Wisata Belanja: Mal dan Plaza di Surabaya

Wisata Belanja:
Mal dan Plaza di Surabaya

Oleh: Yousri Nur Raja Agam MH *)
Yousri Nur RA, MH

Kendati Surabaya punya 81 pasar yang dikelola oleh PD Pasar Surya dan satu pasar khusus – yakni Pasar Turi – namun pasar-pasar tradisional itu mulai tersisih. Nasib yang sama juga dialami pasar tradisional milik swasta, seperti Pasar Atom. Ini semua akibat pada era tahun 1980-an bermunculan kegiatan jual-beli di pasar modern yang disebut supermarket, mal dan plaza. Pasar modern “tanpa becek” dan “tanpa tawar-menawar”.
Dua kata “kunci” pasar modern yang mulai ramai di kota Surabaya, dalah: “tanpa becek” dan “tanpa tawar-menawar”. Tidak hanya itu, bahkan pasar modern yang menjamur di Surabaya, juga memberi banyak kemudahan dan kenyamanan. Suasananya terkesan mewah, rapi, bersih, lapang, terang benderang dan sejuk ber-ac (air condition).

Kesan pasar selama ini adalah pasar yang ramai, berdesak-desakan dan para pembeli sudah terbiasa berbelanja dengan bercucuran keringat. Kalau sedang berada di pasar sayur-mayur dan buah-buahan, aroma wangi bercampur baur dengan sengat daun-daun yang membusuk. Suasana yang sama juga dirasakan saat berada di pasar ikan. Dan, umumnya pasar sayur-mayur, buah-buahan dan ikan ini lantainya becek, bahkan banyak yang tanpa lantai atau lantai tanah.

BG Junction di Jalan Bubutan 1-3 Surabaya. Dulu di sini berdiri Wijaya Shoping Center

Dulu, Pasar Turi disebut sebagai “pasar tradisional modern dan terlengkap”. Saingannya adalah Pasar Atom dan kawasan pertokoan Kembang Jepun sebagai pasar grosir. Pemerintah Kota Surabaya, terlambat mengantisipasi datangnya perubahan sikap warga kota Surabaya dalam berbelanja.

Pasar Turi saat terbakar tahun 2007

Walaupun Pasar Inpres (Instruksi Presiden) didirikan mengatasi masalah perpasaran dan mendekati kawasan perumahan warga, namun kenyataannya tidak itu yang dibutuhkan konsumen. Para pebelanja tidak mulai melirik gaya hidup orang kota, seperti di kota-kota metropolitan yang ditayangkan di televisi.

Pemerintah Kota Surabaya di awal tahun 1980-an juga berpacu melakukan pembenahan pasar. Selain Pasar Turi yang merupakan pasar legendaris, ditangani langsung oleh Bagian Perekonomian (waktu itu), Perusahaan Daerah (PD) Pasar “Surya” juga melakukan pembenahan. Beberapa pasar dijadikan prioritas, di antaranya: Pasar Tunjungan Baru, Pasar Genteng, Pasar Kapasan, Pasar Pucang Anom, Pasar Kembang, Pasar Keputran dan Pasar Gubeng Masjid. Pasar-pasar lama ini dibangun menjadi pasar bertingkat. Pasar Tunjungan Baru, Pasar Genteng dan pasar kapasan dibangun menjadi tiga lantai. Begitu pula dengan pasar Pucang Anom, Pasar Kembang dan Pasar Keputran.

Tunjungan Plaza dengan SOGO nya

Pasar Turi memang selalu bermasalah dengan “kebakaran”. Sejak tahun 1960 hingga
tahun 1990, terjadi lima kali kebakaran. Pasar yang dibangun PT.Sinar Galaxy tahun 1974 terbakar tahun 1978. Tahun 1980 Pasar Turi kembali dibangun dan diresmikan Presiden Soeharto tahun 1982, tahun 2006 kembali dilalap jago merah. Pasar itu, konon tidak terbakar, tetapi sengaja dibakar dan perkaranya masih ditangani Polda Jatim. Pedagang Pasar Turi kembali merana. Memasuki tahun 2010, para pedagang masih menempati TPS (tempat penampungan sementara). Di balik misteri kebakaran Pasar Turi itu, di seberangnya di lahan milik PT.Kereta Api Indonesia (KAI) sudah berdiri bangunan yang disebut PGS (Pusat Grosir Surabaya) yang dibangun PT.Lami Citra, satu grup dengan JMP.

Pasar Atum Mall, pengembangan dari Pasar Atum

Lain lagi dengan pasar-pasar swasta. Pasar Atom yang dikelola PT.Prosam Plano dan pusat perbelanjaan berupa komplek ruko (rumah-toko) PT.Sinar Galaxy mampu mengambilalih sebagian aktivitas Pasar Turi. Predikat pasar grosir yang lama disandang pertokoan di Kembang Jepun dan Pasar Turi, beralih ke Pasar Atom dan pertokoan Sinar Galaxy.

ITC yang dibangun di lahan bekas kantor PGN Jalan Gembong Surabaya

Melihat keadaan demikian Pemerintah Kota Surabaya, melakukan terobosan dalam bentuk kerjasama dengan investor swasta. Pasar ”gelap” yang dulu bernama Pasar Tunjungan di dekat pertokoan Siola Jalan Tunjungan terbakar tahun 1976. Di bekas pasar itu, dibangun Pertokoan Tunjungan Center dengan sistem kerjasama jangka panjang, tahap pertama 30 tahun dan dapat diperpanjang. Pertokoan Tunjungan Center ini membuat sebuah daya pikat untuk konsumen, yakni membangun ”toko jembatan”. Pertokoan yang melintas di atas Jalan Tunjungan yang menghubungkan Tunjungan Center dengan Pertokoan Aurora. Sayang, pada tahun 1984 komplek pertokoan dan bioskop Aurora terbakar.

Gedung Siola milik Pemkot Surabaya yang berada di sampingnya, mulai hidup kembali, setelah agak lama sepi. Pertokoan yang pernah bersinergi dengan Toko Nam yang berada di Jalan Tunjungan 102 pojok Jalan Embong Malang itu pun akhirnya tutup. Kegiatan bisnisnya dilanjutkan oleh Pusat Perbelanjaan Ramayana, namun kemudian juga berakhir dan tidak diperpanjang lagi kontraknya.

Mal dan Plaza

Gedung SIOLA di jalan Tunjungan milik Pemkot Surabaya

Berawal dari pembangunan pusat perbelanjaan Wijaya, yang waktu itu dikenal dengan nama Wijaya Shoping Centre di Jalan Bubutan 1-3 Surabaya, masyarakat Surabaya mulai disuguhi sistem belanja ”tanpa tawar-menawar”. Menyusul pembangunan kawasan pertokoan modern Tunjungan yang diberi nama Tunjungan Plaza (TP) oleh PT.Pakuwon Jati, suasana belanja di Surabaya mulai memasuki era baru. Pusat perbelanjaan TP dari tahap 1 hingga 4 terus berpacu dengan munculnya pusat perbelanjaan lain di berbagai tempat di Surabaya.

Kawasan THR (Taman Hiburan Rakyat) di Jalan Kusuma Bangsa, dirombak total. Di lahan yang berdampingan dengan Taman Remaja Surabaya itu dibangun gedung pertokoan yang diberi nama Surabaya Mall – kemudian diindonesiakan menjadi Mal Surabaya – dan THR sebagai pusat hiburan rakyat dipindahkan ke bagian belakang pusat perbelanjaan enam lantai itu. Hampir sama modelnya dengan Tunjungan Center, lahan milik Pemkot Surabaya ini dikerjasamakan dengan investor untuk jangka panjang. Walaupun ”barang baru” ternyata Mal Surabaya ini nasibnya sama dengan pasar-pasar tradisional milik Pemkot Surabaya. Mal Surabaya tidak pernah mencapai titik penuh. Artinya, stan-stan di dalam gedung itu tidak pernah terisi seluruhnya. Kemudian sekarang, Mal Surabaya berubah menjadi pusat penjualan barang-barang elektronika canggih dan komputer. Nama yang dipopularkan Hi-Tech Mall.

Galaxy Mall di kawasan Jalan Lingkar Timur

Masih di tahun 1980-an, kawasan Rumah Sakit Umum (RSU) Simpang di Jalan Pemuda yang menjadi satu kesatuan dengan RSU Dr.Sutomo di Karang Menjangan, dibebaskan oleh investor. Tiga pusat kegiatan bisnis dibangun di atas lahan rumah sakit peninggalan penjajah Belanda itu. Satu kawasan induk diberi nama Surabaya Delta Plaza (SDP), kemudian diubah menjadi Plaza Surabaya. Di gugus ini juga berdiri bangunan perkantoran dan hotel. Di bagian depan ada bangunan Gedung Medan Pemuda sebagai pusat perkantoran, bank dan bursa efek. Dulu Bursa Efek Surabaya (BES) cukup maju, kemudian bergabung dengan Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan nama baru BEI (Bursa Efek Indonesia) yang berpusat di Jakarta. Di bagian belakang gedung ini, berdiri satu gedung lagi, bernama WTC (World Trade Centre) atau Pusat Perdagangan Dunia, namun lebih didominasi oleh perdagangan HP (Handphone).

Gedung Empire yang menjadi pusat penjualan perhiasan emas dan permata, dibangun di lahan bekas Asrama mahasiswa tempo dulu

Pusat perbelanjaan Surabaya, ternyata tidak bisa jauh dari kawasan Kembang Jepun. Investor melirik kawasan terminal dan pertokoan di Jembatan Merah. Ditambah dengan perumahan semi permanen di belakangnya, maka berdirilah pusat perdangan dengan nama Jembatan Merah Plaza (JMP). Tahap demi tahap kawana JMP semakin luas, bahkan komplek penjara Kalisosok yang berdiri sejak tahun 1.800 pun akhirnya tergusur. Penjara yang dinyatakan sebagai cagar budaya itu, kemudian dipindah ke Porong, Sidoarjo. Belum jelas, hingga memasuki tahun 2010, bangunan apa yang akan didirikan di atas lahan penjara tertua di Surabaya itu.

Carrefour di Jalan Ngagel Surabaya

Bereberangan dengan Pasar Atum, di lahan bekas gedung Perusahaan Gas Negara (PGN) Jalan Gembong, berdiri megah pusat perbelanjaan baru bernama ITC (International Trade Centre).
Pembangunan mal dan plaza di Surabaya, makin meluas ke seantero kota. Pusat perbelanjaan tidak lagi terpusat di tengah kota, tetapi juga sudah menuju ke berbagai arah. Ada Mal Galaxy di Surabaya Timur, dekat kampus baru Universitas Airlangga (Unair) yang berdekatan dengan kampus ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) Surabaya. Kawasan Pasar Atom diperluas dengan Pasar Atom Mall. Di wilayah Surabaya barat, mengiringi perkembangan kawasan permukiman Citra Raya, berdiri pula beberapa mal dan plaza, seperti Golden City dan Pakuwon Mall.

Golden City Mall di kawasan Surabaya Barat

Di wilayah kota Surabaya bagian Selatan, ada kawasan pertokoan Plaza Marina di Margorejo dan pusat perkulanan Indo Grosir di Jemursari. Ada lagi kawasan pertokoan dengan nama Mangga Dua di Jalan Jagir. Di Jalan Ngagel ada dua pusat perbelanjaan yang belum selesai. Satu bangunan sudah dioperasikan yang didominasi Carrefour. Menyusul, berdiri pula komplek pertokoan Maspion yang didominasi Giant Hipermaket. Tidak jauh dari pusat perbelanjaan modern ini, berdiri pula Royal Plaza di Jalan A.Yani dan terus ke arah selatan, ada pusat belanja Carrefour, serta di pintu gerbang perbatasan Surabaya Sidoarjo, berdiri gedung superblok pertokoan dan apartemen bernama Cito (City of Tomorow).

Royal Plaza di jalan A.Yani Surabaya

Setelah komplek pertokoan Wijaya atau Wijaya Shoping Centre terbakar, di bekas lahan itu kemudian berdiri BG Junction. Di seberangnya ada gedung The Empire Palace, pusat penjualan perhiasan dan gedung pertemuan. Sebenarnya ada rencana pembangunan mal oleh Bhutan di lahan bekas Rumah Sakit Mardi Santoso atau Griya Husada di Jalan Bubutan. Tetapi belum ada tanda-tanda pembangunan pusat perbelanjaan perabotan rumah dan bahan bangunan itu. Sementara digunakan untuk rumah makan dengan nama Hallo Surabaya. Dan, yang awal tahun 2010 ini siap untuk diresmikan adalah Grand City Mall, komplek perbelanjaan di bekas asrama marinir (KKO – Korps Komando Operasi) di Jalan Gubeng Pojok yang didirikan oleh pengusaha Hartati Murdaya.

Selain proyek mal dan plaza yang dibangun pihak swasta, PD Pasar Surya yang juga bekerjasama dengan investor swasta, berhasil melakukan pembangunan di dua pasar yang sama-sama terbakar, yakbni Pasar Wonokromo dan Pasar Tambah Rejo. Pasar Wonokromo direnovasi sebagai pasar tradisional di dua lantai bagian bawah dan menyatu dengan pusat perbelanjaan modern di lantai tiga sampai lima dengan nama Darmo Trade Center (DTC). Sedangkan Pasar Tambah Rejo di Jalan Kapas Krampung, lantai dasar tetap pasar tradisional dan empat lantai di atasnya yang semula dipopularkan dengan sebutan East Point (Ujung Timur), sekarang diberi nama Kapas Krampung Plaza (KKP). Memasuki tahun 2010, KKP ini diperkenalkan sebagai pasar buku terbesar untuk Indonesia Timur dengan sebutan Pusat Buku Indonesia Cerdas (PBIC).

Wisata Belanja

Sebenarnya, dengan makin banyaknya pusat perbelanjaan di Surabaya dengan ciri khas masing-masing, maka Surabaya layak dijual sebagai obyek “wisata belanja”. Namun, karena masih kurangnya tenaga profesional di jajaran Pemkot Surabaya yang mampu “menjual” Surabaya sebagai DTW (Daerah Tujuan Wisata), julukan Surabaya sebagai Kota Pariwisata masih merupakan wacana jangka panjang.

Julukan Surabaya sebagai Kota pariwisata, sudah lama di dengung-dengungkan. Mulai dari pariwisata konvensi (pertemuan-pertemuan) bersifat regional, nasional dan internasional, berikut pariwisata budaya, wisata sejarah, wisata kepahlawanan, wisata religi, wisata industri, wisata maritim dan wisata belanja. Bahkan tentunya wisata hiburan, rekreasi dan olahraga. Tetapi, mana? Semua itu belum ada perwujudan yang nyata. **

*) Yousri Nur Raja Agam MH – Ketua Yayasan Peduli Surabaya

About these ads

2 Tanggapan

  1. Bos, seingatku Pasar Tunjungan itu ya di pojok Tunjungan-Embong Malang itu. Bukan belakang Siola. Menurut foto lama, belakang Siola itu dulu tempat Zangrandi yang terbakar saat perang 1945. Lalu pindah ke Yos Sudarso.
    Lagi pula tulisannya kok diupdate. Tunjungan Center dan toko jembatan kan sudah tutup.

    salam
    sgp

    ——–
    Terima kasih mas Sugeng, dulu ada “pasar gelap” di belakang masuk gang kecil dari samping SIOLA dan Toko Buku Sari Agung, tepatnya di bawah tempat parkir De-Lux sekarang. Ini namanya “Pasar Tunjungan”, sedangkan yang di Jalan Tunjungan 88 tembus ke Jalan Embong Malang disebut “Pasar Tunjungan Baru”. Memang, Toko Jembatan memang sdh Tutup, karena Pertokoan dan Bioskop “Aurora” di pojok Jalan Tanjung Anom terbakar dan belum dibangun sampai sekarang. Menyusul Tunjungan Center (TC) juga tutup, tetapi TC ganti nama menjadi TEC (Tunjungan Electronic Centre) diperluas atau sekarang dihubungkan/digabung dengan bekas Toko Buku Sari Agung yang sudah dibangun bertingkat.
    Nah, sedangkan Zangrandi iru lebih lama lagi, sejak zaman Belanda, jauh sebelum ada TC, dempet dengan SIOLA. Pindahnya Zangrandi dari jalan Tunjungan 3 ke Jalan yos Sudarso 11, sudah lama sekali. Waktu itu masih ada trem lewat di depan Bioskop Indra.
    Begitu kira-kira Mas Sugeng, kalau ada komentar lagi, juga dari yang lain sangat saya perlukan, sebab ini perlu diketahui oleh generasi yang sekarang dan yang akan datang. (Yousri).

  2. No question, this is perfect. Rarely do I find a blog that’s equally educative and fascinating on web 2.

    0 site, and let me tell you, you have hit the nail on the head.

    Not too many folks these days take the time to actually put some thought into this
    issue. Now I’m very happy I found this during the course of
    my search for something connected to this.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: