Menyambut HPN 2009 (2)

Dr.Soetomo Terbitkan

Panjebar Semangat


Oleh:Yousri Nur Raja Agam MH *)

Yousri Nur RA  MH

Yousri Nur RA MH

UNTUK mengelabui pemerintah kolonial Belanda, tokoh perjuangan yang juga tokoh pers di Surabaya, dr.Soetomo menerbitkan suratkabar berbahasa Jawa, bernama “Panjebar Semangat”. Suratkabar yang terbit dalam bentuk lembaran sebanyak empat halaman itu, nomor perdananya diluncurkan 2 September 1933.

“Panjebar Semangat” memiliki misi utama untuk masyarakat pedalaman yang belum memahami bahasa Indonesia maupun Belanda. Sekaligus untuk mengelabui pihak Belanda yang kurang memahami bahasa Jawa. Dengan terbitnya koran ini, pesan-pesan perjuangan dapat langsung dicerna oleh masyarakat bawah. Itulah sebabnya bahasa Jawa yang digunakan adalah bahasa Jawa ‘ngoko’ (bahasa Jawa untuk kalangan masyarakat menenga), sehingga dapat menghilangkan feodalisme, ungkap penulis buku Perkembangan Pers Jawa Timur, mengutip dalih yang disampaikan dr.Soetomo waktu itu.

Suratkabar mingguan ini merupakan bacaan wajib anggota perkumpulan Boedi Oetomo (BO) dan Persatoean Bangsa Asia (PBA). Kedua perkumpulan yang dipimpin dr.Soetomo itu sama-sama beralamat di komplek GNI (Gedung Nasional Indonesia) Jalan Bubutan 87 Surabaya. Motto yang digunakan koran Penjebar Semangat adalah: “Suro Diro Djajadiningrat Lebur Dening Pangastuti”. Artinya: Segala kekuatan negatif yang ada di dalam masyarakat bisa ditaklukkan dengan lemah lembut dan penuh sopan santun, merendah dan bijaksana. Semboyan ini diambil dari kitab “Serat Witoradya” karangan Ronggowarsito.

Sebelum Panjebar Semangat terbit, tahun 1925 di Surabaya sudah ada belasan suratkabar dan majalah yang terbit. Mediamassa cetak itu ada yang menggunakan bahasa Arab, Melayu dan Belanda, bahkan Tionghoa. Koran dan majalah itu antara lain: Al Ahkam Jurnal Arabia (diterbitkan oleh Al Irsyad), Djangkar (terbitan Serikat Pekerja Pelabuhan), Proletar, Soeara Postel (diterbitkan SP Postel) dan Soeloeh Indonesia. Kemudian ada koran yang diterbitkan Tionghoa Kong Sin In Boen menerbitkan koran Soeara Poeblik yang tahun 1928 ganti nama menjadi Swara Poeblik dan bertahan terbit hingga tahun 1931.

Menjelang Sumpah pemuda tahun 1928, tulisan yang disajikan koran-koran yang diterbitkan kaum perjuangan semakin tajam menyoroti kolonial Belanda. Tahun 1927, ada sembilan penerbitan yang cukup lancar penerbitannya. Di antara koran itu, bernama: Perasa’an Kita yang diterbitkan oleh Persatuan Rakyat Sejati dan Sinar Indonesia dengan motto “menuntun kebenaran, keadilan dan persamaan bagi rakyat Indonesia.

Yang cukup unik dan menarik, ada penerbitan mingguan bernama ”Sendjata Indonesia” yang mottonya: mengajar ke arah kemerdekaan Indonesia pada keadilan, kebenaran dan persamaan. Dan ada pula koran mingguan bernama “Sepakat Indonesia”.

Kendati ada penerbitan yang merangsang semangat pemuda untuk bangkit, ada juga penerbitan yang menyerang para perintis kemerdekaan itu, yakni mingguan yang terbit di Surabaya, bernama: Djenggala. Koran yang dipimpin Ajat Djajadiningrat, cucu bupati Ngawi yang lulusan Osvia itu selalu menyerang dr.Soetomo yang dikenal dengan sebutan Grup Bubutan. Ajat dibantu oleh Isbandi, guru sekolah Taman Siswa dan Soedijono Djojopranoto yang terkenal saat itu dengan tulisannya menganai “Kube Affair”.

Ajat juga melakukan penyerangan melalui tulisan-tiulisan yang dimuat Djenggala terhadap tokoh Parindra (Partai Rakyat Indonesia), seperti: Soekardjo Wirjopranoto, Husni Thamrin, Mr.Iskak dan lain-lain.Wartawan-wartawan yang tergabung dalam grup Bubutan, seperti Imam Soepardi, Soedarjo Tjokrosisworo dan Roeslan Wongsokoesoemo juga menjadi bulan-bulanan majalah Djenggala ini.

Dengan gaya tulisannya yang bombastis itu, Djenggala mampu meraih banyak pembaca. Bahkan kemudian di tahun 1939, majalah ini berubah menjadi suratkabar harian dengan nama Express dan tidak lama kemudian mengubah ejaannya menjadi Ekspres. Pola penyajian tulisannya tetap menyerang lawan politiknya, sehingga beberapa redaktur yang tidak sepaham dengan Ajat mengundurkan diri.

Kebangkitan pers di Surabaya yang menunjang kebangkitan pers nasional terjadi tahun 1931, saat terbitnya suratkabar harian Soeara Oemoem (baca: Suara Umum). Koran ini diterbitkan oleh Soeloeh Ra’jat (baca: Suluh Rakyat) Indonesia, pimpinan Taher Tjindarboemi. Tulisan-tulisan dalam koran yang terbit rata-rata 3.000 eksemplar per-hari itu sangat tajam menyoroti pemerintahan penjajah.

Karena Tjindarboemi membuat tajuk yang berhubungan dengan pemberontakan di atas kapal Zeven Provincien, dia anggap melanggar undang-undang pemberedelan pers atau Persbreidel Ordonatie yang diberlakukan Pemerintah Hindia Belanda, 7 September 1931. Suratkabar ini juga dituduh melanggar Haatzai Artikelen, yaitu tulisan yang dianggap mengganggu ketertiban umum serta menyebarkan perasaan bermusuhan, kebencian dan penghinaan terhadap pemerintah Belanda.

Selain tajuk itu, beberapa tulisan yang disajikan wartawan koran Soeara Oemoem ini juga dinilai menghasut. Akibatnya, Taher Tjindarboemi ditahan tanpa diadili selama 18 bulan di penjara Kalisosok Surabaya, kemudian dipindah ke penjara Sukamiskin di Bandung. Bersamaan dengan Taher Tjindarboemi juga ditangkap pemimpin redaksi majalah “Masyarakat”, A.Barnawi Latif. Ia juga menulis artikel pemberontakan kapal Zeven Provincien. Namun nasib A.Barnawi Latif yang berkantor di kampung Rangkah, Surabaya, itu berbeda dengan Tjindarboemi. Tanpa melalui pengadilan ia langsung dibuang ke Digul di Irian Jaya.

Perjuangan para wartawan melalui mediamassa itu, kemudian mendapat penghargaan dari Pemerintah RI melalui Departemen Sosial. Taher Tjindarboemi ditetapkan sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan dan Dewan Pers memberikan gelar Perintis Pers Indonesia. Gelar yang sama juga dianugerahkan kepada: Abdul Rivai, Djamaluddin Adinegoro, Bakri Surjaatmadja, RM Djoko Mono Tirto Hadisoerjo, Dr.Douwes Dekker alias Setia Budhi, R.Mashoeri Darmosoegito, Dr.GSSJ Ratulangie, RM Bintarti, RM Soedarjo Tjokrosisworo dan Sutopo Wonobojo.

Bila diikuti sejarah dan perkembangan pers Indonesia di Surabaya khususnya, cukup menarik untuk dijadikan pelajaran. Timbul tenggelam penerbitan pers di zaman penjajahan itu menggambarkan semangat kejuangan para tokoh pers waktu itu. Kelihatannya, akibat misi utamanya perjuangan, mereka kurang memikirkan segi bisnisnya. Inilah yang mengakibatkan penerbitan masa perjuangan itu tidak banyak yang berumur panjang.

Menjelang perang Pasifik, di tahun 1940-an kegiatan penerbitan semakin “dapat angin”, karena pemerintah Belanda mulai kendur, karena mulai menghadapi serangan dari Jepang. Namun, situasi ekonomi kala itu tidak begitu menguntungkan, sehingga tidak banyak penerbitan baru yang muncul. Bahkan, saat Jepang mendarat di Surabaya, tahun 1942, semua penerbitan dan percetakan langsung dikuasai dan diawasi Balatentara Jepang.

Harian Soeara Oemoem diperbolehkan terbit, karena pemimpin redaksinya Abdul Wahab mempunyai hubungan baik dengan pihak Jepang. Namun, ia harus rela nama korannya diganti menjadi “Soeara Asia”. ***

*) Yousri Nur Raja Agam MH – mantan Wk.Ketua PWI Jatim

Menyambut HPN 2009 (1)

Pers di Surabaya

Sudah Berkembang

Sejak Abad ke-18


Oleh : Yousri Nur Raja AgamMH*)

KOTA Surabaya yang lahir dan berkembang sebagai kota industri, tidak terlepas dari informasi dan komunikasi. Salah satu industri yang selalu mengikuti kiprah Surabaya adalah industri mediamassa atau industri pers.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, yakni di saat negeri ini masih di bawah pemerintahan Hindia Belanda, di Surabaya telah muncul berbagai penerbitan pers, berbentuk suratkabar dan majalah.

Sebagai pengetahuan bagi masyarakat yang ingin mengenal dari dekat Kota Surabaya, tentunya dapat menyimak melaluii perkembangan pers dan mediamassa yang terbit di kota ini. Mengasyikkan dan ada dinamika yang tertuang di balik kegiatan industri suratkabar, majalah, dan penyiaran radio hingga televisi sekarang ini.

Melalui penelusuran ke belakang dunia penerbitan pers dan mediamassa di Surabaya, dapat pula dilihat kemajuan industri mediamassa dari zaman ke zaman. Sebelum era grup Jawa Pos, Surya, Memorandum, Bhirawa dan berbagai penerbitan sekarang, di Surabaya pernah berjaya Suratkabar Harian Surabaya Post di zaman Orde Baru dan Pewarta Surabaya di zaman Orde Lama.

Kecuali itu, banyakpula suratkabar harian, mingguan dan majalah yang terbit di Surabaya dengan skala nasional. Salah satu majalah yang cukup dikenal dengan peredaran luas adalah Sketsmasa. Di samping itu ada dua majalah berbahasa Jawa: Jaya Baya dan Panyebar Semangat.

Nah, bagaimana pula perkembangan kegiatan penerbitan yang zaman dulu dengan mesin cetak tangan (hand press) dengan huruf timah yang disusun atau diset satu huruf per-huruf. Berlanjut ke era mesin cetak printing dan offset, sampai dengan zaman komputer, internet dan multimedia dengan sistem cetak jarak jauh sekarang ini.

Ada delapan zaman yang dapat menjadi era penerbitan sejak Surabaya pertamakali mempunyai penerbitan suratkabar. Yakni: era prakemerdekaan atau zaman pemerintahan kolonial Belanda, era penjajahan Jepang, era awal kemerdekaan, era pemerinntahan Demokrasi Liberal, era Demokrasi Terpimpin, era Demokrasi Pancasila, era awal reformasi dan sekarang (pascareformasi).

Koran Pertama di Surabaya

Berdasarkan data yang dihimpun, pada periode prakemerdekaan, yakni tahun 1836-1942, di Jawa Timur sudah terbit 159 penerbitan pers. Ada yang berbentuk suratkabar dan ada pula berupa majalah. Dari jumlah itu, 90 persen terbit di Kota Surabaya. Sisanya terbit di Malang, Kediri, Probolinggo, Pasuruan, Jember dan Mojokerto.

Suratkabar pertama yang terbit di Surabaya, bulan Maret 1836, bernama: Soerabajasch Advertentieblad. Suratkabar ini mengkhususkan iklan-iklan berbagai perusahaan, produk dan toko-toko yang ada di Surabaya. Di samping itu juga ada warta kematian, kelahiran, pernikahan dan keberangkatan kapal sebagai berita utamanya.

Memang, di zaman penjajahan Belanda itu tidak mudah menerbitkan mediamassa, walaupun oleh bangsa Belanda sendiri. Waktu itu berlaku pengawasan yang ketat. Sehingga, persiapan yang dilakukan CF Smith, pemimpin suratkabar itu cukup lama, padahal izinnya keluar bulan Juli 1835.

Setelah setahun suratkabar Soerabajasch Advertentieblad khusus menyiarkan iklan, pada bulan Maret 1837, Smith mengajukan permohonan kepada Residen Surabaya yang bertindak sebagai pengawas, untuk diizinkan menyiarkan berita dan artikel. Namun, permohonan Smith itu tidak pernah dikabulkan. Malahan tahun 1841, C.Van Raalten yang menjabat sebagai chief clerk (kepala tata usaha) diadili. Pengadilan Distrik Surabaya mengambilalih pengelolaan suratkabar itu. Alasannya, agar kepentingan pemerintah tidak dirugikan akibat rencana Smith yang akan menerbitkan pemberitaan dan artikel di suratkabar itu.

Kendati demikian dalam perkembangan selanjutnya, suratkabar itu tidak dapat lagi menghindari tulisan yang bersifatberita. Sehingga, tahun 1853, secara resmi koran ini berganti nama menjadi: Surabayasch Nieuws en Advertentieblad (SNeA). Koran ini berada dalam pengawasan dari pemerintah kolonial.

Data yang dihimpun dari Perpustakaan Nasional di Jakarta, pada buku Perkembangan Pers Jawa Timur yang terbit tahun 1994, mengungkapkan suratkabar kedua yang terbit di Surabaya bernama Oostpost. Kehadiran suratkabar ini pertamakali diketahui melalui iklan yang dimuat di SNeA terbitan 8 Januari 1853 yang dicetak pada percetakan E.Fuhri. Tahun 1870 suratkabar ini berganti nama menjadi: Het Soerabajasch Handelsblad yang didukung oleh kelompok pengusaha pabrik gula di Jawa Timur.

Suratkabar ini benar-benar membawa misi pemerintah kolonial Belanda. Pimpinan koran ini, M.Van Geuns sampai-sampai menulis kritik tajam terhadap kebijakan Gubernur Jenderal Idenburg yang memberi kesempatan kepada organisasi pergerakan nasional Boedi Oetomo, Syarekat Islam dan Indische Partij.

Minat baca warga kota Surabaya waktu itu ternyata meningkat. Tahun 1851, JJ Nose menerbitkan pula koran Nieuwsbode. Di sini persaingan mulai dirasakan penerbit SNeA dan Oostpost.Bahkan untuk menarik pembaca lebih banyak, Oostpost ganti nama menjadi Soerabajasch Courantyang semula terbit mingguan menjadi empat hari seminggu.

Melihat perkembangan suratkabar di Surabaya, Jakarta, Padang dan Medan, pemerintah Hindia Belanda tahun 1856 mengeluarkan undang-undang tentang percetakan dan pers: Reglement op de Drukwerken in Nederlandesch Indie atau gampangnya disebut: Drukpers Reglement. Undang-undang ini mengatur dan mengawasi hasil percetakan dan penerbitan pers.

Berbagai suratkabar kemudian terbit di Surabaya, namun usianya tidak ada yang lama. Di antaranya bernama: Soerabajasch Weekblad (1851), De Militaire Courant (1863), Indische Spectater (1870), Insulinde (1878), Indische Kinder Courant (1879), De Indische Opmeker (1880), Het Jonge Indie (1885), Thieme’s Nieuws en Advertentieblad (1886), Onze Getuigenis (1887). Rata-rata koran ini hanya berusia satu hingga dua tahun, kecuali De Indische Opmeker bertahan enam tahun (1880-1886) dan Thieme’s Nieuws en Advertentieblad (1886-1909) atau 13 tahun.

Lain lagi dengan koran Soerabajasch Handelsblad yang terbit sejak abad 19 itu bertahan sampai 1957. Dihentikannya penerbitan koran terbesar di Surabaya ini, sebagai akibat kebijakan Pemerintah RI yang tidak membolehkan warga Belanda memimpin suratkabar.

Pada umumnya koran yang terbit waktu itu berbahasa Belanda. Kemudian, terbit koran berbahasa Indonesia (Melayu). Koran pertama berbahasa Melayu bernama: Soerat Kabar Bahasa Melayoe. Edisi perdana koran ini terbit hari Sabtu tanggal 12 Januari 1856, bertepatan dengan 3 Jumadil Awal 1784 tahun Jawa atau 1372 tahun Hijriyah dan 4 Tjap-djie Gwee tahun Iet Bow. Setahun kemudian, 3 januari 1857, terbit pula suratkabar berbahasa Melayu, bernama: Bientang Timoer yang kemudian diubah menjadi Bintang Timoer. Koran ini dipimpin orang Belanda bernama TCE Bouquet. Peredarannya tidak hanya di Jawa Timur dan sebagian wilayah Indonesia, tetapi juga sampai ke Eropa.

Suratkabar lain yang terbit dengan menggunakan bahasa Melayu lainnya yang terbit akhir tahun 1800-an, adalah: Bintang Soerabaia, Tjahaja Moelia dan Batara Indra. Menyusul di awal abad ke-20, juga terbit koran bahasa Melayu-Tionghoa, seperti Bok Tok (1913), Sia Hwee Po (1914) yang berubah menjadi majalah Tjhoen Tjhioe (1915).

Sejarah baru persuratkabaran di Surabaya diledakkan oleh seorang pengusaha Cina bernama The Kiang Sing, tanggal 28 April 1905. Dia bersama The Kian Lie, The Kian Hien dan tan Swan Ie, dengan dibantu orang Balanda bernama HWR Kommer sebagai pemimpin redaksi menerbitkan suratkabar dagang Pewarta Soerabaia.

Suratkabar Pewarta Soerabaia yang diterbitkan di Jalan Panggung Surabaya ini terus berkembang dengan beberapa kali penggantian manajemen. Perlu dicatat, koran ini mencetak banyak wartawan dan inilah koran yang waktu itu terbit lancar. Salah satu di antara wartawan senior yang kemudian tercatat sebagai perintis pers Indonesia di koran ini adalah RM Bintarti. Ia menjadi pemimpin redaksi menggantikan HWR Kommer yang meninggal dunia tahun 1925.

Tahun 1913, terbit pula suratkabar Oetoesan Hindia dan tahun 1914, suratkabar Tjahaja Timoer. Koran Oetoesan Hindia adalah koran pergerakan pemuda di Surabaya yang dipimpin HOS Tjokroaminoto yang juga ketua perkumpulan Syarekat Islam (SI). Dua wartawan ini yang dicatat sebagai wartawan kawakan waktu itu adalah: Sosrobroto dan Tirtodanoedjo. ***

*)Yousri Nur Raja AgamMH – Dewan Kehormatan PWI Jatim.


Surabaya Sister City

Kota Surabaya

Punya Saudara Kembar

di Mancanegara

Oleh: Yousri Nur Raja Agam MH *)

Yousri Nur RA MH

Yousri Nur RA MH

TIDAK hanya manusia dan makhluk hidup yang punya saudara kembar. Kota Surabaya juga punya “adik perempuan” di luarnegeri. Istilah dalam kerjasama internasional, disebut “Sister City”. Dalam hubungan antarkota sister city ini diterjemahkan sebagai “kota kembar”.

Kerjasama antarkota, baik sesama pemerintah kota di dalam satu negara, maupun dengan kota di mencanegara, biasanya disepakati karena adanya kesamaan kepentingan. Bisa berhubungan dengan kesamaan budaya, persamaan kegiatan bisnis, kesamaan dalam letak geografis dan sebagainya.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, selama ini sudah menjalin hubungan kerjasama dengan berbagai kota di Indonesia. Namun yang ditetapkan dalam bentuk kerjasama berkelanjutan, di antaranya dengan tiga kota di luar negeri. Ke tiga kota di mancanegara itulah yang kemudian dinyatakan sebagai “adik perempuan” (sister city) Kota Surabaya. Di samping tiga kota itu ada beberapa kota lain yang sudah dijajaki namun belum disebut sebagai sister city.

Tiga kota di luarnegeri sudah ditetapkan sebagai saudara kembar Surabaya. Bermula dari Kota Seattle di Amerika Serikat, kemudian menyusul Kota Kochi di Jepang dan Kota Busan di Korea Selatan.

Setelah ke tiga kota itu, dijajaki jalinan persaudaraan dengan kota lain. Misalnya dengan Kota Guangzhou dan Kota Kunming di Cina, Kota Perth di Australia Barat, Kota Rotterdam di Negeri Belanda dan Kota Kitakyushu di Jepang.

Kerjasama berkesinambungan dengan kota di luar negeri, pertama terjalin dengan Kota Seattle yang terletak di negara Bagian Washington, Amerika Serikat. Sebagai saudara kembar kota Surabaya, langkah awal yang dilakukan sejak tahun 1992, oleh Walikota Surabaya (waktu itu) dr.H.Poernomo Kasidi, adalah program pendidikan, bidang perkotaan dan kegiatan dunia usaha.

Sebagai kelanjutan kerjasama antarkota ini, dilakukan pertukaran pelajar dan konjungan yang bersifat pendidikan. Berulang-ulang terjadi pengiriman delegasi dari Surabaya maupun tamu yang datang dari Seattle untuk saling mempererat kerjasama. Di samping itu dalam kegiatan pembangunan perkotaan, juga dilakukan kerjasama manajemen dan pembangunan jaringan pipa air bersih. Hal ini dilakukan antara Pemkot Seattle dengan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Surabaya.

Tahun 1994, kerjasama antarkota dengan luarnegeri juga ditandatangani antara Walikota Surabaya (waktu itu) H.Sunarto Sumoprawiro dengan walikota Busan di Korea Selatan. Selain bidang pendidikan dan budaya, juga dilakukan kerjasama bidang ketenagakerjaan. Sudah berulangkali terjadi hubungan dan kerjasama langsung antarsekolah dan antarperguruantinggi, dengan pengiriman guru dan dosen ke Busan dan sebaliknya juga kunjungan guru dan dosen dari Korsel ke Surabaya.

Tentunya di samping itu, yang lebih pokok adalah peningkatan kerjasama antarkota yang mempunyai geografis yang sama, yakni di bidang pelabuhan dan maritim. Sama dengan Surabaya, Kota Busan juga kota kedua terbesar di Korea Selatan setelah ibukotanya Seoul. Pelabuhan laut Kota Busan yang menghadap ke Lautan Pasifik di Semenanjung Korea itu, juga merupakan pelabuhan kedua di negeri “ginseng” itu, sama dengan Tanjung Perak Surabaya.

Kota pelabuhan yang mulai berkembang sejak tahun 1876 ini, kegiatan armada kapal dagangnya juga sudah sering melakukan angkutan antarnegara dengan Indonesia, khususnya ke Surabaya. Sekarang, Kota Busan juga sudah berkembang menjadi kota maritim, perdagangan, industri, pendidikan dan pariwisata. Jadi, sama dengan Kota Surabaya yang menggunakan predikat kota Indamardi (Industri, perdagangan, maritim dan pendidikan) atau sekarang Budi Pamarinda (Budaya, pendidikan, pariwisata, maritim, industri dan perdagangan).

Lain lagi dengan “adik perempuan” kota Surabaya dari Jepang, yaitu Kota Kochi. Kerjasama dengan Kota Kochi dilakukan sejak tahun 1997. Ada tujuh bidang kerjasama yang disepekati, yakni: bidang manajemen kota, manajemen pelabuhan, pengembangan dunia usaha, pendidikan, Iptek, lingkungan hidup, kepariwisataan dan seni budaya.

Kerjasama yang dilakukan pertamakali oleh H.Sunarto Sumoprawiro, diteruskan oleh Walikota Surabaya, Drs.Bambang Dwi Hartono, MPd. Bahkan untuk perpanjangan kerjasama itu, walikota Surabaya didampingi Ketua DPRD Kota Surabaya HM Basuki (waktu itu), awal September 2002.

Perpanjangan kerjasama yang dilakukan antarkota Surabaya dengan Kochi, diperbarui secara tegas kerjasama bidang industri dan perdagangan. Kerjasama di bidang perdagangan dan industri yang lebih konkrtit tidak hanya terfokus di Kota Surabaya, tetapi juga mengajak kerjasama dengan wilayah Gerbang Kertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan). Alasannya, Pemkot Surabaya dapat menjadi mediator pengembangan kegiatan industri di kabupaten dan kota di sekitar Surabaya itu.

Dalam bidang maritim dan kepelabuhanan, hubungan antara pelabuhan Kochi dengan Tanjung Perak Surabaya, juga sudah berjalan lancar. Kegiatan ekspor-impor barang antarkota di dua negara ini terus meningkat. Tidak kurang peningkatan bongkar-muta barang 1,3 juta TEUs (Twenty Equivalen Units) petikemas tiap tahun di Tanjung Perak, 30 persennya dikirim ke Jepang melalui pelabuhan Kochi.

Saat berkunjung ke Jepang, walikota Surabaya juga disuguhi berbagai kegiatan pembangunan di negara “matahari terbit” ini. Termasuk, masalah pengelolaan sampah kota. Baik waktu Cak Narto – sapaan Sunarto Sumoprawiro, maupun Bambang DH berkunjung ke sana, masalah sampah yang selalu menjadi topik berita berkepanjangan di mediamassa Surabaya, juga mendapat perhatian. Maka tidaklah mengherankan, kalau sepulangnya dari Kochi, Jepang, baik masa Cak Narto, maupun waktu Bambang DH, oleh-olehnya adalah cerita tentang “bersihnya” kota Kochi dan bagusnya pengelolaan sampah di sana.

Bambang DH menceritakan, ia diajak mengunjungi proyek TPA (Tempat pembuangan Akhir) sampah di Nagahama. Di TPA itu ada incenerator (instalasi pembakar sampah) di atas lahan seluas 2,9 hektar. Proyek ini dibangun sejak 19 Desember 1998 itu diresmikan 18 Maret 2002. Yang membuat Bambang DH takjub, katanya, hasil pembakaran sampah di Kota Kochi ini diolah menjadi kerikil untuk pembuatan paving stone. Sedangkan panas yang dihasilkan dari pembakaran itu menghasilkan uap untuk mandi air panas.

Kerjasama untuk membentuk kota kembar dengan Perth, Australia Barat belum ditindaklanjuti. Selama ini yang sudah berlangsung adalah kerjasama Provinsi Jawa Timur dengan Negara Bagian Australia Barat yang beribukota Perth. Sama juga dengan di Jepang, Provinsi Jawa Timur juga punya “provinsi kembar” yaitu Provinsi Osaka.

Hubungan antarkota untuk menjalin kerjasama, juga sudah pernah dilakukan dengan Pemkot Guangzhou, Cina dan Kota Rotterdam di Negeri Belanda. Namun hingga tahun 2004, belum dapat diwujudkan.

Dengan Kota Rotterdam, penjajakan kerjasama itu dilakukan oleh delegasi pendidikan Inholland University yang dipimpin Paul Minne, bulan Maret 2003 lalu. Tahap awal direncanakan kerjasama bidang pendidikan dan nantinya berlanjut kepada manajemen kota, khususnya menyangkut penanggulangan dan pengendalian banjir, ujar Ir.H.Alisjahbana,MA (saat itu sebagai Sekretaris Kota Surabaya) yang mewakili walikota saat menerima delegasi dari Negeri Belanda itu.

Kochi di Jepang

Kochi adalah nama sebuah kota di Jepang. Sejak 17 April 1997, Walikota Surabaya (waktu itu) H.Sunarto Sumoprawiro mengikat kerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Kochi. Ikatan kerjasama antarduakota ini diabadikan menjadi “kota bersaudara” atau “kota kembar”. Ibaratnya, persaudaraan sesama perempuan. Sehingga, disebutlah dengan istilah “sister city”.

Kota Kochi ini boleh dikatakan sebagai “saudara perempuan” Surabaya di luarnegeri. Sebelumnya, Surabaya juga sudah punya saudara kembar lain di mancanegara, yaitu Kota Seattle di Amerika Serikat sejak 1992 dan Kota Busan di Korea Selatan sejak 1994. Dari ke tiga kota kembar Surabaya itu, aktivitas kerjasama terbanyak adalah dengan Kota Kochi.

Apa istimewanya Kota Kochi, sehingga dengan kota di negara Sakura ini Surabaya kelihatannya begitu akrab? Ternyata, dibandingkan Seattle yang terletak di negara bagian Washington DC, faktor kedekatan lokasi yang lebih menarik. Sedangkan jika dibandingkan dengan Busan di Korea Selatan, ternyata penyesuaian budaya lebih mudah – mungkin akibat Indonesia pernah “dijajah” Jepang sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya 17 Agustus 1945.

Kecuali itu, jenis kerjasama dengan Kota Kochi cukup beragam. Berbeda dengan Seattle dan Busan. Dengan Seattle, yang lebih dominan adalah kerjasama bidang pendidikan, di antaranya pertukaran pelajar antardua negara. Kemudian berlanjut masalah pengelolaan air bersih. Juga demikian halnya dengan Kota Busan di Korea Selatan, selain kerjasama pendidikan, dikembangkan ke bidang tenagakerja.

Lain halnya dengan Kota Kochi, kerjasama yang diawali dengan bidang pendidikan, seni dan kebudayaan, terus bertambah ke bidang industri dan perdagangan. Kerjasama dengan Kota Kochi yang dimulai tahun 1997, selain empat bidang itu kini sudah menjadi sembilan bidang, yakni ditambah bidang manajemen kota, manajemen pelabuhan, pengembangan dunia usaha, lingkungan hidup dan kepariwisataan.

Sebagai perwujudan kerjasama, sudah banyak staf Pemkot Surabaya yang dikirim untuk menimba pengetahuan dan mendapatkan pengalaman di Kochi. Sebaliknya, beberapa karyawan dan staf Pemkot Kochi juga ada yang memperoleh pengetahuan administarsi pemerintahan di Kota Surabaya.

Nah, agar keakraban itu semakin terasa, ada baiknya profil kota-kota kembar Surabaya itu kita sajikan. Kochi adalah kota pelabuhan yang menghadap ke Samudera Pasifik. Kota yang dilatarbelakangi pegunungan Shikoku itu sudah berusia 400 tahun lebih. Kochi dikenal sebagai kota berbasis politik, ekonomi dan budaya. Sekarang berkembang lagi menjadi kota pusat HAM (Hak Azasi Manusia). Dan yang paling istimewa dalam dunia perpolitikan, Kochi adalah kota pertama yang memberi hak suara kepada wanita di seluruh Jepang.

Mungkin kelahiran Kota Kochi “mirip” dengan asal-usul Kota Surabaya. Kalau Surabaya yang dinyatakan berusia 700 tahun lebih, awalnya berasal dari tanah oloran (lumpur yang menjadi daratan) di muara sungai Kali Brantas. Lama kelamaan daratan itu terus bertambah dan tinggi, sehingga kini menjadi sebuah kota yang luasnya 326,37 kilometer per-segi. Kochi, seribu tahun lalu dinyatakan sebagai wilayah yang masih berada di bawah permukaan laut. Namun 400 tahun tahun yang lalu, sungai Kagamigawa yang mengalir ke teluk Urado membuat delta di muaranya. Tanah delta itu semakin hari semakin bertambah, sehingga akhirnya menimbulkan daratan di atas permukaan laut.

Daratan di muara sungai itu, kemudian dijadikan benteng oleh raja Chosokabe Motochika yang menguasai wilayah itu. Kochi kemudian terbentuk menjadi kota di sekitar benteng. Pada tahun 1889 dilakukan penataan administrasi kota. Waktu itu, jumlah penduduk di sekitar benteng Kochi baru sekitar 20 ribu jiwa.

Sejalan dengan berlalunya waktu, kota Kochi terus berkembang dengan menggabungkan desa dan kota kecil di sekitarnya. Sekarang jumlah penduduknya mencapai 400 ribu jiwa.

Kota Kochi mempunyai peran penting dalam sejarah Jepang pada zaman Perang Dunia II. Akibatnya, pada bulan Juli 1945 pusat kotanya terbakar oleh ledakan bom tentara Sekutu. Belum sempat kota ini berbenah diri, tahun 1946 terjadi gempa bumi Nankai yang menghancurkan kota ini. Setelah dilakukan pembangunan dan rehabilitasi, bencana masih mengancam. Tahu 1970, 1975 dan 1976 Kota Kochi berantakan dilanda taufan yang datang dari Samudera Pasifik. Menyusul pada bulan September 1998 lalu, hujan lebat yang berkepanjangan mengakibatkan kota Kochi terendam banjir.

Dalam suasana yang demikian, Pemkot Kochi tiada henti melakukan pembenahan permukiman dan pemulihan kegiatan usaha warganya. Salah satu di antara upaya yang dilakukan adalah melakukan promosi hubungan komunitas, tindakan dan kebijakan bagi kesejahteraan, serta melindungi warga kota dari ancaman bencana alam.

Walikota Kochi, Matsuo Tetsuto pada bulan November 1994 mencanangkan kebijakan ekonomi yang difokuskan kepada pengembangan kota. Ia melakukan promosi dengan melengkapi sarana dan prasarana untuk meningkatkan mutu kehidupan warga kota. Disusul pada April 1995, dikeluarkan peraturan daerah (Perda) tentang promosi industri daerah yang diarahkan untuk mendukung perusahaan lokal. Di samping itu, ia mengundang perusahaan luar kota untuk berinvestasi dan melakukan kunjungan wisata.

Sama dengan Surabaya yang sudah memasyarakatkan kebersihan kota dengan bukti memperoleh predikat “kota raya terbersih” di Indonesia, Kota Kochi juga melakukan kegiatan penanggulangan kebersihan kota segiat-giatnya. Tahun 1996, bahkan dikeluarkan Perda tentang kebersihan. Di antara pasal pada Perda itu, menegaskan agar warga kota menjaga kebersihan serta menciptakan desain kota yang menarik dan nyaman.

Kebijakan itu dikembangkan lagi dengan penantuan distrik teladan sesuai dengan Perda mengenai kebersihan. Tidak hanya itu, untuk jangka panjang, Kota Kochi sudah mempersiapkan diri melaksanakan kebijakan pencegahan terhadap bencana alam.

Adanya berbagai persamaan letak kota Surabaya dan Kochi yang sama-sama dialiri sungai dan terletak di muara sungai, serta berada di pantai dengan laut yang terhampar di depannya, tidak ada salahnya kalau Surabaya “berguru” ke Kochi.

Laut yang luas dan matahari yang besinar, merupakan kekayaan alam warisan nenek moyang yang sama-sama dinikmati warga Kota Kochi dan Surabaya. Maka layak pula ditiru pembudayaan yang dilakukan warga kota Kochi 1 April 1969, berupa “Piagam Warga Kochi”. Piagam itu berbunyi: “Mari kita jaga kebersihan sungai Kagamigawa sebagai lambang kota bersih. Mari kita ciptakan kota yang berkebudayaan tinggi dan bijaksana, agar dapat menjalin kerjasama dengan kota di seluruh dunia. Mari kita saling membantu dan memberi perhatian agar menjadi masyarakat yang manusiawi. Mari kita bekerja dengan kesehatan yang baik agar Kochi menjadi kota yang berjiwa makmur. Mari kita menaati peraturan lalulintas agar menjadi kota yang aman tanpa kecelakaan.”

Kota Kochi, selain membina kerjasama sebagai “kota kembar” dengan Surabaya, sebelumnya kota ini sudah mempunyai tiga kota kembar lain. Kota-kota itu adalah: Kota Fresno di California, Amerika Serikat, Kota Wuhu (baca: Buko) di Cina dan Kota Kitami di Hokkaido, Jepang.

Penandatangan “sister city” dengan Kota Fresno dilaksanakan 11 Februari 1965. Dengan Kota Wuhu di Cina, 19 April 1985 dan dengan Kota Kitami, Hikkaido pada 28 April 1986, serta dengan Kota Surabaya, 17 April 1997.

Bertambah

Kota Kembar Surabaya di mancanegara bertambah. Selain tiga kota yang sudah resmi mengikat kesepahaman berupa MoU (Memorandum of Understanding), delapan lagi sudah diikat dengan LoI (Letter of Intent) dan joint declaration. Ke delapan kota itu diresmikan menjadi kota kembar yang diikat dengan MoU. Peresmian ini berlangsung pada acara Sister City Forum (Forum Kota Kembar) di Surabaya, tanggal 29 hingga 31 Agustus 2005.

Tiga kota pertama yang resmi menjadi kota kembar Surabaya, adalah: Kota Seattle di Amerika Serikat, Kota Busan di Korea dan Kota Kochi di Jepang. Delapan kota lagi menyusul yang diikat dengan MoU, masing-masing: Kota Kitakyushu (Jepang), Kota Izmir (Turki), Kota Guangzhou, Kota Xiamen, Kota Kunming (Cina), Kota Cebu (Filipina), Kota Rotterdam (Belanda) dan Kota Monterry (Meksiko).

Seattle

Kota Seattle yang merupakan saudara kembar kota Surabaya pertama di luar negeri terletak di negara bagian Washington, Amerika Serikat. Sejak diadakan MoU tanggal 27 September 1992 oleh Walikota Surabaya (waktu itu) dr.H.Poernomo Kasidi, berbagai program kerjasama sudah berjalan dengan baik.

Secara berkesinambungan salingkunjung antar dua kota sudah berlangsung sesuai dengan kesepakatan kerjasama. Tanggal 12 hingga 16 September 1995, kembali delegasi Kota Surabaya berkunjung ke Seattle. Selain Walikota Surabaya (waktu itu) H.Sunarto Sumoprawiro, dalam rombongan juga ikut Gubernur Jawa Timur (waktu itu) HM Basofi Soedirman.

Ada yang menarik dalam kunjungan ini, rombongan dari Surabaya “membawa” beberapa jenis binatang dari KBS (Kebun Binatang Surabaya). Di sini terjadi tukar menukar satwa dengan kebun binatang setempat. Rombongan dari Surabaya ini juga diajak melihat dari dekat ke Evergreen School, suatu sekolah yang mengutamakan murid-murid yang mempunyai kemampuan lebih di banding murid di sekolah biasa.

Kunjungan inipun kemudian dibalas oleh rombongan dari Evergreen ke Surabaya, 19 hingga 23 April 1996. Di Kota Surabaya ini, sasaran utama kunjungan mereka melihat dari dekat Asrama “Anak Asuh Bibit Unggul” di Jalan Villa Kalijudan Indah XV Kav.2-4 Surabaya. Asrama ini menampung anak-anak pintar yang berasal dari keluarga kurang mampu yang didirikan Cak Narto – panggilan akrab Sunarto Sumoprawiro. Kemudian mengunjungi KBS, museum Mpu Tantular, museum Tugu Pahlawan, menyaksikan kesenian daerah dan nasional, nonton film, berolahraga dan diskusi antarpelajar.

Pada tanggal 1 Desember 1996 hingga 10 Januari 1997, delegasi dari Seattle datang lagi ke Surabaya. Delegasi Seattle Water Department (SWD) ini khusus mengadakan kunjungan dan mengikat kerjasama dengan PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Surabaya. Delegasi yang dipimpin ahli air bersih Bruce itu didampingi staf lainnya Melinda Jones, Silvia Cavador dan Diana Gale.

Kerjasama antara PDAM Surabaya dengan SWD Seattle, ditekan pada peningkatan sistem manajemen. Selain itu juga memberikan saran dan masukan kepada jajaran PDAM Surabaya tentang BOT (Built Operate and Transfer) berkaitan dengan proyek penjernihan air Karangpilang III dan Umbulan.

Salingkunjung berlanjut lagi dengan kedatangan tim study tour dari University of Washington tanggal 25 Maret 1997 sebanyak 15 mahasiswa yang sedang mengikuti kuliah MBA dan hukum, serta dua orang profesor. Di Surabaya, mereka diterima oleh beberapa perguruantinggi.

Kunjungan resmi delegasi Kota Seattle berikutnya tanggal 8 sampai 10 Juni 2000 berkaitan dengan program kerjasama beasiswa untuk belajar Bahasa Inggris. Kerjasama ini dilaksanakan oleh ACE (American Cultural Exchange).

Setahun kemudian, tanggal 6 hingga 8 Mei 2001, Surabaya mengirim delegasi ke Kota Seattle untuk mengikuti acara Asia Pasific Cities Summit.

Busan

Dengan Kota Busan di Korea, MoU-nya ditandatangani oleh H.Sunarto Sumoprawiro tanggal 10 November 1994. Ada enam kesepahaman yang disepakati, yakni: pengembangan pelabuhan, perdagangan dan pengembangan ekonomi, pendidikan, kebudayaan, pemuda dan olahraga, lingkungan hidup dan pengelolaan kota, transportasi dan pariwisata, serta peningkatan sumberdaya.

Buah dari kerjasama kota kembar Surabaya dengan Busan ini, diwujudkan dengan peningkatan kegiatan investasi dari negeri “ginseng” ini di Surabaya. Tanggal 4-6 Oktober 1995, diberangkatkan rombongan siswa SMA Negeri 5 Surabaya yang berkunjung ke Dong Seo High School di Busan. Sekaligus para siswa ini mengikuti Pusan Po Festival dan konferensi Pusan Sister City.

Utusan DPRD Kota Busan tanggal 6 Juni 1996 menjadi tamu kehormatan di Surabaya. Saat ini sekaligus ditindaklanjuti pelaksanaan kerjasama sister city Surabaya-Busan. Kunjungan balasan juga datang dari siswa Dongseo University Busan. Kerjsama bidang pendidikan ini diwujudkan pula dengan perjanjian kerjasama antara Universitas Kristen Petra dengan Dongseo University tanggal 26 Juli 1996.

Pada tanggal 11 sampai 14 Oktober 2004, Pemerintah Kota Surabaya mengikuti Sister City Forum di Busan yang sekaligus membahas program kerja tahun 2005. Sebaliknya, Juli 2005 Pemkot Surabaya yang mengundang Pemkot Busan mengikuti Sister City Forum di Surabaya dan Oktober 2005 dilanjutkan pula pertemuan pembahasan perogram kerjasama tahun 2006.

Yosakoi

Tari tradisional Yosakoi dari Jepang, ternyata bisa dengan cepat dipahami warga kota Surabaya. Sehingga disepakati adanya festival tari Yosakoi (Jepang) yang dikombinasikan dengan tari Labas Samya (tari tradisional kreasi Surabaya) tiap tahun sejak tahun 2003. Tarian inipun digelar pada acara Sister City Forum 2005.Ini merupakan salah satu buah kerjasama kota kembar Surabaya dengan Kota Kochi di Jepang yang MoU-nya ditandatangani Cak Narto, 17 April 1997 dan diperpanjang Walikota Surabaya (waktu itu), Bambang DH tanggal 31 Agustus 2002 saat berkunjung ke kota itu.

Kerjasama Kota Surabaya juga sudah berlangsung dengan Pemkot Kitakyushu di Jepang. Namun kerjasama itu belum berbentuk MoU sister city, tetapi masih dalam bentuk joint declaration atau deklarasi kerjasama tanggal 15 Desember 1997. Waktu itu ada kesepakatan untuk bekerjasama di bidang pengelolaan lingkungan hidup, kebersihan dan manajemen persampahan. Kemudian berlanjut dengan pertukaran ekonomi, budaya dan bidang lainnya.

Letter of Intent (LoI) yang sudah dilaksanakan antara Pemkot Surabaya dengan Kota Izmir di Turki tanggal 1 September 1995, juga diwujudkan dengan penandatanganan MoU sister city, dalam acara Sister City Forum 2005 di Surabaya. Untuk kota Izmir ini berbagai potensi kerjasama yang dibangun, di antaranya: masalah ekonomi, perdagangan, industri, pariwisata, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tiga Kota

Tiga kota di Cina sekalgus diundang pada acara Sister City Forum 2005 di Surabaya. Ke tiga kota mempunyai kekhasan tersendiri dalam bentuk hubungan kerjasama antarkota yang sudah ditandatangani antar walikota. Dari Surabaya, Walikota Bambang DH berturut-turut membuat LoI dengan ke tiga Pemkot di negera “tirai bambu” ini.

Kota Guangzhou di provinsi Guangdong, Cina sebelum penandatanganan MoU sister city, sudah dilakukan LoI tanggal 2 September 2003. Kesepakatan yang dibuat adalah kerjasama antarkota di bidang manajemen pemerintahan, promosia usaha, perdagangan dan pariwisata, seni, budaya dan pendidikan, pemuda dan olah raga. Sebagai wujud kerjasama, pada bulan September 2004, staf Dinas Tata Kota Pemkot Surabaya ikut dalam pelatihan komputer program Computer Aided Design.

Kota Xiemen di provinsi Fujian, Cina juga telah dilakukan penandatangan LoI tanggal 8 September 2003. Program kerjasamanya sama dengan Guangzhou, ditambah bidang kesehatan.

Sedangkan hubungan kerjasama dengan Kota Kunming di Cina, diawali dengan bentuk joint declaration tanggal 3 Desember 2003. Ada tiga hal pokok yang disepakati, yakni: kepariwisataan, pertukaran budaya, ekonomi dan perdagangan.

Selain dengan Dongseo University sudah terjalin kerjasama dengan Universitas Kristen Petra Surabaya, perguruan tinggi di Korea ini dalam agreement on the contracted education service dengan Pemkot Surabaya tanggal 30 Oktober 2003. Universitas ini memberikan beasiswa bagi staf Pemkot Surabaya untuk melanjutkan studi S-2 bidang teknik sipil dan informatika.

Delegasi pendidikan dari Cina, tanggal 12 April 2005 juga menawarkan kerjasama pendidikan. Empat akademisi yang membawa misi itu, adalah: Prof.Cai Jincheng yang juga punya nama Indonesia, Gunawan. Ia adalah guru besar University of Foreign Studies. Kemudian Prof.Cao Yunhua, direktur Institute of South East Asian Studies Jinan University, bersama dua staf dosennya, Dr.Zhang Zhenjiang dan Tang Sushin.

Dihadapan pengurus PPIC (Perhimpunan Persahabatan Indonesia-China), delegasi pendidikan dari Cina ini menawarkan kerjasama pertukaran dosen dan mahasiswa.

Dalam acara Sister City Forum 2005 ini, delegasi dari mancanegara itu selain mendengarkan presentasi dari masing-masing kota, juga diajak keliling kota Surabaya dalam paket city tour. Kawasan industri Rungkut merupakan sasaran utama, dengan mengunjungi perusahaan perhiasan emas Itamaraya, Eka Silver, pabrik rokok Sampoerna dan beberapa perusahaan lainnya.

Guangzhou

Tanggal 20 sampai 23 Desember 2005, Walikota Surabaya Drs.Bambang DH didampingi Sekkota Surabaya, H.Sukamto Hadi,SH bersama dua anggota DPRD Kota Surabaya, Ir.Armudji dan Agus Sudarsono berkunjung ke Guangzhou, Cina. Saat berada di negeri “tirai bambo” itu, dilangsungkan penandatangan akta kesepahaman atau MoU (Memorandum of Understanding) pembentukan kota kembar (sister city) Surabaya-Guangzhou.

Penandatangan MoU itu sebagai tindak lanjut LoI (Letter of Intent) yang ditandatangani kedua belah pihak 2 September 2003. Setelah penandatangan kesepakatan kerjasama antara Pemkot Surabaya dengan Pemerintahan Kota Guangzhou, dilanjutkan pula penandatangan kerjasama antara DPRD Kota Surabaya dengan Kongres Kota Guangzhou.

Manfaat yang dapat dipetik dari kunjungan petinggi Surabaya ke Guangzhou itu cukup menjanjikan. Di kota berpenduduk 6,6 juta jiwa itu, Surabaya mendapat tawaran memanfaatkan fasilitas promosi tentang potensi kota. Sebab, di Guangzhou terdapat pusat pameran perdagangan terbesar di Cina, yakni Guangzhou International Exhibition of Conference Center. Tempat ini merupakan kawasan pameran terbesar kedua di dunia setelah Hanover, Kanada.

Pusat pameran perdagangan dan konvensi di Guangzhou itu dibangun tahun 1957. Di atas lahan seluas 18 ribu meter per-segi itu pada pameran tahun 2005 lalu, dapat menampung 190 ribu stand pameran. Para peserta pameran dan perdagangan, serta konvensi itu diikuti ratusan ribu perusahaan dari puluhan Negara di dunia.

Selain kerjasama perdagangan, Surabaya dengan Guangzhou juga meningkatkan hubungan kerjasama di bidang pendidikan. Untuk itulah, maka rombongan Bambang DH juga meninjau Guangzhou Education Mega Center, sebuah kawasan yang menampung 10 perguruan tinggi besar di Guangzhou. Pada lahan seluas 3.800 hektar itu berdiri puluhan bangunan sebagai fasilitas pendidikan terpadu.

Salah satu perguruan tinggi di komplek ini adalah Universitas Guangzhou. Kampus dengan tenaga pengajar 185 profesor, 200 doktor dan 600 dosen bergelar master itu berada dalam kawasan seluas 131,7 hektar. Program studi yang diajarkan di sini cukup banyak, antara lain: geografi, arsitektur dan perencanaan kota, teknik lingkungan, teknik sipil, matematika, informatika, pariwisata, seni dan desain, jurnalistik dan komunikasi, administrasi publik, biologi, kimia, hukum dan seni kontemporer.

*) Yousri Nur Raja Agam MH adalah Ketua Yayasan Peduli Surabaya.

Surabaya Kota Pendidikan

Yousri Nur RA MH

Yousri Nur RA MH

Surabaya Juga Berjuluk

Kota Pendidikan

Oleh: Yousri Nur Raja agam M.H. *)

SURABAYA yang berjuluk Kota Pendidikan, sebagai penjabaran dari Indamardi (Industri, Perdagangan, Maritim dan Pendidikan) atau Budi Pamarinda (Budaya, Pendidikan, Pariwisata, Maritim, Industri dan Perdagangan), memang layak. Tidak dapat dipungkiri, bahwa sejak kelahiran Surabaya, telah berkembang berbagai macam pendidikan di kota ini.

Sejarah pendidikan di Surabaya, cukup panjang. Usianya juga hampir sama dengan usia Kota Surabaya. Pengertian pendidikan cukup luas dan pendidikan itu juga sudah ada sejak zaman prasejarah. Di mana kedua orangtua, ayah dan ibu serta lingkungan keluarga berperan sebagai guru. Pendidikan berkembang di sekitar keraton dengan munculnya empu sebagai guru.

Nah, di Surabaya sebagai tempat bermukim berbagai suku, etnis dan agama, bentuk pendidikan juga mengandung corak yang beragam. Berawal dari sistem pendidikan zaman Hindu dan Budha, lalu berkembang ke pendidikan cara Islam dan model pendidikan zaman Belanda sampai alam merdeka sekarang ini. Dari urut-urutan sejarah pendidikan itu, Surabaya sudah memerankannya sejak awal. Khususnya saat awal kelahiran Surabaya, berkembang pendidikan Islam yang digurui oleh Raden Rahmat atau Sunan Ampel.

Pendidikan model pesantren yang dikembangkan Sunan Ampel telah membuat Surabaya sebagai pusat pendidikan di Tanah Jawa. Dari Surabaya segala macam ajaran dikembangkan melalui delapan sunan lainnya yang tergabung dalam Wali Songo. Sebagai sunan tertua, Sunan Ampel menjadi mahaguru di kalangan sunan dan para pengikut ajaran Islam waktu itu. Keberhasilan Sunan Ampel membina pendidikan umat, mempunyai daya tarik pula bagi daerah lain untuk menimba ilmu dari Surabaya. Inilah awal, Surabaya melandasi keberadaannya sebagai kota pendidikan

Surabaya bak menara gading tempat membina para cendekiawan dan kaum intelektual. Jumlah penduduk Surabaya terus bertambah, selain menimba pendidikan, juga meningkatkan kehidupan melalui dunia industri, perdagangan dan maritim.

Zaman berubah dan musimpun berganti. Kemudian Indonesia memasuki era penjajahan Kolonial Belanda. Di sini, di samping berkembangnya kegiatan ekonomi, kegiatan meningkatkan diri dalam dunia pendidikan juga bermunculan. Kalau masyarakat pribumi sudah dilandasi ilmu pengetahuan yang berkiblat ke Islam, maka tahun 1820, Belanda mendirikan ELS (Europeesche Lagere School) di Surabaya.

ELS adalah sekolah tingkat rendah yang lama pendidikannya 7 tahun. Tidak hanya anak-anak Balanda yang sekolah di ELS, tetapi juga banyak kaum pribumi dari golongan ningrat dan priyayi. Sekolah lanjutan tingkat menengah baru ada setengah abad kemudian, yakni berdirinya HBS (Hogere Burger School) di Surabaya tahun 1875 dengan lama pendidikan 5 tahun. Pada tahun 1893, sekolah untuk penduduk pribumi dipecah menjadi dua jenis. Yang pertama disebut Sekolah Dasar Kelas Satu (De Scholen der eeste Klasse) untuk putera-putera bangsawan tinggi dan Sekolah Dasar Kelas Dua (De Scholen der tweede Klasse) untuk anak-anak bumiptera biasa.

Berkembangnya kegiatan indsutri dan perkebunan di wilayah Jawa Timur, menurut buku Sejarah Pendidikan Daerah Jawa Timur yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) Jawa Timur 1986, maka berdirilah berbagai jenis pendidikan di Surabaya. Sekolah tukang yang berdiri di Surabaya ini menghasilkan tenaga tukang dan buruh yang mampu mengoperasikan mesin-mesin pabrik. Selain di Surabaya, pada tahun 1878 Pemerintah Belanda mendirikan Sekolah Raja (Hoofen School) di Probolinggo yang dikhususkan untuk anak-anak bumiputera keturunan bangsawa untuk dijadikan pegawai administrasi pendidikan. Sekolah ini berkembang menjadi OSVIA (Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren) tahun 1900 dan kemudian berubah menjadi MOSVIA (Middelbare Opleidings School voor Inlandsche Ambtenaren).

Saat Pemerintahan Kota Surabaya mulai terbentuk, dunia pendidikan menengah sudah mulai berkembang. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan, pada tahun 1913 didirikan Sekolah Dokter Hindia atau NIAS (Nederlands Indische Artsen School) di Surabaya. Inilah cikal bakal Universitas Airlangga (Unair) sekarang ini.

Selain ada sekolah rendah ELS, juga ada HIS (Hollandsch Inlandsche School) dan sekolah menengah umum setingkat SMP, seperti MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan setingkat SMU, yakni: HBS (Hoogere Burgere School). Sekolah persiapan untuk memasuki pendidikan tinggi, di antaranya: AMS (Algemene Middelbare School) dan VHO (Voorbereidend Hoger Onderwijs). Sedangkan untuk sekolah kejuruan, cukup banyak, seperti: MHS (Middelbare Handels School) atau sekolah dagang menengah dan STOVIT (School tot Opleiding van Indische Tandartsen) atau Sekolah Kedokteran Gigi. Ada lagi pendidikan teknik bernama Koningen Emma School (KES) dan MTS (Middelbare Technische School).

Untuk mengimbangi perkembangan penduduk dan tumbuhnya berbagai jenis sekolah, terutama yang didirikan kaum pribumi yang beragama Islam, Pemerintah Kolonial Belanda mulai mendirikan sekolah-sekolah Kristen. Ada yang dilakukan pihak Zending untuk Kristen Protestan dan pihak Missie untuk Roma-Katholik.

Di Surabaya lebih banyak sekolah didirikan oleh Missie yang mendirikan sekolah-sekolah dasar. Seperti: SD St.Aloysius tahun 1862, SD St.Angela tahun 1863, SD Stela Ursula tahun 1864. Awalnya yang diterima di sekolah ini adalah anak-anak orang kaya, tetapi lambat laun juga menerima anak-anak orang biasa.

Melihat perkembangan pendidikan di Surabaya pada awal abad 20 itu, gaya pendidikan di Indonesia sudah mengenal gaya Barat. Namun perkembangan untuk pendidikan yang dikelola pribumi atau bumiputera, tetap masih pada pendidikan rendah yang menggunakan bahasa daerah atau Indonesia. Sementara pendidikan menengah dan tinggi menggunakan bahasa pengantan bahasa Belanda.

Sebagai reaksi terhadap sistem pendidikan semacam itu, maka lahirlah pendidikan nasional di kalangan pribumi. Misalnya tahun 1925 lahir lembaga pendidikan Taman Siswa Cabang Surabaya. Begitu pula organisasi-organisasi pergerakan Islam, seperti NU (Nahdlatul Ulama) dan Muhammadiyah juga meningkatkan pendidikan umum, selain tetap mengembangkan pendidikan model pesantren.

Namun sistem pendidikan yang membedakan pengajaran model Barat dan pribumi itu berakhir setelah Jepang berkuasa di Indonesia. Pada waktu itu, hanya ada satu jenis sekolah untuk semua lapisan masyarakat, yakni SR (Sekolah Rakyat) 6 tahun (Kakumin Gakko), SMP (Sekolah Menengah Pertama) 3 tahun (Shoto Chu Gakko) dan SMT (Sekolah Menengah Tinggi) 3 tahun (Koto Chu Gakko). Sedangkan sekolah guru ada tiga macam, yakni: Sekolah Guru 2 tahun, Sekolah Guru 4 tahun dan Sekolah Guru 6 tahun.

Pada zaman Jepang ini pendidikan NIAS di Surabaya dihapus dan digabungkan ke Ika Daigaku (semacam Perguruan Tinggi Kedokteran) di Jakarta. Sedangkan STOVIT berlangsung terus dengan nama Shika Gaku. Tujuan pendidikan di zaman ini adalah menghasilkan manusia yang dapat membantu bangsa Jepang dan Asia Timur Raya. Itulah sebabnya ideologi Hakko Ichiu (kemakmuran bersama) dan Hoko Seishin (semangat kebaktian) merupakan isi pengajaran utama dan pendidikan. Kendati demikian, upaya Pemerintah Jepang menanamkan semangat kebaktian rakyat melalui jalur pendidikan gagal, karena proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945.

Setelah kemerdekaan RI, di Surabaya kegiatan pendidikan terus berkembang dan maju. Berbagai lembaga pendidikan peninggalan Belanda dan Jepang segera menyesuaikan dengan ketentuan yang ditetapkan Pemerintah RI.

Presiden Pertama

Kota Surabaya, pernah menghasilkan anak didik yang kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama. Dialah Soekarno atau biasa disapa Bung Karno.

Bung Karno bersekolah di HBS (Hoogere Burger School) yang sama dengan SMU atau SMA ini mulai tahun 1916 dan lulus tahun 1921, tepatnya 10 Juni 1921. Awalnya HBS memang hanya dikhususkan untuk anak-anak Belanda yang ada di sini. Mata pelajaran dan ijazahnya sama dengan HBS yang ada di Negeri Belanda. Namun kemudian, anak-anak pribumi pilihan dan keturunan bangsawan atau ningrat dapat masuk di HBS ini.

HBS di Surabaya yang berdiri tahun 1875, tergolong sebagai sekolah menengah tertua di daerah jajahan Belanda setelah Koning Willem III (KW III) di Jakarta yang waktu itu masih bernama Batavia. HBS. Berdirinya sekolah yang setaraf dengan di Negeri Belanda itu tidak lepas dari politik pintu terbuka (open deur politiek) pihak Belanda waktu itu.

Dalam buku Oud Soerabaia yang ditulis Von Faber, semula HBS itu menempati gedung Instituut Buys yang terletak di ujung Jalan Baliwerti dan Alun-alun Contong. Gedung ini kemudian dimiliki oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Pada tahun 1881, HBS dipindah ke gedung bekas rumah kediaman bupati Surabaya, yang sekarang digunakan sebagai Kantor Pos Besar di Jalan Kebunrojo Surabaya.

Tahun 1923, HBS dipindah ke Jalan Wijayakusuma yang di zaman Belanda bernama HBS Straat. Selain Bung Karno, di HBS ini juga menuntut ilmu tokoh Surabaya, Prof.Dr.H.Roeslan Abdulgani.

Saat Bung Karno sekolah di HBS, dia tinggal di rumah tokoh Sarekat Islam, Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Di rumah di Jalan Peneleh VII/29 Surabaya itu, bukan hanya sebagai tempat kos pemuda Soekarno. Di rumah itu pula ia digembleng oleh HOS Tjokroaminoto sebagai calon orator dan politikus ulung.

Tidak hanya itu, Bung Karno juga menjadikan puteri HOS Tjokroaminoto, bernama Utari, sebagai isterinya yang pertama. Kemudian, Bung Karno melanjutkan sekolahnya ke Bandung. Ia masuk ITB, serta di kota ini pula Bung Karno meneruskan aktivitasnya di bidang politik. ***

*) Yousri Nur Raja Agam M.H. adalah Ketua Yayasan Peduli Surabaya.