Tumenggung Raden Mas Ngabehi Sawunggaling

 Sawunggaling

Tokoh Legendaris

Surabaya Tempo Dulu    

Yousri Nur RA  MH

Yousri Nur RA MH

 

 

Oleh: Yousri Nur Raja Agam  MH

KEHEBATAN Adipati Jayeng Rono dalam kisah masa lalu Surabaya, juga sering dikaitkan dengan “tokoh legendaris” Surabaya lainnya, di antaranya: Sawunggaling. Berbagai versi tentang keberadaan dan ketokohan Sawunggaling ini.

Dari cerita tutur mulut ke mulut dan turun terumurun yang kemudian menjadi dongeng, serta disajikan dalam “Babad Surabaya”. Ada tiga versi tentang Sawunggaling yang diperoleh penulis. Versi masyarakat Wiyung dan versi warga Lidah Kulon, serta versi semi sejarah.

Versi Wiyung

Masyarakat daerah Wiyung sangat meyakini, bahwa Sawunggaling adalah putera asli daerah itu. Dikisahkan, nama Sawunggaling itu berasal dari dua kata, “Sawang” dan “Galing”. Sawang artinya lihat dan Galing berasal dari kata “aling” atau terhalang. Jadi artinya: penglihatan yang terhalang.

Ceritanya begini: Adipati Jayeng Rono hidup bahagia dengan anak isterinya di kepatihan. Sebagai kepala pemerintahan ia sering melakukan perjalanan kelililing. Sama dengan pejabat zaman sekarang, di hari-hari tertentu dimanfaatkan untuk santai dan menyalurkan hobi. Zaman dulu belum ada golf maupun tenis.

Nah, hobi dan kegemaran Adipati Jayeng Rono adalah pergi berburu ke hutan. Dengan kendaraan istimewa, kuda. Salah satu hutan, tempat sang adipati berburu adalah rawa-rawa dan hutan Wiyung di sebelah barat Surabaya. Sekarang Wiyung sudah menjadi salah satu kecamatan di Kota Surabaya.

 

Ternyata saat pergi berburu dengan menunggang kuda itu, setiap akan memasuki hutan mata sang adipati selalu “singgah” di sebuah gubuk. Di dalam gubuk itu tinggal keluarga yang mempunyai seorang gadis cantik. Lama kelamaan perburuan sang adipati, tidak lagi tertuju kepada binatang-binatang dalam hutan. Tetapi, justru kemudian menancapkan panah asmaranya kepada si gadis cantik dari Wiyung itu.

Dalam kisah ini, nama sang gadis dianggap tidak penting. Yang jelas, gadis ini merupakan kembang desa dan primadona di kampung pinggir hutan itu.

Dari kunjungan tidak rutin itu terjadilah hubungan rahasia antara sang adipati dengan gadis Wiyung ini. Hanya para pengawal dan mungkin sebagian warga desa yang mengetahui permainan asmara ke dua insan ini. Si ayah dari putri desa inipun tidak menghalangi, anaknya dipacari orang kaya. Dan mungkin pada mulanya si ayahpun tidak tahu, kalau pria itu adalah Adipati Jayeng Rono.

“Perselingkuhan” sang pejabat ini memang sangat rahasia, sehingga sama sekali tidak bocor di keraton. Keintiman sang adipati dengan gadis Wiyung itu akhirnya  mendapat restu ayah si gadis. Jadilah gadis desa itu “isteri simpanan” sang adipati. Dari perkawinan itu lahir seorang anak laki-laki yang dikenal dengan nama Sawunggaling.

Demi menjaga keutuhan keluarga keraton, Adipati Jayeng Rono melarang Sawunggaling dan keluarganya ke wilayah keraton. Nasihat sang ayah ini benar-benar dipatuhi Sawunggaling, maupun ibunya. Sawunggaling tumbuh menjadi remaja dan dewasa. Salah satu kegemaran Sawunggaling adalah memelihara ayam jago dan sering mengikuti adu ayam di kampungnya.

Pemerintahan Adipati Jayeng Rono terus mengalami kemajuan. Suatu hari untuk menetapkan seorang Temenggung, adipati kesulitan. Adipati Jayeng Rono yang juga punya hobi sabung ayam menyelenggarakan pertandingan sabung ayam terbuka. Hadiahnya, kepada pemilik ayam jago yang menang dan dapat mengalahkan ayam jago sang adipati, akan dinobatkan sebagai Tumenggung.

Sawunggaling yang mendengar ada pertandingan sabung ayam itu, minta izin kepada ibunya untuk ikut pertandingan sabung ayam di alun-alun keraton Surabaya. Ternyata dalam pertarungan itu, ayam jago Sawunggaling berhasil mengalahkan ayam jago Jayeng Rono. Sesuai dengan janji sang adipati, maka kemudian dinobatkanlah Sawunggaling menjadi Tumenggung di keraton Surabaya.

Setelah dinobatkan menjadi Tumenggung, Sawunggaling bersama ibunya tinggal di ketemang-gungan, tidak jauh dari keraton adipati. Namun, bagai-mana kemudian peran temenggung dalam pemerintahan Adipati Jayeng Rono tidak jelas. Bahkan, bagaimana kehidupan dan kelanjutan kisah Sawunggaling, tidak jelas juga.

Begitulah kisah versi masyarakat Wiyung. Cerita versi ini juga berkembang di kampung Kranggan, Surabaya lama. Di sini disebutkan, Kranggan ini adalah kampung para Ronggo. Jadi Kranggan itu berasal kata Ke-Ranggaan, yang terucap menjadi Kranggan. Rangga artinya keluarga keraton.

Versi Lidah Wetan

Kisah Sawunggaling di desa Lidah Wetan, lain lagi. Keberadaan Sawunggaling dibuktikan dengan adanya komplek makam yang disebut Makam Keluarga Sawunggaling. Letaknya di desa (sekarang kelurahan)  Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya Barat.

Beberapa kali, saya ikut rombongan Walikota Surabaya H.Sunarto Sumoprawiro ke Lidah Wetan antara tahun 1996 hingga 2001. Kami melihat dari dekat komplek makam keluarga Sawunggaling. Atas prakarsa Cak Narto — panggilan akrab Sunarto — komplek makam itu dipugar. Saya bersama Cak Arifin Perdana dan Cak Eddy Sasmita saat itu memang sedang menyusun buku kedua tentang Cak Narto.

Makam keluarga Sawunggaling di Lidah Wetan itu hingga sekarang terawat dengan baik. Di komplek pemakaman itu terdapat lima makam, yakni:

Pertama: makam kakeknya bernama Wangsadrana alias  Raden Karyosentono.

Kedua: makam neneknya Mbah Buyut Suruh.

Ketiga: makam ibunya Raden Ayu Dewi Sangkrah.

Keempat: makam Raden Sawunggaling

Kelima: makam Raden Ayu Pandansari.

R.Karyo Sentono alias Wangsdrana

 

Lokasi tepatnya komplek makam  Sawunggaling adalah di belakang masjid Al-Qubro Jalan Lidah Wetan Gang III Surabaya. Nah, karena di gang III ini terletak komplek makam Sawunggaling, maka Jalan Lidah Wetan III disebut juga Jalan Lidah Wetan Sawunggaling.

 

Kisah tentang Pandansari ini beragam. Ada yang mengatakan ia adalah peri atau makhluk halus jadi-jadian yang selalu menyertai kemanapun Sawunggaling bepergian. Konon ia adalah lelembut, puteri kesayangan Raja Jin yang menguasai  hutan di wilayah Lidah, Wiyung dan sekitarnya.

Mbah Buyut Suruh

Ada pula yang menyatakan wanita cantik itu adalah isteri Sawunggaling. Namun masyarakat Lidah sebagian meyakini, Sawunggaling tidak pernah kawin dan membujang sampai wafat.

Sahibulhikayat, ketika seorang puteri keraton Jogjakarta bernama Raden Rara Blengoh datang ke Surabaya, ia tersesat ke desa Lidah. Di desa itu, ia ditampung oleh mbah Buyut Suruh yang tinggal bersama suaminya, Kepala Desa Lidah bernama Wangsadrana bergelar Raden Karyosentono. Rara Blengoh yang cantik itu diangkat sebagai anaknya sendiri.

Raden Ayu Dewi Sangkrah alias Rara Blengoh

Konon suatu hari, dalam perjalanan dinasnya, Adipati Jayeng Rono tertegun saat berada di Desa Lidah. Sang Adipati tidak menyangka di desa itu ada gadis cantik berdarah “biru”.  Setelah beberapa kali melakukan lawatan ke desa di pinggiran Surabaya itu, Adipati Jayeng Rono selalu menyempatkan singgah di rumah keluarga mbah Buyut Suruh dan Raden Karyosentono. Tujuannya tidak lain yaitu “mengapeli” anak angkat keluarga ini yang bernama Raden Rara Blengoh.

 

Gelora asmara benar-benar sudah tidak terbendung lagi. Tanpa banyak pertimbangan, pada suatu hari mengutus asisten khusus Adipati Jayeng Rono bernama Arya Suradireja untuk melamar Raden Rara Blengoh menjadi isterinya melalui Raden Karyosentono. Lamaran itu diterima oleh Raden Karyosentono setelah menyampaikan langsung kepada Rara Blengoh.

Setelah berunding ditetapkan waktu pernikahan. Acara perkawinan ini tidak besar-besar dan berlangsung agak “rahasia” tanpa sepengetahuan keluarga keraton itu. Setelah resmi menjadi isteri Adipati Jayeng Rono, Raden Rara Blengoh berganti nama dengan mendapat gelar menjadi Raden Ayu Dewi Sangkrah.

Nah, dari perkawinan itu, lahir seorang anak laki-laki yang diberi nama Jaka Berek yang kemudian mendapat nama atau gelar Raden Mas Sawunggaling.

Raden Mas Sawunggaling

Kepada Dewi Sangkrah, Adipapati Jayeng Rono berpesan agar menjaga dan mengasuh anaknya sampai dewasa. Demi menjaga kerukunan keluarga keraton, RA Dewi Sangkrah bersama keluarganya tetap tinggal di desa. Pesan lainnya, kalau nanti Sawunggaling sudah dewasa, beritahu bahwa ayahnya adalah Jayeng Rono dan menemuinya di keraton Surabaya. Sebagai tanda, Jayeng Rono meninggalkan sehelai selendang yang disebut “cinde” kepada Dewi Sangkrah. Dengan bukti selendang atau “cinde” itu nantinya Sawunggaling menemui ayahnya di keraton.

Raden Ayu Pandansari

Ketika Sawungggaling memasuki usia remaja, Dewi Sangkrah memberitahu anaknya, bahwa ia adalah anak Raden Adipati Jayeng Rono. Sesuai pesan ayahnya, apabila kelak sudah dewasa, agar menemui ayahnya di keraton Surabaya. Namun untuk menuju keraton tidak mudah, sebab waktu itu wilayah sekitar Lidah masih hutan belantara dan rawa-rawa. Ada ungkapan di kala itu: “jalmo moro, jalmo mati”, artinya: siapa yang berani masuk hutan, akan menemui ajal atau mati.

Dengan tekad yang bulat, Sawunggaling ditemani kakeknya Raden Karyosentono berangkat menuju keraton melintasi semak, rawa-rawa dan hutan belantara. Waktu itu, daerah Lidah, Wiyung, Lakarsantri dan Tandes masih merupakan rawa dan hutan lebat. Nah, saat memasuki hutan itu banyak gangguan. Di samping gangguan para punggawa, juga gangguan makhluk halus.

Bahkan, upaya untuk menggagalkan rencana Sawunggaling menemui ayah kandungnya di keraton Surabaya, juga dilakukan oleh dua adik tirinya, Sawungrono dan Sawungsari. Konon, saat Sawunggaling masih anak-anak dan  tidak pernah lagi didatangi Adipati Jayeng Rono, maka Dewi Sangkrah kawin dengan laki-laki lain dan melahirkan dua anak, bernama Sawungrono dan Sawungsari  Ke dua adik tirinya ini merasa iri terhadap Sawunggaling yang dikatakan ibunya masih berdarah biru itu.

Akhirnya berkat kesungguhan Sawunggaling bersama kakeknya Raden Karyosentono, mereka berhasil menerobos hutan dan rawa-rawa, hingga akhirnya sampai di keraton Surabaya. Dari pinggir hutan menuju ke keraton Surabaya, jalannya masih tanah, rawa-rawa dan melintasi berbagai perkampungan. Di antaranya daerah Tandes, Simo, Kupang, Pandegiling, Surabayan dan Kaliasin. Jalan lain, menyusuri jalan ke Wiyung, sisi Kali Surabaya dan Kalimas dari Gunungsari, Wonokromo, Gubeng, Keputran, Ketabang hingga Genteng.        Yousri Nur Raja Agam di tengah pemakamam Komplek Sawunggaling

Konon di balik tekad bulat dan kesungguhan Sawunggaling itu ada hal gaib yang menyertai. Peran magis dari Raden Ayu Pandansari, puteri cantik yang dipercaya sebagai keturunan lelembut tak bisa diabaikan. Perempuan jadi-jadian ini kabarnya adalah anak raja jin penguasa hutan Wiyung.

Keraton Adipati Surabaya lokasinya diperkirakan di gedung Balai Budaya Cak Durasim Jalan Gentengkali Surabaya (sekarang). Di sanalah Sawunggaling bersama Raden Karyosentono diterima Raden Adipati Jayeng Rono. Sawunggaling memperkenalkan diri dengan panggilan sehari-harinya, yakni: Joko Berek.

Setelah Joko Berek memperlihatkan selendang “wasiat” titipan ibunya, Adipati Jayeng Rono sertamerta merangkul Joko Berek yang tiada lain adalah anak kandungnya sendiri.

Sejak saat itu, Sawunggaling diberi tugas menjadi pendamping adipati sebagai Tumenggung dengan gelar Raden  Mas Ngabehi Sawunggaling Kulmosostronagoro.

Nah, mana di antara dongeng dan kisah Sawunggaling itu yang “sahih”, tidak ada yang berani memberi kepastian. Sebab, semua itu didasari pada konon dan konon. Kisah di atas, penulis dapat dari beberapa sumber warga Lidah Wetan yang saling melengkapi.

Gelar Doa dan Angkat Budaya

Masih dari Lidah Wetan, lain lagi dengan kisah yang diungkap Cak Mulyadi, salah seorang Panitia Gelar Doa dan Angkat Budaya Mengenang Keluarga Besar Joko Berek alias Raden Sawunggaling yang berlangsung 12-14 September 2012.

Mulyadi mengakui, memang kisah di Lidah Wetan ini hanyalah legenda, cerita dari orang-orang tua kepada anak cucunya. Dari tutur tinular itu dikisahkan, tentang seorang tumenggung yang sakti bernama Jayengrono. Dia tidak mau bersekutu dan mengikuti perintah kolonial Belanda yang selalu menyengsarakan rakyat kecil.

Melihat situasi Belanda  mulai bersimaharajalela di tanah Jawa, beliau prihatin. Banyak bupati dan tumenggung yang bersekutu dengan Belanda. Beliau sadar kalau Belanda semakin kuat dan akan menguasai tanah Jawa dan tentunya Surabaya.

Yousri Nur Raja Agam bersama Dr.Tjuk Sukiadi, DR.Suko Widodo dan Mulyadi saat acara Gelar Doa dan Angkat Budaya Sawunggaling, 12 September 20123 di Lidah Wetan, Surabaya

Atas kondisi itu, kata Mulyadi yang berulang-ulang menyebut dirinya sebagai “arek Lidah asli”, Tumenggung Jayengrono bersemedi di hutan rawa Wiyung guna mendapatkan kesaktian lebih dan minta petunjuk untuk melawan Belanda. Karena ketulusan dan kesungguhannya, saat bersemedi beliau berubah wujud menjadi pohon bambu atau carang.

Adalah seorang puteri keturunan darah biru yang tinggal di Lidah Donowati bernama Raden Ayu Dewi Sangkrah. Ke sehariannya dia selalu mencuci dan mandi di rawa Wiyung. Saat mandi, tanpa sengaja RA Dewi Sangkrah selalu meletakkan pakaiannya di pohon bambu yang tidak lain adalah jelmaan Tumenggung Jayengrono.

Tumenggung Jayengrono berusaha bertahan dan menganggap itu sebagai ujian atau godaan dalam semedinya. Namun, suatu ketika Tumenggung Jayengrono tergoda kecantikan RA Dewi Sangkrah. Semedi sang tumenggung gugur. Beliau merasa gagal. Dia sangat menyesal atas gugurnya semedi yang dilakukan.

Tiba-tiba ia mendapat wangsit. Dia tidak gagal mendapat kesaktian yang dia harapkan. Kesaktian itu akan dianugerahkan kepada anak yang kemudian dikandung oleh wanita yang meletakkan pakaiannya di pohon bambu atau carang yang merupakan jelmaan dirinya. Kelak dialah yang akan melawan kolonial Belanda. Selanjutnya bayi yang lahir dari hubungan Tumenggung Jayengrono dengan RA Dewi Sangkrah itu diberi nama Joko Berek.

Pada mulanya Joko Berek tumbuh sebagai pemuda desa yang bodoh dan bicaranya tidak jelas atau pelo. Sejalan berputarnya waktu dan peristiwa yang dialami, Joko Berek tumbuh sebagai satria gagah berani yang mempunyai kesaktian dan keistimewaan lebih. Dia mampu babat alas Nambas Kelingan dan mendirikan kota Surabaya. Dia juga membuat Belanda berang karena membunuh banyak pasukan Belanda, sementara Belanda tidak mampu menangkapnya.

Mulyadi didampingi empat orang panitia “gelar doa dan angkat budaya” dan dua warga Lidah dan Lakarsantri yang sengaja mengundang saya ke Lidah Wetan itu, mengatakan sampai sekarang belum ada data sejarah yang mengungkap tertangkapnya Joko Berek oleh Belanda. Karena kesaktian dan keistimewaannya Joko Berek mendapat gelar Raden Sawunggaling.

Joko Berek  ketika memasuki masa remaja sering diejek kawan-kawannya tidak punya bapak. Tidak kuat dengan ejekan itu  Joko Berek mendesak ibunya untuk menunjukkan siapa bapaknya. Karena sudah dianggap dewasa, Raden Ayu Dewi Sangkrah menceritakan riwayat dirinya dan memberitahu bahwa bapaknya adalah Jayengrono, Tumenggung Surabaya.

Dengan bekal cinde (selendang) yang diberikan Jayengrono dan disimpan Ayu Dewi Sangkrah, sang ibu melepas Joko Berek mencari bapaknya ke Surabaya. Joko Berek juga ditemani ayam kesayangannya yang diberi nama Bagong.

Sesampai di kabupaten atau ketemanggungan, meski mengaku anak Jayengrono, Joko Berek tetap dilarang masuk oleh penjaga. Pada saat yang bersamaan datanglah Sawungrono dan Sawungsari. Satria ini adalah putera Jayengrono yang merupakan adik tiri Joko Berek, Mereka adalah hasil perkawinan dengan seorang puteri dari Jawa Tengah yang sama-sama penggemar sabung ayam. Mereka marah atas pengakuan Joko Berek. Mereka berusaha menghalangi Joko Berek agar tidak bertemu dengan ayahandanya. Setelah melihat Joko Berek membawa ayam, timbul niatan Sawungrono dan Sawungsari menggunakan sabung ayam sebagai cara untuk menyuruh Joko Berek pulang. Mereka mengajak Joko Berek sabung ayam. Kalau menang, Joko Berek boleh masuk ke ketemanggungan, tetapi jika kalah Joko Berek harus pulang ke Lidah Wetan.

Ternyata si Bagong, ayam Joko Berek menang. Untuk menghalangi Joko Berek masuk, maka ayam milik Joko Berek dibawa lari. Joko Berek marah dan mengejar Sawungrono dan Sawungsari tanpa mempedulikan siapa yang menghalanginya. Merasa takut dikejar Joko Berek, Sawungrono dan Sawungsari minta perlindungan kepada ayahnya, Tumenggung Jayengrono.

Sesampai di ketemanggungan, Joko Berek menyampaikan tujuannya meminta kembali ayamnya dan dia juga mengatakan akan mencari bapaknya yang bernama Jayengrono. Sebagai bukti ia memperlihatkan cinde yang diberikan ibunya. Mendengar itu, Jayengrono tidak percaya begitu saja. Untuk membuktikannya Joko Berek diberi tugas merawat 144 ekor kuda. Selama merawat kuda-kuda itu tidak boleh ada satupun bulu kuda yang rontok. Jika sampai rontok, maka Joko Berek dianggap mengaku-aku saja sebagai anak Jayengrono. Ternyata diam-diam Jayengrono merasa yakin, Joko Berek memang anaknya.

Tidak hanya itu, ada kisah lain, ulas Mulyadi. Ketika Jayengrono dianggap tidak mau bersekutu dengan Belanda, maka Belanda berusaha melengserkan dia dari jabatan Tumenggung Surabaya. Bekerjasama dengan sekutunya Surohadiningrat yang menjabat adipati di Jawa Tengah, Belanda mengadakan lomba sodor. Barangsiapa yang mampu menyodor cinde puspita, maka ia akan diangkat menjadi Tumenggung Surabaya. Sebagai penyelenggara ditunjuk Cakraningrat adipati di Madura yang merupakan sesepuh Jawi Wetan (Jawa Timur).

Adipati Cakraningrat yang bersahabat dengan Tumenggung Jayengrono menyetujui siasat Belanda itu, karena yakin Sawungrono dan Sawungsari mampu memenangkan lomba tersebut, sehingga pimpinan ketemanggungan Surabaya tetap dipegang keluarga Jayengrono. Lomba sodor diselenggarakan dengan syarat pesertanya hanya para satria dan bangsawan.    Bersama tokoh dan masyarakat Lidah Wetan Kota Surabaya pada acara Gelar Doa dan Angkat Budaya Sawunggaling, 12 September 2012

Setelah beberapa hari lomba dilaksanakan, tidak seorangpun satria dan bangsawan yang mampu menyodor cinde puspita, termasuk Sawungrono dan Sawungsari. Tumenggung Jayengrono mulai gelisah. Melihat kenyataan ini, Joko Berek ingin menolong bapaknya sebagai darmabakti seorang anak kepada orangtuanya.

Akhirnya Joko Berek menghadap Cakraningrat dan menyampaikan keinginannya mengikuti lomba sodor. Cakraningrat yang tidak tahu jika Joko Berek putera Jayengrono marah dan menolak keikutsertaan Joko Berek.  Joko Berek ngotot. Berita kengototan Joko Berek ini didengar Jayengrono. Kepada Cakraningrat Jayengrono berterusterang, mengatakan bahwa Joko Berek memang anak kandungnya. Kemudian Joko Berek diperkenankan ikut lomba. Sebelum melaksanakan lomba, Joko Berek menjalani ritual doa dengan menyebut beberapa nama leluhur. Ungkapan ini dikenal dengan “Suluk Joko Berek”. Alhasil, Joko Berek mampu menyodor cinde puspita.

 

Melihat keberhasilan Joko Berek, Belanda dan Sosrohadiningrat bersama Sawungrono berusaha menghalangi Joko Berek sebagai Tumenggung Surabaya. Mereka membuat syarat tambahan kepada Joko Berek. Syarat itu adalah membabat alas Nambas Kelingan yakni hutan yang terkenal angker. Sebab, selama ini tidak pernah ada orang yang selamat keluar dari hutan tersebut.

Joko Berek yang lugu menyetujui syarat tambahan itu. Berangkatlah Joko Berek ke alas Nambas Kelingan. Dengan berbekal tombak Beliring Lanang dia berusaha membabat hutan itu dan meratakannya dengan tanah. Karena luasnya alas Nambas Kelingan, ditambah banyaknya dari jin-jin penunggu hutan itu, maka upaya Joko Berek tak kunjung selesai. Tiba-tiba muncul seorang peri bernama Ayu Pandansari. Karena tertarik dengan Joko Berek, Ayu Pandansari menawarkan bantuan membabat alas Nambas Kelingan itu. Jika berhasil Ayu Pandansari mengajukan syarat harus mengawininya. Joko Berek menolak tawaran itu dengan alasan mereka hidup di alam yang berbeda, yakni alam gaib dan alam nyata.

Joko Berek tidak mempedulikan Ayu Pandansari, namun pekerjaannya membabat hutan itu tak kunjung selesai. Di tengah perasaan keputusasaan itu, Joko Berek akhirnya mau dibantu Ayu Pandansari dengan janji akan mengawininya di alam nyata. Merekapun membuat kesepakatan dan saling menyetujui. Ayu Pandansari yang merupakan peri sakti itu masuk dan menyatu ke dalam tombak Beliring Lanang yang dimiliki Joko Berek. Dalam waktu sekejap, alas Nambas Kelingan rata dengan tanah.

Mendengar keberhasilan Joko Berek menjalani syarat tambahan itu, Cakraningrat merasa gembir, karena kursi ketemanggungan tidak lepas dari keluarga Jayengrono. Dia menyiapkan penyambutan untuk Joko Berek sebagai Tumenggung Surabaya. Cakraningrat juga mempersembahkan kepada Joko Berek gelar bangsawan Raden Sawunggaling.

Dalam upacara penyambutan itu, diam-diam pejabat Belanda, Sosrohadiningrat dan Sawungrono menyiapkan siasat licik dengan memasukkan racun ke dalam minuman Raden Sawunggaling. Tetapi karena Cakraningrat mengetahuinya, sebelum diminum Raden Sawunggaling, Cakraningrat menampiknya sehingga  gelas tersebut terjatuh. raden Sawunggaling marah dan mengejar Cakraningrat yang dianggapnya berusaha menggagalkan penobatannya sebagai Tumenggung Surabaya. Setelah dijelaskan oleh Cakraningrat bahwa minuman dalam gelas itu mengandung racun, maka Sawunggaling berbalik mengejar pejabat Belanda dan Sosrohadiningrat. Selanjutnya dikisahkan Sawunggaling membunuh Belanda yang ada di Surabaya dan mengejar pejabat Belanda beserta Sosrohadiningrat sampai ke Jawa Tengah.

Di akhir cerita, Sawunggaling menyampaikan, dia akan selalu memusuhi Belanda dalam generasi yang berbeda. Dengan semangat keberanian, kepahlawanan dan kejujuran, akan selalu tumbuh generasi yang akan datang.

Tokoh ini mampu muncul dalam abad yang berbeda dalam melawan Belanda. Padahal usia manusia tidak mungkin mencapai dua abad. “Bisakah misteri ini terungkap?” Karena ini sekedar legenda, masih perlu adanya penelusuran berdasarkan data sejarah yang akurat.

Dengan menyelenggarakan gelar doa bersama mengenang keluarga besar Joko Berek alias Raden Sawunggaling ini, kami berharap terka-teki tersebut terkuak kebenarannya. Paling tidak kita sudah mengakui bahwa di Lidah Donowati — sekarang disebut Lidah Wetan — pernah lahir seorang pahlawan di era atau masanya yang sangat gigih dan berani melawan penjajah Belanda, kata Mulyadi.

Versi Semi Sejarah

Ada lagi kisah Sawunggaling yang sudah mirip dengan cerita sesungguhnya, semi sejarah. Di sini diungkapkan tahun dan beberapa nama yang terdapat dalam buku-buku sejarah.

Suatu peristiwa diceritakan terjadi pertengahan tahun 1686. Rombongan Adipati Surabaya Raden Mas Jayengrana (dibaca: Jayengrono) yang menunggang kuda singgah di wilayah  pinggiran Kadipaten Surabaya, yakni di Desa Lidah Wetan. Waktu itu kawasan ini masih berupa hutan dan daerah rawa-rawa yang tidak begitu jauh dengan aliran sungai Kali Brantas.

Saat tiba di desa Lidah Wetan itu, sang adipati berhenti di depan rumah Kepala Desa Lidah Wetan, Wangsadrana. Raden Mas Jayengrana yang didampingi penasehat kadipaten Surabaya Arya Suradireja masuk dan beristirahat di rumah kepala desa itu. Sedangkan pengawalnya tetap berada di luar bersama warga desa sembari memberi makan kuda-kuda yang sebelumnya  mereka tunggangi.

Saat jamuan makan siang, Adipati Jayengrana dan Arya Suradireja dilayani anak semata wayang kepala desa bernama Rara Blengoh yang berusia 19 tahun.

Melihat perawan desa yang diperkenalkan Kades Wangsadrana sebagai anaknya, membuat hati Jayengrana bergelora. Kebekuan hati selama empat tahun menduda ditinggal isterinya yang meninggal dunia benar-benar mencair, bahkan memanas. Paman Arya Suradireja dan Kades Wangsadrana yang melihat pandangan mata sang adipati, bisa menebak gejolak hati “raja” Surabaya itu.

Kendati terbayang almarhumah isterinya yang sudah melahirkan lima orang putera, namun hasrat untuk menjadikan anak gadis Kades Wangsadrana sebagai pendamping hidupnya tak terbendung. Kegelisahan sang adipati dipahami oleh Wangsadrana dan Arya Suradireja. Tetapi Wangsadrana berpura-pura tidak tahu dan pergi ke luar rumah. Saat itulah Jayengrana menyampaikan hasratnya kepada Arya Suradireja untuk meminang  Rara Blengoh sebagai calon  isterinya.

Singkat cerita, lamaran sang Adipati Jayengrana yang sertamerta itu disampaikan dengan sangat hati-hati oleh Arya Suradireja kepada Wangsadrana. Dengan perasaan hati gembira, tetapi ragu-ragu menghadapi situasi itu yang mendadak itu, akhirnya Wangsadrama minta izin untuk menyampaikan kepada anaknya. Rara Blengoh benar-benar terkejut menerima informasi dari ayahnya. Namun setelah   diberi pengertian dan status adipati yang sudah empat tahun menduda, Rara Blengoh  menerima pinangan itu.

Setelah ditentukan waktunya, upacara pernikahan pun diselenggarakan di desa Lidah Wetan. Sengaja tidak dilaksanakan di Kadipaten Surabaya, untuk menjaga hati dan perasaan lima putera Jayengrana.

Ke lima putera Jayengrana waktu itu adalah Raden Mas Sawungkarna berusia 9 tahun, adiknya Raden Mas Sawungsari (7 tahun), Raden Mas Jaya Puspita (6 tahun) dan dua anak bungsu lahir kembar, Raden Mas Suradirana dan Raden Mas Umbulsangga (4 tahun).

Setelah pernikahan dan resmi menjadi isteri Raden Mas Jayengrana, Rara Blengoh mendapat gelar kehormatan Raden Ayu Dewi Sangkrah. Namun, sang adipati tetap tidak membawa isterinya ke kadipaten. Justru sang Adipati lah yang sering menginap di rumah kepala desa Lidah Wetan itu. Hampir setiap minggu, Jayengrana menyempatkan diri mengunjungi isteri mudanya itu.

Kasih sayang yang dipadu kedua insan ini membuahkan kehamilan Raden Ayu Dewi Sangkrah. Karena kesibukan di kadipaten, Jayengrana makin jarang ke Lidah Wetan. Sehingga sang adipati tidak menyaksikan kelahiran jabang bayi yang diberi nama Jaka Berek. Nah, andaikata dibuat sebuah hitung-hitungan secara normal, berdasarkan masa-masa  berseminya cinta Jayengrana dengan Raden Ayu Dewi Sangkrah, maka diperkirakan tahun kelahiran sang bayi yang kemudian dikenal dengan nama Sawunggaling itu adalah tahun 1687.

 

Zaman itu, keadaan situasi membuat kesibukan Jayengrana sebagai adipati Surabaya luar biasa. Inilah yang membuat sang adipati tidak sempat lagi mendatangi isterinya, karena situasi yang cukup gawat dampak dari pemberontakan Untung Surapati terhadap Belanda. Situasi ini berdampak buruk bagi Surabaya. Jayangrana benar-benar tak ada waktu berkunjung ke Lidah Wetan.

ari berganti bulan, bulan berganti tahun, usia Jaka Berek pun meningkat remaja. Pertengahan tahun 1704, saat Jaka Berek memasuki usia 17 tahun, ia meminta izin kepada ibunya, untuk menemui sang ayah di kadipaten Surabaya. Melihat kesungguhan hati si anak, maka kakeknya Wangsadrana berusaha meningkatkan ilmu dan kemampuan Jaka Berek. Di samping mengaji Al Quran dan taat menunaikan ibadah shalat, Jaka Berek juga dibekali ilmu beladiri silat dan kanoragan, serta tatakrama di lingkungan kadipaten.

Setelah dianggap matang, Jaka Berek diizinkan berangkat ke kadipaten dengan berjalan kaki menyusuri jalan di pinggir anak sungai Kali Brantas, yakni Kali Surabaya, sampai ke Kalimas. Ada peristiwa aneh yang ditemui Jaka Berek, saat dia melewati jalan desa sekitar Gunungsari. Seekor kuda lewat dengan membawa seorang laki-laki berkulit putih dalam keadaan pingsan di punggungnya. Kuda itu berhenti tatkala melihat Jaka Berek. Seolah-olah minta tolong, kuda itu menghampiri Jaka Berek. Tidak menunggu lama, Jaka Berek mengangkat tubuh laki-laki berhidung mancung itu ke bawah pohon. Kemudian Jaka Berek memberi minum dan membaca mantera yang pernah diajarkan kakeknya. Tak lama kemudian, bule itu siuman. Dia berterimakasih kepada jaka Berek yang sudah membantunya. Kedua anak muda yang berbeda ini berkenalan. Nama saya Van Jannsen, kata anak muda itu dengan Bahasa Jawa. Jaka Berek terkejut, ternyata Belanda ini sudah belajar Bahasa Jawa di Semarang.

 

Saat duduk berdua di pinggir Kali Surabaya, anak Kali Brantas itu, kedua anak muda ini semakin akrab. Apalagi, Van Jannsen telah banyak tahu dengan Surabaya dari pelajaran intelejen yang diterimanya. Van Jannsen, ternyata perwira muda yang sedang mengikuti wajib militer dari negaranya. Sebelum ke Indonesia, mereka sudah dibekali pengetahuan tentang daerah tujuannya, Jawa dan belajar bahasa Jawa.

Menurut Van Jannsen, dia bersama tiga temannya diutus ke Surabaya untuk menemui Adipati Jayengrana. Tetapi, saat berada di sekitar Lamongan, mereka diserang warga setempat. Mereka dikeroyok, namun Van Jannsen berhasil menyelamatkan diri. Namun mendekati Gresik, dia sudah tidak kuat menahan sakit akibat pentungan. Saat berada di punggung kuda itulah dia tidak sadarkan diri. Ternyata, kuda yang membawanya, bertemu dengan Jaka Berek.

Kendati tujuannya sama, yaitu sama-sama menuju Kadipaten Surabaya dan juga sama-sama akan menghadap Adipati Jayengrana, tetapi Jaka Berek tidak memberitahu tujuannya. Setelah saling bersalaman, Van Jannsen pamit untuk meneruskan perjalannya menuju Kadipaten Surabaya dengan menunggang kuda. Tidak lama kemudian, Jaka Berek juga berjalan menyusuri sungai Kali Surabaya. Ia berjalan terus sesuai petunjuk, berjalan menyusuri sungai Kalimas. Jaka Berek akhirnya  sampai juga di Alun-alun Contong, tidak jauh dari kadipaten. Di sana ia duduk-duduk dengan melepaskan lelah sembari memberi makan ayam jago yang dibawanya. Ayam jago itu diberi nama si Galing.

Karena kelelahan, Jaka Berek sempat tertidur di bawah pohon besar di Alun-alun Contong. Beberapa pemuda mencurigai orang asing itu. Malam itu ia ditangkap dan dibawa ke kadipaten. Sesampainya di kadipaten, Jaka Berek diinterogasi oleh petugas keamanan. Ketika diinterogasi itu, Jaka Berek menyatakan dia berasal dari Lidah Wetan. Kakeknya Wangsadrana mantan kepala desa di sana dan ibunya bernama Rara Blengoh dan juga dikenal dengan nama Raden Ayu Dewi Sangkrah. Maksud kedatangannya ke Surabaya untuk mencari ayahnya yang bekerja di kadipaten.

Antara percaya dan tidak mendengar jawaban anak bernama Jaka Berek itu, akhirnya petugas keamanan melapor kepada staf ahli kadipaten Arya Suradireja. Melihat pancaran sinar dari wajah Jaka Berek, Arya Suradireja terhenyak. Ia teringat kepada peristiwa di Lidah Wetan 19 tahun yang silam. Ia melihat bayangan wajah Wangsadrana dan gadis bernama Rara Blengoh.

Tanpa berpikir panjang, Arya Suradireja melapor kepada Adipati Jatengrana yang sedang memimpin rapat di pendapa kadipaten. Sang Adipati terkejut dan juga terharu saat melihat seorang anak muda tampan di depannya. Jaka Berek dibawa ke dalam kamar kerja Adipati diiringi oleh Arya Suradireja. Dari dialog singkat di kamar pribadi sang adipati itu, diyakini bahwa Jaka Berek adalah anak kandung Raden Mas Jayengrana. Di kamar itu mereka berangkulan dan saling melepas rindu disaksikan Arya Suradireja.

Suatu hal cukup membuat Jayengrana terkejut adalah, ketika Jaka Berek membuka baju dan celana luar yang dikenakannya. Ternyata di balik pakaian yang lusuh itu, Jaka Berek mengenakan pakaian yang rapi. Busana itu adalah pakaian Jayengrana yang ditinggal di rumah sang isteri Rara Blengoh yang bergelar Raden Ayu Dewi Sangkrah di Lidah Wetan. Suasana haru makin menjadi-jadi, Jayengrana kembali merangkul Jaka Berek, begitu pula dengan Arya Suradireja.

Tanpa basa-basi, Jaka Berek diajak ke pendapa kadipaten yang sedang ramai dengan pejabat kadipaten.  Jayengrana menyatakan kegembiraannya pada hari itu, karena dipertemukan dengan anak bungsunya, bernama Jaka Berek. Semua yang hadir terkejut. Anak-anak Jayengrana, sertamerta protes. Suasana menjadi tegang, karena Sawungkarna memperlihatkan kemarahan kepada ayahnya.

Ayahnya berterus terang, setelah menduda karena isteri pertamanya meninggal, ia pernah menikah di Desa Lidah Wetan dengan Raden Ayu Dewi Sangkrah, ibunda dari Jaka Berek. Kecuali Sawungkarna, ke empat putera Jayengrana tidak mempermasalahkan kehadiran Jaka Berek di kadipaten.

Kehadiran Jaka Berek di lingkungan keraton mendapat tantangan dari Sawungkarna. Secara kasar dia menyatakan tidak setuju. Bahkan Sawungkarna menantang Sawunggaling untuk menguji kesaktiannya. Sawungkarna mengajak Sawunggaling menuju alun-alun. Dia mengatakan, kalau engkau benar-benar anak ramanda Adipati Jayengrana, buktikan kesaktianmu. Sawunggaling hanya diam. Dengan merunduk dia berfikir untuk tidak melayani. Namun batinnya berkata dan seolah-olah menerima bisikan dari kakeknya Wangsdrana.

Kemudian Jaka Berek menengadah, lalu melihat ke arah sang adipati. Dengan penuh kasih sayang dan yakin kalau Jaka Berek adalah anak desa yang sudah terlatih ilmu beladirinya, Jayengrana menganggukkan kepala ketika Jaka Berek berdiri, seolah-olah minta izin kepada ayahnya. Memang benar, Jaka Berek sudah terlatih dalam ilmu silat. Dia sudah menguasai berbagai jurus apabila menghadapi tantangan. Apalagi satu kalimat yang selalu dipesankan oleh kakeknya: “Musuh jangan dicari, bertemu pantang dielakkan”.

 

Sama dengan putera Adipati Jayengrana lainnya, Jaka Berek, memang sudah dikenal sakti mandraguna, ora tedhas tapak paluning pandhe sisaning gurinda (sakti dan kebal menghadapi segala jenis senjata)

 

Sawungkarna juga mengajak adik-adiknya ke alun-alun.  Akhirnya dengan gerakan menunduk minta izin kepada sang Adipati, Jaka Berek mengikuti ajakan Sawungkarna. Bahkan, Adipati Jayengrana beserta pejabatan yang hadir dalam rapat itu ikut berdiri menuju alun-alun. Di antaranya, ada tamu bangsa Belanda, bernama Letnan Cornelis van Jannsen. Walaupun Jannsen sudah kenal dengan Jaka Berek, tetapi ia berusaha diam. Hal yang sama, juga terlihat dari sikap Jaka Berek ketika melihat jannsen yang ternyata benar-benar menjadi tamu ayahnya.

 

Perkelahian satu lawan satu antara Sawungkarna dengan Jaka Berek berlangsung seru. Akibat kemarahan Sawungkarna yang memuncak, ia lepas kendali. Berulangkali pukulan dan tendangannya dielakkan oleh Jaka Berek. Justru di sana Sawungkarna terjerembab. Beberapa kali Sawungkarna berusaha memukul, tetapi ia bagaikan memukul angin. Dalam sekejap, saat Sawungkarna lengah, Jaka Berek berhasil menangkap tubuh Sawungkarna dan mengunci gerakannya. Dalam keadaan terjepit itu, Sawungkarna minta tolong kepada adik-adiknya. Adik-adiknya hanya diam saja, takut serba salah. Namun, saat sdik-adiknya mendekat untuk membantu, Jaka Berek bergerak cepat. Empat saudara tirinya itu disapu dengan sebelah kaki, sembari ia masih tetap memegang salah satu tangan Sawungkarna. Mereka terjengkang.

 

Melihat kesaktian Jaka Berek dan khawatir anak-anaknya cedera, adipati memberi isyarat agar perkelahian itu dihentikan. Semua yang melihat pun kagum atas kesaktian Jaka Berek. Mereka semua kemudian diajak ke pendapa kadipaten. Hanya Sawungkarna yang tidak mau, saudara tirinya yang lain menyalami Berek sebagai tanda  pernyataan bersaudara.

 

Sore harinya, di pendapa Kadipaten Surabaya  diselenggarakan acara pengangkatan secara resmi Jaka Berek menjadi putera ke 6 Adipati Jayengrana. Empat saudara tirinya ikut menyaksikan, kecuali Sawungkarna. Mungkin karena malu, ia tidak menampakkan dirinya sama sekali. Pada upacara di sore hari itu, secara resmi Jaka Berek mendapat kehormatan menggunakan nama dan gelar Raden Mas Sawunggaling.

Setelah hidup di lingkungan kadipaten, peran Sawunggaling dalam jajaran pemerintahan semakin matang. Ia pun sering mendapat tugas pemerintahan dan mewakili Adipati Jayengrana dalam berbagai rapat dan pertemuan resmi. Baik dengan staf dan pejabat kadipaten, maupun dengan Raja Kartasura di Surakarta, serta dengan utusan Kompeni Belanda.

 

 

 

Menikahi Putri Solo BRA Pambayun

 

 

 

            SAWUNGGALING tidak pernah menikah sampai akhir hayatnya. Demikian cerita rakyat yang disampaikan secara lisan dan turun temurun atau tutur tinular selama ini. Justru, pada legenda Surabaya versi semi sejarah yang ditulis Febricus Indri (2010) — bukan  versi Lidah dan versi Wiyung — disebutkan, Sawunggaling kawin atau menikah secara sah dan resmi.

 

Tidak tanggung-tanggung, Adipati Raden Mas Sawunggaling, bahkan berhasil menikahi puteri bungsu Susuhunan Pakubuwana I penguasa keraton Kartasura, bernama Bendara Raden Ayu (BRA) Pembayun. Dari pernikahan resmi yang meriah itu, lahir seorang anak laki-laki bernama Raden Mas Arya Bagus Narendra.

 

Pesta pernikahan  Sawunggaling dengan putri Solo BRA Pembayun itu berlangsung selama dua hari dua malam pada tanggal 17 hingga 19 Agustus 1715 di keraton Kartasura. Upacara pernikahan dipimpin oleh Patih Nerang Kusuma dari Semarang dan dihadiri para adipati dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Pulau Jawa.

 

Kisahnya begini. Pertengahan tahun 1715, Adipati Jayengrana merasa sudah tua, karena usianya lebih 70 tahun.  Suatu hari Adipati mengirim surat kepada Susuhunan Pakubuwana I di Surakarta. Isi surat itu, meminta pertimbangan pencarian penggantinya sebagai Adipati Surabaya. Jayengrana kesulitan untuk memilih salah satu di antara enam anaknya. Apalagi di antara anaknya itu, belum ada kesepakatan. Bahkan ada dua anaknya, Raden Mas Sawungkarna dengan Raden Mas Sawunggaling selalu bertentangan. Mereka berdua tidak pernah mau bekerjasama.

 

Setelah membaca surat dari Adipati Surabaya itu, Susuhunan Pakubuwana I berunding dengan patihnya Raden Mas Nerangkusuma. Akhirnya diputuskan untuk menyelenggarakan sayembara berupa lomba memanah dengan panah pusaka kerajaan bernama Gendhewa Sakti. Tanpa kesaktian, tidak mungkin seorang mampu mengangkat busur, apalagi menarik tali busur untuk meluncurkan anak panah menuju selembar cindhe puspita. Siapa yang berhasil memenangkan lomba ini, akan diangkat menggantikan Adipati Jayengrana selaku penguasa di Surabaya. Tidak hanya itu, sang pemenang juga berhak menjadi menantu Susuhunan Pakubuwana I, mempersunting Bendara Raden Ayu (BRA) Pembayun, putri bungsu penguasa keraton Kartasura.

 

Pada tanggal 17 Agustus 1715, lomba memanah  dengan menggunakan pusaka kerajaan Mataram yang bernama, Gendhewa Sakti siap dilaksanakan. Dalam suatu upacara yang diikuti 30 peserta yang berasal dari 17 kadipaten di tanah Jawa. Mereka adalah putera para adipati yang masih bujangan, termasuk putra Adipati Jayengrana.

 

Disaksikan Susuhunan Pakubuwana I yang duduk di panggung kehormatan didampingi putri bungsunya BRA Pembayun dan Patih Nerang Kusuma, serta petinggi Kompeni Belanda. Setelah 25 peserta maju dan berupaya melaksanakan lomba, semuanya gagal. Tibalah giliran putera-putera Adipati Jayengrana, dimulai dari yang bungsu, Raden Mas Umbulsangga, Raden Mas Suradirana,  Raden Mas Jaya Puspita, Raden Mas Sawungsari, dan yang terakhir Raden Mas Sawungkarna. Semuanya pun gagal.

 

Akibat ulah dan kelicikan Sawungkarna, memang Sawunggaling, tidak diikutkan dalam rombongan Adipati Jayengrana. Kendati demikian, Sawunggaling menyusul dan mendaftar pada giliran kedua. Ia menyamar dengan menggunakan nama Pangeran Menak Ludra, kesatria dari ujung timur Pulau Jawa, sebagai putera keturunan Adipati Blambangan, Menak Jingga. Sawunggaling dengan berpakaian kesatria, dan mengenakan topeng, maju ke tengah gelanggang. Dengan tenang pemuda yang menyamar dengan nama Pangeran Menak Ludra itu mengangkat busur dan memegang anak panah. Berbeda dengan peserta sebelumnya, Menak Ludra memberi hormat dengan membungkuk kepada pejabat di panggung kehormatan, juga kepada para penonton yang berdiri di tribun umum.

 

Yang lebih unik lagi, kalau peserta sebelumnya setelah mengambil busur dan anak panah, dengan berdiri tegak lalu mengarahkan bidikan ke cindhe puspita. Tidak demikian dengan Menak Ludra, dia mengambil posisi duduk bersila. Kemudian dia membidik tali pengikat cindhe puspita yang tergantung pada ketinggian 17 meter dengan jarak 45 meter. Seolah-olah tidak merasakan berat busur pusaka Mataram itu, dia menarik tali busur yang sudah dipasangi anak panah. Dengan mata terpejam, anak panah dilepas dan tepat mengenai tali pengikat cindhe puspita. Kain selendang warna merah-putih itu melayang ditiup angin dan jatuh persis di pangkuan Menak Ludra. Tepuk tangan dan sorak-sorai membahana memuji keterampilan anak muda yang mengaku dari Ujung Blambangan, Banyuwangi itu.

 

Patih Nerang Kusuma, berdiri dan dengan suara penuh wibawa berteriak. Suasana menjadi hening. “Hai Pangeran Menak Ludra, tunjukkan wajahmu sebenarnya! Kami sudah mengakui kemenanganmu, ayo silakan maju ke sini”, ujar sang patih sembari melambaikan tangannya.

 

Pemuda yang mengaku Pangeran Menak Ludra itu berdiri dan dengan langkah tegap ia mendekati panggung kehormatan. Sesampainya di depan  para tamu VIP yang duduk di panggung kehormatan, anak muda yang mengaku bernama Menak Ludra itu membuka topengnya. Adipati Jayengrana yang duduk di samping Susuhunan Pakubuwana I benar-benar terkejut. Begitu juga rombongan dari Surabaya lainnya. “Mohon ampun gusti Patih, hamba sesungguhnya adalah Sawunggaling, putera ramanda Adipati Jayengrana”, katanya terbata-bata menghadap kepada pemimpin upacara Patih Nerang Kusuma.

 

Antara terkejut bercampur gembira, Adipati Jayengrana menyatakan rasa syukur, karena yang bakal menjadi penggantinya, bukan dari luar Surabaya, tetapi  adalah putera dan darah dagingnya sendiri.

Setelah Sawunggaling berada di mimbar utama, Patih Nerang Kusuma mengumumkan, bahwa pengganti Adipati Jayengrana sebagai Adipati Surabaya,  adalah Raden Mas Sawunggaling.

Tidak hanya itu, Susuhunan Pakubuwana I juga berdiri dan berkata: “Hai anakmasku Sawunggaling, bersyukurlah dan berbahagialah, engkau terpilih sebagai pengganti ramandamu. Da sebagai hadiahnya, engkau akan kunikahkan dengan putri bungsuku, BRA Pembayun. Bagaimnana, apakah engkau setuju?” Pertanyaan Susuhunan Pakubuwana I itu sesungguhnya tidak perlu dijawab. Tertapi dengan suatu sikap kesungguhan, sembari menunduk kepala, Sawunggaling menjawab: “Sendika dawuh, Gusti,”  katanya.

Adipati dan Pengantin Baru

Raden Mas Sawunggaling kemudian dinobatkan menjadi Adipati Surabaya menggantikan ayahnya Raden Mas Jayengrana. Selesai upacara prosesi pengukuhan itu, Raden Mas Sawunggaling mempersiapkan diri untuk mengikuti upacara sakral berikutnya, pernikahan dengan Bendara Raden Ayu Pembayun.

Pesta pernikahan itu tanggal 17 Agustus 1715 dilangsungkan di keraton Kartasura. Upacara dipimpin Patih Nerang Kusuma dan dihadiri para adipati dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan perwakilan petinggi Kompeni Belanda.

Walaupun hanya dua hari dua malam tanggal 17 hingga 19 Agustus 1715, suasana pesta pernikahan Sawunggaling dengan BRA Pembayun, sangat meriah, Biasanya memang, upacara pernikahan anak-anak susuhunan berlangsung tujuh hari tujuh malam. Hal ini mengingat Adipati Jayengrana bersama penggantinya, terlalu lama meninggalkan keraton Surabaya. Apalagi yang diberi kuasa sebagai pejabat ad-interim adalah paman Arya Suradireja yang sudah terlalu tua.

Pada tanggal 20 Agustus 1715, Adipati Surabaya yang baru Raden Mas Sawunggaling dilepas Susuhunan Pakubuwana I dari Kartasura berangkat menuju ke Surabaya. Dengan penuh kasih sayang, Pakubuwana I memeluk puteri bungsunya sebelum menaiki kereta kuda  yang sudah disiapkan di halaman keraton. Duduk bersanding di dalam kereta kencana, Sawunggaling dengan isterinya, BRA Pembayun tampak bahagia.

Saat melewati hutan di kawasan Sragen, rombongan Sawunggaling diserang oleh gerombolan perampok Gagak Mataram yang dipimpin Gagak Lodra. Walaupun kewalahan menghadapi gerombolan yang tidak seimbang dengan rombongan kecil Sawunggaling ini, akhirnya berkat kesaktian Sawunggaling, mereka menang. Perjalanan diteruskani ke Surabaya melewati Magetan, Madiun, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, dan akhirnya sampai di keraton Surabaya pada tanggal 23 Agustus 1715.

Sejak hari itu, resmilah Raden Mas Sawunggaling melaksanakan tugasnya sebagai adipati di Kadipaten Surabaya.

Didampingi isterinya, BRA Pembayun kehidupan di kadipaten semakin hidup. Apalagi, sejak saat itu ibunda Sawunggaling Raden Ayu Sangkrah secara resmi  dijemput dari Lidah Wetan. Sejak pertengahan tahun 1918 Raden Ayu Dewi Sangkrah dengan penuh kasih sayang mendampingi menantunya yang sudah hamil. Dengan perasaan kasih sayang Raden Ayu Dewi Sangkrah menunggu kelahiran cucunya, yang juga cucu dari Susuhunan Pakubuwana I, sang penguasa keraton Kartasura di Jawa Tengah.

Pada tanggal 4 Januari 1719, BRA Pembayun melahirkan anak laki-laki. Bayi mungil yang sehat ini atas anugerah dari kakeknya Susuhunan Pakubuwana I, diberi nama Raden Mas Arya Bagus Narendra.

Sebagai seorang adipati, Sawunggaling tetap membina hubungan dengan mertuanya yang menjadi penguasa keraton Kartasura. Saat itu, sikap Susuhunan Pakubuwana I sudah berubah. Dia mulai menjaga jarak dengan pihak kompeni Belanda. Apalagi, sebelumnya terjadi peristiwa pihak Belanda yang menjadi penyebab wafatnya ayahanda Sawunggaling Raden Mas Jeyengrana mantan Adipati Surabaya.

Ada dua versi tentang meninggalnya Jayengrana di Kartasura. Versi pertama ia dibunuh dengan 25 tikaman keris oleh penjaga keraton Kartasura. Saat itu Jayengrana yang diundang ke keraton Kartasura ketika  melewati bangunan Srimenganti dikeroyok oleh gerombolan berpakaian penjaga keraton atas perintah G.Knol pimpinan pasukan Belanda di Semarang. Kendati mendapat 25 tikaman, namun Jayengrana masih bertahan hidup, kemudian dibawa ke Desa Lawean. Di sanalah Jayengrana menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ada yang menyatakan, jenazah almarhum dimakamkan di Lawean, ada pula yang menyebut dibawa ke Surabaya.

Versi lain, Jayengrana dibunuh Belanda dengan mengundangnya ke Keraton Kartasura “mencatut” nama Susuhunan Pakubuwana I. Saat berada di tengah pesta yang dihadiri petinggi kompeni Belanda itu, ternyata minuman yang diberikan kepada Jayengrana diberi racun sejenis bahan kimia “arsenik“. Ini adalah atas perintah Van Hoogendorf komisaris Kompeni Belanda yang berkedudukan di Semarang. Racun yang tidak langsung mematikan, tetapi secara berangsur-angsur. Seusai pesta Jayengrana merasa badannya tidak enak. Dalam perjalanan pulang dari Kartasura ke Surabaya, rombongan singgah di Lawean untuk beristirahat. Kabarnya di Lawean inilah Jayengrana wafat.

Ada dua versi tentang di mana jenazah almarhum dimakamkan. Ada yang menyatakan di Lawean, ada pula yang mengatakan dibawa ke Surabaya dan dimakamkan di komplek pemakaman Botoputih, Pegirian, Surabaya. Nah, yang cukup unik, makam Adipati Jayengrana itu ditandai dengan nama Pangeran Lanang Dangiran atau Mbah Brondong. Konon ini suatu taktik, agar tidak diketahui pihak Kompeni Belanda.

Peristiwa yang sama juga nyaris dialami Adipati Sawunggaling. Seminggu setelah kelahiran anaknya Raden Mas Arya Bagus Narendra, Adipati Sawunggaling diundang ke keraton Kartasura untuk menghadiri upacara pemberian penghargaan atas keberhasilan Sawunggaling menghentikan pemberontakan Cakraningrat III di Madura. Walaupun ada rasa curiga dan kejanggalan, setelah berunding dengan staf ahli Kadipaten Surabaya Arya Suradireja, Sawunggaling tetap berangkat ke Kartasura.  Di keraton Kartasura Sawunggaling langsung menghadap sang mertua Susuhunan Pakubuwana I dan   melaporkan tentang kelahiran anak yang dikandung BRA Pembayun. Saat itulah, penguasa keraton Kartasura itu mempersembahkan nama untuk cucunya dengan nama Raden Mas Arya Bagus Narendra.

 

Ternyata, inisiatif dan acara mengundang Adipati Sawunggaling ke Kartasura tanggal 11 januari 1719 itu bukan dari Pakubuwana I. Acara ini dirancang oleh Van Hoogendorf bersama Adipati Semarang Sastradiningrat, serta saudara tertua Sawunggaling yang selama ini bekerjasama dengan Belanda, Raden Sawungkarna.

 

Benar saja, pesta yang seolah-olah memberi penghargaan kepada Adipati Sawunggaling, tidak lain adalah jebakan. Begitu acara akan dimulai, masing-masing tamu sudah memegang sloki berisi anggur, Van Hoogendorf sebagai tuan rumah maju ke depan. Ia mengajak seluruh undangan bersulang, “toast” dengan mengangkat sloki sembari disentuhkan sesama yang hadir. Berdasarkan gerak hati dari ilmu yang diberikan oleh kakeknya waktu kecil di Desa Lidah, sertamerta gelas itu disodorkan kepada Van Hoogendorf.

 

Dengan suara terbata-bata setengah berteriak Sawunggaling menyodorkan gelas kecil itu kepada Van Hoogendorf.  “Hai Van Hoogendorf, kamu licik. Ayo kamu yang minum isi gelas yang saya pegang ini”. Bentakan Sawunggaling sembari menyodorkan ke dekat mulut Van Hooegendorf membuatnya terkejut. Wajah komisaris Belanda itu merah padam dan merasa dipermalukan. Apalagi, perbuatan jahatnya memberi “racun” pada minuman Sawunggaling terbongkar.

 

Merasa dipermalukan, Van Hoogendorf setengah berlari masuk ke sebuah ruangan.  Di sana ia mengambil pistol dan kembali ke ruang utama menuju Sawunggaling  dengan mengarahkan moncong pistol yang siap tembak.  Begitu jari telunjuk Hoogendorf memegang pelatuk, seorang perwira muda Belanda bernama Van Jannsen  melompat ke tengah antara Sawunggaling dengasn Van Hoogendorf. “Dor”, suara pistol itu menyalak. Peluru pistol Van Hoogendorf menembus dada letnan Van Jannsen. Saat melihat Jannsen terkapar, Van Hoogendorf, kembali mengokang pistolnya.

 

Bersamaan dengan itu dengan gerak reflek Sawunggaling mencabut keris dan menghunuskan ke dada Van Hoogendorf. Setelah menembus jantung Hoogendorf, keris itu langsung dicabut. Hal yang tidak diduga itu membuat Van Hoogendorf limbung dan terjerembab dekat tubuh Van Jannsen. Para petinggi kompeni Belanda yang hadir berlarian meninggalkan ruangan untuk menyelamatkan diri. Sawunggaling merangkul dan mengangkat tubuh Cornelis van Jannsen, yang tidak lain adalah “sahabat” lamanya  saat menyusuri Sungai Kali Brantas, ketika akan menemui ayahnya Adipati Jayengrana di kadipaten Surabaya 26 tahun sebelumnya. “Terimakasih sahabat, kata Sawunggaling kepada Cornelis van Jannsen yang sudah mengorbankan nyawanya. Dalam keadaan meregang nyawa, dengan kerdipan mata, Jannsen menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Sawunggaling.

 

Tidak larut dengan menyaksikan dua jasad tak bernyawa di ruangan itu, Sawunggaling berdiri dan  bersama rombongan menuju ke tempat parkir kuda. Tanpa pamit kepada sang mertua, Susuhunan Pakubuwana I, Sawunggaling yang didampingi Arya Suradireja segera meninggalkan Kartasura.

 

Sesampainya di Surabaya, Adipati Sawunggaling benar-benar menaruh dendam kepada kompeni Belanda. Menyadari, perbuatannya “membunuh” Van Hoogendorf akan berbuntut pada penyerangan Belanda ke Surabaya, Sawunggaling langsung mengatur strategi. Adipati mengumpulkan para pejabat pemerintahan kadipaten Surabaya untuk menghadapi segala kemungkinan.

 

 

Gugur sebagai Pahlawan

 

Benar saja, kematian dua perwira Belanda di Kartasura itu membuat Gubernur Jenderal Belanda di Batavia Hendrik Zwaardeckroom marah besar. Ia langsung mengangkat Pieter Speelman sebagai pengganti Van Hoogendorf. Saat itu juga ia mengeluarkan Surat Perintah untuk menangkap Sawunggaling.

 

Walaupun berduka, atas mangkatnya Ingkang Sinuwun Susuhunan Pakubuwana I, tanggal 13 Maret 1719, Sawunggaling maupun BRA Pembayun terpaksa tidak bisa menghadiri upacara pemakaman di Kartasura.  Kalau datang ke sana pasti ditangkap Belanda. Gerakan Belanda untuk menggempur Kadipaten Surabaya sudah terdengar. Pasukan Belanda juga sudah bergerak menuju Surabaya dari Batavia melalui darat dan laut.

 

Tidak kurang selama empat tahun terjadi peperangan dengan pihak Belanda di beberapa tempat di sekitar Surabaya. Belanda memang belum mengerahkan pasukan yang banyak. Hanya upaya melakukan gertakan dan intimidasi. Kadipaten Surabaya yang meliputi Surabaya, Sidoarjo dan Gresik, kemudian meluas ke Mojokerto dan Lamongan. Pasukan yang disebut Laskar Sawunggaling dipimpin oleh Raden Mas umbulsangga, kakak tiri Sawunggaling. Laskar ini berjaga di perbatasan Lamongan dan Mojokerto, serta dari arah Madura. Jadi kekuasaan Adipati Sawunggaling waktu itu sama dengan wilayah Gerbang Kertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan).

 

Kompeni Belanda waktu itu memang tidak hanya menghadapi Surabaya, tetapi juga pemberontakan yang terjadi di berbagai kota. Apalagi setelah Pakubuwana I mangkat, terjadi perebutan takhta. Juga di beberapa daerah memproklamasikan dirinya sebagai kerajaan sendiri dan bergerak malawan penjajah Belanda. Selain berhadapan dengan Belanda, beberapa kerajaan baru itu juga saling bermusuhan, sehingga perang saudara tidak terelakkan.

 

Pieter Speelman yang ditunjuk menggantikan Van Hoogendorf, mendapat laporan tentang kehebatan Laskar Sawunggaling menumpas anak buahnya di perbatasan Lamongan dan Mojokerto. Salah satu peperangan yang seru terjadi tanggal 10 Februari  1723. Pasukan Belanda yang dikomandani  Letnan Bernard van Aken benar-benar terpukul. Kalah telak. Pasukan yang dipimpinnya berhasil terpaksa mundur sampai Bojonegoro dan Tuban.

 

Apalagi waktu itu, Adipati Sawunggaling berhasil menjalin kerjasama dengan pasukan laut Portugis pimpinan Kapten Laut Francisco Santos Rodriguez yang berada di Laut Jawa. Dalam pertempuran di sekitar pelabuhan Sedayu Gresik, pasukan gabungan Laskar Sawunggaling dengan pasukan Portugis, berhasil mengalahkan armada laut Belanda. Seluruh pasukan Belnada di kapal dinyatakan tewas, kecuali ABK (Anak Buah Kapal) yang berada di ruang kemudi dan kamar mesin.

Tidak tahan mendengar laporan kekalahan demi kekalahan yang diderita pasukannya dari pembantaian  Laskar Sawunggaling, Speelman langsung mengambialih pasukan. Ia memimpin sendiri divisi tempur yang didatangkan dari Eropa, Batavia dan Semarang menyerbu pertahanan Laskar Sawunggaling di Lamongan dan Mojokerto. Dalam pertempuran sengit itu di pinggir Bengawan Solo, di wilayah Lamongan, Raden Mas Umbulsangga bersama 20 orang pasukannya gugur sebagai pahlawan. Komandan Laskar Sawunggaling diserahkan kepada Raden Mas Suradirana, saudara kembar Raden Mas Umbulsangga. Namun, dalam pertempuran akhir Maret 1723, Raden Mas Suradirana juga gugur sebagai pahlawan. Ia menghembuskan nafas terakhir saat terkepung musuh dan tubuhnya dihujani puluhan ujung bayonet pasukan Belanda yang haus darah.

Dari hari ke hari pasukan Kompeni Belanda terus bertambah. Pertempuran atara pasukan Kompeni dengan Laskar Sawunggaling semakin gencar. Adipati Sawunggaling yang kehilangan dua saudaranya di medan tempur makin terdesak. Ia berunding dengan staf ahli kadipaten Surabaya Arya Suradireja. Mereka  sepakat meninggalkan kadipaten untuk menyelamatkan keluarganya. Tempat berlindung yang dianggap cukup aman waktu itu adalah Benteng Providentia di daerah Ujung Surabaya, dekat muara Sungai Kalimas. Adipati Sawunggaling membawa ibundanya Raden Ayu Dewi Sangkrah bersama isterinya Bendara Raden Ayu Pembayun, serta puteranya Raden Mas Arya Bagus Narendra ke Benteng Providentia. Tentunya disertai pula dengan logistik dan kebutuhan sehari-hari yang cukup.

Dalam serangan besar-besar yang dilakukan pasukan Pieter Speelman ke Benteng Providentia, Adipati Sawunggaling yang memimpin sendiri Laskar Sawunggaling terkepung. Di sinilah, akhirnya sang adipati mendapat hadiah “timah panas” dari senapan pasukan Speelman. Anehnya,  tubuh Sawunggaling yang sempoyongan “lenyap” saat tersandar di dinding benteng.

Konon beberapa prajurit setia Laskar Sawunggaling yang semula sempat menyembunyikan jenazah Sawunggaling,  kemudian melarikan jasadnya menuju desa Lidah Wetan. Agar tidak diketahui Belanda, Sang Adipati dimakamkan malam hari di tanah kelahirannya, berdampingan dengan kakeknya Wangsadrana alias Raden Mas Karyosentono.

Paman Arya Suradireja menyelamatkan Raden Ayu Dewi Sangkrah ibunda Sawunggaling beserta BRA Pembayun dan Raden Mas Arya Bagus Narendra yang saat itu berusia empat tahun.          Tatkala BRA Pembayun keluar dari gerbang  benteng Providentia sembari mengendong Arya Bagus Narendra menuju kereta kuda, para petinggi Kompeni Belanda yang berbaris di depan benteng sertamertra memberi hormat dengan membuka topinya. Di antara petinggi kompeni Belanda itu adalah Pieter Speelman yang mengetahui BRA Pembayun adalah puteri almarhum Susuhunan Pakubuwana I.

Konon, waktu dalam perjalanan diberitahu kalkau jasad Sawunggaling sudah dibawa ke Lidah Wetan, Raden Ayu Sangkrah minta diantarkan ke rumahnya di Lidah Wetan. Sedangkan BRA Pembayun bersama Raden Mas Arya Bagus Narendra dibawa ke Kartasura.

Dengan gugurnya Adipati Sawunggaling sebagai pahlawan bangsa di benteng Providentia itu, maka pimpinan pemerintahan Kadipaten Surabaya kosong. Kekuasaan sementara diambilalih oleh pihak Belanda. Tidak berapa lama, Kadipaten  Surabaya dipimpin oleh Ki Tumenggung Panatagama.

Perjuangan Sawunggaling sampai titik darah penghabisan itu tidak dilupakan oleh Arek Suroboyo. Bahkan nama Sawunggaling melegenda hingga sekarang. *Y*

 

 

(*)

  

Sisi Lain Sejarah Surabaya

 Melacak Petilasan

Kerajaan Majapahit

di Surabaya

Oleh” Yousri Nur Raja Agam  MH *)

Yousri Nur RA, MH

Yousri Nur RA, MH

KENDATI hari jadi Surabaya dikaitkan dengan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit tahun 1293, di Surabaya ini boleh dikatakan tidak ada peninggalan purbakala masa Majapahit. Biasanya, orang beranggapan bahwa peninggalan purbakala kerajaan terbesar di Nusantara itu berupa artefak-artefak, batu bersurat, prasasti, dan candi yang dipengaruhi agama Hindu dan Budha. Sedangkan yang bercorak Islam, adalah akhir masa kejayaan Majapahit.

 Memang, apabila diamati pengaruh Majapahit di Surabaya, mungkin tidak banyak bercerita tentang kepurbakalaan. Setelah dilakukan pelacakan, ternyata di Surabaya sama sekali tidak ditemukan candi dan batu-batu bersurat yang biasa disebut prasasti.

            Dalam buku Negara Kertagama dan kitab Pararaton, dinyatakan pembangunan candi bertalian erat dengan peristiwa wafatnya seorang raja. Sebuah candi didirikan sebagai tempat untuk mengabdikan dharma dan memuliakan roh yang telah bersatu dengan dewa penitisnya.

            Dua pakar arkeologi, Prof.DR.R.Soekomono dan DR.Inajati Adrisijanti Romli dalam buku 700 Tahun Majapahit, mengulas tentang peninggalan purbakala masa Majapahit. Pada umumnya candi-candi itu berdiri di dataran tinggi. Di antara candi yang masih dapat dilihat hingga sekarang, misalnya: Candi Jawi, Candi Sawentar, Candi Penataran dan beberapa candi lainnya.

            Surabaya yang merupakan penjelmaan dari Hujung Galuh, dalam sejarah Majapahit memang hanya sebagai sebuah pelabuhan. Tempat berlabuh kapal antarpulau, maupun sebagai pelabuhan samudera yang menghubungkan antarbenua. Tentunya bentuk pelabuhan masa lalu, tidak sama dengan sekarang, karena kapalnya hanya perahu dan kapal layar.

 

Makam dan Punden

            Walaupun tidak ada candi sebagai lambang peninggalan purbakala, di Surabaya terdapat peninggalan masa lalu berupa punden dan makam yang dikeramatkan. Selain itu ada satu tempat yang unik, yakni persemayaman Patung Joko Dolok di Jalan Taman Apsari Surabaya, berdekatan dengan gedung Balai Wartawan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jawa Timur. Dalam berbagai ungkapan, diceritakan, patung Joko Dolog ini bukan peninggalan Kerajaan Majopahit.

            Di tengah Kota Surabaya banyak komplek makam yang masih terawat hingga sekarang. Di antaranya makam Mbah Bungkul di Jalan Raya Darmo dan makam Sunan Ampel di komplek Masjid Ampel. Selain itu, makam Raden Kudo Kardono alias Pangeran Yudho Kardhono, makam Pangiran Lanang Dangiran alias Mbah Brondong, makam Oei Sam Hong alias Mbah Buyut Sambongan, makam Pangeran Pekik alias Mbah Pendem, makam Sawunggaling, makam Kiyai Sedho Masjid dan beberapa makam keramat lainnya yang terdapat di kampung-kampung di kota Surabaya.

            Selain itu juga ada tempat yang dikeramatkan berupa punden, di antaranya punden Joko Kuti dan Punden Kendangsari.

Pangeran Yudho Kardhono

            Makam Pangeran Yudho Kardhono terletak di Jalan Cempaka Surabaya. Sang pangeran adalah komandan perang kepercayaan raja Majapahit ke dua setelah Raden Wijaya, yakni: Raja Jayanegara yang memerintah tahun 1309-1328. Nama asli Pangeran Yudho Kardhono adalah Raden Kudo Kardono.

            Pada masa pemerintahan Jayanegara sering terjadi pemberontakan. Salah satu di antara pemberontakan itu terjadi di Surabaya yang dipimpin oleh Kuti. Untuk menghadapi pemberontakan Kuti itu, dikirim panglima perang bernama Kardono. Sebagai penghormatan ia mendapat gelar Raden Kudo Kardono. Ia terkenal sebagai panglima perang yang tangkas dan kuat dalam menanggulangi keamanan.

            Konon waktu itu, kawasan permukiman asli Surabaya, ada di wilayah sungai Kaliasin dekat sebuah taman bernama Tegalsari. Di daerah ini hingga sekarang ada kampung bernama Surabayan. Nah di sanalah Raden Kudo Kardono mendirikan markas pertahanannya. Saat meninggal dunia, ia dimakamkan tidak jauh dari markasnya.

            Makam Raden Yudo Kardono dipugar tahun 1950-an. Sebagai penghormatan kepada panglima perang ini, masyarakat setempat mengganti namanya menjadi Pangeran Yudho Kardhono. Nama ini sebagai terjemahan dari kata panglima sebagai Pangeran, perang disebut Yudho. Sehingga tepatlah namanya menjadi Pangeran Yudho Kardhono.

            Sebenarnya nama Kudo sudah merupakan gelar kehormatan di zaman Majapahit, maupun zaman Singosari. Seorang tokoh sering memperoleh gelar dengan nama hewan, seperti gajah untuk Gajahmada, ayam untuk Hayamwuruk, banyak (bebek) untuk Banyakwide, lembu untuk Lembupeteng dan sebagainya.

           

Pangiran Lanang Dangiran

            Makam Pangiran Lanang Dangiran yang juga disebut Mbah Brondong itu terletak di komplek pemakaman atau pasarean Botoputih Jalan Pegirian, Surabaya. Mbah Brondong ini dalam riwayatnya disebut masih keturunan Sunan Tawangalun alias Pangeran Kedawung dari Kerajaan Blambangan.

            Sahibul hikayat, sebelum sampai di Surabaya ia terdampar di Sedayu, Gresik. Sebelumnya ia hanyut di laut dan saat ditemukan di pantai badannya penuh dengan kerang atau diberondong oleh kerang. Ia berhasil diselamatkan oleh seorang yang bernama Kiyai Kendil Wesi.

            Kiyai Kendil Wesi bersama isterinya memberi nama anak laki-laki asing itu Brondong. Dari keluarga ini pulalah Brondong belajar agama Islam. Setelah dewasa, Brondong menikah dengan dengan puteri Ki Bimocili dari Panembahan Cirebon.

            Sampai tua, Brondong yang kemudian dipanggil sebagai Mbah Brondong menetap di Surabaya. Ia aktif mengaji dan sebagai guru mengaji di Masjid Ampel yang tidak jauh dari tempat tinggalnya di Pegirian. Mbah Brondong ini juga mendapat julukan sebagai Pangiran Lanang Dangiran, dimakamkan di komplek pemakaman Botoputih.

 

Pangeran Pekik

            Makam Pangeran Pekik alias Mbah Pendem terdepat di daerah Pakis, Surabaya. Konon sang pangeran adalah petualang dari Jogjakarta. Namun ada pula yang mengatakan masih dari keraton Majapahit. Peristiwa ini tidak jelas tahunnya. Cerita inipun merupakan cerita dari mulut ke mulut yang sudah menjadi “tutur tinular”.

            Dengan menunggang kuda bersama isterinya Nyi Wandansari, mereka bermaksud menuju Pulau Madura. Sebelum menyeberang ke Madura, mereka singgah di sebuah perkampungan di Surabaya. Mereka disambut warga setempat dengan penuh curiga. Warga kampung berniat membunuh orang asing itu. Rupanya gelagat warga itu diketahui oleh Pangeran Pekik. Dalam pikiran sang pengeran, daripada dibunuh lebih baik bunuh diri.

            Cara bunuh diri yang dilakukan Pangeran Pekik cukup unik. Ia memendam (mengubur) dirinya ke dalam tanah hidup-hidup. Saat ia dalam keadaan sekarat, suaranya terdengar “mengkas-mengkis “ (Bahasa Jawa, artinya: meringis). Akhirnya Pangeran Pekik dijuluki Mbah Pendem, sekarang daerah ini bernama Pakis yang diambil dari kata mengkas-mengkis. Tetapi ada yang menyebut kata Pakis itu berasal dari tanaman pakis, karena dulu di sekitar wilayah ini banyak tanaman pakis. Wallahualam!

 

Mbah Buyut Sambongan

            Nama asli Mbah Buyut Sambongan adalah Oei Sam Hong, seorang keturunan Cina yang diperkirakan hidup pada abad ke-19. Jadi bukan lagi pada zaman Majapahit. Sehari-hari ia dikenal sebagai saudagar kaya dengan sapaan Babah Samhong.

            Oei Sam Hong yang kaya ini memiliki tanah yang luas. Tanah itu disewakan kepada penduduk, sehingga menjadi sebuah kawasan permukiman. Kawasan permukiman ini disebut Samhong-an. Lama kelamaan sebutan itu berubah menjadi Sambongan. Sampai sekarang daerah Sambongan ini masih ada di Surabaya.

            Walaupun Oei Sam Hong seorang keturunan Cina yang kaya, ia mendapat simpati dari Bupati Surabaya, Adipati Cokronagoro. Setelah bersahabat dengan bupati, Oei Sam Hong masuk Islam. Sebagai penghormatan, ia memperoleh gelar: Mas Ngabehi Reksodiwiryo. Bahkan ia kemudian diangkat sebagai mantri pada kantor asisten wedana (kecamatan) di Kabupaten Surabaya.

            Karena pergaulannya dengan warga pribumi, anak keturunannyapun menyatu dengan warga asli Surabaya. Berkat jasanya mendirikan kawasan permukiman atau kampung Sambongan, iapun dijuluki sebagai Mbah Buyut Sambongan. Makamnya hingga sekarang masih terpelihara dengan baik di Gang Bey, Kedunganyar, Surabaya.

            Ada satu versi yang menghubungkan keberadaan makam Mas Ngabehi Reksodiwiryo dengan Sawunggaling. Konon, kabarnya yang dimakamkan di sana adalah Pangeran Sawunggaling, putera Adipati Jayengrono. Namun untuk melindungi makam itu agar tidak dirusak penjajah Belanda, maka disebutlah makam itu sebagai makam cina kaya yang dijuluki Mbah Buyut  Sambongan.

            Cerita di bawah ini lain lagi. Sebab, makam Sawunggaling itu yang benar terletak di kampung Lidah Wetan. Sawunggaling yang juga disebut Joko Berek itu mempunyai nama lengkap Raden Mas Ngabehi Sawunggaling Kulmasostronagoro.

Makam Sawunggaling di Lidah Wetan  hingga sekarang terawat dengan baik. Di komplek pemakaman itu terdapat empat makam lainnya.

            Pertama: makam ibunya Raden Ayu Siti Sangkrah. Kedua: makam neneknya Mbah Buyut Suruh. Ketiga: makam kakeknya bernama Raden Karyosentono. Yang keempat: makam Raden Ayu Pandansari.

Kisah tentang Pandansari ini beragam. Ada yang mengatakan ia adalah peri atau makhluk halus jadi-jadian yang selalu menyertai kemanapun Sawunggaling bepergian. Konon ia adalah lelembut, puteri kesayangan Raja Jin yang menguasai  hutan di wilayah Lidah, Wiyung dan sekitarnya.

Ada pula yang menyatakan wanita cantik itu adalah isteri Sawunggaling. Namun sebagian kisah meyakini, Sawunggaling tidak pernah kawin dan membujang sampai wafat. (Baca: Sawunggaling Tokoh Legendaris)

 

Punden Joko Kuti

            Punden Joko Kuti yang terdapat di Kutisari, Rungkut itu disebut pula merupakan bagian dari cikal-bakal Surabaya di zaman Majapahit. Di sini konon dimakamkan sepasangan suami isteri, Joko Kuti dengan Siti Karomah.

            Saat pertamakali membangun permukiman yang kemudian bernama Kutisari itu, Joko Kuti bersama isterinya sering mendapat gangguan dari wanita jadi-jadian bernama  Sri Sundoro yang mempunyai “pasukan hantu”.

            Dalam adu kesaktian dengan Joko Kuti, akhirnya Sri Sundoro yang berubah menjadi babi atau celeng tewas. Tempat itu kemudian diberi nama Celeng Srenggi. Sedangkan tempat pemakaman massal “pasukan hantu” disebut Kramat Complong.

 

Punden Kendangsari

            Punden Kendangsari juga terdapat di daerah Rungkut. Di sini konon dimakamkan pendiri kampung Kendangsari, bernama: Raden Endang Kamulyaan. Ia adalah puteri Adipati Jayengrono yang sudah memeluk agama Islam. Di tempat ini ia mengajar mengaji. Sebagai ustadzah ia dipanggil Nyai Zamila.

            Dulu dekat punden itu ada sebuah sumur yang disebut Sumur Sanga, karena sumur itu mempunyai sembilan mata air. Warga setempat pernah mengeramatkan sumur itu dan menganggap nilainya sama dengan sumur Zamzam di Makkah. Melihat ulah sebagian penduduk itu sudah mengarah kepada tahayul dan syirik, akhirnya kebiasaan penduduk itu berhasil dicegah. ***

 

*) Yousri Nur Raja Agam  MH – adalah pemerhati sejarah, bermukim di Surabaya.

Setelah Desa Menjadi Kelurahan

Tanah Ganjaran

 

Aset Warga Surabaya

 

Rawan Berpindahtangan

 

Oleh: Yousri Nur Raja Agam  MH

 

Yousri Nur RA MH

Yousri Nur RA MH

            Bagi masyarakat Jawa Timur, lebih dikenal dengan tanah ‘bengkok’. Dengan tanah kas desa inilah desa-desa secara otonomi membiayai keperluan desa, khususnya untuk kepentingan kepala desa beserta perangkat desa. Maka tidaklah mengherankan, kalau ada desa yang makmur dan kepala desanya kaya, karena mempunyai tanah ‘bengkok’ atau tanah ‘ganjaran’yang luas. Bagi kota Surabaya, cerita tentang “tanah kas desa” atau tanah ‘ganjaran’ adalah cerita masa lalu. 

            Berdasarkan Undang-undang No.5 tahun 1979, tentang pemerintahan di daerah, status desa-desa di dalam kota berubah menjadi kelurahan. Saat itu di Surabaya ada dua sebutan sebelum menjadi kelurahan. Pemerintahan terendah yang berada di tengah kota disebut lingkungan dan yang berada di daerah pinggiran masih disebut desa.

            Menindaklanjuti UU No.5/1979 itu, Mendagri mengeluarkan Keputusan No.140-502 tahun 1979. Isinya, menetapkan desa-desa di dalam kota diubah satusnya menjadi kelurahan. Kota Surabaya dulu dibagi menjadi 38 lingkungan dan 103 desa. Dalam peleburan menjadi kelurahan, 38 lingkungan diubah menjadi 60 kelurahan dan 103 desa menjadi 103 kelurahan, sehingga total di Kota Surabaya ada 163 kelurahan.

            Perubahan lingkungan menjadi kelurahan tidak banyak membawa pengaruh,  tetapi bagi desa pengaruhnya luar biasa. Bahkan, di antara kepala desa ada yang menyampaikan protes dan menyatakan keberatan. Namun, akhirnya terpaksa tunduk kepada aturan hukum yang berlaku. Salah satu keberatan para kepala desa itu adalah “melepaskan” tanah ‘ganjaran’ yang dikuasasinya selama ini.         

Desa yang jumlahnya 103 di kota Surabaya memiliki dan punya tanah ‘ganjaran’ yang cukup luas. Ada desa yang punya 10 hektar dan ada yang hanya memiliki 2 hektar. Jumlah total tanah ganjaran saat peralihan status desa menjadi kelurahan di Kota Surabaya, luas tanah ‘ganjaran” itu tidak kurang dari 1.000 hektar.

 Diambilalih

Perubahan status desa menjadi kelurahan, mengakibatkan aset desa berupa tanah ‘ganjaran’ akhirnya “diambilalih” menjadi aset Pemerintah Kota Surabaya. Kepala desa yang sebelumnya adalah orang swasta yang dipilih langsung oleh rakyat di desa itu, berubah statusnya menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan diangkat menjadi pegawai Pemkot Surabaya. Mereka ini tidak mempunyai kewenangan lagi mengolah tanah ‘ganjaran’ , apalagi menikmati hasilnya.

            Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No.1 tahun 1982, semua desa-desa yang berubah menjadi kelurahan, seluruh kekayaan desa, terutama tanah kas desa, atau tanah ‘ganjaran’ di Kota Surabaya, juga beralih menjadi aset kelurahan. Nah, karena kelurahan itu adalah lembaga Pemerintah Kota, dengan demikian aset itu menjadi aset Pemerintah Kota. Kalau dulu desa merupakan daerah otonom, sekarang kelurahan hanya wilayah administratif.

            Dalam Keputusan Mendagri No.164 tahun 1997 lebih tegas lagi, disebutkan tanah kas desa yang berasal dari bengkok, tanah ganjaran dan sejenisnyta, tidak lagi menjadi aset atau kekayaan pemerintahan kelurahan, tetapi menjadi aset Pemerintah Daerah. Keputusan ini dipertegas lagi dengan surat Dirjen PUOD (Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah) Depdagri No.593/2023/PUOD tangggal 14 Juli 1999. Gubernur Jawa Timur, juga menindaklanjuti dengan suratnya No.143/8272/013/1999 tanggal 27 Juli 1999.

 

Jadi Banca’an

            Setelah tanah ‘ganjaran’ menjadi aset Pemkot Surabaya, mulai muncul masalah. Permasalahan yang paling menonjol adalah saat akan dialihkannya atau dilepasnya tanah ‘ganjaran’ itu ke pihak lain. Kalau sebelumnya tidak ada tanah ‘ganjaran’ yang dijual atau dialihkan ke pihak lain, maka setelah menjadi aset Pemkot Surabaya, bekas tanah’ganjaran’ ini menjadi “banca-an” pejabat (maaf: dikorupsi secara berjamaah)

            Ada aturan, bahwa Pemerintah Kota (dulu disebut Pemerintah Daerah), dalam pengurusan pendapatan desa yang menjadi kelurahan, tidak harus mengembalikan seluruh pendapatan suatu kelurahan ke kelurahan tersebut. Namun kalau dipandang perlu sebagian dapat diserahkan kepada kelurahan yang lain. Di sini ditegaskan, tanah bekas ‘ganjaran’ atau disebut bekas tanah kas desa bukan milik warga. Kendati demikian untuk pelepasan tanah tersebut ke pihak lain harus melalui rembug kelurahan, bukan rembug warga.

            Dari Mendagri, Dirjen PUOD dan Gubernur Jatim dalam suratnya menegaskan, apabila terjadi pelepasan atau tukar-menukar terhadap aset tanah bekas tanah kas desa (di Surabaya bekas tanah ‘ganjaran’), harus mendapat persetujuan DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah).

            Kerawanan sering mencuat ke permukaan, mulai dari terjadi ketidaksetujuan warga bekas desa yang menjadi kelurahan atas tanah ‘ganjaran’ yang akan dialihkan kepada pihak lain. Biasanya, warga di kelurahan mempertahankan, atau minta konpensasi. Tidak jarang pula di awal era reformasi lalu, aksi menentang pengalihan atau tukar-guling tanah bekas ‘ganjaran’ itu, warga melakukan demo ke Balaikota Surabaya.

            Walaupun sudah ada aturan yang baku tentang tatacara pelepasan dan tukar-menukar bekas tanah ‘ganjaran’ itu, masih saja terjadi berbagai masalah. Menurut aturan yang ditetapkan, sebelum tanah ‘ganjaran’ dialihkan, harus diproses lebih dulu oleh tim yang bekerja berdasarkan SK Walikota Surabaya dan Gubernur Jawa Timur. Selanjutnya hasil tim kerja tim tersebut dituangkan dalam berita acara, serta dilengkapi dengan surat rekomendasi dari Kepala Kantor Pertanahan Nasional (KPN), serta kepala Dinas Pertanian tentang tingkat kesuburan tanah. Baru kemudian, mendapat izin dari gubernur.

            Biasanya pengalihan bekas tanah ‘ganjaran’ ini berkaitan dengan pembangunan perumahan, perkantoran atau kegiatan bisnis lainnya. Untuk itulah, masalah konpensasi selalu menjadi masalah, sebab Pemerintah Kelurahan menuntut ‘bagian’. Bagi Pemkot Surabaya, tidak begitu saja memberikan konpensasi ke kelurahan bekas pemilik tanah’ganjaran’ itu, sebab keuangan hasil pengalihan tanah itu dimasukkan lebih dulu ke dalam APBD (Anggaran  Pendapatan dan Belanja Daerah) Kota Surabaya.

            Sebagai aset, bekas tanah ‘ganjaran’ ini memang menggiurkan. Tidak sedikit pengembang dan pengusaha kawasan permukiman, maupun perkantoran mengincar tanah ini. Di samping harganya lebih murah dibandingkan tanah yang sudah ada, juga pengusaha menilai prosedurnya lebih gampang.

            Berdasarkan catatan penulis, luas bekas tanah ‘ganjaran’ yang ada saat ini tinggal 131,16 hektar. Luas tanah ini setelah bertambah 29,968 hektar dari hasil tukar guling atau ruilslag. Sudah banyak bekas tanah ‘ganjaran’ ini yang dialihkan atau dipergunakan untuk berbagai kepentingan. Termasuk untuk membangun beberapa kantor, sekolah dan Masjid Al Akbar Surabaya. Bahkan lahan yang disediakan untuk pembangunan stadion Olahraga yang semula direncanakan untuk PON XV/2000 lalu di Kecamatan Pakal juga sebagai tukar-menukar tanah ‘ganjaran’. Kendati demikian, angka tentang luas bekas tanah ‘ganjaran’ ini sering tidak sama antara satu instansi dengan instansi lainnya. ***

TANAH ganjaran, adalah istilah yang hanya dikenal masyarakat Kota Surabaya. Kalau di daerah lain namanya juga tidak sama. Ada yang menyebut tanah ‘bengkok’, tanah ‘percaton’, tanah ‘titisoro’, tanah ‘pangonan’, tanah ‘singkeran’, tanah ‘guron’, tanah ‘nagari’, tanah ‘cawisan’ dan masih banyak istilah di masing-masing desa di suatu daerah di seluruh Nusantara. Namun, artinya sama, yakni: tanah yang dikuasai desa sebagai kekayaan desa. Dan semua itu dipopularkan dengan sebutan “tanah kas desa”.

Kendati Tidak Rawan Tsunami

Hutan Mangrove “Wana Mina”

Tanggul Alam

Pantai Timur Surabaya

Tim wartawan Surabaya saat berada di menara pemantau hutan mangrove di Bali

Tim wartawan Surabaya saat berada di menara pemantau hutan mangrove di Bali

 Oleh: Yousri Nur Raja Agam  MH 

 

SURABAYA memang tidak begitu rawan terhadap bencana alam tsunami. Tidak seperti wilayah pantai selatan dan barat Indonesia yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Namun ombak besar pasang surut di Selat Madura layak diwaspadai. Sebab, gelombang laut itu mampu  menguras pesisir pantai timur Surabaya. Bahkan, asinnya air laut dapat mencemari sumber air tawar di daratan kota Surabaya.

   Menghadapi gejala alam yang tidak bersahabat itu, Pemerintah Kota Surabaya menyatakan siaga. Siap untuk menghadang perubahan iklim yang sewaktu-waktu akan memporakporandakan pesisir pantai Surabaya dari arah timur. Tercetuslah rencana membangun benteng dengan membuat tanggul alam di pantai timur Surabaya – yang dipopularkan dengan sebutan Pamurbaya itu.

Tanggul alami itu adalah merehabilitasi hutan bakau di kawasan Pamurbaya. Hutan bakau yang lebih dikenal dengan istilah mangrove ini, memang sedang mendapat perhatian dunia, termasuk Indonesia. Pemerintah Kota Surabaya, menetapkan Pamurbaya sebagai kawasan konservasi hutan mangrove.

Pemkot Surabaya, tidak sekedar membangun tanggul alam pantai dengan hutan mangrove, tetapi mengembangkan kawasan pantai timur dari daerah Kenjeran sampai Gununganyar Tambak sebagai “Wana-Mina” . Artinya, masyarakat tani dan nelayan di Wonorejo, Medokan Ayu, Kejawen Putih dan Gununganyar Tambak juga menjadikan kawasan hutan mangrove itu, sebagai kawasan pembudidayaan berbagai jenis ikan dan udang, serta biota laut lainnya.

Setelah pencanangan kawasan Pamurbaya sebagai wilayah konservasi hutan mangrove “Wana-Mina” itu, ternyata mendapat sambutan positif dari masyarakat tani dan nelayan di sana, kata Kepala Bidang Pertanian dan Kelautan Dinas Perikanan, Kelautan, Peternakan, Pertanian dan Kehutanan (DPKPPK) Kota Surabaya, Drs.Syaiful Arifin.

Hasilnya pun tidak sia-sia, kata Syaiful Arifin. Masyarakat petani dan nelayan binaan di Gununganyar Tambak, Kecamatan Gununganyar Surabaya ini, berhasil meraih Juara Nasional Biota Tambak tahun 2007 lalu.

Di samping budidaya perikanan, manfaat ekonomis lainnya, sejak dari akar, batang, daun dan beberapa jenis buah mangrove, ada yang dijadikan bahan pembuat sirup, dodol, bahan kosmetik dan medis.

Menurut Syaiful, memang secara umum tidak ada pohon yang bernama mangrove. Mangrove adalah sekumpulan pohon dan semak-semak yang tumbuh di daerah pantai pasang surut. Vegatasi hutan mangrove, memiliki keanekaragaman yang tinggi. Mangrove ada dua kategori, yaitu: mangrove sejati dan mangrove asosiasi. Khusus mengrove sejati terdiri dua dari dua jenis, masing-masing: mangrove mayor dan mangrove minor. Mangrove mayor ada 34 jenis dan minor 20 jenis.

Manfaat Mangrove itu sendiri, selain sebagai tanggul alam di kawasan pantai, sekaligus juga berfungsi untuk memperluas daratan. Sebab, akar pohon mangrove yang mencekam tanah, dapat pula menahan endapan, sehingga luas daratan bisa bertambah.

Tidak hanya itu, bagi Surabaya, mangrove merupakan kawasan pelestarian alam pantai timur. Bahkan yang menarik, kawasan hutan mangrove ini mampu mengundang kehadiran berbagai jenis burung. Hasil pengamatan suatu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Jogjakarta,  menyebutkan dalam waktu satu tahun terakhir ini terjadi pertambahan jenis burung yang hidup menetap di hutan mangrove itu. Kalau semula berhasil didata sebanyak 140 jenis burung, sekarang bertambah menjadi 147 jenis burung. Dari jumlah itu 38 jenis burung berimigrasi dari Australia dan Thailand.

Nanti apabila hutan mangrove ini benar-benar terwujud dengan luas sekitar 400 hektar, dengan lebar rata-rata dari pantai antara 50 sampai 500 meter, ulas Saiful Arifin, tentunya mampu menjaga pantai timur Surabaya dari hantaman gelombang dan badai Selat Madura.hutan-mangrove-di-surabaya-timur1

 

 

Ide Walikota

Tidak tanggung-tanggung, ide dan gagasan pengembangan kawasan hutan mangrove itu, ternyata dicanangkan langsung oleh Walikota Surabaya, Drs.H.Bambang Dwi Hartono,MPd. Begitu kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) dan Protokol Kota Surabaya, Drs.H.Hari Tjahjono kepada wartawan, pekan lalu..

“Begitu antusias dan semangatnya walikota Surabaya, sampai-sampai Pak Bambang DH sendiri yang hadir dalam beberapa kali pertemuan nasional dan regional tentang konservasi alam dan pengelolaan hutan mangrove”, kata Hari Tjahjono.

Walikota Surabaya, Bambang DH, tidak sekedar menghadiri pertemuan dan seminar saja, tetapi sudah melihat sendiri proses pembudidayaan hutan mangrove di berbagai daerah di Indonesia. Lebih serius lagi, ujar Hari Tjahjono, walikota bersama staf yang membidangi masalah kelautan di Pemkot Surabaya sengaja melakukan studi lapangan di kawasan  Sawung Kauh, Denpasar, Bali.

Kawasan budidaya hutan mangrove di pantai selatan Kota Denpasar itu memang menjadi percontohan. Hutan mangrove di Denpasar, Kabupaten Badung itu merupakan yang terbaik saat ini di Indonesia. Selain dikelola oleh Balai Penglolaan Hutan Mangrove (BPHM) Wilayah I Ditjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Departemen Kehutanan RI, juga merupakan proyek kerjasama dengan Pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA).

Keseriusan walikota dibuktikan dengan studi lapangan yang dipimpinnya langsung ke berbagai lokasi. Hal ini mendapat tanggapan serius dari BPHM Wilayah I yang meliputi wilayah Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulawesi, kepulauan Maluku dan Papua. Sehingga terjadi kesepakatan awal menjadikan kawasan hutan mangrove di Surabaya sebagai kawasan konservasi. Selain itu akan didirikan pusat penelitian dan pengembangan (litbang), pusat pendidikan dan latihan (pusdiklat) mangrove, serta kegiatan ekowisata di Pamurbaya itu.

Sambutan warga kota Surabaya luar biasa. Kepedulian untuk menyelamatkan kawasan Pamurbaya juga didorong melalui sosialisasi ke permukiman, sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Tidak sedikit kelompok masyarakat yang berhasil dirangkul. Beberapa LSM dan organisasi kemasyarakatan bahu-membahu mengadakan gerakan penanaman bibit mangrove di Pamurbaya.

Gerakan penanaman mangrove yang sudah mencapai ratusan ribu batang oleh kelompok masyarakat. Tercatat beberapa kelompok masyarakat yang sudah terjun melakukan kegiatan penanaman mangrove. Di antaranya: Kelompok Alas Kedung-Kedungcowek, Amal Mangrove-Kedungcowek, Parikesit-Kenjeran, Peduli Pantai-Sukolilo, Mangrove Beach-Sukolilo, Sutorejo-Dukuh Sutorejo, Sekarlaut I-Kalisari, Sekarlaut II-Kalisari, Lestari-Kejawan Putih, Mina Putih I, Mina Putih II, Mina Putih III, Mina Putih IV, Wonojoyo-Keputih, Marina Tani-Keputih, Wonorejo I, Wono Mangrove-Medayu, dan Trisno Mangrove-Medayu.

Saat diadakan gerakan Green and Clean bersamaan dengan peringatan Hari Pahlawan tahun lalu, peranserta pengusaha bersama masyarakat peduli lingkungan Tunas Hijau dan warga kota berhasil menanam 20 ribu batang lebih tanaman mangrove.

Kesadaran mesyarakat setempat untuk memelihara lingkungan di sana sudah semakin baik. Dari investigasi lapangan, terbukti tidak ada lagi warga setempat yang melakukan penjarahan dan penebangan liar terhadap pohon mangrove, maupun berburu satwa yang hidup di sana. Larangan menembak burung dan merusak lingkungan sudah ditaati. Masyarakat kawasan sekitar hutan mangrove itu juga berani menegur dan mengusir kalau ada pendatang yang berburu satwa dan burung.

Dengan berbagai gerakan dan kegiatan penanaman mangrove yang dilaksanakan itu, Pemkot Surabaya menargetkan mulai tahun 2009 nanti, hingga lima tahun ke depan, kawasan hutan mangrove di Surabaya bisa seperti di Bali, bahkan mukin bisa lebih besar.

            Syaiful Arifin pada suatu wawancara khusus, mengakui, untuk kawasan Surabaya tidak semua jenis mangrove bisa ditanam. Dalam beberapa kali diselenggarakan gerakan penanaman, jenis terbanyak adalah bakau yang nama latinnya Rhizophora mucronata . Pohon bakau ini dapat mencapai tinggi di atas 25 meter. Ada lagi yang bernama tajang (Rhizophora apiculata), tingginya bisa mencapai 15 meter. Selain itu juga tumbuh jenis kacang-kacangan (Aegiceras corniculatum) dan api-api (Avicennia lanata) yang merupakan tanaman perdu atau semak.

            Oh ya, jenis yang dapat dijadikan bahan untuk pembuat sirup dan dodol itu nama lokalnya adalah bogem. Nama latinnya Sooneratia alba atau di  tempat lain disebut dengan nama prapat. Ada lagi yang namanya Sonneratia caseolaris atau pedada. Ke dua jenis pohon ini bisa mencapai tinggi 16 meter, ulas Syaiful Arifin.

 

Akan Dibantu

            Keinginan dan target yang dicanangkan Pemkot Surabaya mendapat perhatian khusus dari BPHM Wilayah I dan perwakilan JICA yang berkantor di Denpasar, Bali. Kepada wartawan Surabaya yang mengikuti karyawisata pers ke Bali, Senin (17/11)  pekan lalu, Kepala BPHM Wilayah I, Ir.Sasmito Hadi, MSi menyatakan serius akan memberi bantuan.

             “Kami akan memberi bantuan sepenuhnya kepada Pemkot Surabaya. Bantuan dari kami berupa peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya  Manusia), sistem informasi, dan percontohan tanaman mangrove. Sebab, tidak semua jenis mangrove bisa ditanam di setiap daerah. Kami sudah punya beberapa contoh dari hasil pembibitan”, jelas Sasmito Hadi, Ia didampingi Hatori Hiroyuki chief advisor JICA di Bali yang juga mengeloa museum mini MIC (Mangrove Information Centre).

             Dari 75 jenis mangrove yang hidup di pantai-pantai kepualauan Indonesia, ada 28 jenis yang hidup di Bali. Mangrove sebagai Tahura (Tanaman Hutan Rakyat), memang rawan terhadap perambahan dan penyerobotan lahan. Itulah sebabnya, luas lahan Tahura mangrove terus menyusut. Untuk itu, ulas pejabat Dephut itu, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah terus-menerus melakukan penanggulangan.

            Usai mendapat penjelasan singkat tentang mangrove dan kegiatan BPHM di Bali itu, rombongan karyawisata pers Surabaya, dibawa menelusuri jalan kayu yang menerobos masuk ke dalam hutan mangrove. Dari menara-menara pos pantau terlihat keindahan alam yang hijau dengan tanaman pohon mangrove. Pohon mangrove di Bali ini, sudah tinggi-tinggi, tidak lagi menyerupai semak belukar, tetapi sudah menjadi hutan yang rimbun.

Hatori Hiroyuki dari JICA memberi informasi, bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi  mengrove terluas di dunia. Dari total sekitar 18 juta hektar luas hutan mangrove di dunia, seperempatnya atau sekitar 4,5 juta hektar dimiliki Indonesia.

Kondisi mangrove di Indonesia semakin banyak mendapat tekanan, baik fisik maupun ekolgis. Masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk memelihara mangrove dan meningkatnya kebutuhan ekonomi menjadi pemicu terhadap penurunan luas dan kualitas hutan mangrove, katanya.

Sasmito Hadi menambahkan, mengrove memegang peranan penting melindungi lingkungan. Melindungi daratan dari abrasi gelombang laut dan juga sebagai pelindung alami dari terjangan tsunami. Menyusutnya luas hutan mangrove juga akibat pengolahan lahan untuk berbagai kepentingan (konversi), eksplotasi sumberdaya mangrove yang berlebihan dan pencemaran (polusi). Dengan kondisi demikian, diperlukan penanganan yang khusus untuk pelestariannya..

 Lomba Pidato

            Ada yang menarik dari ungkapan yang disampaikan Sasmito Hadi. Untuk memberdayakan dan mengajak peranserta masyarakat, di Bali awalnya dilakukan dengan sosialisasi secara langsung dan tidak langsung.

            Kegiatan yang pernah dilaksanakan antara lain, menyelenggarakan lomba pidato tentang  mangrove dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Jepang. Kebetulan Hatori itu punya darah seni dan senang melukis. Maka beberapa kali diselenggarakan lomba melukis tentang mangrove, mulai dari tingkat anak-anak, pelajar, mahasiswa, hingga orang dewasa. Lukisan itu, sekarang menjadi salah satu koleksi yang bergantungan di dinding museum mini MIC tersebut.

Bagi Kota Surabaya, sosialisasi dengan lomba pidato, lomba melukis, lomba foto dan menulis, bisa pula dilakukan. Apalagi, Pemkot Surabaya akan membuka jalur jalan sepeda dan jalan kaki menembus hutan mangrove itu. Di tengah hutan manrove itu didirikan menara (tower) yang dapat memantau  alam sekeliling. Melihat dan memotret keindahan alam sekitar. Dengan demikian, kawasan hutan mangrove difungsikan sebagai obyek wisata hutan dan pantai.

Gerakan menyayangi hutan mangrove, perlu ditularkan sejak dini kepada anak-anak, mulai tingkat Taman Kanak-kanak (TK), SD, SMP, SMA sampai mahasiswa perguruan tinggi. Di samping itu, perlu pula dimasyarakatkan secara umum, sehingga kawasan hutan mangrove itu bisa dijadikan obeyek rekreasi dan wisata alam.

Obsesi Walikota Surabaya, Bambang DH harus segera dapat diwujudkan, yaitu pembangunan jalan kayu di kawasan hutan mangrove untuk bersepeda dan jalan kaki. Pada hari-hari libur diadakan gerakan jalan kaki atau bersepeda mengelilingi kawasan hutan mangrove itu. Kecuali itu, di tempat-tempat tertentu dibangun menara pantau (tower) untuk umum yang cukup tinggi. Dari puncak menara itu pengunjung dapat menyaksikan keindahan alam Surabaya dan Selat Madura.  

Kerjasama dengan pihak pers, mediamassa dan perguruan tinggi dalam pengembangan hutan mangrove terus ditingkatkan. Dengan sistem kebersamaan dan terpadu itu, akan diperoleh berbagai masukan, ujar Hari Tjahjono. Untuk itu, diharapkan keberadaan hutan mangrove dengan segala aktivitasnya nanti akan dapat pula menambah salah satu sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah).

Nah, ini perlu dikaji, melalui sektor apa PAD itu dapat digali. Seandainya kawasan ini memang menarik, tetntu pemasang papan reklame, misalnya akan melirik. Berarti, salah satunya nanti akan ada pemasukan dari sektor pajak reklame, kata Hari yang mantan camat Tegalsari dan camat Wonokromo itu berandai-andai. ***.                                                                                                                                                                                                                                                           

10 November 1945

Surabaya Banjir Darah 

 

“Neraka Bagi Sekutu”

 

Oleh: Yousri Nur Raja Agam MH *)

Yousri Nur RA  MH

Yousri Nur RA MH

 

 

BERBEKAL pidato radio Gubernur Soerjo, Jumat 9 November 1945 malam, pemuda pejuang dan rakyat Surabaya sudah melakukan berbagai persiapan. Rakyat Surabaya sudah menafsirkan, penolakan terhadap ultimatum Sekutu oleh Gubernur Soerjo itu, berarti “perang”. Segala kekuatan harus dikerahkan menghadapi ancaman Sekutu tersebut.

Ultimatum pihak Sekutu yang disampaikan Komandan Tentara Sekutu, Jenderal EC Mansergh, benar-benar dilaksanakan, Sabtu pagi, 10 November 1945. Seluruh kekuatan angkatan perangnya, baik darat, laut dan udara dikerahkan menggempur pertahanan Arek Suroboyo di Kota Surabaya.

Walaupun terjadi pertempuran yang tidak berimbang, perlawanan dari pejuang Indonesia tidak pernah surut. Berbagai kesatuan pejuang dan laskar yang sudah membuat “Sumpah Kebulatan Tekad” tanggal 9 November 1945, malamnya, pada pagi hari 10 November itu sudah siaga di segala lini pertahanan.

 Pasukan pejuang sudah bersiap menghadapi senjata modern milik Sekutu yang baru saja memenangkan pertempuran dalam Perang Dunia II. Alat dan armada perang yang membuat Jepang bertekuk lutut di Asia dan Jerman bersama Italia di Eropa itu dipergunakan membombardir Kota Surabaya.

Kota Surabaya diserang dengan meriam-meriam yang ditembakkan dari armada kapal yang berelabuh di Tanjung Perak. Tank-tank dan panser, serta truk serdadu Inggris dan Gurkha bergerak dari Tanjung Perak menuju jantung Kota Surabaya. Tembakan mitraliur dan senapan mesin tiada henti dimuntahkan ke segala penjuru tempat pertahan Arek Suroboyo. Dari udara, pesawat terbang yang meraung-raung menjatuhkan bom ke gedung-gedung dan posko pertahanan pasukan kita.

Sesuai dengan kesepakatan rapat koordinasi yang dipimpin Kolonel Soengkono dari TKR sebagai Komandan Pertahanan Surabaya, membagi pertahanan Kota Surabaya dari empat sektor. Sektor barat dipimpin Koenkiyat, Sektor Tengah dipimpin Kretarto, Sektor Timur oleh Mahardi dan Sektor Selatan dipimpin Kadim Prawirodirdjo.

Pertempuran Surabaya ini berawal dari gerakan tentara Sekutu dari Tanjung Perak menuju tengah kota. Arak-arakan tank, panser dan truk itu dihadang oleh PRI-AL (Pemuda Republik Indonesia- Angkatan Laut) yang memiliki senjata ringan rampasan dari tentara Jepang di Jalan Jakarta, daerah Sawahpulo, Semampir dan Pegirian. PRI-AL ini dibantu oleh PRI Sulawesi yang tergabung dalam PRI Utara yang dipimpin Warrow dengan kekuatan sekitar 30 orang. Pasukan ini juga dibantu laskar Hisbullah yang berjumlah sekitar 50 orang.

Pasukan Inggris terus menyerbu ke pos pertahanan pemuda yang berjumlah sekitar 100 orang di sekitar bioskop Sampoerna dan komplek pabrik rokok Liem Sing Tee (Dji Sam Soe). Dengan tekad membara, pejuang yang berasal dari kampung Kebalen, Lebuan, Pesapen dan Tambak Bayan itu terus menembakkan senjatanya ke arah truk dan pasukan yang berjalan kaki.

Pukul 11.00 tentara Sekutu menembakkan destroyer cavalier sebanyak 57 kali meriam 45 inci. Begitu juga destroyer Carron sekitar 350 kali menggunakan meriam 45 inci. Tidak sedikit gedung di sepanjang jalan yang dilewati rusak akibat tembakan membabibuta itu.

Gerakan tentara Inggris dan Gurkha yang sudah terlatih itu terus menuju ke arah markas polisi (Hoofd Bureau) di Jalan Sikatan. Belasan pemuda gugur dan beberapa bagian gedung mengalami kerusakan akibat tembakan dan granat yang dilemparkan musuh. Gencarnya serangan yang dilakukan Sekutu, membuat pejuang kita mundur masuk ke kampung-kampung sekitar di seberang Kalimas.

Serangan Gila-gilaan

Mendapat serangan yang gila-gilaan itu, membuat pertahanan pemuda kacau. Mereka berlarian menyelamatkan diri, karena tidak mungkin melawan senjata modern itu. Kalau semula PRI-AL dapat bertahan di stasiun KA Sidotopo, akhirnya terpaksa mundur sampai ke daerah Kenjeran.

Para pemuda yang bertahan di sepanjang rel kereta api dari Pasarturi, viaduck dekat kantor gubernur sampai ke Sidotopo yang jumlahnya mencapai 400 orang itu, mampu membuat pasukan Inggris kalangkabut. Korban berjatuhan di kedua belah pihak.

Warga kota Surabaya, terutama anak laki-laki dan pemuda yang mendengar suara Bung Tomo yang terus menerus membakar semangat melalui corong radio yang disiarkan dari studio Radio Surabaya yang di zaman Belanda bernama NIROM di Jalan Embong Malang. Tanpa pikir panjang berhamburan dengan senjata yang mereka miliki ke luar rumah. Mereka bukannya menggunakan senapan atau senjata api, tetapi justru ada yang membawa keris, parang, pedang, bambu runcing, serta clurit.

Tindakan “konyol” itu membuat tentara Sekutu ketakutan akibat ada yang tewas kena gorok dan tusuk senjata tajam, namun pada umumnya kemudian mereka dihabisi oleh tembakan senapan mesin. Tubuh-tubuh bergelimpangan dan banjir darah di mana-mana.

Menurut komandan PI (Polisi Istimewa), Inspektur Soetjipto Danoekusumo, sejak pagi ia berkeliling dengan panser dan memberikan briefing (pengarahan singkat) di depan kantor besar polisi. Tiba-tiba, pesawat terbang Inggris menjatuhkan bom. Peluru kanon pasukan Sekutu itupun berjatuhan di sekitar kantor polisi. Belasan anggota PPI (Pembantu Polisi Istimewa) berguguran.

Pasukan Inggris terus maju, namun tidak mudah, karena jalan raya sudah dipasangi rintangan oleh para pemuda dengan menumbangkan pohon-pohon dan juga balok-balok kayu dan tumpukan batu.

Tidak hanya kantor besar polisi yang menjadi sasaran tentara Inggris, tetapi juga markas besar TKR di gedung HVA yang dipimpin Dr.Moestopo. Gedung Borsumij dan bekas kantor Kempetai yang dijadikan markas TKR pimpinan Jenosewojo juga digempur habis-habisan.

Wartawan senior, almarhum Wiwiek Hidayat dalam tulisannya di Harian Jawa Pos, 4 November 1990, mengungkap beberapa catatan berdasarkan pengamatannya sebagai seorang jurnalis. Tanggal 10 November 1945, menurut mantan kepala kantor berita Antara itu adalah prolog dan eposnya Arek-arek Suroboyo.

Pengertian arek ini “benar-benar arek”, karena para pejuang ini rata-rata memang “masih anak-anak muda” yang usianya 13 hingga 25 tahun. Mereka ini masih pelajar SMP hingga SMA yang bergabung dalam TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Di antaranya ada yang sudah kuliah di perguruan tinggi, bahkan sarjana seperti drg (dokter gigi) Moestopo, serta ada pula yang sudah dilatih sebagai tentara Heiho dan Peta. Di samping yang terbanyak adalah anak muda pengangguran.

Peristiwa 10 November ini benar-benar didominasi pemuda. Jadi, “gerakan” pemudalah yang sangat menonjol pada hari-hari pertama itu. Gerakan ini pada mulanya ada pada pemuda “salon” dan intelektual. Tetapi secara cepat berubah menjadi gerakan yang lebih radikal. Sehingga perlawanan terhadap Sekutu benar-benar tidak terkendali. Sampai-sampai pihak musuh kehilangan akal menghadapi tindakan sporadis dan membabibuta “ala bonek” itu, kisah Wiwiek suatu ketika kepada penulis.

Pertempuran yang diawali 10 November 1945 itu terus berlanjut. Pertahanan Arek Suroboyo semakin terdesak ke arah selatan. Sampai akhirnya, terjadi pengungsian ke luar kota. Kalau semula garis pertahanan adalah viaduck dan jalan kereta api dari Sidotopo hingga Pasarturi, akhirnya mundur sampai ke Ngagel, Wonokromo, Gunungsari hingga Sepanjang, bahkan Mojokerto.

Bagaimanapun juga, perjuangan Arek Suroboyo membuat Sekutu kalangkabut. Berita di mediamassa luar negeri, ternyata memberikan salut kepada pejuang Indonesia di Surabaya. Sejak Mallaby tewas, kemudian perang berkecamuk dari darat, laut dan udara, seolah-olah merupakan kelanjutan dari Perang Dunia II. Artinya, Perang Dunia II belum berakhir dengan kekalahan Jepang, Jerman dan Italia. Sekutu masih punya lawan berat sebagai musuh, yaitu Arek Suroboyo.

Perang di Surabaya ini hingga sekarang masih diabadikan di Imperial War Museum di London, Inggris. Ada sebuah foto yang menarik, anak usia sekitar 11 tahun digiring oleh serdadu Gurkha dengan bayonet terhunus. Penjelasan foto itu adalah: “Anak ini tertangkap setelah terkena tembakan pada kakinya dan pincang. Sebelumnya anak ini menembaki tentara Sekutu dan melemparkan granat”.

Ini adalah laporan sebuah regu dari pasukan Sekutu di Surabaya. Ada lagi sebuah foto, dua orang serdadu Inggris sedang menggali tanah untuk perlindungan dari serangan hebat pejuang Surabaya. Di belakang ke dua tentara itu asap hitam menjulang ke udara, dari rumah penduduk yang terbakar. Dan masih banyak foto-foto lain yang menggambarkan kejuangan Arek Suroboyo yang diabadikan di museum perang Inggris itu.

Siang malam pertempuran berlangsung tiada henti. Bantuan dari pemuda dan laskar juga terus berdatangan dari luar kota. Ada yang naik truk, berjalan kaki dan menumpang kereta api. Tanpa disadari tidak kurang 16 ribu nyawa pejuang melayang sebagai kusuma bangsa. Surabaya benar-benar banjir darah. DI mana-mana mayat bergelimpangan.

Kota Neraka

Korban di pihak Inggris pun tidak sedikit. Sampai-sampai dalam catatan sejarah Inggris, menulis pertempuran 10 November 1945 di Surabaya itu benar-benar perang dahsyat luar biasa. Mereka menyebut Kota Surabaya sebagai “inferno” atau kota “neraka” bagi pasukan Inggris.

Bagi Bangsa Indonesia, para pejuang yang gugur dalam pertempuran itu diberi predikat sebagai pahlawan bangsa. Mereka dimakamkan di berbagai TPU (Taman Pemakaman Umum), seperti di Ngagel, Tembok, Pegirian, Tembaan, serta makam umum lainnya di kampung-kampung Surabaya. Banyak di antara mereka adalah pahlawan tidak dikenal.

Kesibukan luar bisa terjadi di Rumah sakit, karena banyak pejuang yang terluka. Sementara yang meninggal dunia, bergelimpangan di jalan-jalan dan gang kampung. Tidak hanya kaum laki-laki yang bergerak, kaum perempuan yang bergabung dalam PPRI (Pemuda Puteri Republik Indonesia) Surabaya juga terjun ke medan pertempuran. Di bawah pimpinan ketua PPRI Surabaya, Lukitaningsih, terhimpun sekitar 60 puteri yang disebar menjadi petugas kesehatan dan palang merah. Mereka ini berusaha menyelamatkan korban yang terluka ke rumah-rumah penduduk, di samping mendirikan pos-pos perawatan.

Sebagian yang terluka parah diangkut ke Rumah Sakit Simpang. Sekarang RSU Simpang sudah tidak berbekas, dan di atasnya sudah berdiri gedung WTC (World Trade Center), Gedung Medan Pemuda dan Plaza Surabaya.

Begitu banyaknya korban, lebih dari seribu orang yang rawat inap, maka dokter Sutopo yang manangani korban, terpaksa kontajk dan minta bantuan dokter ke Jakarta dan kota-kota di Jawa Timur. Dari Jakarta datang bantuan tim dokter dan mahasiswa kedokteran yang dipimpin oleh dr.Azis Saleh. Mereka bergabung dengan tim medis di Surabaya. Karena ruang di RSU Simpang dan rumah sakit lainnya di Surabaya sudah penuh, maka dengan bantuan PMI (Palang Merah Indonesia), sebagian pasien dikirim ke rumah sakit di Sidoarjo, Mojokerto, Mojowarno, Jombang dan Malang. Mereka diangkut dengan kereta api dari stasiun Gubeng. Ada juga yang diangkut dengan truk maupun cikar.

Korban yang gugur terus bertambah. Walikota Surabaya Radjamin Nasution, menggagas perlunya TMP (Taman Makam Pahlawan) untuk para pejuang yang gugur. Dijadikanlah lapangan Canna di Jalan Canna (sekarang Jalan Kusuma Bangsa) yang terletak di depan THR (Taman Hiburan Rakyat) menjadi TMP. Untuk pertamakalinya dimakamkan sebanyak 26 orang korban pertempuran di Surabaya yang jenazahnya diambil dari Rumah Sakit Umum (RSU) Simpang. Korban yang gugur bertambah terus. Dalam waktu singkat TMP di Jalan Canna, diubah namanya menjadi TMP Kusuma Bangsa dan Jalan Canna menjadi Jalan Kusuma Bangsa.

Pertempuran seru berlangsung sampai sampai akhir November 1945. Para pejuang tidak lagi menghitung hari, sebab mereka sibuk bertempur melawan Sekutu. Surabaya menjadi neraka. Inferno bagi Inggris. Namun menjadi kawah candradimuka bagi pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Perang yang “dahsyat” berlangsung selama 20 hari di Surabaya ini menjadi catatan bagi dunia, khususnya Sekutu dan Inggris. Bahkan, bagi bangsa Indonesia, peristiwa heroik di Surabaya ini tidak akan pernah dilupakan. Sejarah mencatat dan mengabadikannya sebagai “Hari Pahlawan” yang diperingati setiap tanggal 10 November. Dan, Kota Surabaya memperoleh predikat sebagai “Kota Pahlawan”. ***

 

*) Yousri Nur Raja Agam MH – pemerhati sejarah, bermukim di Surabaya