Apa Itu Green City dan Green Building? Surabaya Kota Ramah Lingkungan

 

Surabaya Kota Ramah Lingkungan

Bukan Wacana, Tetapi Kenyataan

 

Oleh: HM Yousri Nur Raja Agam

 

GREEN City dan green building, apa itu? Inilah pertanyaan yang perlu dijawab dan dijelaskan kepada masyarakat. Jawaban  singkat dan  padat, bisa diartikan “kawasan ramah lingkungan”. Jadi pembangunan sebuah kota dengan program green city maupun green building, adalah kota yang berwawasan ramah lingkungan.

         Gambar

Walikota Surabaya Tri Rismaharini menyerahkan tropi juara kepada Yousri Nur Raja Agam yang berhasil meraih Juara

Motto tentang ramah lingkungan ini sudah lama kita dengar. Saat lomba kebersihan antarkota di Indonesia untuk mendapatkan  penghargaan Adipura, setiap kota mempunyai motto tentang kebersihan dan lingkungan hidup yang sehat. Ada yang menyingkat kalimat itu dengan kata  Kota Beriman (Bersih Indah dan Nyaman), Kota Berseri (Bersih Sehat dan Asri), Kota Bersehati (Bersih, Sehat, Aman, Tenteram dan Indah)  dan sebagainya.

            Kota Surabaya, sebagai kota yang menjadi pelopor kebersihan di Indonesia, juga punya jargon, yaitu “Green and Cleen” (hijau dan bersih). Sejak dicanangkan pemberian  penghargaan  nasional di bidang kebersihan, keindahan, sampai pelestarian lingkungan hidup, Kota Surabaya selalu memperolehnya. Piala Adipura setiap tahun, sampai Adipura Kencana, tak pernah lepas dari keberhasilan Kota Surabaya.

            Wacana menjadikan Surabaya sebagai green city atau  kota berwawasan  ramah lingkungan sebenarnya sudah terwujud. Apalagi saat digencarkannya gerakan penanaman pohon, Surabaya juga menjadi pelopor penghijauan dengan “Sejuta Pohon”.

            Tidak terbantahkan pula, Kota Surabaya memang sudah hijau dan rindang.  Pembangunan di Kota Pahlawan ini, sudah  lama merintis apa yang disebut green building (bangunan atau gedung hijau).  Bukan hanya gedung, tetapi juga taman, jembatan, sekolah, rumahsakit, perkantoran, pertokoan (mal dan plaza), hotel, apartemen, terminal dan tembok-tembok pun menjadi hijau dengan tanaman hidup.

Kota Metropolitan

            Surabaya dari dulu berjuluk Kota Adipura,  karena Kota Surabaya merupakan peraih Adipura yang pertama untuk kota-kota di Indonesia tahun 1992.  Penghargaan tingkat nasional itu, diterima tiap tahun, Sehingga tahun 1995, Surabaya mendapatkan Piala Adipura Kencana untuk kota raya terbersih di Indonesia. Berturut-turut kemudian, sampai 2013 ini, Surabaya masih tetap bertahan sebagai pemegang Adipura Kencana untuk kategori kota raya yang diubah menjadi Kota Metropolitan.

            Warga Kota Surabaya memang wajib bangga, saat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dipercayakan kepada Ir.Tri Rismaharini, MT,  Kota Surabaya mampu menjadi guru di bidang kebersihan, Bahkan Kota Surabaya  menjadi panutan di bidang pertamanan. Surabaya menjadi tempat studi banding kota-kota lain. Surabaya menjadi “Kota Sejuta Taman”, sebab tidak sejengkal tanah pun di Surabaya ini yang tidak hijau dan berbunga.

            Taman-taman kota tidak hanya di tanah lapang dan ruang terbuka hijau (RTH), tetapi juga jalur pemisah  dan pulau jalan di persimpangan jalan raya. Kalau  sebelumnya pembatas jalur terbuat dari batu, sekarang diubah menjadi taman.  Semua, kini menjadi hijau dan  indah dipandang.

            Tidak dapat dipungkiri, ini semua berkat kerja keras dan tangan dingin Tri Rismaharini, mantan kepala DKP Kota Surabaya yang sekarang menduduki jabatan Walikota Surabaya.  Sebagai walikota perempuan pertama di Kota Surabaya yang memegang tampuk kepemimpinan tertinggi, maka impiannya menjadikan Surabaya sebagai green city, benar-benar sudah menjadi kenyataan.

            Memang, Green city, bukan hanya kota yang hijau berkat taman-taman kota yang indah di RTH, tatapi juga didukung oleh planning and design atau perencanaan dan rekayasa. Sebagaimana dinyatakan oleh Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, Bappeko Surabaya D Dwija Wardhana yang mewakili Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Ir.Agus Imam Sonhadji kepada wartawan di ruang rapat  Sekda Kota Surabaya, Kamis (28/11) lalu.

            Surabaya sebagai green city dengan program  green building, akan  dilengkapi pula dengan green transportation, green waste, green water dan grfeen energy. Artinya, pembangunan kota Surabaya masa depan harus ditunjang dengan tarnsportasi, kebersihan, air dan enerji yang ramah lingkungan.

            Untuk itulah,  pembangunan gedung perkantoran, gedung pusat belanja, rumahsakit,  gedung sekolah, perguruan tinggi, terminal  dan gedung pemerintahan harus menerapkan green building.

Penghargaan Internasional

            Surabaya sebagai Kota Terbersih dan Terindah di Indonesia, sekarang sudah mendapat pengakuan internasional. Baru saja, salah satu yang tidak diduga dan direncanakan sama sekali sebelumnya, yakni Taman Bungkul, memperoleh penghargaan dari PBB sebagai  “taman terbaik” di tingkat Asia-Pasifik. Penghargaan itu, diterima langsung oleh Walikota Surabaya, Ir.Tri Rismaharini di Fokuoda, Jepang, Selasa (26/11) lalu.

            Prof.Dr.Johan Silas, pakar pembangunan perkotaan dari ITS (Isntitut Teknologi Sepuluh November) Surabaya, menyebut kriteria green building itu mempunyai pandangan dari sisi keras dan lunak. Hal ini ditentukan GBC (Green Building Council) Indonesia.  Untuk sisi keras terkait aksesoris pendukung seperti penggunaan solar cell dan lain sebagainya. Sedangkan sisi lunak terkait konsep green building itu sendiri, termasuk gedung yang sudah memberlakukan hemat energi. Jadi, kita perlu melakukan penghematan listrik dan melakukan pengurangan panas global (global energy), ujarnya.

 

            Johan Silas, mengakui, untuk mengubah lingkungan ke konsep green building ini, awalnya sangat mahal, tetapi apabila sudah terlaksana sangat menguntungkan. Untuk mewujudkan  green city, tidak hanya menata bangunan, tetapi juga menyediakan green infrastructure.Untuk tahun 2014 bisa dipastikan kota ini harus berkonsep kota hijau. Dengan begitu, tidak saja mengatur atau menata bangunan menuju green building, tetapi harus didukung dengan akses jalan. Ini terkait dengan efisiensi penggunaan lahannya.

            Ada catatan dari Johan Silas, sebagai warga kota Surabaya, ia merasa bangga karena Kota  Surabaya tidak mengikuti Jakarta. Di Surabaya tetap memertahankan jalan kampung  dengan jalan setapak. Ini yang membuat kampung-kampung di Surabaya masih bertahan. Beda dengan Jakarta yang mengutamakan jalan di kampung dengan ukuran mobil. Lambat laun, kampung itu pun kalah dengan lahan jalan.

            Sudah saatnya bangunan-bangunan di Kota Surabaya berciri green building. Salah satu parameternya adalah gedung tersebut hemat energi. Di samping itu, kita melihat perkampungan yang tumbuh di dalam kota Surabaya, mampu  mempertahankan Surabaya sebagai kota yang bersih dan hijau.

            Pernah dalam  suatu wawancara, Agus Imam Sonhadji yang mantan Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (CKTR) Kota Surabaya,  mengatakan, ke depan, Kota Surabaya membutuhkan lebih banyak energi listrik. Salah satu di antaranya untuk kepentingan energi listrik monorail dan trem.

            Dengan  berseloroh, Agus menyatakan, tentu lucu jika trem berhenti di tengah jalan karena kekurangan tenaga listrik. Makanya, harus dimulai sekarang. Jika tidak, efeknya akan terasa pada tahun-tahun mendatang.

            Pengertian green building, juga berbentuk nilai estetika, kata Ir.Harry Sunarto, Ketua   IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) Jawa Timur. Ada fungsi yang jelas dari tata ruang dan gerak manusia di dalam gedung atau bangunan. Sekarang, kita sudah jarang melihat rumah memakai teras yang biasanya digunakan untuk duduk-duduk keluarga. Saat yang demikian itu dapat digunakan untuk bertegur sapa dengan tetangga, katanya.

            Menurut Harry Sunarto, tema bangunan perlu kita kaji satu per-satu dan saling mendukung. Untuk mewujudkan green building, tentu harus seimbang, jangan sampai menghilangkan fungsi gedungnya. Kaidah atau persyaratan arsitekturnya juga jangan dihilangkan. Jadi, green building bukan merupakan satu  tema, tetapi sudah menjadi persyarartan bangunan.

            Harry Sunarto mengingatkan, green building  jangan hanya berfokus pada masalah ekologi, tapi juga memperhatikan masalah keindahan dan keharmonisan antara struktur bangunan dan lingkungan alamiah di sekitarnya. Kecuali itu, hendaknya tidak melupakan pula perbaikan lingkungan. Memang, secara penampakan mungkin bangunan ini tidak berbeda dari bangunan-bangunan lainnya. Konsep yang mendukung green building, juga harus  pula memperhatikan penggunaan material alam yang tersedia secara lokal

            Lain lagi pendapat Dr. Maria Anityasari, ST,ME  pakar lingkungan dari ITS, yang menyatakan green building di Kota Surabaya ini merupakan awal dari sebuah perjalanan panjang. Ini sebuah perjuangan guna mewujudkan green city dan eco city.

            Menurut Maria, bangunan gedung itu berumur panjang sekitar 20-30 tahun. Jika bangunan tidak didesain dengan konsep green building, maka akan menyumbang pemanasan global. Apalagi, berdasarkan data dari Leadership in Enviromental Design (LEED), bangunan gedung menyumbang sampai 50 persen karbon.

            Jadi, untuk bisa seperti itu, yang harus dilakukan yakni memberikan pengetahuan, acuan dan pedoman, memberikan pendampingan teknis, serta memberikan reward dan punishment. Bahkan, yang tidak kalah penting, kegiatan ini bukan upaya sporadis, tetapi masyarakat diberi kesadaran, ujar Maria.

            Ada enam kriteria yang diukur dalam green building itu. Yakni pengolahan lahan sekitar, penggunaan air, penggunaan energi, material dan dari mana sumber material itu, kualitas di dalam ruangan, dan inovasi. Untuk menunjang menjadi Green City, kata Maria, perlu menjalankan konsep Green Planning and Design, Green Open Space, Green Building, Green Transport, Green Community, Green Waste, Green Water, dan Green Energy.

            Setelah melakukan kampanye green building, Pemkot Surabaya akan menyelenggarakan Green Building Award. Nantinya, akan dilakukan evaluasi greenship pada bangunan-bangunan yang ada di Kota Surabaya.

            Setelah lomba,  akan diadakan  evaluasi, berlanjut penerapan green building, persiapan pembuatan Perda (Peraturan Daerah), pelaksanaan Perda. 

            Nah, apabila landasan hukumnya sudah ada dan kuat sebagai pijakan, maka masyarakat benar-benar dapat menerapkan hidup dengan ramah lingkungan dan rendah emisi.(*)

 

Pisang Mas Kirana dan Pisang Agung Semeru Primadona Lumajang

 

 

Oleh: Yousri Nur Raja Agam

GambarYousri Nur RA  MH

KEBIJAKAN Gubernur Jawa Timur, Dr.H.Soekarwo “melawan” produk asing masuk ke Indonesia sungguh luar biasa. Tidak tanggung-tanggung, Soekarwo dengan tegas, berani menolak beberapa komoditas impor masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Di antaranya, buah-buahan dari manacanegara. Ini dilakukan untuk menjaga produk dalam negeri, khususnya buah-buahan dan hortikultura.

Gebrakan Soekarwo ini, mendapat acungan jempol dari masyarakat petani Indonesia. Mereka merasa terlindungi, sehingga produksi pertanian dan hortikultura dapat bersaing di pasaran. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sampai-sampai menyediakan waktu untuk berkunjung ke Jawa Timur, khusus melihat dari dekat aktivitas produksi buah-buahan dan hortikultura.

DSC03117

Jawa Timur, memang sudah lama menyandang predikat sebagai lumbung pangan nasional. Sebab, berbagai produksi pertanian melimpah dan surplus, sehingga mampu memberikan pasokan untuk wilayah lain di Indonesia. Selain penghasil tanaman pangan, yakni beras, jagung dan kedelai, beberapa wilayah di Jawa Timur juga terkenal sebagai penghasil buah-buahan dan hortikultura.

Kepala Dinas Pertanian Jawa Timur Ir.Wibowo Eko Putro, sebagai pejabat yang mendapat kepercayaan gubernur Jatim, mengaku, mendukung sepenuhnya program yang disampaikan Pakde — begitu sapaan akrab untuk Gubernur Jatim H.Soekarwo.

Pangan utama yang pengadaannya dibebankan kepada wilayah Jatim, adalah tanaman  padi, jagung dan kedelai.  Tahun 2012 lalu, kebutuhan padi secara nasional lebih 69, 05 juta ton gabah kering giling (GKG). Dari jumlah itu, Jatim mampu menyangga hampir 18 persen, yakni 12, 20 juta ton GKG. Kabutuhan nasional untuk jagung pipilan kering 19,38 juta ton, yang dipasok dari Jatim mendekati 33 persen, yaitu 6,3 juta ton. Untuk kedelai, dari 851.577 ton yang dihasilkan dari seluruh Indonesia, Jatim menyumbang 42,51 persen atau 361.986 ton.

Sudah sejak lama, dua wilayah di Jawa Timur, terkenal sebagai penghasil buah-buahan. Kota Batu sebagai penghasil buah apel dan Probolinggo penghasil mangga. Namun, belakangan ini Kabupaten Lumajang menjadi topik pembicaraan yang menarik. Dua jenis tanaman buah pisang menjadi primadona, gara-gara didatangi Presiden SBY dan rombongan. Dampak positif yang dirasakan langsung, memantapkan Kabupaten Lumajang memperoleh predikat atau julukan sebagai “Kota Pisang”.

Presiden SBY bersama rombongan memang sengaja menginap di Lumajang, 31 Juli 2013 lalu. Di kabupaten yang terletak di kaki Gunung Semeru ini, SBY melakukan kunjungan ke Perkebunan Pisang di Desa Kandang Tepus Kecamatan Senduro, 1 Agustus 2013. SBY melihat sang primadona itu dari dekat. Dua primadona itu, adalah Pisang Mas Kirana dan Pisang Agung Semeru. Pisang mas Kirana, bentuknya kecil. Sedangkan Pisang Agung Semeru, ukurannya besar dan bahkan satu tandan hanya ada satu sisir. Ke dua jenis pisang ini, rasanya enak dan manis. Tidak hanya itu, daya tahan ke dua jenis pisang ini cukup lama, di samping tampilannya yang menarik.

Pemerintah Kabupaten Lumajang, memang memberikan perhatian istimewa terhadap Pisang Mas Kirana. Ini ditunjukkan oleh Bupati Lumajang, Dr.H.Sjahrazad Masdar. Bupati yang terpilih kembali untuk masabakti yang kedua ini, mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 188.45/406/427.12/2006 yang menyatakan Pisang Mas Kirana sebagai produk andalan Kabupaten Lumajang. Bahkan sebelumnya, Pisang Mas Kirana sudah ditetapkan oleh Menteri Pertanian melalui SK Nomor: 516/Kpts/SR/120/12/2005, sebagai Varietas Unggulan

Begitu istimewanya Pisang Mas Kirana ini, sampai-sampai 40 Kelompok Tani (Gapoktan) banyak yang beralih menanam Pisang Mas Kirana. Ternyata, daya pikat Pisang Mas Kirana ini tidak terbantahkan. Hasil yang diperoleh petani dari penjualan pisang ini cukup besar, mencapai Rp 1,89 miliar per-bulan. Wilayah pemasarannya, tidak hanya wilayah Jawa Timur, tetapi juga ke Jakarta dan beberapa wilayah lain di Indonesia. Ada 10 perusahaan yang secara rutin memasok dan mendistribusikan pisang yang juga menjadi ikon Kabupaten Lumajang.

Satu hal yang luar biasa, adalah penghargaan khusus yang diberikan oleh Presiden SBY yang menetapkan Pisang Mas Kirana, sebagai pisang yang diperuntukkan sebagai hidangan meja di istana negara, Jakarta.

Pisang Mas Kirana

Memang wilayah Kabupaten Lumajang merupakan daerah subur. Selain berada di kaki gunung tertinggi di Pulau Jawa, Semeru atau Mahameru, Lumajang juga diapit dua gunung berapi lainnya, yaitu gunung Bromo dan gunung Lamongan.

Saat rombongan wartawan dari Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Pemprov Jatim melakukan pengamatan langsung ke wilayah ini, Bupati Lumajang Sjahrazad Masdar sangat antusias menginformasikan keunggulan Lumajang dari segi pertanian. Wilayah seluas 1790,90 km² ini memiliki iklim tropis dan sebagian besar berada pada dataran tinggi,  sehingga cocok untuk mengembangakan pertanian dan perkebunan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang, Ir.Paiman, menyatakan, 60 persen dari satu juta lebih penduduk Lumajang bermatapencaharian sebagai petani. Produksi pertanian tanaman pangan utama adalah padi dan jagung. Di samping itu, menyusul kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu dan ubi jalar. Sedangkan, tanaman buah atau hortikultura, memang didominasi oleh pisang. Kemudian, baru manggis, durian, rambutan, apukat, nangka, jeruk keprok, kentang, kubis, cabe rawit dan bawang daun.

Pisang merupakan tanaman favorit dengan luas lahan mencapai 5.700 hektar yang tersebar di berbagai kecamatan. Lahan subur ini mampu memproduksi sekitar 113.298 ton pisang per tahun. Kendati pisang mas Kirana dan pisang Agung Semeru menjadi buah bibir, bukan berarti tidak ada jenis pisang lain di Lumajang. Sebenarnya  jenis pisang yang ditanam di Lumajang cukup banyak, di antaranya: pisang susu, pisang kepok, pisang Ambon, pisang raja dan pisang agung, serta Pisang Mas Kirana.

Dari berbagai jenis pisang itu, kontribusi terbanyak adalah pisang susu (38,24%). Baru pisang Mas Kirana (29,05%), pisang Agung Semeru (10,85%), pisang kepok (10,27%), pisang raja (7,42% dan pisang Ambon (4,17%). Masyarakat petani pisang di Lumajang bisa

menghasilkan keuangan sekitar Rp 474,925 juta per-minggu atau Rp 22 miliar per-tahun, ujar Sjahrazad Masdar.

Satu hal lagi yang membanggakan rakyat Lumajang, ternyata pisang mas Kirana juga merupakan komoditas ekspor ke mancanegara, di antaranya ke Singapura dan Malaysia. Bahkan, yang lebih membanggakan dan mengejutkan lagi, kabar terbaru dari Gubernur Jawa Timur, Dr.H.Soekarwo, pisang mas Kirana menjadi hidangan untuk peserta KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) Kerjasama Ekononi Asia Pasifik (APEC) di Bali, awal Oktober 2013 ini.

Sigarpun Bulat

Untuk menunjang produktivitas petani pisang, Pemerintah Kabupaten Lumajang mempopularkan sebuah semoboyan berbunyi: “Sigarpun Bulat”.  Dua kata ini merupakan singkatan dari: Aksi gerakan pemupukan organik dan bibit unggul bersertifikat. Yel-yel dan logo “Sigarpun Bulat” ini diresmikan pada 2011 lalu. Dengan selogan itu, masyarakat Lumajang termotivasi dan semakin optimis untuk meraih kesuksesan dalam bidang Pertanian dan Perkebunan.

Ir.Paiman yang bersemangat menjelaskan pola pertanian yang dikembangkannya, mengatakan, dengan penggunaan bibit dan pupuk organik, diharapkan dapat meningkatkan kuantitas dan sekaligus kualitas produksi.

Khusus pisang mas Kirana, ujar Paiman, sudah mendapat Sertifikat “Prima-3″ produk buah segar tahun 2009. Buah pisang mas Kirana, aman dikonsumsi, karena penggunaan pestisida dan pupuk buatan masih dalam batas ambang toleransi.

Tidak hanya itu, cara bercocok tanam pisang mas Kirana ini juga sudah mendapat pengakuan internasional, yakni dari Negeri Belanda. Asosiasi Petani Pisang Seroja dari Desa Kandang Tepus, telah mendapat sertifikat Global GAP (Good Agrcultural Practices) dari Control Union Certification dari Belanda.

Keseriusan Pemkab Lumajang membina petani pisang mas Kirana, juga menyangkut administrasi dan pendanaan. Sejak tahun 2009, Bank BNI melakukan kemitraan dengan Poktan (Kelompok Tani) di berbagai desa dan kecamatan. Bank BNI memberikan kredit modal usaha. Salah satu contoh, suatu realisasi yang dilakukan Bank BNI adalah memberikan kredit untuk petani di Kecamatan Senduro, Pasrujambe dan Gucialit. Bank BNI tahun 2013 ini memberi pinjaman lebih dari Rp 1,55 miliar dengan bunga 0,5% per bulan atau 6% per-tahun. Masing-masing petani mendapat pinjaman antara Rp 10 juta sampai Rp 30 juta dengan jangka  waktu tiga tahun.

Pisang Agung di Klakah

Hampir tak terbantahkan, selama ini para pengguna jalan raya dari arah Probolinggo menuju Jember lewat Lumajang, selalu melihat pisang besar dan panjang dijajakan di pinggir jalan. Itulah pasar Klakah, Ranuyoso di Kabupaten Lumajang. Pisang besar dan penjang itulah yang disebut pisang Agung Semeru.

Sebelum pisang mas Kirana “naik daun”, pisang Agung Semeru sejak lama sudah menjadi ikon Kabupaten Lumajang. Pisang ini termasuk jenis buah pisang langka. Bentuknya unik. Selain besar dan panjang, bentuknya melengkung. Panjangnya antara 33 hingga 40 cm, dengan lingkar buah rata-rata19 cm. Tidak itu saja, pisang unik ini mempunyai  daya tahan simpan yang cukup lama. Walaupun warna kulitnya berubah dari kuning menjadi hitam, ternyata buah pisang Agung ini tetap baik dan tidak busuk seperti pisang pada umumnya. Keunikan lain dari pisang Agung ini adalah dari jumlah sisir yang terdapat dalam satu tandan, hanya satu atau dua sisir.

Di balik nama besar dan keunikan pisang Agung Semeru itu, ternyata berdasarkan sigi lapangan yang dilakukan Kementerian Pertanian tahun 2005, keberadaan pisang Agung Semeru yang langka ini terancam punah. Masyarakat tidak lagi begitu antusias menanam pisang Agung. Mereka banyak yang beralih menanam pisang mas Kirana dan pisang susu. Salah satu contoh, dari pengamatan lapangan di Desa Kandang Tepus, Kecamatan Seduro, Kabupaten Lumajang. Juga di beberapa desa tetangga di lereng Gunung Semeru. Daerah yang dulunya dikenal debagai penghasil pisang Agung, belakangan ini banyak yang meninggalkan budidaya pisang Agung. Kebun pisang Agung beralihfungsi menjadi lahan perkebunan pisang mas Kirana.

Pemandangan lain juga terlihat di wilayah Kecamatan Senduro dan Kecamatan Pasrujambe. Lahan pengembangan di wilayah ini meliputi 1.323 hektar dengan jumlah populasi tanaman 1,20 juta rumpun. Ada dua varietas tanaman yang dibudidayakan petani di sini, yakni pisang Agung dan pisang Talun. Pisang Talun adalah sejenis pisang Agung, tetapi jumlah sisirnya melebih dua sisir dalam satu tandan.

K.Sulaiman yang menjadi petugas PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) di Dinas Pertanian Lumajang, mengungkapkan data, tahun 2012 lalu, jumlah produksi pisang Agung di Kab Lumajang mencapai 12.041 ton dari 544,49 hektar lahan. Produksi itu berasal dari lima kecamatan, yakni Kecamatan Pasrujambe, Senduro, Gucialit, Candipuro dan Randuagung. Selama ini pisang Agung dimakan setelah matang dan direbus. Bahkan, sekarang ini banyak dijadikan camilan berupa keripik pisang dan dodol. Keripik pisang Agung Semeru dan dodol yang sudah dikemas itu,  menjadi cinderamata khas dari Lumajang.

Salak Pronojiwo

Kecuali pisang mas Kirana dan pisang Agung Semeru, Lumajang juga sedang melakukan uji-coba komoditas buah-buahan baru, yakni buah salak. Awalnya, salak tidak begitu menarik bagi masyarakat Lumajang. Namun ketika ada penduduk merncoba menanam salah di lahannya, ternyata hasilnya bagus. Bahkan bibit salak yang dibawa dari Sleman, Jawa Tengah yang dibudidayakan di Kecamatan Pronojiwo itu rasanya lebih enak dari tempat asalnya.

Salak Pronojiwo ini, sekarang juga disebarkan pembudidayaannya ke 13 kecamatan di Lumajang. Selain di Pronojiwo yang sudah mencapai 481,95 hektar dan Tempursari 101,50 hektar, di 12 kecamatan lainnya masing-masing masih di bawah dua hektar.

Sejak tiga tahun lalu di Kecamatan Pronojiwo sudah 648 hektar lahan yang ditanami salak. Dari lahan tersebut, mampu memproduksi 12 ton salak per-hektarnya per-tahun, Jadi dengan luas lahan yang sudah ada itu, produksi salak Pronojiwo Lumajang mencapai 7.776 ton. Salak Pronojiwo itu, sekarang juga sudah diolah menjadi bahan makanan lain. Ada yang dibuat camilan kering dan minuman berasa salak. (**)

Menyaksikan Festival Indonesia 2012 di Melbourne, Australia

Festival Indonesia 2012 di Melbourne Australia 

Oleh: Yousri Nur Raja Agam MH

 FESTIVAL Indonesia 2012  di Melbourne, Australia benar-benar mengasyikkan. Mengingatkan kita ke tanahair Indonesia. Festival dengan penyajian seni budaya dan pameran produksi Indonesia di Melbourne, Australia tanggal 17 hingga 27 September itu, mampu mengundang investor dan para peminat kebudayaan Indonesia.

            Memang, festival yang diselenggarakan tiap tahun itu, mampu menjadi daya tarik Indonesia bagi warga Australia. Maka tidak mengherankan, hubungan Indonesia-Australia semakin akrab.

            Saya berada di Australia selama enam hari, tanggal 17 hingga 22 September 2012. Bersama rombongan Gubernur Jawa Timur, Dr.H.Soekarwo, saya diajak pula berkunjung ke China selama lima hari. Selain Hongkong dan Beijing, kunjungan lebih terfokus di Kota Tianjin.

            Nah, khusus tentang festival di melbourne, memang kegiatannya didominasi oleh Jawa Timur. Nuansa Jawa Timur sangat menonjol dengan peragaan batik dari  kabupaten-kota di Jatim, demikian pula dengan penampilan para penari dari berbagai daerah dari Jatim.

            Tidak salah, kalau pertunjukan Indonesia Ninght 2012 di gedung Dallas Brook Center itu lebih banyak menampilkan budaya Jatim. Karena tahun 2012 ini, Jatim menjadi “tuan rumah” atau sponsor utama.

Mewakili Pemerintah Republik Indonesia,  Gubernur Jatim Dr.Soekarwo tampil memberikan sambutan. Pakde Karwo – sapaam akrab Soekarwo – berada di Kota Melbourne selama lima hari, tanggal 17 hingga 22 September lalu.

Selain memperkenalkan budaya dan mempromosikan pariwisata Jatim lawatan Pakde Karwo ke Melbourne, Victoria, New South Wales, Australia itu juga membina hubungan kerjasama dengan para pengusaha dan investor dari Negara Kangguru itu.

Acara Indonesia Night dengan tema Gema Nusantara dalam Festival Indonesia 2012 di Melbourne benar-benar menarik di masyarakat Melbourne. Kendati tiap orang membayar tanda masuk 15 dolar Autralia, gedung Dallas Brook Center yang terletak di pusat kota berkapasitas ribuan penuh sesak oleh warga Melbourne dan Indonesia yang tinggal di Australia.      

            Selain pejabat dari pemerintah RI, juga hadir tamu dari nagara sahabat. Pejabat yang mewakili pemerintah pusat yang hadir di antaranya Kepala BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) Chatib Basri, Konsul Jendral RI untuk Victoria dan Tazmania di Melbourne Irmawan Emir Wisnandar dan Konselor Kota Melbourne Ken Ong.  Selain itu juga terlihat hadir Konjen RI di Darwin, Konjen Spanyol, Konjen Jepang, dan banyak pejabat lainnya.

            Saat acara dimulai, nuansa Jawa Timur acara sudah sangat kental. Peragaan busana dengan  kebaya Madura dan tari Bedhoyo Majakirana, serta atraksi barong yang menjadi ciri khas kesenian Ponorogo mendapat sambutan luar biasa.

            Acara bertambah meriah setelah diwarnai nyanyian Bornok Hutauruk dengan Gema Nusantara dan peragaan busana batik karya Rafi Abdurrahman Ridwan. Mode batik yang sangat menarik itu diciptakan oleh anak yang baru berusia 10 tahun. Rafi yang merupakan anak yang mempunyai “kelainan mental itu” daalam waktu dekat juga akan dikirim ke Prancis untuk pergelaran.

            Berbagai sendratari Nusantara ditampilkan di atas panggung. Ada tarian khas dari Aceh, tari tor-tor dari  Sumatera Utara, tari payung dari Sumatera Barat, tari ondel-ondel dari Jakarta dan gerak tairi yanmg meliuk-liuk dari Bali, dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Maluku dan Papua.  

            Tari Gandrung Banyuwangi dengan penampiulan yang unik menambah semangat para pengunjung, karena penari mengajak warga Melbourne untuk menari bersama di panggung.

Ketua Penggerak PKK Jatim Ny.Nina Kirana Soekarwo sengaaka menampilkan berbagai jenis batik. Di antaranya batik dari Tulungagung, Tuban dengan batik gedoknya, Banyuwangi dengan batik Gajah Nguling, dan Surabaya dengan batik khasnya.

”Saya memang ingin menampilkan semua corak batik yang jumlahnya 1.300 dari 38 kabupaten dan kota se-Jatim, komentar Nina Soekarwo, istri gubernur yang memang menyiapkan secara khusus acara itu.

            Kekaguman penampilan delegasi Jatim juga diungkapkan oleh istri Konjen RI (KJRI) Irma Wisnandar. ”Hebat. Selama saya melihat pentas di tempat lain, memang baru kali ini yang paling meriah,” akunya.

            Irma melihat budaya Jatim sangat khas. ”Saya ingin nanti publik Melbourne bisa langsung ke Jatim untuk melihat dari dekat,” katanya.  Menurut dia, penampilan Indonesia Night yang digelar di Melbourne itu tidak membosankan. ”Sekarang budaya tradisional sangat dinamis. Hal seperti itu yang disenangi publik Melbourne,” ujar Irmawan.

            Sauasana yang menarik, terjadi saat akhir acara. Pakde Karwo bersama Ny.Nina Soekarwo “laku keras” dirangkul dan diajak foto bersama.  Para delegasi penari dan penyanyi sangat antusias dan slih berganti mengajak Palde Karwo dan istrinya foto bersama. **

Soekarwo-Saifullah Dilantik Mendagri

Dr.H.Soekarwo,SH,M.Hum

Dilantik Menjadi

Gubernur Jawa Timur

2009-2014

Oleh: Yousri Nur Raja Agam *)

PERJALANAN panjang berliku dan cukup melelahkah yang ditapaki Dr.H.Soekarwo,SH,M.Hum, sampai juga di garis finish. Pria berkumis yang mempopularkan dirinya Pakde Karwo, dengan tertatih-tatih berhasil meraih juara dalam perebutan takhta kepemimpinan tertinggi di Jawa Timur.

Setelah dinyatakan menang tipis pada “tanding pamungkas” di Pulau Madura, Soekarwo akhirnya dinobatkan menjadi “imam utama” Jawa Timur. Soekarwo yang berpasangan dengan Drs.H.Saifullah Yusuf, dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur masabakti 2009-2014. Pelantikan dilaksanakan, hari ini Kamis, 12 Februari 2009 di depan seidang Paripurna DPRD Jatim oleh Menteri Dalam Negeri, Mardiyanto.

Dr.H.Soekarwo,SH,M.Hum

Dr.H.Soekarwo,SH,M.Hum

Inilah sejarah baru dalam prosesi kepemimpinan daerah di Indonesia. Jejak hukum yang dilewati dapat dijadikan jurisprodensi apabila terjadi hal yang sama di daerah lain. Betapa tidak, beragam aturan hukum dan perundang-undangan harus dijadikan bekal untuk mengantarkan Soekarwo menduduki kursi Gubernur Jawa Timur.

Perjuangan Soekarwo sangat panjang, mulai mencari kendaraan politik untuk ditumpangi menuju tangga gedung Grahadi, kemudian menang dan menang, tetapi masih terkendala. Pertama kali ia menang bertarung di kandang banteng moncong putih PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) Jawa Timur. Tetapi pria kelahiran 6 Juni 1950 di Dusun Pinggit, Desa Palur, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun itu tidak direstui sing bahurekso.

Drs.H.Saifullah Yusuf

Drs.H.Saifullah Yusuf

Alhamdulillah, Magistter Humaniora (M.Hum) dan Doktor HukumUniversitas Diponegoro (Undip) Semarang itu, mendapat kendaraan baru, koalisi Partai Amanat Nasional (PAN) dengan Partai Demokrat (PD). Akhirnya alumnus Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga Surabaya 1978 ini diusung ke gelanggang Pilgub Jatim. Berpasangan dengan Saifullah Yusuf, mereka menghadapi empat pasangan lainnya. Ternyata, Allah bersama mereka, menang menuju ke babak kedua bersama pasangan KaJi (Khofifah Indarparawansa-Mudjiono).

Pertandingan babak kedua melawan pasangan KaJi, juga dimenangkan. Tetapi, mereka dihadang dengan protes pelaksanaan Pilkada di Madura. KaJi menggugat ke MK (Mahkamah Konstitusi). Gugatan KaJi diterima, sehingga diadakan Pilkada ulang di dua kabupaten Pulau Garam itu.

Keberuntungan masih berpihak kepada pasangan KarSa. Dari hasil hitung ulang final, pasangan KarSa lagi-lagi dinyatakan menang.

 

Kandang Banteng

Sebelum berpasangan dengan Gus Ipul – panggilan akrab Saifullah Yusuf –. Pakde yang tidak mempunyai “kendaraan” terpaksa mencari tumpangan. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang membuka pertarungan perebutan sabuk untuk maju menjadi calon gubernur (Cagub) Jatim diikuti Soekarwo.

Tanpa ragu, Soekarwo yang menduduki jabatan Ketua Umum IPSI (Ikatan Pencaksilat Seluruh Indonesia) Jatim itu menghadapi banteng-banteng pada babak penyisihan. Tidak tanggung-tanggung, Soekarwo menang mutlak pada babak penyisihan itu. Ia mengalahkan Ir.Sutjipto sebagai lawannya pada Rapat Kerja Cabang Khusus (Rakercabsus) yang diikuti 38 DPC PDIP se Jatim.

Pada Rakercabsus yang digelar tanggal 17 hingga 21 Februari 2008 itu, Soekarwo berhasil meraih 22 suara dari 38 DPC PDIP se Jatim. Sutjipto hanya mampu meraih 11 suara. Sedangkan lima daerah di Jatim sepakat sama-sama mencalonkan ke dua kandidat itu. Dengan demikian jalan semakin mulus bagi Soekarwo mendapatkan tiket Cagub Jatim pada Pilkada tahun 2008.

Seluruh hasil Rakercabsus itu dijadikan bahan Rakerdasus (Rapat Kerja Daerah Khusus) PDIP Jatim yang digelar Sabtu, 24 Februari 2008. Hasil Rakerdasus itu pun tidak beda dengan hasil Rakercabsus. Itulah yang diserahkan kepada DPP PDIP di Jakarta.

Tetapi apa yang terjadi? DPP PDIP di Jakarta mengambil keputusan yang berbeda. Kemenangan mutlak Soekarwo yang berhadapan dengan Sutjipto dianulir. Justru, partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu menetapkan Ir.Sutjipto sebagai bakal Cagub Jatim dari PDIP.

Makin Popular

Kemanangan Pakde Karwo pada babak penyisihan awal di kandang PDIP Jatim itu membuat nama Soekarwo makin popular. Berbagai kelompok survai melakukan sigi lapangan. Misalnya Komunitas Tabayyun Surabaya. Dari hasil penelitian mereka, Pakde memang luar biasa. Ia berhasil mengalahkan popularitas tokoh masyarakat Jatim kala itu, di antaranya: Dr.H.Soenarjo (wakil gubernur Jatim) dan Dr.KH.Ali Maschan Moesa (ketua PW NU Jatim). Ia mengumpulkan nilai 54,7% dari hasil penelitian tentang popularitasnya di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) di Jatim.

Hasil penelitian Komunitas Tabayun Surabaya pimpinan Prof.Dr. H. Nur Syam,MSi selama Juni dan Juli 2007 lalu menempatkan Soekarwo di peringkat pertama. Nama-nama lain “kalah”. Itulah kesimpulan penelitian yang dilaksanakan di 13 Ponpes besar yang tersebar di 12 kabupaten/kota di Jatim. Ada delapan nama yang akhirnya terserap menempati urutan teratas.

Selengkapnya waktu itu, hasil penelitian berjudul “Perilaku Politik Santri dalam Pemilihan Gubernur 2008” oleh Komunitas Tabayun itu menempatkan nama Soekarwo pada urutan pertama dengan peroleh suara dari santri 54,7 persen. Disusul pada urtan di bawahnya Dr.H.Soenarjo (17,4%), Dr.KH.Ali Maschan Moesa (9,9%), Ketua DPP PDIP Ir.Sutjipto (9,3%), Bupati Lamongan Drs.H.Masfuk (3,5%), Ketua DPW PPP Jatim Drs.H.Farid Al-Fauzi (2,3%), Gubernur Jatim saat ini H.Imam Utomo (1,2%) dan Ketua Umum DPP Ansor Drs.Saifullah Yusuf alias Gus Ipul (0,6%).

Menurut Nur Sjam, sebagai direktur riset Komunitas Tabayun Surabaya ini, ke 13 Ponpes yang ditelitinya adalah: Ponpes Sidosermo Surabaya, Nurul Jadid Probolinggo, An Nuqoyah Sumenep, Syaichona Kholil Bangkalan, Darul Ulum Jombang, Tebu Ireng Jombang, Lirboyo Kediri, Sunan Drajat Lamongan, Langitan Tuban, Syafi’iyah Situbondo, At Taqwa Pasuruan, Raudhatul Ulum Jember dan Darussalam Banyuwangi.

Hasil survai tahun 2007 itu, merupakan laporan awal popularitas Soekarwo di kalangan politisi maupun masyarakat awam. Betapa sebenarnya jauh hari sebelum penyelenggaraan Pilkada Jatim 2008 yang berlanjut dengan Pilkada Jatim tahap ke-2 dan tahap ke-2 plus di Madura, tahun 2009 ini, nama Soekarwo sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Jawa Timur.

Pasangan Baru KarSa

Kendati kecewa berat atas “perlakuan” pemilik kendaraan yang ditumpangi Soekarwo, namun suami Nina Kirana ini tetap tabah. Hiruk-pikuk persiapan pemilihan gubernur (pilgub) Jawa Timur semakin riuh.

Perebutan kursi gubernur dan wakil gubernur Jatim masabakti 2008-2013 semakin ramai. Suhu politik juga semakin panas. Partai politik (Parpol) yang mempunyai kursi di DPRD Jatim semakin mengukuhkan diri sebagai yang paling berhak untuk mengusung pasangan cagub-cawagub Jatim tersebut.

Untuk pertamakalinya, hari Minggu, 17 Februari 2008, terlaksana deklarasi pasangan cagub-cawagub Jatim di Surabaya. Partai Amanat Nasional (PAN) bersama Partai Demokrat (PD) mengusung Sekretaris Provinsi (Sekprov) Jatim Dr.H.Soekarwo,SH,MHum berpasangan dengan mantan Menteri Pengembangan Daerah Tertinggal Drs.H.Saifullah Yusuf. Deklarasi pasangan cagub-cawagub koalisi PAN dengan PD ini berlangsung meriah dan semarak di gedung Gelora Pantjasila, Surabaya.

Tidak tanggung-tanggung, deklarasi pasangan Soekarwo alias Pak De dengan Saifullah yang akrab dipanggil Gus Ipul itu, dihadiri pimpinan tertinggi kedua parpol yang sama-sama mengidolakan warna biru itu. Ketua Umum DPP PAN Soetrisno Bachir bergandengan tangan dengan Ketua Umum DPP PD Hadi Utomo mengiringi pasangan Pak De dengan Gus Ipul.

Sorak-sorai dan sambutan luar biasa pendukung pasangan ini membahana di gedung olahraga yang mampu menampung 25 ribu massa. “Hidup Pak De”, “Hidup Gus Ipul”, demikian teriakan massa pendukung silih berganti. Suasana tambah semarak saat dua artis ibukota, Eko Patrio dan Franky Sahilatua yang diboyong ke kota Pahlawan itu berhasil menggoyang panggung.

Sambutan masyarakat sekitar juga luar biasa. Sebelum memasuki gedung Gelora Pantjasila, pasangan yang sama-sama berkumis lebat ini diarak dengan menumpang becak dari halaman masjid Rahmat di Kembang Kuning. Sepanjang jalan melewati perkampungan sekitar dua kilometer itu, pasangan yang sama-sama memakai busana muslim itu tak henti-hentinya mandapat sambutan belaian tangan warga yang berada di kira-kanan jalan.

Tidak hanya sebutan Pak De dan Gus Ipul yang dipopularkan, tetapi juga singkatan nama kedua pasangan itu, “Karsa” atau Karwo-Saiful. Yel-yel dan jargon lain juga terlihat dari spanduk, baliho dan umbul-umbul yang menghiasi sepanjang jalan utama Kota Surabaya, Minggu itu.

Ketua Umum DPP PAN, Soetrisno Bachir memberi instruksi kepada keluarga besar parpol berlambang matahari bersinar itu untuk memenangkan pasangan Karwo-Ipul pada pilkada yang bakal digelar 23 Juli 2008. Hukumnya wajib, fardhu ‘ain, kata SB – panggilan akrab ketua umum DPP PAN itu.

Tidak hanya kepada keluarga PAN yang banyak berasal dari ormas Islam Muhammadiyah itu saja SB berpesan, tetapi ia juga berseru kepada semua kader Gerakan Pemuda (GP) Anshor yang merupakan keluarga besar Nahdliyin untuk mendukung pasangan Pak De Karwo dan Gus Ipul itu.

Bak ‘kata berjawab dan gayung bersambut’, harapan SB itu didukung sepenuhnya oleh Ketua Umum DPP PD, Hadi Utomo. Ia merasa yakin, Soekarwo dengan Saiful bisa bekerjasama dengan baik. Sebab, katanya, Gus Ipul bukan orang asing bagi masyarakat Jawa Timur. Selain sebagai ketua umum GP Anshor, Gus Ipul yang berasal dari Jatim itu merupakan idola kaum muda. Demikian pula dengan Pak De Karwo, birokrat senior yang sudah merakyat.

APBD untuk Rakyat

Dr.H.Soekarwo yang mendapat kesempatan menyampaikan visi dan misinya sebagai bacagub dari koalisi PAN-PD itu mengajak semua lapisan masyarakat bersama-sama memperbaiki Jawa Timur. “Kemiskinan harus diperangi bersama-sama”, ujar Soekarwo.

Dengan selogan “APBD untuk rakyat”, Pak De mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengentaskan kemiskinan.

Apa yang diharapkan Soekarwo itu, diamini oleh Gus Ipul. Bahkan Saiful yang mendapat kesempatan berbicara menyatakan akan mendukung sepenuhnya rencana yang sudah lama dipersiapkan oleh Pak De Karwo.

Usai deklarasi, Soekarwo menjawab todongan pertanyaan dari wartawan. Tanpa ragu-ragu semua pertanyaan dijawab dengan mantap dan tenang. Bahkan, Karwo sempat berandai-andai tentang masa kampanye.

Menurut Soekarwo, sebenarnya ketentuan masa kampanye yang ada pada Undang-undang (UU) tentang Pilkada sekarang ini terlalu pendek. Hanya 18 hari. Itu tidak mungkin dapat dilaksanakan secara nyata. Olah sebab itu, andaikan ia boleh mengusulkan, masa kampanye untuk pulkada itu sekurang-kurangnya satu tahun, atau diperpanjang dari waktu yang ditetapkan sekarang ini. Bagaimana mungkin hanya dalam waktu seminggu, dua minggu rakyar bisa mengenal calon pemimpinnya.

Adanya tuduhan ia “curi start” kampanye, Soekarwo tidak begitu peduli. Silakan bicara apa saja. Buktinya, hampir semua yang “berkeinginan” menjadi cagub atau cawagub sudah jauh-jauh hari memperkenalkan dirinya.

Wong kepingin saja masak nggak oleh”, gurau Soekarwo ketika itu.

Lawan Menyusul

Setelah koalisi PAN-PD mendeklarasikan pasangan cagub-cawagubnya Dr.H.Soekarwo dengan Drs.H.Saifullah Yusuf (KarSa), menyusul pasangan yang diusung Partai Golkar, maupun PDIP mendeklarasikan cagub-cawagub Jatim-nya.

Partai Golkar telah memutuskan Ketua DPD PG Jatim, Dr.HM.Soenarjo,MSi sebagai cagub Jatim berpasangan dengan Ketua PW Nahdlatul Ulama (NU) Jatim, Dr.KH.Ali Maschan Moesa. Partai berlambang beringin ini menggunakan jargon “Salam”.

DPP PDIP menetapkan Ir.H.Sutjipto sebagai cagub berpasangan dengan Wakil Ketua DPRD Jatim Ir.H.Ridwan Hisjam. Pasangan ini menyebut dirinya SR (Sutjipto-Ridwan).

Berikut muncul Chofifah Indarparawangsa mantan Menteri Peranan Wanita dalam kabinet Presiden Gus Dur yang berpasangan dengan mantan Kasdam V Brawijaya Brigjen TNI (Purn) Mudjiono. Nama panggilannya “KaJi”..

Terakhir PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) menetapkan nama Aksan, pasangan Dr.H.Achmady dengan Suhartono,

Dari lima pasangan yang sudah mendeklarasikan untuk maju ke gelanggang Pilgub Jatim 2008, ditetapkan nomor urutnya. Pasangan KaJi memperoleh nomor undian 1, SR nomor 2, Salam nomor 3, Aksan nomor 4 dan KarSa nomor 5.

Pakde dan Gus Ipul

Ikon Pakde Karwo, sosok pria berwajah bulat, berkopiah, dengan kumis tebal sudah muncul pada pertengahan 2005. Wajah Pakde merujuk langsung pada Soekarwo. Memang, sudah sejak lama Soekarwo getol mengenalkan namanya sebagai Pakde itu.

Si Pakde pun lantas muncul di mana saja. Di kecap ada, di kacang ada. Bahkan, dalam beberapa even, sosok berkumis itu terlihat muncul. Pakde tak hanya terkenal. Namanya sudah dipatenkan tim sukses Soekarwo melalui Direktorat Jenderal Hak Paten Depkum HAM. Nama Pakde pun ”dikunci”. Apabila ada yang memakainya bisa kena pelanggaran hak cipta.

Soekarwo yang mendapat nomor urut 5 maju bersama Saifullah Yusuf. Duet KarSa alias Karwo-Saiful melangkah dengan mantap. Di antara beberapa ciri khas tersebut, yang dianggap paling mewakili brand Pakde bersama Gus Ipul adalah kumis. Tim suksenya lantas menemukan slogan baru untuk KarSa. Coblos Brengose. ”Makanya, Pak Karwo dan Gus Ipul dilarang mencukur kumisnya sampai saat Pilkada Jatim selesai. Sebab, brand itu sudah terbentuk. Selain berengos, KarSa berpenampilan rapi. berbaju putih dan memakai songkok atau kopiah.

KarSa dan KaJi

Pasangan KarSa dan KaJi berhasil menyisihkan tiga pasangan lain dari lima pasangan yang maju pada Pilgub jatim tahap pertama, 23 Juli 2008 lalu. Ke dua pasangan ini berhadapan pada Pilgub tahap kedua, 4 November 2008.

Dari Pilgub putaran pertama, pasangan KarSa dan KaJi itu, berhasil meraih suara terbanyak. Kedua pasangaan ini berusaha untuk meraih simpati dan suara dari konstituen. Kampanye pun berlangsung cukup melelahkan. Tiada hari yang tidak dimanfaatkan oleh kedua pasangan ini untuk mendulang suara.

Berbagai taktik dan strategi dilaksanakan. Sehingga, sampai di pemungutan suara 4 November 2008. Hasilnya, pasangan KarSa “menang”.

Ternyata, kemenangan KarSa ini diprotes oleh pasangan KaJi. Mereka menggugat KPU (Komisi Pemilihan Umum) Jatim sebagai penyelenggara Pilgub Jatim ke Mahkamah Konstitusi (MK). Intinya, mempermasalahkan hasil pelaksanaan Pilkada di tiga kabupaten di Madura.

Keputusan MK, menetapkan dilaksanakan penghitungan ulang di Kabupaten Pamekasan dan pencoblosan ulang di Kabupaten Sampang dan Bangkalan.

Kedua acara itupun sudah dihelat. Lagi-lagi pasangan KarSa dinyatakan menang, walaupun “tipis”.

KPU Jatim menyampaikan hasil Pilakada tahap ke-2 “plus” itu ke MK. Bersamaan dengan itu, pasangan KaJi juga bearaksi untuk menyampaikan gugatan. Tetapi, MK dengan tegas menolak gugagatan MK dengan tidak menerima pendaftaran gugatan tersebut.

Berdasarkan ketetapan MK itu, maka dengen finalnya proses Pilkada Jatim itu, Mendagri melangkah pasti untuk menetapkan Soekarwo dan Saifullah Yusuf sebagai gubernur dan wakil gubernur Jatim untuk masabakti 2009-2014.

Sekarang semua itu terwujud. Soekarwo dan Saifullah Yusuf dilantik menjadi orang pertama dan kedua di Provinsi Jawa Timur yang berpenduduk 38 juta jiwa ini.

Kiprah pasangan berkumis ini, lima tahun ke depan menjadi harapan masyarakat Jawa Timur. Mereka menunggu realisasi dari janji-janji yang disampaikan pada saat kampanye. Selamat untuk Pakde dan Gus Ipul, menduduki jabatan tertinggi di Jawa Timur. ***

*) Yousri Nur Raja Agam MH – Wartawan di Surabaya.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.