100 Pahlawan Nasional Belum Diabadikan di Surabaya

Oleh: HM Yousri Nur Raja Agam

SELAIN nama Proklamator Sukarno-Hatta dan Roeslan Abdulgani, petinggi Kota Surabaya bersama DPRD-nya seharusnya tergerak hatinya untuk mengabadikan seluruh nama Pahlawan Nasional dan “orang yang berjasa” kepada bangsa dan Kota Surabaya ini.

Walaupun terlambat, kita harus berbuat. Sebagai Kota Pahlawan tentu Surabaya “wajib” menghormati para pahlawan, terutama Pahlawan Nasional – pahlawan yang telah disahkan dengan Surat Keputusan Presiden RI (Keppres) – serta pahlawan lokal yang digolongkan sebagai orang yang berjasa di daerah.

Pemerintah sudah menetapkan dengan Keppres sebanyak 118 nama sebagai pahlawan nasional, pahlawan perjuangan nasional, pahlawan pergerakan nasional, pahlawan kemerdekaan nasional, pahlawan pembela kemerdekaan, pahlawan revolusi, pahlawan Ampera dan pahlawan pembangunan.

Setiap tahun, pemerintah terus mendata dan menerima masukan dari masyrakat tentang tokoh yang diajukan untuk ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Nama-nama tokoh perjuangan di berbagai daerah sekarang “antre” menunggu pengesahan. Namun, Pemerintah Kota Surabaya termasuk yang kurang aktif mengusulkan nama-nama calon pahlawan nasional.

Selain sebagai Kota Pahlawan, Surabaya juga terkenal sebagai kota tempat kelahiran beberapa tokoh nasional Budi Utomo, yakni Dr.Sutomo. Sehingga, setiap peringatan Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei, Surabaya menjadi salah satu pusat kegiatan. Sebab, di Jalan Bubutan Surabaya, terletak makam Dr.Sutomo.

Di Kota Surabaya pula lahir, besar dan berjuang beberapa pahlawan nasional, seperti HOS Tjokroaminoto, KH Mas Mansur, Dr.Ir.H.Sukarno, RMTA Suryo (Gubernur Suryo), Marsda Anumerta Iswahyudi dan Letjen Anumerta MT Haryono. Dan, dua nama besar yang juga bersemayam dan dimakamkan di Kota Pahlawan Surabaya adalah Drs.Sutomo dari Gerakan Budi Utomo dan Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Kendati beberapa nama besar yang juga layak disebut sebagai pahlawan nasional, tetapi belum juga memperoleh Keppres. Di antara nama yang seharusnya sudah memperoleh julukan pahlawan nasional adalah: Sutomo (Bung Tomo), Mayjen Prof.Dr.Mustopo, Mayjen Sungkono, Mayjen HR Muhammad Mangunprodjo, Residen Sudirman, Letjen H.Sudirman, Jenderal Kehormatan (Hor) Prof.Dr.H.Roeslan Abdulgani dan masih banyak nama lain yang berjasa dalam peristiwa 10 November 1945.

Selain nama Kombes Pol M.Duryat yang merupakan pahlawan dari Kepolisian RI (Polri), ada beberapa nama besar yang juga layak diabadikan di Kota Pahlawan ini. Nama Kombes Pol M.Duryat yang tewas dibunuh pemeberontak PKI bersama Gubernur RT Suryo, diabadikan di Surabaya menjadi nama jalan antara Jalan Basuki Rahmat dengan Jalan Kedungsari.

Polisi Istimewa merupakan kebanggaan Arek Suroboyo di tahun 1945. Sebab, keberadaan Polisi Istimewa yang merupakan cikal-bakal Brigade Mobil (Brimob) itu lahir di Surabaya. Di balik itu ada nama Moehammad Jasin, pimpinan Polisi Istimewa yang kemudian menjadi Komandan Brimob Jatim.

Untuk tahap awal, Pemkot Surabaya belum mengabadikan nama-nama pahlawan dari kepolisian sebagai nama jalan. Tetapi, tetapi cukup nama kesatuannya saja, yakni Jalan Polisi Istimewa yang mengambil nomor awal (1-19 dan 2-32) Jalan Dr.Sutomo mulai dari Jalan Dinoyo sampai perempatan Jalan Darmo.

Penetapan nama Jalan Polisi Istimewa ini bersamaan dengan penetapan Jalan Mas TRIP sebagai pengganti Jalan Raya Kedurus, Jalan Tentara Geni Pelajar (TGP) perubahan Jalan Patua dan Jalan BKR Pelajar yang memotong Jalan Jimerto bagian timur mulai pesimpangan Jalan Jimerto dengan Jalan Wijaya Kusuma.

Perlu Dikoreksi

Nama-nama jalan di Surabaya perlu dikoreksi dan diubah, tidak hanya berdasar “selera pengusaha pengembang (real estate)”, tetapi berdasarkan keberanian Pemkot Surabaya untuk menetapkannya. Kita harus mulai sekarang, tidak perlu ditunda lagi.

Kalau sebagian masyarakat Surabaya keberatan mengubah nama-nama jalan di pusat kota di sekitar Jalan Tunjungan menjadi nama-nama pahlawan, karena keterkaitannya dengan sejarah Surabaya, maka alternatif harus dicari. Sekali lagi, nama-nama Pahlawan Nasional dan “orang yang berjasa” harus segera diabadikan di Kota Pahlawan Surabaya ini.

Mungkin, kawasan Dharmahusada Indah, Manyar Kertoarjo, Kertajaya Indah, Prapen, Jemursari dan Kendangsari dapat dijadikan sebagai “proyek percontohan”.

Kendati kawasan elite di Surabaya Timur itu teratur, namun sistem penomorannya masih belum seragam. Ada yang sudah berpatokan kepada jalan raya yang di kiri bernomor ganjil dan kanan bernomor genap, tetapi secara umum sistem blok masih dipertahankan. Nantinya, kalau nama jalan itu berdasarkan nama pahlwan, tentu sistem blok akan dengan sendirinya terlupakan.

Beranikah Pemkot Surabaya berhadapan dengan pengembang yang membangun kawasan itu, juga warganya. Sebab, bagaimanapun juga untuk mengubah nama jalan perlu pengorbanan dan ada yang menjadi korban. Pengertian korban di sini adalah, perubahan berbagai administrasi, mulai KTP, KK, surat-surat penting lainnya, termasuk berbagai surat yang berkaitan dengan hukum.

Perubahan nama jalan memang bukan yang tidak biasa dilakukan. Jadi, kalau ada kemauan dan kebersamaan dengan semua pihak, niscaya perubahan nama jalan dapat dilaksanakan tanpa hambatan. Memang, untuk itu perlu ada sosialisasi yang tidak akan menimbulkan gejolak, apalagi di era reformasi ini.

Apabila “proyek percontohan” ini dapat dilaksanakan, maka banyak nama jalan lain di Surabaya yang perlu diubah menjadi nama pahlawan dan “orang yang berjasa”. Misalnya kawasan sekitar Balaikota, nama jalannya diubah menjadi nama-nama mantan walikota, seperti nama Jalan Walikota Mustajab yang sebelumnya bernama Ondomohen. Jalan Sedap Malam, Jalan Jimerto, Jalan Pacar, Jalan Kecilung, Jalan Ngemplak dan Jalan Ambengan, bisa diganti.

Nama-nama mantan gubernur Jatim, selain Gubernur Suryo, juga banyak yang layak diabadikan. Misalnya Gubernur Samadikun. Kota Malang dan Sidoarjo, bahkan sudah mengabadikan nama Gubernur Sunandar Prijosoedarmo sebagai nama jalan. Nah, di Surabaya, nama-nama mantan gubernur Jatim dapat diabadikan mengganti nama jalan yang berawal embong, seperti Embong Trengguli, Embong Wungu, Embong Sawo, Embong Tanjung dan lain-lain.

Sebenarnya apa yang dilakukan pimpinan TNI-AL yang menetapkan nama-nama pahlawan khusus di TNI-AL di kawasan perumahan TNI-AL Kenjeran patut ditiru. Saat perumahan itu dibangun, nama jalannya langsung ditetapkan dengan nama-nama para prajurit TNI-AL yang gugur dalam peperangan.

Pahlawan Nasional

Nah, mari kita simak dari nama-nama Pahlawan nasional di bawah ini, baru berapa nama yang diabadikan di Kota Pahlawan Surabaya. Dimulai dengan Pahlawan Proklamator Sukarno-Hatta dan kemudian nama pahlawan itu kita urut berdasarkan abjad, yakni: Abdul Muis, Abdul Rahman Saleh (Marsda, Prof,Dr), Adi Sucipto (Marsda), Ageng Serang (Nyi), Agus Salim (Haji), Ahmad Dahlan (KH), Ahmad Yani (Jenderal), Albertus Sugiopranoto (dr), Antasari (Pangeran), Arie Frederik Lasut.

Berikutnya: Bagindo Azischan, Basuki Rahmat (Jenderal), Cipto Mangunkusumo (dr), HOS Cokroaminito, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Dewi Sartika, Diponegoro (Pangeran), Donald Ifak (DI) Panjaitan (Mayjen), Fachruddin (KH), Fatmawati Sukarno, Ferdinand Lumban Tobing (dr), Frans Kaisiepo, Gatot Subroto (Jenderal), Halim Perdanakusuma (Marsda), Harun bin Said (Kopral KKO), Sultan Hasanuddin, Hasyim Asyari (KH), Ki Hajar Dewantara.

I Gusti Ngurah Rai (Kolonel), I Gusti Ketut Jelantik (Patih), Iswahyudi (Marsda), Juanda Kartawijaya (Ir,H), Karel Satsuit Tubun (AIP), Kartini (Raden Ajeng), Katamso Dharmokusumo (Brigjen), Kusuma Atmadja (DR,SH), Maria Walanda Maramis, Martha Khristina Tiahahu, Marthen Indey, Mas Mansur (KH), Muhammad Husni Thamrin, Muhammad Yamin ( Prof, SH), MT Haryono (Letjen), Muwardi (dr), Nuku Muhammad Amiruddin Kaicil Paparangan

Otto Iskandardinata, Pakubuwono VI, Pangeran Sambernyawa, Pattimura (Kapten), Piere Tandean (Kapten), Raden Inten II, Raden Saleh, Rasuna Said (Rangkayo,Hajjah), RE Martadinata (Laksamana), Sahardjo (dr,SH), Samanhudi (KH), Sam Ratulangi (dr), Setiabudi (dr, Douwes Dekker atau Danu Dirjo), Silas Papare, Si Singamangaraja XII, Siswondo Parman (Letjen), Siti Walidah (Hj, Nyi Ahmad Dahlan).

Sudirman (Jenderal), Sugiono Mangunwiyoto (Kolonel), Suharso (Prof,Dr) Sukarjo Wiryopranoto, Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Agung Anyorokusumo, Sultan Iskandar Muda, Sultan Mahmud Badaruddin II, Sultan Thoha Syafiudin, Supeno, Supomo (Prof,Dr,SH), Suprapto (Letjen), Supriyadi, Suroso (Raden Panji), Suryo Pranoto (RM), Suryo (RM, Gubernur), Sutan Syahrir, Sutomo (dr), Sutoyo Siswomiharjo, Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Teuku Nyak Arif, Teuku Umar, Tengku Amir Hamzah, Tengku Cik Ditiro, Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai, Untung Surapati, Urip Sumoharjo (Letjen), Usman bin M.Ali (Serda KKO), Wage Rudolf Supratman, Wahid Hasyim (KH), Wahidin Sudirohusodo (dr) WZ Yohannes (Prof,Dr), Wolter Robert Monginsidi, Yosaphat Sudarso (Laksda), Yusuf Tajul Khalwati (Syekh), Zaenal Mustafa (KH), Zainul Arifin (KH).

Nah, dari nama-nama pahlawan nasional itu, baru beberapa nama yang diabadikan di Kota Pahlawan Surabaya ini. Sungguh memprihatinkan. ***

3 Tanggapan

  1. Alhamdulillah, Yo baitu sanak. Bak pasan inyiak jo mai gaek di kampuang:
    Dima tanah dipijak di sinan langik dijunjuang. InsyaAllah ambo mancubo mancari nan ado di tanah parantauan iko. Saketek digadangkan, satitiak dilauikkan, kok picak dilayangkan, nan bulek digolongkan. Yo baitu sanak. Mauh jo sambah, ambo susun jari na sapuluah. (yousri)

  2. I am really grateful to the holder of this web page who has shared this impressive
    article at at this time.
    —————–
    I also say thank you for visiting my blog (Yousri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: