Surabaya Bantu Korban Gempa Sumbar

Siswa SD, SMP, SMA, SMK se Kota Surabaya
Menyumbang Kota Padang Rp 1,6 Miliar

Rumah Gadang Minangkabau di Surabaya

Rumah Gadang Minangkabau di Surabaya

Walikota Surabaya Bambang DH menyerahkan bantuan untuk gempa

Walikota Surabaya Bambang DH menyerahkan bantuan untuk gempa

Perwakilan Siswa SD, SMP, SMA dan SMK se Kota Surabaya yang memberikan bantuan Rp 1,6 miliar untuk korban gempa di Kota Padang

Perwakilan Siswa SD, SMP, SMA dan SMK se Kota Surabaya yang memberikan bantuan Rp 1,6 miliar untuk korban gempa di Kota Padang

Gapensi Jatim memberi bantuan untuk korban gempa Sumbar Rp 200 juta, yang diserahkan oleh Ketua Gapensi Jatim Ir.HM Amin yang diterima oleh Ketua Umum Gebu Minang jatim, Ir.Firdaus HB.

Gapensi Jatim memberi bantuan untuk korban gempa Sumbar Rp 200 juta, yang diserahkan oleh Ketua Gapensi Jatim Ir.HM Amin yang diterima oleh Ketua Umum Gebu Minang jatim, Ir.Firdaus HB.

SURABAYA, Walikota Surabaya Drs.H.Bambang DH menyerahkan bantuan untuk korban gempa di Kota Padang melalui organisasi masyarakat perantau di Surabaya Gebu Minang Jatim, Kamis (22/10). Bantuan berupa uang sumbangan yang dikumpulkan Dinas Pendidikan dari siswa SD, SMP, SMA dan SMK baik negeri maupun swasta se Kota Surabaya sebanyak Rp 1,6 miliar.
Bantuan itu ditambah lagi Rp 500 juta dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan Rp 200 juta dari Gapensi (Gabungan Pengusaha Konstruksi) Jawa Timur.
Acara itu dilangsungkan di rumah gadang Minang Jalan Gayung Kebunsari 64 Surabaya. Walikota Surabaya Drs.H.Bambang DH menyerahkan bantuan dana itu melalui Ketua Umum Gebu Minang Jatim Ir.Firdaus HB. Disaksikan oleh Ketua DPRD Kota Surabaya Drs.Wisnu Wardhana, Ketua gapensi jatim Ir.HM Amin, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Drs.H.Sahudi, dan para kepala sekolah se Kota Surabaya.
Hadir pula pada acara itu, Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Sumatera Barat, Bbuya H.Mas’ud Abidin yang sekaligus memberikan informasi terkini dari Sumatera Barat. Selain disampaikan secara lisan, Ir.Firdaus yang baru saja kembali dari Madang menyampaikan presentasi dengan memutar video, serta foto-foto akibat gempa melalui layar besar di depan panggung.
Setelah mendengar kesaksian dari Buya Mas’ud Abidin dan Ir.Firdaus, walikota Surabaya tidak mampu menahan rasa sedihnya. Saat menyampaikan sambutan selesai menyerahkan bantuan, ia berkata dengan terbata-bata, bahkan tidak kyat menahan air mata. Walikota Surabaya itu, menangis sesegukan, sehingga membuat suasana menjadi hening. Bahkan tidak sedikit pula hadirin yang ikut mengeluarkan air mata.
Ir.Irdaus menyatakan, bantuan para siswa dari Surabaya itu akan diwujudkan untuk perbaikan sekolah di Kota Padang. Apabila sekolah itu kelak sudah selesai diperbaiki, warga Minang dan Kota Madang mengharapkan kehadiran Walikota dan tokoh masyarakat Surabaya untuk datang ke Padang.
Setelah gempa di Sumatera Barat, 30 September lalu, di Surabaya langsung didirikan tiga posko bantuan bencana kerjasama antara Gebu Minang Jatim dengan Pemerintah Kota Surabaya, serta Pemerintah Provinsi Jawa Timar. Kecuali itu beberapa tempat juga membangun posko peduli yang menghimpun bantuan untuk Sumbar, termasuk Koran Jawa Pos Grup.
Barang-barang itu ada yang dikirim melalui darat, laut maupun udara, Untuk angkutan laut dikordinasikan langsung oleh TNI-AL Komando Armada RI Wilayah Timar (Koarmatim) yang berpusat di Surabaya. TNI-AL juga membuka Rumah Sakit (RS) terapung di Teluk Bayur, Padang.***

Dokumentasi Foto WR Soepratman

Foto sekitar makam dan museum WR Soepratman, jepretan Yousri Nur Raja Agam.
Menjelang peringatan Sumpah Pemuda tahun ini, untuk melengkapi tulisan tentang WR Soepratman, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, berikut ini saya tampilkan “album foto” WR Soepratman.

Foto-foto ini adalah foto makam lama dan baru WR Soepratman di Taman Makam Pahlawan Khusus di Kelurahan Rangkah, Jalan Kenjeran Surabaya dan Museum WR Soepratman di Jalan Mangga 21 Kecamatan tambaksari Surabaya.

Foto 1: Patung WR Soepratman karya pematung Oerip Soerachman yang terletak di depan Museum Mini (Rumah Wafat) WR Soepratman Jalan Mangga 21, Tambaksari Surabaya, dicat merah-putih oleh Zainal Karim yang sempat menjaga museum mini itu tahun 2007-2009. Nanti patung itu akan dikembalikan kepada aslinya, tanpa dicat.

Foto 2: Makam lama WR Soepratman terletak di Taman Pemakaman Umum (TPU) Kapas. Kemudian dipindah ke komplek TMP (Taman makam Pahlawan) Khusus Pahlawan Nasional WR Soepratman di Tambaksegaran, Kelurahan Rangkah, Jalan Kenjeran Surabaya.

Foto 3: TMP Khusus Pahlawan Nasional WR Soepratman di Tambaksegaran Wetan, Kelurahan Rangkah, Jalan Kenjeran Surabaya yang dibangun dalam bentuk komplek tersendiri, setelah dipindahkan kerangkanya dari TPU Kapas di seberang jalan TMP Khusus yang sekarang.

Foto 4: Patung WR Soepratman di Komplek TMP Khusus WR Soepratman.

Foto 5: Biola asli yang dijadikan duplikat biola WR Soepratman yang disimpan di Museum Mini WR Soepratman Jalan Mangga 21 Surabaya.

Foto 6: Makam WR Soepratman terletak di dalam pendapa di bawah jungkup beratap joglo khas Jawa Timur, di Jalan Kenjeran Surabaya.

Foto 7: Riwayat Hidup WR Soepratman terukir dengan pahatan di dinding Komplek Makam TMP Khusus WR Soepratman berjejer dengan pahatan lagu Indonesia Raya yang terdiri dari tiga kuplet.

Foto 8: Beberapa buku yang merupakan sebagian koleksi Museum Mini WR Soepratman di Jalan Mangga21 Surabaya.

Foto 9: Ir.H.Oerip Soedarman “kuasa ahli waris WR Soepratman” sedang memetik biola asli yang dijadikan duplikat biola WR Soepratman di Museum Mini WR Soepratman di Jalan Mangga 21 Surabaya.

Patung WR Soepratman

Patung WR Soepratman

Makam lama WR Soepratman

Makam lama WR Soepratman

Makam WR Soepratman di TMP Khusus Rangkah

Makam WR Soepratman di TMP Khusus Rangkah

Patung WR Soeprtaman

Patung WR Soeprtaman

Biola Asli Duplikat dari Biola WR Soepratman

Biola Asli Duplikat dari Biola WR Soepratman

Jungkup TMP Khusus WR Soepratman

Jungkup TMP Khusus WR Soepratman

Riwayat Hidup WR Soepratman/caption]

Buku tentang WR Soepratman

Buku tentang WR Soepratman

Riwayat Hidup WR Soepratman

Ir.H.Oerip Soedarman

Ir.H.Oerip Soedarman

MAKAM PAHLAWAN JADI OBYEK WISATA

Makam Pahlawan Nasional BUNG TOMO tidak berada di TMP, tetapi bergabung dengan pusara rakyat Surabaya di TPU Ngagel Surabaya
“]Makam Pahlawan Nasional BUNG TOMO tidak berada di TMP, tetapi bergabung dengan pusara rakyat Surabaya di TPU Ngagel Surabaya[/caption]

caption=”Yousri Nur RA MH”]Yousri Nur RA MH[/caption]

MAKAM PAHLAWAN
JADI OBYEK WISATA
KOTA PAHLAWAN

(Wisata Religi atau Ziarah)

Oleh: Yousri Nur Raja Agam MH *)

KEGIATAN wisata dan pariwisata di Kota Pahlawan Surabaya, harus ada yang khas atau spesifik.

Pengertian berwisata, tidak harus hanya bersenang-senang, namun yang paling utama dalam kegiatan wisata adalah kesan dan terkesan. Boleh juga pakai istilah, melancong atau pesiar, di mana tujuannya adalah mencari sesuatu yang baru di alam ini.

Dari hasil kunjungan itu, akan diperoleh suatu kenangan yang indah, sehingga kita akan “terkenang selalu”. Tidak hanya itu, pengertian wisata termasuk di dalamnya berziarah, melakukan kunjungan yang bernilai religius.

Biasanya, dalam suatu perjalanan wisata, selain memperoleh kesan, juga didapatkan hal yang belum pernah diketahui sebelumnya. Dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakan, diperoleh pengetahuan dan ilmu yang baru. Dengan demikian, segala yang menjadi ilmu dasar dalam ingatan itu akan dengan mudah disampaikan atau ditularkan kepada orang lain. Kita tidak hanya sekedar mendengar cerita orang lain atau hanya membaca dari buku.

Memang, dengan kita banyak membaca dan mendengarkan cerita dari seseorang, kita akan memperoleh pengetahuan yang banyak. Kendati demikian, yang lebih baik lagi atau dirasa lebih afdhal, kalau kita melihat sendiri, tahu sendiri dan mendengar sendiri dari sumber utamanya. Ada kepuasan batin.

Kunjungan dalam bentuk ziarah, memang ada hal lain yang ditemukan. Perasaan dalam wisata ziarah memberi kesan kedekatan rohani dengan sang tokoh dan Allah Maha Pencipta. Kota Surabaya, juga banyak dikunjungi parawisatawan ziarah ini, yakni ke Masjid Agung Ampel dan ke kawasan pemakaman Sunan Ampel (Cerita tentang Sunan Ampel ditulis tersendiri).

Berbeda dengan ziarah, kegiatan wisata pada umumnya adalah kegiatan rekreasi dan bersenang-senang. Tentu, hasil akhir yang diperoleh adalah kesan senang dan puas.
Nah, bepergian jauh, berwisata, melancong, pesiar atau berdarmawisata, tujuannya adalah untuk memperoleh “kepuasan batin”. Oleh sebab itu, dalam penyediaan obyek kepariwisataan, yang utama adalah menjadikan obyek tersebut meninggalkan kesan yang menghasilkan kepuasan batin.

Kota Surabaya yang berjuluk Kota Pahlawan dan Kota Budi Pamarinda, layak dijual menjadi obyek wisata dalam arti yang sesungguhnya. Seperti yang pernah disajikan sebelumnya, bahwa kegiatan Budimarinda (Budara, Pendidikan, Maritim, Industri dan Perdagangan), dapat dirinci dan dipilah-pilah menjadi obyek “par” atau pariwisata.

Namun, para pendatang ke Kota Pahlawan ini, kadang-kadang “buta”, mereka sulit mengetahui secara pasti apa saja obyek wisata di Surabaya. Belum ada paket wisata yang padu dan terintegrasi antara Dinas Periwisata dengan perusahaan pengelola kepariwisataan. Masing-masing jalan sendiri, sehingga obyek wisata di Surabaya ini lepas dan terpotong-potong sesuai dengan selera masing-masing pula.

Pendatang dari luar daerah tiba di Surabaya, umumnya melalui Bandara Juanda atau Pelabuhan Laut Tanjung Perak, atau di Stasiun Kereta Api Pasar Turi dan Gubeng, atau juga yang turun di terminal bus antarkota Purabaya dan Tambakoso Wilangun. Seharusnya, di peron tempat mendarat itu mereka disambut dengan ramah, melalui bahasa tulisan.

Jadikan pendatang itu memperoleh kesan pertama, bahwa Kota Surabaya ini memang layak disebut “Kota Pahlawan”. Saat matanya terpana melihat gambaran kepahlawanan di Kota Surabaya itu, wisatawan ini kemudian diarahkan untuk menelusuri obyek wisata di Surabaya yang memang bernuansa kepahlawanan.

Jadikan para wisnu (wisatawan nusantara) atau wisman (wisatawan mancanegara) itu memperoleh suatu keasyikan. Kalau semula, mungkin di Surabaya ini mereka hanya sekedar singgah, karena akan melanjutkan perjalanan menuju ke Gunung Bromo, Bali atau Jogjakarta. Tetapi, kita harus menjerat para wisatawan itu “menginap” di Surabaya, sebab salah satu wujud kepariwisataan itu adalah “menginap” dan membelanjakan uangnya di obyek wisata.

Setelah wisnu atau wisman itu melhat ke sana ke mari, sodori informasi sebanyak mungkin tentang kota ini. Sediakan secara gratis kertas informasi dalam bentuk buklet atau mungkin layar monitor informasi yang bicara tentang “Ini lho Surabaya!”. Beri mereka peta wisata, lalu serahkan paket wisata Kota Pahlawan. Kemudian dilanjutkan dengan informasi aktivitas kota ini di bidang Budi (pa)marinda itu.

Saat wisatawan berada di Kota Surabaya, warganya harus ramah menyapa dan menjamu, sehingga kesan secara beruntun dirasakan di hati. Kesan pertama yang memikat akan menjadi kenangan yang takkan terlupakan. Itulah kepuasan batin yang dicari para petualang wisata. Bagi pengaran dan penulis, mereka akan memperoleh ilham yang makin dalam, sehingga dalam buah karyanya akan terwujud gambaran yang nyata.

Mari kita kunjungi “obyek wisata” di Kota Surabaya yang bernuansa kepahlawanan. Di antaranya, Museum Pahlawan dan Taman Makam Pahlawan.

Museum Tugu Pahlawan
Sebagai Kota Pahlawan, di Surabaya berdiri Tugu Pahlawan yang terletak di Taman Tugu Pahlawan di Jalan Pahlawan Surabaya. Di halaman Taman Tugu Pahlawan ditemukan patung pada pahlawan dan orang-orang yang berjasa saat peristiwa bersejarah sekitar tanggal 10 November 1945. Kiprah “Arek Suroboyo” yang memuncak tanggal 10 November 1945 ini, kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan yang diperingati setiap tahun oleh Bangsa Indonesia.

Tidak hanya sekedar tugu pahlawan dan patung-patung yang terdapat di Taman Tugu Pahlawan, tetapi di dalam perut bumi di samping bawah Tugu Pahlawan itu, ada Museum Pahlawan 10 November.

Dulunya di zaman Penjajahan Belanda, di tempat yang sekarang dinamai Taman Tugu Pahlawan ini berdiri gedung pengadilan yang disebut Raad van Justitie. Dalam peristiwa perang kemerdekaan gedung itu hancur dan tahun 1951 benar-benar dihancurkan seluruhnya, sehingga rata dengan tanah.

Presiden RI pertama, Ir.H.Sukarno menetapkan pembangunan Tugu Pahlawan di tempat ini. Tepat pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 1951, Bung Karno meletakkan batu pertama pembangunan Tugu Pahlawan. Setahun kemudian, pada peringatan Hari pahlawan 10 November 1952, Tugu Pahlawan di Kota Surabaya diresmikan.

Saat Pemerintahan Kota dipegang oleh dr.H.Poernomo Kasidi sebagai walikota tahun 1991 yang dilanjut oleh H.Sunarto Sumoprawiro, di bawah Taman Tugu Pahlawan itu dibangun Museum Pahlawan 10 November. Pekerjaan yang terdiri delapan paket itu menghabiskan biaya Rp 32,9 miliar.

Walaupun di tempat ini berbagai jenis peninggalan sejarah dipajang, ditambah dengan diorama yang mampu bercerita tentang peristiwa heroik yang memakan korban ribuan jiwa Arek Suroboyo, namun belum banyak orang yang tahu. Jangankan para pelancong yang disebut wisnu dan wisman, warga kota Surabaya saja, 80 persen belum pernah datang ke sini. Kalau seandainya dihitung warga kota Surabaya ini berjumlah tiga juga jiwa, maka yang diperkirakan sudah masuk ke Museum Pahlawan ini, baru berapa?

Bagaimana mungkin orang luar Surabaya tertarik masuk ke dalam Museum Pahlawan, kalau warga Surabaya sendiri yang ditanyai tamunya juga kurang informasi, bahkan buta informasi.

Makam para pahlawan yang disebut TMP (Taman Makam Pahlawan) di Surabaya ini cukup banyak. Ada yang mengatakan, bahwa makam-makam kampung di Kota Surabaya ini umumnya ditempati oleh para pahlawan, pelaku sejarah 10 November 1945. walaupun demikian, yang diwujudkan sebagai TMP ada tiga: yakni TMP di Jalan Kusuma Bangsa, TMP di Jalan Ngagel Jaya Selatan (Jalan Bung Tomo) dan TMP di Jalan Mayjen Sungkono.

Kecuali itu, di Surabaya juga ada TMP khusus, tempat dimakamkannya Pahlawan Nasional salah seorang pendiri Budi Utomo, Dr.Sutomo di Jalan Bubutan Surabaya dan pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman, dekat Pemakaman Umum Rangkah di Jalan Kenjeran Surabaya.

Belajar dari Filipina

Pemerintah Kota Surabaya pernah mengadakan studi banding ke Filipina, bagaimana mewujudkan TMP sebagai obyek wisata. Sebab, di Filipina ada sebuah TMP yang dibangun cukup megah dan ternyata mampu menjaring para wisatawan berkunjung ke tempat itu. Bahkan, ada ungkapan, kalau seandainya datang Filipina, tetapi belum berkunjung ke TMP yang bernama “Manila American Cemetery and Memorial” (MACM), itu sama artinya belum pernah ke Filipina.

Nah, adakah ungkapan seperti itu bisa diterapkan di Surabaya? Misalnya, apabila belum berkunjung ke Taman Tugu Pahlawan dan Taman Makam Pahlawan di Surabaya, itu sama artinya anda belum pernah datang ke Surabaya.

Untuk itulah, belajar dari Filipina itu, Pemkot Surabaya bernah mencanangkan akan menjadi TMP di Jalan Mayjen Sungkono dan Taman Tugu Pahlawan sebagai obyek wisata “mutlak” bagi para wisatawan. Namun, ide, keinginan, harapan dan bahlkan apa yang pernah dicanangkan itu tinggal menjadi cerita masa lalu. Wujudnya, nihil. Padahal untuk studi banding ke Filipina itu menggunakan dana besar dari Pemkot Surabaya yang diikuti oleh sebuah tim dari berbagai disiplin ilmu.

TMP yang terletak di Fort Bonifacio, Manila, Filipina itu terletak di Provinsi Rizal yang sebelumnya bernama Fort William Mc.Kinley. Memang, sebagai bekas jajahan Amerika, di Filipina banyak nama tempat yang berbau Amerika.

TMP yang terletak sekitar 6 mil sebelah tenggara pusat kota Manila itu mudah dicapai dengan menggunakan taksi melalui jalan raya Epifanio de Los Santos Avenue (highway 54) dan McKinley Road. Di TMP yang luasnya 152 are atau sekitar 60,8 hektar dimakamkan 17.206 jasad tentara Amerika yang tewas dalam Perang Dunia II tahun 1945. Keanggunan TMP ini terlihat sejak dari gerbangnya, kemudian penataan plaza dengan air muncrat dengan tembok abadi (memorial building) di tengah TMP.

Itu pulalah sebabnya, TMP MACM di Filipina yang merupakan TMP terbesar kedua setelah TMP Arlington, di Washington, Amerika Serikat itu, oleh Pemkot Surabaya dijadikan salah satu model untuk penataan TMP di Jalan Mayjen Sungkono.

Mungkinkah apa yang pernah digagas dan dicanangkan Pemkot Surabaya, menjadikan TMP sebagai obyek wisata dapat diwujudkan? Kalau kita ingin benar-benar menjadikan Surabaya sebagai Kota Pahlawan, tentu wajib hukumnya. Sebab, mubazir dana yang sudah dikeluarkan untuk studi banding ke luar negeri itu.

Makam Belanda dan Jepang
Tidaka ada salahnya pula, sebagai obyek wisata, berkunjung ke makam para pendahulu kita. Tidak saja ke makam Sunan Ampel dan para pengikutnya. Makam bekas penjajah atau kolonial Belanda dan Jepang, sebenarnya bisa dikelola sebagai obyek wisata yang menghasilkan pemasukan ke kas Pemkot Surabaya.
Di Surabaya, salah satu komplek makam penjajah yang dikelola dengan baik adalah Makam Kembang Kuning. Khusus untuk ini, saya tulis dengan rubrik sendiri. Sebab, di sini juga ada beberapa nama tokoh bangsa Balanda.

Selain makam rakyat, juga terdapat makam para pejabat dan “pahlawan” bagi bangsa Belanda. Juga ada makam lama yang kurang mendapat perwatan, di Makam Peneleh. Makam yang sudah dinyatakan penuh.

Nah, di Kota Surabaya, juga tidak sedikit balatentara Jepang yang “gugur” sebagai pahlawan Negara Sakura, yangb tentunya bukan pahlawan bagi bangsa Indonesia. Bagaimana pula cerita tentang makam “saudara tua” dari dai Nippon itu. Juga saya tulis dalam judul tersendiri.

Nah, sekarang Pemerintah Kota Surabaya, maupun Pemerintah Provinsi Jawa Timur harus punya kemauan untuk memanfaatkan TMP atau makam-makam lama dijadikan sebagai obyek wisata, baik wisata religi atau ziarah, maupun sebagai obyek wisata sejarah.

Seyogyanya, mengunjungi TMP, makam-makam lama dan bersejarah, dijadikan paket wisata kota Surabaya, satu-satunya kota di Indonesia yang berjuluk Kota Pahlawan.***

*) Yousri Nur Raja Agam MH – pemerhati sejarah dan Ketua Yayasan Peduli Surabaya.

Lagu Indonesia Raya Lengkap Tiga Kuplet

Lagu Indonesia Raya
Lengkap Tiga Kuplet

Patung WR Soepratman di depan Museum Mini WR Soepratman Jalan Mangga 21 Surabaya

Patung WR Soepratman di depan Museum Mini WR Soepratman Jalan Mangga 21 Surabaya

Oleh: Yousri Nur Raja Agam MH *)

LAGU Indonesia Raya, adalah Lagu Kebangsaan Indonesia. Lagu resmi yang dinyanyikan dalam suatu upacara. Lagu kebangsaan itu, tidak hanya dipunyai oleh Bangsa Indonesia, tetapi juga oleh seluruh bangsa di dunia.

Untuk melagukan lagu kebangsaan, di tiap negara diatur dengan undang-undang atau peraturan khusus. Kedudukan lagu kebangsaan, sejajar dengan bendera dan lambang negara. Bagi kita di Indonesia, lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diciptakan oleh Wage Rudolf Soepratman, posisinya sejajar dengan bendera merah putih dan lambang negara Garuda Pancasila yang bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika.

Mari kita layangkan alam pandang kita jauh ke masa lalu, 81 tahun yang silam, 28 Oktober 1928. Tatkala itu untuk pertamakalinya lagu Indonesia Raya dinyanyikan dan dikumandangkan pada suatu acara resmi, yakni Kongres II Pemuda Indonesia, di Jakarta. Dan yang paling istimewa, lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh paduan suara pemuda-pelajar Indonesia itu, diiringi langsung dengan biola oleh sang pencipta lagu Indonesia Raya, WR Soepratman.

Tidak mudah dan tidak gampang untuk menyanyikan Lagu Indonesia Raya ketika itu. Ketika bangsa Indonesia masih berada di bawah cengkeraman penjajah kolonial Belanda. Menyanyikan lagu Indonesia Raya, begitu juga lagu-lagu mars perjuangan untuk menggelorakan semangat pemuda dilarang dan diawasi dengan sangat ketat.

Lagu Indonesia Raya, yang dikumandangkan pada saat Kongres II Pemuda Indonesia yang melahirkan “Sumpah Pemuda”, 28 Oktober 1928 itu, nyaris dilarang sama sekali untuk dinyanyikan. Namun berkat kepiawaian Muhammad Husni Thamrin beserta panitia Kongres II Pemuda Indonesia di Jakarta itu, akhirnya Lagu Indonesia Raya dapat dinyanyikan. Bahkan, peserta Kongres II Pemuda Indonesia, sepakat menjadikan lagu Indonesia Raya sebagai lagu “wajib” dan kemudian ditetapkan menjadi lagu kebangsaan Indonesia.

Bangsa di dunia
Lagu Kebangsaan, hampir dipunyai oleh setiap bangsa dan negara di dunia. Amerika Serikat sebagai negara besar, lagu kebangsaannya berjudul: The Star Spangled Banner. Musiknya digubah oleh John Stafford Smith dan teksnya dibuat oleh Francis Scot Key. Negara kerajaan Jepang punya lagu kebangsaan Kimigayo yang musiknya dirilis oleh Hayashi Hirokami, sedang penulis teksnya tak dikenal. Thailand atau dulu disebut Muang Thai dengan lagu berjudul Sansern Prabarami, teksnya disusun oleh Pangeran Naris, sedang musiknya digubah oleh Phra Proditphairo.

Negara Yahudi, Israel juga punya lagu kebangsaan dengan judul Hatikwah yang teksnya digubah oleh N.H. Imber, sedang penggubah musiknya tak dikenal. Negara Saudi Arabia dengan As Salam Al Malaky As Saudi, yang musiknya digubah oleh Abdul Rachman al Khatib. Bangsa Spanyol dengan Himno Nacional, penulis musik dan teksnya sampai sekarang tak dikenal. Dan masih banyak lagi. Hampir seluruh bangsa di dunia ini mempunyai lagu kebangsaan.

Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, musik dan teksnya digubah oleh satu orang, yakni W.R. Soepratman. Lahir pada zaman pergerakan dalam kancah apinya perjuangan bangsa Indonesia. Uniknya, Lagu Indonesia Raya ini lahir sebelum Negara Republik Indonesia itu sendiri lahir.

Di tiap negara, makna lagu kebangsaan hampir sama. Lagu yang dikeramatkan di lubuk hati setiap bangsa. Bangsa yang mempunyai lagu kebaangsaan mempunyai rasa kebangsaan yang tinggi, Deutschland Uber Alles, cinta pada rajanya, kepada negaranya, kepada pemimpinnya. Seperti God Save the King, As Salam Al Malaky As Saudi. Sedangkan bagi kita bangsa Indonesia, lagu kebangsaan Indonesia Raya mempunyai arti yang luas, cinta kepada tanah air. Ada lagi yang cinta kepada benderanya Star Spangled Banner. Bahkan ada pula lagu kebangsaan yang merupakan penyataan siap dan rela berkorban: Wilhelmus, Merseilles.

Lagu Kebangsaan

Setelah pergerakan Budi Utomo (Boedi Oetomo) yang dimulai 20 Mei 1908 melakukan berbagai kegiatan, akhirnya mampu membentuk rasa kebangsaan dan nasionalisme. Keinginan untuk bersatu dan merdeka semakin kuat. Pergerakan itu mampu menghimpun pemuda dari berbagai suku dan daerah di Indonesia.

Para pemuda yang berasal dari Pulau Jawa mendirikan Jong Java, di Sumatera ada Jong Sumatera, di Sulawesi bernama Jong Celebes, di Maluku dikenal dengan sebutan Jong Ambon. Juga ada organisasi pemuda Islam yang bernama Jong Islamiten dan sebagainya.

Pertemuan antar pemuda dari berbagai daerah itu, berhasil menyelenggarakan Kongres I Pemuda Indonesia tanggal 30 April sampai dengan 2 Mei 1926 di Jakarta. Dalam kongres tersebut telah diambil keputusan yang menetapkan bahasa Indonesia adalah bahasa kesatuan.

Dua tahun kemudian, diselenggarakan Kongres II Pemuda Indonesia di Jakarta selama dua hari tanggal 27 Oktober sampai 28 Oktober 1928. Kongres ini menghasilkan kebulatan tekad pemuda Indonesia yang diwujudkan dalam suatu tema “Sumpah Pemuda”. Ada tiga inti pokok sebagai penjabaran dari sumpah pemuda itu, yakni:

Bertanahair Satu, tanahair Indonesia
Berbangsa Satu, bangsa Indonesia
Berbahasa Satu, bahasa Indonesia

Di tengah gegap gempitanya sumpah sakti pemuda yang getaran dan gaungnya belum berhenti, tampillah seorang pemuda Soepratman. Ia mempersembahkan sebuah lagu hasil karya ciptaannya. Soepratman menggesekkan biolanya dengan penuh khidmat. Para pendengar terdiam mendengarkan. Suasana ruangan masih hening tenang.

Kemudian dilanjutkan dengan paduan suara bersama (koor) pemuda-pemudi dari Perkumpulan Pelajar-Pelajar Indonesia yang dipimpin sendiri oleh Soepratman. Dengan diiringi orkes Indonesia Merdeka, lagu Indonesia Raya diperdengarkan. Semua yang mendengarkabn terpaku diam bagaikan tugu.

Suara nyanyian bergeletar, hati para pendengar bergetar. Lagu ciptan Soepratman menghunjam dalam dada menggelorakan jiwa, membakar semangat juang bangsa Indonesia. Apalagi setelah sampai kata-kata:

Indones, Indones, Merdeka, Merdeka
Tanahkoe, neg`rikoe jang koetjinta
Indones, Indones, Merdeka, Merdeka
Hidoeplah Indonesia Raja.

Seakan-akan darah pada pendengar mendidih oleh api semangat juang `Indonesia Merdeka`. Jiwa bangsa yang semula hampir mati oleh penindasan penjajah Belanda beratus-ratus tahun, menjadi bangun dan hidup. Apalagi dengan sentakan kalimat terakhir lagu itu “Hiduplah Indonesia Raya.”

Musik yang digubah Soepratman memang penuh irama keindahan alam Indonesia. Alamnya yang subur, pulau-pulau yang bertaburan bagaikan jelujuran rentetan mutu manikam, lautnya menggelora menepuk pantai pulau kelapa. Sedang teks syairnya bernada kesadaran, kesadaran hati dan budi. Kesadaran nasional yang kuat dan abadi. Kesadaran yang digariskan dalam lagunya ternyata seirama dengan sumpah sakti pemuda yang baru bergema.

Lagu Indonesia Raya itu disambut oleh Kongres dengan luar biasa hebatnya. Akhirnya dengan suara bulat, Kongres II Pemuda Indonesia, memutuskan dan mengakui lagu Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan. Lagu yang resmi akan dinyanyikan pada tiap-tiap upacara resmi dan dalam rapat-rapat. Segera disebarluaskan ke seluruh dalam negeri dan luar negeri.

Kongres II Pemuda Indonesia juga menyatakan sang saka Merah Putih sebagai bendera kebangsaan Indonesia.

Zaman Penjajahan

Dalam sejarah pergerakan bangsa Indonesia sebelum lahirnya lagu Indonesia Raya, belum ada suatu lagu resmi. Keadaan begini memang dirasa sesuatu kekosongan dan kehampaan dalam kancah perjuangan. Memang sudah ada suatu lagu “Dari Barat Sampai ke Timur” yang selalu dipergunakan sebagai alat pemersatu dan alat perjuangan bangsa di zaman penjajahan Belanda. Tetapi lagu tersebut belum bisa menggetarkan hati, belum sanggup membakar dan belum mendobrak jiwa ke arah Indonesia merdeka.

Soepratman menyadari ini. Berjam-jam Soepratman memercikkan tintanya, melukiskan semua suara dan nada itu di atas kertas. Dicobanya dengan biolanya. Kemudian digubahlah teks syairnya, maka terciptalah Lagu Indonesia Raya. Ada tiga kouplet atau stanza.

Kouplet I

Indonesia tanah airkoe,
Tanah toempah darahkoe;
Disanalah akoe berdiri,
Mendjaga pandoe iboekoe.

Indonesia kebangsaankoe,
Kebangsaan tanah airkoe,
Marilah kita berseroe
“Indonesia bersatoe”.

Hidoeplah tanahkoe,
Hidoeplah neg`rikoe,
Bangsakoe, djiwakoe semoea;

Bangoenlah rajatnja,
Bangoenlah badannja,
Oentoek Indonesia Raja.

Refrein:

Indones, Indones, Merdeka, Merdeka,
Tanahkoe, neg`rikoe, jang koetjinta;
Indones, Indones, Merdeka, Merdeka,
Hidoeplah Indonesia Raja.

Kouplet II

Indonesia, tanah jang moelia,
Tanah kita jang kaja;
Disanalah akoe hidoep,
Oentoek slama-lamanja.

Indonesia, tanah poesaka,
Poesaka kita semoeanja;
Marilah kita bersersoe,
“Indonesia Bersatoe”.

Soeboerlah tanahnya,
Soeboerlah djiwanya,
Bangsanja rajatnja semoea;

Sedarlah hatinja,
Sedarlah boedinja,
Oentoek Indonesia Raja.

Kouplet III

Indonesia, tanah jang soetji,
Bagi kita disini,
Disanalah kita berdiri,
Mendjaga Iboe sedjati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah jang terkoetjintai;
Marilah kita berjanji:
“Indonesia Bersatoe”.

S`lamatlah rajatja,
S`lamatlah poetranja,
Poelaoenja, laoetnja, semoea;

Madjoelah neg`rinja,
Madjoelah Pandoenja
Oentoek Indonesia Raja.

Refrein:

Indones, Indones, Merdeka,Merdeka,
Tanahkoe, neg`rikoe jang koetjinta;
Indones, Indones, Merdeka-Merdeka,
Hidoeplah Indonesia Raja.

Tersebar Luas

Lagu dan teks syairnya selesai sudah. Soepratman merasa puas dan lega. Segera ia menulis surat kepada Panitia Kongres Pemuda, bahwa lagu jang dimaksud telah digubah. Dan diterangkan pula kalau lagu ini nanti tidak dapat dijadikan lagu pergerakan, paling tidak seharusnya menjadi lagu kebangsaan, lagu bangsa Indonesia.

Kemudian ternyata lagu Indonesia Raya tersebut dalam Kongres II Pemuda Indonesia, 28 Oktober 1928 itu diterima sebagai lagu kebangsaan. Dalam waktu singkat lagu ini telah luas tersebar di seluruh Indonesia. malahan Bung Karno yang pada waktu itu di Bandung telah menyuruh orangnya menemui Soepratman sendiri untuk minta teksnya. Di Bandung lagu tersebut diajarkan pada warga PNI dan lain-lainnya.

Soepratman yang pada waktu itu sebagai wartawan suratkabar Sin Po, mengusulkan kepada direkturnya, untuk menerbitkan lagu ciptaannya. Lagu Indonesia Raya kemudian dicetak dan disebarluaskan ke seluruh Nusantara. Lebih populer lagi setelah lagu tersebut direkam oleh Firma Tio Tek Hong dijadikan piringan hitam. Dengan demikian semangat bangsa Indonesia bertambah hebat dan menggelora. Di mana-mana lagu itu menggema memenuhi angkasa.

Melihat situasi yang demikian itu Pemerintah Hindia Belanda tidak tinggal diam. Lagu tersebut dianggap sebagai lagu yang membahayakan kepentingan penjajahan dan merugikan politiknya. Mereka segera melarang bangsa Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya. Rakyat bergolak. Surat-surat kabar Indonesia menggugat. Politisi-politisi bangsa Indonesia memprotes tindakan pemerintah Hindia Belanda itu. Di Dewan Rakyat (Volksraad) M.H. Thamrin mengajukan protes keras atas larangan menyanyikan lagu tersebut.

Pemerintah Hindia Belanda kemudian menyatakan bahwa Pemerintah tidak berkeberatan bangsa Indonesia menyanyikan lagu kebangsaannya. Hanya saja kalimat “Indones, Indones, Merdeka, Merdeka” tidak boleh dicantumkan.

Soepratman mengerti bahwa kalimat-kalimat `”Merdeka, Merdeka” ini seperti halilintar menyambar di telinga Belanda. Pekak rasanya mendengarkan kata guntur “Merdeka” mengiang-ngiang di selaput telinga Belanda.

Supaya semangat persatuan dan gelora perjuangan tidak berhenti karena dilarangnya lagu itu, maka Soepratman mengubahnya dengan kalimat:
Indones, Indones, Moelia, Moelia.

Kalau sebelumnya WR Soepratman memberi judul lagunya itu: Indonesia, selanjutnya diberi nama lagu Indonesia Raya.

Peristiwa ini menambah sadarnya bangsa Indonesia. Dilarangnya menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan kata “Merdeka” menambah tebalnya kepercayaan dan keinsyafan akan sucinya perjuangan ke arah Indonesia merdeka. Sadar hatinya dan sadar budinya.

Sadar akan kecintaan pada tanah air yang harus dijaga dan harus dibela. Mereka menjadi sadar sebagai rakyat yang masih dibelenggu oleh rantai penjajahan. Dengan berteriak “Merdeka” saja sudah dilarang, apalagi menjadi bangsa yang merdeka.

Kemudian, kata-kata “merdeka” diperkenan menjadi bagian dari lagu Indonesia Raya. Hal ini sudah dapat menjadikan senang hati sanga pengarang yang sekarang beristirahat panjang di bumi Kota Pahlawan Surabaya, kata Ir.H.Oerip Soedarman – salah satu ahliwaris yang mengelola Makam dan Museum WR Soepratman di Surabaya..

Nah, itulah sepintas cuplikan tentang lahirnya lagu kebangsaan Indonesia Raya dan pertamakali lagu Indonesia Raya itu dikumandangkan di depan acara resmi, Kongres II Pemuda Indonesia yang melahirkan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. ***

*) Yousri Nur Raja Agam MH – Wartawan Senior di Surabaya.-

Wage Rudolf Soepratman Pencipta Lagu Indonesia Raya

Patung WR Soepratman sedang menggesek biola di TMP Khusus Rangkah, Jalan Kenjeran Surabaya

Patung WR Soepratman sedang menggesek biola di TMP Khusus Rangkah, Jalan Kenjeran Surabaya

Makam WR Soepratman di TMP Khusus Rangkah, Jalan Kenjeran Surabaya

Makam WR Soepratman di TMP Khusus Rangkah, Jalan Kenjeran Surabaya

MEMPERINGATI SUMPAH PEMUDA:

WR Soepratman
Pencipta Lagu Indonesia Raya
Dimakamkan di TMP Khusus Rangkah Surabaya

Oleh: Yousri Nur RA MH *)

Berkaitan dengan peringatan HUT ke-64 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2009 ini, berukutnya memperingati Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2009, kami menurunkan sebuah tulisan tentang Pahlawan Nasional, pencipta Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Wage Rudolf Soepratman. Nah siapa dan bagaimana kiprah perjuangan WR Soepratman?

WAGE Rudolf Soepratman adalah pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya” yang wafat di Surabaya. Sama dengan Dr.Soetomo, almarhum tidak dimakamkan di TMP (Taman Makam Pahlawan) yang ada di Surabaya, tetapi dimakamkan di TMP khusus. Tepatnya, dekat TPU (Taman Pemakaman Umum) Rangkah, Jalan Kenjeran Surabaya. Sebelum dipindah ke tempat yang sekarang, dulu jenazah WR Soepratman memang dimakamkan di TMP Khusus Rangkah, Surabaya.

WR Soepratman ditetapkan sebagai pahlawan nasional berkat jasanya menciptakan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Selain itu, nama WR Soepratman lekat dengan peringatan Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober. Karena pada Kongres Pemuda Indonesia II tanggal 28 Oktober 1928 itulah untuk pertamakalinya WR Soepratman memperkenalkan dan memperdengar kan lagu “Indonesia Raya”.

Kecuali peristiwa-peristiwa bersejarah itu, ada satu kebetulan yang luar biasa. Tanggal wafatnya WR Soepratman adalah 17 Agustus 1938. Tepat tujuh tahun sebelum tanggal 17 Agustus 1945 yang menjadi tanggal keramat bagi Bangsa Indonesia. Jadi, peringatan hari prokmalasi kemerdekaan RI itu, juga bersamaan dengan tanggal wafatnya WR Soepratman.

WR Soepratman menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah kakaknya di Jalan Mangga 21, Tambaksari Surabaya. Dari rumah duka inilah, jenazah almarhum WR Soepratman diusung ke tempat peristirahatannya yang terakhir di pemakaman umum Rangkah, Jalan Kenjeran Surabaya. Rumah duka itu, kini dijadikan “museum” WR Soepratman.

Bagi warga kota Surabaya, nama WR Soepratman memang tidak asing. Namun demikian belum semua warga kota mengetahui siapa sesungguhnya WR Soepratman. Untuk itulah, berkaitan dengan peringatan 60 tahun Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2005 yang sekaligus bersamaan dengan peringatan wafatnya 67 tahun wafatnya WR Soepratman, kami ungkap agak lebih rinci tentang pencipta lagu Indonesia Raya ini.

Lahir di Jakarta

Soepratman lahir hari Senin tanggal 9 Maret 1903 pukul 11 siang di Jatinegara, Jakarta – waktu itu masih bernama Batavia. Berdasarkan perhitungan kalender Jawa, hari Senin itu nama hari pasarannya disebut: Wage. Itulah sebabnya di depan nama Soepratman ada tambahan Wage. Sedangkan nama Rudolf, adalah pemberian dari kakak iparnya WM van Eldik.

Pancantuman nama Rudolf itu adalah siasat dari WM Van Eldik untuk memasukkan Soepratman bisa masuk ke sekolah Belanda. Maka lengkaplah nama pria berbintang Pisces ini: Wage Rudolf Soepratman.

Soepratman kecil menjadi kesayangan keluarganya. Ini mungkin disebabkan karena dialah satu-satunya anak laki-laki dari pasangan suami-isteri Djumeno Senen Sastrosoehardjo dengan Siti Senen.

Perkawinan Djumeno dengan Siti Senen, ayah dengan ibu kandung Soepratman ini melahirkan enam orang anak. Soepratman adalah anak ke lima. Kakak tertua Soepratman bernama Ny.Roekiyem Soepratiyah. Kakak nomor dua: Ny.Roekinah Soepratirah. Nomor tiga: Ny.Ngadini Soepratini. Nomor empat: Ny.Sarah. Sedangkan si bungsu adik Soepratman bernama Ny.Giyem Soepratinah, kata Ir Oerip Soedarman.

Ir.H.Oerip Soedarman, pensiunan PNS Kantor Gubernur Jawa Timur yang terakhir menjabat sebagai Kepala BKPMD (Badan Koordinasi Penanaman Modal Dalam Negeri) Jawa Timur adalah sahabat penulis. Pada tahun 2007 lalu menerbitkan buku revisi Sejarah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan WR Soeprtaman Penciptanya. Tahun ini direncakan akan menyempurnakan dan revisi ulang lagi buku yang awalnya ditulis oleh Oerip Kasansengari, ayahanda Oerip Soedarman.

Saat berusia 6 tahun, Soepratman masuk sekolah Budi Utomo di Jakarta. Namun di masa-masa sekolah yang memerlukan kasih sayang seorang ibu itu, justru Soepratman kehilangan. Ibunya meninggal dunia, sehingga ayahnya yang bekerja sebagai tentara KNIL dengan pangkat sersan waktu itu menjadi duda.

Tahun 1914, Soepratman dibawa oleh kakaknya Roekiyem Soepratiyah yang sudah menikah dengan WM van Eldik ke Makassar, Sulawesi Selatan. Di sana kakak iparnya yang nama aslinya adalah Sastromihardjo itu berstatus sebagai administrateur gewapende politie atau pegawai adminitrasi di kantor polisi. Namun ia masuk sebagai anggota koprs musik. Jadi WM van Eldik itu adalal pribumi Jawa Asli, bukan berdarah Belanda, jelas Oerip Soedarman.

Saat berada di Makassar itu Soepratman berhasil dimasukkan ke sekolah Belanda bernama ELS (Europese Lagare School). Karena waktu itu kaum pribumi tidak mudah masuk ke sekolah Belanda, maka WM van Eldik menyiasati dengan menambah Rudolf di depan nama Soepratman. Tidak hanya itu, van Eldik juga membuat keterangan bahwa Rudolf Soepratman adalah anaknya.

Namun akhirnya ketahuan kalau Rudolf Soepratman bukan anak WM van Eldik, sehingga ia dikeluarkan dari sekolah Belanda itu. Hal ini tidak mengurangi semangat Soepratman dan iapun kemudian masuk Sekolah Melayu.

Selain belajar di sekolah, Soepratman juga belajar musik dengan kakak iparnya van Eldik. Soepratman lebih tertarik memegang gitar dan biola. Berkat bimbingan van Eldik, akhirnya Soepratman benar-benar mampu menyalurkan bakatnya di bidang petik gitar dan gesek biola.

Tamat di Sekolah Melayu tahun 1917, Soepratman mendalami Bahasa Belanda. Dua tahun kemudian ia berhasil lulus ujian dan mendapatkan diploma KAE (Klein Amtenaar Examen). Setelah itu Soepratman masuk Normaal School, yakni sekolah guru. Tamat di sekolah guru, Soepratman diangkat sebagai guru di Makassar.

Di samping menjadi guru, Soepratman juga terjun dalam kegiatan musik. Tahun 1920 ia mendirikan jazz band yang diberi nama “Black and White”. Band pimpinan Soepratman ini di waktu itu terkenal di Makassar. Bahkan hampir setiap ada acara perkawinan dan ulangtahun, band “Black and White” selalu tampil. Apalagi ia popular di kalangan militer di Kazerne, kala itu.

Suatu ketika ada rencana Soepratman akan dipindahkan menjadi guru di Singkang. Ternyata kakak-kakaknya tidak setuju, sebab waktu itu situasi daerah itu dianggap gawat. Soepratman berhenti jadi guru dan kemudian bekerja sebagai klerk di Firma Nedem. Tidak lama di situ kemudian Soepratman bekerja di kantor Advokat Mr.Schulten, teman WM van Eldik.

Sekitar sepuluh tahun di Makassar, tahun 1924, Soepratman ingin melepas kerinduan terhadap keluarganya di Jawa. Iapun berangkat meninggalkan Makassar menuju Surabaya. Di Surabaya ia tinggal dengan kakaknya yang nomor dua Roekinah Soepratirah yang bersuamikan R.Koesnendar Kartodiredjo, karyawan kantor pelayaran KPM di Surabaya.

Tidak berapa lama, Soepratman menyusul ayahnya Djumeno Senen Sastrosoehardjo di Cimahi, Jawa Barat. Berbeda dengan di Makassar, di Cimahi kehidupan Soepratman tidak menentu. Ia tidak lagi main band seperti di Makassar.

Menjadi Wartawan

Dalam keadaan yang demikian, Soepratman melamar dan diterima menjadi wartawan di Suratkabar “Kaum Muda” di Bandung. Hanya sebentar menjadi wartawan, kemudian Soepratman bergabung dengan grup musik di rumah bola (societeit).

Setahun kemudian, tahun 1925, Soepratman berkenalan dengan Harun Harahap. Dalam perkenalan itu, Harun menyarankan agar Soepratman pindah ke Jakarta dan menemui Parada Harahap yang akan mendirikan kantor berita. Soepratman akhirnya mendapat izin dari ayahnya untuk pindah ke Jakarta.

Di Jakarta waktu itu situasi perjuangan pemuda sangat terasa. Semangat persatuan antarsuku bangsa yang ada di kalangan pemuda semakin kuat. Waktu itulah, Parada Harahap mendirikan kantor berita yang diberi nama “Alpena”. Namun usia kantor berita ini tidak lama, dan kemudian tutup.

Tahun 1926, Soepratman bergabung ke suratkabar “Sin Po”. Ia menjadi wartawan yang ditugaskan mengikuti pertemuan-pertemuan para pemuda dan berbagai organisasi. Soepratman akhirnya sering mengikuti rapat-rata yang diadakan para pemuda di gedung pertemuan Jalan Kenari, Jakarta.

Tulisan yang disajikan Soepratman di koran “Sin Po” makin tajam dan berkualitas, sehingga namanya dikenal sebagai wartawan kawakan. Bahkan tidak jarang tulisannya yang tajam itu menjadi catatan penguasa Belanda.

Bayarannya sebagai wartawan tidak mencukupi kehidupan Soepratman di Batavia atau Jakarta. Ia tinggal di rumah kecil berdinding bambu di gang becek Kampung Rawamangun. Untuk menambah penghasilan iapun melakukan pekerjaan sambilan berdagang kecil-kecilan, menjual buku bekas. Kehidupannya di Jakarta ini sangat berbeda dengan suasana ketika ia berada di Makassar yang penuh gemerlapan mengiringi sinyo-sinyo Belanda berdansa.

Tetapi, perbadaan itu memompa semangat Soepratman semakin mencintai negara dan bangsanya. Apalagi waktu itu ia sering mengikuti acara-acara dengan pidato politik oleh politikus ulung kala itu. Di antaranya: Bung Karno, Bung Hatta, Muhammad Husni Thamrin dan lain-lainnya. Jiwanya sudah terbakar oleh semangat perjuangan kemerdekaan. Soepratman semakin rajin memburu narasumber kaliber besar, sehingga tulisannya di koran “Sin Po” tambah berkualitas dan berbobot.

Makin Keras

Sebagai seorang wartawan di koran “Sin Po” Jakarta, tulisan yang menjadi bahan-bahan pemberitaan WR Soepratman, makin hari makin keras. Ia benar-benar menjadi penyambung lidah dan aspirasi perjuangan rakyat yang dikobarkan oleh para politikus kawakan. Ia tidak lagi sekedar mencatat hasil rapat dan pidato para tokoh politik kaliber besar bangsa Indonesia waktu itu.

WR Soepratman mulai menggali pola pikir dan cita-cita kemerdekaan yang diimpikan para pemimpin pemuda perjuangan. Ia mewawancarai dan memancing semangat yang bergelora di hati para patriot bangsa. Sehingga, tulisan yang disajikan WR Soepratman di koran “Sin Po” itu mulai membakar dan membuat “panas” telinga penguasa Belanda waktu itu.

Pengalaman sebagai wartawan itu sekaligus menjadikan WR Soepratman mengerti tentang politik. Perbincangan dan pembicaraannya dengan tokoh perjuangan, tidak semuanya dituangkan WR Soepratman menjadi bahan beritanya di koran. Banyak hal yang ia serap menjadi pokok pikiran yang ia simpan di otaknya. Dan, WR Soepratman kemudian sudah menyatu dengan politikus. Ia tidak lagi sekedar memburu berita, namun ia sudah terjun bersama para perintis kemerdekaan.

Dunia kewartawanan yang diwarnai jiwa seni benar-benar sudah melekat dan menyatu dalam diri WR Soperatman. Kemudian ditambah lagi dengan semangat patriotik dari lingkungan politik perjuangan bangsa. Dari alam fikir yang paripurna itu, menjelmalah sebuah karakter baru pada diri WR Soepratman. Ia menjadi wartawan yang kritis dan berwawasan luas.

Walaupun bergelut dan semakin matang di bidang politik, karena ia berada di lingkungan para politikus, namun WR Soepratman tetap menempatkan dirinya sebagai seorang wartawan profesional. Ia berusaha tidak hanyut terbawa gelombang politik. Tetapi ia tidak pernah absen mengikuti arus politik. Namun, demi bangsa dan tanahairnya, WR Soepratman menyerasikan dirinya dengan para pejuang.

Mencipta Lagu

Nah, kemudian jiwa seni yang terpendam mulai mengalir dengan deras. Ia tidak hanya sekedar menyanyikan lagu-lagu ciptaan orang lain. Dengan memetik biola kesayangannya, WR Soperatman mulai menaburkan benih yang bakal dipanen bangsa Indonesia kelak. Satu demi satu, lagu ciptaannya lahir. Umumnya yang dipersembahkan WR Soepratman adalah lagu mars yang mempunyai makna kejuangan dan mengandung arti politik.

Lagu mars pertama ciptaan WR Soepratman, sudah mampu memberi semangat juang bagi para pemuda. Lagu itu adalah lagu “Dari Barat sampai ke Timur”. Lagu ini menjadi inspirasi para pemuda pejuang untuk bersatu dalam wadah “Indonesia”. Syairnya dan iramanya cukup menyentuh, sehingga sering menjadi pembakar semangat juang para pemuda yang berasal dari berbagai pelosok Nusantara. Dan lagu “Dari barat sampai ke timur” ini sering dinyanyikan pada acara rapat-rapat.

Inilah syair lagu itu:

Dari barat sampai ke timur
Berjajar pulau-pulau
Sambung menyambung menjadi satu
Itulah Indonesia

Indonesia tanahairku
Aku berjanji padamu
Menjunjung tanahairku
Tanaiairku Indonesia

Sampai sekarang lagu ini masih berkumandang di bumi pertiwi dan menjadi salah satu lagu wajib. Namun, kalimat dari barat sampai ke timur diubah menjadi: “Dari Sabang sampai Merauke”.

Setelah lagi ciptaannya yang pertama ini mulai popular di kalangan pemuda dan anak-anak, WR Soepratman menciptakan lagu-lagu yang lain. Salah satu di antaranya, adalah: lagu “Indonesia Raya”.

Menjadi Lagu Kebangsaan

Semangat pemuda untuk meneruskan cita-cita perjuangan generasi Budi Utomo 1908 semakin merasuk ke dalam jiwa pemuda tahun 1926-an. Apalagi, di berbagai daerah sudah bermunculan perkumpulan politik. Bahkan, secara terang-terangan para pemuda pejuang itu mendirikan partai politik. Berbagai perkumpulan pemuda dari berbagai suku di Nusantara lahir di Jakarta.

Perkumpulan ini bergerak mempelopori pertemuan yang bersifat nasional. Perkumpulan itu adalah Jong Java, Jong Sumatra dan Jong Celebes (Sulawesi). Menyusul kemudian bergabung pula Jong Ambon (Maluku), Jong Batak dan lain-lainnya.

Pada tanggal 30 April hingga 2 Mei 1926 perkumpulan pemuda itu mengadakan pertemuan yang kemudian disebut Kongres Pemuda I. Dalam kongres ini disepekati, bahwa bahasa resmi yang digunakan adalah: Bahasa Indonesia.

Rapat-rapat pemuda pejuang semakin gencar untuk membangun semangat persatuan. Setelah Bahasa Indonesia resmi menjadi “bahasa persatuan”, dua tahun kemudian diselenggarakan Kongres Pemuda II, tepatnya 28 Oktober 1928.

Ternyata, WR Soepratman membuat kejutan. Kalau sebelumnya lagu “Dari barat sampai ke timur” sudah memasyarakat, saat Kongres Pemuda II ini, WR Soepratman memperkenalkan lagu ciptaannya yang terbaru: “Indonesia Raya”.

Bersama orkes “Indonesia Merdeka” yang dipimpinnya WR Soepratman menggesek biola, bergemalah irama yang sangat menusuk. Suasanapun menjadi hening tatkala koor pelajar menyanyikan syair lagu Indonesia Raya. Hadirin terkesima dan sertamerta berdiri tegap tanpa komando.

Saat sampai ke refrein yang mengumandangkan kalimat terakhir: “Hiduplah Indonesia Raya”, hadirin menjadi historis. Ada yang mengacungkan kepalan tangan, karena semangatnya benar-benar sudah terbakar.

Kongres Pemuda Indonesia II, 28 Oktober 1928 itu, akhirnya sepakat menetapkan lagu “Indonesia Raya” sebagai lagu kebangsaan Indonesia.

Walaupun demikian, dibentuk suatu panitia untuk melakukan kajian yang mendalam tentang syair lagu yang diperdengarkan itu. Salah satu yang mengganjal saat itu adalah kata-kata “Indones”, bukan Indonesia yang dilafalkan oleh para pelajar saat menyuarakan kalimat “Indones, Indones, Merdeka, Merdeka”.

Panitia yang dipimpin Bung Karno itu dengan anggota: Ki Hajar Dewantara, Achiar, Soedibjo, Darmawidjaja, Koesbini, KHM Mansjur, Mr.Muhammad Yamin, Mr.Sastromoeljono, Sanusi Pane, C.Simandjuntak, Mr.Achmad Soebardjo dan Mr.Oetojo.

Dalam penyempurnaan yang dilakukan oleh panitia itu, kemudian diketahui terjadi beberapa perubahan. Di antaranya: kata “Indones, Indones, Merdeka, Merdeka” menjadi: “Indonesia Raya Merdeka, Merdeka”

Sedangkan Kongres Pemuda Indonesia II, 28 Oktober 1928 itu secara resmi menghasilkan “Sumpah Pemuda”. Para pemuda Indonesia yang disebut sebagai putera-puteri Indonesia, menyatakan: satu tanahair, satu bangsa dan satu bahasa, yakni: Indonesia.

Andaikata waktu itu Indonesia bukan negara terjajah, seorang komponis dan pencipta lagu kebangsaan sekaliber WR Soepratman, pasti sudah menjai idola. Ia akan mendapat sanjungan dari mana-mana. Tetapi tidak demikian halnya dengan WR Soepratman.

Justru, karena ia sebagai pencipta lagu Indonesia Raya yang mulai membakar semangat juang untuk merdeka, membuat WR Soeprtaman tidak tenteram. Gerak-geriknya selalu diikuti oleh mata-mata dan polisi rahasia Belanda.

Disapa Bung Karno

Sebagai wartawan koran “Sin Po”, tahun 1930 WR Soepratman ditugaskan meliput persidangan perkara Ketua PNI (Partai Nasional Indonesia), Ir.Soekarno di Pengadilan Negeri Bandung. Ketika berada di depan pintu masuk ruang sidang, Soekarno melihat WR Soepratman.
Sertamerta Soekarno menunjuk dan berusaha menjabat tangan wartawan itu, sembari berkata: “Daar hebt je de komponis van Indonesia Raya? Strijdt voort voor onze vrijheid Meneer Soepratman. Merdeka!”. Semua yang hadir terkejut, pandangan orang di ruang sidang pengadilan itu tertuju kepada WR Soeprtaman, termasuk orang Belanda.

Sapaan Bung Karno yang diucapkan dengan bahasa Belanda itu artinya: “Bukankah anda pencipta lagu Indonesia Raya? Berjuang teruslah demi kemerdekaan kita Tuan Soepratman. Merdeka!”. WR Soepratman membalas dengan senyum dan anggukan.

Sidang pengadilan di Bandung itu, Bung Karno divonis hukuman penjara. Saat pulang ke Jakarta, pikiran WR Soepratman tidak tenang. Ia sangat sadar, gerak-geriknya diikuti oleh polisi rahasia Belanda.

Hari demi hari dilalui WR Soepratman. Di dalam dirinya sudah menyatu sebuah profesi wartawan dengan jiwa seni. Tetapi jangan disamakan dengan wartawan dan seniman besar masa kini. Ia tetap hidup miskin dengan bayaran honor yang kecil.

Tahun 1929, lagu Indonesia Raya ciptaan WR Soepratman direkam pada piringan hitam oleh perusahaan rekaman Lokananta di Surakarta (Solo). Dengan demikian, lagu Indonesia Raya semakin meluas dan diperdengarkan di mana-mana, bahkan sampai ke luar negeri.

Pemerintahan Belanda tersinggung dengan peredaran piringan hitam lagu Indonesia Raya itu. WR Soepratman dipanggil oleh Procureur General yang menanyakan tentang maksud dan tujuan mengarang lagu Indonesia Raya. Kemudian secara tegas pihak Belanda “melarang” kata: “Merdeka, Merdeka” dalam lagu Indonesia Raya itu.

Situasi politik semakin memanas. Aktivitas WR Soperatman sebagai wartawan koran “Sin Po” mulai tidak tenang. Kemanan dirinya terancam. WR Soepratman tidak leluasa bepergian ke mana-mana. Ia sering menyendiri, termenung dalam rumahnya yang sempit.

Aktif Berorganisasi

Di samping sebagai wartawan koran “Sin Po”, WR Soepratman juga aktif dalam organisasi kepemudaan. Salah satu organisasi yang diterjuninya secara langsung adalah Angkatan Muda Betawi (AMB). WR Soepratman bergabung ke AMB setelah berkenalan dengan M.Tabrani, redaktur suratkabar Melayu “Hindia Baru” yang terbit di Jakarta.

Aktivitas WR Soepratman selain menjadi wartawan, pencipta lagu Indonesia Raya, serta lagu-lagu perjuangan, pihak intelejen Belanda juga mengawasi kegiatan WR Soeprataman dalam organisasi kepemudaan yang juga sebagai salah satu pelopor Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda itu.

Dalam keadaan tertekan dan selalu menghindar dari intaian pihak penjajah itu, WR Soepratman yang kurus itu sering sakit-sakitan. Awal tahun 1934 ia dibawa pulang oleh saudaranya ke rumah ayahnya di Jalan warung Contong Cimahi, Jawa Barat.

Ternyata, masyarakat Cimahi sudah mendengar kalau pencipta lagu Indonesia Raya dan lagu-lagu perjuangan itu berada di rumah ayahnya di Cimahi. Hampir tiap hari anak-anak muda berkunjung ke rumahnya. Mereka minta WR Soepratman mendemonstrasikan keahliannya menggesek biola. Tanpa dikomando, saat ada irama yang mereka ketahui, sertamerta pemuda itu menyanyikan lagu-lagu tersebut. Saat itu lagu yang menjadi favorit adalah Indonesia Raya dan Dari Barat sampai ke Timur.

Pemerintah Hindia Belanda gerah juga melihat aktivitas anak muda yang selalu mendatangi WR Soepratman. Kecurigaan terhadap WR Soepratman memuncak. Dalam keadaan sakit itu, Soepratman makin tidak tenang. Akhirnya, keluarganya mengungsikan WR Soepratman ke Jawa Tengah. Tetapnya di rumah kakaknya Ny.Roekinah Soepratirah yang tinggal di Randudongkal, Kabupaten Pemalang. Ny.Roekinah hidup bersama suaminya Menang Koesnendar Kertoredjo yang menjadi pegawai kantor Pamongpraja Pekalongan.

Selama berada di Pemalang ini, WR Soeprtaman boleh dikatakan benar-benar dapat beristirahat. Penyakit yang dideritanya berangsur-angsur dirasakan berkurang. Bahkan tahun 1936 ia merasa agak sembuh. Kemudian ia diajak kakaknya Roekijem Soepratijah ke Surabaya yang dulu membesarkan WR Soepratman saat berada di Makassar bersama suaminya WM van Eldik.

Di Surabaya mereka tinggal di Jalan Mangga 21, Kelurahan Tambaksari, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya.
Masyarakat Surabaya, juga sudah lama mengenal nama WR Soepratman. Saat diketahui wartawan yang juga pencipta lagu Indonesia Raya itu berada di Surabaya, beberapa wartawan dan tokoh perjuangan mendatanginya.

Berkenalan dengan Dr.Sutomo

Menurut Oerip Kasansengari dalam bukunya Lagu Indonesia Raya dan WR Soepratman Penciptanya (masih ejaan lama, terbitan tahun 1967) . Sekarang buku ini sudah mengalami revisi dan dicetak ulang tahun 2007 oleh Ir.H.Oerip Soedarman putera almarhum Oerip Kasansengari.

WR Soepratman krasan (betah) tinggal di Surabaya. Secara kebetulan saat itu Dr.Sutomo, salah seorang tokoh Budi Utomo sedang mengadakan berbagai kegiatan di Surabaya, di antaranya menyelenggarakan kursus-kursus.

Dr.Sutomo saat itu juga sebagai ketua Pengurus Besar Parindra (Partai Indonesia Raya) dan pembina Kwartir Kepanduan Surya Wirawan. Di sini berhimpun anak muda Surabaya. Bahkan, sejak lagu Indonesia Raya diperdengarkan dalam Kongres Pemuda tahun 1928, lagu itupun menjadi “lagu wajib” bagi Parindra.

WR Soepratman berulangkali minta kepada keluarganya untuk diizinkan keluar rumah dan berkenalan dengan Dr.Sutomo. Tetapi selalu saja ditolak, karena kesehatannya belum memungkinkan. Kalangan pemuda yang menjadi anggota Parindra dan kepanduan Surya Wirawan pun, silih berganti datang menemui WR Soepratman di Jalan Magga 21 Surabaya itu.

“Guna menghibur hatinya dan memenuhi keinginannya, Soepratman saya ajak jalan-jalan. Sebenarnya kami berdua menuju ke rumah Dr.Sutomo. Dalam perkenalan pertama dan ramah-tamah ini, Soepratman diminta menghadiri kursus yang diadakan tiap minggu di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Jalan Bubutan Surabaya. Soepratman menyanggupi ajakan Dr.Sutomo itu”, kata Oerip Kasansengari.

Oerip Kasansengari adalah kakak ipar Ny.Giyem Soepratinah kakak kandung WR Soepraman yang juga tinggal di Surabaya itulah yang sering menemani WR Soepratman selama berada di Surabaya hingga akhir hayatnya.

Saat kursus akan dimulai, Dr.Sutomo yang baru saja menerima kehadiran WR Soepratman, langsung diperkenalkan kepada peserta kursus. Semua yang hadir di ruang GNI yang penuh sesak itu, mengalu-elukan WR Soeprataman. Ternyata warga Surabaya khususnya keluarga besar Parindra sudah hafal betul lagu Indonesia Raya. Mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya disaksikan oleh sang penciptanya. WR Soepratman benar-benar terharu.

Sejak waktu itu, nama WR Soepratman tidak dapat dipisahkan dengan Parindra dan kepanduan Surya Wirawan. Kendati masih dalam keadaan sakit, WR Soepratman menggubah lagu mars untuk Parindra dan Surya Wirawan. Lagu mars itu terus diperdengarkan di mana-mana setiap ada acara Parindra dan Surya Wirawan.

Selain lagu Indonesia Raya, Dari Barat sampai ke Timur, mars Parindra dan mars Surya Wirawan, WR Soepratman juga pencipta lagu: Ibu Kita Kartini, mars KBI (Kepanduan bangsa Indonesia), Di Timur Matahari, Bangunlah Hai Kawan dan Matahari Terbit.

Kecuali itu, bakat menulis yang ditimbanya di dunia kewartawanan mendorong WR Soepratman menulis buku. Buku karangan WR Soepratman yang pernah diterbitkan antara lain, buku berjudul: “Perawan Desa”, “Darah Muda” dan “Kaum Fanatik”. Buku Perawan Desa, peredarannya dilarah Pemerintah Hindia Belanda tahun 1930. Buku itu antara lain menyingkap kekejaman para tengkulak dan dianggap mempengaruhi keamanan.

Wafat di Jalan Mangga 21

Berada di Kota Surabaya, bagi Soepratman merupakan akhir perjuangan dan baktinya untuk bangsa Indonesia. Sakit yang dideritanya, terus menggerogoti dari dalam.

Kendati dalam keadaan sakit, semangat perjuangan WR Soepratman tetap menggebu-gebu. Suatu hal yang tidak diduga akhirnya datang jua. Pada Minggu, pukul 17.00, tanggal 7 Agustus 1938 saat sedang memimpin anggota pandu KBI menyanyikan lagu ciptaannya yang terakhir “Matahari Terbit” yang disiarkan langsung di NIROM (sekarang RRI), waktu itu di Jalan Embong Malang, ia ditangkap polisi PID. Sepasukan PID (Polisi Militer) Belanda itu menggiring WR Soepratman ke luar gedung dan ditahan langsung dimasukkan ke penjara Kalisosok.

Namun, karena penyakitnya tambah parah saat berada di penjara, sepekan kemudian WR Soepratman diizinkan dibawa pulang oleh keluarganya, ke rumah di Jalan Mangga 21, Kecamatan Tambaksari Surabaya. Dengan penuh kesabaran, WR Soepratman melalui masa-masa sepinya di rumah Jalan Mangga 21 Surabaya ini. Di sini ia hanya ditunggui dan dirawat oleh saudara-saudaranya saja.

Salah satu di antara sahabatnya yang sering datang menjenguknya adalah Imam Soepardi, salah seorang wartawan pergerakan di Surabaya, zaman itu.

Dua hari sebelum wafat, kakak ipar uang juga teman seperjuangannya, Oerip Kasansengari mengunjungi WR Soepratman yang bertubuh kurus itu terbujur di tempat tidurnya. Saat itu WR Soepratman mengucapkan kalimat yang selalu diingat oleh Oerip Kasansengari, yakni: “Mas nasibku sudah begini. Inilah yang disukai pemerintah Hindia Belanda. Biarlah aku meninggal, aku ikhlas. Aku sudah beramal, berjuang dengan caraku, dengan biolaku. Aku yakin mas, Indonesia pasti merdeka”.

Menurut Oerip Kasansengari, suara WR Soepratman waktu itu keluar sangat lembut, tetapi penuh dengan keyakinan. Itulah kata-katanya yang terakhir.

Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un! Pada hari Rabu, Wage, pukul 12 malam, tanggal 17 Agustus 1938, WR Soepratman menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sang pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya itu berpulang ke Rakhmatullah. Di rumah bersejarah, Jalan Mangga 21 Surabaya itu.

Selain keluarga Roekijem Soepratijah bersama suaminya WM van Eldik yang menempati rumah di Jalan Mangga 21 Surabaya itu, puluhan warga bersama anggota Parindra, kepanduan Surya Wirawan, KBI dan HW (Hizbul Wathan), serta beberapa wartawan mengantarkan jenazah ke TPU Kapas, sebelah utara Jalan Kenjeran Surabaya. WR Soepratman dimakamkan secara agama Islam sesuai agama yang dianutnya.

Tanggal 20 Mei 1953 dibentu panitia pemindahan makam WR Soepratman dipindahkan ke pojok Jalan Tambak Segaran Wetan, Kelurahan Rangkah, Kecamatan Tambaksari, di sebelah selatan Jalan Kenjeran Surabaya. Makam baru WR Soepratman itu diresmikan tanggal 25 Oktober 1953 oleh Gubernur Jawa Timur, Samadikun.

Pada saat kepemimpinan Walikota Surabaya, H.Sunarto Sumoprawiro, mulai tanggal 15 September 2000 dan selesai pada tanggal 9 Maret 2003 dilakukan pemugaran makam WR Soepratman. Sekarang makam WR Soepratman terletak pada tanah yang ditinggikan, serta berada di bawah rumah joglo khas Jawa Timur.

Di komplek makam itu juga berdiri patung WR Soepratman dan “biola” kesayangannnya. Bahkan, rumah di Jalan Mangga 21, tempat WR Soepratman meninggal dunia kini dijadikan Museum WR Soepratman. Di rumah ini juga disimpan “biola” duplikat milik WR Soepratman.

Tanda Jasa

Sudah tidak dapat dipungkiri, sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, WR Soepratman akan dikenang sepanjang masa. Sungguh tepat berbagai penghargaan dan tanda jasa dianugerahkan kepadanya.

Bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun kemerdekaan RI, 17 Agustus 1960, Presiden Soekarno atas nama Pemerintah Republik Indonesia memberikan “Bintang Mahaputera Anumerta III” kepada almarhum WR Soepratman.

Presiden Soeharto dengan Kepres No.16/SK/1971 tanggal 20 Mei 1971 menganugerahkan gelar “Pahlawan Nasional” kepada Wage Rudolf Soepratman.

Dengan Kepres No.017/TK/1974 tanggal 19 Juni 1974, Presiden Soeharto kembali mempersembahkan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Utama kepada almarhum WR Soepratman.

Sebelum tanda-tanda jasa yang dianugerahkan Pemerintah Republik Indonesia itu, pada tanggal 28 Oktober 1953, Gubernur Jawa Timur, Samadikun, memberikan “Piagam Penghargaan” kepada almarhum WR Soepratman yang diterima keluarganya di Surabaya.

Penghargaan yang diberikan kepada WR Soepratman tidak hanya berhenti sampai di sana, selain diabadikan menjadi nama jalan di berbagai kota. Namanya juga diabadikan sebagai nama universitas di Surabaya, yakni Universitas WR Soepratman (Unipra) dan Perguruan Soepratman di Medan, Sumatera Utara.

Saat ini, salah satu penghargaan terhadap WR Soepratman adalah hiasan fotonya yang terpampang di halaman muka lembaran uang kertas Rp 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan beredar mulai 1 Juli 1999.

Balada “Janda” Salamah

Sewaktu menjadi wartawan koran “Sin Po” tahun 1926 hingga tahun 1930-an, WR Soepratman sering membonceng seorang wanita dengan sepedanya. Wanita yang bernama Salamah itu ikut ke mana Soepratman pergi mewawancarai narasumbernya. Juga bersama Salamah ini pula WR Soepratman tinggal di rumah yang sangat sederhana di Jakarta.

Salamah “pernah” disebut sebagai “janda” WR Soepratman, sehingga dialah yang menjadi “ahli waris” sang pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya itu. Ketika Pemerintah RI menganugerahkan Bintang Mahaputera Anumerta III tanggal 19 Juni 1961, yang menerima adalah Ny.Salamah.

Kebaradaan atau status Ny.Salamah sebagai “janda” WR Soepratman itu awalnya berdasarkan surat dari Bupati Rembang, Jawa Tengah, R.Soekardji Mangoenkoesoemo. Dalam surat tanggal 16 Juli 1951 itu dijelaskan tentang Ny.Salamah yang waktu itu berusia sekitar 30 tahun, menerangkan bahwa ia adalah janda WR Soepratman. Setelah WR Soepratman meninggal dunia, ia pulang ke kampungnya, kampung Kesaran, Desa Tasikagung, Kota Rembang. Di sini Ny.Salamah bekerja di Rumah Sakit Rembang.

Sebagai “ahli waris”, janda almarhum WR Soepratman mendapat pengesahan dari Departeman Sosial RI, sebagaimana ditetapkan oleh Winoto, Kabinet Presiden RI tanggal 6 Agustus 1951. Kemudian atas nama Mensos, Jusuradi Danudiningrat, juga menegaskan sebagai janda almarhum WR Soepratman, Ny.Salamah mendapat bantuan sebesar f.50,- hingga f.100 (lima puluh gulden hingga seratus gulden) tiap bulannya melalui Kantor Sosial Pati, Jawa Tengah (gulden adalah mata uang Belanda yang waktu itu berlaku sebagai pembayaran yang sah di Indonesia, sebelum Indonesia merdeka).

Kepala Kantor Sosial Daerah Pati, Soekandi Handjojosoesanto, akhirnya menetapkan memberikan bantuan f.75 kepada Ny.Salamah tiap bulan terhitung sejak 1 Juli 1950.

Majalah Jakarta

Majalah Violeta Jakarta No.288 yang terbit 13 Desember 1977, menurunkan tulisan berjudul: “Ny.Salamah Janda Pahlawan WR Soepratman”. Karya jurnalistik yang oleh Narjo itu menyebutkan tentang kisah cinta Salamah dengan Soepratman. Berawal ketika Salamah berkenalan dengan Soepratman di Jalan Kwitang, Jakarta. Waktu itu Salamah hendak mencari adiknya ke Cimahi dan mereka sama-sama berangkat.

Setelah dari Cimahi itu, mereka berdua kembali ke Jakarta. Dalam tulisan itu, diungkap tentang “surat nikah” Soepratman dengan Salamah yang ditandatangani KHA Sjukur Chairi dengan saksi-saksi Morullah bin Solihin (pegawai PTT) dan R,Umar said (pensiunan militer).

Surat nikah itu kemudian dikukuhkan oleh Pengadilan Agama dengan SK No.619 tahun 1962. Surat nikah inipun dilampirkan untuk melengkapi berkas Keputusan Presiden RI No.016/TK/1971 tanggal 25 Juni 1971 tentang pengangkatan WR Soepratman sebagai Pahlawan Nasional.

Majalah Variasi edisi No.225 tanggal 14-30 Maret 1987, juga menurunkan tulisan berjudul “Ny.Salamah Janda Pahlawan WR Soepratman”. Dalam tulisan itu dijelaskan tentang Salamah yang dilahirkan tahun 1904, anak seorang agen polisi bernama Soerodihardjo.

Salamah semula dikawinkan orangtuanya dengan seorang guru desa, lalu pindah ke Semarang. Di sana suaminya sakit dan kemudian meninggal dunia. Setelah menjanda, Salamah ingin menemui adiknya Soepardjan yang tinggal di Bandung. Saat akan ke Bandung dari Jakarta itulah Salamah bertemu Soepratman di stasiun.

Kebetulan waktu itu Soepratman bermaksud akan ke Cimahi. Ternyata, Salamah tidak bertemu dengan adiknya di Bandung. Akhirnya, ia bersama Soepratman kembali ke Jakarta.

Setelah berada di Jakarta, mereka hidup bersama. Menurut Salamah, mereka menikah di Gang Sentiong dan menempati rumah kontrakan milik Solichin di Gang Tengah dekat Pasar Genjing, Rawasari.

Kepada wartawan majalah Variasi, Muchtar Nasution, Salamah menceritakan pula penderitaan dan keadaan Soepratman sebagai wartawan koran Sin Po waktu itu. “Gaji Soepratman waktu itu dihitung berdasarkan banyaknya berita yang dimuat. Untuk dua kolom berita waktu itu, mereka bisa membeli dua liter beras”, kisah Salamah.

Setelah Soepratman meninggal dunia, Salamah pulah ke Jawa Tengah, ia bekerja di Rumah Sakit di Rembang. Surat nikah Salamah ditemukan dalam bungkusan kertas koran di lemari. Ternyata sudah berlobang-lobang dimakan rayap. Berkat usaha dr.Djarot, diperoleh salinan surat nikah yang kemudian disahkan oleh Komwil 75 Kampung Melayu. Surat inilah yang menjadi salah satu bukti, bahwa Ny.Salamah selalu janda WR Soepratman.

Majalah Femina, No.170 tanggal 6 November 1979, menurunkan tulisan yang mengisahkan Ny.Salamah, dengan judul “WR Soepratman Dalam Kenangan Saya”.

Salamah mengisahkan waktu berusia 15 tahun ia menikah dengan seorang guru. Namu setahun kemudian suaminya meninggal dunia. Ia menjadi janda tanpa anak. Saat berada di Jakarta saat akan berangkat ke Cimahi, Jawa Barat, ia bertemu dengan WR Soepratman. Mereka sama-sama dengan keretaapi menuju Bandung. Setelah itu, mereka sama-sama kembali ke Jakarta dan tidak lama kemudian mereka menikah.

Sewaktu Soepratman sakit, keluarganya membawanya ke Surabaya. Salamah mengaku tidak boleh ikut, karena sejak perkawinan itu hubungannya dengan keluarga Soepratman tidak mesra. Sampai Soepratman meninggal dunia, Salamah mengakui, memang ia tidak dapat kesempatan sama sekali untuk bertemu.

Majalah Kartini No.178 tanggal 31 Agustus-13 September 1981, menurunkan tulisan berjudul “Janda WR Soepratman Seorang Diri Menempuh Masa Tua”. Pada masa tuanya itu, Ny.Salamah tinggal di sebuah rumah mungil hadiah dari Ny.Tien Soeharto di kawasan Kelapa Gading Permai, Jakarta.

Puluhan tahun Ny.Salamah terlunta-lunta dalam keadaan hidup sernba kekurangan, karena status perkawinannya dengan WR Soepratman diragukan. Akibatnya, semua bintang jasa dan perhargaan yang diterimanya ditarik kembali.

Pada edisi khusus tahun 1989, Majalah Kartini No.379 kembali menurunkan tulisan tentang Ny.Salamah. Tulisan itu berjudul “Segenggam Kebahagiaan di Ujung Senja”. Di sini diceritakan kisah pertemuan pertamanya dengan WR Soepratman, sampai kemudian hidup bersama di Jakarta.

Ketika Soepratman dalam keadaan sakit, tulis Ln di majalah Kartini itu, kakak perempuannya Ny.Roekijem Soepratijah yang kaya, membawanya ke Surabaya. Sampai Soepratman meninggal dunia, keluarga Soepratman tidak mengakui keberadaan Ny.Salamah sebagai saudara iparnya. Mereka tidak mengakui adanya pernikahan. Justru, keberadaan Ny.Salamah di rumah WR Soepratman di Jakarta waktu itu hanya berstatus “pembantu rumah tangga”.

Masih pada Majalah Kartini edidi khusus tahun 1989 itu, ada tulisan yang diturunkan oleh wartawan dengan inisial RH. Tulisan itu berjudul “Soepardjo: Saya Berani Sumpah, Salamah itu Bukan Isteri Sah WR Soepratman”. Saat tulisan itu diturunkan Soepradjo berusia 81 tahun dan Ny.Salamah 85 tahun.

Salamah Minta Maaf

Kendati banyak cerita tentang kedekatan Ny.salamah dengan WR Soepratman, namun dengan tegas keluarga besar WR Soepratman tidak mengakui Ny.Salamah sebagai “isteri” dan “janda” dari WR Soepratman.

Sesuai dengan keputusan Pengadilan Negeri Surabaya tanggal 12 Agustus 1958, oleh hakim Ismu Sumbaga ditetapkan empat orang ahli waris sah WR Soepratman. Ke empat orang itu (waktu itu) adalah: Ny.Roekijem Soepratijah, Ny.Roekinah Soepratirah, Ny.Ngadini Soepratini dan Ny.Gijem Soepratinah.

Ke empat orang itu adalah saudara-saudara WR Soepratman yang masih hidup pada saat putusan PN Surabaya tanggal 12 Agustus 1958. Sekarang ke empat orang ini semuanya sudah meninggal dunia, sehingga ahliwaris WR Soepratman diberikan kepada keturunannya, yakni cucu dan cicitnya.

Di hari-hari terakhir menjelang meninggal dunia, Ny.Salamah dirawat di Rumah sakit Sumber Waras, Jakarta. Tiga hari sebelum mengalami “koma” tulis Anthoni C.Hutabarat, ada keluarga WR Soepratman dari Warung Contong Cimahi, Jawa Barat yang datang menjenguk. Ocok Batubara, adalah salah seorang cucu Ny.Ngadini Soepratini, kakak perempuan WR Soepratman yang sebelumnya sudah kenal baik dengan Ny.Salamah.

Menurut Ucok, saat itu Ny.Salamah menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga besar WR Soepratman yang pernah “mengaku” sebagai janda Soepratman. Bahkan ujar Ucok, ia juga dipesankan agar berziarah ke makam almarhumah Ny. Roekijem Soepratijah (kakak WR.Soepratman) di pemakaman umum Karet, Jakarta.

Ny.Salamah meninggal dunia tanggal 14 Januari 1992 dalam usia 85 tahun. Ia meninggalkan seorang anak angkat WNI keturunan Cina, bernama Pomiaty (waktu tahun 1992 berusia 36 tahun). Perkawinan Pomiaty dengan Sarianto yang juga keturunan Cina, melahirkan anak perempuan yang tahun 1992 itu berusia delapan tahun.***

*) Yousri Nur Raja Agam MH Wartawan Senior dan Pemerhati Sejarah bermukim di Surabaya

“Surat Ijo” Tanah HPL di Surabaya

gt;

Yousri Nur RA MH

Yousri Nur RA MH


Surat Ijo
Tanah HPL di Surabaya

Oleh: Yousri Nur Raja Agam MH *)

TANAH dengan Hak Pengelolaan Lahan (HPL) di Kota Surabaya mempunyai masalah unik. Tanah dengan status HPL ini, di Kota Surabaya disebut “Tanah Surat Ijo”. Padahal, berdasarkan Undang-undang Pokok Pertanahan atau Agraria sebutan HPL atau apalagi “tanah surat ijo” tidak termasuk dalam UU Agraria itu. UU itu hanya menganal tanah HM (Hak Milik), HGB (Hak Guna Bangunan) dan HGU (Hak Guna Usaha).

Tanah HPL adalah tanah yang disewakan oleh Pemkot (Pemerintah Kota) Surabaya kepada warga kota tertentu. Sebagai bukti HPL, warga yang menyewa tanah HPL itu diberi surat keterangan yang bersampul hijau. Nah, untuk gampangnya, masyarakat memberi nama kepada tanah HPL itu sebagai tanah “sertifikat hijau” atau surat ijo.

Di atas lahan yang bersertifikat hijau itu, awalnya pada zaman Belanda umumnya dibangun rumah-rumah untuk karyawan. Namun, berdasarkan peta tanah yang ada, apabila tanah itu pemiliknya tidak jelas, maka sertamerta Pemkot Surabaya melalui Dinas Tanah menyatakan tanah itu adalah tanah HPL. Tanah HPL ini terpencar di berbagai kelurahan, umumnya di tengah kota yang dulu bukan desa. Tetapi, sekarang tanah bekas tanah ganjaran juga diberlakukan seperti tanah HPL dan dikuatkan dengan “surat ijo”.

Nantinya, ada kemungkinan para pemegang HPL yang sekarang didasarkan kepada Perda (Peraturan Daerah) Kota Surabaya, akan memperoleh prioritas perubahan status menjadi HGB. Hal ini sebagai akibat dan desakan masyarakat pemegang tanah HPL yang statusnya masih mengambang. Pemkot Surabaya sendiri masih menunggu bagaimana kebijakan dan keputusan yang diambil oleh DPRD Kota Surabaya sebagai pemutus akhir dalam pembuatan Perda tersebut.

Lahan KBS (Kebun Binatang Surabaya) merupakan aset peninggalan perkumpulan zaman Belanda ini yang sebenarnya layak menjadi aset Pemkot Surabaya. Tetapi, dalam kenyataannya, juga lepas ke tangan perkumpulan yang mengelola KBS tersebut. Lahan seluas 14 hektar lebih di Wonokromo yang dihuni sekitar 3.000 ekor satwa dan 275 spesies tanaman itu, dinyatakan bukan aset Pemkot Surabaya.

Sumber PAD

Pemkot Surabaya, juga mengelola tanah yang menjadi sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah) guna menunjang APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Kota Surabaya.
Selain tanah surat Ijo, di Surabaya, ada pula tanah yang disebut dengan “tanah ganjaran”. Tanah ganjaran yang merupakan bekas tanah kas desa, sewaktu 103 desa digabung dengan 60 kelurahan di Surabaya, dikelola oleh Bagian Pemerintahan. Sedangkan tahan HPL dikelola Dinas Pengelolaan Tanah dan Rumah. Ada pula tanah sempadan yang dikelola Dinas Binamarga dan Pematusan, serta tanah jalur hijau dikelola Dinas Kebersihan dan Pertamanan.

Aset Pemkot Surabaya yang disebut HPL ini berasal dari tanah yang dikuasai Gemeente Surabaya di masa Belanda. Aset Pemkot yang disebut tanah HPL ini cukup luas luasnya, mencapai 13.425.015 meter-persegi atau 134,25 hektar.

Awal tahun 2009, luas tanah surat ijo yang menjadi aset Pemkot Surabaya sudah 146,45 hektar atau 14.645.114,08 meter-persegi. Ada enam jenis status tanah yan pengelolaannya ditangani Badan Pengelolaan Tanah dan Bangunan (BPTB) yang sebelumnya bernama Dinas Pengelolaan Tanah dan Rumah, yaitu:

-Tanah HPL (Hak Pengelolaan Lahan) 7.686.687 meter per-segi.
-Tanah Hak Pakai seluas 808.427 meter persegi.
-Tanah yang diperoleh dari P2TUN (Panitia Pembelian Tanah Untuk Negara) seluas 622.669 meter persegi.
-Tanah Beslit (pembelian di zaman Belanda) seluas 379.394 meter persegi.
-Tanah Eigendom (milik Pemkot Surabaya) seluas 4.171.732 meter persegi.
-Tanah Negara seluas 976.194 meter persegi.

Dari tanah yang dikelola BPTB Surabaya untuk tahun 2006 ditarget dana untuk PAD Rp 26,09 miliar atau setiap bulannya Rp 2,17 miliar lebih.

Data yang berhasil penulis himpun, pada bulan Juni 2009 potensi baru tanah aset yang berasal dari P2TUN seluas 974,59 hektar atau tepatnya 9.745.964,79 meter persegi. Sehingga dengan demikian aset dengan status tanah pembelian P2TUN mencapai 103,69 hekytar atau 10.368.633,79 meter persegi.

Hanya di Surabaya

Tidak ada lagi tanah di Indonesia ini yang berstatus HPL seperti di Kota Surabaya. Di kota-kota, seperti Jakarta, Bandung dann kota besar lainnya tanah HPL sudah dialihkan menjadi HGB (Hak Guna Bangunan). Sehingga ada pula istilah, tanah HGB di atas lahan HPL.

Tanah HPL adalah tanah yang disewakan oleh Pemkot kepada warga kota tertentu. Sebagai bukti HPL, warga yang menyewa tanah HPL itu diberi surat keterangan yang bersampul hijau. Nah, di Surabaya, untuk gampangnya, masyarakat memberi nama kepada tanah HPL itu sebagai tanah “sertifikat hijau” atau surat ijo.

Dia atas lahan yang bersertifikat hijau itu, awalnya pada zaman Belanda umumnya dibangun rumah-rumah untuk karyawan. Namun, berdasarkan peta tanah yang ada, apabila tanah itu pemiliknya tidak jelas, maka sertmerta Pemkot melalui Dinas Tanah menyatakan tanah itu adalah tanah HPL. Tanah HPL ini terpencar di berbagai kelurahan, umumnya di tengah kota yang dulu bukan desa. Tetapi, sekarang tanah bekas tanah ganjaran juga diberlakukan seperti tanah HPL dan dikuatkan dengan “surat ijo”.

Warga kota pemilik “surat ijo”, dalam waktu tidak lama lagi akan memperoleh status tanah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, yakni sebagai pemegang HGB atau HM (Hak Milik). Proses untuk pengalihan status kepemilikan dari HPL atau “surat ijo” ke HGB atau HM, prosedurnya sedang digarap menjadi Perda (Peraturan Daerah) yang baru, untuk menggantikan Perda Kota Surabaya sebelumnya.

Apabila Perda tentang pengalihan status HPL menjadi HGB atau HM, itu sama artinya, Pemkot Surabaya melepaskan legi asetnya ke pihak lain. Berdasarkan data di Badan Pengelolaan Tanah dan Bangunan, dengan menyewakan tanah HPL itu, Pemkot Surabaya tiap tahunnya bisa memperoleh pemasukan dana penunjang APBD Kota Surabaya rata-rata sekitar Rp 24 miliar.

Nantinya, apabila tanah HPL itu sudah berubah status menjadi HGB dan HM, tentu pemasukan Pemkot Surabaya akan berkurang. Nah, agar tidak ada kesan bahwa tanah HPL itu menjadi tanah hibah kepada warga yang umumnya adalah warga di perumahan permanen, tentu akan menimbulkan kecemburuan sosial. Untuk itulah, nantinya pengalihan status dari HPL ke HGB atau ke HM ditetapkan pembiayaan yang saling menguntungkan.

Ketika masih bernama Dinas Pengelolaan Tanah dan Rumah (DPTR) yang dipimpin oleh Drs.Rochani Soebroto,MM (alm) sudah disampaikan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) yang dibahas menjadi Perda Kota Surabaya oleh DPRD Kota Surabaya. Karena ini menyangkut aset Pemkot Surabaya, sesuai dengan ketentuan yang dituangkan dalam SK Mendagri No.11 tahun 2001, pelepasan aset Pemkot diperlukan persetujuan DPRD.

Catatan penulis, dinas ini mengelola 134,25 hektar lebih di 21 kecamatan itu berdasarkan Perda Kota Surabaya No.3 tahun 1987, yaitu tentang pemakaian tanah dan tempat-tempat yang dikuasai Pemkot Surabaya. Perda ini diperkuat dengan SK Walikota Surabaya No.202 tahun 1987.

Dalam Perda itu ditetapkan pemegang surat izin sewa tanah HPL (surat ijo) adalah untuk jangka waktu tiga tahun dan dapat diperpanjang untuk tiga tahun berikutnya, serta begitu seterusnya. Apabila pemegang izin terlambat memperpanjang izin, maka akan dikenakan denda.

Izin persewaan tanah HPL itu apabila sewaktu-waktu diperlukan Pemerintah, maka izin pemekaian tanah dapat dicabut secara sepihak sebelum batas waktunya habis dengan tanpa pemberian ganti rugi. Dalam hal ini, jika tanah itu akan digunakan untuk kepentingan dinas.

Disertifikatkan

Para pemegang surat ijo, terus-menerus berusaha untuk mengalihkan penguasaan lahan tanah sewa Pemkot Surabaya itu menjadi Hak Milik (HM). Sekurang-kurangnya sekitar 48 ribu pemegang surat ijo mengharapkan Pemkot Surabaya dapat memberi keputusan mengubah penguasaan tanah itu menjadi HGB (Hak Guna Bangunan). Dengan adanya hak sebagai pemegang sertifikat HM atau HGB yang dikeluarkan dari BPN (Badan Pertanahan Nasional), maka status tanah yang ditempati itu mempunyai kepastian hukum.

Untuk mendapatkan hak itu, warga pemegang surat ijo, membentuk suatu organisasi yang bernama PMPMHMT (Perhimpunan Masyarakat Peserta Meraih Hak Milik Tanah) Rakyat Surabaya yang diketuai oleh Prof.Dr.H.Kabat. (alm, meninggal dunia tahun 2005).

Dr.Kabat (sewaktu masih hidup) dalam beberapa kali wawancara dengan penulis, menyatakan tekadnya untuk terus mengusahakan perolehan hak atas tanah tersebut. Sesuai dengan Undang-undang No.5 tahun 1960 yang dikenal dengan Undang-undang Pokok Agraria (UUPA), Pemerintah dalam hal ini Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah tidak dapat “memiliki” tanah negara. Dengan demikian, Pemkot Surabaya tidak berhak menyewakan tanah negara kepada warganya.

Bahkan, ujar Dr.Kabat, apabila seseorang menempati tanah negara lima tahun secara terus-menerus, maka ia berhak mengajukan permohonan untuk memperoleh hak atas tanah tersebut sesuai UUPA. Khusus untuk pemegang surat sewa tanah yang dikuasai Pemkot Surabaya, bisa mendapatkan HM atau HGB. Kecuali itu, katanya, tanah tidak bisa menjadi dua kali obyek pajak. Kenyataannya, sekarang ada PBB (Pajak Bumi dan Bangunan), juga ada sewa tanah kepada Pemkot melalui Dinas Tanah dan Rumah. (sekarang bernama: Badan Pengelolaan Tanah dan Bangunan).

Tanah negara yang ditempati warga dengan sebutan pemegang surat ijo itu, tidak sama dengan tanah milik Pemkot Surabaya. HPL (Hal Pengelolaan Lahan) oleh Pemkot Surabaya bertentangan dengan UUPA, hukum adat maupun hukum perdata. Tidak ada undang-undang dan peraturan apapun yang melarang warganegara memperoleh sertifikat hak milik di atas tanah yang ditempatinya. Itulah sebabnya pemilik surat ijo yang tergabung dalam PMPMHMT Rakyat Surabaya menuntut Pemkot Surabaya segera mencabut ketentuan sewa tanah di Surabaya, kata Kabat didampingi pengurus lainnya, Soesilo dan Sugito.

DPRD Kota Surabaya sudah sejak lama membahas masalah tanah HPL Pemkotn Surabaya ini. Namun tidak pernah tuntas, karena kepentingan pemasukan rutin sebagai PAD (Pendapatan Asli Daerah) untuk mendukung APBD Kota Surabaya selalu menjadi alasan. Pro-kontra tidak pernah selesai. Kendati beberapa kali dinas dan badan terkait diundang untuk memecahkan tuntutan warga pemegang surat ijo itu, seperti BPN dan Dinas Pengelolaan Tanah dan Rumah, bahkan melibatkan aparat Pemprov Jatim, permasalahan tidak pernah selesai.

Sembilan Kelas

Sewa tanah yang dibebankan kepada pemegang surat ijo atas tanah HPL Kota Surabaya dibagi dalam sembilan kelas. Sekarang ini, tarif yang diberlakukan itu, berdasarkan Perda No.21 tahun 2003, yakni Perda tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah.

Sewa tanah itu mempunyai peran cukup besar dalam pemasukan dana PAD (Pendapatan Asli Daerah) kota Surabaya. Rata-rata Rp 20 miliar per-tahun. Sewanya memang tidak sama, dibagi dalam sembilan kelas berdasarkan lokasi tanah. Di tempat strategis dan mempunyai nilai jual tinggi, sewanya juga lebih besar. Angkanya yang terbesar Rp 100 ribu per-meterpersegi per-bulan dan terkecil Rp 5 ribu per-meterpersegi per-bulan.

Selengkapnya dirinci: Kelas I Rp 100 ribu, Kelas II Rp 75 ribu, Kelas III Rp 60 ribu, Kelas IV Rp 50 ribu, Kelas VI Rp 40 ribu, Kelas VII Rp 20 ribu, Kelas VIII Rp 10 ribu dan Kelas IX Rp 5 ribu.

Data yang dihimpun penulis awal 2009, luas lahan tanah sewa yang dipegang warga pemilik surat ijo di 21 kecamatan di Surabaya mencapai 13.425.015,15 meter per-segi atau 134,25 hektar lebih.

Data rinci di 15 kecamatan terluas lahan HPL atau yang ber-surat ijo mencapai 12,42 juta meter per-segi atau 124,21 hektar lebih. Dari seluruh daerah itu, terluas di Kecamatan Wonokromo (1.147.179,32 m2), menyusul di Kecamatan Krembangan (920.873,15 m2) dan Kecamatan Tegalsari (639.667,03 m2).

Seterusnya adalah kecamatan: Dukuh Pakis (493.680,00 m2), Bubutan (438.403,04 m2), Sawahan (308.295,21 m2), Semampir (189.369,87 m2), Sukomanunggal (157.224,16 m2), Simokerto (152.426,58 m2), Genteng (90.977,25 m2), Lakarsantri (54.500,83 m2), Asemrowo (47.708,20 m2), Tandes (30.967,05 m2), Wonocolo (26.346,70 m2) dan Wiyung (20.856,66 m2). Kecamatan lain, seperti Kecamatan Tambaksari, Gubeng dan lain-lainnya di bawah 20 ribu meter per-segi.***

*) Yousri Nur Raja Agam MH – Ketua Yayasan Peduli Surabaya.

Cak dan Ning Panggilan Akrab Arek Surabaya

Cak dan Ning

Sapaan Akrab Arek Suroboyo 

Oleh: Yousri Nur Raja Agam  MH  *)

 

INDONESIA sangat kaya dengan budaya panggil memanggil atau sapa menyapa. Dalam Bahasa Indonesia, panggilan resmi untuk orangtua adalah: bapak-ibu, ayah-mak atau emak. Berikut ada panggilan berikutnya kakek-nenek, kakak-adik, paman-bibi. Di samping itu ada lagi panggilan-panggilan yang “diimpor” dari mancanegara. Panggilan yang berasal dari luar negeri, di antaranya: om-tante, papa-mama, buya, abah-ummi, ana, anta-anti atau antum yang di Jakarta menjadi ente.Cak dan Ning Surabaya 2006

  Cak dan Ning Surabaya 2006

           Kecuali itu, di tiap daerah di Indonesia ada bahasa suku yang panggilan dan sapaan yang cukup beragam. Masyarakat suku Jawa secara umum, menyapa kakak laki-laki: mas dan kakak perempuan: mbak. Ada daerah yang menambah dengan kang mas dan mbak yu. Belum lagi sebutan atau panggilan untuk yang lain, seperti: Eyang, eyang putri, eyang kakung, mbah, mbok, nduk, tole, dan sebagainya. Masyarakat Sunda, menyapa anak mudanya dengan neng untuk mojang (gadis) dan kang untuk kakak laki-laki dan mang untuk paman, nyai untuk nenek.

            Di berbagai daerah di Indonesia, panggilan juga berbeda-beda. Panggilan abang untuk kakak laki-laki sangat popular di kalangan masyarakat Melayu, dari Sumatera, Kalimantan sampai ke negeri jiran Malaysia. Kendati demikian padanan abang ini untuk perempuan tidak ada. Sehingga, masyarakat Jakarta memasangkan abang dengan none (berasal dari nona). Namun kalau perempuan itu sudah bersuami, statusnya naik menjadi nyonya. Panggilan untuk laki-laki, tuan. Sedangkan bagi orang Melayu, tuan dipadankan dengan puan. Puan adalah asan kata untuk perempuan. Jadi perempuan berarti empu (seperti menyebut jari yang besar).

            Ladies and gentlement dalam bahasa Inggris diartikan sebagai tuan-tuan dan puan-puan atau tuan-tuan dan nyonya-nyonya. Bisa juga  bapak dan ibu atau saudara dan saudari.

Khusus panggilan hormat yang cukup popular, di masa perjuangan dulu adalah panggilan: bung. Tidak banyak yang melekat dengan panggilan bung ini. Kita kenal: Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Bung Tomo dan kemudian generasi setelah itu, Bung Akbar (untuk Akbar Tandjung).

Sebenarnya, panggilan bung secara umum sudah dicoba untuk dimasyarakatkan. Ketika Harmoko menjadi Menteri Penerangan RI, dia mencoba memasangkan panggilan bung dengan mbak. Jadi, siapa saja laki-laki, tanpa pandang umumr, dapat dipanggil bung. Dermikian pula dengan perempuan, tanpa pandang usia disapa dengan: mbak.

Ada lagi panggilan hormat kepada orang tertentu,  orang tua atau yang dituakan, juga kepada guru agama bagi Islam, dipanggil buya. Kata panggilan yang berasal dari bahasa Arab, Abuyya. Panggilan itu, terkenal untuk para tokoh agama sekaliber Hamka, dipanggil Buya Hamka.

Ini ada panggilan hormat yang sangat langka, yakni: Ebes. Masyarakat Kota Malang, punya seorang yang diapnggil ebes, yaitu almarhum Sugiyono. Mantan Walikota Malang, yang kemudian menjadi wakil gubernur Irian Jaya. Memang, istilah ebes ini hanya popular di Malang. Dari segi etimologi, kata ebes sebenarnya dirujuk dari bahasa Arab, “Syebe” yang artinya bapak atau sama dengan abah.

Masyarakat Malang memang suka bahasa prokem walikan, yaitu setiap kata dibalik membacanya. Nah, jadilah syebe menjadi ebes. Uniknya, panggilan ebes itupun tidak menyeluruh, hanya populer untuk ebes Sugiyono, ebesnya Kera Ngalam – bahasa gaul di Malang, yang artinya bapaknya arek Malang. Arek menjadi kera dan Malang disebut Ngalam,.

 

Cak dan Ning

            Nah, bagaimana dengan masyarakat Kota Surabaya? Di Kota pahlawan ini, panggilan akrab untuk laki-laki adalah: Cak dan untuk perempuan Ning. Cak berasal dari kata cacak atau kakak. Sehingga, panggilan Cak itu sama dengan abang, mas atau kakak laki-laki dan Ning untuk perempuan muda, bisa sebagai panggilan untuk kakak atau adik.

            Cak, bagi masyarakat Surabaya adalah panggilan akrab yang merakyat. Sapaan Cak bisa ditujukan kepada setiap laki-laki – terutama yang belum tua – yang belum kita kenal, maupun yang sudah kita kenal. Bagi masyarakat Surabaya, kalau disapa dengan Cak, ada rasa keakraban dan rasa pertemanan. Bahkan, bagi orang tertentu, ia merasakan sebagai orang asli Surabaya.

            Memang, panggilan Cak itu, nuansa keakraban Surabaya-nya sangat terasa. Maka tidak salah, kalau ada yang menyatakan, Cak itu adalah sapaan akrab Arek Suroboyo. Nah, di sini ada dua pengertian. Pertama: Cak-nya sendiri dan yang kedua: Arek Suroboyo-nya. Sebagaimana tulisan terdahulu, pengertian Arek Suroboyo itu mengandung semangat ke daerahan. Artinya, Arek Suroboyo itu adalah “orang Surabaya”. Namun, Arek Suroboyo, tidak harus asli berasal dari Surabaya. Para sesepuh  Surabaya sangat sadar  bahwa warga kota Surabaya berasal dari berbagai suku bangsa, ras dan etnis.

            Tidaklah mengherankan, kalau panggilan Cak itu tidak semata-mata ditujukan kepada warga Surabaya “asli”. Tetapi juga kepada warga pendatang, baik yang berasal dari suku Jawa, Madura, maupun dari luar Jawa.

            Panggilan Cak sebagai pengganti mas untuk suku Jawa sudah biasa, begitu pula sapaan Cak untuk yang berasal dari Madura. Cak Joko, Cak Naryo, Cak Narto, Cak No, Cak Pardi, Cak Parman, Cak Ucup (Yusuf) atau Cak-cak lain bagi nama-nama yang bernuansa Islam. Cak Kasan (Hasan), Cak Brahim (Ibrahim), Cak Musa, Cak Dahlan, Cak Mahmud dan sebagainya, terdengar pas. Hal yang sama juga tidak masalah dengan yang berasal dari Madura yang nama-namanya juga bernuansa Islam, seperti Cak Kadir, Cak Rahman, Cal Dul (Abdul), Cak Dullah (Abullah) atau Cak Sakerah.

            Bagi warga Surabaya yang berasal dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara, juga banyak yang disapa dengan Cak. Ternyata tidak masalah. Pokoknya, mereka laki-laki yang ada di Surabaya, sapaan akrabnya adalah: Cak.

            Tidak mengherankan kalau ada warga kota Surabaya yang bernama Sahat, disapa dengan Cak Sahat. Sabron disapa Cak Sabron. Bonar dipanggil Cak Bonar atau Togar dengan Cak Togar. Binsar juga ditegur dengan panggilaan Cak Binsar Padahal sudah sangat jelas yang bernama Sahat, Sabron, Bonar, Togar dan Binsar itu adalah dari suku Batak yang di belakang nama itu masih ada nama marga, misalnya: Simbolon, Pasaribu, Sitorus, Siahaan, Gultom, Silaban, Panggabean  atau Simanjuntak.

            Begitu pula dengan Cak Jalil, Cak Sam dan Cak Yamin, misalnya. Ke tiga orang ini adalah warga Surabaya yang berasal dari Maluku atau Ambon. Namun, tidak pernah ada kejanggalan apalagi protes bila Jalil Latuconsina dipanggil Cak Jalil, Prof.Dr.H.Sam Abede Pareno dipanggil Cak Sam dan Yamin Akhmad disapa Cak Yamin.

            Hal yang sama, misalnya panggilan Cak Binseh untuk H.Binsyeh Abuyani, warga Surabaya keturunan Arab. Hal yang sama juga berlaku bagi masyarakat keturunan Arab yang banyak bermukim di sekitar Ampel. Di samping sapaan khas asal daerah, suku dan etnis, panggilan Cak untuk mereka tidak pernah dipermasalahkan.

            Sapaan bang, mas, kang atau sebutan dari masing-masing daerah, biasanya dilakukan oleh yang mengetahui asal daerah orang yang disapa. Bagi orang yang mengenal Agil H.Ali sebagai wartawan senioar yang juga mantan ketua PWI Jatim itu, jarang menyapanya Cak Agil. Mereka lebih akrab dengan sapaan Bang Agil atau Pak Agil. Sedangkan Sam Abede Pareno – yang nama aslinya adalah: Hasan Abdullah Attamimi itu, karena aktif sebagai seniman yang bermarkas di DKS (Dewan Kesenian Surabaya), lebih biasa disapa Bung Sam dibandingkan dengan Cak Sam.

            Lain halnya dengan H.Kadaruslan, ketua Pusura (Putera Surabaya) yang merupakan organisasi masyarakat Surabaya yang berkantor di Jalan Yos Sudarso 9 Surabaya. Panggilan Cak untuk Cak Kadar sudah sangat melekat. Hampir tidak pernah orang memanggilnya Mas Kadar atau Pak Kadar.

            Panggilan atau sapaan Cak, umumnya melekat pada tokoh dan sesepuh Surabaya. Prof.Dr.H.Roeslan Abdulgani, sangat akrab dengan sapaan Cak Rus atau Cak Ruslan. Mantan Walikota Surabaya, H.Sunarto Sumoprawiro, hampir tak pernah dipanggil bapak. Ia lebih akrab dengan sapaan Cak Narto. Bagi masyarakat Surabaya, mantan Wakil Presiden H.Try Soetrisno yang lahir dan besar di Jalan Genteng Bandar Surabaya, akrab disapa dengan Cak Su. Sapaan Cak juga khas untuk mantan walikota Surabaya H.Doel Arnowo yang disapa dengan Cak Dul. 

            Banyak tokoh yang dipanggil Cak Naryo. Di antaranya pada almarhum H.Soenarjo Oemarsidiq – sesepuh Surabaya dulu – dengan sapaan Cak Naryo. Tatkala Wakil Gubernur Jawa Timur Dr.H.Soenarjo,MSi  menjabat sebagai Sekwilda dan wakil walikota Surabaya, “dalang kondang” ini juga akrab disapa Cak Naryo. Kepopularannya sama dengan Sunarjo, pelawak Srimulat yang juga dipanggil Cak Naryo.

            Sapaan untuk anak perempuan atau kaum ibu, memang popular dengan Ning. Di kalangan ibu-ibu yang berada di perkampungan lama Surabaya, misalnya: Maspati, Bubutan, Kawatan, Blauran, Kranggan, Peneleh dan daerah lainnya, sapaan Ning masih sering terdengar. Tetapi di permukiman baru, jarang sapaan Ning ini dipergunakan. Panggilan atau sapaan mbak lebih melekat untuk perempuan muda.

            Nah, untuk menggali dan memasyarakatkan tradisi lama, sapaan Cak dan Ning kembali dibangkitkan. Agar sapaan Cak dan Ning itu melekat dan bergengsi, sejak tahun 1981, di Surabaya diselenggarakan pemilihan putera-puteri duta wisata dengan nama “Pemilihan Cak dan Ning Surabaya”.

 

Duta Wisata

Selain sebagai sapaan akrab untuk arek Suroboyo secara umum, Cak dan Ning sekarang dijadikan  sebagai  “Duta Wisata” Kota Surabaya. Predikat Cak dan dan Ning diberikan secara khusus kepada laki-laki dan perempuan muda pilihan. Mereka diseleksi melalui pemilihan yang berlangsung dengan ketat.

            Sama dengan pemilihan “raja dan ratu” yang pernah menjadi trend di kota-kota dunia, juga pernah menjadi bagian dari lomba yang diadakan di Indonesia. Pemilihan “ratu”, apalagi dengan embel-embel “kecantikan” memang lebih dominan, apabila dibanding pemilihan “raja”. Untuk pemilihan raja, mungkin bisa saja pemilihan “raja perkasa”.

             Walaupun sempat terjadi pro-kontra pemilihan “ratu-ratuan”, tahun 1970-an sampai 1980-an pernah diselenggarakan pemilihan ratu daerah di Indonesia. Mulai dari ratu tingkat kabupaten dan kota, provinsi sampai “ratu Indonesia”. Perempuan yang memperoleh predikat “Ratu Indonesia” dikirim ke mancanegara mengikuti pemilihan “Ratu Dunia” atau Miss Universe.

            Istilah “ratu”, kemudian diubah menjadi “puteri”. Pemilihan “wanita cantik” tidak lagi diselenggarakan oleh Pemerintah, tetapi diambilalih oleh swasta, khususnya perusahaan yang bergerak di bidang kosmetik dan alat-alat kecantikan. Kendati secara resmi Indonesia tidak lagi mengirim wakilnya ke pemilihan Miss Universe, tetapi secara “diam-diam” ada yang ikut.

            Pro dan kontra di tahun 1980-an sampai 1990-an memuncak, apalagi waktu itu Menteri Negara Peranan Wanita-nya tegas-tegas mengecam pengiriman wanita Indonesia ikut kontes ratu dunia itu. Masalah yang dipersoalkan adalah penampilan wanita muda, cantik di depan umum dengan pakaian renang dan mini.

            Namun, dengan pola baru, tidak menampilkan “pakaian minim” itu, berlangsung pemilihan ratu kecantikan yang disebut Pemilihan “Puteri Indonesia”. Walaupun di bumi Nusantara ini, “Puteri Indonesia” itu tampil dengan busana tertutup, dalam seleksi pemilihan Miss Universe, tetap harus menyesuaikan. Artinya, tetap buka-bukaan tampil dengan renang.

            Ternyata, di daerah-daerah di Indonesia tetap diselenggarakan pemilihan “raja dan ratu”, biasanya dinobatkan pada saat ulangtahun daerah itu. Pesertanya anak-anak muda, laki-laki dan perempuan atau muda-mudi. Namanya di tiap daerah tidak sama. Untuk tingkat provinsi, misalnya: di Jakarta disebut pemilihan “Abang dan None” atau abang dan nona. Di Jawa Barat disebut pemilihan “Jajaka dan Mojang” artinya jejaka dan perawan. Di Jawa Tengah, namanya pemilihan Mas dan Mbak. Di Kalimantan Selatan, disebut pemilihan Anang dan Galih . Dan berbagai istilah lainnya.

            Di wilayah Jawa Timur sendiri, istilahnya juga berbeda-beda. Kalau di Surabaya disebut Cak dan Ning, di Sidoarjo: Guk dan Yuk, di Malang: Kang Mas dan Mbak Yu, di Madura: Tor dan Cebing, serta sebutan lain di kota dan kabupaten yang ada di Jatim. Kemudian, untuk memilih wakil Jawa Timur, istilahnya Pemilihan “Raka dan Raki”.

            Pemilihan muda-mudi yang dikordinasikan Dinas Pariwisata daerah dengan predikat Cak dan Ning atau sejenisnya, tidak hanya mengandalkan tampan, gagah dan perkasa untuk laki-laki, kecantikan dan kemolekan tubuh untuk perempuan. Untuk menetapkan seorang yang berpredikat Cak dan Ning, misalnya, dia harus mempunyai kemampuan dalam bidang keilmuan, kecakapan, kualitas fisik dan kejiwaan. Artinya, ia harus pandai, cerdik dan trengginas. Dan yang cukup penting, ia menguasai budaya dan permasalahan daerah.

            Jadi, persyaratan untuk memperoleh predikat Cak dan Ning Surabaya, dia harus mampu menunjukkan kebolehannya dalam segala hal. Di samping gagah dan tampan untuk Cak, serta cantik dan molek untuk Ning, dia harus pintar. Harus tahu budaya asli Surabaya, lancar menggunakan dialek Suroboyoan, tahu sejarah atau seluk-beluk kelahiran kota sampai perkembangannya hingga sekarang.

            Cak dan Ning, biasanya dinobatkan setiap peringatan hari jadi Surabaya, sekitar 31 Mei tiap tahun. Seorang Cak maupun Ning, harus mempersiapkan diri menjadi “alat” Pemerintah Kota Surabaya, terutama yang berhubungan dengan bidang keperiwisataan dan budaya. Di samping sebagai penerima tamu, juga harus mampu menjadi PR (public relation) atau Humas (Hubungan Masyarakat) Kota Surabaya, di luar pejabat resmi.

            Cak dan Ning, harus mampu tampil sebagai wakil anak muda pilihan dan menjadi teladan bagi muda-mudi lainnya. Sebagai PR, Cak dan Ning juga mempunyai kemampuan menggunakan bahasa asing, sebab tamu-tamu yang datang ke Surabaya, juga banyak yang dari mancanegara.

 

Busana khas

            Cak dan Ning mempunyai busana yang khas. Untuk Cak: berpakaian bentuk jas bertutup yang dikenal beskap, berukuran pas badan. Untuk pemilihan Cak, warnanya ditentukan warna muda: putih, krem atau putih tulang. Sedangkan untuk pekaian kebesaran digunakan warna coklat.

            Jas Cak itu lengkapnya menggunakan lima buah kancing tengah. Dua kancing krah dengan ukuran lebih kecil. Kancing lengan bawah sama dengan kancing krah sebanyak tiga buah. Kantong atas sebelah kiri diberi saputangan bentu segitiga, warna merah. Dari kantong digantung rantai jam dengan bandul hiasan taring atau logam emas.

            Bagian bawah jas, tidak pakai celana panjang, tetapi mengenakan kain panjang wanita yang disebut “jarit parikesit” dengan gringsing (sogan) wiron lebar 5 centimeter.

            Kepala ditutup dengan udeng batik dengan hiasan pinggir modang putih, dan pocot miring. Udeng adalah sejenis ikat kepala yang sudah dibentuk.

            Alas kaki Cak, adalah sandal terompa.

            Untuk Ning, pakaiannya menggunakan kebaya dengan selendang atau kerudung yang diberi renda-renda, dibordir dengan  warna muda. Kebaya dan kerudung, warnanya sama. Kain kebaya tidak boleh tembus pandang, sehingga tidak memperlihatkan pakaian dalam. Lalu memakai peniti renteng.

            Bagian bawahnya, busana Ning menggunakan kain sarung batik pesisir, kemiren harus terlihat dengan tumpal yang diletakkan di bagian depan.

            Telinga dihiasi anting-anting panjang, kaki memakai binggel dan tanga memakai  gelang emas. Mata diberi celak, jari-jari diberi pacar (warna).

            Alas kaki berupa selop bertutup depan, runcing dan tinggi minimal 7 sampai 9 centimeter.

            Apabila terpilih sebagai juara Cak dan Ning, maupun wakil Cak dan wakil Ning, serta predikat lainnya, misalnya: Favorit atau Persahabatan, saat dinobatkan diberi selendang nama sesuai dengan predikat yang diraih.

            Pakaian yang sudah dibakukan sebagai busana Cak dan Ning itu, sekarang juga dimasyarakatkan. Pada hari-hari tertentu, terutama pada resepsi perhelatan peringatan Hari Jadi Surabaya, pejabat dan undangan dianjurkan menggunakan busana Cak dan Ning tersebut.

            Walaupun bakunya untuk Cak menggunakan jarit atau kain panjang, sudah lazim pula diganti dengan celana panjang. Sedangkan udeng diganti dengan kopiah atau songkok. Warnanya juga macam-macam, bahkan ada organisasi massa dan partai politik yang menyesuaikan dengan warna kebanggaan organisasi atau partainya. **

 

*) Yousri Nur Raja Agam MH  — Ketua  Yayasan Peduli Surabaya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.