Pusura Surabaya

}

PUSURA

Organisasi Sosial Tertua

Arek Surabaya

Oleh: Yousri Nur Raja Agam MH *)

Yousri Nur RA  MH

Yousri Nur RA MH

PUSURA, merupakan singkatan dari “Putera Surabaya”. Ini adalah nama organisasi sosial yang cukup tua di Kota Surabaya. Berdasarkan catatan yang ditemukan penulis, serta hasil pengecekan di kantor Pusura, hari lahir atau berdirinya Pusura adalah tanggal 26 September 1936.

Kita patut berbangga, sebab organisasi yang berdiri pada zaman penjajahan Belanda itu masih ada sampai sekarang. Para pengurusnya, benar-benar dapat melaksanakan amanah dari para pendiri dan pengurus-pengurus sebelumnya. Berkat kesinambungan kepengurusan itulah, kegiatan Pusura terus berkembang, terutama di bidang sosial.

Memang, pada awalnya ide mendirikan Pusura tidak semata-mata di bidang sosial. Namun kegiatan sosial itu hanya “kedok” untuk mengelabui penjajah Belanda waktu itu. Sebenarnya, kegiatan yang dilakukan Pusura pada tahun 1930-an itu adalah kegiatan politik terselubung, terutama menanamkan semangat perjuangan warga kota Surabaya ikut merebut kemerdekaan.

Untuk mencapai cita-cita kemerdekaan itu, para pendiri Pusura berusaha secara maksimal meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Di samping itu, menyelenggarakan kegiatan pendidikan untuk mencerdaskan anak bangsa yang ada di Kota Surabaya ini. Apalagi para pendiri organisasi yang semula bernama “Poesoera” ini, umumnya tokoh masyarakat yang berlatarbelakang politisi, cendekiawan, pendidik dan ulama.

Mereka antara lain, empat orang dokter pejuang, yakni: Dr.Sutomo, Dr.Soewandi, Dr.Yahya dan Dr.Samsi. Di samping itu ada ulama yang juga pejuang kemerdekaan, yakni KH Mas Mansur, H.Nawawi Amin, Koesnan Effendi, H.Manan Edris dan H.Hoesein. Foto para pendiri Pusura ini, sekarang dipajang di kantor Pusura yang terletak di Jalan Yos Sudarso 9 Surabaya.

Sebelum Pusura dilahirkan, kata Ketua Pusura (saat ini), H.Kadaruslan yang biasa disapa: Cak Kadar itu, Dr.Sutomo dan kawan-kawannya lebih dulu mendirikan Gedung Nasional Indonesia (GNI) di Jalan Bubutan. GNI ini merupakan pendopo dari gedung penerbitan dan percetakan, serta tempat pendidikan dan poliklinik kesehatan.

Di masa perjuangan itulah kegiatan sosial dikembangkan Pusura melalui kegiatan “sinoman”. Selain mengurusi warga yang meninggal dunia, sinoman juga tempat berhimpun warga yang melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Namun saat kegiatan perjuangan kemerdekaan memuncak, aktivitas Pusura menurun, bahkan sempat terhenti.

Itulah sebabnya, saat kemerdekaan diproklamasikan 17 Agustus 1945 dan berlanjut hingga peristiwa bersejarah 10 November 1945, organisasi Pusura bagaikan tenggelam. Pengurusnya sibuk dalam kesatuan perjuangan yang terdiri dari berbagai organisasi, kelompok dan paguyuban.

Saat Pusura “hilang” di awal masa kemerdekaan Republik Indonesia, lahir organisasi bernama GPP (Gabungan Pemuda Perjuangan) Surabaya. Organisasi ini menggunakan seluruh fasilitas dan inventaris Pusura, kata Cak Kadar yang ditemui penulis di gedung Pusura yang terletak persis diseberang kantor DPRD Kota Surabaya.

Nah, barulah pada tahun 1950 nama Pusura dihidupkan lagi. Waktu itu, H.Doel Arnowo menjabat sebagai walikota Surabaya (1950-1952). Pusura bangkit dan ditata kembali. Selain kegiatan sinoman yang dimasyarakatkan ke seluruh kampung-kampung di Surabaya, kegiatan lainnya adalah mengumpulkan barang-barang inventaris yang berserakan akibat perang kemerdekaan, maupun akibat warga Surabaya mengungsi ke luar kota.

Berbagai upaya dilakukan untuk menarik warga kota Surabaya dalam berorganisasi di bidang sosial ini. Salah satu di antaranya adalah menyelenggarakan kegiatan olahraga. Mulai dari olahraga ringan, seperti catur, pencaksilat dan mendirikan klub sepakbola “mini” dan perkumpulan “anak gawang”. Anak-anak gawang ini difungsikan membantu pemungutan bola yang ke luar lapangan, saat pertandingan berlangsung. Tidak hanya yang diselenggarakan Persebaya saja, tetapi juga untuk klub-klub sepak bola lainnya.

Menurut Cak Kadar, Pusura pernah melahirkan grand master olahraga catur tingkat nasional dan internasional, yakni: Ardiansyah dan Taufik.

Saat kegiatan politik praktis menjelang Pemilu (Pemilihan Umum) pada tahun 1970-an, Pusura sempat terpecah. Pusura yang merupakan organisasi sosial kemasyarakatan, oleh orang tertentu digiring ke dunia politik. Namun upaya itu berhasil dicegah. Akibatnya, lahir organisasi “tandingan” bernama Pasura (Paguyuban Arek Surabaya).

Tidak hanya itu, Pusura pada dekade 1970-an hingga 1980-an sempat menjadi sorotan masyarakat dan aparat keamanan. Para tokoh tua yang menjadi pengurus Pusura, memilih untuk tidak aktif. Maka, anak-anak muda yang berada di markas Pusura lepas kontrol. Gedung Pusura menjadi “angker”, karena dijadikan tempat berkumpul para preman. Waktu itu, juga sering terjadi perkelahian antar geng anak muda.

Nama-nama geng yang cukup dikenal waktu itu, antara lain: Besi Tua, Air Laut, Massa 33 dan sebagainya. Sedangkan tokoh di balik geng ini antara lain, sebut saja: Cak Nuralim, Harun, Maison, Sugianto dan sederetan nama lainnya,

Walikota Surabaya Drs.Moehadji Widjaja (1979-1984), mempunyai perhatian yang cukup baik terhadap Pusura. Ia melakukan pendekatan persuasif kepada anak muda yang dicap sebagai preman. Cak Nuralim, salah seorang yang cukup disegani di kalangan anak muda yang dicap preman waktu itu, didekati oleh walikota Moehadji Widjaja.

Bersama beberapa wartawan dan tokoh muda Surabaya, Moehadji Widjaja menyambut baik berdirinya organisasi yang diberi nama Generasi Muda Arek-Arek Surabaya (Gemaas). Cak Nuralim diangkat sebagai ketua Gemaas yang pertama dengan wakilnya Hari Sasono DS yang waktu sebagai wartawan majalah “Selecta Group” Jakarta, perwakilan Jawa Timur.

Cak Nuralim dan Cak Hari Sasono mengajak beberapa wartawan sebagai pengurus Gemaas. Mereka antara lain: Arifin Perdana, Anton Tjondro, Yousri Nur Raja Agam, Yamin Akhmad dan beberapa anak-anak muda lainnya. Saat Gemaas diresmikan oleh walikota Moehadji Widjaja, tahun 1980 itu, anggota Gemaas ini terdiri dari gabungan anak muda yang dicap sebagai “preman”, juga beberapa orang wartawan dan seniman.

Begitu akrab dan dekatnya “mantan preman” ini dengan wartawan dan seniman, gedung Pusura sempat dijadikan markas penerbitan Suratkabar Mingguan “Surabaya Minggu” yang dipimpin oleh Anwar Arief. Ikut bergabung sebagai pengelola koran itu, dua orang aktivis Pusura: Cak Nuralim dan Cak Jayeng Wandi.

Cak Kadaruslan, mantan wartawan Harian Berita Yudha perwakilan Jawa Timur, yang sebelumnya merantau ke Kalimantan, tahun 1993 kembali ke Surabaya. Sebagai mantan aktivis Kesatuan Aksi yang tergabung dalam Angkatan 66, ia melihat Pusura sebagai organisasi “Arek Suroboyo” kurang terurus. Tidak ada tokoh tua yang mau berinisiatif mengaktifkan kembali oraganisasi yang punya nama besar ini.

Setelah menemui para sesepuh Pusura, seperti Pak Asmuri, Pak Yahya Hasjim dan Pak Iskandar Yasin, kemudian mendapat masukan dari beberapa tokoh lainnya, maka Cak Kadaruslan menyatakan bersedia membenahi Pusura. Cak Kadar, kemudian terpilih dan mendapat mandat sebagai ketua Pusura. Ia berusaha menemui tokoh masyarakat Surabaya untuk diajak menjadi pengurus. Ternyata berhasil.

Dengan diaktifkannya kembali kepengurusan Pusura, image Pusura sebagai “sarang preman” berhasil dihapus, kata Cak Kadar yang juga dikenal sebagai seniman anggota DKS (Dewan Kesenian Surabaya) ini.

Secara bertahap pengurus menyusun program kerja jangka pendek dan jangka pajang. Juga dibuat kalender kegiatan rutin tiap tahun. Misalnya, kegiatan yang berhubungan dengan peringatan hari Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus dan peringatan Hari pahlawan 10 November.

Kegiatan yang bersifat sosial ditingkatkan, termasuk mengembang Poliklinik Pusura yang menyediakan pelayanan gabungan dokter spesialis. Tidak hanya di komplek Pusura di Jalan Yos Sudarso, tetapi jug di beberapa tempat yang tersebar di kota Surabaya. Tidak hanya itu, ulas Cak Kadar, kegiatan bakti sosial, donor darah, bantuan untuk penderita penyakit kusta dan anak jalanan juga diselenggarakan terus-menerus. Pusura juga menyelenggarakan pengajian rutin ibu-ibu dan pemuda. Di samping itu, dibuka pula Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pusura yang malayani masyarakat umum. Pada saat tertentu diselenggarakan seminar dan diskusi membahas persolan yang aktual.

Ada lagi satu kepercayaan yang “luar biasa” yang saat ini diemban Pusura, yakni mengelola Taman Pemakaman Umum (TPU) Tembok Dukuh oleh Pemerintah Kota Surabaya. Kepercayaan ini, dilaksanakan oleh Pusura dengan menunjuk kordinator pelaksana. Walaupun kepercayaan mengelola TPU Tembok Dukuh yang luasnya 13 hektar ini diberikan oleh Pemkot Surabaya, tetapi tanpa disertai dukungan dana. Jadi, Pusura mengelola TPU itu secara swakelola dan mandiri, kata Cak Kadar.

Susunan pengurus Pusura saat ini, terdiri dari Penasehat, yaitu: H.Yahya Hasjim, H. Asmoeri, Ir.H.Moechajat, H.Iskandar Yasin. Ketua Umum: H.Kadaruslan, dibantu lima orang ketua, masing-masing: Ir.H.Mustahid Astari, Drs.H.Manan Chamid, H.Latif Burhan, H.Binsjeh Abuyani dan H.Basori Effendi. Sekretaris Umum: HM Zaidun,SH dengan dua sekretaris: Hoslih Abdullah dan Ir.H.Abdul Muin. Bendahara Umum H.Sofwan hadi dengan wakil bendahara: Ny.Hj.A.Manan Chamid.

Dengan melihat susunan pengurus Pusura itu, kata Cak Kadar, jelas bahwa Pusura tidak membeda-bedakan orang berdasarkan aliran politik yang diikutinya. Pusura merupakan organisasi sosial yang terbuka dan tidak terkena imbas politik praktis. Dalam organisasi ini semua “lepas baju”. Artinya, saat berada di lingkungan Pusura, tidak ada pengaruh warna politik yang dianut oleh orang perorang dalam organisasi sosial kemasyarakatan ini. ***

*) Yousri Nur Raja Agam MH - Ketua Yayasan Peduli Surabaya

Asal Usul Surabaya

Asal Usul dan


Cikal Bakal

KotaSurabaya

Oleh: Yousri Nur Raja Agam MH *)

Yousri Nur RA MH

Yousri Nur RA MH

PENELITI dan beberapa ahli sejarah, mengungkapkan, dulu Surabaya ini adalah muara sungai dan terbentuk oleh gugusan kepulauan. Muara Sungai Kali Brantas dengan anaknya Kali Surabaya masih di Wonokromo. Sedangkan Surabaya sekarang merupakan pulau-pulau kecil yang terjadi akibat lumpur yang hanyut dari letusan Gunung Kelud. Namun, lama-kelamaan terus terjadi pendangkalan di muara sungai yang terletak di Selat Madura ini.

Akibat sedimen yang terus bertambah, endapan lumpur semakin meninggi, sehingga selat-selat yang terletak di antara gugus pulau-pulau kecil itu menyempit. Di antara pulau-pulau kecil itu banyak yang menyatu, sementara ada pula selat di antara pulau-pulau kecil itupun berubah menjadi anak sungai atau kali.

Kejadian yang unik itu ditopang pula dengan proses tektonik. Permukaan daratan Surabaya naik 5 sampai 8 centimeter per-abad. Sementara itu daratan atau garis pantai bertambah ke arah laut rata-rata 7,5 centimeter per-tahun.

Dalam catatan sejarah, Gunung Kelud rata-rata meletus setiap 15 tahun sekali. Memang, apabila Kelud meletus, dua wilayah yang menjadi sasaran utama, yaitu Blitar dan Kediri. Tetapi, karena Sungai kali Brantas mengalir dari arah Kediri sampai ke Surabaya, maka semburan gunung yang membawa lava, lahar dan lumpur itu hanyut sampai ke muara sungai. Selain membuat pendangkalan di badan sungai, endapan terbanyak justru di muaranya Selat Madura, yaitu Surabaya dan Sidoarjo.

Data yang berhasil dicatat dari Proyek Penanggulangan Bencana Alam Gunung Kelud, secara berturut-turut Gunung Kelud meletus tahun 1311, 1334, 1376, 1385, 1395, 1411, 1451, 1462, 1481, 1586, 1752, 1771, 1811, 1826, 1835, 1848, 1851, 1864, 1901, 1919, 1951, 1966, 1990 dan 2005.

Sebagai contoh, letusan tahun 1966 dan 1990, tidak kurang satu kali letusan memuntahkan lahar 28 juta meter kubik. Lahar yang dimuntahkan itu, selain menimbun kawasan di sekitar gunung, juga mengalir di lereng gunung terus ke sungai. Lahar yang berubah menjadi pasir dan lumpur itu mengalir melalui Sungai Kali Brantas hingga muara. Akibat yang terjadi, juga mendangkalkan permukaan sungai, mempersempit lebar sungai dan menambah endapan di muara sungai, laut di Selat Madura.

Begitulah asal-usul dan cikal-bakal kejadian daratan di muara Kali Surabaya, sehingga daerah yang semula bernama Junggaluh atau Ujunggaluh atau Hujunggaluh, kemudian bernama Surabaya. Tidaklah mengherankan, kalau sampai sekarang Surabaya berada di dataran rendah dan terletak pada ketinggian hanya 0 sampai 6 meter di atas permukaan laut. Jadi, kalau Surabaya banjir atau pasang naik mencapai bibir daratan, tidak perlu heran dan sebenarnya tidak perlu dirisaukan.

Dari gugus pulau-pulau kecil yang disebut pulo di muara sungai Kalimas yang berinduk ke sungai Kali Brantas itu, ada selat-selat yang dulu diberi nama kali. Jadi tidaklah mengherankan ada nama tempat di Surabaya ini yang disebut pulo dan kali. Di sini pola hidup dan kehidupan warga asli adalah memancing dan berburu. Rumah-rumah penduduk kampung asli Surabaya dulunya berada di atas tiang dan di atas permukaan air, sebagaimana umumnya permukiman pantai.

Seiring dengan perkembangan ruang dan waktu, pola kehidupan berubah. Kehidupan di dunia pantai yang berubah menjadi pelabuhan itulah yang mendorong terjadinya kegiatan kemaritiman. Dunia maritim ini saling tunjang dengan perdagangan dan industri. Inilah ciri khas Surabaya pada awalnya, yang kemudian berkembang ke arah pendidikan, budaya dan pariwisata seperti sekarang ini.

Sebagai wilayah berada di muara sungai yang berkembang menjadi pelabuhan, keberadaannya diakui oleh pemerintah penjajah Belanda di awal abad ke 16. Evolusi menjadi kota besar mulai terjadi setelah dilakukan pemetaan wilayah oleh Muller tahun 1746. Pemetaan wilayah Surabaya itu atas perintah Gubernur Jenderal Belanda wilayah Hindia Belanda yang mendarat 11 April 1746 di utara Surabaya.

Awalnya luas kota Surabaya yang secara otonom diserahkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat pembentukan kota 1 April 1906 di bawah pemerintahan walikota (burgermeester), sekitar 5.170 hektar atau 51,70 kilometer per-segi.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan tahun 1945, Pemerintahan Kota Surabaya dikukuhkan dengan Undang-undang No.22 tahun 1948 dengan luas wilayah 67,20 kilometer per-segi atau 6.720 hektar.

Kemudian terjadi perluasan kota dengan penambahan wilayah dari lima kecamatan dari Kabupaten Surabaya (sekarang bernama Kabupaten Gresik). Luas kota bertambah 15.461,124 hektar atau 15,46 kelometer persegi, sehingga luas kota Surabaya menjadi 22.181,12 hektar atau 221,18 kilometer per-segi.

Entah apa dasarnya, setelah tahun 1965 pada keterangan dan dalam buku agenda resmi Pemerintahan Kota Surabaya terjadi perubahan luas wilayah Kota Besar Surabaya menjadi 29.178 hektar

Sejak tahun 1992, berdasarkan pemotretan udara, ternyata luas Surabaya 32.636,68 hektar.

Memang, begitulah kenyataannya, konon hingga sekarang, luas daratan kota Surabaya terus bertambah. Dinas Tatakota Pemkot Surabaya, Senin, 12 Mei 2003, pernah mengungkap pertambahan luas daratan itu disebabkan lumpur yang hanyut ke muara sungai, terutama di hilir Kali Jagir sampai daerah Wonorejo. Akibatnya, selain muara sungai menyempit, juga semakin dangkalnya laut di muara sungai, bahkan menimbulkan tanah oloran baru.

Kalau kita amati dan kita cermat melakukan jalan keliling kota, pertambahan daratan Surabaya itu, juga akibat kegiatan reklamasi pantai dan pengurukann laut. Kegiatan yang dilakukan pihak swasta ini, pertama di daerah pertambakan, pembangunan perumahan di pinggir pantai serta perluasan daratan yang dilakukan pengelola Pantai Ria Kenjeran.

Kalau dalam buku agenda tahun 1980-an, luas Surabaya tertulis 29 ribu hektar. Kemudian pada tahun 1990-an dari hasil pemotretan udara, luas Kota Surabaya 32,63 ribu hektar. Namun, di tahun 2003, Kepala Dinas Tatakota Pemkot Surabaya Ir.Erlina Soemartomo (waktu itu) menyebut luas Kota Surabaya, 35 ribu hektar lebih. Kendati demikian, pada buku kerja (agenda) resmi terbitan Pemkot Surabaya tahun 2002, 2003, 2004, 2005 dan 2006, luas wilayah kota Surabaya tetap dicetak 326,37 km2 atau 32,63 ribu hektar lebih.

Tutur Tinular

Kembali cerita tentang kapan Surabaya mulai disebut dan mulai ada, atau “lahir” , versinya macam-macam. Dalam cerita lama, seperti yang terdapat, dalam buku Kumpulan Cerita Rakyat Jawa Timur yang diterbitkan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977, ada dongeng tentang Surabaya.

Perkampungan tua dalam kota Surabaya tempo dulu (foto.Dok Humas Pemkot Surabaya)

Perkampungan tua dalam kota Surabaya tempo dulu (foto.Dok Humas Pemkot Surabaya)

Selain dongeng, juga ada cerita dari cerita yang disampaikan secara berkesinambungan dari nenek moyang kepada kakek, dari kakek atau nenek kepada ayah dan ibu, kemudian dari ibu kepada anak dan cucu, terus pula kepada cicit dan buyut, begitu seterusnya sampai sekarang ini. Kalau boleh dikatakan seperti tutur tinular, yakni penuturan yang kemudian ditularkan atau disebarluaskan kepada generasi berikutnya Tentu cerita dan cerita itu sudah tidak orisinal lagi, dipoles di sana-sini, bahkan ditaburi bumbu penyedap, sehingga rasanya menjadi asyik.

Surabaya yang dulunya hutan belantara di muara sungai Kali Brantas, kemudian melahirkan sungai yang berasal dari selat-selat yang terdapat dari tanah oloran yang kemudian menjadi pulau. Sungai-sungai itu tidak kurang dari 50 sungai yang disebut kali. Mulai dari kali yang cukup besar, yakni Kali Surabaya dari Mojokerto sampai Gunungsari. Kemudian, terpecah menjadi dua kali yang agak besar, Kali Mas yang mengalir dari Wonokromo ke arah Tanjung Perak dan yang kedua Kali Wonokromo yang mengalir ke arah Rungkut. Ada lagi Kali Anak yang mengalir ke arah perbatasan Surabaya-Gresik. Dan, sisanya, kali-kali yang kecil, seperti: Kali Asin, Kali Sosok, Kali Pegirian, Kali Kundang, Kali Ondo, Kali Rungkut, Kali Waron, Kali Kepiting, Kali Judan, Kali Mir, Kali Dami, Kali Lom, Kali Deres, Kali Jagir, Kali Wonorejo dan masih puluhan kali lagi yang kecil-kecil.

Sebagai muara sungai besar, di muara itu mengendaplah lumpur, apalagi berulangkali lumpur letusan Gunung Kelud, hanyut ke muara dan membentuk pulau-pulau. Dari berbagai pulau yang merupakan kepulauan itu, lahirlah Surabaya. Pulau-pulau itu memang tidak begitu menonjol, kecuali Pulau Wonokromo dan Pulau Domas. Sedangkan yang lainnya berbentuk rawa dan danau-danau kecil yang disebut kedung, serta sebagian dijadikan tambak. Ada lagi yang masih berbentuk karang.

Maka, tidak heran kalau di seantero Kota Surabaya saat ini nama tempat diawali dengan nama kedung, tambak dan karang. Contoh, Tambaksari, Tambakasri, Tambakoso Wilangun, Tambakbayan, Tambakjati, Tambakrejo, Tambakmadu, Kedungdoro, Kedungsari, Kedungasem, Kedung Baruk, Kedung klinter, Kedungsroko, Kedungcowek, Kedungmangu, Karangmenjangan, Karangasem, Karangrejo, Karang Tembok, Karanggayam dan lain-lain.

Juga ada yang berbentuk tegal, seperti Tegalsari. Konon di Tegalsari atau daerah Surabayan inilah cikal-bakal penduduk daratan Surabaya yang kemudian berkembang sampai ke daerah Bubutan dan sekitar yang kemudian menjadi pusat pemerintahan Adipati Surabaya.

Asal Nama Surabaya

Pada umumnya, masyarakat Kota Surabaya menyebut asal nama Surabaya adalah dari untaian kata Sura dan Baya atau lebih popular dengan sebutan Sura ing Baya, dibaca Suro ing Boyo. Paduan dua kata itu berarti “berani menghadapi tantangan”.

Namun berdasarkan filosofi kehidupan, warga Surabaya yang hidup di wilayah pantai menggambarkan dua perjuangan hidup antara darat dan laut. Di dua alam ini ada dua penguasa dengan habitat bertetangga yang berbeda, tetapi dapat bertemu di muara sungai. Dua makhluk itu adalah ikan Sura (Suro) dan Buaya (Boyo).

Perlambang kehidupan darat dan laut itu, sekaligus memberikan gambaran tentang warga Surabaya yang dapat menyatu, walaupun asalnya berbeda. Begitu pulalah warga Surabaya ini, mereka berasal dari berbagai suku, etnis dan ras, namun dapat hidup rukun dalam bermasyarakat.

Hasil penelitian menunjukkan, ejaan nama Surabaya awalnya adalah: Curabhaya. Tulisan ini di antaranya ditemukan pada prasasti Trowulan I dari tahun Caka 1280 atau 1358 M. Dalam prasasti itu tertulis Curabhaya termasuk kelompok desa di tepi sungai sebagai tempat penambangan yang dahulu sudah ada (nadira pradeca nguni kalanyang ajnahaji pracasti).

Nama Surabaya muncul dalam kakawin Negarakartagama tahun 1365 M. Pada bait 5 disebutkan: Yen ring Janggala lok sabha n rpati ring Surabhaya terus ke Buwun. Artinya: Jika di Jenggala ke laut, raja tinggal di Surabaya terus ke Buwun.

Cerita lain menyebutkan Surabaya semula berasal dari Junggaluh, Ujunggaluh atau Hujunggaluh. Ini, terungkap pada pemerintahan Adipati Jayengrono. Kerabat kerajaan Mojopahit ini diberi kekuasaan oleh Raden Wijaya untuk memerintah di Ujunggaluh. Di bawah pemerintahan Jayengrono, perkembangan pesat Ujunggaluh sebagai pelabuhan pantai terus manarik perhatian bangsa lain untuk berniaga di sini.

Suatu keanehan, ternyata sejarah Surabaya ini terputus-putus. Kalau sebelumnya Surabaya dianggap sebagai penjelmaan dari Hujunggaluh atau Ujunggaluh, namun belum satupun ahli sejarah menemukan sejak kapan nama Hujunggaluh itu “hilang” dan kemudian sejak kapan pula nama Surabaya, benar-benar mulai dipakai sebagai pengganti Hujunggaluh. Perkiraan sementara, hilangnya nama Hujunggaluh itu pada abad ke-14.

Mitos Cura-bhaya

Ada lagi sumber lain yang mengungkap tentang asal-usul nama Surabaya. Buku kecil yang diterbitkan PN.Balai Pustaka tahun 1983, tulisan Soenarto Timoer, mengungkap cerita rakyat sebagai sumber penelitian sejarah. Bukunya berjudul: Menjelajahi Jaman Bahari Indonesia “Mitos Cura-Bhaya”. Dari tulisan sepanjang 61 halaman itu, Soenarto Timoer membuat kesimpulan, bahwa hari jadi Surabaya harus dicari antara tahun-tahun 1334, saat meletusnya Gunung Kelud dan tahun 1352 saat kunjungan Raja Hayam Wuruk ke Surabhaya (sesuai Nagarakrtagama, pupuh XVII:5).

Surabaya tidak bisa dilepaskan dari nama semula Hujunggaluh, karena perubahan nama menunjukkan adanya suatu motif. Motif dapat pula menunjukkan perkiraan kapan perubahan itu terjadi. Bahwa Hujunggaluh itu adalah Surabaya yang sekarang dapat diteliti dan ditelusuri berdasarkan makna namanya, lokasi dan arti kedudukannya dalam percaturan negara.

Ditilik dari makna, nama “Hujung” atau ujung tanah yang menjorok ke laut, yakni tanjung, dapat dipastikan wilayah ini berada di pantai. “Galuh” artinya emas. Dalam bahasa Jawa tukang emas dan pengrajin perak disebut: Wong anggaluh atau kemasan seperti tercantum dalam kamus Juynboll dan Mardiwarsito. Dalam purbacaraka galuh sama artinya dengan perak.

Hujunggaluh atau Hujung Emas, bisa disebut pula sebagai Hujung Perak, dan kemudian menjadi “Tanjung Perak” yang terletak di muara sungai atau Kali Emas (Kalimas). Nah, bisa jadi Tanjung Perak sekarang itulah yang dulu bernama Hujung galuh.

Dilihat dari lokasi Surabaya sekarang, berdasarkan prasasti Klagen, lokasi Hujunggaluh itu sebagai jalabuhan. Artinya, tempat bertemu para pedagang lokal dan antarpulau yang melakukan bongkarmuat barang dengan perahu. Diperkirakan, kampung Galuhan sekarang yang ada di Jalan Pawiyatan Surabaya, itulah Hujunggaluh, Di sini ada nama kampung Tembok. Konon tembok itulah yang membatasi laut dengan daratan.

Tinjauan berdasar arti kedudukannya, pada tahun 905, Hujunggaluh tempat kedudukan “parujar i sirikan” (prasati Raja Balitung, Randusari, Klaten). Parujar adalah wali daerah setingkat bupati. Bisa diartikan, bahwa Hujunggaluh pernah menjadi ibukota sebuah daerah setingkat kabupaten, satu eselon di bawah kedudukan “raka i sirikan”, pejabat agung kerajaan setelah raja.

Nah, sejak kapan Hujunggaluh berubah menjadi Surabaya? Mamang, perubahan nama tidak sama dengan penggantian tanggal lahir atau hari jadi. Namun, hingga sekarang belum ada satupun prasasti atau data otentik yang resmi menyebut perubahan nama Hujunggaluh menjadi Surabaya.

Mitos dan mistis sejak lama mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk di Pulau Jawa. Maka mitos Cura-bhaya yang dikaitkan dengan nama Surabaya sekarang ini tentunya dapat dihubungkan pula dengan mitologi dalam mencari hari jadi Surabaya. Perubahan nama dari Hujunggaluh menjadi Surabaya dapat direkonstruksi dari berbagai sudut pandang.

Bencana alam meletusnya gunung Kelud tahun 1334 membawa korban cukup banyak. Peristiwa itu mengakibatkan terjadinya perubahan di muara kali Brantas dengan anaknya Kalimas. Garis pantai Hujunggaluh bergeser ke utara. Timbul anggapan pikiran mistis yang mengingatkan kembali kepada pertarungan penguasa lautan, yakni ikan hiu yang bernama cura, melawan penguasa darat, buaya (bhaya). Dalam dunia mistis kemudian menjadi mitos, bahwa untuk menghentikan pertikaian antara penguasa laut dengan darat itu, maka digabungkan namanya dalam satu kata Cura-bhaya atau sekarang Surabaya.

Mitos ikan dengan buaya ini sudah ada pada abad XII-XIII, sebagai pengaruh ajaran Budha Mahayana melalui cerita Kuntjarakarna. Reliefnya terpahat di dinding gua Selamangleng, Gunung Klotok, Kediri.

Bagaimanapun juga, mitos ikan dan buaya yang sekarang menjadi lambang Kota Surabaya, hanyalah merupakan sepercik versi lokal, tulis Soenarto Timoer. Jadi mitos cura-bhaya, hanya berlaku di Hujunggaluh. Cura-bhaya adalah nama baru pengganti Hujunggaluh sebagai wujud pujian kepada sang Cura mwang Bhaya yang menguasai lautan dan daratan.

Asal-usul Penduduk

Penduduk Surabaya boleh dikatakan berasal dari pendatang. Para pendatang mulai menatap dan mendirikan perkampungan di sekitar pelabuhan dan berkembang sampai ke darat, terutama di pinggir Sungai Kalimas yang merupakan anak Sungai Kali Brantas. Lama kelamaan, nama Ujunggaluh mulai dilupakan, dan namanya berubah menjadi Surabaya di bawah pemerintahan Adipati Jayengrono. Pusat Pemerintahan Adipati Jeyangrono ini diperkirakan di sekitar Kramat Gantung, Bubutan dan Alun-alun Contong saat ini.

Ada temuan sejarah yang mencantumkan pada abad ke-15, bahwa waktu itu di Surabaya sudah terjadi kehidupan yang cukup ramai. Tidak kurang 1.000 (seribu) KK (Kepala Keluarga) bermukim di Surabaya. Orang Surabaya yang dicatat pada data itu umumnya keluarga kaya yang bertempat tinggal di sekitar pelabuhan. Mereka melakukan kegiatan bisnis dan usaha jasa di pelabuhan.

Dari hari ke hari penduduk Surabaya terus bertambah, para pendatang yang menetap di Surabaya umumnya datang melalui laut. Ada yang berasal dari Madura, Kalimantan, Sulawesi dan Sumetera. Di samping ada yang berasal dari daratan Jawa datang terbanyak melalui sungai Kali Brantas dan jalan darat melewati hutan. Tidak hanya itu, para pelaut itu juga banyak yang berasal dari Cina, India dan Arab, serta Eropa.

Warga pendatang di Surabaya itu, hidup berkelompok. Misalnya, mereka yang berasal dari Madura, Kalimantan, Sulawesi atau suku Melayu dari Sumatera, di samping bermukim di pantai, juga banyak yang membangun perumahan di daerah Pabean dan Pegirian. Sedangkan pendatang dari ras Arab banyak bermukim di sekitar Masjid Ampel.

Etnis Cina menempati kawasan Kembang Jepun, Bongkaran dan sekitarnya. Ini terkait dengan dermaga pelabuhan waktu itu berada di sungai Kalimas, di sekitar Jembatan Merah sekarang. Jumlah warga pendatang terus-menerus terjadi, akibat semakin pesatnya kegiatan dagang dan perkembangan budaya di Surabaya.

Pengikut Sunan Ampel

Khusus masyarakat di sekitar Ampel, sebagian besar adalah rombongan yang ikut bersama Sunan Ampel dari wilayah Mojopahit pada abad 14. Berdasarkan Babad Ngampeldenta, Sunan Ampel melakukan aktivitas di Surabaya sekitar tahun 1331 M hingga 1400 M. Jumlah rombongan Sunan Ampel itu berkisar antara 800 hingga 1.000 keluarga.

Dalam buku Oud Soerabaia (1931) karangan GH von Faber, halaman 288 dinyatakan Raden Rahmat pindah bersama 3.000 keluarga (drieduezend huisgezinnen}

Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java (1817), halaman 117 menulis saat kepindahan Raden Rahmad dari keraton Majapahit ke Ampel, ia disertai 3.000 keluarga (three thousand families). Sementara itu menurut Babad Ngampel Denta, jumlah orang yang boyongan bersama Raden Rahmat ke Ampel Surabaya sebanyak 800 keluarga (sun paringi loenggoeh domas). “Domas” menurut S.Prawiroatmodjo dalam buku Bausastra Jawa – Indonesia (1981) artinya delapan ratus.

Sejak berdirinya permukiman di Surabaya, pertumbuhan penduduk berkembang cukup pesat. Ada yang datang melalui laut maupun transportasi melalui sungai. Umumnya yang melewati sungai adalah warga yang datang dari arah Blitar, Madiun, Tulungagung, Kediri dan lain-lainnya. Mojokerto yang merupakan pusat kerajaan Majapahit, menjadikan Surabaya sebagai pelabuhan lautnya. Mereka mendirikan permukiman di sepanjang Kalimas, anak Kali Brantas yang dijadikan poros lalulintas utama saat itu. Kemudian menyebar sampai ke Keputran, Kaliasin, Kedungdoro, Kampung Malang, Surabayan dan Tegalsari.

Setelah koloni dagang dari Eropa yang dimotori bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda datang dan menetap di Surabaya, di tahun 1500-an, mereka mendirikan gudang dan tempat tinggal di sekitar pusat pemerintahan Adipati Surabaya, yakni di sekitar Alun-alun Contong, Bubutan, Gemblongan, Blauran, Pasar Besar dan wilayah sekitarnya.

Belanda yang merupakan koloni dagang rempah-rempah terbesar saat itu, mulai membentuk pemerintahan. Tanpa disadari oleh Bangsa Indonesia, Belanda mulai mencengkeramkan “kukunya” di Bumi Pertiwi ini sebagai penjajah. Termasuk di Surabaya.

Jumlah Penduduk

Ketika pemerintahan kota pertama kali dibentuk tanggal 1 April 1906, penduduk Kota Surabaya berjumlah 150 ribu orang lebih. Limabelas tahun kemudian, dalam cacah jiwa atau sensus penduduk tahun 1920, penduduk Surabaya tercatat 192.180 orang. Sepuluh tahun kemudian pada sensus penduduk tahun 1930, warga Kota Surabaya sudah berkembang menjadi 341.675 orang.

Pada zaman Jepang, di bulan September 1943 diselenggarakan cacah jiwa (sensus penduduk) Kota Surabaya (Surabaya Syi). Jumlah penduduk Surabaya waktu itu tercatat 518.729 orang.

Dalam sensus penduduk tahun 1961 tercatat resmi 1.007.945 jiwa dan tahun 1971 naik lagi menjadi 1.556.255 jiwa. Tahun 1980 penduduk resmi yang terdaftar sebagai penduduk Surabaya berkembang menjadi 2.027.913 jiwa dan tahun 1990 naik menjadi 2.473.272 jiwa.

Anehnya, data dari Dinas Kependudukan Kota Surabaya yang dikeluarkan pada bulan Mei 2004, seolah-olah jumlah penduduk Surabaya dari tahun 1990 hingga tahun 1999 “berkurang”. Padahal ini tidak mungkin, justru sebaliknya. Manakah data kependudukan yang akurat? Mustahil penduduk Surabaya berkurang, yang pasti, penduduk Surabaya terus bertambah.

Data resmi yang disajikan memang begitu kenyataannya. Tahun 1999 penduduk Surabaya tercatat 2.406.944 jiwa. Tahun 2000 sebanyak 2.443.558 jiwa, tahun 2001 bertambah jadi 2.473.461 jiwa, tahun 2002 naik lagi jadi 2.504.128 jiwa dan akhir tahun 2003 menjadi 2.656.420 jiwa. Data pada akhir April 2004, warga kota Surabaya berjumlah 2.659.566 jiwa.

Data inipun dikutip oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil berikutnya, yakni saat dikepalai oleh Drs.H.Hartojo. Sama dengan sebelumnya, sensus penduduk tahun 2000, penduduk Surabaya berjumlah 2.443.558 orang.

Secara rinci, dinas kependudukan dalam buku Informasi Kependudukan Kota Surabaya tahun 2004 berturut-turut disebutkan, penduduk Surabaya tahun 2001 sebanyak: 2.473.461 orang, tahun 2002 bertambah jadi: 2.504.128, tahun 2003 tambah lagi menjadi: 2.656.420 orang dan tahun 2004 menjadi: 2.859.655 orang.

Tahun 2006 hingga Agustus, tercatat jumlah penduduk Surabaya: 2.987.456 orang. Pada awal tahun 2007 diperkirakan sudah mencapai 3,3 juta orang.

Dari BPS (Biro Pusat Statistik) lain lagi. Tahun 1992 penduduk Surabaya berjumlah 2.259.283 jiwa, kemudian tahun berikutnya ditulis sebagai berikut: 1993 (2.286359 jiwa), 1994 (2.306.474 jiwa), 1995 (2.339.335 jiwa), 1996 (2.347.520 jiwa), 1997 (2.356.487 jiwa), 1998 (2.373.282 jiwa), 1999 (2.407.146 jiwa), 2000 (2.444.956 jiwa), 2001 (2.599.512 jiwa).

Data tentang jumlah penduduk Kota Surabaya, dalam “Resume” RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Kota Surabaya yang diterbitkan Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya, berbeda lagi.

Penduduk Surabaya tahun 2001 hingga 2005, kemudian proyeksi penduduk Surabaya tahun 2006 hingga 2013 adalah sebagai berikut:

Tahun 2001 (2.452.222 jiwa), 2002 (2.471.557 jiwa), 2003 (2.485.761 jiwa), 2004 (2.509.833 jiwa), 2005 (2.528.777 jiwa). Proyeksi tahun 2006 (2.547.586 jiwa), 2007 (2.566.257 jiwa), 2008 (2.584.894 jiwa), 2009 (2.603.258 jiwa), 2010 (2.621.558 jiwa), 2011 (2.639.724 jiwa), 2012 (2.657.766 jiwa) dan tahun 2013 (2.675.671 jiwa).

Umumnya para pejabat dan politisi di Surabaya dewasa ini menyebut angka rata-rata penduduk Surabaya adalah sekitar 3 juta jiwa lebih.

Di samping penduduk tetap, ada penduduk tetap tetapi tidak terdaftar. Di kota Surabaya juga bermukim penduduk musiman. Akhir 2008 jumlahnya mencapai 20 ribu jiwa. Kecuali itu, sebagai sebuah kota dengan kegiatan ekonomi dan pemerintahan di berbagai sektor, ada penduduk siang dan penduduk malam. Penduduk pada siang hari di bisa mencapai 5 sampai 6 juta jiwa. Pada malam hari, penduduk Surabaya sebagian besar pulang dan tidur di Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Lamongan, Bangkalan, Pasuruan, bahkan di Malang***

*) Yousri Nur Raja Agam MH, Ketua Yayasan Peduli Surabaya

Bibit Unggul di Surabaya

Siswa “Bibit Unggul”

Warisan Cak Narto

Kurang Dipedulikan

Oleh: Yousri Nur Raja Agam MH *)

Yousri Nur RA MH

Yousri Nur RA MH

DUNIA pendidikan selalu menjadi fenomena kehidupan sejak seorang lahir hingga mengakhiri hidupnya. Sebab menurut tuntunan dan ajaran agama, ilmu pengetahuan dan pendidikan itu wajib dituntut oleh setiap insan tanpa pandang batas usia.

Dalam ajaran Islam, misalnya untuk mencari dan menuntut ilmu itu memang tanpa batas waktu dan wilayah. Dua hadis Nabi Muhammad yang selalu dijadikan pijakan tentang pendidikan, sering diucapkan oleh para da’i dan para pendidik. Hadis itu berbunyi: “Uthlubul ‘ilmi minal mahdi ilal lahdi”, artinya adalah: “Tuntutlah ilmu sejak masih dalam buaian hingga berada di liang lahad”. Hadi yang satu lagi berbunyi: “Thalabul ‘ilmi walau bis Shin” yang bermakna “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina”.

Tiap tahun masalah pendidikan juga menjadi masalah dan problema kehidupan keluarga. Para orangtua disibukkan untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah pilihan dan favorit. Berbagai cara ditempuh, kendati sudah ada pedoman dan batasan-batasan sesuai dengan kemampuan anak.

Bagi Kota Surabaya, dunia pendidikan sudah menjadi bagian yang rutin. Bahkan sebagai salah satu prioritas kegiatan kota. Ini tidak lepas dengan julukan Surabaya sebagai kota “Budi Pamarinda”, singkatan dari kota Budaya, Pendidikan, Pariwisata, Maritim, Industri dan Perdagangan.

Memang, sejak zaman penjajahan Belanda hingga sekarang berbagai aktivitas pendidiikan ada di Surabaya. bahkan Surabaya juga dijadikan “kiblat” pendidikan tertentu bagi wilayah Indonesia Timur. Misalnya, dua perguruan tinggi negeri di kota Pahlawan ini – Universitas Airlangga (Unair) dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) – dijadikan rujukan untuk pendidikan tinggi dan khusus. Kecuali itu, sebagai pusat pangkalan armada laut TNI-Angkatan Laut, kota Surabaya merupakan kancah candradimuka bagi taruna-taruna Angkatan Laut. Dari kota Surabaya inilah perwira muda yang diwisuda dari AAL (Akademi Angkatan Laut) dipersiapkan.

Di balik pancaran kemegahan “menara gading” itu, di Surabaya tidak sedikit anak terlantar dan masyarakat miskin. Mereka tidak sempat membayangkan dunia pendidikan dan sekolah, apalagi mimpi untuk memperoleh gelar kesarjanaan sebagaimana warga kota yang hidup layak.

Tetapi, bukan tidak mungkin semua yang mustahil itu dapat diwujudkan. Asalkan ada kepedulian dari lingkungan dan masyarakat yang peduli. Bahkan, kalau yang peduli itu adalah orang yang berkuasa, hal yang mustahil dan tidak mungkin bisa disulap menjadi kenyataan. Nah, itulah yang dilakukan mantan walikota Surabaya, almarhum DR (HC) H.Sunarto Sumoprawiro yang akrab dengan sapaan Cak Narto.

Cak Narto, membuktikan kepeduliannya terhadap pendidikan. Tetapi dia tidak sekedar mendukung sekolah dan kampus-kampus yang sudah ada. Cak Narto membuat sebuah pola baru dunia pendidikan. Mendirikan asrama “Bibit Unggul”. Nah, apa pula ini dan bagaimana moda yang disebut “bibit unggul” itu?

Istilah “bibit unggul” yang dipopularkan Cak Narto, adalah sebuah istilah yang ditujukan untuk anak-anak pintar yang bakal menjadi pemimpin masa depan. Lebih daripada itu, anak-anak pintar itu berasal dari keluarga miskin dan tidak mampu di bidang ekonomi.

Mereka yang pintar tetapi miskin inilah yang mendapat perhatian khususnya. Caranya, mendata anak-anak pintar tetapi tidak mampu, kemudian dijadikan anak asuh. Mereka harus sekolah hingga jenjang pendidikan tinggi dan biayanya ditanggung bersama melalui sebuah badan atau yayasan.

Itulah yang dilakukan Cak Narto saat ia menduduki jabatan walikota. Menurut almarhum, ia melakukan itu tidak sertamerta atau ujug-ujug. Ada ceritanya, kata Arek Suroboyo kelahiran kampung Wonorejo, Surabaya itu.

Saat dilantik menjadi walikota Surabaya untuk pertamakalinya, 20 Juni 1994, suasananya memang lain daripada yang lain. Upacara pelantikan walikota oleh gubernur Jawa Timur (waktu itu) HM Basofi Soedirman, meriah dan penuh nostaligia. Tamu yang hadir tidak seperti biasanya penatikan pejabat. Sebab, selain tamu resmi dari kalangan pejabat negara sipil dan militer, serta pengusaha dan tokoh masyarakat, juga hadir lapisan masyarakat kebanyakan.

Ala Kampung

Kedatangan Cak Narto memimpin kota Surabaya waktu itu bernuansa lain. Tidak hanya para undangan resmi yang memberikan ucapan selamat kepada Cak Narto, tetapi juga teman-teman masa kecil, konco masa remaja dan kawan waktu sekolah tempo dulu. Belum lagi teman sesama jago kampung yang suka berkelahi. Maklum, Cak Narto muda memang suka bergaul ala kampung kendati hidup di tengah kota.

Saat bersalaman dan acara ramahtamah itulah Cak Narto menanyakan tentang teman-teman masa lalu. Si anu sekarang di mana, si anu sekarang jadi apa dan sebagainya. Di sela-sela nostalgianya itu, Cak Narto bercerita tentang temannya yang selalu diingatnya, bernama Munir.

Munir, adalah teman kecil Cak Narto sewaktu Sekolah Rakyat (SR) – sekarang menjadi Sekolah Dasar (SD) – yang sangat pintar. Ia selalu juara kelas, mulai dari kelas satu hingga kelas enam. “Pokoknya paling pintar, tidak ada yang mampu menyaingi Munir”, ujar Cak Narto sembari menerawang ke langit-langit gedung balaikota di ruang serbaguna yang sekarang disebut “Graha Sawunggaling” itu.

Sayang, Munir tidak dapat melanjutkan sekolah. Orangtua Munir hidup dalam kemiskinan. Ia hanya sebagai bakul (pedagang) sayur. Lebih tragis lagi, kemudian ayah Munir sakit-sakitan dan kesulitan untuk biaya berobat. Tidak lama, ayah Munir meninggal dunia. Munir yang miskin itu berusaha mandiri dengan menjual koran untuk mempertahankan hidup bersama ibunya.

Sejak kejadian itulah, ujar Cak Narto, ia selalu ingat dengan Munir. Dan Cak Narto sangat yakin di Surabaya ini masih banyak, mungkin ribuan jumlahnya “Munir-Munir” yang lain. Mereka yang pintar, tetapi hidup di keluarga miskin. Cak Narto mengatakan, ia punya obsesi, apabila suatu saat menjadi orang yang mampu dan mempunyai kekuasaan akan memperhatikan kehidupan anak pintar yang berada di lingkungan miskin. Ternyata obsesi Cak Narto itu tidak sekedar khayalan. Ia membuktikannya, sehingga hanya dalam waktu singkat, setelah resmi menjadi walikota Surabaya, ia mendirikan Yayasan Tunas Pratama Bhakti (TPB).

Yayasan ini didirikan di depan dan oleh Notaris G.Muchtar Rudy,SH dengan akta No.36 tanggal 10 November 1994. Hari itu, di samping sebagai puncak peringatan Hari Pahlawan, sekaligus juga sebagai hari ulang tahun ke 50 Cak Narto – H.Sunarto Sumoprawiro lahir di Surabaya, 10 November 1944.

Dalam waktu singkat yayasan bekerja menghimpun dana dan melaksanakan berbagai program kerja. Dana awal diminta Cak Narto dari bantuan para camat, kelapa bagian, kepala dinas dan pejabat lain di lingkungan Pemkot Surabaya. Dana awal yang dihimpun itu, digunakan untuk membiayai pendidikan sebanyak 40 orang anak pintar yang diseleksi dari berbagai sekolah di Surabaya. Anak-anak pintar dengan IQ yang bagus itu semuanya berasal dari keluarga tidak mampu.

Waktu itu, ke 40 anak ini sekolahnya dibiayai sepenuhnya oleh yayasan TPB, tetapi masih tetap tinggal bersama orangtuanya di rumah masing-masing.

Setelah setahun kegiatan pembinaan anak-anak pintar yang miskin ini berlangsung, ada seorang pengusaha yang tergerak hatinya untuk membangun asrama bagi anak-anak asuh Cak Narto yang berlindung di bawah yayasan TPB itu. Cak Narto mengatakan: “pengusaha itu adalah Bapak HM Jusuf Kalla. Beliaulah yang menjadi donatur awal pembangunan asrama Anak Asuk Bibit Unggul itu.”

Waktu itu, Jusuf Kalla benar-benar orang swasta yang sukses di Jakarta dan Makassar. Dia itu ujar Cak Narto, sering memberikan bantuan untuk berbagai kegiatan sosial di Jakarta. Cak Narto sangat tahu itu, sebab saat di Jakarta Cak Narto banyak bergaul dan bergelut di bidang sosial. Sehingga perkenalan Cak Narto dengan Jusuf Kalla sudah tak asing lagi, bahkan cukup akrab. Setelah Cak Narto tidak berkuasa lagi dan meninggal dunia, ternyata HM Jusuf Kalla yang menjadi idola Cak Narto itu, sekarang menjadi Wakil Presiden, mendamping Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Asrama “Anak Asuh Bibit Unggul” kemudian dibangun di atas tanah seluas 10 ribu meter-persegi yang terletak di Jalan Villa Kalijudan Indah XV Kaveling 2-4 Surabaya. Bangunan asrama dan kantor yayasan didirikan itu menfghabiskan biaya hampir Rp 2 miliar. Upacara persemiannya cukup istimewa, karena yang hadir adalah para senior Cak Narto saat menjadi TNI aktif di kesatuannya Kopassus (Kamando pasukan Khusus). Tidak hanya itu, teman-teman lama arek Suroboyo tempo dulu sampai yang muda-muda sekarang juga hadir.

Prasasti peresmian ditandatangani oleh Letjen TNI H.Syarwan Hamid (waktu itu jabatannya sebagai Kepala Staf Sosial Politik ABRI) yang disaksikan oleh Letjen TNI Prabowo Subianto (waktu itu sebagai Komandan Jenderal Kopassus).

Dalam waktu singkat yayasan bergerak mendata anak pintar dari keluarga miskin melalui sekolah-sekolah yang ada di Surabaya. Untuk tahap pertama dalam tahun ajaran 1994-1995 calon siswa anak asuh yang berhasil direkrut berjumlah 60 orang dari tingkat SD, SMP dan SMA. Sebanyak 19 orang murid SD, 21 orang SMP dan 20 orang SMA. Tahun berikutnya siswa yang ditampung di asrama terus meningkat.

Setelah sepuluh tahun asrama “Anak Asuh Bibit Unggul” berdiri, ternyata seluruh anak asuh yang dibiayai mengikuti perguruantinggi sudah banyak yang menjadi sarjana dan bekerja. Mereka kini juga menjadi “orangtua dan kakak angkat” dari mereka yang masih berada di asrama. Tetapi, suasana kehidupan, perhatian pejabat Pemkot Surabaya setelah ditinggal Cak Narto yang “lengser dari walikota” dan meninggal dunia tahun 2002, sudah berbeda. Nasib anak-anak “Bibit Unggul” ini tidak seperti dulu lagi.

Terputus

Keadaan anak asuh “Bibit unggul” yang dibina Yayasan Tunas Pratama Bhakti (TPB), memang masih ada. Tetapi kecemerlangannya mulai meredup. Perhatian terhadap anak-anak yang tinggal di asrama di lingkungan perumahan mewah Jalan Villa Kalijudan itu juga berkurang. Hubungan historis dengan Pemkot Surabaya bagaikan terputus. Sebab, ada anggapan bahwa Yayasan TPB itu identik dengan Cak Narto –H.Sunarto Sumoprawiro (alm).

Kendati demikian sebagian pengurus Yayasan TPB tetap setia melaksanakan cita-cita luhur mengangkat martabat anak-anak asuh yang berasal dari keluarga miskin tetapi pintar itu. Bahkan, alumnus “Bibit Unggul” itu kini sudah banyak yang menjadi sarjana. Ibaratnya, bibit unggul yang pernah ditanam sekitar sepuluh tahun lalu, kini sudah banyak buahnya dan berhasil “dipanen”.

Betapa tidak, sebab di antara mantan penghuni asrama “bibit unggul” itu ada yang sudah bekerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) dan di perusahaan swasta. Profesi mereka juga beragam. Ada yang menjadi dokter, insinyur, psikolog, ekonom, apoteker, dosen, kontraktor, penasehat hukum dan berbagai jenis pekarjaan sesuai dengan disiplin ilmu yang berhasil diperolehnya.

Dari “bibit unggul” angkatan pertama yang mulai meraih gelar kesarjaaan tahun 1998 hingga 2000 saja ada 21 orang. Menyusul tahun-tahun berikutnya, sehingga sekarang alumnus asrama “bibit unggul” yang sudah berhasil menyelesaikan kuliahnya di perguruan tinggi sudah lebih 100 orang. Mereka, umumnya lulusan perguruan tinggi negeri: ITS (Institut Teknologi Sepuluh November), Unair (Universitas Airlangga), Unesa (Universitas Negeri Surabaya) dan juga ada dari perguruantinggi swasta.

Nah, ikatan historis dan kekeluargaan yang mereka rasakan selama di asrama “anak miskin” tetapi pintar itu memberikan dorongan para alumnus untuk ikut berperanserta dalam melestarikan keberadaan asrama “bibit unggul” tersebut. Namun demikian, mereka tetap berharap, Pemkot Surabaya tidak melupakan mereka. Bahkan, prioritas yang selama ini diberikan jangan menurun. Justru mereka berharap agar pencarian anak-anak pintar dari keluarga miskin di tengah kota Surabaya itu tetap menjadi perhatian. Apalagi awan gelap dunia pendidikan masih tetap saja menggelantung di langit Surabaya. Tiap awal tahun ajaran peristiwa yang terjadi selalu mencengkam dan membawa was-was para siswa dan orangtua murid.

Gedung dengan berbagai fasilitas yang berdiri di lahan seluas 9.089 meter persegi itu masih terlihat kokoh. Seharusnya, perhatian terhadap keberadaan gedung yang dibangun dengan biaya Rp 2 miliar lebih tahun 1996 itu patut ditingkatkan. Tidak dapat dipungkiri, bahwa gedung sedang segala fasilitas yang terdapat di dalamnya merupakan aset Pemkot Surabaya yang dikelola Yayasan TPB.

Sistem Pondok

Pola pembinaan dan proses belajar mengajar yang dilaksanakan Yayasan TPB selama ini disesuaikan dengan keadaan siswa. Ada siswa yang tetap bersekolah pada sekolah masing-masing dan pulang ke rumah orangtuanya. Di asrama “bibit unggul” mereka singgah untuk mendapat bimbingan selsai jam pelajaran di sekolah. Anak-anak ini digabungkan belajar bersama dengan anak-anak yang tinggal di asrama. Pola pendidikan dilaksanakan dengan sistem pendidikan asrama atau pondok.

Sistem dan metoda pendidikan asrama atau pondok ini juga banyak mengadopsi pola yang dilaksanakan di STN (Sekolah Taruna Nusantara) di Magelang. Kecuali itu dalam pelaksanaannya, sistem dan medoda pendidikan selalu diadakan penyempurnaan sesuai dengan kemajuan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Ini ditujukan untuk mengarahkan anak didik mengikuti perkembangan di era globalisasi. Untuk itulah, pembentukan karakter anak diarahkan pada peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkualitas.

Pelajaran ekstra kurikuler yang dilaksanakan dengan sistem pondok di asrama, termasuk pendidikan agama, pembudayaan disiplin, serta kesetiaan terhadap bangsa dan negara. Secara khusus anak-anak juga dibekali dengan pendidikan komputer, praktik laboratorium, kursus dan praktik bahasa – sementara ini adalah bahasa Inggris dan bahasa Jawa. Selain itu mereka juga dibekali pengetahuan bermuatan lokal, yakni pengetahuan khsus tentang kota Surabaya.

Ada hari-hari tertentu yang berlaku wajib di asrama, misalnya berbahasa Inggris tiap hari Kamis. Artinya, komunikasi antarsiswa penghiuni asrama pada hari Kamis adalah bahasa Inggris. Menurut Katidjan, salah seorang pengasuh di asrama “bibit unggul” Kalijudan ini, tiap sabtu pagi bagi mahasiswa diselenggarakan diskusi dengan menggunakan bahasa Inggris. Dan, ulas pensiunan staf Dinas Pendidikan Surabaya ini, bagi anak-anak yang umunya besar di kota Surabaya ini, “bahasa Jawa” mereka juga “diperbaiki”. Sebab kita tahu, bahasa sehari-hari anak yang besar di Surabaya adalah bahasa Jawa yang “kasar”.

Bibit Unggul

Pengertian atau istilah “bibit unggul” itu benar-benar menjadi bagian tidak terpisahkan dari lingkungan anak-anak pintar yang berasal dari keluarga miskin ini. Kepada mereka dan masyarakat, dijabarkan secara jelas arti “bibit unggul”. Sebab, banyak masyarakat yang ingin tahu apa sebenarnya di balik makna “bibit unggul” terhadap anak asuh berprestasi ini. Nah, mengapa tidak sebut “anak yang berprestasi” misalnya.

Ada makna yang sangat dalam tentang “bibit unggul” ini. Titik tolaknya adalah pemikiran. Sebab, prestasi adalah bagian dari keunggulan. Jadi pengertian bibit unggul cukup luas. Khusus untuk anak asuh “bibit unggul” ini ada unsur terseleksi dari anak-anak pintar yang berasal dari keluarga tidak mampu di bidang ekonomi.

Dalam bahasa Jawa, bibit: adalah satu kata yang berarti biji atau benih (bahasa Jawa: wiji atau winih) yang dipersiapkan untuk ditanam dan dikembangbiakkan. Ini berlaku untuk keturunan pelanjut kehidupan bagi tanaman atau hewan.

Istilah inilah yang “dipinjam” untuk anak manusia yang bakal tumbuh kembang kelak di kemudian hari. Sama dengan keinginan petani atau peternak terhadap biji yang bermutu, maka bibit itu harus unggul atau terbaik. Sehingga digunakanlah istilah “bibit unggul” sebagai perumpamaan bagi anak-anak asuh ini.

Pakar Bahasa dari Unesa, Prof.Dr.Suripan Sudihutomo, menyebutkan perumpamaan “bibit unggul” yang digagas Cak Narto itu mengambil dari segi sifatnya yang diberikan kepada tingkah manusia. Perumpamaan yang juga sering diberi gambaran terhadap tingkah manusia dari tumbuhan maupun hewan misalnya seperti di bawah ini:

Untune miji timun (giginya bagaikan biji mentimun), artinya: giginya putih dan rata seperti biji mentimun).

Athi-athine ngudup turi (cambangnya seperti kuncup bunga pohon turi).

Lakune kaya macan luwe (jalannya seperti macan kelaparan).

Di samping perumpamaan dengan tumbuhan dan hewan, juga ada perumpamaan dengan benda, contohnya:

Ulate bening leri (raut mukanya tidak lebih daripada air cucian beras).

Surake mbata rubuh (soraknya seperti bunyi tumpukan bata rubuh).

Jadi, bila bibit dikaitkan dengan keunggulan, maka dapat dismpulkan bahwa “bibit unggul”artinya mempunyai kelebihan dibandingkan dengan yang lain. Walaupun “bibit unggul” itu berada di lingkungan yang tidak subur, tetapi kalau diperhatikan dan ditanam di tempat yang layak, maka bibit itu pasti akan menghasilkan buah yang berkualitas.

Berdasarkan falsafah yang diambil untuk memberi nama bagi anak asuh yang menempati asrama “bibit unggul” di Jalanm Villa Kalijudan Indah, Surabaya itu, maka layaklah mereka menjadi perhatian. Tidak hanya oleh Pemkot Surabaya, tetapi juga oleh para dermawan, pendidik dan kita yang peduli. Serta yang sangat diharapkan tentunya perhatian wakil-wakil rakyat yang duduk di DPRD (Dewan Perwakilan rakyat Daerah) Kota Surabaya, sebab mereka inilah yang paling menentukan masa depan anak-anak asuh itu melalui persetujuan anggaran secara rutin.

Tetapi, asrama bibit unggul beserta anak-anak didik yang menjadi warisan “obsesi” Cak Narto itu sekarang jauh dari yang diharapkan. Sekarang, anak-anak pintar yang miskin di Surabaya, semakin banyak yang putus sekolah. Walikota Surabaya, Drs.H.Bambang Dwi Hartono,MPd yang berlatarbelakng guru dan dosen itu, diharapkan memberikan perhatian terhadap warisan Cak Narto itu. Mungkinkah? ***

*) Yousri Nur Raja Agam MH – Ketua Yayasan Peduli Surabaya.

Sinoman Arek Surabaya

SINOMAN

Kegiatan Amal

Arek Suroboyo

Oleh: Yousri Nur Raja Agam M.H. *)

Yousri Nur RA MH

Yousri Nur RA MH

DALAM kamus Jawa atau “Bausastro Jawi”, karangan WJS Poerwadarminta, kata “Sinom”, artinya: pucuk daun, daun asam muda, bentuk rumah limas yang tinggi dan lancip, nama tambang mocopat, dan nama bentuk keris. Tetapi, jika kata Sinom mendapat tambahan akhiran “an”, menjadi “Sinoman”, maka maknanya menjadi: anak muda yang menjadi peladen di desa saat acara hajatan, peladen pesta atau perhelatan, tolong menolong saat mendirikan rumah, kerukunan atau gotongroyong.

Tetapi di balik semua makna itu, terkandung sesuatu yang amat luhur dan terpuji. Sebab, kegiatan sinoman itu adalah bekerjasama, bergotongroyong yang dilakukan secara sukarela untuk kepentingan orang lain.

Rasanya, di alam serba maju dan kehidupan manusia metropolis, makna gotongroyong dan sinoman itu sudah diabaikan orang. Kendati demikian, ternyata hal yang mustahil itu tetap ada dan tidak pernah hilang. Memang, kalau di desa dan di kampung-kampung kehidupan masyarakatnya sangat guyub dan penuh kekeluargaan. Berbeda dengan di kota, yang masyarakatnya individualis, sudah jauh dari kebiasaan itu.

Di kota kegiatan sinoman sudah lama dipandang sebelah mata. Terutama oleh manusia materialistis. Orang kaya di kota, tidak mau repot. Semua masalah bisa diatur dengan uang dan membayar orang untuk keperluan apa saja. Termasuk urusan pengurusan kematian. Semua bisa diserahkan kepada perusahaan yang “berbisnis” di bidang pengurusan kematian ini.

Kematian adalah peristiwa alam yang pasti ada dan terus terjadi. Sama dengan kelahiran dan perkawinan. Sehingga manusia sebagai bagian dari makhluk hidup di dunia ini pasti akan mengalaminya.Dalam ajaran agama apapun, termasuk pula manusia yang atheis, mengakui adanya kematian.

Firman Allah di dalam Al Quran, menyebutkan bahwa setiap insan akan menemui kematian atau maut. Kalau sudah waktunya, tidak ada yang mampu menolak ajal. Hal yang sama juga diyakini oleh semua orang di dunia ini sejak zaman dulu hingga masa yang akan datang.

Walaupun kematian merupakan peristiwa yang lumrah, tetapi tidak semua orang siap menerima kenyataan itu. Kematian bahkan, dianggap sebagai peristiwa luar biasa. Di saat itu ada orang yang merasakan merasakan kehilangan segala-galanya. Terutama jika yang meninggal dunia itu adalah kepala keluarga yang menjadi tonggak tempat bergantungnya semua kebutuhan rumahtangga.

Bagaimanapun juga, ternyata tidak semua persoalan dapat dilaksanakan dengan “bisnis”, termasuk kegiatan kematian. Rasa kebersamaan masih tetap ada. Tidak pernah terjadi sebuah peristiwa kematian dibiarkan begitu saja. Termasuk di kota-kota besar, seperti Surabaya, misalnya.

Justru, di kota-kota besar itulah muncul kegiatan sosial kemasyarakatan. Berbeda dengan di desa yang masyarakatnya sudah menyatu dalam sebuah lingkungan yang homogen. Dalam pergaulan heterogen, masyarakatnya akan mencari persamaan. Mencari hubungan antarmanusia. Misalnya, berdiri perkumpulan masyarakat di bidang sosial. Mereka berhimpun dengan dasar se-agama, se-asal daerah bagi para perantau, sama-sama satu almamater, se-organisasi, satu kelompok pengajian, sering bertemu dan berbagai alasan lain.

Di Kota Surabaya, kegiatan sosial yang disebut “Sinoman”, ternyata sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Prof.Dr.H.Roeslan Abdulgani, tokoh tua yang berasal dari Surabaya, mengisahkan kepada penulis tentang “Sinoman”. Bahan-bahan ini diperoleh penulis saat mempersiapkan tulisan untuk buku “Cak Narto Peduli Wong Cilik” tahun 1997.

Menurut Cak Roeslan – begitu Roeslan Abdulgani biasa disapa – dalam sejarah kelahiran dan perkembangan Sinoman, adalah bentuk kegotongroyongan sosial. Tujuannya untuk membina dan meningkatkan kerukunan. Semboyannya adalah: “Rukun Anggawe Santoso” – rukun untuk menumbuhkan kesentosaan. Kita bisa kuat kalau kita rukun. Sebaliknya, bangsa yang jiwanya kuat dapat membangun kerukunan.

Dalam bahasa Jawa atau Sangskerta, kuat karena rukun dan rukun karena kuat, disebut: “Dharma Eva, Hato Hanti”. Kuat karena bersatu dan bersatu karena kuat. Jadi, motto “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, adalah sebuah kenyataan.

Nah, mengapa masyarakat Kota Surabaya memerlukan kekuatan dan kesentosaan? Tidak lain karena dalam kehidupan sehari-hari, kita semua menghadapi berbagai macam persoalan yang hanya dapat diselesaikan secara bersama-sama dengan bergotongroyong. Lebih-lebih sesama tetangga dekat. Hal ini sudah dialami warga Surabaya sejak zaman dulu, ketika dijajah Belanda dan Jepang, kemudian saat mempertahankan kemerdekaan yang dikenal dengan peristiwa pertempuran 10 November 1945, hingga sekarang ini.

Melalui Sinoman, warga Kota Surabaya dapat mengatasi berbagai masalah. Sinoman merupakan bentuk tertinggi dari jiwa kegotongroyongan. Dulu kehidupan kota Surabaya, masih sama dengan alam desa. Perubahan zaman membuat kehidupan kota terpengaruh.

Kegiatan Sinoman, awalnya terlihat dari kebersamaan memasang “terop” atau tenda, menyusun kursi dan alat-alat lainnya saat ada hajatan. Peralatan ini, milik bersama warga yang diperoleh dari “urunan”. Termasuk perlengkapan untuk kematian. Biasanya, di samping mushalla atau langgar, diletakkan “penduso” atau keranda jenazah. Juga alat-alat untuk pemandian jenazah, persediaan kain kafan dan wangi-wangian. Ini apabila untuk kematian. Lain lagi dengan pesta perkaiwinan, sunatan dan hajatan selamatan. Peralatan yang disimpan di gudang Sinoman adalah: piring, cangkir, gelas, lampu dan sebagainya.

Masih menurut Cak Roeslan, di tahun 1930-an, sewaktu gerakan toko-toko koperasi muncul di mana-mana, Sinomanpun ikut bergerak dalam kegiatan koperasi konsumsi dan koperasin kredit. Di sini Sinoman menyediakan kebutuhan sehari-hari dan membantu pengusaha kecil dengan kredit dengan bunga rendah.

Sinoman pada zaman Belanda itu, muncul di kampung-kampung. Antar kampung yang berdekatan mendirikan “Raad Sinoman”. Seperti Raad Sinoman kampung Plampitan, Peneleh, Pandean, jagalan, Undaan, Genteng, Bubutan, Maspati, Kawatan, Koblen, Tembok dan sebagainya. Tidak kurang dari 20 Raad Sinoman waktu itu di Kota Surabaya.

Kata “Raad” berasal dari bahasa Belanda, yang artinya: dewan. Waktu itu, masyarakat Belanda di Kota Surabaya mendirikan “Gemeente Raad”, yaitu “Dewan Kotapraja”. Gemeente Raad itu menentukan pajak-pajak yang harus dibayar oleh rakyat di kampung-kampung yang disetorkan ke kantor Gemeente atau Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Nah, agar rakyat Surabaya tidak diperlakukan sewenang-wenang, maka Raad Sinoman dibentuk untuk mengimbangi dan melawan Gemeente Raad.

Di zaman Jepang, Sinoman dipaksa untuk membantu peperangan. Sekalipun dipaksa menjadi “Tonarigumi”, yaitu Rukun Tetangga, namun usaha membela rakyat menghadapi penindasan Jepang terus dikobarkan. Di balik itu ada hikmahnya, karena di zaman Jepan itulah, Sinoman atau “Tonarigumi” dapat mendirikan pos-pos pemadam kebakaran terhadap bom-bom yang jatuh dan menolong korbannya.

Hal yang sama juga dialami saat pertempuran 10 November 1945. Karena yang tampil selalu anak-anak muda yang berjuang dan bekerja dengan sukarela, disebutlah kelompok anak muda itu “poro nom-noman”, lalu menjadi “Si Nom-an” atau kumpulan anak muda yang suka bergotongroyong untuk kepentingan bersama, ujar Cak Roeslan.

Penggeraknya Anak Muda

Sesuai dengan asal-muasal kata “Sinoman” adalah kumpulan anak muda yang suka bergotongroyong, maka di sini kegiatan amal dan sosial harus diutamakan. Artinya, kegiatan sinoman, harus bertujuan untuk membantu sesama dan demi kepentingan bersama. Kecuali itu, kegiatan sinoman harus mampu menghadapi tantangan zaman yang serba komersial dan bernuansa bisnis.

Berdasar catatan sejarah yang ada, sinoman pada awalnya memang sekedar wadah untuk menampung keinginan sekumpulan anak muda. Mereka ini ingin memperoleh pengakuan sebagai insan yang dipercaya dalam bidang sosial. Nah, karena kegiatan gotongroyong merupakan panggilan hati nurani, maka hal ini tidak sulit untuk diwujudkan. Walaupun demikian, perlu ada pendorong yang mampu menjadi pelopor sebagai penggerak.

Jelas di sini, sinoman sebagai kegiatan anak muda, maka motor penggeraknyapun harus para pemuda. Sudah menjadi hukum alam, bahwa kaum muda merupakan tulang punggung penggerak kegiatan dalam masyarakat. Tidak hanya di bidang sosial dan rumahtangga, tetapi lebih jauh lagi, yakni sebagai patriot pembela bangsa dan negara.

Kembali kepada kegiatan sinoman di Surabaya, sebagaimana dituturkan oleh Cak Roeslan – yang lengkapnya adalah: Prof Dr.H.Roeslan Abdulgani – pada tahun 1920-an saja, kegiatan sinoman sudah tertata rapi. Mempunyai pengurus tetap dan banyak inventaris. Barang-barang milik sinoman itu diperoleh dari sumbangan dan bantuan warga secara sukarela, maupun dibeli dengan uang kas.

Surabaya sebagai bandar pelabuhan dan tempat bertemu para pendatang, lama kelamaan menetap di darat. Dan para pendatang itulah, penduduk asli Surabaya. Sehingga tidak perlu heran, yang disebut “Arek Suroboyo”, berasal dari berbagai etnis dan suku bangsa, ujar Cak Roeslan sesepuh Arek Suroboyo ini.

Nah, Surabaya terus berkembang dengan kehidupan warganya yang mulanya membawa budaya daerah masing-masing. Lama kelamaan masing-masing budaya dari berbagai daerah itu menyatu di Surabaya. Dari penggabungan berbagai adat istiadat itulah, kemudian lahir tradisi baru di Surabaya yang kemudian menjadi “budaya Surabaya”.

Karena budaya Surabaya itu mengadopsi macam-macam tradisi dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan juga dari mancanegara, maka nuansanya sangat dinamis. Di samping warna dominannya adalah budaya Jawa dan Madura, namun pengaruh adat Banjar dan Dayak dari Kalimantan, Bugis dari Sulawesi, serta pengaruh adat Sunda dan Melayu (Minang, Aceh, Riau dan Palembang dari Sumetara) juga terlihat dalam kegiatan seari-hari.

Tradisi masyarakat Surabaya, yang Islami dengan pengaruh kebiasaan umat Islam dan Arab, juga terasa ada dalam beberapa hal, pengaruh budaya Cina atau Tiongkok. Dan harus pula diingat, selama 3,5 abad kita dijajah bangsa Belanda dan Eropa yang membawa ajaran Kristen dan Katholik. Gaya dan pola hidup warganya sebagian seperti mereka itu. Selain itu semua, budaya Hindu dan Budha sebagai agama yang dianut nenek moyang kita dahulu kala juga masih tersisa dalam berbagai aktivitas warga Surabaya di alam modern ini.

Clifford Gertz, menyebut warga Surabaya pribumi bukanlah penganut ajaran agama yang fanatik. Warga Surabaya ini adalah: “masyarakat abangan”. Maksudnya di sini, kendati beragama Islam, mereka tidak sepenuhnya menjalankan syariat agama secara benar. Begitu pula mereka yang bukan penganut Islam. Masyarakat Surabaya di sini memang menjadi masyarakat marjinal. Mereka menentang ras dan etnis yang tidak seiman, tetapi tidak mampu menyatukan diri dengan mereka yang seiman.

Kondisi kejiwaan seperti inilah, ungkap Tom Pires dalam Suma Oriental, yang menjadikan masyarakat Surabaya menjadi masyarakat “kasar”. Dan paling tidak enak, adalah istilah yang diberikan oleh William H.Frederick, bahwa masyarakat Surabaya sebagai bangsa yang keras kepala.

Ada tiga contoh konkrit dalam sejarah yang merefleksikan kekerasan masyarakat Surabaya. Masing-masing tercermin dalam diri pahlawan rakyat Trunojoyo (Madura), Untung Suropati (Pasuruan) dan Sawunggaling (Surabaya). Kendati ke tiganya mewakili tiga daerah, namun ketiganya merupakan mata rantai yang saling terkait di Surabaya ini.

Memang, kegiatan pahlawan rakyat itu dicuatkan namanya dari daerah, tetapi pemberontakan yang menjadi latar belakangnya berawal dari pergolakan hidup di kota ini. Surabaya diibaratkan sebagai “pemilik tali penggerak gasing”. Sedangkan daerah yang menjadi tempat terjadinya pemberontakan berfungsi sebagai tempat berputarnya anak gasing.

Sejak ajaran Islam menjadi bagian kehidupan masyarakat di pantai utara Jawa, sebagai agama yang disebarkan para sunan “Wali Songo”, tradisi Islam mulai berpengaruh dalam kehidupan sosial budaya. Di sinilah, terasa aktivitas anak muda sebagai “peladen” di tengah khalayak. Budaya “Sinoman” terus berkembang dalam bentuk kombinasi berbagai adat dan ajaran yang manusiawi.

Elastisitas manusia Jawa, yang mempunyai kecenderungan sinkretis, memberi kemungkinan menerima pengaruh itu. Sinoman di Surabaya mempunyai akselerasi untuk berkembang cepat. Sebab, sinoman merupakan ruh yang mempersatukan kesamaan asal, rasa senasib dan kesamaan iman antarpendatang atau urbanis. Kehidupan keras yang dilingkupi tradisi hasil asimilasi nilai Islami dengan pranata kedaerahan, memberikan kemungkinan sinoman berkembang subur.

Sinoman Lama

Melalui sinoman, warga kota bisa menyatukan persepsi dan mengekspresikan diri secara bebas. Sebab sinoman merupakan wadah untuk berhimpun, melalar kenangan dan sekaligus sebagai sarana untuk melakukan perlawanan bila dibutuhkan.

Di balik kemajuan dan perkembangan sinoman di masa lalu, ternyata “menyimpan bara”. Penyatuan antarwarga “kasar dan abangan” itu, telah menjauhkan komunikasinya dengan warga lain yang berasal dari etnis Cina, Arab dan India. Bagi masyarakat keturunan Arab, mereka tidak begitu peduli – karena ada semacam pengkultusan – namun tidak demikian halnya dengan warga keturunan Cina, India dan Eropa yang berkuasa waktu itu.

Di zaman penjajahan Belanda, sinoman sempat menjadi “musuh” warga keturunan Cina, karena mereka senang berlindung di balik penguasa. Waktu itu warga pribumi mulai dirangsang dan bangkit untuk merdeka. Kebencian terhadap Belanda, juga menimbulkan antipati terhadap etnis Cina. Warga keturunan ini diasumsikan sebagai warga a-sosial, sosialisasi kerakyatannya lemah dan cenderung tidak mau tahu persoalan yang berkembang di luar diri dan etnisnya. Tidaklah mengherankan, kalau William H.Frederick, melontarkan kalimat “Cina singkek” untuk warga keturunan yang masa bodoh terhadap lingkungan sekitar itu. Konotasinya memang jelek, sehingga dalam hal tertentu sering dijadikan bahan ejekan.

Sejarah memang tidak dapat dipungkiri. Dari zaman ke zaman, situasi dan kondisi mengalami perubahan. Sinoman lama, di masa penjajahan Belanda dan Jepang, memang tidak sama dengan sinoman masa perjuangan kemerdekaan. Lalu, setelah merdeka dan masa kini, juga lain. Bahkan, pola baru sinoman di era kehidupan metropolis tampil beda, tetapi ruh dan cita-citanya tetap sama.

Terancam Kegiatan Bisnis

Kegiatan Sinoman terus berkembang dan juga berubah. Pola tradisional yang hidup di kampung-kampung dalam Kota Surabaya, mulai dipengaruhi gaya hidup masyarakat kota Metropolitan. Kegiatan kemasyarakatan yang biasanya menjadi bagian dari kegiatan sinoman yang sepenuhnya bersifat sosial, ada yang sudah beralih menjadi “ajang” bisnis atau sekurang-kurang bernuansakan pamrih.

Salah satu contoh yang sangat mencolok adalah kegiatan pemakaman. Kalau dulu, setiap orang terpanggil dan berebut untuk menggotong keranda jenazah atau “penduso”, kini banyak yang berpangku-tangan, menyerahkan kegiatan itu kepada perusahaan yang mengurus penguburan. Hal yang sama juga terlihat saat jenazah akan dikuburkan ke liang lahat. Anak-anak dan keluarga terdekat biasanya langsung terjun menunggu jasad almarhum atau almarhumah di dalam lubang kuburan, kini adakalanya dilakukan oleh “orang lain”.

Yang lebih tragis lagi, untuk memandikan dan mendoakan jenazah almarhum atau almarhumah juga ada yang “diserahkan” kepada orang lain. Ini, karena modin tidak ada di kawasan permukiman itu.

Kalau “orang lain” itu adalah tetangga dan kerabat keluarga yang sedang berduka, masih tidak masalah, karena sifatnya masih sosial dan sukarela. Tetapi, kalau yang manggali, menguburkan sampai menimbun kembali tanah ke lubang kuburan semuanya “orang lain” yang dibayar dan berasal dari perusahaan jasa penguburan ata pemakamam, maka akan lenyaplah ajaran agama Islam dan tradisi nenek moyang kita.

Seandainya hanya membawa jenazah karena tempat pemakaman jauh dari rumah duka dengan mobil jenazah harus dibayar, rasanya masih wajar. Begitu pula menggali dan menimbun kembali tanah ke lubang kubur dilakukan oleh para penggali khusus yang sudah ada di lokasi pemakaman, semua itu masih dapat dimaklumi. Tetapi, kalau sampai hal-hal yang khusus sesuai dengan ajaran agama dan tradisi semua “diborongkan” kepada perusahaan pengelola jenazah dan pemakaman, tentu sangat menyedihkan. Sebab tradisi seperti itu, hanya lumrah kita saksikan pada masyarakat non Muslim, seperti warga Tionghoa atau Cina, misalnya.

Kegiatan bisnis pengurusan jenazah dan pemakaman di kalangan umat Islam dan “Arek Suroboyo”, kalau tidak segera dibendung, bisa saja terjadi seperti yang berlaku di masyarakat non Muslim itu. Suatu saat akan kita saksikan pola pengurusan jenazah seperti dalam kehidupan masyarakat Tionghoa. Ada tempat penghimpunan dan upacara seperti yang dikelola Yayasan “Adhi Yasa” di Jalan Demak Surabaya. Bahkan pengurusan jenazah, pengangkutan sampai penguburan juga dilakukan oleh yayasan atau perusahaan.

Dengan Sinoman, seharusnya semua itu tidak terjadi. Tidak usahlah kita meniru pola perusahaan pengurusan jenazah “Carrara” yang berdiri sejak tahun 1948. Juga jangan seperti “Ario” yang memborong segala kebutuhan jenazah. Atau “Tiara” yang mengiklankan ambulance full AC. Juga seperti Yayasan “Gotong Royong” dan “Bagus Abadi” , serta masih banyak lagi yang lain.

Sinoman yang merupakan tradisi bernuansa Islami, harus tetap dipertahankan dan dikembangkan keberadaannya di era modernisasi dan kehidupan kota Metropolitan yang metropolis ini. Sekurang-kurangnya tradisi itu dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman, tanpa harus mengurangi nilai ajaran agama dan leluhur.

Warga Surabaya, ternyata mampu membuktikan ketahanan masyarakatnya membendung dan melakukan antisipasi terhadap gejala global itu. Sinoman mengalami kemajuan dengan adanya peremajaan dan periodesasi kepengurusan. Ini memperlihatkan, bahwa organisasi sinoman sudah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat Surabaya.

Secara organisasi, sinoman dapat menanamkan sendi-sendi berorganisasi. Ini dapat dilihat dengan adanya kesadaran membayar iuran dan sumbangan sukarela pada saat tertentu. Dalam wujud nyata, sinoman yang di zaman pra-kemerdekaan sempat melibatkan diri dalam kegiatan politik, sekarang “sudah bersih” dari pengaruh itu dan murni menjadi paguyuban sosial.

Kalau dulu, pada saat “Sinoman Lama”, warga keturunan Cina, Arab dan India menjadi warga elite yang “dimanjakan” penjajah, setelah Indonesia merdeka, mereka secara bertahap melibatkan diri dalam kegiatan di lingkungan permukiman. Mereka sudah bisa menyatu dan membaur dengan warga sekitar. Di beberapa kawasan permukiman, merekapun duduk sebagai pengurus sinoman.

Untuk menghidupi organisasi sosial sinoman ini, bukan tidak ada yang berbau bisnis. Dari iuran dan sumbangan warga, dibelikan barang-barang keperluan hajatan. Mulai dari terop (tenda), kursi, meja, piring, gelas, sendok, sampai alat pengeras suara (sound system). Agar barang-barang ini tetap utuh dan bisa bertambah, maka kepada yang menggunakannya diharapkan bantuan sukarela. Memang, ada tarif yang ditetapkan untuk masing-masing barang, tetapi bagi keluarga yang tidak mampu dan benar-benar dalam keadaan susah, dipinjamkan secara gratis. Bahkan mendapat bantuan uang duka dari urunan warga.

Dalam sejarahnya, memang sempat terjadi pengaruh dalam perkembangan sinoman di kota Surabaya. Pada tahun 1980-an, saat kegiatan pembangunan kota sudah mengarah pada kegiatan penggusuran. Masyarakat kampung dalam kota Surabaya mulai terpencar ke pinggir atau ke luar kota. Walaupun ada kelompok sinoman yang “bubar” akibat kampungnya tergusur, ternyata di permukiman baru atau kawasan realestat, sudah ada yang mendirikan paguyuban sinoman. Namun, merintis berdirinya sinoman di kawasan permukiman baru tidak gampang. Harus ada yang berani mempelopori, karena awalnya di antara sesama warga baru yang belum saling kenal, tentu mempunyai sikap hati-hati, agar niat luhur itu diterima dengan keterbukaan.

Keberadaan sinoman ini, memang bukan “monopoli” warga Surabaya. Hal yang sama juga ada di tempat lain. Di Jakarta, ibukota negara Republik Indonesia, hidup warga asli yang disebut: masyarakat Betawi. Di sini juga ada tradisi dan adat yang sama. Selain itu juga banyak perantau dan pendatang dari berbagai daerah, suku bangsa di Indonesia, serta yang berasal dari negara lain.

Kehidupan masyarakat metropolitan Jakarta, memang tidak memusnahkan tradisi desa atau kampung asal para perantau. Sebagaimana masyarakat daerah atau suku lain di Indonesia, perantau yang berasal dari Surabaya ternyata berhasil membentuk paguyuban Sinoman Suroboyo.

Sesepuh Surabaya, Cak Roeslan Abdulgani yang sudah lama bermukim di Jakarta, mengatakan, kegiatan sinoman di Jakarta ini sejalan dengan adanya Paguyuban Arek Surabaya. Organisasi sinoman warga Surabaya di Jakarta bernama “Sinoman Keluarga Besar Surabaya Jawa Timur”. Kegiatannya sama dengan sinoman pada umumnya. Namun, yang paling utama adalah apabila ada keluarga yang ditimpa kemalangan, khususnya meninggal dunia.

Semangat sinoman di Jakarta ini begitu kuat pada tahun 1970-an. Sampai-sampai kata Cak Roeslan diciptakan lagu berjudul “Sinoman Suroboyo” Lagu dan syair ini adalah karya H.Nur Azhar yang diciptakannya pada bulan Maret 1979 di Jakarta. Inilah lirik dan syair lagu “Sinoman Suroboyo” tersebut:

Sinoman Suroboyo Rek – paguyuban kanggu kepentingan amal ; kumpulanne sing nduweni timbang roso. Tinggalane wong tuwo Rek – ayo kudu diterusno. Sinoman Suroboyo Cak – gotongroyong sing dadi tujuan utomo. Mulane ojo’ lali Cak – iku prilaku sing mulyo, iku kepribadian bongso.

Kaping pisan: tulung tinulung, kaping pindo: ndaweg sing rukun, kaping telu: tambah sedulur, kaping papat: ojo’ sok mbeda’-beda’no. Kabeh mau margo Sinoman – ilingo sing kerepotan – kapan maneh urip ning ndonyo – sing sok ngadoh – mburine tibo nelongso. Pancen apik seneng bergaul – semboyane mangan ndak mangan nek kumpul.

Sinoman Sidomulyo Rek – sing nom-noman jo’ sembrono. Sinoman Margorukun Cak – sing mbegedut musti getun. Sinoman Sidorame Ning – sing emanan isin dewe. Sinoman Sukolilo Wak – abot enteng lakonono.

Demikian lirik, irama yang syahdu dapat membangkitkan semanat persatuan, kesatuan dan guyub untuk bergotongroyong dalam nyanyian berbahasa Jawa dialeg Surabaya itu. ***

*) Yousri Nur Raja Agam M.H. – Ketua Yayasan Peduli Surabaya

Siapa Walikota “Pertama” Surabaya

Radjamin Nasution

Walikota Pertama Surabaya

Oleh: Yousri Nur Raja Agam M.H.

SAAT Surabaya dinyatakan sebagai sebuah permukiman resmi pada abad ke-13 sebagaimana disebutkan Surabaya lahir 31 Mei 1293, penduduknya mungkin belum mencapai seribu orang. Namun, dengan makin berkembangnya Kerajaan Majapahit di bawah Raden Wijaya dan seterusnya mencapai puncak saat Raja Hayamwuruk didampingi perdanamenterinya, Mahapatih Gajah Mada, pelabuhan Hujunggaluh semakin ramai.

Kesibukan di pelabuhan Hujunggaluh yang merupakan nama asal Surabaya, menjadi daya tarik warga daerah lain datang ke sini. Ada yang datang dari daratan pedalaman Pulau Jawa, ada pula yang menyeberang dari pulau-pulau lain di Nusantara. Bahkan, tidak sedikit yang semula sebagai saudagar dari Arab, India dan Cina, menetap di sini.

Bercampurbaurlah masyarakat pendatang dari berbagai suku, ras dan keturunan di Surabaya ini, yang kemudian menetap, lalu menjadi “Arek Suroboyo”.

Perkembangan penduduk Surabaya ini memang unik dan menarik, kata sesepuh Kota Surabaya, Prof.DR.H.Roeslan Abdulgani. Kendati hidup berkelompok menurut asalnya, tapi dalam kegiatan bermasyarakat untuk kepentingan Surabaya, mereka bersatu. Lihat saja, mereka yang berada di sekitar pantai dan pelabuhan, umumnya mereka berasal dari Madura, Bugis, Ambon dan Banjar. Sedangkan yang berada di tengah kota asal, yaitu sekitar pusat perdagangan Kembang Jepun sampai Tunjungan, kebanyakan warga keturunan Arab, Cina dan India, serta warga pendatang dari pedalaman Jawa dan perantau dari Sumatera.

Saat Belanda menjajah dan memerintah di Indonesia, termasuk Kota Surabaya, semula mereka bekerjasama dengan pemerintahan Kerajaan Majapahit. Di Surabaya ada keadipatian atau Kadipaten Surabaya, terus sampai kemudian Indonesia merdeka.

Surabaya sebagai sebuah pusat perdagangan yang mempunyai pelabuhan tempat sandar kapal-kapal dagang, maju dan berkembang. Surabaya menjadi kabupaten yang wilayahnya termasuk Gresik. Awal abad ke-20 Kabupaten Surabaya dibagi menjadi Kota Surabaya dan Kabupaten Surabaya – Kabupaten Surabaya kemudian berganti nama menjadi Kabupaten Gresik.

Burgemeester

Hari lahir atau ditetapkannya Surabaya sebagai kota, oleh Pemerintah Kolonial Belanda, bersamaan dengan beberapa kota lain di Indonesia, tanggal 1 April 1906. Dulunya, tanggal 1 April itulah Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Surabaya, namun sejak tahun 1975 diubah menjadi 31 Mei.

Sejak Surabaya menjadi kota dan berpemerintahan sendiri, Kota Surabaya ini pemimpinnya dirangkap oleh Residen Surabaya. Pemerintahan Dalam Negeri Hindia Belanda menetapkan status Surabaya sebagai Kotapaja dengan Hak Otonom (Zelfstaandige Stadsgemeente). Perangkapan jabatan oleh Residen Surabaya berlangsung 10 tahun sebagai masa peralihan. Baru 21 Agustus 1916, diserahkan kepada kepala pemerintahan kota yang disebut Burgemeester.

Orang pertama yang ditunjuk sebagai burgemeester adalah Mr.A.Mey Roos. Empat tahun kemudian, tahun 1920 ia diganti oleh Ir.G.J.Dijkerman. Selama enam tahun memerintah sampai tahun 1926, ia digantikan oleh H.J.Bussemaker (1926-1932). Berturut-turut berikutnya burgemeester adalah:: Ter Poorten (1932-1936), MHW Van Helsdingen (1936-1942). Pada bulan Januari 1942, burgemeester Surabaya diserahterimakan kepada Mr.W.A.H.Fuchter. Namun, hanya satu bulan memerintah, Balatentara Jepang masuk ke Indonesia. Belanda, pada Februari 1942 meninggalkan pemerintahan kota Surabaya.

Begitu Belanda angkat kaki dari Indonesia, pemerintahan Kota Surabaya diambilalih oleh para pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya. Pada masa transisi ini berdasarkan kesepakatan bersama ditetapkan, karyawan pribumi yang cukup berwibawa waktu itu Radjamin Nasution Gelar Sutan Komala Pontas, sebagai Pejabat Walikota. Di bawah suasana Perang Dunia II itu, pengaruh kekuasaan Balatentara Jepang semakin terasa. Selama delapan bulan sejak Februari hingga September 1942, Radjamin Nasution mengendalikan Pemerintahan Kota Surabaya.

Jepang yang sudah berkuasa secara penuh di persada Nusantara, kemudian ikut menata pemerintahan. Namun Jepang bersikap kooperatif. Kendati kekuasaan tertinggi di Kota Surabaya diambilalih, dengan menetapkan Takahashi Ichiro sebagai walikota yang disebut Shi Tyo , namun mereka menetapkan Radjamin Nasuition menjadi wakil walikota yang disebut Asisten Shi Tyo.

Walikota Pertama

Saat Pemerintahan Jepang menyatakan “kalah” dalam Perang Dunia II, setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, bulan Agustus 1945, kemudian Indonesia juga memproklamasikan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945. Takahashi Ichiro kemudian menyerahkan sepenuhnya kepala pemerintahan Kota Surabaya kepada wakilnya, Radjamin Nasution.

Pemerintah Balatentara Jepang kalah dan Indonesia merdeka. Maka terhitung sejak Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945, Radjamin Nasution Gelar Sutan Komala Pontas ditetapkan sebagai Walikota Surabaya.

Radjamin Nasution yang bertempat tinggal di Jalan Alun-alun Rangkah No.3 Surabaya atau Jalan Taman Putroagung No.9 Surabaya itu, memerintah Kota Surabaya dalam suasana perang. Betapa tidak, menurut orang-orang tuawarga di kampung Rangkah, saat menjadi walikota itu, Radjamin lebih banyak disibukkan dengan urusan perang. Sebab, setelah Indonesia merdeka dan Jepang kalah, ternyata orang-orang Balanda yang ada di Surabaya bangkit. Belanda yang ada di Surabaya seolah-olah ikut menang, sehingga mereka berusaha untuk kembali memerintah. Di tambah lagi dengan gencarnya serangan tentara Sekutu untuk merebut kekuasaan di Indonesia, termasuk Surabaya.

Setelah Indonesia dinyatakan merdeka, Radjamin Nasution sebagai seorang pejabat karir berusaha memperbaiki administrasi pemerintahan kota. Ia berkoordinasi dengan Residen Surabaya, waktu itu, R.Soedirman dan Gubernur Jatim RM Soeryo.

Saat terjadi pertempuran sengit antara pejuang Arek Suroboyo melawan Sekutu yang dikendalikan tentara Inggris, korban berjatuhan. Ratusan dan mungkin ribuan orang gugur di medan perang Surabaya. Patriot bangsa ini dikuburkan di berbagai makam. Salah satu di antaranya, lapangan olahraga pelajar juru rawat yang terletak di belakang Rumah Sakit Simpang dijadikan kuburan.

Atas gagasan Walikota Surabaya, Rajamin Nasution, kemudian pemakaman para pejuang yang gugur itu dipindahkan ke lapangan “Canna” (di Jalan Kusuma Bangsa, sekarang). Untuk pertamakalinya dimakamkan 26 orang pejuang. Upacara pemakaman ini dipimpin langsung oleh Rajamin Nasution selaku Kepala Pemerintahan Kota (Walikota).

Saat berpidato mengantarkan para pejuang ke tempat peristirahatannya yang terakhir itulah tercetus untuk menjadikan lapangan Canna itu menjadi “Taman Bahagia” dankemudian berubah menjadi TMP (Taman Makam Pahlawan) Kusuma Bangsa.

Masih menurut penuturan orang-orang tua, warga Kelurahan Rangkah, Kecamatan Tambaksari, kepemimpinan Radjamin Nasution itu cukup bagus. Ia sangat memperhatikan karyawan. Bahkan, saat pemerintahan Kota Surabaya “terpaksa” mengungsi ke Mojokerto dan Tulungagung, ia mengendalikan Surabaya dengan wira-wiri antara Surabaya, Mojokerto dan Tulungagung.

Ketika menjadi walikota itu, Radjamin juga sibuk menghimpun kekuatan perlawanan terhadap gempuran sekutu. Ia bersama pemuda dan karyawan yang masih bertahan di Surabaya, bahu membahu menyediakan keperluan pejuang. Ada satu yang tidak pernah dilupakan oleh ibu-ibu tua warga kampung Rangkah yang ikut mengungsi ke Tulungagung, Radjamin mengumpulkan pakaian bekas dan karung goni untuk bahan pakaian para pejuang di Surabaya.

Perhatian Radjamin di masa “sulit” itu kepada pegawai Pemkot Surabaya yang mengungsi sangat besar. Dari Surabaya, ia membawa sendiri uang untuk membayar gaji para karyawan yang berada di tempat pengungsian, di Mojokerto, Jombang dan Tulungagung.

Belanda “sempat merebut” pemerintahan di Kota Surabaya, dengan menetapkan Mr.O.J.C.Becht sebagai Kepala Urusan Haminte selama dua bulan. Sehingga, berakhirlah masa pemerintahan Radjamin Nasution sebagai walikota pertama Surabaya.

Pemakaman Rangkah

Radjamin Nasution Gelar Sutan Komala Pontas menjadi arek Suroboyo sejak tahun 1930-an dan terakhir bertempat tinggal di Jalan Alun Alun Rangkah No.3 Surabaya. Setelah melepas jabatan walikota Surabaya, Radjamin duduk sebagai anggota DPRD Kota Surabaya sampai tahun 1955.

Saat menjadi anggota DPRD Kota Surabaya itu, Rajamin Nasution ikut mendirikan YKP (Yayasan KasPembangunan) Kota Surabaya. YKP adalah sebuah yayasan yang sudah banyak mendirikan perumahan untuk pegawai dan masyarakat umum dengan sitem menabung. Hingga sekarang YKP masih ada dan sudah mempunyai anak perusahaan bernama PT.Yekape yang juga bergerak di bidang real estat (pengembang kawasan perumahan) di dalam kota Surabaya dan sekarang bahkan sudah sampai ke luar kota.

Setelah Pemilu 1955, Radjamin terpilih mewakili Jawa Timur di DPR Pusat di Jakarta. Radjamin meninggal dunia 10 Februari 1957 dan dimakamkan di Kota Surabaya.

Radjamin Nasution yang lahir di Desa Barbaran Julu, Panyabungan, Mandailing, Sumatera Utara tanggal 15 Agustus 1892, saat meninggal dunia, ia meninggalkan delapan orang anak. Salah satu di antaranya adalah Irsan Radjamin, suami dari wanita pejuang Surabaya, Hj.Lukitaningsih Irsan Radjamin, Ketua Umum Wirawati Catur Panca (Ibu-ibu Kelasyakaran Pejuang Eksponen Angkatan 45).

Menurut warga Rangkah, saat jenazah disemayamkan di rumah duka ada yang mengusulkan almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa. Sebab, dalam kegiatannya menjelang dan setelah Kemerdekaan RI, selalu berada di garis perjuangan. Namun atas “wasiat” almarhum, kata anak-anaknya, ia ingin dimakamkan di tengah-tengah warga Surabaya. Maka, Radjamin Nasution, dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Rangkah, di Jalan Kenjeran. TPU Rangkah ini adalah TPU terbesar ke dua setelah TPU Tembok. Dan di TPU Rangkah ini pulalah dimakamkan Pahlawan Nasional Pencipta Lagu Indonesia Raya, Wage Rudolf Soepratman.

Mr.Indrakoesoema dan Mr.Soerjadi

Pada bulan Desember 1945, pemerintahan kota Surabaya kembali direbut Arek-arek Suroboyo dan menunjuk Mr.Indrakoesoema sebagai walikota. Tidak lama memang, Mr.Indrakoesoema menjadi walikota, hanya tiga bulan dari bulan Desember 1945 hingga Februari 1946. Walikota Indrakoesoema diganti oleh Mr Soerjadi. Cukup lama,lima tahun masa pemerintahan dipegang Mr.Soerjadi.

Pada awal pemerintahan Walikota Surabaya, Mr.Soerjadi, suasana kota masih mencekam. Tentara Inggris dan Sekutu masih berada di Surabaya. Di beberapa tempat masih terdengar denduman bom dan mortis, serta desingan peluru senapan. Menurut Sutjipto Danukusumo yang waktu itu menjadi komandan pasukan Polisi Istimewa dengan pangkat Inspektur Polisi, tentara Inggris masih mengejar-ngejar pejuang sampai ke Karangpilang dan Sepanjang.

Walaupun situasi masih gawat, Mr.Soerjadi berusaha mengendalikanberbagai kegiatan pembangunan kota. Puing-puing sisa perang melawan Sekutu dan anteknya Belanda mulai dibenahi. Para pejuang yang mengungsi ke berbagai kota, mulai kembali secara bertahap ke kota Surabaya. Soerjadi juga melakukan pembenahan administrasi dan kantor Pemkot Surabaya. Gedung balaikota sebagai pusat pemerintahan difungsikan sebagai pusat pengendalian pemerintahan.

Suhu politik di ibukota Pemerintah Republik Indonesia (waktu itu di Jogjakarta) pada awal tahun 1946 kian memanas. Berbagai kegiatan yang mendukung persatuan nasional semakin meningkat di kalangan pelajar dan mahasiswa. Begitu pula dengan wartawan. Sampai-sampai di saat yang genting itu, para wartawan dari seluruh Indonesia, khususnya dari Jawa dan Sumatera, berkumpul di Solo. Di sana bahkan dideklarasikan berdirinya organisasi wartawan Indonesia yang bernama PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), tepatnya tanggal 9 Februari 1946.

Pak Wiwiek yang punya nama asli Said Hidayat, kelahiran Rembangan, Jember, Jawa Timur tanggal 22 April 1922 itu mengisahkan, sebagai wartawan dan pendiri Kantor Berita Antara di Surabaya, ia sering mendampingi Mr. Soerjadi. Tidak jarang, ia duduk berlama-lama bersama Soerjadi membicarakan pasca perang di Surabaya itu.

Masa kepemimpinan Mr. Soerjadi ini keadaan negara dalam keadaan genting, sebab terjadi agresi pertama tahun 1947. Perselisihan dengan pihak Belanda semakin meruncing sehingga mempengaruhi stabilitas ekonomi dan pemerintahan. Saat beberapa kali Pemerintah Republik Indonesia yang disebut Pemerintah Pusat melakukan perundingan dengan pihak Belanda mengalami kegagalan, kejadian inipun menimbulkan ketegangan internal dalam Pemerintahan Kota Surabaya.

Berkat tangan dingin Mr. Soerjadi yang ahli hukum pemerintahan itu, situasi Kota Surabaya dapat dikendalikan. Inipun tidak lepas dari kordinasi dan kerjasama sesama mantan pejuang. Bahkan, kerjasama dengan pihak kepolisian, khusunya waktu itu Polisi Istimewa dan tentara (BKR, kemudian menjadi TKR, TRI dan terakhir menjadi TNI) berjalan sangat harmonis.Waktu itu, Komandan Komando Pertahanan Kota Surabaya dijabat oleh Kolonel Soengkono dan Kepala Kepolisian Surabaya adalah Komisaris Polisi Budiman.

Tanggal 21 Juli 1947, Belanda melakukan serangan bersenjata melalui darat, laut dan udara. Perang Kemerdekaan I yang disebut Agresi I melawan Belanda berlangsung di mana-mana. Belanda dengan tuntutan Gandarmerry tidak mengakui kemerdekaan RI.Namun peperangan itu berakhir dengan gencatan senjata, 4 Agustus 1947. Pemerintah Pusat mulai melakukan perundingan dan menempuh jalur diplomatik. Sebagaimana diungkap dalam sejarah, terjadi perundingan KTN (Komisi Tiga Negara) sebagai pendamai. Indonesia diwakili Australia, Belanda oleh Belgia dan Amerika mewakili negara-negara lain di dunia.

Perundingan berlanjut dengan “Perjanjian Renvile”, karena perundingan dilaksanakan di atas kapal Renvile yang sedang berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Perundingan demi perundingan berlangsung, sampai terlaksana Perjanjian Linggarjati. Tetapi sayang, pihak Belanda igkar janji, perjanjian Linggarjati dilanggar. Akhirnya terjadilah Perang Kemerdekaan II atau Agresi Belanda II bulan Desember 1948.

Keadaan ini sangat berpengaruh kepada pemerintahan kota Surabaya. Mr.Soerjadi terus melakukan koordinasi dengan staf dan jajaran pegawai. Urusan administrasi dan keperluan warga terus dilayani. Waktu itu, yang sangat dibutuhkan adalah kartu pengenal dan surat jalan. Waktu itu, lalulintas manusia dari dalam ke luar kota menimbulkan saling curiga. Di samping adanya mata-mata Belanda, juga ada kegiatan pemberontakan PKI di Madiun.

Tidak jarang sesama mantan pejuang tahun 1945 itu terdengar pekik “merdeka”, apabila mereka bertemu. Namun keadaan tidak sepenuhnya kondusif, karena juga ada yang saling curiga. Di beberapa tempat di Surabaya ini terjadi tindakan anarkis.

Setelah masa tegang mulai mengendur, kehidupan warga Surabaya mulai membaik. Kegiatan ekonomi di pasar-pasar mulai bergairah. Kantor-kantor juga mulai melakukan penataan. Tetapi di balik itu semua, tidak dapat dipungkiri, bahwa para pemuda pejuang yang merasa punya peran menghadapi Jepang dan Sekutu, melakukan perampasan barang-barang peninggalan Belanda dan Jepang. Rumah-rumah di kawasan elite, seperti di sekitar daerah Darmo, Ketabang, Genteng, Embong Kaliasin, Undaan, Raya Gubeng dan wilayah lainnya diduduki. Lama kelamaan, rumah itu dikuasai dan ditempati oleh keluarga. Bahkan, sekarang sudah menjadi milik mereka.

Walikota Surabaya, Mr. Soerjadi juga sangat berperan dalam pengaturan barang-barang milik Belanda yang ditinggal saat terjadi perang perjuangan tahun 1945 itu. Dinas perumahan bekerjasama dengan pihak militer, melakukan inventarisasi dan pengaturan. Walaupun awalnya mendapatkan rumah-rumah itu secara “gratis”, namun Pemerintahan di bawah Mr. Soerjadi ini berusaha menjaring pemasukan keuangan untuk Pemkot Surabaya. Ada yang dengan sistem sewa, izin pemakaian dan izin menghuni, sehingga ada pemasukan untuk kas Pemkot Surabaya. Tarifnya memang tidak mahal, sehingga terjangkau oleh warga kota Surabaya yang umumnya adalah para pegawai di kantor-kantor pemerintah maupun perusahaan besar waktu itu.

Mr.Soerjadi juga banyak melakukan pendidikan hukum bagi warga kota tatkala terjadi perselesihan dan sengketa antarwarga. Adakalanya, rumah yang ditempati bekas pejuang itu adalah inventaris kantor perusahaan perkebunan, pelabuhan, pabrik atau swasta lainnya. Dengan sikap kepemimpinan yang bijaksana, perselisihan dapat didamaikan, kata Wiwiek Hidayat (alm), mantan kepala kantor LKBN Antara Surabaya langsung kepada penulis.

Banyak cerita tentang Mr.Soerjadi ini yang penulis peroleh Wiwiek Hidayat yang tinggal di Jalan Jimerto 23 A atau Jalan Jaksa Agung Suprapto 31 Surabaya itu. Pak Wiwiek – begitu wartawan senior ini biasa disapa – banyak tahu tentang Surabaya, sehingga tidak mengherankan kalau Walikota Surabaya R. Soekotjo mempercayakan kepadanya untuk memimpin tim penyusunan sejarah Surabaya tahun 1973.

Tahun 1947 hingga 1949, katanya, situasi negara kita ini dalam keadaan menegangkan. Konfrontasi secara nasional dengan pihak Belanda masih terjadi. Belanda masih berusaha untuk mencengkamkan kembali kekuasaannya di tanahair tercinta ini. Kerajaan Belanda tidak mengakui kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945.

Kordinasi dengan Pemerintahan Provinsi Jawa Timur pada zaman Mr. Soerjadi berjalan baik, di samping dengan Residen Sudirman. Ada tiga gubernur yang menjadi atasan langsung Mr. Soerjadi. Pertama, RT Soerjo yang memerintah sejak tahun 1945 hingga 1948. Belanjut yang kedua dengan gubernur Jatim, Dr. Moerdjani tahun 1948-1949 dan yang ketiga, saat pemerintahan gubernur Jatim R. Samadikoen.

Sebagai walikota Surabaya dalam keadaan negara yang bergolak, kepemimpinan Mr. Soerjadi layak dicatat sebagai penegak kedaulatan pemerintahan sipil di Surabaya, kata Wiwiek Hidayat yang pernah dinobatkan Panglima Besar Jenderal Sudirman sebagai “wartawan perang” itu.

Kepada penulis saat di akhir hayatnya, Pak Wiwiek sempat mengeluh. Ia merasa heran terhadap beberapa pejabat di kantor Pemkot Surabaya, mengapa dalam pemerintahan kota Surabaya terjadi “diskriminasi” sejarah. Jasa yang begitu besar dari para walikota di zaman perang kemerdekaan, seolah-olah tidak pernah ada. Menurut Pak Wiwiek, ia tahu persis bagaimana kiprah walikota Radjamin Nasution dan Mr.Soerjadi. Sebagai seorang wartawan, ia sering hanya berdua dengan sang walikota. Wawancara khusus, katanya.

Sebagai pejabat pemerintahan kota Surabaya, kiprah ke dua walikota ini patut diabadikan. Apalagi hingga akhir hayatnya ke dua orang itu masih tetap peduli dengan kota Surabaya. Merekapun meninggaldunia dan dimakamkan di bumi Surabaya, kata mantan Kepala LKBN Antara di Filipina itu.

Namun ujar Wiwiek Hidayat, ia tidak tahu persis bagaimana dengan walikota Indra Koesoema, sebab, dia hanya sebentar menjabat. Saat itu Indra Koesoema adalah hakim di Pengadilan Surabaya. Dia menggantikan Mr.C.J.C. Becht, Kepala Urusan Haminte saat Belanda kembali mengambilalih pemerintahan. Tiga bulan di sejak Desember 1945 dan berakhir Februari 1946. Setelah itu, walikota dijabat oleh Mr.Soerjadi sampai tahun 1950.

H.Doel Arnowo

Lima tahun menjadi walikota Surabaya, bagi Mr.Soerjadi adalah merupakan pengabdian yang cukup sebagai abdi negara. Apalagi waktu itu adalah masa penataan kembali bangsa ini sehabis diobrak-abrik oleh penjajah yang ingin mencengkeramkan kembali kuku kolonilaismenya di bumi Pertiwi.

Tahun 1950, setelah “Penyerahan Kedaulatan” , walikota Surabaya dijabat oleh Doel Arnowo. Doel Arnowo adalah tokoh Surabaya yang sebelumnya menduduki jabatan Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Keresidenan Surabaya yang terbentuk tanggal 27 Agustus 1945.

Hanya dua tahun Doel Arnowo menjadi walikota Surabaya, yakni hingga 1952.

Dalam masa pemerintahan Doel Arnowo ini, ada sejarah luar biasa yang dicatat Pemkot Surabaya. Di tahun 1950 itu, Presiden Soekarno menetapkan Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Pada upacara peringatan peristiwa bersejarah 10 November 1945 yang pertamakalinyaberlangsung di Surabaya, 10 November 1950, Bung Karno menyatakan tanggal 10 November sebagai “Hari Pahlawan”.

Bersamaan dengan itu, Bung Karno juga melaksanakan peletakan batu pertama pembangunan Tugu Pahlawan di bekas lahan gedung Raad van Justitie (pengadilan tinggi) zaman Belanda dan markas Kenpetai pada zaman Jepang. Tanggal 17 Agustus 1952, pembangunan Tugu Pahlawan selesai dan diresmikan sebagai monumen bersejarah untuk memperingati perjuangan heroik Arek Suroboyo melawan Sekutu dan Inggris, serta Belanda.

Tahun 1952, arek kampung Genteng ini diganti Moestadjab Soemowidagdo. Di masa pemerintahan Moestadjab Soemowidagdo inilah secara bertahap pembangunan Surabaya ditata. Sebab, sejak walikota pertama (Radjamin Nasution), hingga walikota hingga walikota ke empat (Doel Arnowo), pemerintahan lebih terfokus kepada perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan.

Berikutnya, pemerintahan kota Surabaya berjalan di bawah kendali Pemerintah Republik Indonesia. Setelah lima tahun memerintah, Moestadjab sebagai walikota tahun 1956 diganti oleh walikota R.Istidjab Tjokrokoesoemo (1956-1958). Kemudian berturut-turut Kota Surabaya dipimpin walikota Dr.R.Satrio Sastrodiredjo (1958-1964), Moerachman,SH (1964-1965), Kolonel R.Soekotjo (1965-1974).

Saat walikota dijabat R.Soekotjo, sebutan walikota ditambah menjadi Walikota Kotamadya Surabaya. Sewaktu walikota berikutnya, Kolonel HR Soeparno (1974-1979), sebutan untuk walikota diubah menjadi Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II (KDH) Tk.II Surabaya. Begitu pula saat kursi walikota diduduki Kolonel CPM Drs.Moehadji Widjaja (1979-1984).

Tahun 1984, walikotamadya Surabaya beralih kepada Kolonel dr.H.Poernomo Kasidi yang memerintah dua kali masa jabatan hingga tahun 1994. Dalam pemerintahan Poernomo Kasidi ini, tahun 1988 ditetapkan adanya jabatan Wakil Walikota untuk Kotamadya Surabaya. Orang yang mendapat kepescayaan sebagai wakil walikotamadya itu adalah Drs.H.Soenarjo (1988-1992). Tahun 1992, Soenarjo diganti oleh Drs.Istijono Soenarto.

Setelah habis masa jabatan dr.H.Peornomo Kasidi, tahun 1994, terpilihlah Kolonel H.Sunarto Sumoprawiro sebagai walikotamadya Surabaya dengan wakil walikotamadya tetap Drs.Istijono Soenarto. Tahun 1995, Istijono diganti oleh Drs.Wardji sampai tahun 2000. Masa jabatan Cak Narto – panggilan akrab untuk Sunarto Sumoprawiro – habis tahun 1998. Namun, karena suasana politik Indonesia di awal masa Reformasi, pemilihan walikota tak mungkin dilaksanakan, maka masa jabatan Cak Narto diperpanjang hingga Juni 2000.

Sewaktu dilaksanakan pemilihan walikota – sesuai dengan Undang-undang No.22 Tahun 1999, sebutan walikotamadya KDH Tk.II diubah menjadi walikota – terpilihlah pasangan Cak Narto bersama Drs.Bambang Dwi Hartono,MPd sebagai walikota dan wakil walikota Surabaya untuk masabakti 2000-2005. Dalam perjalanan pemerintahannya, pada tanggal 15 Januari 2002, H.Sunarto Sumoprawiro, diberhentikan oleh DPRD Kota Surabaya sebagai walikota. Kemudian, sejak Juni2002, Wakil Walikota Drs.Bambang Dwi Hartono,MPd diangkat sebagai Walikota Surabaya untuk menghabiskan sisa masabakti pasangan Cak Narto-Bambang DH hingga 2005.

Tanggal 7 Maret 2005, masajabatan Bambang DH berakhir. Ia diberhentikan dengan hormat. Pada hari itu Gubernur Jawa Timur, H.Imam Utomo melantik Asisten I (Bidang Tatapraja) Sekretaris Provinsi Jatim , Drs.H.Chusnul Arifien Damuri,MM,Msi sebagai Pejabat (Pj) Walikota Surabaya.

Sesuai dengan perundang-undang baru, yakni Undang-undang No.32 tahun 2004, penggantian kepala daerah dilaksanakan dengan pemilihan langsung. Kepala daerah, yakni: gubernur, walikota dan bupati. Untuk pertamakalinya Pilkada (pemilihan kepala daerah) langsung diselenggarakan 27 Juni 2005.

Dalam Pilkada langsung pemilihan walikota langsung berpasangan dengan wakil walikota. Empat pasang calon walikota-wakil walikota yang dipilih warga kota Surabaya itu adalah:

(1) Ir.H.Erlangga Satriagung berpasangan dengan Drs.A.Hermas Thony. (2) Drs.Bambang Dwi Hartono,MPd berpasangan dengan Drs.Arif Afandi. (3) Drs.H.Gatot Sudjito,MSi berpasangan dengan Ir.Benyamin Hilly,MSi. (4) Ir.H.Alisjahbana,MA berpasangan dengan Drs.H.Wahyudin Husein.

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) langsung, 27 Juni 2005, dimenangkankan pasangan Bambang DH dengan Arif Afandi. Kemudian pasangan Bambang DH dengan Arif Afandi dilantik 31 Agustus 2005 dan sekaligus pada hari itu berakhir masa jabatan Chusnul Arifin Damuri sebagai Pj.Walikota Surabaya.

Pasangan walikota dengan wakil walikota hasil Pilkada 2005, Bambang DH denganArief Afandi, memimpin Kota Surabaya untuk masabakti 2005-2010.

Fotonya Tak Dipajang

Pemerintah Kota Surabaya perlu diingatkan, dalam gedung-gedung resmi Pemerintah Kota Surabaya, tiga walikota sejak Indonesia merdeka tidak terpajang seluruhnya. Tiga foto mantan walikota pertama sampai ke tiga, yakni Radjamin Nasution, Mr.Indrakoesoema dan Mr.Soerjadi, tak terpanjang di tempat-tempat resmi di lingkungan Pemkot Surabaya. Seharusnya foto mereka itu dipasang dan digantung di gedung balaikota, gedung Pemerintahan Kota Surabaya dan rumah dinas walikota, serta di tempat lain yang layak.

Kecuali itu, foto mantan walikota Surabaya, Murachman,SH (1964-1965) karenaterlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September (G.30.S)/PKI (Partai Komunis Indonesia), juga tidak pernah dipajang. Ini mungkin pertimbangan politis.

Generasi muda memang layak mempertanyakan, mengapa yang dipajang, hanya mulai dari Walikota Doel Arnowo? Seolah-olah terjadi diskriminasi dan“pembohongan publik”, Selama ini, seolah-olah walikota pertama Surabaya itu adalah Doel Arnowo. Tetapi, kemudian untuk sekedar berkelit, maka disebutkanlah bahwa Doel Arnowo adalah walikota Surabaya pertama setelah “Penyerahan Kedaulatan”. Apakah memang ketentuannya demikian?

Sejarah harus diluruskan dan terbuka secara jujur. Jadi mengapa harus berat mengatakan bahwa walikota Surabaya yang pertama itu adalah “orang Batak” yang bernama Radjamin Nasution gelar Sutan Komala Pontas.

Kalau mau jujur, di berbagai kota dan kabupaten, foto-foto walikota dan bupati berkebangsaan Belanda dan Jepang juga ikut dipajang dan ditulis dalam prasasti. Sebagai contoh lagi, di kantor Gubernur Jawa Timur, foto-foto gubernur sejak zaman Belanda sampai Gubernur Jatim saat ini, H.Imam Utomo terpasang dan dipajang dengan rapi.

Lima foto gubernur Belanda yang dipajang di kantor Gubernur Jatim, adalah: M.Ch.Handerman (1928-1931), Ch de Man (1931-1933), JHB Kuneman (1933-1936), Ch.O.Van Der Plas (1936-1941), Mr.Ch.Hartevelt (1941-1942). Juga disebutkan nama Penguasa Perang di Jawa Timur oleh Pemerintahan Jepang yang bernama Syuchokan dijabat oleh Yasaoka Masaomi dengan wakilnya Soedirman – dikenal kemudian sebagai Residen Sudirman (1942-1945).

Berikut juga dipajang foto-foto gubernur Jatim di zaman merdeka, yaitu: RT Soeryo (1945-1948), Dr.Moerdjani (1948-1949), R.Samadikoen (1949-1957), RTA Milano (1957-1959), R.Soewondo R (1959-1963), Moch Wijono (1963-1967), RP Moh.Noer (1967-1976), R.Soenandar Prijosoedarmo (1976-1983), H.Wahono (1983-1988), H.Soelarso (1988-1993), HM Basofi Soedirman (1993-1998) dan H.Imam Utomo (1998-2008), serta begitu pula seterusnya nanti.

Dari Burgemeester ke Walikota

Selengkapnya inilah nama-nama Burgemeester, Kepala Pemerintahan Kota sampai ke Walikota Surabaya sejak 1 April 1906 hingga sekarang:

No.:Nama:Sebutan Jabatan : Masa Jabatan

1 : Mr.A.Meyroos : Burgermeester:1916-1920

2 : Ir.G.J.Dijkermen: Burgermeester:1920-1926

3 : H.J.Bussemaker: Burgermeester:1926-1932

4 : Ter Poorten: Burgermeester:1932-1936

5 : MHW Van Helsdingen: Burgermeester:1936-1942

6 : Mr.W.A.H.Fuchter: Burgermeester:1942(Jan-Feb)

7 : Radjamin Nasution: Pejabat Walikota:1942-1943

8 : Takahashi Ichiro: Shi Tyo:1943-1945

- Radjamin Nasution: Asisten Shi Tyo:1943-1945

9 : Radjamin Nasution: Walikota:1945(Ags-Nov)

10 : Mr.C.J.C. Becht: Kepala Urusan Haminte: 1945 (Nov)

11 : Mr.Indrakoesoema: Walikota:1945-1946

12 : Mr.Soerjadi: Walikota:1946-1950

13 : Doel Arnowo: Walikota:1950-1952

14 : Moestadjab Soemowidigdo: Walikota:1952-1956

15 : R.Istidjab Tjokrokoesoemo: Walikota:1956-1958

16 : dr.R.Satrio Sastrodiredjo: Walikota:1958-1964

17 : Moerachman, SH: Walikota:1964-1965

18 : R.Soekotjo: Walikota:1965-1969

19 : R.Soekotjo: Walikota Kotamadya:1969-1974

20 : HR Soeparno: Walikotamadya:1974-1979

21 : Drs.Moehadji Widjaja: Walikotamadya: 1979-1984

22 : dr.Poernomo Kasidi: Walikotamadya:1984-1989

- Drs.H.Soenarjo: Wakil Walikotamadya:1988-1989

23 : dr.H.Poernomo Kasidi: Walikotamadya:1989-1994

- Drs.H.Soenarjo: Wakil Walikotamadya:1994-1992

- Drs.Istiono Sunarto: Wakil Walikotamadya:1992-1994

24 : H.Sunarto Sumoprawiro: Walikotamadya:1994-2000

- Drs.Istiono Sunarto: Wakil Walikotamadya:1994-1995

- Drs.H.Wardji: Wakil Walikotamadya:1995-2000

25 : H.Sunarto Sumoprawiro: Walikota:2000-2002

- Drs.Bambang Dwi Hartono,MPd: Wakil Walikota:2000-2002

26 : Drs.Bambang Dwi Hartono,MPd: Walikota:2002-2005

27 : Drs.H.Chusnul Arifien Damuri,MSi: Pj.Walikota:2005(7 Maret- 30 Agst)

28 : Drs.H.Bambang Dwi Hartono,MPd: Walikota:2005-2010

- Drs.H.Arif Afandi: Wakil Walikota:2005-2010

29: Ir.Tri Rismaharini,MT: Walikota:2010-2015

-Drs.H.Bambang Dwi Hartono,MPd:Wakil Walikota:2010-2015

Dari urutan kepala pemerintahan Kota Surabaya sejak berbentuk gemeente yang dipimpin burgermeester di zaman penjajahan Belanda, hinggaShi Tyo pada penjajahan Jepang, kemudian Walikota mulai zaman kemerdekaan sampai sekarang, walikota pertama Surabaya adalah Radjamin Nasution.

Ternyata, Pemkot Surabaya menyadari hal ini. Dalam “buku kerja” tahun 2006, pada halaman 23, nama Radjamin Nasution sudah diletakkan pada urutan pertama nama-nama walikota Surabaya sejak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Berikut nama walikota kedua dan ketiga, Mr Indra Koesoema dan Mr Soerjadi. Begitu pula dengan nama dr.Satrio dan Moerachman,SH.

Diperoleh informasi, saat ini Pemkot Surabaya sedang berusaha mencari foto ke empat orang itu untuk dipajang di tempat-tempat resmi di balaikota dann kantor Pemkot Surabaya.

Tidak hanya foto-foto mantan walikota Surabaya yang seharusnya dilengkapi, tetapi juga perlu menelusuri jejak langkah kepemimpinan mereka. Para saksi mata dan saksi sejarah yang masih hidup sekarang ini, selayaknya memberi masukan ke Pemerintah Kota Surabaya.

Warga kota Surabaya juga menginginkan, apabila pada peringatan Hari Jadi Surabaya, tiap tanggal31 Mei, dilaksanakan ziarah ke makam-makam mantan walikota Surabaya yang terpencar di tiga tempat. Ada yang di pemakaman Rangkah, ada yang di TPU Ngagel dan TMP 10 November Jalan Mayjen Sungkono. ***

Mata Sipit Membelalakkan Mata Dunia

Dunia

Kini Berinvestasi

Ke Negeri China

Laporan: Yousri Nur Raja Agam

Budaya masyarakat China kini, hidup di rumah susun (flat)

Budaya masyarakat China kini, hidup di rumah susun (flat)

KEMAJUAN yang dicapai pemerintahan China setelah berakhirnya rezim Mao Tse Tung (Mao Zedong) dan beralih ke era Deng Xiaoping, kini benar-benar membelalakkan mata dunia. China tidak lagi menjadi negeri “di balik tirai” yang dikelilingi tembok tinggi yang angkuh. Kini, China yang komunis itu sudah membuka gerbangnya lebar-lebar dan menjadi negara sosialis kapitalis.

Memang, julukan itulah yang tepat disandang negara Tiongkok itu sekarang. China tidak lagi menjadi kawasan tertutup bagi investasi dari luar. Justru kini, dunia sedang berlomba-lomba menancapkan paku bumi investasinya di negeri China itu. Tidak sedikit tenglang yang pulang ke negeri leluhurnya. Mereka membawa kekayaan yang diperoleh di perantauan setelah menjadi konglomerat.

Tidak hanya itu, hampir seluruh negara maju di dunia ini kini pun membangun pabrik, industri, pusat-pusat perdagangan, gedung-gedung pencakar langit dan berbagai properti lainnya di sana. Inilah perubahan zaman yang dilakukan China semenjak pemerintahan RRT (Republik Rakyat Tiongkok) dikuasai Deng Xiaoping awal tahun 1980-an.

Ketika saya bersama rekan H.Hadiman Santoso mantan wartawan Harian Surya dan Fery Is Mirza mantan wartawan Harian Jawa Pos, berkunjung ke beberapa kota di China, di akhir musim dingin, Maret 2007 lalu, banyak cerita dan kenyataan yang kami saksikan. Begitu banyak pengalaman sebagai bekal yang saya peroleh untuk penulisan. Rasanya, tidak akan habis untuk dituangkan secara bersambung sampai kapan pun..

Salah satu yang menonjol sekarang ini, adalah kegiatan pembangunan industri di wilayah China daratan itu. Sekarang, hampir seluruh negara “kaya” di dunia sudah menapakkan kakinya di China. Industri apa saja ada di sini. Tidak hanya mobil-mobil Jepang yang menggerayangi jalan-jalan tol di dalam dan luar kota di China. Hampir seluruh merek mobil buatan Amerika dan Eropa, juga Korea ada di China. Pabriknya dibangun di China.

Motor China

Kendati sepedamotor “diharamkan” di kota Beijing dan beberapa kota besar lainnya di China, karena asap knalpotnya dianggap pencemar lingkungan dan penyebab kecelakaan lalulintas terbesar, tetapi China memproduksi sepedamotor secara besar-besaran untuk ekspor. Salah satu negara pengimpor mochin (motor China) terbesar adalah Indonesia.

Hampir seluruh kegiatan industri berkembang dengan pesat di kawasan-kawasan industri yang berbasis di kota-kota kabupaten. Otonomi daerah benar-benar terlihat dari pertumbuhan pembangunan. Satu wilayah berlomba dengan wilayah lain untuk menarik investasi dari luar negeri secara langsung. Pemerintah daerah setempat membuat Perda (Peraturan Daerah) yang memberi kemudahan dan keringan – termasuk pajak. Sehingga, tidaklah mengherankan kalau investor asing berebut menukarkan uang dolar, euro, pound sterling,, franc, gulden, mark, yen, riyal, peso, bath, ringgit dan juga rupiah ke mata uang yuan. Di sana para industriawan mengolah segalanya menjadi produk untuk kebutuhan 1,6 miliar penduduk China dan sebagian besar lagi diekspor ke berbagai negara.

Pabrik dan kawasan industri tersebar di seluruh wilayah China

Pabrik dan kawasan industri tersebar di seluruh wilayah China

Indonesia, adalah salah satu negara pengimpor terbesar barang buatan China. Hampir seluruh barang elektronik, mainan anak-anak, obat-obatan, makanan dan minuman, serta kebutuhan rumahtangga dibuat di sini. Dan yang menarik, harga jual barang-barang China sangat murah. Akibatnya, barang buatan dalam negeri di berbagai negara “hancur” akibat murahnya barang-barang buatan China.

Nah, mengapa barang-barang China bisa dijual dengan murah? Ternyata rahasianya terletak pada kemudahan berinvestasi. Para investor yang menanamkan modalnya di  China tidak pernah merasa dipersulit oleh birokrasi dan perizinan.

Salah satu yang juga menguntungkan di Tiongkok dan berbeda dengan di negara kita adalah kepemilikan tanah. Di sana, tanah merupakan milik negara dan dikuasai sepenuhnya leh negara. Sehingga untuk kepentingan pembangunan, hampir tidak ada permasalahan hambatan akibat ganti rugi. Walaupun demikian, hak-hak raklyat yang tergusur sangat diperhatikan, sehingga di sana tidak ada istilah ganti rugi, tetapi sebaliknya, ganti untung.

Bukan tidak ada kasus dalam pembebasan tanah. Tahun 2006 lalu, berdasarkan data, sebanyak 3.593 orang dihukum akibat terlibat dalam 130 ribu kasus pembebasan tanah secara ilegal. Kasus pembebasan tanah secara ilegal terjadi akibat kebutuhan tanah untuk lahan industri. Tidak sedikit pejabat, dengan dalih pembangunan kawasan industri untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melakukan perampasan tanah yang dikuasai rakyat secara ilegal.

Berbagai anekdot muncul di sana berkaitan dengan kemudahan berinvestasi. Sebagai contoh, kata Dahlan Iskan – komisaris Jawa Pos Group yang juga berinvestasi di China – untuk menarik investor, ada kepala daerah yang mengeluarkan keputusan yang dianggap nyeleneh. Misalnya, bahwa untuk para investor bangsa asing, apabila mengendarai mobil dalam mabuk, kemudian menabrak, dia dibebaskan dari hukum.

Anekdot dan juge seperti itu muncul, sebagai gambaran perlombaaan antar satu wilayah dengan wilayah lainnya menarik investor asing menanamkan modalnya di sana.

Transportasi

Kemudahan berinvestasi di China, juga ditunjang sepenuhnya oleh pemerintahan pusat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan raya yang lebar, lurus dan lancar. Transportasi seluruh wilayah antar desa, kecamatan, kabupaten, kota dan provinsi sudah terhubung dengan jalan raya seperti jalan tol, dengan dua jalur dan masing-masing jalur terdiri tiga sampai lima lajur.

Naik bus umum antarkota bagaikan naik bus pariwisata dengan terminal yang ditata rapi seperti bandara di Indonesia

Naik bus umum antarkota bagaikan naik bus pariwisata dengan terminal yang ditata rapi seperti bandara di Indonesia

Hubungan antarkota, juga ditingkatkan dengan pembangunan bandara (bandar udara) baik tingkat regional, maupun berstandar internasional. Untuk daerah timur, di samping bandara juga pembenahan pelabuhan laut. Bahkan, hampir tiap provinsi di China mempunyai maskapai penerbangan.

Bandara Beijing, ibukota RRT, merupakan bandara tersibuk di China. Hampir tiap lima menit melalui dua landasan pacu, silih berganti pesawat terbang yang tinggal landas dan mendarat. Di samping penerbagangan lokal, juga penerbangan internasional.

Saat menunggu keberangkatan ke kota Yantai, saya duduk di anjungan bandara Beijing. Dari badan pesawat yang meluncur di pelatara parkir bandara, hampir seluruh nama penerbangan dari berbagai negara saya lihat. Saya catat satu persatu. Di samping Garuda Indonesia, ada TWA (Trans World Air Lines) dan Pan Am dari Amerika, Brithis Airways (Inggris), Royal Brunai (Brunai Darussalam), Alitalia (Itali), SAS (Scandinavia Airline System), Aeroflot (Rusia), Qantas (Australia), KAL (Korean Air Lines), JAL (Japan Air Lines),  Philipine Airlines (Filipina), Thai (Thailand), SIA (Singapura), MAS (Malaysia), Israel-AL (Israel), Airpac (Fiji), PIA (Pakistan), UTA (Francis), Arabic (Arab), Eqips (Mesir) dan tentu ada yang lain.

Penerbangan lokal antarprovinsi, di antaranya terlihat maskapai penerbangan China Eastern, China Western, China Northern, Shanghai Air, Shandong Air, Hainan dan yang terbesar adalah Air China.

Reformasi Birokrasi

Di samping penyedian fasilitas dan kemudahan, pemerintah China juga sedang gencar-gencarnya melakukan reformasi di birokrasi. Kebetulan saat kami berada di China, sedang berlangsung kongres tahunan parlemen Tiongkok di Tiananmen, Beijing. Salah satu keputusan kongres yang disampaikan oleh PM (Perdana Menteri) Tiongkok, Wen Jiabao, adalah tekad untuk memberantas korupsi.

Pada siaran televisi, yang disebarluaskan ke seluruh negara, Wen Jiabao, mengakui, penyakit korupsi masih mengakar di tubuh birokrasi.  Ini, katanya, karena sistem top down (dari atas ke bawah) yang digunakan dalam politik Tiongkok selama ini.

PM Tiongkok ini tidak segan-segan mengakui, bahwa korupsi menjadi penyakit yang serius di negaranya. Tidak jarang, korupsi itu juga melibatkan pejabat tinggi di negaranya. Terjadinya korupsi, akibat terpusatnya kekuasaan pada salah satu pihak tanpa pengawasan.

Untuk itulah, ujar Wen, pada penutupan kongres tahunan itu, ia menegaskan ditingkatkannya reformasi di bidang birokrasi. Ia juga akan memangkas hal-hal yang berhubungan dengan pemeriksaan dan persetujuan yang berbelit-belit.

Menurut PM yang berkuasa sejak tahun 2003 itu, kalangan pemerintahan yang berwenang memeriksa dan memberi persetujuan, rentan dengan korupsi dan berkolusi dengan pengusaha.

Secara jujur pula, Wen mengakui, sepanjang tahun 2006 lalu, tidak kurang dari 100 ribu kader PKC (Partai Komunis China) yang berkuasa dihukum akibat korupsi. Salah satu kasus terbesar adalah yang melibatkan ketua PKC Shanghai, Cheng Liangyu bersama 20 pejabat dan pengusaha dengan kerugian negara 32,2 juta yuan lebih atau sekitar Rp 36,4 miliar.

Tetapi, secara berangsur-angsur otonomi diserahkan ke daerah bawah. Dengan demikian, pemerintahan daerah dapat menarik investasi lebih banyak lagi demikia kemajuan rakyat Tiongkok, katanya.

Dan ada yang perlu dicatat dari hasil kongres tahunan  parlemen Tiongkok itu, yakni untuk pertamakali adanya “pengakuan hak atas properti pribadi”. Dengan keputusan itu, tidak mudah lagi bagi pejabat melakukan pengambilalihan tanah warga secara paksa.

Mudah-mudahan tulisan yang saya laporkan ini ada yang dapat diambil hikmahnya.

——–

40 % Warga China

Belum Bisa Berbahasa

Mandarin

Ternyata dari 1,6 miliar jiwa penduduk yang menghuni daratan Tiongkok atau China, baru sekitar 60 persen yang bisa berbahasa Mandarin. Kendati bahasa Mandirin sudah dicanangkan menjadi bahasa nasional China, dari data yang diperoleh sebanyak 640 juta jiwa warga RRC (Republik Rakyat China)belum bisa berbahasa Mandarin. Mereka masih menggunakan bahasa lokal atau bahasa daerah. Akbatnya, apabila warga China dari provinsi yang satu ke provinsi yang lain banyak yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik.

INDONESIA memang jauh lebih baik dianding negara RRC, dalam berkomunikasi antar sesama warganegaranya. Betapa tidak, sejak Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, di Indonesia sudah ada kesepakatan mempunyai bahasa persatuan, yakni Bahasa Indonesia.

China, yang selama ini kita kenal mempunyai bahasa China, ternyata bukan bahasa persatuan. China yang ada di Indonesia ini masih menggunakan bahasa daerah asalnya. Ada yang berasal Kanton menggunakan bahasa Kanton, ada yang menggnakan bahasa Fujian, bahasa Hakka, bahasa Zhung, bahasa Wu dan bahasa-bahasa daerah asal lainnya.

Sedangkan bahasa Mandarin yang selama ini kita anggap sebagai bahasa nasional RRC, ternyata belum sepenuhnya dimengerti oleh penduduk daratan China. Justru, bahasa mandarin lebih memasyarakat di Taiwan, kepulauan Formosa.

Waktu pemerintahan Mao Tse Tung atau Mao Zedong, sudah ada upaya menjadikan bahasa Mandarin sebagai bahasa kesatuan. Tetapi, beberapa daerah di China masih betahan dengan bahasa daerahnya.

Sewaktu berada di China, awal Maret 2007 lalu, saya melakukan pelacakan tentang penggunaan bahasa Mandarin di China. Ternyata, menurut  pemandu yang mendampingi saya di beberapa provinsi yang saya kunjungi, belum semua provinsi menggunakan bahasa Mandarin.

Memang bahasa Mandarin termasuk bahasa yang paling banyak digunakan warga China. Berdasar data yang diperoleh di perpustakaan, diperkirakan sudah ada 960 juta dari 1,6 miliar warga RRC yang bisa berbahasa Mandarin. Sisanya masih menggunakan bahasa lokal atau daerah.

Ada 10 bahasa daerah di China, yakni bahasa Kanton yang dipergunakan sebaga bahasa sehari-haril oleh tidak kurang 200 juta orang, bahasa Hakka (100 juta), bahasa Wu (60 juta), bahasa Min (50 juta), bahasa Zhung (20 juta), bahasa Uighur (19 juta), bahasa Yi (16 juta) bahasa Tong (2 juta) dan bahasa Buyi (2 juta). Selain itu, masih ada yang menggunakan bahasa Inggris China di Hongkong.

Tembok China

Ada yang menarik dalam perjalanan saya di China. Di negeri Tirai Bambu itu, sejarah tercatat dengan rapi. Kehidupan 3000 tahun sebelum masehi (SM) sudah dicatat. Dinyatakan waktu itu sudah ada desa dan perkampungan di lembah Sungai Kuning, China.

Secara jelas pula diungkap bahwa Tahun 1523-1027 SM, dinasti Shang sebagai dinasti pertama di China mengatur pemerintahan dan rakyat. Peradaban waktu itu, sudah ada kelas-kelas petani, kelas tukang, kelas pendeta, kelas bangsawan dan raja yang merangkap sebagai pendeta.

Tahun 1027-256 SM, kekuasaan berpindah kepada dinasti Chou. Pada zaman ini hidup ahli filsafat Konfusius, Lao Tse dan Men Tse. Ajarannya berkembang di China tahun 551-479 SM. Sewaktu dinasti Chin memerintah dan mempersatukan China tahun 221-207 SM, kaisar Chin memulai pembangunan tembok besar (great wall) di pegunungan China.

Ketika dinasti Han memerintah tahun 202 SM – 220 M, agama Budha mulai dikenal. Suasana dalam masa damai yang panjang. Kegiatan politik secara bertahap melakukan perluasan pengaruh dan wilayah. Saat ini pula budaya dan kesenian mulai berkembang. Tetapi, tahun 317-589, China terpecah menjadi dua bagian: Utara dan Selatan yang masing-masing dipimpin oleh dinasti.

Tahun 585-608, pembangunan tembok China dilanjutkan untuk menghadang serangan Turki dan Mongol dari Asia Tengah. Tahun 618-906, dinasti Tang melakukan perang besar-besar ke negara tetangga. Pasukan China menguasai Korea, menyerang ke  Mongolia, Nepal, Tibet dan Turkistan. Ini merupakan zaman keemasan China pada zaman itu.

Keadaan berubah, tahun 960-1279, China berada di bawah kekuasaan dinasti Sung. Saat ini merupakan masa jaya pendidikan dan kesenian. Apalagi ketika tahun 1271, Marcopolo dari Venesia dengan kapal laut berkunjung ke China, hubungan luar negri mulai berkembang.

Sampai di Indonesia

Kegiatan pelayaran dan hubungan luar negeri benar-benar pesat. Bahkan tahun 1279-1368, saat kekuasaan di China beralih ke dinasti Yuan (bangsa Mongol) kegiatan armada laut makin kuat. Saat inilah kekuasaan tertinggi berada di bawah Khublai Khan, cucu dari Jenghis Khan. Sampai-sampai mereka mengadakan hubngan dengan kerajaan-kerajaan di Indonesia.

Dalam catatan sejaran bangsa Indonesia, di zaman inilah berdiri kerajaan Majapahit, setelah pasukan Raden Wijaya berhasil mengusir armada tentara Tar-tar yang dikirim Khublai Khan

Tahun 1368-1644, dinasti Ming berhasil mengambilalih kekuasaan dan mengusui bangsa Mongol dari China. Saat itu, dinasti Yi (1342-1410) di Korea menyatakan tetap setia kepada China.

Petualangan bangsa Eropa semakin banyak mancari tempat-tempat baru. Begitu pula dengan ke China. Tahun 1557, bangsa Portogis menduduki Makao dan berdagang dengan China.

Tahun 1644-1712, dinasti Ching dari bangsa Manchu dari Siberia mengambilalih kekuasaan di China. Tahun 1735-1796, kaisar Chien Lung (dinasti Ching) memerintah dengan wilayah China yang semakin luas. Tahun 1751 China  menyerbu Tibet.

Sejarah China mencatat, tahun 1848-1865, terjadi pemberontakan Taiping yang mengancam posisi pemerintahan China. Dinasti Ching semakin tertekan dan lemah. Kemudia tahun 1894-1895, terjadi peperangan dengan Jepang. Tentara Jepang berhasil merebut Pascadora dan Pulau Formosa (Taiwan) dari China.

Ada hal yang menarik. Tahun 1898-1900, terjadi pemberontakan oleh bangsa Boer di China. Perkumpulan rahasia jago Kungfu China berusaha mengusir orang asing dari daratan China. Namun mereka kalah oleh keuatan gabungan Inggris, Rusia, Jerman dan Amerika Serikat. Kemudian tahun 1899, China dipaksa menggunakan “politik pintu terbuka”, dengan demikian semua bangsa mempunyai hak berdagang di China.

Revolusi China

Perkembangan China terus berlalu. Tahun 1911, terjadi revolusi di China di bawah piminan Sun Yat Sen. Akhirnya kaisar Manchu turun takhta.

Tahun 1912, berdiri Republik China dengan presiden pertama Sun Yat Sen.

Tahun 1917, terjadi perang saudara di China. Koumintang sebagai partai nasionalis pimpinan Sun Yat Sen membentuk pusat pemerintahan di Kanton dan berperang menghadapi pemberontak yang barada di wilayah utara.            Tahun 1921, berdiri Partai Komunis China (PKC) yang secara resmi menyatakan bersekutu dengan Koumintang.

Chiang Kai Sek, tahun 1926 memimpin tentara Koumintang dan menaklukkan daerah utara. Namun setelah kemenangan itu, Koumintang pecah dengan PKC. Sehingga pada tahun 1927, Chiang Kai Sek mengusir Komunis dari Shanghai dan membunuh banyak pemimpin PKC. Sejak saat itu terjadi perang saudara antara pengikut Koumintang lawan PKC.

Setahun kemudian, tahun 1928, Chiang Kai Sek membentuk pemerintahan nasionalis di Nanking dan mendapat pengakuan internasional.

Sedangkan tahun 1931, Mao Tse Tung terpilih sebagai Ketua RRC (Republik Rakyat China).

Tahun 1934, Chiang Kai Sek mengusir pendukung komunis yang berada di wilayah selatan ke wilayah utara, sehingga mereka melakukan Long March dan akhirnya menetap di Yanan

Perang saudara yang didasari ideologi berbeda itu, akhirnya tahun 1950, Mao Tse Tung mengalahkan Chiang Kai Sek. Rezim komunis menguasai seluruh daratan China dan Chiang Kai Sek mendirikan pemerintahan nasionalis di Taiwan.

Sejahar China berubah lagi. Tahun 1963, China menyatakan permusuhan dengan Uni Sovyet. Tahun 1964, China meledakkan bom nuklir ciptaannya untuk pertama kali. Berikutnya tahun 1967, China melakukan percobaan bom Hydrogen untuk pertama kali.

Tahun 1976, Mao Tse Tung (Mao Zedong) wafat. Kemudian pemerintahan China beralih kepada Deng Xiaoping. Di masa pemerintahan Deng Xiaoping inilah, tahun 1984, China menerima pengembalian Hongkong dari Inggris. ***.

Berkelana ke Negeri China

Si Mata Sipit

Membelalakkan

Mata Dunia

Menjelajahi tembok raksasa atau great wall

Menjelajahi tembok raksasa atau great wall

Laporan:

Yousri Nur Raja Agam

LUAR BIASA China. Kini China memang luar biasa! Tidak seperti cerita masa lalu dalam dunia persilatan dan khungfu. Kini China yang dikenal juga sebagai negara Tiongkok itu memang sedang bangkit. Negara dengan penduduk terbesar di dunia ini benar-benar sedang membuat kejutan. Manusia mata sipit yang menghuni hampir separuh daratan Asia itu sedang membelalakkan mata manusia di se antero jagat raya ini.

Dunia pun kini tercengang. Tidak menyangka kalau negara Komunis yang dulu dikenal miskin itu sedang mencanangkan diri, bahwa Tahun 2010, tidak ada lagi warganya yang miskin. Seluruh penduduk Cina yang berjumlah 1,6 miliar jiwa lebih itu “harus” hidup layak. Tidak ada lagi yang tidak punya rumah, menjadi penganggur dan apalagi tidak bisa makan. Semua kebutuhan pokok masyarakat Tionghoa dipenuhi.

Sejak kepala pemerintahan China berada dalam genggaman tangan Deng Xiaoping tahun 1990-an, negara berlambang naga itu sedang menggelinjang, sehingga benar-benar menggoyang dunia.

China tidak lagi menjadi wilayah tertutup yang ditakuti orang asing. Deng Xiaoping membuka gerbang negerinya lebar-lebar. Membuka investasi dan mengundang para investor untuk “menjajah” negaranya dengan dolar, yen dan euro. Membangun industri dan pabrik-pabrik besar tanpa batas.

Kini, RRT (Republik Rakyat Tiongkok) tidak mungkin lagi disebut sebagai negara komunis terbesar di dunia setelah ambruknya negara Uni Sovyet. Tiongkok atau negeri China boleh disebut sebagai negara “Sosialis Kapitalis Modern”.

Hanya dalam waktu 17 tahun, negeri ini sudah berubah total. Menjadi kawasan dunia sangat modern yang mampu meninggalkan kemodernan dunia barat, Eropa dan Amerika.

“Maaf saya tidak berbohong. Ini sungguh kenyataan. Bukan karena saya baru saja berlanglang buana dan berpetualang di beberapa kota, desa, gunung, lembah, sungai dan pantai di negara tirai bambu itu. Tidak hanya kota yang dibangun. Desa yang dulu kumuh dan menjijikkan, kini menjadi cantik dan indah.”

Saya bersama dua sahabat, H.Hadiaman Santoso mantan wartawan Harian Surya dan Ferry Is Mirza mantan wartawan Jawa Pos bertandang ke China, belum lama ini Dari Surabaya, via Jakarta dan Singapura, kami langsung terbang ke ibukota China, Beijing yang dulu disebut Peking.

Hujan salju menyambut kedatangan kami. Udara di bandara Beijing menunjukkan angka minus 7 derjat Celcius. Gedung, jalan dan pohon-pohon yang rontok tertutup salju. Hanya pohon cemara yang masih berdaun, tetapi di atasnya diselimuti oleh salju.

Tommy Wong, menyambut kedatangan kami. Pemandu wisata yang fasih berbahasa Indonesia ini langsung membawa kami bertamasya ke Forbidden City (kota terlarang). Kami turun di depan lapangan Tiananmen yang berhadapan dengan gedung pusat pemerintahan China. Saat itu pengamanan di jalan-jalan raya cukup ketat. Banyak polisi yang mengenakan pakaian tebal dan jas hujan berjaga-jaga di pinggir jalan. Termasuk jalan yang kami lewati menuju kota terlarang.

Kota terlarang adalah obyek wisata paling ramai dikunjungi wisatawan mancanegara di kota Beijing. Kawasan kota terlarang yang luasnya mencapai 25 kilometer per-segi adalah peninggalan raja-raja China sejak dinasti Yuan, Ming, Qing dan seterusnya. Di dalamnya, terdapat berbagai peninggalan masa lalu. Di samping gedung istana, perumahan – termasuk rumah 200 selir raja – taman dan kolam renang, kantor, perpustakaan, ruang sidang dan taman, terdapat berbagai fasilitas pemerintahan lainnya.

Saat berada di Beijing

Saat berada Kota Terlarang, Beijing

Salju masih menutupi atap-atap bangunan dan jalan di dalam kota terlarang itu. Untunglah kami sudah mengenakan sarung tangan dan tutup kepala sebagai pengusir dingin saat itu.

Hampir semua pelosok jalan di kota Beijing kami telusuri. Naluri wartawan memang serba aneh, sehingga yang kami caripun yang tidak umum didatangi orang. Kamipun mengikuti paket yang biasanya disuguhi kepada wisatawan seperti ke rumah promosi teh oleh Dr.Tea dan pengobatan tradisional China, berupa akupuntur dan pijat refleksi. Juga mengunjungi pusat produksi dan penjualan batu giok, mengunjungi taman-taman tua peninggalan kerajaan China masa lalu, tembok China yang disebut Greet Wall dan sebagainya.

Yang tidak kami lewatkan selama berada di Kota Beijing adalah mengunjungi berbagai proyek raksasa menghadapi Olypiade 2008. Stadion-stadion raksasa, baik lapangan terbuka maupun tertutup untuk berbagai cabang olah raga sedang dipersiapkan di Beijing. Suasana menyambut Olympiade Beijing 2008 terasa di mana-mana. Sejak menginjakkan kaki di bandara, sampai ke tengah kota, demam Olympiade sudah tercipta.

Sebenarnya, banyak sekali yang dapat diceritakan tentang China. Namun, tentu tidak bisa hanya dengan satu dua halaman koran. Tiga empat buku pun rasanya mampu menyulap berbagai yang dialami itu. Kendati demikian, sedikit cuplikan dapat memberi gambaran kepada kita tentang China masa kini dan yang akan datang.

JALAN TOL

Ternyata, salah satu kunci keberhasilan pembangunan di China sekarang ini adalah membangun infrastruktur secara besar-besaran. Jalan raya penghubung antardaerah dijadikan prioritas utama. Jalan-jalan raya antarkecamatan dan antarkabupaten, serta antarprovinsi dibangun lebih dahulu. Tidak ada lagi daerah terpencil, apalagi terisolasi dan tertinggal, terutama di belahan timur.. Itulah perwujudan modernisasi yang dilakukan Deng Xiaoping yang diteruskan pemerintahan sekarang.

Yantai, sebuah kota kecil, kota kecamatan yang saya kunjungi bersama Hadiaman Santoso dan Ferry Is Mirza adalah salah satu contoh. Dulu sebelum tahun 1990, Yantai adalah “desa” yang terletak di pinggir pantai Teluk Korea. Di sini hidup kaum nelayan tradisional yang miskin. Mereka melaut tiap hari untuk mencari ganjal perut dan menghidupi keluarga.

Kami bertiga dijamu CEO Jawa Pos H.Dahlan Iskan di Kota Yantai, Tiongkok bagian Utara yang berbatasan dengan Laut Korea

Kami bertiga dijamu CEO Jawa Pos H.Dahlan Iskan di Kota Yantai, Tiongkok bagian Utara yang berbatasan dengan Laut Korea

Tidak jarang, nelayan di desa-desa sekitar Yantai ini hanyut dan terseret angin ke negara tetangganya, Korea Utara atau Korea Selatan, bahkan ke negara Sakura, Jepang.. Tidak sedikit pula di anara mereka menjadi bulan-bulanan Angkatan Laut dua negara Ginseng yang berseteru sepanjang masa itu.

Sekarang semua itu sudah menjadi cerita usang. Kini tidak ada lagi nelayan tradisional di Yantai. Mereka kini sudah kaya. Punya kapal dan alat penangkap ikan modern. Mereka tidak lagi menjual ikan dengan menjajakannya di pasar-pasar becek. Ikan-ikan hasil tangkapan mereka kini langsung dikirim ke restoran-restoran, supermarket dan ke pabrik-pabrik pengalengan ikan.

Kami memang sengaja datang ke kota Yantai. Saat kami berada di Beijing, kami diminta oleh tokoh pers kita, H.Dahlan Iskan, untuk berkunjung ke sana. Kebetulan Dahlan Iskan sedang berada di kota industri itu. Kami tidak langsung bertemu Dahlan Iskan ketika menginjakkan kaki di bandara Yantai. Kami disambut Mr.Robert, staf Dahlan Iskan di sana. Menurut Robert, pagi itu Dahlan sedang mengadakan pertemuan dengan direktur PLN (Perusahaan Listrik Negara) di sana.

Setelah kami berada di lantai 15 hotel Youyi, tempat kami bertiga menginap, kami bertemu dengan Dahlan Iskan. Ternyata benar, Dahlan usai mengadakan pertemuan dengan pengelola pusat listrik di provinsi Shangdong yang beribukota Qingdao itu. Kabarnya, Dahlan sedang membina hubungan bisnis untuk pembangunan PLTU (Pembangkit Listrik tenaga Uap) di sana. Sekaligus membangun PLTU di Kalimatan Timur (Kaltim) Indonesia.

Tidak hanya itu, dari beberapa sumber yang mengetahui tentang sepakterjang Dahlan di negara China itu, juga mengatakan bahwa Dahlan mempuyai berbagai bisnis, selain PLTU. Dia juga punya usaha pengalengan buah-buahan. Wilayah Yantai dan sekitarnya memang dikenal sebagai penghasil buah apel dan pir terbaik di China. Namun nanas tidak bisa tumbuh di sana. Nah, Dahlan sekarang punya perkebunan nanas di Kalimantan Barat. Nanas itu dikirim ke pabriknya di yantai untuk dikemas dan kemudian dipasarkan di China, serta untuk di ekspor.

Memang, penduduk Yantai dulu di samping nelayan adalah petani apel dan pir. Sekarang mereka kebanyakan sudah beralih profesi menjadi tenaga kerja perusahaan asing sebagai buruh pabrik.

Yantai yang pada tahun 1980-an tidak tercantum dalam peta, sekarang sudah berubah total. Desa ini sudah menjadi kota besar. Mempunyai walikota sendiri. Menjadi kota industri. Jalan-jalan dalam kota ini lebar-lebar. Rata-rata dari dua jalur jalan berpapasan, masing-masing jalur mempunyai tiga sampai lima lajur.

Kendati Yantai dulu hanya desa yang menjadi ibukota kecamatan, tetapi di sini ada bandara (bandar udara), pangkalan kapal terbang Angkatan Udara China. Berbagai jenis pesawat terbang pemburu dan penangkis serangan udara berjejer menghadap pantai di kota yang berbukit itu. Di bandara Yantai ini pula, salah satu pusat pengendalian pertahanan udara dan laut Pemerintah China.

Jalan raya penghubung dengan desa, kecamatan, kota dan kabupaten tetangga semua jalan tol yang lebar, lurus dan mulus.

Bayangkan, dengan kecepatan stabil antara 80 kilometer per-jam hingga 120 kilometer per-jam, bus umum yang saya naiki dari Yantai ke Qingdao, hanya ditempuh dalam waktu kurang dari empat jam.

Kota Qingdao yang juga terletak menghadap Laut Korea, sekarang sedang dipersiapkan menjadi arena pertandingan cabang olahraga (cabor) air Olypiade 2008. Di kota Qingdao ini sekarang sedang dibangun stadion olahraga untuk lomba dayung, selancar angin, ski, renang, loncat indah, polo air dan menyelam. ***

Yantai yang merupakan kota kabupaten baru di Provinsi Shangdong. Jaraknya dari ibukota provinsi yang bernama Qingdao sekitar 550 kilometer. Wilayah penghasil buah apel dan pir di China bagian timur laut ini, kini benar-benar bersolek. Kota ini dipersiapkan untuk 50 sampai 100 tahun ke depan. Di sini, tidak ada lagi rumah dan bangunan satu atau dua lantai. Semua serba bertingkat dan mencakar langit. Penduduk yang berjumlah sekitar 600 ribu jiwa menempati flat-flat dengan ketinggian rata-rata 20 lantai. Rumah susun itu disediakan oleh pemerintah kota dengan fasilitas tiap keluarga punya tiga kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur, satu kamar mandi dengan wc.

Tarian indah yang dibawakan para gadis-gadis China untuk para wisatawan

Tarian indah yang dibawakan para gadis-gadis China untuk para wisatawan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.