Rumahgadang Minangkabau di Surabaya Dibangun dengan Uang Seribu Rupiah

Oleh: HM Yousri Nur Raja Agam*)

RUMAHGADANG adalah rumah adat Minangkabau. Suatu Kerajaan di abad ke 13 masa lalu di Pulau Sumatera. Wilayahnya, Sumatera Barat dan sekitarnya. Di samping Sumatera Barat, wilayah Minangkabau tempo dulu, juga meliputi sebagian Sumatera  Utara dan Aceh di pantai barat. Juga sebagian Bengkulu bagian Utara. Jambi dan Riau bagian barat, serta Negeri Sembilan di semenanjung Malaysia.

Sebagai peninggalan budaya Nusantara, rumah adat Minangkabau ini bentuknya memang khas. Cirinya yang menonjol adalah bentuk atapnya. Berbentuk gonjong menyerupai tanduk kerbau. Bangunannya terbuat dari kayu tahan lama dan kuat. Atapnya dari ijuk, yaitu serat dari pohon enau atau aren.

Rumahgadang utama yang disebut sebagai Istana, ada di Pagaruyung, Batusangkar, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat. Rumahgadang lainnya, jumlahnya ribuan. Ada di tiap nagari dan kampung. Dari ukuran kecil sampai besar. Difungsikan sebagai rumah tinggal keluarga, gedung pertemuan dan museum. Sekarang,  perkantoran, sekolah dan rumahmakan, juga banyak yang dibangun berbentuk rumahgadang. Sekurang-kurangnya atapnya model gonjong.

Di luar wilayah Minangkabau atau Provinsi Sumatera Barat, bangunan rumahgadang ini ada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Juga ada satu dan dua di Riau, Jambi dan Bengkulu,  serta cukup banyak di Negeri Sembilan Malaysia,  terutama di Kota Sremban. Sister City Kota Bukittinggi di Sumatera Barat.

Destinasi Wisata

Kecuali itu, rumahgadang Minangkabau,  juga ada di Kota Surabaya,  Jawa Timur. Tepatnya berada di Jalan Gayung Kebunsari 64 Surabaya. Berdiri di atas lahan 3 500 meter persegi. Sekarang, rumahgadang di Kota Surabaya itu dipersiapkan sebagai obyek kunjungan atau destinasi wisata budaya Nusantara, di Kota Surabaya. Rumahgadang ini akan menjadi etalase Minangkabau atau Sumatera Barat di Kota Surabaya.  Sebagai  sister city atau “kota kembar” Kota Surabaya dengan Kota Padang,  ibukota Provinsi Sumatera Barat, tentu layak menjadi jendela wisata untuk Indonesia Timur. Bangunan rumahgadang ini juga dilengkapi dengan “surau” atau masjid di bagian belakang, serta dua bangunan rangkiang (lumbung) di bagian depan.

Saat ini gedung rumahgadang ini sudah difungsikan sebagai gedung pertemuan,  untuk resepsi perkawinan. Tidak hanya untuk warga Minang, tetapi untuk suku-suku daerah lainnya. Dapat digunakan untuk rapat-rapat besar,  seperti Munas, Muswil, Musda dan “Halal Bi Halal”. Bahkan,  di “Surau” atau Masjid itu, selain untuk shalat lima waktu juga dilangsungkan shalat Jumat. Juga shalat tarawih di bulan Ramadhan, shalat idulfitri dan iduladha. Tiap tahun juga dilakukan penyembelihan hewan qurban di halaman belakang pada hari raya Haji.

Tidak jarang pula kawasan yang cukup luas ini digunakan pula untuk kegiatan pameran dan bazar produk UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah), termasuk cinderamata dan kuliner. Dan yang cukup istimewa,  tiap pagi, halaman rumahgadang ini juga difungsikan sebagai arena olahraga senam oleh Grup Senam DIS (Dahlan Iskan Style).

Uang Seribu Rupiah

Ada cerita unik,  tentang berdirinya rumahgadang Minangkabau, di Surabaya ini. Pembangunannya berawal dari “Seribu Rupiah”. Kesepakatan untuk membangun “gedung pertemuan” tercetus saat acara Halal Bi Halal masyarakat perantau Jawa Timur asal Minangkabau di tahun 1985. Acara ini disemarakkan dengan sebutan “Baralek Gadang” atau “Pesta Besar” dengan menghadirkan artis-artis dan tokoh masyarakat Minang dari Jakarta waktu itu. Pada acara ini, sekaligus diselenggarakan pelantikan Pengurus Gerakan Seribu (Gebu) Minang, Jawa Timur.

Gerakan Seribu Minang (Gebu Minang) ini berawal dari sebuah cerita saat Presiden Soeharto meresmikan Pekan Penghijauan Nasional, di Desa Aripan, pinggir Danau Singkarak, Sumatera Barat tahun 1982. Waktu itu dalam acara dialog dengan Presiden, seorang petani mengeluh. Dia minta bantuan traktor untuk membajak sawah. Jarena sekarang membajak dengan kerbau dikalahkan okeh traktor. Presiden Soeharto menjawab, bahwa untuk membangun negeri ini tidak semuanya dibebankan kepada pemerintah. Perantau Minang ada di mana-mana. Jika mereka menyisihkan “Seribu Rupiah” saja setiap keluarga,  maka dana yang terkumpul akan sangat besar untuk membangun Sumatera Barat. Bahkan, jumlahnya lebih besar dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) SUmatera Barat,  ujar Pak Harto. Gubernur Sumbar,  Azwar Anas yang berada di samping  Presiden,  tersenyum “penuh arti”.

Nah, setelah itu, Gubernur Azwar Anas, mengadakan pertemuan dengan para tokoh masyarakat Minang di perantauan. Di antaranya ke Jakarta dan Surabaya. Saat itu tercetus untuk mendirikan gerakan pengumpulan dana “Seribu rupiah” tiap keluarga itu. Secara resmi dimunculkan nama “Gerakan Seribu Minang (Gebu Minang)”. Di Surabaya berdiri Lembaga Gebu Minang untuk menghimpun masyarakat Minang di perantauan. Sedangkan untuk mengurus keuangannya dibentuk Yayasan Gebu Minang.

Kegiatan Gebu Minang Jawa Timur mengumpulkan uang seribu rupiah dengan mencetak kupon Rp 1000,- mendapat sambutan luar biasa. Setiap lembaran yang tertulis Rp 1000,- dalam satu bandel berisi 100 lembar, bernilai Rp 100.000 – cepat habis. Dalam waktu singkat terkumpullah dana dari masyarakat Minang perantau yang umumnya para pengusaha dan wiraswata itu. Alhamdulillah,  uang ribuan yang terkumpul, cukup banyak. Mencapai Rp 225 juta lebih di tahun 1986.

Rencana mendirikan gedung pertemuan berubah menjadi “mendirikan rumahgadang” di Kota Surabaya. Saat itu, diperoleh tanah seluas 3.500 meter persegi, di Jalan Gayung Kebunsari 64 Surabaya, “dibeli” dari keluarga Rahman Tamin, dengan harga Rp 86 juta.

Rahman Tamin, adalah pengusaha pabrik tekstil PT.Raratex (Rahman Tamin Textil) di Balongbendo, Sidoarjo. Namun perusahaan tekstil terbesar yang berdiri tahun 1957 itu, mengakhiri kegiatannya di tahun 1974.

Setelah tanahnya tersedia, sertamerta dilaksanakan kegiatan pembangunan Rumah Gadang Minangkabau. Peletakan batu pertama dilaksanakan  tanggal 12 Juli 1987, oleh mantan Gubernur Sumbar,  Ir.H Azwar Anas. Acara ini dihadiri banyak tokoh masyarakat Minang,  di antaranya mantan Gubernur Sumbar Prof H.Haroen Zain, Gubernur Jatim  Wahono, Pangdam V Brawijaya (waktu itu) Saiful Sulun, Walikota Surabaya Poernomo Kasidi dan belasan pejabat dan tokoh lainnya.

Secara bertahap pembangunan rumahgadang  ini, terus berlangsung.  Gerakan Seribu Minang (Gebu Minang), berubah menjadi Gerakan Ekonomi dan Budaya Minang. Singkatannya tetap Gebu Minang.
Organusadi Lembaga Gebu Minang juga berubah menjadi DPW (Dewan Pimpinan Wilayah) Gebu Minang Jatim. Demikian pula dengan Yayasan Seribu Minang menjadi Yayasan Ekonomi dan Budaya Minang Jawa Timur yang bertanggungjawab mengelola keuangan dan aset, termasuk kawasan rumahgadang Jawa Timur ini.

Gerbang Candi Mojopahit

Menariknya gedung rumahgadang Minangkabau yang terletak di Surabaya, di samping gerbang utamanya  berdiri khas Minang, gerbang barat dan timur komplek ini bermotif Candi Penataran, khas Majapahit. Ini ada maknanya. Saat pembangunan pagar keliling komplek rumahgadang ini, timbul ide kebersamaan.  Pembauran antara budaya Minangkabau dengan Majapahit. Sesuai dengan falsafah orang Minang,  Di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung.

Nah, karena rumahgadang Minangkabau ini berdiri di bumi Majapahit, maka nenyesuaikan diri. Pagar keliling komplek rumahgadang ini dibangun dengan dana dari Gubernur Jawa Timur, Dr.H Soekarwo  (waktu itu). Maknanya, kompleks rumahgadang Minangkabau ini dijaga keberadaannya oleh Penguasa Wilayah Jawa Timur.

Sejak rumahgadang di Surabaya ini dibangun, sudah semua Gubernur Sumatera Barat dan Gubernur Jawa Timur, berkunjung dan mengikuti beberapa acara. Mulai dari Haroen Zain, Azwar Anas, Hasan Basri Durin, Zainal Bakar, Gamawan Fauzi, Irwan Prayitno dan Mahyeldi. Demikian pula dengan Gubernur Jawa Timur, sejak dari Wahono, Soelarso, Basofi Soedirman, Imam Utomo dan Soekarwo. Wakil Gubernur Sumbar yang pernah berkunjung antara lain, Muslim Kasim, Nasrul Abid dan Audy Joinaldy. Begitu pula dengan Wakil Gubernur Jatim, di antaranya, M.Zuhdi, Soenarjo dan Saifullah Yusuf.
Juga, beberapa walikota dan Bupati di Sumbar, apabila ada acara ke Jatim, umumnya singgah ke rumahgadang Minangkabau di Surabaya ini.

Demikian,  perkenalan tentang destinasi wisata budaya Nusantara, Rumahgadang Minangkabau,  di Surabaya.  Semoga bermanfaat.

*) HM Yousri Nur Raja Agam,  Wartawan Senior dan Ketua Umum Yayasan Gebu Minang Jatim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: