Singapura Bakar Sampah dengan Incenerator

Singapura Bakar Sampah

Dengan Mesin Incenerator

Yousri Nur Raja Agam MH

Oleh: Yousri Nur Raja Agam  *)

PENGELOLAAN sampah di Kota Surabaya, merupakan masalah yang tak pernah berakhir. Bayangkan, penduduk kota Surabaya yang berjumlah sekitar 3 juta orang. Belum lagi pada siang harinya bertambah sekitar 2,5 juta orang bekerja dan mecari kehidupan di Kota Surabaya.  Jadi tidak kurang dari 5,5 juta orang menjadi sumber sampah domestik. Tiap orang diperkirakan memproduksi sampah 0,0029 meter kubik per-hari.

Berdasarkan perhitungan matematika, produksi sampah di Surabaya mencapai 15.950 meter kubik per-hari. Di samping itu, masih ditambah lagi dengan sampah yang dihasilkan pasar, pusat perbelanjaan dan kegiatan industri.

Bagi kota Surabaya, pengelolaan sampah sebanyak itu sudah tidak ada masalah. Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya sudah berpengalaman dalam pengelolaan sampah.. Ada yang diangkut dari 223 TPS (Tempat Pembuangan Sementara) dengan armada truk kontainer khusus sampah ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Ada juga di antaranya yang didaurulang di sekitar TPS atau depo sampah yang tersebar di seluruh pelosok kota.

Cerobong asap incenerator di Singapura dibuat tinggi, sehingga tidak mencemarkan lingkungan

Adipura Kencana

Kendati Surabaya merupakan kota penghasil sampah domestik terbesar ke dua di Indonesia setelah Jakarta, namun Kota Pahlawan ini merupakan pemegang predikat kota raya terbersih di Indonesia. Prestasi Surabaya meraih julukan Kota Adipura Kencana, merupakan tantangan yang harus dipertahankan. Keberhasilan itu, berkat upaya walikota Surabaya membina kesadaran dan peranserta masyarakat secara menyeluruh.

Salah satu yang menentukan dan merupkan tulang punggung Surabaya mampu menduduki tempat teratas dalam pengelolaan sampah di kota besar, adalah keberadaan “pasukan kuning”, yakni petugas kebersihan yang berseragam kuning. Tidaklah mengherankan, kepeloporan pasukan kuning dari Surabaya ini, kemudian ditiru oleh kota-kota lain di Indonesia.

Jadi, keberhasilan Pemkot Surabaya menanggulangi sampah, tidak semata-mata dilakukan oleh karyawan Dinas Kebersihan. Tetapi, 50 persen berkat peran pasukan kuning di RT, RW dan kelurahan yang dibiayai oleh warga secara langsung. Sedangkan pasukan kuning yang berstatus karyawan Pemkot Surabaya jumlah terbatas.

Sampah yang belum diangkut di jalan Surabaya

Dalam pengelolaan dan penanggulangan sampah di kota Surabaya, DKP mengoperasikan 17 unit alat berat berupa landfill, loader, bulldozer, exavator dan sweeper yang ditunjang 106 truk pengangkut sampah dari TPS ke TPA.

Diprotes

Masalah yang sering timbul dalam penanganan sampah di Surabaya di antaranya adalah reaksi dari warga sekitar TPA (Tempat Pembuangan Sampah). Pernah, akibat protes warga sekitar TPA Keputih, Sukolilo dan TPA Benowo yang menutup jalan menuju TPA, kota Surabaya menjadi kotor. Sampah menumpuk dan menggunung di mana-mana. Bahkan, bau busuk menyengat mencemarkan lingkungan.

Dulu Surabaya pernah punya TPA di Asemrowo dan Kenjeran (kawasan Pantai Ria Kenjeran). Ke dua TPA ini ditutup, karena sudah penuh. Ada lagi TPA di Lakarsantri seluas 8,3 hektar, terpaksa ditutup akibat diproters warga. Hal yang sama juga terjadi di TPA Keputih Sukolilo yang luasnya 40 hektar ditutup akibat protes warga di sekitar lokasi TPA.. Saat ini, TPA yang dioperasikan menampung seluruh sampah warga kota Surabaya adalah TPA Benowo. TPA ini dioperasikan  berawal dari luas 26,94 hektar dan sekarang sudah bertambah menjadi 37 hektar..

Dengan peralatan komputer mengendalikan dan memantau pembakaran sampah pada mesin Incenerator di Singapura

Incenerator

Surabaya pernan punya alat pemusnah sampah yang cukup membanggakan, yakni dengan instalasi pembakar sampah (incenerator). Mesin pembakar sampah “Caudaux” buatan Prancis itu merupakan andalan di tahun 1986 hingga 1998. Sebab, sekitar 200 ton sampah mampu dimusnahkan menjadi abu tiap hari. Abu bekas pembakaranpun bermanfaat untuk menimbun tumpukan sampah.

Namun begitulah, karena permasalahan biaya yang tidak seimbang dengan produksinya, tahun 1998 kegiatan incenerator di Keputih itu dihentikan. Bahkan, yang lebih menyedihkan lagi, akibat meningkatnya protes warga sekitar Keputih Sukolilo, akhirnya pertengahan tahun 2001, TPA Keputih juga ditutup. Saat itu, TPA Benowo masih dalam proses pembangunan. Setelah dikebut, akhirnya TPA Benowo dapat dioperasikan hingga sekarang. Dan TPA Benowo merupakan satu-satunya TPA samah di Kota Surabaya saat ini.

Memang, dalam kenyataannya, tidak seluruh sampah warga diangkut ke TPA Benowo. Ada juga yang didaurulang oleh warga, ada yang dibakar di incenerator mini yang ada di beberapa depo atau TPS. Sebagian lagi, ada yang langsung diangkut warga ke lahan kosong di belakang rumah dan untuk pengurukan lahan-lahan yang rendah.

Semi Tradisional

Kepala DKP Kota Surabaya, Hidayat Syah, mengakui, pengelolaan sampah di TPA Benowo masih tergolong semitradisional.

TPA Benowo masih menggunakan sistem open dumping yang dikombinasikan dengan sanitary landfill dalam pengolahan sampah. Sampah yang masuk dari TPS se-Surabaya masuk ke terminal sampah untuk di-compress. Sampah tersebut ditimbun setinggi empat meter ke dalam area-area yang telah disiapkan. Proses itulah yang disebut open dumping.

Timbunan sampah lalu dilapisi tanah setebal 30-50 sentimeter. Proses itu disebut cover soil. Ketebalan sampah dikontrol dengan mekanisme landfill. Artinya, sampah yang baru datang diletakkan di area-area yang masih kosong. Lahan yang baru ditimbuni sampah tidak bisa digunakan lagi sampai area yang lain habis dipakai.

Ketinggian maksimal sampah dua sampai tiga kali empat meter. Padahal, lahan yang ada terbatas. Dari TPA sampah di Benowo seluas 37 hektar itu, seluas 30 hektar digunakan untuk menimbun sampah. Sisanya untuk instalasi pengolahan limbah dan kantor operasional.

DKP Surabaya berencana menambah areal penimbunan sampah. Sebab, jumlah sampah yang masuk ke Benowo semakin bertambah. Ada kemungkinan arahnya mendekati kawasan stadion Gelora Bung Tomo (GBT). Tanah yang  masih milik warga itu bukan untuk penimbunan sampah, tapi sebagai buffer zone atau zona penyangga.

Zona penyangga ini akan ditanami aneka tumbuhan. Fungsinya, untuk sebagai tirai agar TPA Benowo tidak terlihat dari GBT dan penyerap bau. Tanaman itu dapat menyerap karbon dan nitrogen yang timbul dari sampah supaya baunya berkurang.

Memang, kata Hidayat Syah, TPA Benowo semula direncanakan khusus untuk sampah di Surabaya Barat. Batas waktu pemanfaatannya diperkirakan hingga 15 tahun lagi. Tapi, karena TPA di Keputih yang dulunya untuk sampah Surabaya Timur, sudah ditutup. Sejak saat itu, yakni tahun 2001, semua sampah ditimbun di TPA Benowo. Hal tersebut berdampak pada berkurangnya umur TPA Benowo. Usia TPA Benowo  diperkirakan hanya sampai tahun 2015, atau tinggal lima tahun lagi.

Untuk itulah ujar Hidayat Syah, Pemkot Surabaya harus memikirkan cara paling efektif dalam mengelola sampah di Surabaya. Sebab, sistem open dumping itu terbukti menimbulkan bau menyengat. Cara efektif tersebut berpacu dengan waktu. Sebab, GBT yang merupakan sarana olahraga yang bertetangga dengan TPA Benowo, segera diresmikan penggunaannya,

Teknologi Anti Bau

Pemkot Surabaya sudah merancang pembangunan teknologi untuk mengatasi aroma khas dari timbunan sampah. Kegiatan pembangunan proyek pencegahan bau di TPA Benowo dilaksanakan September 2009. Proses lelang pembangunan infrastruktur pengolahan sampah di TPA Benowo sudah masuk tahap evaluasi prakualifikasi.

Ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Kota Surabaya  Dr.Ir.Djamhadi mengemukakan, GBT merupakan magnet ekonomi baru bagi Kawasan Surabaya Barat yang selama ini dianggap tertinggal. Triliunan investasi akan ditanamkan di sana mengikuti perkembangan GBT.

Djamhadi mengkhawatirkan tersendatnya investasi di sekitar GBT apabila TPA Benowo masih mengeluarkan aroma tidak sedap. Siapa yang mau menanamkan uang untuk membangun tempat usaha jika lokasinya bau seperti itu, ujarnya.

Sebagai pengurus organisasi yang mengumpulkan pengusaha di Surabaya, dia mendesak agar Pemkot Surabaya segera menyelesaikan pembangunan TPA Benowo. Memang dengan teknologi tinggi, bau sampah pasti bisa diatasi.

Para wartawan dari Surabaya melihat dari dekat proses pembakaran sampah dengan mesin Incenerator di Singapura

Studibanding ke Singapura

Selain mempersiapkan upaya penanggulangan bau  dengan teknologi kimia, Pemkot Surabaya seyogyanya melakukan kajiulang untuk mencari alternatif lain. Saat melakukan studibanding ke Singapura, pertengahan April 2010, rombongan wartawan dari Surabaya melihat dari dekat pengelolaan sampah di kota “negara” itu.

Permasalahan yang pernah sama dengan yang dialami Kota Surabaya, juga pernah dirasakan kota Singapura. Dulu sistem yang digunakan sama dengan Surabaya, yakni mengangkut dan menimbun sampah. Bahkan, Singapura “ketinggalan” dari Kota Surabaya di awal tahun 2000-an. Sebab, waktu itu Surabaya sudah menggunakan teknologi tinggi, yakni mengoperasikan incenerator.  Namun sudah dihentikan, karena masalah biaya dan suku cadang.

Ternyata, sekarang Singapura yang luasnya 710 kilometer per-segi itu mengikuti model  pembakaran sampah dengan incenerator yang pernah dilaksanakan di Surabaya itu.

Walaupun yang dilaksanakan Singapura pernah dilakukan di Surabaya, tidak ada salahnya kita melakukan evaluasi. Dari studibanding  wartawan Surabaya ke Singapura yang dipimpin Kabag Humas Pemkot Surabaya, Dra.Nanies Chairani,MM itu, layak dipertimbangkan kembali penggunaan incenerator sebagai alat pemusnah sampah di Kota Surabaya. Batapa tidak, sebab sistem semitradisional di TPA Benowo yang berlangsung sekarang, usia lahannya semakin sempit dan mendekati ajal.

Selain menggunakan teknologi menghilangkan bau sampah sudah dapat diatasi dengan menggunakan bahan kimia anti bau, ternyata biayanya cukup besar. Memang sudah saatnya Surabaya meninggalkan metoda yang konvensional itu.

Salah satu pusat pengelolaan sampah di Singapura, yang layak dijadikan sebagai acuan adalah Tuas South Incinerator Plant (TSIP) Singapura. Perusahaan Pembakar Sampah Tuas Selatan di negara kecil ini, di samping mampu memusnahkan sampah, juga berhasil memproduksi listrik dari energi yang dihasilkan dari pembakaran sampah. Bahkan dimanfaatkan juga sebagai pengolah bahan baku produksi daur ulang dari sisa pembakaran sampah.

Manager Operasional TSIP, perusahaan pembakar sampah itu, Mohammad Ghazali, menyebut produksi sampah di kota Singapura  mencapai sekitar 7,2 juta ton per harinya. Memang ada bagian dari pembakaran sampah berupa residu abu yang tidak bisa didaurulang.

Bersama limbah padat, residu ini dibuang ke Pulau Semakau untuk reklamasi pantai dan pengurukan selat antara Pulau Semakau dengan Pulau Sekang. Dari reklamasi itu, Pulau Semakau nantinya akan menjadi satu dengan Pulau Sekang.

Selain dari limbah sampah, beberapa pulau kecil di sekitar Singapura banyak yang direklamasi dengan tanah dan pasir yang berasal dari Kepulauan Riau, Indonesia.

Manager Umum TSIP Singapura, Chong Kuek On, mengatakan di Singapura ada empat lokasi pembakaran sampah dan TSIP adalah yang terbesar. Teknologi ini menelan biaya yang cukup mahal.

Pembangunan. Proyek insenerator Ulu Pandan menelan biaya 130 juta dolar Singapura atau setara Rp 445 miliar. Pembangunan Tuas Utara 200 juta  atau hampir Rp 1,3 triliun. Incenarator Senoko 560 juta  atau Rp 3,6 triliun, dan Tuas Selatan 890 juta dolar, hampir sama dengan Rp 5,7 triliun. Walaupun investasinya mahal, keempat insinerator, berdasarkan data 2009, telah berhasil membakar sekitar 90 persen dari total sampah yang dihasilkan Singapura.

Nah, belajar dari negara kota Singapura itu, Pemerintah Kota Surabaya perlu berpikir jernih. Negara kota sekaya Singapura saja tidak berani mengambil resiko menggunakan dana dari pemerintahnya. Mereka memanfaatkan investor swasta untuk mengelola sampah. Sudah saatnya, Pemerintah Kota Surabaya “berani” memberi kesempatan kepada swasta untuk berperanserta. Terserah dari mana asalnya, yang penting demi kesejahteraaan warga Kota Surabaya. ***

*)Yousri Nur Raja Agam, wartawan Surabaya, menulis hasil Studibanding ke Singapura tanggal 19 April 2010.

About these ads

2 Tanggapan

  1. kalo alat pembakaran sampah yg.saya ciptakan tanpa bahn bakar kekuatan pembakarannya luar biasa bahkan sampah basah,buah2 busuk saja dgn.cepat hangus jadi abu,sederhana,praktis,tdk perlu lahan luas,beaya pembuatanpun sgt.murah(mungkin gak percaya)buka teknologitpa.blogspot.com perlu menghabiskan sampah berapa truck,100 truck perhari,tinggal pembuatannya saja yg.hrs disesuaikan dgn.jumlah sampahnya,ada minat hub.saya siap(gak usah malu2)dari pd cari alat,cara dari luar Negri yg.beayanya besar.

  2. tak tambahkan lagi biar tdk.banyak para pengelola sampa menjadi kebingungan mengatasi dampaknya sampah yg.membludak,dari tkt.Rt,Rw,kelurahan atau pempat sampah lainya tak bantu kalo mau untuk membikin alat pemusnah sampah tanpa bhn.bakar untuk memusnahkan sampah yg.gak bermanfaat itu,tdk perlu tempat luas seperti kebanyakan yg.sdh saya bikin cukup 2×2 m.untuk memusnahkan sampah warga sekelurahan.dipersilahkan kalo ada minat hub.saya siap.gitu aja kok repot.i

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: