Kebun Binatang Surabaya (KBS) Obyek Wisata Tertua di Surabaya Didirikan oleh Wartawan Penyayang Binatang

Kebun Binatang Surabaya

Obyek Wisata Tertua

Oleh: Yousri Nur Raja Agam  MH  *)

Yousri Nur RA, MH

Yousri Nur RA, MH

 

KEBUN Binatang Surabaya (KBS) merupakan salah satu tempat rekreasi dan obyek wisata “tertua” di Kota Surabaya. Usia KBS hampir satu abad, sama dengan usia Pemerintah Kota Surabaya. KBS didirikan berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Pemerintahan Hindia Belanda No.40 tanggal 31 Agustus 1916.

Walaupun resminya Pemerintah Kota atau Gemeente Surabaya dibentuk sebagai pemerintahan sendiri pada tanggal 1 April 1906, namun walikotanya baru dilantik tanggal 21 Agustus 1916. Jadi pada saat KBS diresmikan, baru 10 hari walikota (Burgermeester) Surabaya yang pertama Mr.A.Meyroos, menduduki jabatannya.

Tidak banyak yang tahu tentang asal-usul KBS ini. Bahkan tentang riwayat KBS inipun jarang sekali dipublikasikan. Masyarakat hanya tahu, lokasi KBS berada di kecamatan Wonokromo, berdampingan dengan subterminal angkutan umum kota Joyoboyo dan bekas stasiun lama kereta api jurusan Surabaya-Sepanjang.

Nah, bagaimana sebenarnya awal berdirinya KBS ini? Kita layak menyampaikan penghargaan kepada seorang wartawan pencinta alam dan penyayang binatang bernama: H.F.K.Kommer. Sebab, berkat jerih payah dan perjuangan tanpa lelah yang dilakukan pria asal Negeri Belanda inilah KBS berdiri. Tidak hanya itu, selain merintis dan  mendirikan KBS, H.F.K.Kommer sekaligus menghimpun orang-orang yang peduli terhadap binatang. Perkumpulan yang didirikan Kommer tahun 1916 itu bernama: Soerabaiasche Planten & Dierrentuin (S.P & D) dan kemudian berganti nama menjadi Perkumpulan KBS.

Kendati yang merintis berdirinya KBS atau SP&D ini adalah Kommer, namun dia mempercayakan kepengurusan kepada kawan-kawannya yang sama-sama peduli terhadap kehidupan flora dan fauna di awal abad ke 20 itu.

Berdasarkan dokumen yang ditemukan penulis, kepengurusan Soerabaiasche Planten & Dierrentuin yang pertama terdiri dari  sembilan orang. Tiga orang masing-masing sebagai ketua, sekretaris dan bendahara, serta enam orang sebagai anggota pleno. Ke sembilan orang tersebut adalah:

Ketua: Mr.J.P.Mooyman,

Sekretaris: A.H. de Wilt.

Bendahara: P.Egas.

Enam anggota pleno, yakni: F.C.Fruman, J.Th.Lohman, A.Lenshoek, E.H.Soesman, H.C.Liem dan M.C.Falk.

Memang, untuk mendirikan KBS ini tidak mudah, apalagi mengumpulkan atau mengoleksi binatang sampai dengan merawat dan memeliharanya. Belum lagi menyediakan sarana dan prasarana kandang beserta petugas yang khusus yang dapat “berkomunikasi” dengan para binatang di KBS. Di sini, diperlukan jiwa, sifat dan rasa untuk menyayangi binatang. Tanpa itu semua, tidak mungkin KBS bisa berkembang dan bertahan hingga hampir sekarang ini.

Pindah ke Jalan Pandegiling

Koleksi binatang milik HFK Kommer terus bertambah, di samping hasil buruannya sendiri, Kommer juga mendapat sumbangan dari teman-temannya. Berbagai jenis binatang yang dikoleksi Kommer. Ada monyet, kera, babi, ayam dan kambing hutan, ular, berbagai jenis burung, bahkan harimau dan landak.

Halaman rumahnya di Kaliondo, dekat Jalan kapasan sekarang yang cukup luas berubah menjadi kebun binatang mini. Kommer membuat kandang dan sangkar untuk binatang piaraannya. Namun Kommer kewalahan juga, karena peminat yang berkump;ul bersamanya juga bertambah. Komunitas penyayang binatang berdatangan, semula menyumbang dan menitipkan binatang temuannya. Lama kelamaan mereke manjadi sebuah komunitas. Masyarakat pun makin banyak yang berkunjung untuk menonton koleksi binatang itu.

Kesepakatan komunitas ini secara resmi akhirnya mendirikan sebuah perkumpulan bernama “Soerabajasche Planten-en Dierentuin“. Nama perkumpulan ini kemudian didaftarkan kepada Pemerintahan Hindia Belanda, dan mendapat Surat  Keputusan Gubernur Jenderal Pemerintahan Hindia Belanda No.40 tanggal 31 Agustus 1916.

Nah, karena halaman rumah Kommer yang digunakan semakin penuh, maka ada tuan tanah yang bersimpati. Tuan tanah itu mengusahakan lahan bekas pabrik gula NV Koepang di daerah Grudo, dekat Jalan Pandegiling sekarang. Di halaman bekas pebrik gula itulah dibangun kandang dan sangar hewan pindahan dari Kaliondo.

Untuk pengamanan, maka dibuatlah perjanjian sewa-menyewa antara Perkumpulan SPD (Soerabajasche Planten en-Dierentuin) dengan maskapai bangunan “Koepang” yang menguasai lahan bekas pabrik gula Koepang itu pada tanggal 28 September 1917.

Ceritanya, di zaman VOC (Verenigde Of Company) — perusahaan dagang dari Belanda, mendirikan pabrik gula di daerah Kupang. Pabrik gula itu dikelola oleh NV Koepang. Namun warga yang tinggal di sekitar pabrik gula itu, disebut “pandai giling” (pandegiling) — orang yang pandai menggiling tebu menjadi gula. Ini, karena tiap tahun pabrik gula NV Koepang menggiling tebu menjadi gula. Kalau ada warga yang akan mendatangi rumah warga di sini, selalu mereka sebut mau ke pandegiling (ke rumah pandai giling). Lama ke lamaan kawasan di dekat Grudo dan Kupang itu berubah menjadi Pandegiling. Bahkan, Jalan Asem atau Tamarindelaan yang di kiri kanan jalannya tumbuh pohon asem, juga disebut Jalan Pandegiling — sampai sekarang.

Di pinggir  kiri dan kanan jalan berdiri warung dan kedai makanan, Bahkan, juga pedagang sayur, sampai pakaian. Para PKL (Pedagang Kali Lima) itu ditertibkan oleh Perusahaan Pasar Kupang yang berpusat di Pasar Kembang. PKL yang berada di bawah binaan Perusahaan Pasar itu merasa terlindungi, apalagi mereka ditarik retribusi oleh Perusahaan Pasar yang sekarang menjadi Perusahaan Daerah (PD) Pasar Surya itu. Namun tahun 1799, pabrik gula ini tutup dengan berakhirnya kekuasaan VOC.

Setelah pabrik tutup, kemudian lahannya berubah menjadi kebun binatang. Pasar yang sebelumnya berfungsi melayani karyawan dan buruh pabrik gula, beralih melayani pengunjung kebun binatang pindahan dari Kaliondo.  Kebun Binatang milik wartawan Kommer ini semakin tertata dengan baik. Organisasi pengelola yang didukung oleh sebuah kepengurusan perkumpulan penyayang binatang yang bergabung ke SPD  juga semakin kompak. Kebun binatang baru itu makin ramai dikunjungi masyarakat, terutama anak-anak yang diajak orang tua mereka. Kawasan Jalan Asam atau Tamarindelaan  yang dilewati trem (kereta api listrik) memperlancar kunjungan warga dari berbagai jurusan, termasuk dari luar kota..

Trem uap milik perusahaan OJS (Oost Javaasche Stoomtram Maatschappij)  yang lewat Tamarinde (Asam) laan atau Jalan Asem ini beawal dari stasiun Ujung Tanjung Perak menuju ke Stasiun Karang Pilang. Rute yang dilewati dari Perak ke Jalan Rajawali, terus ke Pasar Turi, Jalan Semarang, jalan Arjuna, Jalan Asem (Pandegiling), Jalan Dinoyo, Jalan darmo Kali, Jalan Marmoyo, Joyoboyo, Gunungsari terus dan berakhir di Karangpilang.

Tahun 1927, Kebun Binatang ini pindah ke Wonokromo. berkat perhatian yang serius dari Walikota (burgermaster) Surabaya, Ir.G.J.Dijkerman.

Setelah Indonesia merdeka, Pemerintah Republik Indonesia mengukuhkan kedudukan .

Tidaklah terlalu berkelebihan, apabila kita menyampaikan rasa hormat, salut dan terimakasih kepada perintis, pendiri dan penerus kegiatan pemeliharaan serta pelestarian flora dan fauna yang sekarang ini terawat dengan baik di KBS. Kita wajib mempertahankan kehidupan satwa yang berada di KBS ini dari pencemaran lingkungan dan lebih-lebih lagi dari kepunahan. Dan tidak dapat disangkal, perkembangan kota Surabaya menuju kota metropolitan “mengancam” masa depan KBS beserta penghuninya.

 

Pencemaran

Agar pencemaran udara dapat diatasi, perlu adanya kepedulian semua pihak. Segala bentuk pencemaran lingkungan alam di dalam dan di sekitar KBS harus dikurangi seoptimal mungkin. Memang, salah satu upaya yang selama ini dilakukan adalah memelihara dan mengembangkan tumbuh-tumbuhan pelindung. Dengan cara konvensional ini gas CO2 (Carbon di Oksida) yang berasal dari asap knalpot kendaraan yang berlalu-lalang di sekitar KBS yang berdekatan dengan terminal Joyoboyo dapat ditekan.

Selain ancaman pencemaran lingkungan, sering pula kita mendengar ada masyarakat yang menghendaki agar KBS dipindahkan ke pinggir kota, bahkan ada yang menginginkan dipindahkan ke luar kota. Berbagai alasan yang dikemukakan untuk memindahkan KBS. Ada yang mengatakan, “kasihan” terhadap satwa yang berada di dalamnya, karena habitatnya terganggu, tidak aman dan sebagainya.

Ada lagi yang menyebut, akibat adanya KBS, Jalan Mayjen Sungkono terus ke Jalan Adityawarman terhalang oleh kawasan KBS, sehingga jalan besar itu terpaksa dibelokkan ke Jalan Ciliwung untuk menuju ke Jalan Raya Darmo dan Jalan Wonokromo. Seharusnya jalan raya itu lurus sampai ke terminal Joyoboyo.

Sekarang, ada perkembangan baru, terminal Joyoboyo dibangun menjadi terminal modern yang dilengkapi dengan pusat perbelanjaan, perkantoran dan mal. Lagi-lagi menambah ancaman bagi KBS.

Perlu disadari, bahwa keberadaan KBS itu, tidak semata-mata sebagai tempat mengandangkan satwa dan binatang berbagai jenis. Di dalam KBS itu, di samping sebagai tempat rekreasi, pusat ilmu pengetahuan dan pelestarian binatang, juga dilakukan penangkaran dan pengembangbiakan binatang langka dari kepunahan. Bersamaan dengan itu, kawasan KBS juga dijadikan sebagai hutan lindung dan konservasi alam. Apalagi Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam dengan Surat Keputusannya No. 13/KPTS/DJ-IV/2002, menetapkan: KBS sebagai lembaga konservasi eks satwa liar.

Ingat! Kota Surabaya yang tingkat pencemarannya sangat tinggi, perlu dinetralisasikan dengan hutan-hutan kota yang juga disebut lahan terbuka hijau. Untuk itulah, maka KBS harus dipertahankan keberadaannya sebagai “paru-paru” kota. Jangan sampai ada lagi, yang mempunyai keinginan dan upaya untuk memindahkan KBS ke tempat lain dengan dalih dan alasan apapun juga. Justru, demi meningkatkan peran KBS sebagai obyek wisata “flora dan fauna”, wilayahnya dikembangkan sampai ke pinggir kali Jagir Wonokromo. Dan terminal Joyoboyo “ditutup” dan dipindahkan ke tempat lain.

 

Anak-anak

Mungkin bagi warga kota Surabaya, KBS bukan lagi merupakan sarana rekreasi yang menarik. Pamor KBS sebagai obyek wisata dalam kota sudah dipandang dengan sebelah mata oleh warga kota. Begitu banyaknya tempat rekreasi dan hiburan modern, KBS sudah menjadi barang kuno dan tradisional. Kalaupun ada warga kota yang berkunjung ke KBS, karena “terpaksa” oleh ajakan anak-anak.

Kenyataannya selama ini, KBS hanya menjadi tempat rekreasi anak-anak. Orang dewasa yang berkunjung ke KBS, tidak khusus untuk melakukan pengamatan dan mempelajari masalah-masalah yang berhubungan dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan yang dipelihara di sini. Mereka hanya datang sebagai pendamping anak-anak.

Bagi masyarakat luar kota Surabaya dan kota-kota lain di Jawa, serta daerah Indonesia timur, keberadaan KBS merupakan obyek wisata idaman. KBS adalah “primadona” bagi sebagian besar wisatawan nusantara (wisnu). Sebab, KBS merupakan kebun binatang terbesar kedua setelah kebun binatang Rangunan di Jakarta. Bahkan dibandingkan dengan 28 kebun binatang lain di Indonesia, KBS mempunyai koleksi yang sangat beragam.

Di lahan seluas 14 hektar ini, hidup sekitar 3.800 ekor lebih satwa yang terdiri dari jenis mamalia, reptilia, aves dan pisces. Selain itu juga terdapat 345 spesies jenis tanaman, mulai tanaman air, rumput sampai pohon besar. Ada di antaranya termasuk jenis tanaman langka.

Jumlah binatang yang ada di KBS terus bertambah. Ada yang diperoleh dari sumbangan para penyayang binatang, ada pula dari hasil tukar-menukar dengan kebun binatang lain di Indonesia, maupun kebun binatang mancanegara.

Sebagai obyek wisata, setiap tahunnya KBS dikunjungi tidak kurang dari dua juta orang. Dari penjualan karcis, diperoleh pemasukan sekitar Rp 6 miliar per-tahun. Pihak KBS hanya memberi kontribusi 5 persen untuk Pemkot Surabaya. Hal ini, hampir tidak pernah dipermasalahkan oleh Pemkot Surabaya, karena pemasukan keuangan tersebut langsung digunakan untuk memelihara dan merawat ribuan satwa, serta membayar gaji, jaminan sosial dan asuransi para karyawan KBS.

Harus diakui, untuk pemeliharaan dan perawatan satwa dan flora di KBS diperlukan dana yang besar. Untuk meningkatkan kesehatan dan gizi satwa penghuni KBS, biayanya cukup tinggi. Pengelola KBS ternyata mampu menanggulangi segala kebutuhan. Selain dari penjualan karcis, juga iuran dan sumbangan anggota perkumpulan. Pemkot Surabaya sudah lama menghentikan bantuan dan subsidi keuangan untuk KBS, sebab pihak pengelola KBS menyatakan sudah mampu mandiri, bahkan memberikan pemasukan dana ke kas Pemkot Surabaya.

Selain sebagai obyek wisata bagi masyarakat umum, KBS bagi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya         dijadikan sarana ilmiah bagi para mahasiswa dan dosen. Selain menjadikan hewan dan satwa yang ada di KBS sebagai bahan penelitian, juga didirikan klinik khusus FKH Unair Surabaya.

Para dokter hewan juga membuka praktik untuk melakukan perawatan dan pengobatan terhadap hewan atau binatang penghuni KBS. Bahkan, di klinik FKH Unair di Jalan Setail 3 Surabaya itu, juga sering dilakukan operasi terhadap binatang yang sakit parah. Tidak jarang, berkat pengalaman para dokter hewan itu, beberapa binatang langka yang dalam keadaan sekarat berhasil diselamatkan dari kepunahan.

 

Aset Kota

Sejak berdiri hingga sekarang,  “diakui” bahwa status KBS adalah sebagai aset Kota Surabaya. Tetapi, pengertian aset kota di sini, tidak sama dengan milik atau aset Pemkot Surabaya. KBS adalah milik “perkumpulan” yaitu Perkumpulan Kebun Binatang Surabaya (PKBS) yang anggotanya adalah perorangan atau individu.

Berdasarkan ketetapan Menteri Kehakiman No.J.A.5/7/10 tanggal 15 Januari 1953 dan No.J.A.5/82/25 tanggal 20 November 1957, dinyatakan bahwa KBS yang berkedudukan di Surabaya dan didirikan untuk waktu yang tidak ditetapkan, merupakan milik perkumpulan. Terhitung sejak 7 Februari 2002, nama perkumpulan KBS sesuai dengan Bab II, Pasal 2 Anggaran Dasar PKBS diubah menjadi: “Perkumpulan Taman Flora dan Satwa Surabaya”. Jumlah anggota perkumpulan terkahir sebanyak 254 orang. Jumlah ini bisa bertambah dan berkurang. Bertambah dengan anggota baru, dan berkurang karena anggota meninggal dunia, mengundurkan diri, diberhentikan dan terkait dengan masalah hukum.

Walikota Surabaya, Drs.Bambang Dwi Hartono,MPd  saat peresmian program orangtua asuh satwa KBS tanggal 7 Agustus 2002, mengakui bahwa KBS merupakan “milik publik”, khususnya warga kota Surabaya. Namun, katanya, lahan KBS ditetapkan sebagai milik Pemkot Surabaya yang peruntukannya hanya untuk KBS, bukan untuk hal lain. Tetapi, sampai sekarang Pemkot Surabaya “belum” memegang sertifikat HM (Hak Milik), Hak Pengelolaan Lahan (HPL) atau hak-hak tanah lainnya atas lahan KBS tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: