Tonton “Aksi Presiden Jokowi Jadi Wartawan” di YouTube

Rumahgadang Minangkabau di Surabaya Dibangun dengan Uang Seribu Rupiah

Oleh: HM Yousri Nur Raja Agam*)

RUMAHGADANG adalah rumah adat Minangkabau. Suatu Kerajaan di abad ke 13 masa lalu di Pulau Sumatera. Wilayahnya, Sumatera Barat dan sekitarnya. Di samping Sumatera Barat, wilayah Minangkabau tempo dulu, juga meliputi sebagian Sumatera  Utara dan Aceh di pantai barat. Juga sebagian Bengkulu bagian Utara. Jambi dan Riau bagian barat, serta Negeri Sembilan di semenanjung Malaysia.

Sebagai peninggalan budaya Nusantara, rumah adat Minangkabau ini bentuknya memang khas. Cirinya yang menonjol adalah bentuk atapnya. Berbentuk gonjong menyerupai tanduk kerbau. Bangunannya terbuat dari kayu tahan lama dan kuat. Atapnya dari ijuk, yaitu serat dari pohon enau atau aren.

Rumahgadang utama yang disebut sebagai Istana, ada di Pagaruyung, Batusangkar, Kabupaten Tanahdatar, Sumatera Barat. Rumahgadang lainnya, jumlahnya ribuan. Ada di tiap nagari dan kampung. Dari ukuran kecil sampai besar. Difungsikan sebagai rumah tinggal keluarga, gedung pertemuan dan museum. Sekarang,  perkantoran, sekolah dan rumahmakan, juga banyak yang dibangun berbentuk rumahgadang. Sekurang-kurangnya atapnya model gonjong.

Di luar wilayah Minangkabau atau Provinsi Sumatera Barat, bangunan rumahgadang ini ada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Juga ada satu dan dua di Riau, Jambi dan Bengkulu,  serta cukup banyak di Negeri Sembilan Malaysia,  terutama di Kota Sremban. Sister City Kota Bukittinggi di Sumatera Barat.

Destinasi Wisata

Kecuali itu, rumahgadang Minangkabau,  juga ada di Kota Surabaya,  Jawa Timur. Tepatnya berada di Jalan Gayung Kebunsari 64 Surabaya. Berdiri di atas lahan 3 500 meter persegi. Sekarang, rumahgadang di Kota Surabaya itu dipersiapkan sebagai obyek kunjungan atau destinasi wisata budaya Nusantara, di Kota Surabaya. Rumahgadang ini akan menjadi etalase Minangkabau atau Sumatera Barat di Kota Surabaya.  Sebagai  sister city atau “kota kembar” Kota Surabaya dengan Kota Padang,  ibukota Provinsi Sumatera Barat, tentu layak menjadi jendela wisata untuk Indonesia Timur. Bangunan rumahgadang ini juga dilengkapi dengan “surau” atau masjid di bagian belakang, serta dua bangunan rangkiang (lumbung) di bagian depan.

Saat ini gedung rumahgadang ini sudah difungsikan sebagai gedung pertemuan,  untuk resepsi perkawinan. Tidak hanya untuk warga Minang, tetapi untuk suku-suku daerah lainnya. Dapat digunakan untuk rapat-rapat besar,  seperti Munas, Muswil, Musda dan “Halal Bi Halal”. Bahkan,  di “Surau” atau Masjid itu, selain untuk shalat lima waktu juga dilangsungkan shalat Jumat. Juga shalat tarawih di bulan Ramadhan, shalat idulfitri dan iduladha. Tiap tahun juga dilakukan penyembelihan hewan qurban di halaman belakang pada hari raya Haji.

Tidak jarang pula kawasan yang cukup luas ini digunakan pula untuk kegiatan pameran dan bazar produk UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah), termasuk cinderamata dan kuliner. Dan yang cukup istimewa,  tiap pagi, halaman rumahgadang ini juga difungsikan sebagai arena olahraga senam oleh Grup Senam DIS (Dahlan Iskan Style).

Uang Seribu Rupiah

Ada cerita unik,  tentang berdirinya rumahgadang Minangkabau, di Surabaya ini. Pembangunannya berawal dari “Seribu Rupiah”. Kesepakatan untuk membangun “gedung pertemuan” tercetus saat acara Halal Bi Halal masyarakat perantau Jawa Timur asal Minangkabau di tahun 1985. Acara ini disemarakkan dengan sebutan “Baralek Gadang” atau “Pesta Besar” dengan menghadirkan artis-artis dan tokoh masyarakat Minang dari Jakarta waktu itu. Pada acara ini, sekaligus diselenggarakan pelantikan Pengurus Gerakan Seribu (Gebu) Minang, Jawa Timur.

Gerakan Seribu Minang (Gebu Minang) ini berawal dari sebuah cerita saat Presiden Soeharto meresmikan Pekan Penghijauan Nasional, di Desa Aripan, pinggir Danau Singkarak, Sumatera Barat tahun 1982. Waktu itu dalam acara dialog dengan Presiden, seorang petani mengeluh. Dia minta bantuan traktor untuk membajak sawah. Jarena sekarang membajak dengan kerbau dikalahkan okeh traktor. Presiden Soeharto menjawab, bahwa untuk membangun negeri ini tidak semuanya dibebankan kepada pemerintah. Perantau Minang ada di mana-mana. Jika mereka menyisihkan “Seribu Rupiah” saja setiap keluarga,  maka dana yang terkumpul akan sangat besar untuk membangun Sumatera Barat. Bahkan, jumlahnya lebih besar dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) SUmatera Barat,  ujar Pak Harto. Gubernur Sumbar,  Azwar Anas yang berada di samping  Presiden,  tersenyum “penuh arti”.

Nah, setelah itu, Gubernur Azwar Anas, mengadakan pertemuan dengan para tokoh masyarakat Minang di perantauan. Di antaranya ke Jakarta dan Surabaya. Saat itu tercetus untuk mendirikan gerakan pengumpulan dana “Seribu rupiah” tiap keluarga itu. Secara resmi dimunculkan nama “Gerakan Seribu Minang (Gebu Minang)”. Di Surabaya berdiri Lembaga Gebu Minang untuk menghimpun masyarakat Minang di perantauan. Sedangkan untuk mengurus keuangannya dibentuk Yayasan Gebu Minang.

Kegiatan Gebu Minang Jawa Timur mengumpulkan uang seribu rupiah dengan mencetak kupon Rp 1000,- mendapat sambutan luar biasa. Setiap lembaran yang tertulis Rp 1000,- dalam satu bandel berisi 100 lembar, bernilai Rp 100.000 – cepat habis. Dalam waktu singkat terkumpullah dana dari masyarakat Minang perantau yang umumnya para pengusaha dan wiraswata itu. Alhamdulillah,  uang ribuan yang terkumpul, cukup banyak. Mencapai Rp 225 juta lebih di tahun 1986.

Rencana mendirikan gedung pertemuan berubah menjadi “mendirikan rumahgadang” di Kota Surabaya. Saat itu, diperoleh tanah seluas 3.500 meter persegi, di Jalan Gayung Kebunsari 64 Surabaya, “dibeli” dari keluarga Rahman Tamin, dengan harga Rp 86 juta.

Rahman Tamin, adalah pengusaha pabrik tekstil PT.Raratex (Rahman Tamin Textil) di Balongbendo, Sidoarjo. Namun perusahaan tekstil terbesar yang berdiri tahun 1957 itu, mengakhiri kegiatannya di tahun 1974.

Setelah tanahnya tersedia, sertamerta dilaksanakan kegiatan pembangunan Rumah Gadang Minangkabau. Peletakan batu pertama dilaksanakan  tanggal 12 Juli 1987, oleh mantan Gubernur Sumbar,  Ir.H Azwar Anas. Acara ini dihadiri banyak tokoh masyarakat Minang,  di antaranya mantan Gubernur Sumbar Prof H.Haroen Zain, Gubernur Jatim  Wahono, Pangdam V Brawijaya (waktu itu) Saiful Sulun, Walikota Surabaya Poernomo Kasidi dan belasan pejabat dan tokoh lainnya.

Secara bertahap pembangunan rumahgadang  ini, terus berlangsung.  Gerakan Seribu Minang (Gebu Minang), berubah menjadi Gerakan Ekonomi dan Budaya Minang. Singkatannya tetap Gebu Minang.
Organusadi Lembaga Gebu Minang juga berubah menjadi DPW (Dewan Pimpinan Wilayah) Gebu Minang Jatim. Demikian pula dengan Yayasan Seribu Minang menjadi Yayasan Ekonomi dan Budaya Minang Jawa Timur yang bertanggungjawab mengelola keuangan dan aset, termasuk kawasan rumahgadang Jawa Timur ini.

Gerbang Candi Mojopahit

Menariknya gedung rumahgadang Minangkabau yang terletak di Surabaya, di samping gerbang utamanya  berdiri khas Minang, gerbang barat dan timur komplek ini bermotif Candi Penataran, khas Majapahit. Ini ada maknanya. Saat pembangunan pagar keliling komplek rumahgadang ini, timbul ide kebersamaan.  Pembauran antara budaya Minangkabau dengan Majapahit. Sesuai dengan falsafah orang Minang,  Di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung.

Nah, karena rumahgadang Minangkabau ini berdiri di bumi Majapahit, maka nenyesuaikan diri. Pagar keliling komplek rumahgadang ini dibangun dengan dana dari Gubernur Jawa Timur, Dr.H Soekarwo  (waktu itu). Maknanya, kompleks rumahgadang Minangkabau ini dijaga keberadaannya oleh Penguasa Wilayah Jawa Timur.

Sejak rumahgadang di Surabaya ini dibangun, sudah semua Gubernur Sumatera Barat dan Gubernur Jawa Timur, berkunjung dan mengikuti beberapa acara. Mulai dari Haroen Zain, Azwar Anas, Hasan Basri Durin, Zainal Bakar, Gamawan Fauzi, Irwan Prayitno dan Mahyeldi. Demikian pula dengan Gubernur Jawa Timur, sejak dari Wahono, Soelarso, Basofi Soedirman, Imam Utomo dan Soekarwo. Wakil Gubernur Sumbar yang pernah berkunjung antara lain, Muslim Kasim, Nasrul Abid dan Audy Joinaldy. Begitu pula dengan Wakil Gubernur Jatim, di antaranya, M.Zuhdi, Soenarjo dan Saifullah Yusuf.
Juga, beberapa walikota dan Bupati di Sumbar, apabila ada acara ke Jatim, umumnya singgah ke rumahgadang Minangkabau di Surabaya ini.

Demikian,  perkenalan tentang destinasi wisata budaya Nusantara, Rumahgadang Minangkabau,  di Surabaya.  Semoga bermanfaat.

*) HM Yousri Nur Raja Agam,  Wartawan Senior dan Ketua Umum Yayasan Gebu Minang Jatim.

Predikat Haji Setelah Wukuf di Arafah — Hanya Setiap Tanggal 9 Zulhijjah

*Predikat Haji Setelah Wukuf di Arafah*
*Hanya Setiap Tanggal 9 Zulhijjah*

*Catatan: HM Yousri Nur Raja Agam*

_Labbaikallahumma labbaik, labbaikalla_ _syariikalaka labbaik, innalhamda wan ni’mata laka walmulk, laa syariikalaq,…….”_

SAAT ini, jamaah haji dari seluruh dunia, mulai meninggalkan tanah suci. Kembali ke negara masing-masing. Namun, jamaah haji Indonesia sebagian masih berada di Arab Saudi. Ada yang di Mekah giliran penerbangan pulang, melalui Jedah. Ada pula yang menuju Madinah, berziarah je kota Nabi Muhammad, baru pulang ke tanah air.

Selamat datang kita ucapkan kepada jamaah haji yang pulang dengan selamat dan sehat wal afiat. Selamat menyandang predikat “Haji” dan “Hajjah” setelah menunaikan Rukun Islam yang ke lima. Satu bulan lebih, jamaah haji melaksanakan ritual haji dan Umrah di haramain. Dua kota suci di Arab Saudi, Mekah dan Madinah.

Puncak ritual ibadah haji terlaksana, Sabtu, 9 Juli 2022, di Padang Arafah, Arab Saudi. Hari itu berkumpul jamaah haji dari seluruh dunia.  Tepatnya,  bersamaan dengan 9 Zulhijjah 1443 H.

Kalau diistilahkan secara pendidikan umum, maka tanggal 9 Zulhijjah, setiap tahun adalah “wisuda haji”. Hari itu, yakni tanggal 9 Zulhijjah, di Padang Arafah, dilaksanakan Wukuf. Pada hari itulah “predikat Haji”, syah dan diberlakukan. Artinya, hanya tanggal 9 Zulhijjah, saat “Wukuf di Arafah”, itulah setiap tahun, penobatan Haji.

_”Al Hajju Arafah”._ Tidaklah seseorang, dinyatakan sudah melaksanakan Rukun Islam yang ke lima, yaitu: Haji, apabila dia tidak berada di Arafah, Wukuf tanggal 9 Zulhijjah.

Kendati, seseorang berada di Arafah, tetapi bukan tanggal 9 Zulhijjah, dia tidak dinyatakan melaksanakan wukuf. Wukuf, hanya sekali dalam setahun. Sehingga dalam keadaan sakit, bahkan pingsan atau tidak sadarkan diri, jemaah calon haji dibawa Wukuf ke Arafah tanggal 9 Zulhijjah, untuk “safari wukuf”.

Para pasien rumahsakit itu dinaikkan kendaraan, dan ambulans, beriring-iringan menuju Arafah, berhenti untuk Wukuf, kemudian melintasi padang Arafah dan Mina. Setelah itu, kembali ke rumahsakit di Mekah.

Prosesi penobatan Haji setiap tahun, sesuai dengan rukun haji. Kegiatannya diawali dengan Thawaf mengelilingi Ka’bah,  Sa’i dari Safa ke Marwa, tahalul, lanjut wukuf di Arafah. Usai dari berkemah di Arafah, lanjut bermalam  atau mabit di kawasan Muzdalifah. Di wilayah luar Arafah ini, jamaah  mengambil batu kerikil untuk melempar jumrah, di Mina, hari berikutnya. Terakhir, jamaah kembali melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah di Mekah,  sebagai penutup rukun haji.

Haji dan Umrah

Pelaksanaan ibadah haji, memang berbeda dengan Umrah. Haji, hanya sekali setahun tanggal 9 Zulhijjah dan puncaknya Wukuf di Arafah. Sedangkan Umrah, hanya berangkat dari miqat, menuju Masjidilharam. Thawaf keliling Ka’bah, sai dan tahalul. Selesailah Umrah.

Nah, itulah kisah tentang Haji di musim damai. Hari berikutnya, pada tanggal 10 Zulhijjah, sampai tiga hari berikutnya, yang Hari Raya Haji dilaksanakan pemotongan hewan Qurban. Maka Hari Raya Haji, juga disebut sebagai Idul Qurban atau Hari Raya Qurban.

Perintah untuk berkurban, tertera dalam ayat ke dua Surat Al Kautsar.
Bismillahirrahmanirrahim.
1) Inna a’taina kal-kautsar,
2) Fa salli lirabbika wan-har,
3) Inna syani’ aka huwal-abtar.

Artinya:
1) Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak,
2) Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah),
3) Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).

Surat Al Kautsar, surat pendek di Al Qur’an. Hanya tiga ayat dan singkat.  Bahkan, perintah “berkurbanlah”, hanya tersedia satu kata di ayat dua.

Kisah tentang qurban ini, sungguh memilukan. Nabi Ibrahim AS mendapat wahyu perintah dari Allah SWT untuk menyembelih Nabi Ismail, anaknya sendiri.

Nabi Ibrahim percaya bahwa mimpi yang dia lihat saat itu merupakan pertanda perintah dari Allah SWT.

Ketaatannya kepada Allah SWT lebih besar dibandingkan dengan kecintaan kepada Nabi Ismail. Hal ini dibuktikan dengan Nabi Ibrahim yang akhirnya memberanikan diri untuk menyampaikan apa yang ada dalam mimpinya saat itu.

Hal yang tidak diduga-duga justru keluar dari mulut Nabi Ismail. Nabi Ismil justru mengiyakan dan mengamini apa yang sudah diceritakan oleh ayahnya. Ia dengan sukarela untuk menerima perintah Allah SWT tersebut.

Tanggal 10 Dzulhijjah ditetapkan sebagai hari dimana Nabi Ibrahim memutuskan untuk melaksanakan perintah Allah, yakni untuk menyembelih Nabi Ismail.

Godaan Setan

Sesaat sebelum Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Ismail, muncul setan yang datang menghampiri dengan bisikan-bisikan sesatnya agar Nabi Ibrahim mengurungkan niatnya tersebut. Namun Iman dan tekad Nabi Ibrahim sudah bulat kala itu, ia mengambil batu kemudian melemparkannya kepada setan dengan teriakan “Bismillahi Allahu Akbar”.

Sampai saat ini peristiwa tersebut diabadikan dengan istilah ‘lempar jumrah’, kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian saat melakukan ibadah Haji.

Setelah Nabi Ibrahim berhasil mengusir setan, mereka berdua menuju sebuah tanah lapang dengan pedang yang sudah diasah dengan sangat tajam agar Nabi Ismail tidak merasa kesakitan saat disembelih.

Hal tidak masuk akal terjadi saat Nabi Ibrahim mencoba untuk menyembelih Nabi Ismail, pedang yang sudah diasah dengan sangat tajam terpental secara terus menerus. Ditengah usaha yang tengah dilakukan oleh Nabi Ibrahim, Nabi Ismail meminta agar talinya dilepaskan sebagai tanda kepasrahan atas perintah Allah.

Di tengah usaha yang dilakukan Nabi Ibrahim secara tiba-tiba malaikat Jibril datang menghampiri mereka berdua untuk menukar Nabi Ismail dengan hewan ternak yakni Qurban. Dari peristiwa tersebut kemudian dijadikan perayaan Hari Raya Idul Adha atau dikenal dengan istilah Idul Qurban.

Masa Pandemi Covid-19

Sama dengan idulfitri, 1 Syawal, pada IdulAdha 10 Zulhijjah, di seluruh dunia berlangsung shalat Ied. Namun, karena negara kita dilanda wabah sejak akhir tahun 2019 Wabah Virus Corona yang berasal dari Wuhan China, telah merusak tatanan kehidupan masyarakat dunia.  Zaman sekarang,  disebut masa pandemi Covid-19.

Akibat keadaan pandemi Covid-19, kegiatan Haji pun bermasalah. Bukan hanya terbatasnya kuota dari Pemerintah Arab Saudi, di tahun 2020 dan 2021 ini, jamaah Haji dari Indonesia tidak bisa diberangkatkan. Akibatnya, masa menunggu untuk menunaikan haji, semakin lama.

Padahal, jamaah haji Indonesia terbanyak di dunia. Dari 2,7 juta jamaah haji dari seluruh penjuru dunia, 10 persen atau 270 ribu orang adalah jamaah haji Indonesia.

Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, secara resmi mengakui, bahwa dua tahun,  pada tahun 2020 dan 2021, Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) secara resmi membatalkan penyelenggaran ibadah haji. Pembatalan ini dilakukan dengan mempertimbangkan kesehatan dan keselamatan jamaah haji di tengah pandemi Covid-19.

Kuota Sampai 2055

Akibat, batalnya pemberangkatan haji tahun 2020 dan 2021, maka masa tunggu calon jamaah haji yang sudah mendaftar, makin lama. Dari 34 provinsi di Indonesia,  inilah 10 provinsi dengan daftar tunggu haji terlama, seperti disajikan situs Kementerian Agama:

1. Kalimantan Selatan

Calon jamaah haji yang berasal dari Kalimantan Selatan paling lama baru bisa berangkat pada 2055. Saat ini jumlah pendaftar sebanyak 128.615 untuk kuota 3.746.

2. Nusa Tenggara Barat 

Calon jamaah haji asal Nusa Tenggara Barat baru akan berangkat pada 2054. Adapun jumlah pendaftar yang terdaftar saat ini adalah sebanyak 147.114 untuk kuota 4.412.

3. Jawa Timur

Calon jamaah asal Jawa Timur akan diberangkatkan pada 2051. Dengan total pendaftar yang terdaftar adalah sebanyak 1.063.381 dengan kuota 34.516

4. Aceh
Provinsi Aceh juga termasuk wilayah yang daftar tunggu haji terlama di Indonesia. Calon jemaah terlama dari wilayah Serambi Mekkah itu akan diberangkatkan pada 2050. Data menunjukkan bahwa Aceh mendapatkan kuota 4.298 dengan jumlah pendaftar calon jamaah haji sebesar 128.615 orang.

5. Jambi

Calon jamaah provinsi Jambi akan berangkat tahun 2049. Total pendaftar sekarang adalah 80.255 dengan kuota 2.858.

6. D.I Yogyakarta (2049)

Bagi Anda calon jamaah haji yang berasal di daerah D.I Yogyakarta, keberangkatan akan dilakuakn pada tahun 2048. Saat ini jumlah pendaftar di kota seni tersebut adalah 8.905 dengan kuota 3.084.

7. Jawa Tengah 

Calon jamaah haji yang berasal dari Jawa Tengah akan diberangkatkan pada 2048. Jumlah pendaftar saat ini adalah 833.747 untuk kuota 29.786.

8. DKI Jakarta 

DKI Jakarta juga tercatat sebagai provinsi dengan daftar tunggu haji terlama yang telah dirilis oleh Kemenag. Jumlah pendaftar calon jamaah haji di ibu kota adalah sebanyak 189.226 untuk kuota 7.766.

9. Bali

Calon jamaah haji dari Pulau Dewata harap bersabar bila ingin menunaikan ibadah haji. Bali baru bisa memberangkatkan jamaahnya pada 2045.

Saat ini jumlah calon jamaah yang terdaftar adalah sebanyak 17.121 dengan kuota 686.

10. Kalimantan Tengah

Calon jamaah haji yang berasal dari Kalimantan Selatan baru akan diberangkatkan ke Arab Saudi pada 2045. Saat ini total pendafatr yang sudah mendaftar adalah 38.107 untuk kuota 1.581.

Nah, 24 provinsi lain di Indonesia, masa tunggunya paling lama sampai tahun 2045.

Tercepat Menunggu Tahun 2035

Sedangkan 5 provinsi yang dianggap tercepat masa tunggunya, baru tahun 2035, yakni:

1. Gorontalo
Provinsi Gorontalo menjadi provinsi tercepat daftar tunggu haji di Indonesia. Calon jemaah haji terlama di wilayah tersebut akan berangkat pada tahun 2035. Pasalnya, total pendaftar jemaah haji di wilayah tersebut ada 14.347 pendaftar dengan 959 kuota.

2. Sulawesi Utara
Sulawesi Utara masuk dalam provinsi kedua dengan masa tunggu haji tercepat di Indonesia. Calon jamaah haji terlama di wilayah tersebut akan berangkat pada tahun 2035. Data mencatat pendaftar Haji di Sulawesi Utara berjumlah 10.491 pendaftar dengan 700 kuota.

3. Sumatera Utara
Calon jamaah haji asal Sumatera Utara paling lama akan berangkat pada tahun 2039. Tercatat, calon jemaah haji di wilayah tersebut sebanyak 152.154 pendaftar dengan kuota 8.168.

4. Kepulauan Riau
Selain itu, Provinsi Kepulauan Riau menjadi salah satu wilayah daftar antrean haji tercepat di Indonesia. Calon jamaah paling lama berangkat pada 2040. Saat ini terdapat 24.987 pendaftar dengan 1.268 kuota.

5. Sumatera Selatan
Lima besar terakhir ditempati oleh Sumatera Selatan. Saat ini Sumsel memiliki 6.890 kuota dengan 140.892 pendaftar. Alhasil, calon jamaah terlama diperkirakan akan berangkat ke Arab Saudi pada 2041.

Berarti, di luar 10 yang terlama dan 5 provinsi tercepat, berada antara tahun 2035 sampai 2055.
(**)

Kebun Binatang Destinasi Wisata Tertua di Surabaya

Kebun Binatang

Obyek Wisata Tertua

Di Kota Surabaya

Oleh: Yousri Nur Raja Agam M.H, *)

KEBUN Binatang Surabaya (KBS) merupakan salah satu tempat rekreasi dan obyek wisata “tertua” di Kota Surabaya. Usia KBS hampir satu abad, sama dengan usia Pemerintah Kota Surabaya. KBS didirikan berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Pemerintahan Hindia Belanda No.40 tanggal 31 Agustus 1916.

Walaupun resminya Pemerintah Kota atau Gemeente Surabaya dibentuk sebagai pemerintahan sendiri pada tanggal 1 April 1906, namun walikotanya baru dilantik tanggal 21 Agustus 1916. Jadi pada saat KBS diresmikan, baru 10 hari walikota (Burgermeester) Surabaya yang pertama Mr.A.Meyroos, menduduki jabatannya.

Tidak banyak yang tahu tentang asal-usul KBS ini. Bahkan tentang riwayat KBS inipun jarang sekali dipublikasikan. Masyarakat hanya tahu, lokasi KBS berada di kecamatan Wonokromo, berdampingan dengan subterminal angkutan umum kota Joyoboyo dan bekas stasiun lama kereta api jurusan Surabaya-Sepanjang.

Nah, bagaimana sebenarnya awal berdirinya KBS ini? Kita layak menyampaikan penghargaan kepada seorang pencinta alam dan penyayang binatang bernama: H.F.K.Kommer. Sebab, berkat jerih payah dan perjuangan tanpa lelah yang dilakukan pria asal Negeri Belanda inilah KBS berdiri. Tidak hanya itu, selain merintis dan mendirikan KBS, H.F.K.Kommer sekaligus menghimpun orang-orang yang peduli terhadap binatang. Perkumpulan yang didirikan Kommer tahun 1916 itu bernama: Soerabaiasche Planten & Dierrentuin (S.P & D) dan kemudian berganti nama menjadi Perkumpulan KBS.

Kendati yang merintis berdirinya KBS atau SP&D ini adalah Kommer, namun dia mempercayakan kepengurusan kepada kawan-kawannya yang sama-sama peduli terhadap kehidupan flora dan fauna di awal abad ke 20 itu.

Berdasarkan dokumen yang ditemukan penulis, kepengurusan Soerabaiasche Planten & Dierrentuin yang pertama terdiri dari sembilan orang. Tiga orang masng-masing sebagai ketua, sekretaris dan bendahara, serta enam orang sebagai anggota pleno. Ke sembilan orang tersebut adalah:

Ketua: Mr.J.P.Mooyman,

Sekretaris: A.H. de Wilt.

Bendahara: P.Egas.

Enam anggota pleno, yakni: F.C.Fruman, J.Th.Lohman, A.Lenshoek, E.H.Soesman, H.C.Liem dan M.C.Falk.

Memang, untuk mendirikan KBS ini tidak mudah, apalagi mengumpulkan atau mengoleksi binatang sampai dengan merawat dan memeliharanya. Belum lagi menyediakan sarana dan prasarana kandang beserta petugas yang khusus yang dapat “berkomunikasi” dengan para binatang di KBS. Di sini, diperlukan jiwa, sifat dan rasa untuk menyayangi binatang. Tanpa itu semua, tidak mungkin KBS bisa berkembang dan bertahan hingga hampir sekarang ini.

Setelah Indonesia merdeka, Pemerintah Republik Indonesia mengukuhkan kedudukan .

Tidaklah terlalu berkelebihan, apabila kita menyampaikan rasa hormat, salut dan terimakasih kepada perintis, pendiri dan penerus kegiatan pemeliharaan serta pelestarian flora dan fauna yang sekarang ini terawat dengan baik di KBS. Kita wajib mempertahankan kehidupan satwa yang berada di KBS ini dari pencemaran lingkungan dan lebih-lebih lagi dari kepunahan. Dan tidak dapat disangkal, perkembangan kota Surabaya menuju kota metropolitan “mengancam” masa depan KBS beserta penghuninya.

Pencemaran

Agar pencemaran udara dapat diatasi, perlu adanya kepedulian semua pihak. Segala bentuk pencemaran lingkungan alam di dalam dan di sekitar KBS harus dikurangi seoptimal mungkin. Memang, salah satu upaya yang selama ini dilakukan adalah memelihara dan mengembangkan tumbuh-tumbuhan pelindung. Dengan cara konvensional ini gas CO2 (Carbon di Oksida) yang berasal dari asap knalpot kendaraan yang berlalu-lalang di sekitar KBS yang berdekatan dengan terminal Joyoboyo dapat ditekan.

Selain ancaman pencemaran lingkungan, sering pula kita mendengar ada masyarakat yang menghendaki agar KBS dipindahkan ke pinggir kota, bahkan ada yang menginginkan dipindahkan ke luar kota. Berbagai alasan yang dikemukakan untuk memindahkan KBS. Ada yang mengatakan, “kasihan” terhadap satwa yang berada di dalamnya, karena habitatnya terganggu, tidak aman dan sebagainya.

Ada lagi yang menyebut, akibat adanya KBS, Jalan Mayjen Sungkono terus ke Jalan Adityawarman terhalang oleh kawasan KBS, sehingga jalan besar itu terpaksa dibelokkan ke Jalan Ciliwung untuk menuju ke Jalan Raya Darmo dan Jalan Wonokromo. Seharusnya jalan raya itu lurus sampai ke terminal Joyoboyo.

Sekarang, ada perkembangan baru, terminal Joyoboyo dibangun menjadi terminal modern yang dilengkapi dengan pusat perbelanjaan, perkantoran dan mal. Lagi-lagi menambah ancaman bagi KBS.

Perlu disadari, bahwa keberadaan KBS itu, tidak semata-mata sebagai tempat mengandangkan satwa dan binatang berbagai jenis. Di dalam KBS itu, di samping sebagai tempat rekreasi, pusat ilmu pengetahuan dan pelestarian binatang, juga dilakukan penangkaran dan pengembangbiakan binatang langka dari kepunahan. Bersamaan dengan itu, kawasan KBS juga dijadikan sebagai hutan lindung dan konservasi alam. Apalagi Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam dengan Surat Keputusannya No. 13/KPTS/DJ-IV/2002, menetapkan: KBS sebagai lembaga konservasi eks satwa liar.

Ingat! Kota Surabaya yang tingkat pencemarannya sangat tinggi, perlu dinetralisasikan dengan hutan-hutan kota yang juga disebut lahan terbuka hijau. Untuk itulah, maka KBS harus dipertahankan keberadaannya sebagai “paru-paru” kota. Jangan sampai ada lagi, yang mempunyai keinginan dan upaya untuk memindahkan KBS ke tempat lain dengan dalih dan alasan apapun juga. Justru, demi meningkatkan peran KBS sebagai obyek wisata “flora dan fauna”, wilayahnya dikembangkan sampai ke pinggir kali Jagir Wonokromo. Dan terminal Joyoboyo “ditutup” dan dipindahkan ke tempat lain.

Anak-anak

Mungkin bagi warga kota Surabaya, KBS bukan lagi merupakan sarana rekreasi yang menarik. Pamor KBS sebagai obyek wisata dalam kota sudah dipandang dengan sebelah mata oleh warga kota. Begitu banyaknya tempat rekreasi dan hiburan modern, KBS sudah menjadi barang kuno dan tradisional. Kalaupun ada warga kota yang berkunjung ke KBS, karena “terpaksa” oleh ajakan anak-anak.

Kenyataannya selama ini, KBS hanya menjadi tempat rekreasi anak-anak. Orang dewasa yang berkunjung ke KBS, tidak khusus untuk melakukan pengamatan dan mempelajari masalah-masalah yang berhubungan dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan yang dipelihara di sini. Mereka hanya datang sebagai pendamping anak-anak.

Bagi masyarakat luar kota Surabaya dan kota-kota lain di Jawa, serta daerah Indonesia timur, keberadaan KBS merupakan obyek wisata idaman. KBS adalah “primadona” bagi sebagian besar wisatawan nusantara (wisnu). Sebab, KBS merupakan kebun binatang terbesar kedua setelah kebun binatang Rangunan di Jakarta. Bahkan dibandingkan dengan 28 kebun binatang lain di Indonesia, KBS mempunyai koleksi yang sangat beragam.

Di lahan seluas 14 hektar ini, hidup sekitar 3.800 ekor lebih satwa yang terdiri dari jenis mamalia, reptilia, aves dan pisces. Selain itu juga terdapat 345 spesies jenis tanaman, mulai tanaman air, rumput sampai pohon besar. Ada di antaranya termasuk jenis tanaman langka.

Jumlah binatang yang ada di KBS terus bertambah. Ada yang diperoleh dari sumbangan para penyayang binatang, ada pula dari hasil tukar-menukar dengan kebun binatang lain di Indonesia, maupun kebun binatang mancanegara.

Sebagai obyek wisata, setiap tahunnya KBS dikunjungi tidak kurang dari dua juta orang. Dari penjualan karcis, diperoleh pemasukan sekitar Rp 6 miliar per-tahun. Pihak KBS hanya memberi kontribusi 5 persen untuk Pemkot Surabaya. Hal ini, hampir tidak pernah dipermasalahkan oleh Pemkot Surabaya, karena pemasukan keuangan tersebut langsung digunakan untuk memelihara dan merawat ribuan satwa, serta membayar gaji, jaminan sosial dan asuransi para karyawan KBS.

Harus diakui, untuk pemeliharaan dan perawatan satwa dan flora di KBS diperlukan dana yang besar. Untuk meningkatkan kesehatan dan gizi satwa penghuni KBS, biayanya cukup tinggi. Pengelola KBS ternyata mampu menanggulangi segala kebutuhan. Selain dari penjualan karcis, juga iuran dan sumbangan anggota perkumpulan. Pemkot Surabaya sudah lama menghentikan bantuan dan subsidi keuangan untuk KBS, sebab pihak pengelola KBS menyatakan sudah mampu mandiri, bahkan memberikan pemasukan dana ke kas Pemkot Surabaya.

Selain sebagai obyek wisata bagi masyarakat umum, KBS bagi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya dijadikan sarana ilmiah bagi para mahasiswa dan dosen. Selain menjadikan hewan dan satwa yang ada di KBS sebagai bahan penelitian, juga didirikan klinik khusus FKH Unair Surabaya.

Para dokter hewan juga membuka praktik untuk melakukan perawatan dan pengobatan terhadap hewan atau binatang penghuni KBS. Bahkan, di klinik FKH Unair di Jalan Setail 3 Surabaya itu, juga sering dilakukan operasi terhadap binatang yang sakit parah. Tidak jarang, berkat pengalaman para dokter hewan itu, beberapa binatang langka yang dalam keadaan sekarat berhasil diselamatkan dari kepunahan.

Aset Kota

Sejak berdiri hingga sekarang, “diakui” bahwa status KBS adalah sebagai aset Kota Surabaya. Tetapi, pengertian aset kota di sini, tidak sama dengan milik atau aset Pemkot Surabaya. KBS adalah milik “perkumpulan” yaitu Perkumpulan Kebun Binatang Surabaya (PKBS) yang anggotanya adalah perorangan atau individu.

Berdasarkan ketetapan Menteri Kehakiman No.J.A.5/7/10 tanggal 15 Januari 1953 dan No.J.A.5/82/25 tanggal 20 November 1957, dinyatakan bahwa KBS yang berkedudukan di Surabaya dan didirikan untuk waktu yang tidak ditetapkan, merupakan milik perkumpulan. Terhitung sejak 7 Februari 2002, nama perkumpulan KBS sesuai dengan Bab II, Pasal 2 Anggaran Dasar PKBS diubah menjadi: “Perkumpulan Taman Flora dan Satwa Surabaya”. Jumlah anggota perkumpulan terkahir sebanyak 254 orang. Jumlah ini bisa bertambah dan berkurang. Bertambah dengan anggota baru, dan berkurang karena anggota meninggal dunia, mengundurkan diri, diberhentikan dan terkait dengan masalah hukum.

Walikota Surabaya, Drs.Bambang Dwi Hartono,MPd saat peresmian program orangtua asuh satwa KBS tanggal 7 Agustus 2002, mengakui bahwa KBS merupakan “milik publik”, khususnya warga kota Surabaya. Namun, katanya, lahan KBS ditetapkan sebagai milik Pemkot Surabaya yang peruntukannya hanya untuk KBS, bukan untuk hal lain. Tetapi, sampai sekarang Pemkot Surabaya “belum” memegang sertifikat HM (Hak Milik), Hak Pengelolaan Lahan (HPL) atau hak-hak tanah lainnya atas lahan KBS tersebut****

*) Yousri Nur Raja Agam MH, pemerhati periwisata bermukim di Surabaya.