilah, mereka bertiga memperolah gelar “raden”, sehingga Rahmat menjadi Raden Rahmat, Raja Pandhita alias Santri menjadi Raden Santri dan Beureurah menjadi Raden Burerah.

Kemudian, Raden Rahmat sebagai ulama dan oleh Prabu Brawijaya diberi kesempatan untuk menguasai suatu wilayah di Surabaya, tepatnya di Ampel. Tidak hanya itu, dalam buku Oud Soerabaia (1931), karangan G.H.von Faber, halaman 288, disebutkan bahwa Raden Rahmat pindah bersama 3.000 keluarga pengikutnya (drieduizend huisgezinnen).

Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java (1817), halaman 117 menulis kepindahan Raden Rahmad dari keraton Majapahit ke Ampel disertai 3.000 keluarga (three thousand families). Sementara itu menurut Babad Ngampel Denta, jumlah orang yang boyongan bersama Raden Rahmat ke Ampel Surabaya sebanyak 800 keluarga (sun paringi loenggoeh domas). “Domas” menurut S.Prawiroatmodjo dalam buku Bausastra Jawa – Indonesia (1981) artinya delapan ratus.

Jadi, pemberian gelar raden untuk Rahmat sehingga bernama Raden Rahmat, karena ia dianggap sebagai bangsawan dan perlu mendapat penghormatan. Bisa juga, karena dia sebelumnya bergelar asy-Syarif atau as-Syayyid yang merupakan ningrat Arab, tulis G.F.Pijper dalam “Beberapa Studi Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950” terjemahan Tudjimah dan Yessi Augusdin (1984).

Berdasarkan padanan itu, lalu disejajarkanlah Rahmat dengan keturunan raja-raja Jawa, ia diberi gelar raden. Dengan adanya gelar raden itu, ia tidak lagi menjadi orang asing di sini. Apalagi dalam riwayat berikutnya, Raden Rahmat kawin dengan pribumi dan beranak-pinak sebagai “Orang Jawa”.

Sunan dan Wali

Setelah masa lalunya akrab dengan nama Raden Rahmat, kiprahnya dalam menyebarkan agama Islam dari Surabaya, terus berkembang ke seluruh Tanah Jawa. Raden Rahmat tidak sendiri, ia dibantu murid-murid dan anak-anaknya.

Sebagai guru besar agama Islam ia kemudian mendapat julukan “Suhun”. Dalam buku Javaansch-Nedherlansch Handwooenboek (1901) karya J.F.C Gerieke dan T.Roorda, disebutkan bahwa Suhun merupakan kata dasar dari Sunan. Nah, kemudian berubahlah panggilan suhun menjadi sunan. Karena menetap di Ampel, maka Raden Rahmat kemudian popular dengan sapaan Sunan Ampel.

Kata “wali”, berasal dari kalimat waliyullah atau wali Allah. Dalam tradisi Jawa, terutama kalangan orang-orang Islam, tulis Drs.H.Syamsudduha dalam Jejak Kanjeng Sunan (1999), “wali” tidak hanya sekedar sebutan, tetapi ada “roh” atau “geest” di dalamnya.

Sebutan wali di situ tidak bisa dilepaskan dari Al Quran, seperti terdapat dalam Surat Yunus ayat 62-64. Ayat itu mengandung makna wali Allah, ialah orang yang karena iman dan taqwanya tidak merasa takut, tidak mengenal sedih, selalu gembira atau senantiasa optimistik dalam perjuangan, karena yakin dengan janji Allah yang akan memberi kemenangan dan keberhasilan.

Perkembangan zaman dan semakin tumbuhnya kehidupan manusia, maka penyebaran Islam di Tanah Jawa semakin nyata. Sunan Ampel tidak lagi sendiri, tetapi ada delapan lagi penyebar agama Islam yang juga memperoleh gelar yang sama. Dari delapan orang yang bergelar Sunan, satu di antaranya dipanggil Syekh.

Sunan Ampel dengan tujuh Sunan dan satu Syekh ini disebut sebagai Wali yang sembilan atau Wali Sanga atau Wali Songo. Mereka adalah Sunan Ampel di Surabaya, Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri di Gresik, Sunan Drajat di Lamongan, Sunan Bonang di Tuban, Sunan Kalijaga di Demak, Sunan Muria di Gunung Muria, Sunan Kudus di Kudus dan Sunan Gunung Jati di Cirebon.

Museum Wali Songo

Masyarakat Surabaya patut bangga terhadap keberadaan Sunan Ampel. Betapa tidak, sebab dengan adanya kiprah masa lalu Sunan Ampel itu, mengangkat derajat Surabaya sebagai “Kota Relegius”. Kota yang peduli terhadap agama, khususnya Islam. Berkat kiprah Sunan Ampel dengan segala peninggalan sejarah yang dibuatnya, kini Surabaya dapat menjadi pusat sejarah Islam di tanah Jawa.

Sunan Ampel sebagai sunan yang “dituakan” di antara delapan Wali Songo lainnya, menjadi Surabaya sebagai pangkal kegiatan ziarah “Wali Songo”. Dan sudah umum, sebelum melakukan ziarah ke makam-makam Wali Songo, Masjid Agung Ampel dan makam Sunan Ampel dijadikan tempat start. Dari sini baru kemudian menuju ke Gresik, Lamongan, Tuban, Gunung Muria, Kudus, Demak dan finish di Cirebon.

Biasanya, kalau kita akan melakukan perjalanan jauh, maka di awal perjalanan kita membuat perencanaan tentang tujuan selanjutnya. Saat berada di tempat pemberangkatan awal, kita wajib mengetahui peta yang akan dituju kemudian. Artinya, untuk ziarah Wali Songo, ketika masih berada di strat makam Sunan Ampel, maka rencana kunjungan ke delapan wali lainnya sudah dipersiapkan. Bahkan, gambaran tempat yang akan dituju sudah ada di angan-angan.

Angan-angan tentang Wali Songo itu harus berada di Surabaya, bentuk angan-angan itu adalah suatu tempat yang mampu memberi gambaran ke depan. Jadi, apa yang dikatakan mantan Kepala Dinas Pariwisata Kota Surabaya, Drs.H.Muhtadi,MM sangat tepat.

Pemerintah Kota Surabaya, harus dapat menciptakan gambaran keseluruhan tentang Wali Songo itu dalam bentuk “Museum Wali Songo”. Dengan adanya gambaran yang diperagakan dan diinformasikan dari Museum Wali Songo, maka para wisatawan atau peziarah memperoleh bekal yang sangat berguna.

Museum Wali Songo di Surabaya harus mampu memberi gambaran masing-masing aktivitas ke sembilan wali itu.

Selain kiprah Sunan Ampel yang sudah banyak diungkap, di museum itu perlu digambarkan secara jelas tentang Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri di Gresik. Begitu pula dengan Sunan Drajat, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan kalijaga dan Sunan Gunung Jati.

Tentunya, apa yang digagas Muhtadi itu layak memperoleh dukungan dari petinggi Kota Surabaya, yakni Walikota Surabaya bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya, perguruan tinggi serta masyarakat pencinta sejarah. Dengan kebersamaan semua pihak, insya Allah, gagasan tentang pendirian Museum Wali Songo di Surabaya dapat diwujudkan. ***

*) Yousri Nur Raja Agam  M.H —  Pemerhati sejarah bermukim di Surabaya.

Riwayat Sunan Ampel di Surabaya

Riwayat Sunan Ampel – Wali Songo (1)

Surabaya

Tempat Hijrah Sunan Ampel

Oleh:

H.M.YOUSRI NUR RAJA AGAM  *)

 

SURABAYA juga disebut sebagai “Kota Sunan Ampel”.  Lebih tepatnya, Surabaya adalah tempat hijrah Sunan Ampel, satu di antara sembilan wali (Walisongo).

Nah, siapakah sebenarnya Sunan Ampel itu? Seperti telah diungkap sebelumnya, umumnya penduduk Kota Surabaya adalah para pendatang dan perantau dari daerah lain di Nusantara ini. Bahkan, tidak sedikit pula yang berasal dari manacanegara. Selain dari Eropa, juga banyak yang berasal dari Timur Tengah, khususnya Arab, India dan Cina. Sunan Ampel, juga pendatang. Ia merantau atau hijrah ke Surabaya, menetap dan kemudian wafat sebagai “bunga bangsa” di Kota Pahlawan ini..

Nama Sunan Ampel abadi di Surabaya. Karya dan buah tangannya sebagai warga Surabaya masih ada sampai sekarang. Sunan Ampel adalah waliullah, ulama besar yang menumbuhkembangkan ilmu yang sangat bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. Jadi, Surabaya patut berbangga, sebab sunan yang dituakan di antara Walisongo adalah Sunan Ampel.

Apabila ditelusuri jejak Walisongo di Surabaya cukup banyak, namun yang menonjol ada di tiga tempat. Pertama: kawasan Ampel, kedua: Masjid Rahmat dan ketiga: komplek Makam Mbah Bungkul.

Kawasan Ampel, sebuah kawasan permukiman di sekitar Masjid Agung Ampel di daerah Pegirian, Surabaya Utara. Di sini selain berdiri masjid peninggalan Sunan Ampel, di sekitarnya terdapat makam Sunan Ampel bersama para pengikutnya. Kawasan Ampel ini sudah sejak lama dijadikan obyek “wisata suci” atau ziarah oleh masyarakat dari berbagai daerah di Nusantara, juga dari luar negeri.

Masjid Ampel ini juga biasa dijadikan tempat start untuk kegiatan ziarah Walisongo. Setelah mengunjungi masjid dan makam Sunan Ampel, perjalanan dilanjut ke delapan walisongo lainnya. Makam Maulana Malik Ibrahim dan makam Sunan Giri di Gresik, makam Sunan Drajat di Lamongan, makam Sunan Bonang di Tuban, makam Sunan Kudus di Kudus, makam Sunan Muria di lereng Gunung Muria, makam Sunan Kalijaga di Demak dan makam Sunan Gunung Jati di Cirebon.

 

Siapa Sunan Ampel

Pendapat umum mengatakan, bahwa Sunan Ampel bukan orang Jawa, tetapi orang Campa dan ayahnya berasal dari Arab. Ini memang bukan sekedar “tutur tinular”, melainkan ada beberapa sumber tertulis yang mendukung. Pendapat umum itu juga dikuatkan oleh keterangan G.W.J.Drewes di depan rektor dan para dosen IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta bulan November 1971.

Ada beberapa versi tentang siapa dan dari mana asal Sunan Ampel. Dalam penelitian sejarah yang dilakukan para ahli, diakui bahwa informasi tertulis dan prasasti yang digoris di atas batu atau lempengan logam tentang Sunan Ampel sama sekali tidak ada.

Saat dilangsungkan Festival Walisongo I di Surabaya, Juni 1999 lalu, Yayasan Festival Walisongo menerbitkan buku Jejak Kanjeng Sunan – Perjuangan Walisongo. Pada buku itu, juga dijelaskan, para ahli tidak pernah menemukan naskah atau manuskrip yang ditulis pada masa hidupnya atau waktu yang agak dekat sesuadah wafatnya sampai sekarang.

Manuskrip yang mengisahkan serba sedikit tentang Sunan Ampel, baru ada pada zaman Kerajaan Mataram, seperti: “Babad Tanah Jawi”. Naskah yang lain umumnya ditulis pada abad ke 18 dan 19. Padahal kalau kita telusuri, Sunan Ampel hidup pada abad 14 atau sekitar tahun 1331 M – 1400 M. Pada “Babad Ngampeldenta” yang naskah aslinya disimpan di Yayasan Panti Budaya di Jogjakarta baru selesai diturun-tulis (titi tamat noeroen soengging) pada Hari Rabu Legi, tanggal 16 Jumadil Akhir 1830, bertepatan dengan 2 Oktober 1901.

Drs.H.Sjamsudduha yang menjadi narasumber tentang Sunan Ampel dalam buku Jejak Kanjeng Sunan – Perjuangan Walisongo, menyebutkan manuskrip yang bercerita tentang Sunan Ampel yang agak rinci, ada dua naskah tulisan “pegon” yang ditemukan di Dusun Badu, Desa Wanar, Kecamatan Pucuk dan Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Selanjutnya naskah itu disebut: naskah Badu Wanar dan naskah Drajat.

Kecuali itu, juga ada Babad Risakipun Majapahit Wiwit Jumenengipun Prabu Majapahit Wekasan Dumugi Demak Pungkasan yang disimpan di Perpustakaan Reksopustoko Surakarta, Jawa Tengah.

Para ahli sepakat menyebut nama lain Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Saat berusia 20 tahun, waktu itu sekitar tahun 751 H atau 1351 M, pria ini datang ke pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit. Tempat Raden Rahmat ini, ada tiga versi. Ada yang menyatakan ia kelahiran Cempa (Jeumpa), Aceh, ada yang menyebut Campa, sebuah kota di Kamboja, Indocina. Bahkan ada yang cukup ekstrim, Sunan Ampel diakui keturunan Cina dengan nama Bong Swie Ho. Dalam kronik Sam Po Kong di bawah angka tahun 1445, dinyatakan Bong Swie Ho adalah cucu Haji Bong Tek Keng dari Campa.

 

Babad Para Wali

Berdasarkan naskah Badu Wanar dan naskah Drajat, dikisahkan, Raden Rahmat datang ke Majapahit bersama kakaknya, bernama Raja Pandhita dan Raden Burerah anak Raja Kamboja. Raden Rahmat dan Raja Pandhita adalah anak kandung seorang guru agama Islam bernama Maulana Ibrahim Asmara dengan isterinya Candrawulan, dari Tulin, Campa.

Kedatangan Raden Rahmat dan Raja Pandhita yang diantar Raden Burerah ke pusat Majalapahit adalah untuk menemui bibinya Dewi Murtiningrum yang menjadi permaisuri raja Brawijaya. Setelah sampai dan menetap di Majapahit, mereka diperlakukan sebagai putera raja Brawijaya. Saat berada di sini, mereka ditertawakan karena melaksanakan shalat, sebab waktu itu Majapahit belum mengenal Islam. Raja Brawijaya tidak melarang mereka menunaikan ibadah secara Islam. Merekapun diminta menetap di Majapahit dan diberi jabatan sebagai tumenggung.

Raden Rahmat menikah dengan Raden Ayu Candrawati anak dari Arya Teja, Mantri di Tuban. Sedangkan Raja Pandhita kawin dengan Raden Ayu Maduretna anak Arya Babirin dari Arosbaya, Madura.

Raden Rahmat yang kemudian menetap di kampung Ampeldenta, mempunyai lima orang anak, yakni: Siti Syari’ah, Siti Muthmainnah, Siti Hasyfah, Ibrahim dan Raden Qasim. Raden Rahmat, juga menikah dengan puteri Ki Bang Kuning, bernama Mas Karimah dan mempunyai dua orang anak perempuan, Mas Murtabiyah dan Mas Murtasimah.

 

Babad Tanah Jawi I

Versi Babad Tanah Jawi (Punika Serat Babad Tanah Jawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi ing Taoen 1647 – W.L.Olthof), disebutkan, raja Cempa kedatangan orang seberang bernama Makdum Ibrahim Asmara. Ia memohon agar raja masuk Islam. Permintaan itu dikabulkan raja dan juga diikuti seluruh rakyatnya.

Raja Cempa menikahkan anak perempuannya dengan dengan Makdum Ibrahim dan mempunyai dua orang putera, Raden Rahmad dan Raden Santri. Sedangkan Raja Cempa ini juga punya anak laki-laki bernama Raden Burerah.

Raden Rahmat bersama adiknya minta izin kepada raja yang juga kakeknya itu untuk pergi ke Majapahit menemui bibinya. Raja Cempa mengizinkan asal ditemani oleh Raden Burerah. Mereka bertiga sampai di Majapahit dan bertemu dengan Raja Brawijaya. Raden Rahmat kemudian menikah dengan puteri Tumenggung Wilatikta, bernama Gede Manila dan bertempat tinggal di Ampeldenda.

Raden Burerah dan Raden Santri menikah dengan puteri Arya Teja. Yang tua dengan Raden Santri dan adiknya dengan Raden Burerah. Mereka berdua bertempat tinggal di Gresik.

 

Babad Tanah Jawi II

Babad Tanah Jawi (BTJ) versi ke dua ini disebut BTJ Galuh Mataram – Suwito Santoso, bercerita seperti berikut. Ada seorang sultan di negeri Arab yang masih keturunan Nabi Muhammad SAW, mempunyai anak laki-laki bernama Syekh Ibrahim. Suatu hari Ibrahim diperintah kakaknya pergi ke Tanah Jawa untuk mengislamkan penduduknya. Setelah berlayar, sampai di negeri Cempa dan bertemu raja Cempa. Dia menetap di sini dan diberi gelar Syekh Wali Lanang dan ia berhasil mengajak raja Cempa masuk Islam. Syekh Wali Lanang kemudian dikawinkan dengan puterinya yang muda, adik Ratu Darawati yang kawin dengan raja Brawijaya V di Majapahit.

Kebetulan datang seorang kemenakan Ratu Darawati dari Cempa, bernama Raden Rahmat putera Syekh Ibrahim alias Wali Lanang. Prabu Brawijaya, mengangkat Raden Rahmat sebagai Sunan di Ngampel, sehingga ia dikenal sebagai Sunan Ampel. Waktu itu Prabu Brawijaya mengizinkan rakyat Majapahit memasuki agama Islam, asal tidak ada paksaan, tetapi baginda sendiri tidak mau memeluk agama Islam.

 

Babad Ngampeldenta

Manuskrip yang disimpan di Panti Budaya, Jogjakarta dengan nomor PB A.200, sekarang disimpan di Perpustakaan Museum Negeri Sonobudoyo Jogjakarta. Alih hurufnya dilakukan Dr.Th.Pigeaud tahun 1939. Di sini diungkapkan, Sang Pandhita, yakni Maulana Ibrahim Asmara menikah dengan Retna Sujinah dari Cempa, juga beristeri dari Aceh. Dengan Ratna Sujinah ia punya dua putera laki-laki diberi nama Raden Rahmat. Adiknya yang lahir kemudian diambil anak oleh isteri yang dari Aceh dan diberi nama Raden Atmaja.

Raden Rahmat dengan dua pengiringnya, berbekal dua surat menghadap raja Majapahit. Surat pertama menyatakan bahwa yang datang adalah kemenakan sang prameswari, dan surat yang satu lagi berisi ajakan Syekh Maulana Ibrahim Asmara beserta isteri dan raja Cempa, serta ibundanya, agar raja Majapahit berkenan memeluk Islam. Apabila raja belum berkenan, ayunda saja yang masuk Islam. Surat itu juga memberitahu, bahwa Raden Rahmat telah paham dan menguasai segala ilmu, sehingga patut menjadi ulama.

Raden Rahmat diberi tempat tinggal di Ngampel dengan pengikut yang banyak. Delapan ratus keluarga atau somah beralih masuk Islam. Raja tidak melarang rakyatnya pindah agama, terserah kesukaannya sendiri.

Ada satu lagi versi tentang siapa Raden Rahmat atau Sunan Ampel, diungkapkan dalam Babad Risakipun Majapahit Wiwit Jumenengipun Prabu Majapahit Wekasan Dumugi Demak Pungkasan. Cerita seperti di bawah ini.

Madum Ibrahim di Cempa berputera dua orang laki-laki, yang tua bernama Raden Rahmat, yang muda bernama Raden Santri, putera raja Cempa bernama Raden Burerah. Raden Rahmat bersama adiknya pergi ke Pulau Jawa untuk menjenguk bibinya di Majapahit. Sesampai di Majapahit menghadap raja dan mereka diterima dengan sangat senang. Mereka di Majapahit sudah setahun.

Raden Rahmat menikah dengan puteri Arya Teja. Puteri Arya teja yang kedua menikah dengan Raden santri, yang tengah menikah dengan Raden Burerah. Putera Arya teja yang bungsu Tumenggung Wilatikta.

Raden Rahmat ditempatkan di dusun Ngampeldernta, dan diberi gelar Sunan Ngampeldenta. Raden Santri dan Raden Burerah diberi sebidang tanah di Gresik sebagai dusun tempat tinggal.

Raden Rahmat memohon kepada raja agar memeluk agama Islam. Raja Brawijaya belum ingin masuk agama Islam, tetapi semua orang Jawa yang ingin masuk agamaq Islam tidak dibatasi, terserah mereka yang menyenanginya.

Adipati Bintara terus datang di Ngampel, menghadap Sunan Ngampelgadhing. Tatkala itu di negeri Surabaya sudah Islam semua. Adipati Bintara memohon izin untuk menyerbu negara Majapahit, karena sekalipun yang memerintah negara itu orangtuanya sendiri, tetapi diua kafir, tidak mau mengikuti Islam. Sunan Ampel melarang, karena ayahandanya tidak pernah mencegah orang masuk Islam. Beliau memberi kebebasan dan memberi sejumlah orang untuk ikut pindah dan menjadi muslim dan mukmin. Di Surabaya mereka membangun agama.

Apa jeleknya paduka raja. Adapun beliau belum mau masuk agama Islam, karena Allah belum menghendakinya. Jangan mendahului takdir, hendaklah menerima kehendak Allah. Adipati Bintara mendengar dengan takzim. Adipati Bintara hanya dua hari di Surabaya, terus pulang ke Demak.

Tatkala Sunan Ngampeldenta wafat, para wali semuanya datang. Mereka memandikan dan mensalatkannya. Para wali sama menangis. Sesuadah dimakamkan di Ngampelgadhing, Sunan Giri hadir dan ditetapkan menjadi imam (pemimpin) para wali. Sunan Bonang juga hadir. Trah (kerabat keturunan) Ngampelghading banyak yang menjadi waliyullah, seperti Murya dan Ngudung. Begitulah negara Demak makin ramai dan para wali sepakat untuk mendirikan kerajaan.

Manuskrip asli dari babad di atas disimpan di Reksopustoko, Solo; alih huruf Martodarmono pada tahun 1988, halaman 8-9, 40 dan 57. ****

BACA LANJUTANNYA

Riwayat Sunan Ampel (2)

*) Yousri Nur Raja Agam M.H  — Pemerhati sejarah, bermukim di Surabaya

 

 

 

**********************************************************************

 

 

Foto-Foto Surabaya Tempo Dulu

GEDUNG LINDETEVES

Pada zaman Belanda, gedung yang terletak di pojok Jalan Pahlawan dengan jalan Kebun Rojo Surabaya ini dikenal sebagai gedung NV.Lindeteves. Dalam dokumentasi “Surabaya Tempo Dulu”, foto ini diambil tahun 1930. Sekarang gedung ini digunakan sebagai gedung Bank Mandiri dan sebelumnya pernah dipakai oleh Bank Niaga. Pemerintah Kota Surabaya, mencatat gedung ini sebagai salah satu “cagar budaya” di Kota Surabaya. (dok: Yousri)

Gedung Lindeteves, saat digunakan sebagai Bank Niaga tahun 1990-an. (dok: Yousri)

KAWASAN KEMBANG JEPUN

Jalan Kembang Jepun tahun 1930, difoto dari Gedung Internatio – Jembatan Merah – gerbang Barat. (dari Surabaya Tempo Dulu, dok: Yousri)

GERBANG Jalan Kembang Jepun darI arah Timur dengan gaya tradisional China di tahun 1930-an. Gerbang ini pernah dirubuhkan dan saat di Jalan Kembang Jepun itu diadakan kegiatan Kya-Kya, yaitu pasar makanan pada malam hari tahun 2005-2007, gerbang khas China dibangun kembali, (dok Yousri – dari Surabaya Tempo Dulu)

JALAN PAHLAWAN

Dulu Jalan Pahlawan Surabaya ini bernama Alun-alun Straat. Foto diambil tahun 1930. Masih terlihat ada rel trem listrik, kendaraan dokar dan mobil pada zaman itu. Sekarang semua sudah berubah. (dok:Yousri – dari Surabaya Tempo Dulu)

GEDUNG Raad van Justitie (Pengadilan Tinggi) di Zaman Belanda, di Jalan Pahlawan (Alun-alun Straat) pada perayaan HUT Ratu Wilhelmina tanggal 31 Agustus 1935. Ada acara karnaval dan pawai yang disaksikan rakyat yang memenuhi sepanjang jalan, viaduk jalan-jembatan pelintasan kereta api, bahkan sampai ke puncak gedung kantor Gubernur Jawa Timur di seberangnya. Pada zaman Jepang, gedung ini berubah fungsi menjadi Markas Polisi Militer (Kenpetai) dan sekarang sudah hancur. Di atas lahan ini berdiri kokoh Tugu Pahlawan untuk memperingati peristiwa heroik 10 November 1945. Tugu Pahlawan ini diresmikan oleh Presiden RI pertama Ir..Soekarno tanggal 10 November 1952 dan di bawahnya dibangun pula Museum (bawah tanah) Tugu Pahlawan yang mengoleksi berbagai peninggalan masa perjuangan tahun 1945. (dok: Yousri dari Surabaya Tempo dulu).

RAMAINYA LUAR BIASA

Gedung Kantor Gubernur Jawa Timur di Jalan Pahlawan (Alun-alun Straat) Surabaya tanggal 31 Agustus 1935 ramai sekali, selain di jalan raya dan viaduk (jembatan) kereta api, gedung sampai ke atas atap kantor gubernur ditempati pengunjung yang menyaksikan upacara, pawai dan karnaval. (dok: Yousri dari “Surabaya Tempo Dulu”)

====>> (Masih banyak foto yang lain. Tunggu edisi yang akan datang)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.