XIAMEN SISTER CITY SURABAYA

Berguru ke Negeri China:

Sumber Air Minum Kota Xiamen

Juga dari Sungai Seperti Surabaya

Yousri Nur RA  MH

Laporan: Yousri Nur Raja Agam  MH

PERJALANAN jurnalistik ke negeri China, akhir pekan di Bulan Juni 2012, memang lebih menarik. Penerbangan langsung dari Bandara Juanda Surabaya di Sidoaro ke Hongkong dengan pesawat terbang Cathay Pasific CX 780  memakan waktu 4 jam 45 menit. Setelah mendarat di bekas koloni Inggris, Hongkong, penerbangan berlanjut ke kota Beijing dengan kapal terbang Dragon Air KA 902. Tiga jam 20 menit melangit di atas awan Negeri Tirai Bambu itu, pesawat kami kemudian mendarat di Bandara Beijing.

Di kota, yang penerbangannya  paling sibuk di dunia itu, selusin wartawan Kota Surabaya, melakukan karyawisata pers. Sebagaimana umumnya turis dari mancanegara maupun lokal, melancong ke tembok panjang (great wall) China sangat mengesankan. Begitu pula saat berada di tengah kota Beijing, di sekitar Tiananmen. Banyak gedung kuno dan bersejarah di sekitar lapangan yang dikenal saat terjadi revolusi peralihan rezim Mao Zhedong (Mao Tse Tung) ke penguasa Deng Xiaoping tahun 1990-an.

Nanis Chairani

Kendati bulan akhir Juni itu sudah memasuki musim panas, kami mendapatkan cuaca berbeda. Pagi hari udara berkabut dan gerimis, kemudian hujan turun cukup lebat. Secara otomatis masyarakat Tiongkok mengembangkan payung dan ada yang mengenakan jas hujan. Dalam suasana yang sejuk itu kami menjelajahi kawasan Tiananmen, melihat peninggalan dinasti-dinasti zaman dulu.

Kita dapat menyaksikan kebesaran Tiongkok zaman dulu melalui Monumen Perjuangan Rakyat, Museum Nasional China,  Gedung Memorial Ketua Mao Zedong,  Pertunjukan seni layar lebar di tengah lapangan Tiananmen. daerah yang disebut Kota Terlarang (Forbidden City) dan masih banyak lagi yang lain.

Lepas dari melihat berbagai obyek wisata selama dua hari dua malam di ibukota RRC (Republik Rakyat China) itu, kami terbang ke  Kota Xiamen. Terbang dari Beijing pukul 06.55 waktu setempat dengan pesawat terbang Xiamen Air nomor penerbangan MF 8170, kami mendarat di Bandara Kota Xiamen pukul 09.40. Kota Xiamen adalah  salah satu di antara dua Kota Kembar Surabaya di China, di samping Guangzhow.

Kota Xiamen berada di Provinsi Fujian, China Selatan ini berada di pinggir laut menghadap negara tetangga Taiwan. Konon dari wilayah inilah asal-usul dan leluhur terbanyak para Taipan atau China perantauan yang ada di Indonesia.

Pengelolaan Air Minum

Xiamen sebagai kota kembar atau sister city Surabaya memang sudah lama membina hubungan kerjasama antarpemerintahan. Untuk meningkatkan kerjasama itu, berbagai masalah yang mempunyai banyak persamaan dibahas dalam berbagai perjanjian. Di antaranya masalah pendidikan, budaya, pariwisata,  industri dan kegiatan usaha, serta maritim (kepelabuhanan).

Pelabuhan samudera Kota Xiamen yang cukup besar itu menghadap ke laut lepas berbatasan dengan negara tetangganya Taiwan. Banyak kemiripan, antara Kota Surabaya dengan Kota Xiamen di segi kemaritiman. Sehingga, di samping ada kerjasama antarkota Surabaya dengan Xiamen, juga ada kerjasama antara Surabaya Port (Tanjung Perak) dengan Xiamen Port.

Ada dua sasaran pokok, selusin wartawan yang didampingi Kabag Humas Pemkot Surabaya, Dra.Nanis Chairani,MM ini ke Kota Xiamen. Pertama studibanding pengelolaan Air Minum dan yang kedua penataan cagar Budaya di Kota Xiamen. Memang dua hal itu, cukup menarik untuk dijadikan “guru” bagi kota Surabaya. Tidak dapat disangkal, bahwa pengelolaan air minum untuk warga kota yang dilakukan PDAM Kota Xiamen bersama Xiamen Water Group Co.Ltd layak untuk “ditiru”.

Mr. Wang Quang Ming (baju putih)

Sebelum berangkat ke China, kami yang akan melaksanakan tugas jurnalistik mendapat bekal tentang pengelolaan air minum di Surabaya oleh Direktur Utama PDAM (Perausahaan daerah Air Minum) Kota Surabaya, Drs.H.Ashari Mardiono. Kami memperoleh gambaran umum dan teknis tentang PDAM Surabaya, sejak produksi sampai distribusi.

Banyak persamaan yang mungkin bisa dikaji. Sama dengan Kota Surabaya, hampir 80 persen sumber air minum di Xiamen juga berasal dari air sungai. Kalau di Surabaya, sumbernya dari Kali Surabaya, di Xiamen dari Sungai Jiulong. Apabila di Surabaya ada sumber air yang berasal dari mataair Umbulan dan Pandaan sekitarnya, di Xiamen  juga dari dua titik sumber alam Kin Shi dan Shi Tau di kaki bukit pinggir kota Xiamen.

Memang struktur alam Kota Surabaya ada bedanya dengan Kota Xiamen. Kalau Surabaya seluruhnya berada di dataran rendah, Kota Xiamen juga kota pinggir laut yang berbukit dan gunung. Beda dengan Surabaya, di samping ada jalan dan jembatan melintas sungai, di Xiamen ada jalan yang dibuat dengan terowongan menembus bukit dan gunung.

Sumber air minum untuk PDAM Xiamen sekitar 40 kilometer di luar kota, tetapi masih dalam Provinsi Fujian, Sama dengan Surabaya yang sumber airnya ada di Pasuruan dan Mojokerto, sama-sama Provinsi Jawa Timur. Tetapi, di China daerah setingkat kabupaten-kota tidak punya otonomi seperti di Indonesia. Semua berada dikuasa negara di  bawah pemerintah pusat. Begitu pula dengan air di Sungai Jiulong, pengelolaannya di bawah pemerintah pusat, bukan seperti di Jawa Timur, dikelola oleh swasta PT.Jasa Tirta.

Maskot Kota Xiamen

Kesamaan lain, air dari sungai menjadi air minum di Xiamen juga diolah di instalasi penjernihan air minum (IPAM) seperti di Karang Pilang dan Ngagel. Kalau di Surabaya, air sungai hanya dibendung di dekat IPAM, di Karang Pilang, Gunungsari dan Jagir Wonokromo, lain dengan di Xiamen, di sana air sungai dimasukkan ke gudang air. Istilah gudang air yang diucapkan penerjemah itu sebenarnya sama dengan waduk, telaga, embung atau bozem di Jawa.

Kepala Dinas Tatakota, Pertamanan dan Pengairan Kota Xieman (Chief engineer of Xiamen Municipal Park Bureau) Mr. Wang Quang Ming mengatakan, gudang-gudang air itu antara lain disebutkan gudang air  Ji Mei, Chang Cho dan Hai Chang. Ke tiga gudang air yang berjauhan itu terkoneksi dengan pipa besar. Dengan demikian volume air dari satu gudang air dengan gudang air lainnya dapat dikontrol secara terpadu.

Memang ada dilema. jika musim hujan pemakaian air tidak terlalu banyak, tetapi sumber air melimpah. Sebaliknya di musim panas sumber air sedikit kebutuhan air meningkat. Untuk itulah, pengendalian keburuhan air dikalukan di gudang air itu.

Air yang diolah di IPAM itu, sama juga dengan di Surabaya, menggunakan sistem pengendapan dan kimiawi. Air yang didistribusikan ke rumah-rumah, apartemen, hotel dan tempat-tempat umum dan kegiatan usaha, semuanya sudah teruji kualitasnya.

Menyinggung masalah amannya air selama dalam perjalanan dari hulu ke hilir, ternyata Pemerintah China sudah mengantisipasi.  Pencemaran yang mungkin terjadi akibat adanya kegiatan industri di bagian hulu, selalu diawasi. bahkan daerah yang dilalui sungai untuk kebutuhan air minum mendapat kompensasi dari pemrintah, ujar Wang Quang Ming.

Pemerintah menyediakan dana 100 juta Yuan atau RMB,  sekitar Rp 150 miliar per-tahun untuk perawatan sumber air, termasuk bantuan kepada warga yang berada di DAS (Daerah Aliran  Sungai) Jiulong.

Jumlah penduduk Kota Xiamen yang dilayani oleh PDAM Xiamen mencapai 3,5 juta jiwa. produksi air minum sekitar 1,2 juta ton per-hari, Namun baru sekitar 820 ribu ton per-hari yang dikonsumsi warga. Jadi, produksi air minum di Kota Xiamen, kata Mr.Wang, memang melebihi kebutuhan sekitar 380 ribu ton per-hari.  Kendati demikian, dengan pertumbuhan penduduk yang diperkirakan mencapai 4,5 juta tiga empat tahun ke depan, maka kapasitas produksi kami targetkan 2,3 juta ton per-hari.

Perusahaan milik Pemerintah Kota Xiamen ini, juga menerima keluhan masyarakat konsumen. Untuk menerima keluhan warga, kami sediakan tujuh loket pelayanan dan pengaduan. Selain itu, juga ada pelayan dan menerima pengaduan secara on line. Pengaduan yang masuk, selalu dipublikasikan melalui website, sehingga dapat diketahui secara terbuka. Pokoknya, kami bekerja dengan sebuah semboyan “Melayani dengan semangat dan sepenuh hati”, kata Wang. (**)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.