Titik Nol (KM-O) Kota Surabaya Sejajar dengan Tugu Pahlawan

Oleh: HM Yousri Nur Raja Agam

KANTOR Gubernur Jawa Timur di Jl. Pahlawan 110 Surabaya

KANTOR Gubernur Jawa Timur di Jl. Pahlawan 110 Surabaya

KOTA PAHLAWAN, adalah julukan utama Kota Surabaya. Julukan Kota Pahlawan untuk Surabaya itu dianugerahkan langsung oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir.H.Soekarno, tanggal 10 November 1950. Penganugerahan julukan Kota Pahlawan kepada Surabaya merupakan wujud sejarah bagaimana Arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia yang sudah diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Terjadinya berbagai rentetan peristiwa yang mencapai puncaknya dalam pertempuran heroik 10 November 1945.

Untuk menandai Surabaya sebagai Kota Pahlawan, Presiden Soekarno juga memancangkan bukti monumental di kota ini, yakni didirikannya sebuah tugu yang bernama Tugu Pahlawan.

Ternyata, sejajar dengan Tugu Pahlawan, di seberang jalan terdapat patok batu penanda Titik Nol atau Kilometer Nol Kota Surabaya. Dulu, di saat Pemerintahan Herman Willem Daendels, KM-O Kota Surabaya itu, sebagai penanta jarak dengan kabupaten dan kota lain di Pulau Jawa.

Pal atau patok batu penanda Kilometer O Surabaya yang ditulis “S.BAJA – O” atau S.BAYA-O itu terletak di depan Kantor Gubernur Jawa Timur, di Aloon-aloon Straat atau Jalan Alun-alun yang kini bernama Jalan Pahlawan 110 Surabaya. Setelah, gedung kantor gubernur dipagar, patok batu penanda kilometer itu tidak lagi berada di pinggir jalan raya, tetapi berada di balik pagar. Akibatnya, patok KM-O Surabaya itu, tersembunyi di bawah pohon rindang yang ditanam di halaman gedung yang dibangun tahun 1930 itu.

Sebenarnya, patok KM-O Surabaya itu, milik DPU (Dinas Pekerjaan Umum) Kota Surabaya, namun karena patok batu itu terletak di halaman kantor gubernur, maka kurang mendapat perhatian. Apalagi, selama ini patok KM-O itu, tidak begitu mendapat perhatian bagi masyarakat. Padahal di beberapa kota di Indonesia, bahkan di luar negeri patok KM-O itu tidak jarang dijadikan obyek wisata. Sampai-sampai ada pemerintah kota yang mempunyai semboyan “Belumlah anda datang ke kota kami, apabila anda belum berada di KM-O kota ini”.

Kota Bandung, salah satu kota di Indonesia yang memperhatikan keberadaan Titik Nol atau KM-O itu. Patok Titik Nol Bandung yang disingkat BDG itu berada di depan Hotel Savoy Homann, Jalan Asia Afrika. BDG-O ini menjadi penentu jarak Kota Bandung dengan kota-kota lain di Pulau Jawa. Bahkan, juga dikaitkan dengan wilayah Indonesia, ke Barat Pulau Sumatera dan ke Timur sampai ke Kalimantai, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Irian Barat (Papua).

Kota Bukittinggi di Sumatera Barat lebih asyik lagi. Titik Nol kota yang di zaman Belanda bernama Ford de Kock itu, ditandai dengan bangunan tugu Jam Gadang atau Jam Besar. Adanya, Jam Gadang ini, Bukittinggi yang pernah menjadi ibukota Provinsi Sumatera dan Sumetera Tengah itu, juga dijuluki Kota Jam Gadang. Kalau Kota Bandung dijuluki juga Paris van Java, maka Kota Bukittinggi dijuluki Paris van Sumatera. Karena, ke dua kota ini sama-sama berada di ketinggian dan berudara sejuk.

Selain kota-kota yang mempunyai patok KM-O, negara Republik Indonesia juga mempunyai Titik Nol yang disebut Kilometer O Indonesia, di Kota Sabang, Pulau Weh, Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang sekarang disebut Aceh Darussalam. Kilometer O Indonesia itu, selain di Kota Sabang, juga ada di Kota Merauke, Papua. Sehingga, dengan demikian, Titik Nol Indonesia itu membentang dari barat ke timur, sesuai dengan lagu wajib kita “Dari Sabang sampai Merauke”. Penanda Titik Nol ini adalah bangunan tugu yang dari jauh terlihat bulatan menyerupai angka O (nol).

Tempat berdirinya Tugu Pahlawan sekarang ini, dulu pernah berdiri gedung Pangadilan Tinggi yang disebut Raad Van Jutitie si zaman Kolonial Belanda. Sewaktu Jepang berkuasa, gedung ini digunakan sebagai Markas Polisi Militer atau Kenpetai. Namun, gedung itu hacur, dibumihanguskan saat perang seputar 10 November 1945. Nah, di atas lahan bekas gedung Kenpetai itulah, atas petunjuk Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir.H.Sukarno, akhirnya didirikan Tugu Pahlawan tahun 1951 dan selesai tahun 1952.

Presiden Sukarno memberi julukan kepada Kota Surabaya, Kota Pahlawan. Kalau dilihat, Surabaya memang banyak julukan dan predikat selain Kota Pahlawan. Surabaya pernah berjuluk kota Indamardi. Singkatan dari: Industri, Perdagangan, Maritim dan Pendidikan. Singkatan Indamardi kemudian dipopolarkan lagi menjadi Budi Pamarinda, kepanjangannya:Budaya, Pendidikan, Pariwisata, Maritim, Industri dan Perdagangan. Jadi, antara Indamardi dengan Budi Pamarinda sebenarnya sama. Hanya, penekanan Budaya dan Pariwisata lebih ditonjolkan, sehingga kedudukan budaya dan pariwisata di Kota Surabaya, sejajar dengan Indamardi.

Selama ini, budaya hanya dijadikan sebagai bagian dari pendidikan. Masalah budaya di Surabaya mungkin banyak yang terabaikan, sehingga diperlukan adanya penekanan pada kata budaya. Adanya penonjolan kata budaya dalam selogan kota ini, maka unsur budaya perlu digali lebih mendalam dan dikembangkan.

Begitu pula halnya dengan pariwisata, selama ini dunia usaha kepariwisataan di Surabaya dijadikan atau dianggap sebagai bagian dari industri, yakni industri jasa kepariwisataan. Namun, berdasarkan pandangan dan kacamata orang-orang pariwisata, kegiatan kepariwisataan merupakan disiplin tersendiri yang mencakup berbagai aspek.

Tidak hanya Budaya dan Pariwisata yang dijadikan pelengkap julukan Kota Surabaya, tetapi juga kata “Garnizun”. Sehingga pernah pula diusulkan julukan tambahan Surabaya dari Indamardi, menjadi Indamardi Garpar (Garnizun dan Pariwisata). Pengertian Garnizun, menyatakan bahwa di Kota Surabaya ini lengkap dengan seluruh kesatuan militer. Di sini terdapat pangkalan dan kegiatan operasional TNI-Angkatan Darat, TNI-Angkatan Laut dan TNI-Angkatan Udara, di samping juga Kepolisian.

Surabaya juga berjuluk kota Adipura Kencana. Julukan yang pernah disandang kota Surabaya pada tahun 1980-an hingga akhir 1990-an. Adipura Kencana adalah sebuah predikat untuk kota terbersih di Nusantara. Memang, pada tahun 1992, 1993 dan 1995, Surabaya pernah mendapat anugerah piala ”Adipura Kencana” dari Pemerintah Pusat sebagai Kota Raya “terbersih”. Sebelum memperoleh Adipura Kencana, Surabaya memperoleh piala Adipura lima kali berturut-turut tahun 1988, 1989, 1990, 1991 dan 1992. Tetapi, status Surabaya sebagai kota raya terbersih di Indonesia, sempat sirna dan merosot tajam. Namun sekarang, predikat itu kembali diraih, bahkan Surabaya bukan lagi sekedar kota terbersih, tetapi juga kota yang indah dan nyaman dengan “sejuta taman”. Di mana-mana bersih, hijau dengan taman-taman yang indah.

Apabila digali aktivitas yang ada di Kota Surabaya ini, tidak terlepas dari semua julukan itu. Namun, julukan sebagai “Kota Pahlawan” dinilai paling istimewa. Sebab, tidak ada kota di Indonesia ini yang dijuluki “Kota Pahlawan”, kendati hampir seluruh kota di Indonesia mempunyai semangat heroik dan perjuangan kepahlawanan.

Seyogyanya para petinggi di Kota Pahlawan ini benar-benar menghayati arti dari julukan itu. Pengertian kepahlawanan di Kota Pahlawan Surabaya ini seharusnya tercermin dalam berbagai hal. Baik ciri, penampilan yang khas, serta watak dan wujud nyata dari kota ini. Artinya, saat memasuki Kota Surabaya, kesan pertama bagi orang yang belum pernah ke Surabaya, adalah nuansa kepahlawanan itu.

Sebenarnya itulah yang diinginkan oleh Dwitunggal Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, Soekarno-Hatta. Mereka berdua, sebagai saksi sejarah tentang semangat kepahlawanan Arek-arek Suroboyo dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di tahun 1945.

Bung Karno juga terkesan dengan peristiwa perobekan bendera di Hotel Orange atau Hotel Yamato di Jalan Tunjungan yang dikenal dengan “insiden bendera” tanggal 19 September 1945. Apalagi sejak saat itu, kegiatan perlawanan masyarakat Surabaya terhadap penjajah dan kaum kolonial semakin hebat dan gigih, maka tak pelak lagi Bung Karno dan Bung Hatta, langsung datang ke Surabaya. Hingga terjadi puncak perjuangan Arek Suroboyo, pada tanggal 10 November 1945.

Lima tahun kemudian, kesan Bung Karno terhadap Surabaya semakin mendalam. Ide pembangunan Tugu Pahlawan di Kota Surabaya, langsung mendapat perhatian Bung Karno. Untuk pertama kali di tahun 1950, Bung Karno menetapkan 10 November sebagai “Hari Pahlawan”. Sekaligus, Surabaya mendapat predikat “Kota Pahlawan”.

Julukan sebagai Kota Pahlawan, juga dikaitkan dengan sejarah Surabaya. Sewaktu tahun 1293, lebih 700 tahun atau tujuh abad yang silam, Raden Wijaya dari Kerajaan Majapahit berjuang mengusir Tentara Tartar yang dipimpin Khu Bilai Khan, tidak lepas dari peranserta rakyat Surabaya yang waktu itu masih bernama Hujunggaluh.

Nah, karena kepahlawanan sudah menjadi ciri Kota Surabaya, perlu dilakukan koreksi total, sehingga julukan Kota Pahlawan bagi Surabaya tidak ditelan oleh kehidupan masyarakat modern. Peninggalan sejarah tentang kepahlawanan Arek Suroboyo ini patut dilestarikan.

Selain itu, layak pula Kota Surabaya dijadikan “kamus kepahlawan”. Dengan berjuluk Kota Pahlawan, maka dunia dapat merujuk arti dan makna kepahlawanan dari Surabaya secara utuh. Misalnya, jika kita ingin mengetahui siapa-siapa saja Pahlawan Nasional, bahkan “pahlawan dunia”, nama itu ada di Surabaya.

Museum pahlawan yang terdapat di Taman Tugu Pahlawan, belum banyak berbicara tentang sejarah kepahlawanan Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Untuk itu, perlu disempurnakan dan lebih dilengkapi dengan berbagai koleksi sejarah.

Sepatutnya pula, nama-nama pahlawan nasional, serta mereka yang berjasa dalam perjuangan dan mengisi kemerdekaan ini diabadikan di Kota Pahlawan Surabaya. Kita tahu, dari buku pelajaran sejarah di sekolah, hingga akhir tahun 2006 lalu, sudah tercatat 118 nama Pahlawan Nasional. Namun, baru 29 nama Pahlawan Nasional yang diabadikan sebagai nama jalan di Kota Surabaya. Seyogyanya nama-nama pahlawan itu diabadikan selain untuk nama jalan, juga nama taman atau tempat monumental lainnya.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. pak tllong d tulis jgha tentang surabaya indamardi untuk menambah pengetahuan ank” smpe jaman sekarng pak terimaksihh…
    ——————
    Terimakasih dik, saya sudah tulis rincian tentang Surabaya Indamardi. Surabaya sebagai Kota Industri, Kota Perdagangan, Kota Maritim dan Kota Pendidikan. Malah dalam tulisan saya di Blog ini, saya uraikan pula tentang Budi Pamarinda (Budaya, Pendidikan, Pariwisata, Maritim, Industri dan Perdagangan).
    Ada juga tulisan saya tentang Surabaya “Multi Juluk” (banyak julukan) di samping Kota Pahlawan dan Indamardi atau Budi Pamarinda, masih ada 11 julukan lain. (Yousri)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: