Apa Itu Green City dan Green Building? Surabaya Kota Ramah Lingkungan

 

Surabaya Kota Ramah Lingkungan

Bukan Wacana, Tetapi Kenyataan

 

Oleh: HM Yousri Nur Raja Agam

 

GREEN City dan green building, apa itu? Inilah pertanyaan yang perlu dijawab dan dijelaskan kepada masyarakat. Jawaban  singkat dan  padat, bisa diartikan “kawasan ramah lingkungan”. Jadi pembangunan sebuah kota dengan program green city maupun green building, adalah kota yang berwawasan ramah lingkungan.

         Gambar

Walikota Surabaya Tri Rismaharini menyerahkan tropi juara kepada Yousri Nur Raja Agam yang berhasil meraih Juara

Motto tentang ramah lingkungan ini sudah lama kita dengar. Saat lomba kebersihan antarkota di Indonesia untuk mendapatkan  penghargaan Adipura, setiap kota mempunyai motto tentang kebersihan dan lingkungan hidup yang sehat. Ada yang menyingkat kalimat itu dengan kata  Kota Beriman (Bersih Indah dan Nyaman), Kota Berseri (Bersih Sehat dan Asri), Kota Bersehati (Bersih, Sehat, Aman, Tenteram dan Indah)  dan sebagainya.

            Kota Surabaya, sebagai kota yang menjadi pelopor kebersihan di Indonesia, juga punya jargon, yaitu “Green and Cleen” (hijau dan bersih). Sejak dicanangkan pemberian  penghargaan  nasional di bidang kebersihan, keindahan, sampai pelestarian lingkungan hidup, Kota Surabaya selalu memperolehnya. Piala Adipura setiap tahun, sampai Adipura Kencana, tak pernah lepas dari keberhasilan Kota Surabaya.

            Wacana menjadikan Surabaya sebagai green city atau  kota berwawasan  ramah lingkungan sebenarnya sudah terwujud. Apalagi saat digencarkannya gerakan penanaman pohon, Surabaya juga menjadi pelopor penghijauan dengan “Sejuta Pohon”.

            Tidak terbantahkan pula, Kota Surabaya memang sudah hijau dan rindang.  Pembangunan di Kota Pahlawan ini, sudah  lama merintis apa yang disebut green building (bangunan atau gedung hijau).  Bukan hanya gedung, tetapi juga taman, jembatan, sekolah, rumahsakit, perkantoran, pertokoan (mal dan plaza), hotel, apartemen, terminal dan tembok-tembok pun menjadi hijau dengan tanaman hidup.

Kota Metropolitan

            Surabaya dari dulu berjuluk Kota Adipura,  karena Kota Surabaya merupakan peraih Adipura yang pertama untuk kota-kota di Indonesia tahun 1992.  Penghargaan tingkat nasional itu, diterima tiap tahun, Sehingga tahun 1995, Surabaya mendapatkan Piala Adipura Kencana untuk kota raya terbersih di Indonesia. Berturut-turut kemudian, sampai 2013 ini, Surabaya masih tetap bertahan sebagai pemegang Adipura Kencana untuk kategori kota raya yang diubah menjadi Kota Metropolitan.

            Warga Kota Surabaya memang wajib bangga, saat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dipercayakan kepada Ir.Tri Rismaharini, MT,  Kota Surabaya mampu menjadi guru di bidang kebersihan, Bahkan Kota Surabaya  menjadi panutan di bidang pertamanan. Surabaya menjadi tempat studi banding kota-kota lain. Surabaya menjadi “Kota Sejuta Taman”, sebab tidak sejengkal tanah pun di Surabaya ini yang tidak hijau dan berbunga.

            Taman-taman kota tidak hanya di tanah lapang dan ruang terbuka hijau (RTH), tetapi juga jalur pemisah  dan pulau jalan di persimpangan jalan raya. Kalau  sebelumnya pembatas jalur terbuat dari batu, sekarang diubah menjadi taman.  Semua, kini menjadi hijau dan  indah dipandang.

            Tidak dapat dipungkiri, ini semua berkat kerja keras dan tangan dingin Tri Rismaharini, mantan kepala DKP Kota Surabaya yang sekarang menduduki jabatan Walikota Surabaya.  Sebagai walikota perempuan pertama di Kota Surabaya yang memegang tampuk kepemimpinan tertinggi, maka impiannya menjadikan Surabaya sebagai green city, benar-benar sudah menjadi kenyataan.

            Memang, Green city, bukan hanya kota yang hijau berkat taman-taman kota yang indah di RTH, tatapi juga didukung oleh planning and design atau perencanaan dan rekayasa. Sebagaimana dinyatakan oleh Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, Bappeko Surabaya D Dwija Wardhana yang mewakili Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Ir.Agus Imam Sonhadji kepada wartawan di ruang rapat  Sekda Kota Surabaya, Kamis (28/11) lalu.

            Surabaya sebagai green city dengan program  green building, akan  dilengkapi pula dengan green transportation, green waste, green water dan grfeen energy. Artinya, pembangunan kota Surabaya masa depan harus ditunjang dengan tarnsportasi, kebersihan, air dan enerji yang ramah lingkungan.

            Untuk itulah,  pembangunan gedung perkantoran, gedung pusat belanja, rumahsakit,  gedung sekolah, perguruan tinggi, terminal  dan gedung pemerintahan harus menerapkan green building.

Penghargaan Internasional

            Surabaya sebagai Kota Terbersih dan Terindah di Indonesia, sekarang sudah mendapat pengakuan internasional. Baru saja, salah satu yang tidak diduga dan direncanakan sama sekali sebelumnya, yakni Taman Bungkul, memperoleh penghargaan dari PBB sebagai  “taman terbaik” di tingkat Asia-Pasifik. Penghargaan itu, diterima langsung oleh Walikota Surabaya, Ir.Tri Rismaharini di Fokuoda, Jepang, Selasa (26/11) lalu.

            Prof.Dr.Johan Silas, pakar pembangunan perkotaan dari ITS (Isntitut Teknologi Sepuluh November) Surabaya, menyebut kriteria green building itu mempunyai pandangan dari sisi keras dan lunak. Hal ini ditentukan GBC (Green Building Council) Indonesia.  Untuk sisi keras terkait aksesoris pendukung seperti penggunaan solar cell dan lain sebagainya. Sedangkan sisi lunak terkait konsep green building itu sendiri, termasuk gedung yang sudah memberlakukan hemat energi. Jadi, kita perlu melakukan penghematan listrik dan melakukan pengurangan panas global (global energy), ujarnya.

 

            Johan Silas, mengakui, untuk mengubah lingkungan ke konsep green building ini, awalnya sangat mahal, tetapi apabila sudah terlaksana sangat menguntungkan. Untuk mewujudkan  green city, tidak hanya menata bangunan, tetapi juga menyediakan green infrastructure.Untuk tahun 2014 bisa dipastikan kota ini harus berkonsep kota hijau. Dengan begitu, tidak saja mengatur atau menata bangunan menuju green building, tetapi harus didukung dengan akses jalan. Ini terkait dengan efisiensi penggunaan lahannya.

            Ada catatan dari Johan Silas, sebagai warga kota Surabaya, ia merasa bangga karena Kota  Surabaya tidak mengikuti Jakarta. Di Surabaya tetap memertahankan jalan kampung  dengan jalan setapak. Ini yang membuat kampung-kampung di Surabaya masih bertahan. Beda dengan Jakarta yang mengutamakan jalan di kampung dengan ukuran mobil. Lambat laun, kampung itu pun kalah dengan lahan jalan.

            Sudah saatnya bangunan-bangunan di Kota Surabaya berciri green building. Salah satu parameternya adalah gedung tersebut hemat energi. Di samping itu, kita melihat perkampungan yang tumbuh di dalam kota Surabaya, mampu  mempertahankan Surabaya sebagai kota yang bersih dan hijau.

            Pernah dalam  suatu wawancara, Agus Imam Sonhadji yang mantan Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (CKTR) Kota Surabaya,  mengatakan, ke depan, Kota Surabaya membutuhkan lebih banyak energi listrik. Salah satu di antaranya untuk kepentingan energi listrik monorail dan trem.

            Dengan  berseloroh, Agus menyatakan, tentu lucu jika trem berhenti di tengah jalan karena kekurangan tenaga listrik. Makanya, harus dimulai sekarang. Jika tidak, efeknya akan terasa pada tahun-tahun mendatang.

            Pengertian green building, juga berbentuk nilai estetika, kata Ir.Harry Sunarto, Ketua   IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) Jawa Timur. Ada fungsi yang jelas dari tata ruang dan gerak manusia di dalam gedung atau bangunan. Sekarang, kita sudah jarang melihat rumah memakai teras yang biasanya digunakan untuk duduk-duduk keluarga. Saat yang demikian itu dapat digunakan untuk bertegur sapa dengan tetangga, katanya.

            Menurut Harry Sunarto, tema bangunan perlu kita kaji satu per-satu dan saling mendukung. Untuk mewujudkan green building, tentu harus seimbang, jangan sampai menghilangkan fungsi gedungnya. Kaidah atau persyaratan arsitekturnya juga jangan dihilangkan. Jadi, green building bukan merupakan satu  tema, tetapi sudah menjadi persyarartan bangunan.

            Harry Sunarto mengingatkan, green building  jangan hanya berfokus pada masalah ekologi, tapi juga memperhatikan masalah keindahan dan keharmonisan antara struktur bangunan dan lingkungan alamiah di sekitarnya. Kecuali itu, hendaknya tidak melupakan pula perbaikan lingkungan. Memang, secara penampakan mungkin bangunan ini tidak berbeda dari bangunan-bangunan lainnya. Konsep yang mendukung green building, juga harus  pula memperhatikan penggunaan material alam yang tersedia secara lokal

            Lain lagi pendapat Dr. Maria Anityasari, ST,ME  pakar lingkungan dari ITS, yang menyatakan green building di Kota Surabaya ini merupakan awal dari sebuah perjalanan panjang. Ini sebuah perjuangan guna mewujudkan green city dan eco city.

            Menurut Maria, bangunan gedung itu berumur panjang sekitar 20-30 tahun. Jika bangunan tidak didesain dengan konsep green building, maka akan menyumbang pemanasan global. Apalagi, berdasarkan data dari Leadership in Enviromental Design (LEED), bangunan gedung menyumbang sampai 50 persen karbon.

            Jadi, untuk bisa seperti itu, yang harus dilakukan yakni memberikan pengetahuan, acuan dan pedoman, memberikan pendampingan teknis, serta memberikan reward dan punishment. Bahkan, yang tidak kalah penting, kegiatan ini bukan upaya sporadis, tetapi masyarakat diberi kesadaran, ujar Maria.

            Ada enam kriteria yang diukur dalam green building itu. Yakni pengolahan lahan sekitar, penggunaan air, penggunaan energi, material dan dari mana sumber material itu, kualitas di dalam ruangan, dan inovasi. Untuk menunjang menjadi Green City, kata Maria, perlu menjalankan konsep Green Planning and Design, Green Open Space, Green Building, Green Transport, Green Community, Green Waste, Green Water, dan Green Energy.

            Setelah melakukan kampanye green building, Pemkot Surabaya akan menyelenggarakan Green Building Award. Nantinya, akan dilakukan evaluasi greenship pada bangunan-bangunan yang ada di Kota Surabaya.

            Setelah lomba,  akan diadakan  evaluasi, berlanjut penerapan green building, persiapan pembuatan Perda (Peraturan Daerah), pelaksanaan Perda. 

            Nah, apabila landasan hukumnya sudah ada dan kuat sebagai pijakan, maka masyarakat benar-benar dapat menerapkan hidup dengan ramah lingkungan dan rendah emisi.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: